Sabtu, 12 Oktober 2013

Labasa "digugat"?

Latar belakang
Kalau kita mendengar dan menyebut nama Labasa, ingatan kita terarah pada jambu mete yang masyarakat setempat menyebutnya dengan nama jambu monyet. Kata monyet menurut saya bukan karena modelnya seperti monyet tetapi jambu mete tempo dulu menjadi makanan pokok oleh monyet; pohon yang menjadi bagian hutan belantara. Seingat saya pada tahun tujuhpuluhan biji jambu mete hanya dijadikan bahan mainan oleh anak-anak atau paling tidak dikonsumsi dengan terlebih dahulu dibakar. Dengan kata lain, jambu mete belum memiliki nilai rupiah yang turut mendukung ekonomi keluarga. Masyarakat menanamnya hanya sekedar menanam untuk penghijauan dan atau hanya sebatas sebagai pagar kebun dari serangan babi yang adalah merupakan ancaman utama para petani masyarakat Muna.

Nasib jambu mete berubah dengan datangnya misionaris P.Michel Migneau, CICM; seorang imam dan seorang pemerhati pertanian. Beliau sukses mengorganisir warga transmigrasi lokal dari Lolibu dan menempatkan mereka di Labasa, Lakapera dan di Kulidawa. Warga transmigrasi yang hidupnya hanya bertani mulai diajarkan atau dididik budidaya jambu mete dengan sistim perkebunan: memperhatikan jarak tanam, keteraturan tanaman serta sistim pertanian terpadu (bertani dan beternak sapi). Memang sebagai hasil dididikan beliau panenan jambu mete para era tahun delapanpuluhan mulai dinikmati para petani baik yang beragama Katolik maupun yang beragama Islam.  Panenan cukup banyak dan juga harga cukup baik. Nama pastor dan juga nama gereja cukup mendapat tempat dalam hati seluruh masyarakat Muna. Nama pastor diabadikan sebagai nama sebuah jalan: Jln.P.Migneau.

Juga sebagai usaha P.Migneau, pusat paroki Labasa memiliki lahan yang luasnya kira-kira 7 ha, yang dalam lokasi ada gereja, lokasi pastoran dan selebihnya lahan jambu mete. Di lahan inilah beliau pernah membuat kebun percontohan , salah satunya kebun percontohan jambu mete dan peternakan sapi. Waktu itu nama sapi benggala sangat akrab di telinga warga masyarakat. Patut disayangkan, warga tidak banyak mencontoh apa yang telah dibuat oleh P.Migneau dan hanya sebatas ceritra dari masyarakat, cerita dari mulut ke mulut; dari mulut orang tua pada anak-anak dan sampai pada anak-cucu mereka. Akibatnya selang beberapa waktu jambu mete tak lagi menjadi penopang kehidupan para petani. Selain tidak dilakukan peremajaan jambu mete, juga musim tidak memungkinkan jambu mete berbuah baik.

Lahan “warisan” P.Migneau yang seluas kira-kira 7 ha dicoba dikembalikan fungsinya sebagai kebun percontohan. Pada perayaan HPS 2010, oleh PSE lahan tersebut dicoba diisi kembali dengan tanaman jambu, enau dan kelapa. Idenya adalah sebagai tanaman percontohan dan diservikasi tanaman produktif. Dipilihnya 3 jenis tanaman ini karena pengalaman petani ketiga tanaman ini cocok dengan tanah dan alam pulau Muna.

Lahan Labasa “digugat”
Entah dari mana sumbernya tiba-tiba sebagian warga Labasa keberatan bahwa areal seluas 7 ha adalah milik mereka dan bukan milik gereja. Padahal tanah tersebut sudah berumur kira-kira 30 tahun dikuasai gereja dan bersertifikat. Tindakan provokatif yang dilakukan oleh mereka berupa membabat tanaman yang ada di dalam lokasi gereja, merubuhkan tembok yang coba dibangun oleh pihak gereja serta melarang segala macam aktivitas di atas lahan tersebut.

Mengapa “digugat”?
Pertanyaan selanjutnya “mengapa kali ini gereja dibenci?”. Padahal kalau diurut sejarahnya kawasan ini (Lakapera dan Labasa) terbuka karena jasa P.Migneau, karena jasa gereja. Dahulu kawasan ini hanyalah padang ilalang dan tak berpenghuni. Komoditi jambu mete kemudian memiliki nilai rupiah boleh dikatakan juga atas jasa P. Migneau dan atas jasa gereja. Sudah 30 tahun berjalan dan baru kali ini gereja kena “gugatan”. Gereja tidak lagi menimbulkan sikap simpatik umat beragama lain. Tidak ada jalan lain, gereja harus melakukan refleksi dan permenungan yang mendalam.  Era P.Migneau dengan program pemberdayaan petani sudah lama berlalu. Era pendidikan yang diorganisir gereja sudah lama berlalu juga. Artinya  pertama, tidak ada karya gereja yang berpihak pada masyarakat umum. Kedua, lahan “warisan” hanya ditumbuhi semak belukar yang pada era P. Migneau hijau dengan aneka tanaman dan terawat baik. Jadi orang mengambil kesimpulan sederhana sebagai lahan tidur dan tak ada pemiliknya. Ketiga, banyak masyarakat di Labasa tak memiliki lahan sementara gereja memiliki lahan tidur seluas 7 ha. Siapa yang tidak cemburu? Kira-kira problemnya demikian.
 
HPS 2010: Program Penanaman Kelapa, Enau dan Jambu Mete.

Menangkis “gugatan” dan tindakan provokatif
Ketika tindakan pembabatan sejumlah tanaman dalam lahan milik gereja, ada sebagian warga sudah mulai merancang tindakan balasan. Namun reaksi ini cepat diredam karena risikonya besar bagi gereja dan umat untuk jangka waktu yang lama. Tindakan provokatif yang kedua, berupa tembok pagar dirobohkan. Warga atau umat tetap memilih berdiam diri dan menghindari kontak fisik. Syukur, sikap berdiam diri oleh umat mendatangkan sedikit angin segar bagi permasalahan ini. Yaitu bahwa para “penggugat” sedikit demi sedikit tidak terlalu ngotot untuk “merampas” tanah gereja. Tetapi menurut saya sikap ini tidaklah cukup. Jadi, pertama harus ada sikap intervensi yang nampak atas lokasi tidur. Kedua, lahan ini tidak hanya bermanfaat bagi umat Katolik tetapi juga bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Untuk itu menurut hemat saya, 2 usul yang segera diwujudnyatakan yaitu: (1) Program HPS 2010 oleh PSE tetap dilanjutkan. Dengan menggandeng Universitas Haluoleo PSE memberikan pemberdayaan kepada para petani dan menjadikan lahan ini sebagai lahan percontohan dalam diservikasi tanaman produktif. (2) Kantor Credit Union Mekar Kasih, KP Tilangano Kaasi, perlu mengambil tempat dalam lokasi tanah gereja ini. Alasannya pemberdayaan yang diberikan CU selama ini tidak hanya sebatas umat Katolik tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat pada umumnya. Dengan harapan kehidupan yang penuh persahabatan
  dan persaudaraan di era P. Migneau dan di era sekolah misi secara perlahan-lahan hidup kembali. Juga budaya Muna sangat menjunjung hidup yang penuh kasih dan persaudaraan. *** Penulis: RD. Linus Oge

Tidak ada komentar: