Senin, 16 Februari 2015

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2015

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2015
KEUSKUPAN AGUNG MAKASSAR

POLA HIDUP SEHAT DAN BERKECUKUPAN

            Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar: Salam dan damai sejahtera dalam Kristus Yesus, Tuhan kita!
Pada tahun 2015 ini, Rabu Abu, sebagai awal Masa Prapaskah, jatuh pada tanggal 18 Februari. Tahun ini merupakan tahun ke-4 dari lingkaran 5-tahunan APP Nasional (2012-2016), dengan tema pokok “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Adapun sub-tema tahun ke-4 ini berpusat pada membangun “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”.

Kaitan Sebab-Akibat antara Dua Kutub
            Selama 5 tahun (1981-1986) saya bertugas belajar di Roma. Agar tidak kehilangan semangat pastoral selama menjadi ‘anak sekolah’, dan sekaligus pula untuk mencari pengalaman pastoral di negeri lain, saya lebih suka menggunakan waktu-waktu liburan bekerja di paroki, baik di Italia maupun di Jerman dan Canada. Para pastor paroki di Eropa Barat dan Amerika Utara umumnya suka mengambil libur tahunan pada musim panas. Pada umumnya mereka berupaya mencari tenaga pengganti sementara di parokinya di Roma, karena tahu di sana banyak imam dari berbagai penjuru dunia sedang bertugas belajar.

            Saya teringat sebuah pengalaman kecil ketika pertama kali menjadi tenaga pengganti sementara (“vertreten” namanya dalam bahasa Jerman) di sebuah paroki di Dinkelsbühl, sebuah kota kecil di Jerman Selatan. Pada Misa hari Minggu pertama saya berada di paroki tersebut, saya terperanjat memperhatikan sedikit sekali umat yang hadir, dan umumnya hanya orang-orang yang sudah tua. Padahal menurut informasi pastor paroki, sebelum berangkat berlibur, jumlah umat paroki tersebut 3500-an. Di sakristi, sesudah Misa, saya bertanya kepada koster, “Mengapa sedikit sekali umat yang datang ke Misa?” Apa jawabnya? “Ah, Pastor, kalau perut sudah penuh, orang lupa berdoa kepada Tuhan!” Sambil tersenyum, saya menimpali, “Di negeri saya, Indonesia, orang sering berkata: ‘Kalau perut kosong, seseorang tidak mudah berdoa’!”

            Ya, rupanya baik “perut kenyang” maupun “perut lapar”, keduanya membawa masalah dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Bukankah kisah “dosa asal” dalam Kitab Suci menyangkut daya tarik materiil (kebutuhan jasmani) disertai hasrat berkuasa (mau menjadi seperti Allah)? “Tetapi ular (si penggoda) itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya … kamu akan menjadi seperti Allah…’. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya…” (Kej. 3:4-6). Ternyata sejak awal keberadaannya di bumi, manusia sudah berhadapan dengan godaan tidak tunduk kepada perintah Allah, dan lebih mementingkan materi dan kekuasaan. Nafsu memiliki materi sebanyak-banyaknya telah menyebabkan ketidak-seimbangan sangat parah pembagian kekayaan bumi di antara penduduk bumi itu sendiri. Sebagaimana seringkali dikatakan, 80% kekayaan bumi dimiliki oleh 20% penduduk bumi, dan hanya 20% kekayaan bumi dimiliki oleh 80% penduduk bumi. Di era global dewasa ini, pengembangan ekonomi dikendalikan oleh sistem “pasar bebas”, yang ciri utamanya ialah mencari keuntungan sebesar-besarnya. Dunia industri terus-menerus menawarkan produk-produk baru, dan masyarakat merasa harus memilikinya agar tidak dianggap ketinggalan jaman. Ini melahirkan suatu gaya hidup baru, yang disebut konsumerisme. Dalam dunia materialistis-konsumeristis seperti ini, UANG menjadi unsur yang menentukan. Segala-galanya bisa dibeli dengan uang. Oleh karena itu orang berupaya memiliki uang sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara, termasuk korupsi. Uang telah menjadi seakan ilah baru, menggantikan Ilah yang benar. Bahkan tampaknya gejala ini telah merasuk ke dalam hidup beragama, seperti dalam apa yang dewasa ini dikenal dengan nama “Teologi Sukses” atau “Teologi Kesejahteraan”. “Teologi Sukses” sesungguhnya merupakan ajaran yang mendewakan kesuksesan dan kesejahteraan materiil, di mana Allah diperlakukan tidak lebih dari sebagai “alat” untuk mencapainya.

            Pengembangan ekonomi dengan sistem “pasar bebas” murni menyebabkan yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Dalam sistem “pasar bebas” hanya mereka yang memiliki modal besar yang mampu bersaing, sedangkan yang bermodal kecil akan semakin terpuruk.  Maka hanya sekelompok kecil (20%) penduduk bumi akan terus berjaya, sedangkan mayoritas mutlak (80%) akan semakin tersingkir; sebagian besar dari mereka ini akan terus terancam tragedi kelaparan. Barangkali banyak dari mereka ini yang pasrah menerima nasib; atau kalau mereka masih percaya ada Tuhan, paling-paling mereka bisa menggugat, apakah Tuhan masih peduli mereka? Tetapi satu hal pasti, selama ketidak-seimbangan dan ketidak-adilan ini tidak diatasi, maka perdamaian dunia hanya merupakan ilusi. Dan selama itu, juga kelompok minoritas (yang 20% itu) tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenyam ketentraman hidup!

Manusia Terpanggil Kembali ke Fitrahnya
            Apa dan siapakah manusia itu? Menurut Kitab Suci, “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya…; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka” (Kej. 1:27). Jadi manusia itu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Dia tidak ada dari dirinya sendiri. Berikut, manusia itu tidak diciptakan seorang diri. Mereka diciptakan laki-laki dan perempuan. Berarti dari hakekatnya, manusia itu adalah makhluk sosial (dari bahasa Latin socius = bersama-sama, bersatu). Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Sebagai makhluk sosial, yang-berada-bersama-orang-lain, manusia adalah citra atau gambar Allah. Nah, dalam Perjanjian Baru kita menemukan definisi, bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8.16). Kalau manusia itu adalah citra Allah dan Allah itu adalah kasih, maka manusia dari hakekatnya harus mencerminkan kasih dalam hubungannya dengan sesamanya.

            Selanjutnya, perlu dicatat, bahwa dalam Kitab Kejadian terdapat dua versi kisah penciptaan. Kej. 1:1-2:4a, yang menurut para ahli bersumber dari tradisi P (tradisi Imam), mengisahkan penciptaan langit dan bumi serta segala isinya oleh Allah melalui sabda-Nya dalam enam hari, dan pada hari ke-7 Ia beristirahat. Sedangkan Kej. 2:4b-3:24 bersumber dari tradisi Y (Yahwis). Di sini Allah digambarkan bagai pembuat periuk dengan membentuk manusia (2:7) dan segala binatang hutan dan segala burung di udara (2:19) dari tanah. Kej. 2:7 selengkapnya berbunyi: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. Di sini kita menemukan dimensi hakiki dan asali lainnya dari manusia: manusia itu adalah makhluk jasmani-rohani dalam satu keutuhan; meminjam rumusan Prof. Dr. N. Drijarkara, SJ: manusia adalah roh-yang-membadan atau badan-yang menroh. Dari segala ciptaan hanya manusialah yang diciptakan secara demikian. Dari segi rohani, manusia adalah makhluk transenden di atas makhluk-makhluk lainnya. Kiranya sifat asali yang sama inilah yang dimaksudkan tradisi P dengan menyebut manusia itu sebagai citra Allah. Dari segi jasmaniah, manusia itu sama dengan makhluk ciptaan lainnya, dan sebagai demikian ia mempunyai kebutuhan pokok materiil untuk dapat hidup dan berkembang.

            Adapun tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk membahagiakannya. Ini diungkapkan dengan kisah taman Eden: “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur, disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuknya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya” (Kej. 2:8-9). Seterusnya dikatakan: “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (ay. 15). Sesungguhnya taman Eden itu ialah bumi yang didiami manusia ini. Pemilik dari segala sesuatu yang ada bukanlah manusia, melainkan Tuhan Allah, Sang Pencipta, yang mengadakan semuanya itu untuk segenap umat manusia, tanpa kecuali. Manusia sendiri hanyalah pengelola milik Sang Pencipta itu. Tetapi dosa telah memporak-porandakan rencana baik dari Allah itu. Akibatnya taman Eden, sebagai taman keselamatan dan kesejahteraan itu, berubah menjadi taman kemalangan.

            Namun, dari kodratnya setiap manusia tetap mendambakan keselamatan-kesejahteraan, kebahagiaan. Dan ini hanya dapat terwujud apabila manusia kembali ke fitrahnya, sifat-sifat asalinya menurut Kitab Suci, sebagaimana sudah diutarakan di atas.

Membangun Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan
            Dosa telah mengubah posisi manusia sebagai pengelola harta kekayaan bumi, dan berlagak sebagai pemilik aslinya. Padahal segala kekayaan dunia itu hanyalah “titipan” dari Sang Pencipta. Tiada manusia yang datang ke dalam dunia ini sudah membawa serta harta kekayaan. Setiap manusia dilahirkan ke dalam dunia ini dengan telanjang bulat, tak memiliki apa-apa. Dosa juga telah menyebabkan ketidak-seimbangan keutuhan manusia sebagai makhluk jasmaniah-rohani; yang ditekankan hanyalah segi kebutuhan jasmani-materiil: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya” (Kej. 3:6). Daya tarik materi melahirkan sikap mendewakan materi (materialisme), yang berujung pada pendewaan uang (mamon). Kerakusan akan materi juga mengubah fitrah asli manusia sebagai makhluk sosial menjadi makhluk individualistis, yang mengeksploitasi sesamanya. Tidak itu saja. Alam lingkungan tidak lagi diperlakukan sebagai taman (Eden) yang harus dipelihara, melainkan dipandang sebagai tambang yang boleh dikuras habis demi kepentingan ekonomistik. Maka berkembanglah sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi yang buta etika. Eksploitasi alam tanpa etika semacam ini sungguh merupakan ancaman serius bagi keberadaan umat manusia itu sendiri!

            Yesus Kristus, Manusia baru itu, telah memulihkan fitrah asli manusia dan mengangkatnya. Maka hanya Yesus Kristuslah satu-satunya yang harus menjadi dasar dan model dalam upaya mengkonkretkan fitrah asli manusia itu. Dialah Sang Sabda yang menjelma (lih. Yoh. 1:1-18), menjadi “sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Sebelum Dia mulai hidup dan berkarya di depan umum, Yesus berpuasa 40 hari dan dicobai (Mat. 4:1-12; Luk, 4:1-13). Cobaan pertama berupa godaan materiil. Yesus yang lapar digoda mengubah batu jadi roti. Yesus menolak dengan mengutip Kitab Suci (Ul. 8:3): “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Dengan itu Yesus mau mengajar kita, bagaimana seharusnya kita menghayati jati diri asli kita sebagai makhluk jasmani-rohani: segi rohanilah yang harus mengarahkan segi jasmani, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini kita dapat memahami nasehat-Nya: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Atau: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat. 16:26). Dan kepada orang yang mendewakan uang, Dia mengingatkan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).

            Godaan kedua, menurut versi Matius, ialah menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Inilah godaan menikmati kepopuleran, ingin disanjung-sanjung publik. Yesus tegas menolak dengan kembali mengutip Kitab Suci (Ul. 6:16): “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Di sini Yesus mau mengajar kita untuk tidak mencari popularitas murahan dengan membawa-bawa nama Allah. Akhirnya, godaan ketiga ialah godaan akan kekuasaan. Yesus ditawari “semua kerajaan dunia dengan kemegahannya” asalkan Dia mau sujud menyembah Iblis. Yesus menghardik, “Enyahlah, Iblis!”, dan sekali lagi mengutip Kitab Suci (Ul. 6:13): “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus datang tidak untuk mengejar kekuasaan: Putera Manusia datang “bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Dengan demikian, Citra Allah yang sempurna itu tidak hanya memulihkan fitrah manusia sebagai makhluk sosial, yang-berada-bersama-orang-lain. Ia sekaligus menyempurnakan fitrah sosial manusia menjadi “berada untuk-orang-lain” (altruisme sejati). Dasar dari sikap altruis sejati ini tidak dapat lain daripada KASIH sejati: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

            Demikianlah, upaya membangun pola hidup sehat dan berkecukupan harus dilihat dalam kerangka pemulihan fitrah asli manusia yang berlandas dan bermodelkan Yesus Kristus, Manusia baru, Citra Allah yang sempurna. Sebagaimana diterangkan dalam naskah “Gerakan APP Nasional 2015”, pola hidup sehat berarti melakukan kegiatan olah rohani dan jasmani yang teratur, terus-menerus dan seimbang, dalam mencapai pemenuhan kebutuhan mendasar hidup manusia. Kesehatan dimengerti sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif dan kreatif seturut dimensi sosial dan ekonomi. Situasi dan kondisi ini yang membuat manusia mempunyai daya hidup untuk memberdayakan segala sesuatu dengan maksimal, baik yang dimilikinya maupun lingkungan hidupnya, demi membangun dan mewujudkan kesejahteraan hidup bersama.

            Selanjutnya disebutkan tiga sasaran dan tujuan “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” sebagai gerakan APP 2015 dalam membangun dan mewujudkan pembaharuan iman umat, sebagai berikut: (1) Menghargai dan menghormati tubuh sebagai kenyataan yang sangat pribadi sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, dengan Allah dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraan bersama: (2) Perilaku hidup yang manusiawi; keadilan, kebenaran, kejujuran,  kasih dengan menjaga, memelihara dan membangun lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan; dan (3) Tanggungjawab atas keutuhan biologis manusia yang diciptakan sebagai citra Allah dengan hidup saling berbagi satu sama lain.

            Akhirnya, disajikan beberapa inspirasi membangun gerakan pola hidup sehat dan berkecukupan yang dapat dibuat, antara lain: (1) Gerakan ‘Optimalisasi Lahan Pekarangan’: Sesungguhnya setiap unit keluarga harus memperlakukan lahan pekarangannya bagai ‘taman Eden’, di mana Allah telah menempatkan keluarga bersangkutan untuk mengusahakan dan memeliharanya demi kesejahteraan dan keberlangsungan hidupnya; (2) Gerakan ‘Bersih dan Sehat Lingkungan’: Budaya sampah sudah membuat manusia tidak peka dengan memboroskan dan membuang sisa makanan. Sementara, di setiap bagian dunia masih sekian banyak orang dan keluarga yang menderita kelaparan dan gizi buruk. Gerakan ‘Bersih dan Sehat Lingkungan’ dapat menjadi cara untuk menghormati dan merawat ciptaan, untuk memperhatikan setiap orang, untuk melawan budaya menyampah dan membuang-buang makanan, serta memajukan budaya solidaritas dan perjumpaan; (3) Gerakan ‘Bank Benih Petani’: Alam ciptaan adalah anugerah Allah untuk umat manusia. Dalam penggunaannya, manusia mempunyai tanggung jawab terhadap kaum miskin, generasi mendatang, dan umat manusia sebagai keseluruhan. Gerakan ‘Bank Benih Petani’: dari, oleh, dan untuk petani bagi keberlanjutan kehidupan akan bercirikan bela rasa dan keadilan antar generasi.

Penutup
            Selamat menjalani Masa Prapaskah, yang berfokus pada upaya membangun “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”, dengan berlandas dan meneladani hidup dan karya Yesus Kristus, Citra Allah yang sempurna, yang telah memulihkan dan menyempurnakan fitrah asali manusia. Makna sejati puasa dan pantang serta Aksi Puasa Pembangunan (APP) harus kita gali dari hidup dan karya Yesus sendiri. Dengan berpuasa 40 hari, Yesus mau mengajar kita untuk senantiasa mengendalikan nafsu jasmani kita manusia sebagai makhluk rohani-jasmani. Dengan APP kita ingin meneladani Dia yang telah rela menjadi sama dengan kita, makhluk sosial yang berkewajiban berbela rasa dengan saudari-saudaranya yang menderita kemiskinan. Selanjutnya, sejalan dengan pusat keprihatinan Paus kita, hendaknya gerakan “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” kita mulai dari keluarga kita masing-masing. Paus Fransiskus tampaknya mempunyai keyakinan yang sama dengan pendahulu beliau, Paus Yohannes Paulus II. Paus Yohannes Paulus II pernah menegaskan, “Jika keluarga-keluarga Katolik baik, maka Gereja akan baik”. Paus Fransiskus telah memutuskan mengadakan dua sinode para Uskup berturut-turut (2014 dan 2015) menyangkut tema yang sama: pastoral keluarga. KWI dan PGI menyambut antusias keprihatinan Paus itu: Pesan Natal Bersama KWI-PGI 2014 mengambil tema “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga”. Sementara untuk Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2015 sengaja dipilih tema yang sama, mengenai KELUARGA. Semoga keluarga-keluarga Katolik semakin mencerminkan Keluarga Kudus Nazaret.
Tuhan memberkati kita!                     
 
                                                       Makassar, 26 Januari 2015
  
                                                              + John Liku-Ada’
                                                            Uskup Agung Makassar   

PERATURAN PUASA DAN PANTANG:

1.     Masa Prapaskah mulai pada HARI RABU ABU tanggal 18 Februari 2015 dan berjalan sampai Pesta Paskah tanggal 5 April 2015.

2.     Seluruh Masa Prapaskah adalah waktu bertapa. Karena itu diharapkan dari masing-masing agar selama Masa Prapaskah dengan kesadaran dan kerelaan melakukan pekerjaan amal dan tapa menurut pilihan masing-masing, selain yang diwajibkan di bawah ini.

3.     Secara khusus diminta perhatian untuk AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP), yang dimaksudkan mengumpulkan dana, yang diperoleh dari usaha-usaha penghematan / berpantang. Dana itu diperuntukkan karya-karya sosial, termasuk usaha-usaha pengembangan Komunitas Basis/Keluarga dan pemberdayaan lingkungan. Sungguh menggembirakan melihat animo umat untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan APP semakin meningkat. Tahun 2014 dana hasil APP di Keuskupan kita naik 27% dibanding dengan tahun 2013. Sambil mengucapkan terima kasih atas semua itu, kita berharap APP tahun ini akan meningkat lebih baik lagi.

4.     Di samping itu selama Masa Prapaskah kita wajib berpuasa dan berpantang menurut peraturan berikut:
a.        Pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung ada kewajiban berpuasa dan berpantang.
b.        Pada hari-hari Jumat Biasa dalam Masa Prapaskah hanya ada kewajiban berpantang.
c.        Berpuasa berarti mengurangi makan, sehingga hanya satu kali saja boleh makan kenyang dalam sehari.
Kewajiban untuk berpuasa ini berlaku bagi mereka yang berumur antara 18 sampai 60 tahun.
d.        Berpantang berarti mengurangi makanan mewah sesuai dengan penilaian daerah masing-masing, misalnya berpantang dari daging.
Secara perorangan dapat pula menentukan wujud berpantang menurut keadaan masing-masing, misalnya berpantang dari berjajan makanan khusus, dari minuman keras, dari rokok, dll.
Kewajiban berpantang berlaku bagi mereka yang berusia 14 tahun ke atas.

5.     Mereka yang mendapat makanan dari dapur umum, atau yang hidup di tengah keluarga yang seluruhnya belum Katolik, bebas dari wajib pantang, tetapi tidak bebas dari wajib puasa.

6.     Kewajiban Paskah, yaitu kewajiban untuk menyambut komuni (dan kalau perlu sebelumnya mengaku dosa) dapat dipenuhi dari Hari Rabu Abu tanggal 18 Februari 2015 sampai Hari Raya Tritunggal Mahakudus, 31 Mei 2015.

NB. :        Berhubung Tahun Baru Imlek jatuh pada 19 Februari 2015 dan biasanya ada yang sudah mulai perayaan pada malam sebelumnya, maka dengan ini diberikan dispensasi dari kewajiban puasa dan pantang sejak Rabu malam, 18 Februari 2015, bagi umat Katolik yang merayakannya.

*********

Selasa, 20 Januari 2015

Sampul Koinonia Volume 10 no. 1





BANGGA MENJADI KATOLIK?



Dalam rangka merayakan HUT-nya yang ke-25, Kelompok Doa Dominica in Sabbato menyelenggarakan sejumlah kegiatan. Salah satunya adalah seminar sehari bertema “Bangga Menjadi Katolik”, pada 14 November 2014 bertempat di aula Keuskupan, Jln. Thamrin 5-7, Makassar. Tentu saja Panitia memilih tema ini tidak tanpa alasan yang dipertimbangkan secara matang. Dan kenyataan bahwa peserta membeludak sampai di luar aula, memberi indikasi kuat bahwa pemilihan tema in sungguh mengena. Sejauh pengamatan saya, sampai sekarang umumnya seminar-seminar yang diadakan internal Gereja Katolik dihadiri hanya segelintir umat. Pada seminar ini ditampilkan pembicara tunggal, Bapak Ignatius Gunawan Poulden dari Surabaya.
Bpk Poulden memulai dengan menceritakan pengalamannya dulu di Papua. Di salah satu tempat, seorang Pendeta dari denominasi tertentu dalam khotbahnya menjelek-jelekkan Gereja Katolik. Orang Katolik setempat yang mendengar itu marah, dan berniat membakar gereja Pendeta yang bersangkutan. Untunglah Pastor Paroki berhasil menenangkan umat, sehingga tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Peristiwa itu membuat Bpk Poulden bermenung lebih dalam. Beliau sampai pada kesimpulan, betapa masih dangkalnya pengenalan iman Katolik di kalangan umat Katolik pada umumnya, sehingga sangat gampang tersinggung. Kadangkala pengetahuan iman Katolik ini jugalah yang menyebabkan banyak umat Katolik mudah berpindah Gereja/Agama. Bpk Poulden merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu secara konkret. Maka beliau mengusulkan kepada Pastor Paroki mengadakan sebuah seminar untuk umat  di paroki tersebut, dengan tema “Aku bangga menjadi Katolik”. Hasilnya, menurut beliau, sangat positif. Sejak itu beliau menyediakan diri melayani macam-macam kelompok umat di berbagai tempat dalam bidang ini.
Saya terkagum-kagum mengikuti paparan beliau yang begitu komprehensif mengenai Gereja dan sejarah Gereja, walau terasa bahwa beliau bukanlah seorang “teolog”. Beliau adalah seorang umat Katolik yang serius mempelajari ajaran Gerejanya secara luas, dan ingin berbagi pengetahuan dalam iman itu dengan saudari-saudaranya seiman. Tentu saja, dalam rubrik yang terbatas ini, tidak mungkinlah mengulas segala hal yang beliau sampaikan dalam seminar tersebut. Sebuah catatan lain, suatu paparan yang disampaikan dalam konteks apologia (pembelaan agama terhadap serangan pihak lain) berisiko bersifat berat sebelah. Dalam uraian di bawah ini, kita akan berupaya menjadi lebih seimbang. Kita akan memusatkan ulasan pada pasal 9 Syahadat panjang (Nikea-Konstantinopel): “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik”.

Gereja yang Satu
Seorang Nuntio Apostolik yang bertugas di Jakarta pada pertengahan pertama dekade 1990-an bersahabat dengan Gus Dur. Konon, suatu saat beliau secara iseng-iseng bertanya kepada Gus Dur: “Pak Kiai, saya mendengar orang Islam Indonesia takut kepada Gereja Katolik. Betulkah demikian? Saya melihat statistik, 87% penduduk Indonesia memeluk agama Islam, sedangkan pemeluk Katolik hanya sekitar 3%. Bagaimana mungkin yang 87% takut kepada yang 3%?” Apa jawab Gus Dur? ”Kami umat Islam menyegani dan mengagumi dua organisasi: ABRI (kini TNI dan Polri) dan agama Katolik. Mengapa? Karena kesatuan kedua organisasi itu sangat solid. Tetapi ABRI hanya berskala nasional, sedangkan Katolik berskala mondial. Itu sungguh luar biasa!”

Pada bulan Maret 2003 kami para Uskup Indonesia mendapat giliran mengadakan kunjungan Ad Limina ke Roma. Pak Handoko dari TV Swasta Indonesia bersama beberapa kru-nya juga datang ke Roma untuk meliput kunjungan tersebut. Suatu hari beliau mengundang para Uskup untuk makan malam bersama di sebuah restoran Tionghoa di Roma. Sebelum doa makan, beliau berdiri dan berkata: “I am proud to be a Catholic”, “Saya bangga menjadi Katolik”. Uskup yang duduk di samping beliau mendongak dan bertanya: “Mengapa Bapak bangga menjadi Katolik?” Beliau menjawab, sebagai orang media saya ini banyak bepergian, baik dalam negeri maupun luar negeri, dan biasanya bersama dengan rekan-rekan dari gereja/agama lain. Bila hari Minggu tiba, saya tinggal bertanya ke bagian informasi hotel di mana kami menginap, di mana Gereja Katolik terdekat dan ke sana saya pergi. Berbeda dengan teman-teman non-Katolik. Seringkali mereka kesulitan, karena di tempat itu belum tentu ada gereja dari denominasi mereka. Ini membuat saya sadar, sebagai seorang Katolik saya adalah anggota dari sebuah keluarga besar yang ada di mana-mana. Saya merasa bangga dengan itu.

Dua kesaksian di atas, yang pertama dari seorang tokoh non-Katolik dan yang kedua dari seorang Katolik, menegaskan betapa unsur kesatuan dalam iman merupakan suatu kekuatan yang seharusnya membuat setiap umat Katolik menjadi bangga. Setiap orang Katolik berkewajiban terus-menerus memperkembangkan penghayatan dan   pengamalan pengakuan imannya, “Aku percaya akan Gereja yang satu”. Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (Gal. 3:28). Bapa-Bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (LG,4; lih. juga UR,2). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang    paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah tahun 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja.

Gereja yang Kudus
Gereja adalah persekutuan imani, yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia-manusia biasa, lemah dan berdosa. Lalu mengapa Gereja disebut kudus? Kekudusan Gereja dibicarakan panjang lebar oleh Konsili Vatikan II dalam bab V Konstitusi Lumen Gentium. Bab yang berjudul “Panggilan Umum untuk Kesucian dalam Gereja” mulai dengan “Kita mengimani bahwa Gereja tidak dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus, Putera Allah, yang bersama dengan Bapa dan Roh dipuji bahwa ‘hanya Dialah kudus’, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya” (LG,39). Gereja itu kudus, karena Kristus membuatnya kudus.

Tentu saja pernyataan konsilier di atas mempunyai dasar Kitab Suci. Ef. 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang kudus”. Dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel. 19; Ul. 7:6; 26:19; dll). Dalam Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1 Mak. 10:39.44; Keb. 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia)  sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1 Ptr. 2:9, begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”.

Kekudusan itu “terungkapkan dengan aneka cara pada masing-masing orang” (LG,39). Kekudusan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kesucian Gereja, yang berasal dari Kristus, yang mengikutsertakan Gereja dalam gerakan-Nya kepada Bapa oleh Roh Kudus. Pada taraf misteri ilahi, Gereja sudah suci: “Di dunia ini Gereja sudah dilandasi oleh kesucian yang sesungguhnya, meskipun tidak sempurna” (LG,48). Ketidaksempurnaan ini menyangkut pelaksanaan insani, sama seperti dalam hal kesatuannya.

Yang pokok dalam hal kesucian bukanlah bentuk pelaksanaannya, melainkan sikap dasarnya. “Suci” sebetulnya berarti “yang dikhususkan bagi Tuhan”. Jadi “suci” pertama-tama menyangkut seluruh bidang sakral atau keagamaan. Yang suci bukan hanya tempat, waktu, barang yang            dikhususkan bagi Tuhan, atau orang. Malahan sebenarnya harus dikatakan bahwa “yang Kudus” adalah Tuhan sendiri (lih. mis. 2 Raj. 19:22; Yes. 1:4; 5:19.24; 10:17.20; 12:6; Yeh. 38:23). Semua yang lain, barang maupun orang, disebut “kudus” karena termasuk lingkup kehidupan Tuhan (lih. mis. Kel. 19:23; 2 Taw. 3:8; Yoh. 44:19).
Dengan demikian, “kudus” bukan pertama-tama kategori moral yang menyangkut kelakuan manusia, melainkan kategori      teologal (ilahi), yang menentukan hubungan dengan Allah. Ini tidak berarti bahwa kelakuan moral tidak penting. Apa yang dikuduskan bagi Tuhan, harus “sempurna” (kata Ibrani tamim sebetulnya berarti “utuh”; lih. Kel. 12:5; Im. 1:3; 3:5; juga Rom. 6:19.22; 12:1). Dan kesempurnaan manusia tentu terdapat dalam taraf moral kehidupannya. Maka tidak mengherankan Tuhan bersabda, “Hendaklah kamu kudus, sebab kuduslah Aku, Yahwe, Allahmu” (Im. 19:2; lih. 11:44.45; 20:7.26; 21:8).  Yesus juga berkata, “Hendaklah kamu sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat. 5:48). Ini tentu merupakan tuntutan yang mengatasi kemampuan manusia.

Perjanjian Baru melihat proses     pengudusan manusia sebagai “pengudusan oleh Roh” (1 Ptr. 1:2; lih. 2 Tes. 2:13), “dikuduskan karena terpanggil” (Rom. 1:7). Secara simbolis dikatakan: “kamu telah memperoleh urapan dari Yang Kudus” (1 Yoh. 2:20), yakni dari Roh Allah sendiri (bdk. Kis. 10:38). Dari pihak manusia kesucian hanya berarti tanggapan atas karya Allah itu, terutama dengan sikap iman dan   pengharapan (lih. 1 Tim. 2.15). Sikap itu dinyatakan dalam segala perbuatan dan kegiatan kehidupan yang serba biasa. Kesucian bukan soal bentuk kehidupan, melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari.

Karena itu, Lumen Gentium menarik kesimpulan bahwa “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (LG,8). Justru karena kedosaannya itu Gereja tidak terbedakan dari semua orang lain, kendatipun “dikuduskan bagi Tuhan”: “Persekutuan Gereja          mengalami diri sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS,1). Kesucian Gereja adalah kesucian perjuangan, terus-menerus. Setiap orang Kristiani seharusnya bangga (bukan sombong) atas rahmat besar kasih Allah ini.

Gereja yang Katolik
Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah digunakan oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjuk sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik” dalam arti universal, mulai dilawankan    dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada zaman itu. Istilah “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “lengkap” ajarannya dan “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu. Sejak tahun 381 (Konsili Konstantinopel I), kata “Katolik” masuk dalam syahadat: “Aku percaya akan Gereja yang … Katolik”.     
   
St. Ignatius dari Antiokhia, yang pertama kali menggunakan kata “Katolik” itu, berkata: “Di mana ada uskup, di situ ada jemaat, seperti di mana ada Kristus Yesus, di situ ada Gereja Katolik”. Yang dimaksudkan ialah dalam perayaan Ekaristi, yang dipimpin oleh uskup, hadir bukan hanya jemaat setempat tetapi juga seluruh Gereja. Jadi, gagasan pokok bukanlah bahwa Gereja tersebar ke seluruh dunia, melainkan bahwa dalam setiap jemaat setempat hadirlah Gereja seluruhnya. “Gereja Katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-Gereja setempat dan terhimpun daripadanya” (LG,23).

Gereja selalu “lengkap”, penuh. Tidak ada Gereja setengah-setengah atau sebagian. Gereja setempat, entah keuskupan atau paroki, bukanlah “cabang” Gereja universal. Setiap Gereja setempat, bahkan setiap perkumpulan orang beriman yang sah (a.l. KBG), merupakan seluruh Gereja. Gereja tidak dapat dipotong-potong menjadi “Gereja-Gereja bagian”.

Pada zaman Reformasi, nama “Katolik” kembali mendapat penekanan pada makna “Gereja yang tersebar ke mana-mana, dibedakan dengan Gereja-Gereja Protestan, yang (pada waktu itu) masih terbatas pada daerah Eropa tertentu. Selain itu, nama “Katolik” sejak itu secara khusus dimaksudkan umat Kristiani yang mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja universal. Tetapi dalam syahadat, kata “Katolik” masih mempunyai arti asli “universal” atau “umum”. Ternyata universal pun mempunyai dua arti, yang kuantitatif dan kualitatif (lih. LG,13): Di satu pihak, dikatakan bahwa Umat Allah “hidup di tengah segala bangsa” serta “memperoleh warganya dari semua bangsa”. Ini segi kuantitatif atau geografis. Di lain pihak, juga dikatakan bahwa “Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat bangsa-bangsa”. Inilah segi kualitatifnya, yakni tidak ada sesuatu pun yang baik yang tidak    diterima oleh Gereja. (Berbeda dengan prinsip ketat dogmatis Reformasi “sola Scriptura”, apa yang bukan dari Injil harus ditolak). Kedua aspek itu, kuantitatif dan kualitatif, dirangkum LG,13 itu dalam kalimat “merangkum segenap umat manusia beserta segala harta-kekayaannya”. Itu terjadi, demikian LG,13, “di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya”. Yang terakhir ini aspek yang paling pokok Gereja disebut “Katolik”, karena dengan perantaraannya Roh Kudus hadir di seluruh dunia. Yang hadir di mana-mana serta mengangkat segala kekayaan umat manusia sesungguhnya bukan Gereja, melainkan Roh yang berkarya dalam dan melalui Gereja.

Dengan demikian, harus dikatakan bahwa kesatuan dan kekatolikan Gereja kait-mengait. Kesatuan berbicara mengenai hubungan antara para anggota dan antara jemaat-jemaat, menjadi satu Gereja dalam persekutuan (communio). Kesatuan      menyangkut hubungan luar atau lahir. Sebaliknya, kekatolikan mengenai hubungan batin, hubungan jemaat atau anggota yang satu dengan yang lain “dalam Roh”: dalam segalanya berkarya Roh yang sama. Maka dapat dikatakan bahwa kekatolikan itu “misteri” kesatuan, atau sebaliknya kesatuan adalah “sakramen” yang menampakkan kekatolikan. Karenanya, kesatuan, yang sebagai “kekompakan” senantiasa menjurus ke arah ketertutupan, harus diimbangi oleh kekatolikan, yang menjamin keterbukaan Gereja. Justru di sini kelihatan bahwa Gereja itu “Bhinneka Tunggal Ika”, bukan hanya de facto (memang demikian), tetapi de jure (karena kesatuan dalam keanekaan dijamin oleh Roh Kudus).

Gereja yang Apostolik
Sifat “apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sedari zaman Gereja perdana sendiri (Ef. 2:20; bdk. Why. 21:14), tetapi sebagai sifat khusus, keapostolikan baru disebut pada akhir abad ke-4. Semakin ditegaskan bahwa norma kebenaran adalah iman sebagaimana dirumuskan oleh para rasul. Namun perlu dijelaskan bagaimana Gereja sekarang berhubungan dengan Gereja para rasul.
Gereja Protestan berkeyakinan bahwa hubungan itu terdapat dalam Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru, sebagai rumusan iman itu. Sebaliknya, Gereja Katolik, yang lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan perhatian pada hubungan historis, turun-temurun, antara para rasul dan para pengganti mereka, yaitu para uskup. Perlu dicatat bahwa dalam Perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk ke-12 rasul yang namanya disebut dalam Injil (lih. mis. Mat. 10:1-4).

Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai semacam “estafet” yang di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengakui diri sama dengan Gereja perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu jangan dilihat sebagai pergantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.

Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa yang sejak dahulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja. Keapostolikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Bukan mengulangi, tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali apa yang menjadi inti hidup iman. Karena seluruh Gereja bersifat apostolik, maka seluruh Gereja dan setiap anggotanya, perlu mengetahui apa yang menjadi dasar hidupnya, “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya, tentang pengharapan yang ada padanya” (1 Ptr. 3:15).

Sifat apostolik (yang betul-betul dihayati secara nyata) harus mencegah Gereja dari segala kerutinan yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggung jawab atas ajaran Gereja, melainkan juga atas pelayanannya. Dalam hidup yang nyata Gereja harus terus-menerus membuktikan diri sebagai Gereja Yesus Kristus, yang tidak hanya digerakkan oleh Roh Kudus, tetapi juga “rapi tersusun dan dilihat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya” (Ef. 4:16). Seperti semua sifat yang lain, begitu pula dengan keapostolikan Gereja tidak pernah “selesai”, tetapi selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja, yang oleh Kristus dikehendaki satu, kudus, Katolik dan apostolik, senantiasa harus mengembangkan dan menemukan kembali kesatuan, kekatolikan, keapostolikan, dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti harus dihayati dan diamalkan, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya.

Akhirulkalam
Kembalilah kita pada rumus pengakuan iman tentang Gereja, pasal 9 Syahadat yang panjang: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik”. Saya yakin setiap umat Katolik, yang cukup rajin menghadiri Ekaristi atau Ibadat Sabda Tanpa Imam pada hari Minggu dan Hari Raya, menghafal rumus itu luar kepala. Sebab dalam setiap perayaan Ekaristi atau Ibadat resmi pada hari Minggu dan Hari Raya yang disamakan dengan hari Minggu, Credo selalu entah diucapkan atau dinyanyikan. Namun pertanyaannya ialah, apakah setiap umat Katolik sungguh-sungguh telah memahami secara mendalam apa yang dia imani dalam rumus pengakuan tersebut? Setiap orang Katolik harus meneladan Bpk Ignatius Gunawan Poulden dan lain-lain, yang berupaya mendalami iman Katoliknya dan bersedia berbagi dengan saudari-saudaranya seiman. Setiap orang Katolik yang memahami iman Katoliknya secara mendalam, akan bangga menjadi Katolik.

Namun, perlu segera ditambahkan catatan bahwa bangga tidak sama dengan sombong. Karena itu, teramat pentinglah memperhatikan penegasan Yesus ini: “Kemudian ketujuh puluh murid itu (yang diutus-Nya) kembali dengan gembira dan berkata, ‘Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu’. Lalu kata Yesus kepada mereka, ‘… janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga’ ” (Luk. 10:17.20). Yesus menegaskan, bahwa bagi pengikut-Nya alasan benar untuk bersukacita (dan berbangga), bukanlah kemenangan atas lawan-lawan di dunia, melainkan janji keselamatan kekal. Kiranya inilah sebabnya mengapa pada abad-abad pertama ketika pengikut-pengikut Yesus digiring untuk dijadikan mangsa binatang-binatang buas, yang sengaja dilaparkan berhari-hari, bukannya berteriak putus asa dalam ketakutan melainkan bersukacita. Mereka bersukacita karena yakin sebentar lagi akan bertemu muka dengan Junjungan mereka dalam kebahagiaan abadi di rumah Bapa. Masihkah kita orang Katolik dewasa ini memiliki iman dan harapan sekokoh para martir itu?

       Makassar, Awal Desember 2014


      + John Liku-Ada’  

Sumber Utama:
Dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Konstitusi Dogmatis ‘Lumen Gentium’ tentang Gereja  dan Konstitusi pastoral Gaudium et Spes’ tentang Gereja dalam Dunia Dewasa ini.
Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik; Buku Informasi dan Referensi, (Penerbit Kanisius-Penerbit OBOR, Yogyakarta-Jakarta, 1996).