Selasa, 18 Desember 2007

Cover majalah Koinonia Vol.3 no.1



PESAN NATAL BERSAMA KWI-PGI 2007

PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
DAN
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
2007

“HIDUPLAH DENGAN BIJAKSANA, ADIL, DAN BERIBADAH”
(bdk. Titus 2:12)


Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
salam sejahtera dalam Kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1. Dalam suasana sukacita Natal yang menyinggahi ruang-ruang kehidupan, kita mengucap syukur kepada Allah atas kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat kita, karena dalam Dialah “kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Kristus datang ke dunia supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Kasih karunia Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus itu pertama-tama membuat kita sanggup meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi (Titus 2:12), lalu mendidik kita untuk “hidup bijaksana, adil dan beribadah” (Titus 2:12).

Kasih karunia Allah itu mendidik kita untuk menjadi bijaksana dan penuh penguasaan diri. Kita telah dipanggil untuk mengikuti Kristus dan telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti-Nya. Dalam setiap saat dan kesempatan, kita diajar mendengarkan firman Allah dan hidup sesuai dengan firman itu, seperti Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa.

Kebijaksanaan Kristiani ini haruslah memancar dalam hubungan dengan sesama. Dalam diri Anak-Nya Allah memberikan keselamatan kepada semua manusia, tanpa memandang suku, status sosial, dan agama. Allah menjadi manusia untuk menebusnya dari segala cela dan dosanya. Seperti Allah mengasihi semua orang, kita pun dipanggil untuk mengasihi sesama manusia, lebih-lebih sesama yang dipertemukan oleh Allah dengan kita dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Ketika kita mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, dan status sosial, maka kita telah berlaku adil. Kita telah menerima kasih dari Allah, dan Allah menghendaki agar kita mampu membawa kasih itu kepada sesama.

Kehendak Allah hanya dapat kita mengerti bila kita sendiri memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya. Dalam ibadah yang kita lakukan, kita mendengarkan firman Allah, merayakan karya penyelamatan Allah, dan membina hubungan dengan Allah. Ibadah yang sejati membawa manusia pada kebahagiaan karena hakikat kehidupan beragama adalah hidup dalam hubungan pribadi dengan Allah dan ikut mengambil bagian dalam karya Allah untuk mengasihi manusia dan dunia.

2. Rakyat telah memilih orang-orang yang dipercaya untuk memperhatikan dan melayani kepentingan umum demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Walaupun ada di antara mereka yang dipilih itu justru sibuk mengurusi kepentingan sendiri dan lebih mempedulikan kekuasaan daripada kesejahteraan bersama, tidak bisa disangkal bahwa ada banyak orang yang penuh kesungguhan hati melayani sesama.

Dengan dukungan pemerintah atau dengan usaha sendiri, mereka telah berjuang membantu sesama warga bangsa untuk mencapai kesejahteraan dan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Menurut kemampuan masing-masing, banyak anggota masyarakat, baik secara pribadi maupun dalam kelompok, telah berjuang memajukan pendidikan bagi anak-anak bangsa karena sadar bahwa kemajuan bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan mereka di masa sekarang.

Kita berusaha dengan tidak henti-hentinya agar seluruh warga bangsa dapat hidup dengan rukun dan damai. Dalam hubungan itu, kita berupaya untuk terus menerus melakukan dialog dengan berbagai kelompok agama dan masyarakat supaya setiap warga dapat menjalankan kehidupan imannya secara lebih penuh tanpa rasa takut dan curiga satu sama lain. Berbagai hambatan dan kesulitan dalam usaha dialog ini telah kita lalui dan tidak perlu membuat kita patah semangat.Kita patut bersyukur oleh karena bangsa kita telah sanggup bertahan menghadapi berbagai bencana yang silih berganti melanda negeri kita. Berbagai bencana itu tidak membuat kita putus asa dan berhenti berusaha. Masih banyak warga bangsa yang turut berbela rasa dan membantu meringankan beban sesama yang ditimpa bencana dan malapetaka sehingga mereka tidak terhimpit dalam penderitaan yang berkepanjangan.

3. Dalam segala usaha untuk memajukan kesejahteraan masyarakat, memajukan pendidikan, dan menciptakan kerukunan itu baiklah kita ingat akan kasih karunia Allah yang telah dinyatakan dalam diri Kristus. Kasih karunia itu telah mendidik kita dan memberi kita kemampuan agar sanggup hidup secara bijaksana, adil, dan beribadah. Untuk mewujudkan hal itu kami mengajak seluruh umat Kristiani Indonesia mewujudkan hal-hal berikut:

· Tekun mendengarkan firman Allah yang tertulis dalam Kitab Suci agar kebijaksanaan ilahi meresapi pikiran dan hati kita. Kita menyadari bahwa kemajuan zaman merupakan tantangan tersendiri bagi kehidupan iman kita. Sebab itu, anak-anak, remaja, dan kaum muda hendaknya sejak dini diajar untuk mendengarkan firman Allah dan menaatinya.

· Tetap melibatkan diri dalam usaha-usaha untuk memajukan kesejahteraan umum dan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Dengan cara ini, secara nyata kita menjalankan perintah Allah untuk berlaku adil kepada semua orang dan mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, ataupun golongan. Dalam segala usaha ini marilah kita memohon bantuan Tuhan agar Ia menganugerahkan kesejahteraan bagi bangsa kita, kebijaksanaan bagi para pemimpin bangsa kita, dan keamanan bagi negeri kita.

· Terus-menerus menjalankan dengan setia ibadah sejati kepada Allah demi pemantapan iman kepada Tuhan dan menghindarkan diri dari ibadah yang basa-basi. Ibadah sejati tidak dijalankan untuk memamerkan kesalehan tetapi untuk membina hubungan pribadi dengan Allah sehingga benar-benar menghasilkan buah nyata dalam tindakan. Oleh karena itu, hendaknya kita menjauhkan diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, tindak kekerasan, dan sebagainya. Kita dipanggil untuk mengembangkan dan memelihara kebebasan yang bertanggung jawab agar semua warga bangsa dapat menjalankan ibadah dengan leluasa sesuai dengan tatacara agama masing-masing dan kekayaan budaya para pemeluknya.

Akhirnya, marilah kita memohon kebijaksanaan Allah agar kita sanggup memahami firman Allah dan hidup menurut firman itu, sebagaimana Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa.

SELAMAT NATAL 2007 DAN TAHUN BARU 2008

Jakarta, Medio November 2007

Majelis Pekerja Harian
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia

Pdt. Dr. A. A. Yewangoe
Ketua Umum

Pdt. Dr. Richard M. Daulay
Sekretaris Umum

Konferensi Waligereja Indonesia

Mgr. Martinus D. Situmorang, O.F.M.Cap.
Ketua

Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, M.S.F.
Sekretaris Jenderal

Memahami dan Mewujudnyatakan Pesan Natal Bersama KWI-PGI 2007


Dalam menyambut perayaan Natal, setiap tahun PGI dan KWI mengeluarkan Pesan Bersama “kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada”. Adapun proses terjadinya naskah Pesan Bersama itu sebagai berikut: Sebuah tim kecil yang terdiri dari unsur PGI dan KWI bertemu untuk memilih tema, dan selanjutnya menyusun draft pertama. Draft pertama itu kemudian dipresentasikan pada sidang pleno KWI, yang setiap tahun dimulai pada Senin pertama dalam bulan November, untuk mendapatkan tanggapan/masukan. Setelah itu, dikonsultasikan kepada Majelis Pekerja Harian PGI, dan selanjutnya disusun draft kedua. Draft kedua itu kembali dipresentasikan pada sidang pleno KWI, dan berdasarkan tanggapan/masukan baru dari sidang disusun draft ketiga, yang selanjutnya dikonsultasikan kepada Majelis Pekerja Harian PGI, dan akhirnya keluar naskah final.

Dengan demikian setiap Pesan Natal Bersama PGI-KWI melibatkan secara langsung para Uskup Indonesia dalam perumusannya. Bagi umat Katolik Indonesia, ini tentu memberi bobot khusus pada Pesan Natal Bersama tersebut sebagai pesan kegembalaan para Uskup mereka, dalam kebersamaan dengan PGI: Salah satu wujud usaha ekumenis menuju kesatuan penuh yang dikehendaki Kristus, Sang Imanuel (Yoh. 17).

Perayaan Natal dan Masalah Aktual Manusia
Signifikan dan relevan adalah istilah kesukaan Wapres Republik Mimpi pada acara populer News Dotcom, METRO TV. Sebaliknya lawan-kata kedua istilah itu, insignifikan dan irrelevan, digunakan oleh Pdt. Dr. Eka Darmaputra dalam ceramah beliau di depan SAGKI 2000 yang mencanangkan Komunitas Basis sebagai cara baru hidup menggereja (Katolik) di Indonesia. Pdt. Darmaputra mensinyalir bagaimana Gereja-Gereja di Indonesia – beliau berbicara khusus mengenai Gereja-Gereja Reformasi – sedang mengalami insignifikansi internal dan irrelevansi eksternal. Kedalam, Gereja-Gereja telah kehilangan makna bagi umatnya; kebekuan Gereja-Gereja membuatnya tak lagi menjadi sumber kekuatan rohani bagi umatnya dalam menghadapi persoalan kehidupan. Keluar, Gereja-Gereja telah menjadi irrelevan di tengah masyarakat; Gereja-Gereja ditemukan oleh umatnya tak lagi menjadi garam dan terang dunia sebagaimana dikehendaki Kristus (Mat. 5:13-16). Menghadapi situasi seperti itu umat Gereja-Gereja mengambil sikap berbeda-beda. Ada yang dengan rajin berpindah dari Gereja yang satu ke Gereja yang lain, kayak pergi belanja di pasar-pasar mal saja. Yang lain tetap tinggal dalam Gerejanya, tetapi dalam kelesuan. Barangkali mereka ini berpendapat, di mana-mana toh sama saja. Bedanya hanya ada yang pandai menjajakan barang dagangannya dan mengiming-iming dengan harga murah, tetapi isinya belum tentu sungguh bermutu.

Salah satu perayaan besar Kristiani yang rentan terhadap insignifikansi internal dan irrelevansi eksternal ialah Natal. Setiap tahun umat Kristiani merayakan Natal secara luas. Bahkan di banyak tempat perayaan Natal melibatkan pula pemerintah dan umat beragama lain. Tetapi pertanyaan besar yang muncul ialah, sejauh mana perayaan Natal itu membawa dampak dalam kehidupan dan tidak sekedar perayaan yang basa-basi? Padahal perayaan Natal adalah pertama-tama perayaan iman. Sebagai perayaan iman, perayaan Natal tidak hanya sekedar mengenang sebuah peristiwa yang terjadi lebih 2000 tahun lampau. Perayaan iman berarti menghadirkan kembali peristiwa itu pada saat sekarang ini dan dialami dalam iman oleh mereka yang merayakannya. Merayakan Natal dalam iman berarti menghadirkan dan mengalami kelahiran Yesus pada saat sekarang ini, sebagai Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa … Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:16-17). Merayakan kelahiran Yesus dewasa ini harus memiliki relevansi pada situasi masyarakat manusia dewasa ini.

Sedemikian itu maka Pesan Natal Bersama PGI-KWI setiap tahun memilih tema yang relevan pada situasi dan kondisi aktual masyarakat Indonesia. Tahun ini dipilih tema “Hiduplah dengan Bijaksana, Adil, dan Beribadah” (bdk. Tit. 2:12).

Tiga Kata Kunci
Rumusan tema mengambil bentuk ajakan: “Hiduplah…”. Lalu mengikut tiga kata kunci: bijaksana, adil, dan beribadah. Kalau diperhatikan baik-baik, ketiganya menyangkut hidup manusia dalam tiga relasi berbeda: manusia dalam hubungannya dengan diri sendiri (bijaksana); manusia dalam hubungannya dengan sesama (adil); dan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan (beribadah). Dalam ketiga dimensi itu masyarakat Indonesia secara aktual menghadapi masalah.

Pertama, sering terdengar keluhan bahwa masyarakat kita kekurangan tokoh panutan yang bijaksana. Bahkan kebijaksanaan sendiri mendapatkan arti yang melenceng. Kalau seseorang, misalnya, tertangkap polisi karena melanggar aturan lalulintas, dengan mudah berkata, “Minta kebijaksanaan, Pak”, sambil secara sembunyi-sembunyi menyodorkan uang rokok. Kalau seorang siswa tidak lulus ujian salah satu vak, tanpa ragu dia menghadap guru vak bersangkutan untuk meminta kebijaksanaan sambil menyodorkan sebuah amplop. Menurut Kitab Suci, orang yang bijaksana ialah seorang yang pandai mengatur tindakan-tindakannya secara bertanggungjawab, agar berhasil dalam hidupnya (Ams. 8:12-21). Asal usul kebijaksanaan ialah pemberian ilahi berupa “takut akan Allah” (Ams. 9:10; Yes. 11:2; Luk. 21:15; Kis. 6:3.10;7-10). Yesus adalah seorang bijaksana, seorang pendekar kebijaksanaan: perumpamaan-perumpamaan, peraturan-peraturan kehidupanNya membuat orang-orang terheran-heran (Mat. 13:54; Luk. 2:40.52); Injil menegaskan, “yang ada di sini lebih daripada Salomo” (Mat. 12:42).

Selanjutnya, kebijaksanaan yang dipersonifikasikan dalam Perjanjian Lama (Ams. 8:22-31; Keb. 7:25-26; Luk. 11:49), nampak dalam tindakan-tindakan Yesus (Mat. 11:19 // Luk. 7:35). Bila Yesus memanggil kepada diriNya orang-orang kecil, maka Ia tidak melakukannya sebagai pendekar kebijaksanaan yang menyampaikan sejumlah resep kehidupan, melainkan sebagai Putera yang menyatakan rahasia-rahasia Allah (Mat. 11:25-30; Yoh. 6:35; bdk. Ams. 9:5; Sir. 24:19-21) dan yang karena kurbanNya, menjadi kebijaksanaan Allah (1 Kor. 1:24-30; Kol. 2:3).

Dengan memanggil ‘orang-orang kecil’ dan bukan orang-orang bijak dunia ini (Mat. 11:28-30; bdk. Dan. 2:28-30), Allah menunjukkan penolakanNya terhadap kebijaksanaan manusia yang menganggap dirinya mengetahui segala-galanya (1 Kor. 1:19-20; 3:19-20), dan Ia memberikan keselamatan melalui kebodohan salib (1 Kor. 1:17-25; 4:10). Juga orang yang menerima Kebijaksanaan (Ef. 1:8.17; Yak. 1:5; 3:13-17) dari atas, dapat menghargai dan dapat memberitakan hal-hal rohani (1 Kor. 2:6-16; 12:8); ia bertindak dengan hati-hati, dengan pertimbangan-pertimbangan, dan dengan pemikiran mendalam (Ef. 5:15; Kol. 4:5).

Selanjutnya, kata kunci kedua ialah adil: Hiduplah dengan adil. Sila ke-5 Pancasila berbunyi: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Sedangkan berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (lih. laporan Badan Pusat Statistik, Jakarta, 1 Sept. 2006), sampai Febr. 2005, sebanyak 35,1 juta warga negara Indonesia menderita kemiskinan (=15,97% dari 220 juta penduduk). Jumlah itu meningkat menjadi 39,05 juta (=17,75%) pada Maret 2006. Namun jumlah itu terdiri dari kaum miskin yang hidup dengan biaya di bawah sekitar Rp 14.000,- per hari / per orang. Ketika kemiskinan diukur dengan biaya hidup di bawah sekitar Rp 18.000,- per hari / per orang, sebagaimana ukuran yang digunakan Bank Dunia, jumlah orang miskin di Indonesia pada November 2006, ketika penduduk Indonesia sudah tercatat 222 juta, membengkak menjadi 108,78 juta (= 49% penduduk Indonesia!). Data kemiskinan mengerikan seperti ini sungguh ironis dapat terjadi di negeri yang sedari dulu dikenal sebagai negeri yang subur dan kaya raya sumber daya alam. Data itu menampilkan adanya kesenjangan sosial ekonomi yang semakin melebar antara kaya-miskin. Kenyataan inilah khususnya yang mendorong para Uskup Indonesia yang tergabung dalam KWI mengeluarkan satu seri Nota Pastoral antara tahun 2003-2006, bertema “Keadilan Sosial bagi Semua”, yang terdiri dari tiga nomor: pendekatan sosio-politik (Nota Pastoral 2003), pendekatan sosio-budaya (Nota Pastoral 2004), pendekatan sosio-ekonomi (Nota Pastoral 2006).

Secara normatif keadilan dimengerti sebagai keutamaan yang membuat manusia sanggup memberikan kepada setiap orang atau pihak lain apa yang merupakan haknya. Dalam Kitab Suci yang pertama-tama dipandang adil ialah Allah. Allah disebut adil karena Dia selalu setia, tidak pernah mengingkari janji-janji keselamatanNya (lih. Mzm. 40:10-11; Yes. 45:21; 46:13; Mat. 3:15; 21:32; Rom. 3:21-26). Dengan demikian keadilan Allah erat berkaitan dengan kasih Allah yang menyelamatkan.

Kata kunci ketiga dan terakhir dalam Pesan Natal Bersama 2007 ialah beribadah: Hiduplah dengan beribadah. Dalam proses penyusunan Nota Pastoral KWI 2003, salah satu prasaran yang disampaikan dengan tegas menyatakan hancurnya keadaban di Indonesia. Para Uskup Indonesia berpendapat, akar terdalam masalah ini ialah karena iman tidak lagi menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan nyata. Penghayatan iman lebih berkisar pada hal-hal lahiriah, simbol-simbol dan upacara keagamaan. Tempat-tempat ibadah (mesjid, gereja, pura, klenteng) senantiasa dipenuhi umat yang beribadah, tetapi dampaknya dalam kehidupan nyata tak kelihatan. Tentu bukan ibadah seperti inilah yang dianjurkan oleh Pesan Natal Bersama, melainkan ibadah yang sejati.

Menurut Kitab Suci, ibadah Kristen yang sejati ialah ibadah yang diadakan oleh Roh Kudus (Flp. 3:3). Setiap orang beriman Kristen harus mempersembahkan “ibadah sejati”, artinya entah ibadah yang bukan formalitas belaka, entah ibadah yang bukan persembahan hewan-hewan, melainkan “suatu korban yang hidup” (Rom. 12:1-2) ataupun kehidupan yang dipenuhi kasih sejati (Ibr. 12:28; bdk. 13:1-6).

Mewujudnyatakan Pesan
Pesan Natal Bersama menyampaikan tiga anjuran sejalan dengan ketiga kata kunci dalam tema:
1. Berkaitan dengan ajakan untuk hidup dengan bijaksana, dua hal konkrit disebut:
a. Tekun mendengarkan firman Allah yang tertulis dalam Kitab Suci. Untuk menolong kita dalam hal ini, maka di atas disertakan sejumlah rujukan ayat-ayat Kitab Suci yang berkaitan.
b. Khusus untuk anak-anak, remaja, dan kaum muda, agar sejak dini diajar mendengarkan firman Allah dan menaatinya.

2. Berkenaan dengan ajakan untuk hidup dengan adil, kita diharapkan tetap melibatkan diri dalam usaha-usaha untuk:
a. memajukan kesejahteraan umum, dan
b. mencerdaskan anak-anak bangsa, tanpa memandang suku, agama, ataupun golongan. Kecuali itu kita juga dianjurkan untuk:
c. senantiasa berdoa memohon bantuan Tuhan demi kesejahteraan bangsa kita, kebijaksanaan para pemimpin bangsa, dan keamanan negeri kita.

3. Bertalian dengan ajakan untuk hidup dengan beribadah, kita dianjurkan terus-menerus menjalankan dengan setia ibadah sejati, sebagaimana dimaksudkan dalam Kitab Suci (lih. referensi ayat-ayat di atas). Konsekuensi konkrit dari ibadah sejati ialah:
a. Hendaknya kita menjauhkan diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah, seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, tindak kekerasan;
b. Kita juga diingatkan akan panggilan untuk mengembangkan dan memelihara kebebasan yang bertanggungjawab, agar semua warga bangsa dapat menjalankan ibadah dengan leluasa sesuai dengan tatacara agama masing-masing dan kekayaan budaya para pemeluknya. (Di sini secara tidak langsung kita diingatkan pada kesulitan di banyak tempat, termasuk kesulitan mendapatkan ijin membangun rumah ibadah, serta pengrusakan rumah-rumah ibadah).

Selamat Natal 2007 dan Tahun Baru 2008!

Makassar, 8 Desember 2007

+ John Liku-Ada’

Komunitas Basis Gerejawi: Tantangan dan Konsekuensi Pastoral (Masukan Komisi Kateketik KWI 2001)

Kalau kita sudah memilih KBG sebagai jalan untuk hidup bergereja secara baru maka konsekuensinya ialah bahwa kita mesti menghayati secara sungguh-sungguh visi Gereja yang baru dan menjalankan suatu pastoral yang sungguh baru pula. Untuk itu diperlukan perubahan visi dan kerja pastoral sbb.:

1. Subjek Pastoral
Para awam harus bangkit menjadi pelaku kerasulan dan pelaku pastoral. Awam tidak boleh lagi dilihat lagi hanya sekedar objek pastoral atau kaki tangan hirarki, tetapi sungguh menjadi subjek/pelaku pastoral. Itu berarti pastoral “pastor sentris harus sungguh direlatifisir”. Apakah para Pastor secara mental siap melepaskan pelbagai “kekuasaan dan privilage” yang mereka miliki selama ini?

2. Aliansi Pastoral
KBG beraliansi dengan: kelompok anawim, kaum tani dan buruh, rakyat kecil khususnya kelompok marginal.

3. Gaya kepemimpinan pastoral
> Kalau gaya pastoral institusional cenderung bersifat otoriter, paternalistis, dari atas ke bawah, maka gaya KBG bersifat komunikasi iman dan dialogal partisipatif. Suatu gerakan pastoral dari bawah, dari antara kelompok basis. Pastoral yang beralih tekanan :
- Dari pola pembinaan massal yang mengutamakan jumlah besar (massa) ke pola pastoral basis yang mengutamakan daya guna dan hasil guna.
- Dari pola “serba koordinatif” yang bergaya pejabat/priayi ke pola lebih komunikatif yang merakyat supportif dan inspiratif.
- Dari pola indoktrinasi yang mengejar produk sebanyak mungkin bahan/masukan ke pola partisipasi yang menekan proses dan keterlibatan aktif peserta.

> Dalam karya pewartaan gaya pastoralnya sangat mementingkan pola proses dimana dibangkitkan penyadaran yang mendalam. Ia tidak terlalu menekankan rumusan-rumusan yang doktriner tetapi kesadaran beriman. Tidak moralitas, tetapi membangun hidup yang optimis.

> Dalam bidang pengudusan kegiatan bersifat terpadu antara ibadat dan kehidupan nyata sehari-hari, antara rohani dan jasmani. Tidak bersifat dikotomis. Kekudusan tidak terpusatkan pada praktek-pratek kesalehan, tetapi lebih kepada komitmen kepada sesama dan dunia. Menekankan aspek personal, dari hati dan spontan.

> Dalam bidang pembangunan sosial ekonomi pendekatan partisipatif. Bersama umat, oleh umat dan untuk umat, yang membuat umat menemukan lagi kemampuan, harkat dan martabat dirinya.

4. Bidang Kegiatan Pastoral
> Membangun Gereja/KBG
Membangun Gereja/KBG menjadi komunitas kristiani, yang disemangati dengan cinta kasih, iman dan harapan yang sama. Gereja masyarakat injili yang berpusat pada Kristus dan dijiwai dengan Roh Kudus, KBG yang berdaya hidup alternatif seperti Gereja perdana.
> Membangun Kerajaan Allah
Gereja berada dan hadir bukan untuk dirinya sendiri. Gereja hendaknya menjadi tanda dan sakramen keselamatan dunia. Gereja yang akan berusaha untuk membangun Kerajaan Allah di dunia. Itu berarti :
- Peranan pelayanan pastoral bergeser dari perhatian kepada kepentingan intern KBG semata, kepada horizon yang lebih luas, yang tujuannya ialah mengembangkan kemanusiaan yang utuh dan terpadu.
- Pengertian tentang pelayanan pastoral yang dulunya hanya bertolak dari sudut pandangan pemenuhan karya perutusan/misi, kini berubah menjadi satu pilihan secara sengaja memihak suatu konteks atau kelompok tertentu, dimana kesaksian kenabian, kritik, konsientisasi dan rangsangan, merupakan pelayanan pastoral tersendiri. Kita lebih terbuka pada situasi konkret Indonesia, yang diwarnai oleh kemiskinan.
- KBG dalam dunia melihat manusia yang konkrit sebagai “Locus Theologicus” sebagai pokok refleksi teologi. Dialog dengan dunia memaksa orang beriman untuk berrefleksi terus atas pengungkapan iman di dalam KBG dan perwujudan dalam hidup sehari-hari.

5. Tujuan Pastoral
> Pengembangan iman umat yang mempribadi tetapi sekaligus beraspek sosial. Ditanam rasa tanggungjawab dan kebebasan anak-anak Allah. Membangun umat yang bisa memberi kesaksian tentang cinta Allah yang menyelamatkan.
> Pencapaian keselamatan aktual, sekarang ini di dunia ini, selain keselamatan eskatologis, kelak di surga.
> Keselamatan lahir batin. Keselamatan bagi manusia yang utuh, keselamatan bagi jiwa raganya. Makanya kita berusaha supaya manusia sungguh menghayati martabatnya sebagai manusia secara utuh melalui proses pemerdekaan dan pemberdayaan.

6. Wadah-wadah Pastoral
> Kalau Gereja institusional melihat wilayah paroki yang luas sebagai wadah pastoralnya dengan perhatian utama pada stasi pusatnya, maka Gereja komunio justru melihat kelompok basis Gerejani sebagai pusat kegiatan pastoralnya. Kelompok basis sungguh menjadi basis pastoralnya.
> Organisasi-organisasi massa sebagai wadah kegiatan pastoral memang tidak diabaikan, namun pola pastoral ini lebih memusatkan perhatiannya pada kelompok-kelompok kecil yang terbentuk oleh kesamaan, fungsional dan interese pastoralnya menjadi tidak bersifat massal, tetapi pastoral kelompok kecil dan pastoral jaringan simpul-simpul (net-work, penjala manusia).

7. Proses Pastoral
> Pertama: melihat, mendalami dan menganalisa situasi sehingga kita mendapat gambaran yang cukup lengkap tentang kenyataan hidup masyarakat. Kenyataan hidup bisa baik, bisa juga problematik dan buruk (kondisi rill).
> Langkah berikutnya ialah refleksi biblis dan teologis. Refleksi biblis/teologis ini menolong kita untuk menemukan visi kristiani untuk menyoroti situasi yang ada dan mencari jalan untuk usaha penangannya (membuat program). Dengan itu diharapkan program kerja yang direncanakan sungguh bersifat pastoral (kondisi ideal).
> Langkah berikutnya lagi ialah menyusun rencana untuk bertindak. Rencana yang disususn hendaknya sesuai dengan tuntutan-tuntutan pembuat suatu rencana kerja yang baik (strategic pastoral planning)
> Langkah terakhir ialah pelaksanaan program. Sebuah pelaksanaan program, mungkin tercipta suatu situasi baru (lebih baik atau lebih buruk) atau situasinya tetap sama (tidak atau belum berhasi). Situasi itu dilihat, dialami dan dianalisa dstnya … (Operational Pastoral Planning).

Kalau proses ini berjalan secara baik, akan membawa perubahan demi perubahan. Proses transformasi dengan banyak segi bisa terjadi. Dengan demikian komunitas-komunitas itu akan semakin bersikap kristiani atau Gerejani. Gaya hidup alternatif bisa dipupuk. Proses pastoral ini menuntut supaya partisipasi umat KBG dilibatkan semaksimal mungkin. Mereka turut menganalisa situasi, merefleksinya dari segi iman, bersama-sama menyusun rencana dan melaksanakannya. Suatu proses pemberdayaan seluruh umat sudah terjadi.***

Komunitas Basis Gerejawi: Gaya Baru Hidup Menggereja


Pengantar
Jika kita membaca tulisan Bapa Uskup yang berjudul “Menumbuhkembangkan KOMBAS Dalam dan Melalui Wadah-wadah yang Sudah Ada” pada Koinonia edisi Maret-Mei 2007, jelas Uskup menghendaki suatu pembaharuan dalam Gereja Lokal kita, Keuskupan Agung Makassar yang kita cintai. Terinspirasi dari gaya hidup menggereja umat Kristen perdana dalam Kisah para Rasul 4:31-36; 2:42-46 dan hasil SAGKI 2000, Uskup menantang kita supaya dalam reksa pastoral kita, umat dan secara khusus para pastor, pastor paroki dan pemimpin-pemimpin umat, dapat mencontohi gaya hidup menggereja umat Kristen perdana yang ditandai 5 sokoguru atau tiang utama yakni :
1. Unsur Koinonia, yaitu persekutuan persaudaraan, fellowship, sehati sejiwa;
2. Unsur Didache, Iman mereka bertumbuh atas pengajaran para rasul dan pewartan injil;
3. Unsur Diakonia, mereka bersama-sama membagi masalah-masalah yang mereka alami, dan mencari solusinya, mereka saling melayani, saling membantu dan berbagi;
4. Unsur Leiturgia – mereka berkumpul untuk berdoa, mendengarkan sabda Tuhan dan memecahkan roti; dan
5. Unsur Martyria, mereka benar-benar bersaksi kepada Kristus dalam hidup mereka sehari-hari di tengah-tengah masyarakat.

Dan Kitab Suci mengatakan bahwa umat semakin bertambah jumlahnya. Orang-orang lain tidak hanya terkesan dengan gaya hidup mereka (lihat, betapa mereka saling mencintai satu sama lain) melainkan tertarik juga untuk menjadi anggota komunitas kristiani itu sendiri. Demikianlah secara sepintas gambaran tentang gaya hidup menggereja umat Kristen perdana.

Dengan adanya contoh dari umat Kristen perdana, kita pelayan-pelayan umat dewasa ini, ditantang dalam reksa pastoral kita supaya Keuskupan Agung Makassar yang kita cintai menjadi sungguh-sungguh relevan bagi umat kita pada zaman ini yang ditandai banyak perkembangan dan perubahan. Supaya Gereja kita menjadi relevan dewasa ini, sangat perlu suatu pembaharuan. Yang saya maksudkan bukan pertama-tama pembaharuan struktural atau institusional. Akan tetapi suatu pembaharuan lingkungan (environmental renewal). Bagaimana dapat membentuk sebuah lingkungan yang kristiani secara efektif? Kita tahu bahwa tujuan utama Gereja bukanlah membentuk struktur-struktur betapapun pentingnya. Melainkan membentuk komunitas Kristiani yang dapat memampukan mereka untuk hidup sebagai orang-orang sejati. Dalam hal ini, parokilah yang merupakan wadah yang paling cocok untuk membangun dan membentuk komunitas kristiani itu. Karena dalam parokilah seorang Katolik dapat menemukan semua kebutuhannya untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman dan Kristus. Akan tetapi kita juga tahu bahwa dewasa ini paroki-paroki kita semakin besar, artinya semakin banyak umat yang notabene terpencar-pencar. Uskup menggambarkannya sebagai “gereja diaspora”. Dan karena semakin banyak umat, semakin banyak tuntutan juga dan masalah-masalah yang muncul. Dengan demikian pastor paroki disibukkan dengan bermacam-macam kegiatan atau masalah-masalah pastoral. Tenggelam dalam urusan-urusan demikian, bisa saja dia lupa apa yang paling utama yaitu: membawa pembaharuan lingkungan (environmental renewal) yang Kristiani.

Bergerak dan bertindak sekarang!
Menanggapi tantangan itu Uskup bertekad supaya dalam Keuskupan kita terwujud Komunitas Basis Gerejawi mulai dari sisa tahun 2007 ini dan berlanjut sampai tahun-tahun mendatang. Itu sebabnya melalui Panitia, terjadilah Pelatihan Komunitas Basis Gerejawi.

Maka, pada 3-6 Oktober 2007 yang lalu diadakan Pelatihan Komunitas Basis Gerejawi KAMS di Baruga Kare. Komunitas Basis Gerejawi ini sudah lama dibicarakan dan direncanakan, akan tetapi karena satu dan lain hal pelaksanaannya tertunda-tunda. Syukurlah apa yang sudah lama dibicarakan dan direncanakan mulai menjadi kenyataan akhirnya pda tnggal tersebut di atas. Lima puluh lima (55) peserta dari 63 yang diundang mengindahkan undangan Panitia. Para peserta terdiri dari 3 Vikep, 14 Pastor Paroki, 28 Awam dan 5 Ketua/Wakil Ketua Komisi bersama 5 Pastor dari Panitia. Berkumpul bersama dengan fasilitator-fasilitator yaitu Ibu Afra Siowardjaja, Romo Adi SJ, dari Komisi Kateketik KWI dan Romo Lucius Poya, Pastor Paroki dan Dekan dari Keuskupan Pangkal Pinang. Empat belas Pastor Paroki dan 28 awam adalah utusan dari dari 5 Kevikepan KAMS. Para Vikep, pastor paroki dan kaum awam yang dikirim adalah pengurus-pengurus stasi/rukun/paroki dan kevikepannya masing-masing. Pada umumnya kaum awam yang dikirim adalah pengurus-pengurus stasi/rukun/paroki dan semuanya sudah berpengalaman dalam memimpin umat. Sementara kehadiran 5 Ketua/Wakil Ketua Komisi (dari 13 ketua yang diundang) disambut dengan baik karena mereka diminta untuk mem-back-up KBG gaya AsIPA yang akan disiapkan dan dikembangkan; supaya dalam perencanaan dan pelaksanaan program, Komisi bermuara pada pengembangan KBG sesuai tiap komisi yang bersangkutan; misalnya: dapat diminta bantuan dari tenaga Komisi PSE untuk memperkuat unsur diakonia dalam KBG lewat CU (kalau itu dikehendaki oleh umat di dalam KBG ). Hal ini penting supaya ada kesinkronan di lapangan.

Inti dari materi pelatihan ini bermuatan Bahan-Bahan Asian Integral Pastoral Approach (AsIPA) dari Federation of Asian Bishops Conference (FABC) dengan memakai metode partisipatif. Adapun garis besar penyajian dilaksanakan sbb:
Metode Partisipatif adalah metode ini yang digunakan dalam keseluruhan penyajian materi atau proses pelatihan. Dengan metode ini para peserta merasa bahwa mereka adalah subjek bukan objek belajar.
Maksud dan Tujuan: terutama memotivasi para peserta dalam tanggung jawab hidup menggereja dan memasyarakat. Secara khusus para peserta dilatih untuk menjadi pelatih-pelatih atau formator Kombas di stasi/rukun/paroki/kevikepan yang mampu menyelenggarakan dan menghidupkan perkembangan Kombas.

Hari I: Pembukaan dan Perkenalan
Pentahtaan Kitab Suci, mengungkapkan kata atau ayat yang mengena hati mereka; mensharekan pengalaman; dari rangkuman. Kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Vikjen
Pembukaan dan Pengarahan oleh Vikjen KAMS
Perkenalan dan pembentukan kelompok
Harapan dan kecemasan
Pembagian tugas
Pengantar tentang Metode AsIPA dan A 5
Doa malam

Hari II : Gereja Partisipatif
Doa pagi dalam bentuk sharing Injil 7 langkah: Kelompok dibagi 2.
Kedua narasumber memimpin sharing.
Session I : Persahabatan dengan Kristus & pleno
Session 2: A/1
Session 3 : Visi Gereja Partisipatif & pleno
Session 4 : Sharing Injil Menggali Harta Terpendam A/2 & pleno
Session 5 : Kita membagi diri bersama Kristus A/3
Perayaan Ekaristi dipimpin Vikep Luwu
Session 6 : Harvesting
Session 7 : persiapan kelompok untuk sharing Injil pagi.

Hari III : Ciri-Ciri Komunitas Basis Gerejawi
Doa pagi dalam bentuk sharing Injil 7 Langkah: Kelompok dibagi 5
kelompok kecil dan dipimpin oleh salah satu peserta dari kelompok
Session I : Kesaksian dari Romo Lucius Poya bagaimana beliau mengalami suka duka memulai Komunitas Basis Gerejawi di parokinya di Batam. Tanya-Jawab
Rencana tindak lanjut pada kevikepan masing-masing & Evaluasi
Perayaan Ekaristi sebagai penutup yang dipimpin Vikep Tana Toraja
Kata Sambutan dari vikjen KAMS dan pemberian cinderamata kepada 3 narasumber.

Rencana Tindak Lanjut pada Kevikepan masing-masing
I. Kevikepan Luwu:
3 bulan pertama: di masing-masing paroki (percontohan) pastor paroki dan dua fasilitator mengembangkan Kombas di parokinya.
Tim akan berkumpul pada awal 2008
Sosialisasi ke umat

2. Kevikepan Toraja:
Pertemuan Kevikepan dilaporkan hasil Kombas
Masing-masing utusan Paroki akan mencoba di paroki masing-masing merekrut tenaga-tenaga potensial
Merekrut tenaga potensial 1-5 orang
Mengadakan pertemuan dengan tetangga terdekat
Vikep memfasilitasi paroki-paroki utusan untuk mengadakan pertemuan berkala
Sharing Injil 7 langkah akan diperkenalkan pada pertemuan para pengantar.

3. Kevikepan Sulbar:
Memperkenalkan Kombas Sharing Injil 7 langkah di Paroki dan stasi. Dicoba dilaksanakan di dalam rukun.
Menyampaikan dalam rapat kevikepan dan mengusulkan kevikepan untuk menggandakan modul-modul Kombas.
Mengusulkan kepada Depag (Bimas) mengembangkan para fasilitator.

4. Kevikepan Sultra:
Paroki (peserta yang ikut) masing-masing mempratekkan langsung. Melibatkan umat yang lain.
Memberi informasi dalam rapat kevikepan.

5. Kevikepan Makassar:
Membicarakan dengan pastor paroki. Pastor paroki bicarakan di Depas. Depas pahami lalu ke rukun-rukun.
Mengharapkan setiap keluarga mempunyai Kitab Suci.
Secara perlahan-lahan dilaksanakan di doa-doa rukun.

6. Komisi-Komisi:
Komisi PSE, Kepemudaan dan Pastor Mahasiswa berjanji akan mem-back-up KBG KAMS dalam menyusun program Komisi untuk membantu terlaksananya KBG KAMS.

Akhir kata
KBG gaya AsIPA, menurut saya, bukanlah satu kegiatan di antara banyak kegiatan pastoral. Melainkan satu model gaya baru hidup menggereja yang ditawarkan kepada kita oleh Roh Kudus untuk Keuskupan kita melalui Bapa Uskup. Kita akui bahwa memulai sesuatu yang baru rasanya susah seperti yang telah dialami oleh Romo Lucius yang memulai KBG gaya AsIPA dalam parokinya di Batam. Namun, kita tidak boleh menyerah. Memang gaya ini menantang kita untuk mengubah paradigma gaya berpikir dan gaya pastoral kita. Kita memerlukan suatu “paradigm shift” (perubahan paradigma, red.) dalam tugas perutusan kita. Untuk itu diperlukan nekad, ketekunan dan komitmen untuk memulai dan mengembangkan KBG di stasi/rukun/paroki/kevikepan kita. Jika KBG ini adalah pekerjaan Tuhan, Dia pasti membantu. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil.***
P. Ernesto Amigleo, CICM
Vikjen KAMS

Papan Ucapan Proficiat!

Selamat Ulang Tahun ke-59 kepada Mgr. John Liku-Ada’ pada 22 Desember 2007. Ad multos Annos!

Selamat Berpesta Perak Imamat pada bulan Januari 2008: P. Hendrik Njiolah, P. John Turing Datang, P. Anton Sarunggaga, P. Bartho Liling & P. Markus Paretta.

Tahbisan Imam CICM pada Kamis, 20 Desember 2007: Jemadi Yufensius dan Ritan Yoakim, serta Tahbisan Diakon CICM pada hari yang sama: Fr. Marselius, Fr. Bennie, Fr. Sumaryani.
Tahbisan 2 Imam MSC pada 1 Februari 2008 di Paroki St. Maria Diangkat ke Surga, Mamajang.

Tuhan memberkati!

Rapat Dewan Imam KAMS: Kombas dan Tindak Lanjut

Pengantar
Rapat terakhir keanggotaan Dewan Imam KAMS masa-bakti 2002-2007 yang berlangsung tgl 27-29 November 2007 di Baruga Kare Makassar memilih tema KOMBAS (atau Komunitas Basis Gerejawi, KBG, red.) sebagai agenda pembahasan pokok. Untuk mengantar dan mempertajam diskusi, diundanglah seorang “pakar KOMBAS” dari luar KAMS yakni Rm. Gabriel Unto da Silva, dipanggil Romo Gaby. Ketika beliau tugas belajar di Roma, KOMBAS diambil sebagai tema disertasi; sekarang ybs. bekerja sebagai co-vikjen sekaligus Koordinator Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dari Keuskupan Larantuka.

Dalam homili pada Misa Pembukaan, Rm. Gaby kembali menggarisbawahi “roh evangelisasi” sebagaimana dikemukakan dekrit Konsili Vatikan II Ad Gentes dan ensiklik Sri Paus Yohanes Paulus II Redemptoris Missio (7 Desember 1990). Benih firman mesti bertumbuh subur dan menghasilkan buah berlimpah-ruah di dalam setiap situasi yang ada. Rm. Gaby menyentil pandangan seorang ahli yang menerangkan evangelisasi dengan memakai gambaran kosmos yakni planet tata-surya: bintang, bulan dan matahari. Bintang; dialah yang pertama muncul menerangi kegelapan malam namun langsung menghilang menjelang datangnya pagi. Bintang menggambarkan Yesus, Dialah alpha, yang pertama datang namun sangat singkat; hanya 3 tahun berkarya di tengah orang banyak dan sesudahnya wafat (hilang). Benda angkasa kedua, bulan. Bulan bergerak perlahan-lahan, mulai dari bulan sabit hingga bulan purnama. Bulan menggambarkan para rasul yang berangkat membawa pewartaan Injil sehingga semakin meluas. Dan terakhir, matahari. Matahari cepat naik, gelap menjadi terang; sang mentari memberikan kehangatan kepada semua mahluk hidup di bumi. Matahari menggambarkan Gereja dengan gerakan evangelisasi-nya. Agar benar-benar memberikan kehangatan hidup maka re-evangelisasi bagi Gereja mutlak perlu; dan dalam rangka itu dibutuhkan metode baru! KOMBAS dipilih Gereja Indonesia sebagai cara hidup menggereja yang baru.

Latar-belatang KOMBAS:
Teologi Pembebasan - dengan bahasa image: Mesir, Eksodus dan Tanah Terjanji
Para teolog Amerika Latin merefleksikan bahwa Gereja, di dalam memenuhi misi evangelisasinya, perlu mendalami kembali sejarah keselamatan yang dimilikinya. Salah satu sejarah keselamatan yang memberi ilham pembebasan di zaman Israel adalah cerita Keluaran. Cerita Keluaran memberikan kita 3 model situasi yang perlu kita renungkan sebagai bahasa image untuk perjuangan ziarah di zaman kita.

a. Mesir
Setiap persoalan yang kita hadapi sekarang, rupanya tidak luput dari apa yang disebutkan dalam Kitab Keluaran yakni kata Mesir. Seperti diceriterakan di sana, Mesir adalah tempat nenek moyang bani Israel, Abraham bersama anak-anaknya, pernah datang mengadu nasib. Mereka mencoba membangun arti kebahagiaan hidup dengan mengabdikan diri entah di lahan pertanian, peternakan, tanur besi, ataukah infrastruktur, di suatu dunia asing, dunia milik orang lain.
Mesir perlu direfleksikan karena Mesir merupakan bahasa image akan sejarah dunia ini sebagai sejarah yang penuh dengan situasi ketertindasan, situasi ketidakadilan dan situasi yang penuh dengan kemalangan akibat dijajah oleh bangsa lain. Mungkin seperti Israel kita selama ini hidup di Mesir. Hidup di bawah penindasan oleh bangsa lain? Oleh negara sendiri: struktur-struktur kemasyarakatan, politik, ekonomi, hukum? Oleh diri kita sendiri: kebodohan dan kelemahan dosa kita?
Satu hal yang menarik tentang pengalaman di Mesir adalah hubungan Israel dengan Yahwe. Dalam situasi yang serba tertekan itu Israel memiliki kekuatan dari dalam mereka sendiri yakni kedekatan dengan Allahnya yang mereka kenal sebagai Tuhan yang melihat kesengsaraan umat-Nya. Allah yang berbelarasa terhadap tangisan rakyat-Nya, Allah yang berpihak kepada Israel yang menderita.

b. Eksodus
Setelah orang memiliki kesadaran akan situasinya sebagai bangsa dijajah maka langkah berikutnya adalah orang akan memiliki kesadaran pula untuk bagaimana membebaskan diri dari tatanan yang tidak sehat itu. Inilah konsep dasar yang harus kita miliki dari kata eksodus sebagaimana yang disebutkan Kitab Keluaran. Eksodus bermula dari kesadaran Israel sebagai bangsa yang dijajah. Kesadaran itu selanjutnya membangun sikap di dalam diri mereka untuk senantiasa bermigrasi besar-besaran, keluar dari Mesir. Dari Mesir mereka diarahkan kepada utopia pembebesan tanah terjanji. Utopia cita-cita, harapan dan motivasi yang hanya bisa dicapai jika orang mempunyai tekad eksodus, keluar. Eksodus adalah semangat dan tekad perjuangan, melawan segala bentuk kemapanan tatanan yang ada, khususnya tatanan-tatanan yang menindas.
Eksodus itu bukan saja soal semangat dan ketekadan keluar tetapi dia juga simbol proses. Proses yang dimaksudkan adalah bahwa eksodus bukanlah terdiri dari satu gagasan komando tetapi dalam multi unsur, yang seakan-akan membentuk suatu bangunan net-work yang rapih, yang membawa mereka ke keberhasilan perjuangan pembebasan itu sendiri.
Elemen-elemen kekuatan eksodus itu dilihat dalam proses dan memiliki tahap-tahap perjuangan yang jatuh bangun di dalam praksis ziarah itu sendiri. Karena itu, padang gurun yang dilewati di masa Keluaran, dimengerti juga sebagai simbol pencobaan, tantangan, kesulitan, kesukaran dari godaan dunia ini. Dia merupakan tempat kekelaman, tetapi sekaligus adalah malam pembebasan yang bersifat dinamis. Padang gurun itu sendiri memberi inspirasi juga tentang pentingnya sikap pengurbanan, perihal kecermatan dan semangat perjuangan yang pantang mundur. Karena di dalam ziarah itu toh selalu ada saja godaan berupa suara sumbang yang meminta mereka untuk kembali lagi ke Mesir. Kembali kepada status quo yakni kepada sistem yang menindas termasuk usaha-usaha yang menghentikan arus proses perubahan itu sendiri.

c. Tanah Terjanji
Hal berikut yang menjadi tema utama yang tidak terelakkan dalam setiap gerakan, ataukah perjuangan adalah pertanyaan ke mana perjuangan itu mau diarahkan. Maka Tanah Terjanji adalah bahasa image untuk segala cita-cita, motivasi gerakan, harapan, sasaran, ataukah visi, pandangan future oriented thinking yang harus dimiliki. Supaya perjuangan itu jangan menjadi robot, ataukah bagaikan banten ketaton, kerbau yang asal mengamuk. Tanah Terjanji menunjukkan arah, sasaran mengapa sesuatu perjuangan perlu dibangun, mengapa sekarang kita bersusah payah, mengapa dedikasi kita harus dikedepankan dan pengorbanan kita perlu diberikan.

Rapat Dewan Imam: Tindak-lanjut KOMBAS di KAMS
Menindaklanjuti sosialisasi dan pelatihan Kombas yang diupayakan selama ini, rapat Dewan Imam KAMS tgl. 27-29 November 2007 menyepakati sejumlah hal sbb:
Mendukung kevikepan-kevikepan yang sudah melakukan pelatihan untuk melaksanakan program yang sudah disepakati 3-6 Oktober 2007 yang lalu.
Melanjutkan pelatihan yang sama di setiap kevikepan dalam tahun 2008.
Hendaknya semangat Kombas mengubah pola pikir dan gaya hidup para imam.
Sharing Injil 7 Langkah didalami para imam, bahkan diusulkan menjadi bahan retret 2008.

Penutup
Sebagai penutup, berikut diperkenalkan Sharing Injil 7 Langkah yang kiranya sangat membantu dalam rangka memberdayakan KOMBAS.
1. Kita mengundang Tuhan
Marilah kita masuk ke dalam suasana doa. Tuhan senantiasa dekat, kitalah yang kadang menjauh. Kita mengundang Tuhan Yesus untuk datang mengetuk hati kita. Kita mohon rahmat-Nya untuk membuka hati kita dan menerima Tuhan tinggal di dalamnya. Silakan salah seorang memanjatkan doa.

2. Kita membaca Kitab Suci
Mari kita buka Kitab Suci ….., Bab….., Ayat …..
Silakan salah seorang membacanya dengan perlahan-lahan dalam suasana doa dan dengan suara lantang.
Apakah ada yang memiliki Kitab Suci versi yang lain? Jika ada, silakan membaca.

3. Kita memilih kata-kata dan merenungkannya
Kita pilih kata-kata atau kalimat pendek yang paling menyentuh hati kita.
Masing-masing dari kita dipersilakan untuk mengulanginya dengan hikmat, perlahan-lahan dalam suasana doa, sebanyak 3 kali.
Berilah jeda beberapa saat di antara setiap pengulangan.
(Setelah itu, kita baca perikop ini sekali lagi. Silakan salah seorang membacanya dengan perlahan-lahan dalam suasana doa).

4. Kita hening sejenak. Kita dengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada kita
Kita hening selama … menit; kita persilakan Tuhan sendiri bersabda kepada kita melalui kata-kata yang menyentuh kita.

5. Kita sharing apa yang telah kita dengarkan dalam hati kita
Kata-kata mana yang sungguh menyentuh kita secara pribadi.
Mohon kita tidak berdiskusi apalagi berkhotbah.
Pakailah “saya” bukan “kita”.

6. Kita membicarkan tugas-tugas yang “diberikan” kepada kelompok kita
Laporkan tugas yang disepakati dalam pertemuan sebelumnya.
Tugas apa lagi yang mesti dilaksanakan selanjutnya.
Dalam langkah ini diharapkan ditemukan dan disepakati – dengan terang Kitab Suci – tugas-tugas yang berkaitan dengan aneka masalah di sekitar kelompok, baik berkaitan dengan masyarakat maupun lingkungan.

7. Kita berdoa secara spontan
Kini kita semua diundang untuk memanjatkan doa secara spontan, suatu doa yang tulus yang muncul dari lubuk hati kita masing-masing. Dipersilakan.
Marilah kita tutup pertemuan ini dengan doa Bapa Kami.***
Diedit dari bahan Rapat Dewan Imam KAMS tgl. 27-29 November 2007
P. Frans Nipa, Pr

Menyongsong Munas Unio 2008 di Makassar


Unio adalah nama sebuah wadah persaudaraan para imam diosesan, atau yang di Indonesia dikenal dengan nama imam praja. Secara internasional wadah ini dikenal dengan nama Union of Apostolic Clergy. Meskipun keanggotaannya tidak mengikat, wadah ini dimaksudkan untuk menggalang kebersamaan dan persaudaraan, sarana yang mempertemukan untuk saling berbagi pengalaman, saling mendukung dan saling membantu bahkan untuk saling menyemangati manakala semangat mulai memudar. Secara aktual hal ini terwujud baik dalam perjumpaan informal maupun dalam pertemuan yang bersifat formal. Saling mengunjungi, saling memperhatikan, saling berbagi dan saling menguatkan di tengah-tengah pelayanan harian, di sanalah para anggotanya mewujudkan kebersamaan dan persaudaraan ini.

Di Keuskupan Agung Makassar para anggota Unio bertemu secara formal sekurang-kurangnya sekali setahun dalam pertemuan yang biasanya diadakan setelah tahbisan imam. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menerima secara resmi para imam baru masuk ke dalam wadah persaudaraan ini, sekaligus untuk mengadakan sharing dan refleksi bersama.

Wadah ini berdiri secara otonom di setiap keuskupan dan secara nasional dipersatukan dalam kepengurusan Unio Indonesia. Pengurus Unio Indonesia dipilih secara aklamasi setiap tiga tahun melalui suatu Musyawarah Nasional Unio Indonesia. Momen perjumpaan pada pemilihan pengurus baru untuk tingkat nasional tersebut sekaligus digunakan untuk mengadakan sharing pengalaman dan refleksi bersama atas tantangan pastoral yang dihadapi oleh para imam praja di dalam karya pelayanannya. Wadah nasional ini bermaksud untuk mempererat persaudaraan dan mengembangkan jaringan komunikasi antar imam diosesan se-Indonesia.

Pada tanggal 4-11 Agustus tahun 2008, Unio Keuskupan Agung Makassar, berdasarkan mandat dari Munas terakhir di Bali pada tahun 2005, diberi kepercayaan untuk menyelenggarakan Musyawarah Nasional. Dalam rencananya, para peserta Munas kali ini ingin memusatkan refleksinya pada pengembangan misi imam diosesan dalam konteks kultur di mana ia berkarya. Arah refleksi ini tidak lain daripada pemahaman akan konteks konkret umat dan masyarakat setempat yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidup dan karya misioner para imam diosesan Indonesia. Tema yang dipilih untuk Munas kali ini adalah: IMAM DIOSESAN DI TENGAH KONTEKS MULTIKULTURAL, dengan sub tema: Belajar dari Refleksi Historis Karya Imam Praja dalam Gereja Lokal KAMS.

Untuk mengembangkan refleksi inilah para peserta diajak untuk mengadakan “live in” di tengah-tengah umat dan masyarakat. Mereka akan disebar di rumah-rumah umat untuk mengalami kehidupan konkret umat. Dengan cara live in ini, para peserta diharapkan dapat berinteraksi bersama dengan umat. Pengalaman live in inilah, yang akan diperkaya dengan masukan dari nara sumber ahli, kemudian akan diolah sebagai bahan “laboratorium sosial” dalam refleksi, diskusi, dialog dan tentu saja doa bersama, sehingga peserta Munas dapat pulang membawa suatu model kehidupan imam dan umat.

Munas ini akan dilaksanakan di dua tempat secara berkesinambungan:
Tanggal 4-6 Agustus 2008, yang kebanyakan diisi dengan sidang-sidang, akan dilaksanakan di Makassar;
Tanggal 7-10 Agustus, yang akan diisi dengan seminar budaya dan exposure akan dilaksanakan di Tana Toraja. Pemilihan lokasi ini juga merupakan anjuran dari Munas Bali tahun 2005 yang lalu.

Peserta Munas berjumlah ±150 orang imam, yang terdiri dari 17 orang pengurus Unio Indonesia, 49 orang utusan keuskupan-keuskupan, undangan khusus: 15 orang utusan negara-negara tetangga, ketua Union of Apostolic Clergy dari Roma, mantan ketua UAC, Duta besar Vatican, para uskup se-Indonesia, mantan ketua Unio Indonesia periode yang lalu, wartawan majalah Hidup dan UCAN News, Narasumber awam, seorang pengamat proses, ditambah dengan para imam yang datang untuk meramaikan temu akbar ini. Panitia lokal tentu saja di luar perhitungan di atas.

Untuk menyukseskan Munas Unio yang pertama di luar Jawa dan Bali ini, kami memohon dukungan dari segenap umat untuk dengan cara masing-masing ikut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaannya. Bantuan yang sangat kami harapkan adalah mendoakan agar Munas ini dapat terlaksana dengan baik, bersedia apabila diminta untuk menampung peserta di rumahnya, ikut memberikan sumbangan ide, saran, tenaga, dan tentu saja yang tidak kalah pentingnya adalah dana.

Masukan-masukan dari umat sekalian dapat disalurkan lewat para pastor paroki, atau dengan langsung menghubungi salah satu contact person sbb.:
Pastor Paulus Tongli (Jl. Dr Sutomo 47)
Pastor Marsel Lolo Tandung (Jl. Thamrin 5-7)
Pastor John da Cunha (Jl. Serui 18/33)
Pastor Leo Sugiyono (Jl. Serui 18/33)
P. Andreas Rusdyn Ugiwan (Jl. Gagak 19)
P. Fredy Rante Taruk (Jl. Dr. Sutomo 47)
P. Carolus Patampang (Pastoran Rantepao Tana Toraja) ***
(P. Paulus Tongli Pr)

Ziarah Taize di Bumi Yogyakarta: Memilih Mencintai, Memilih Berpengharapan


Keluarga-keluarga, Gereja serta Komunitas-komunitas lintas denominasi kristiani di Yogyakarta menyambut dengan hangat para peziarah muda yang datang dari berbagai kota di Indonesia mengikuti acara Ziarah Iman di Bumi, 23-25 November 2007. Bruder Alois bersama dengan dua bruder dari Taizé, Prancis, ikut ambil bagian dalam pertemuan tersebut.

Kegiatan Taizé bertajuk “Ziarah Iman di Bumi Yogyakarta: Memilih Mencintai, Memilih Berpengharapan” merupakan pertemuan kaum muda dalam kerangka "Ziarah iman di bumi" yang diprakarsai oleh almarhum bruder Roger, pendiri Komunitas Taizé, Prancis. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mendukung kaum muda dalam pencarian mereka akan Tuhan dan komitmen mereka terhadap Gereja dan masyarakat. Menaruh kepercayaan dan kedamaian akan menjadi pusat bahasan dari pertemuan. Program acara meliputi doa bersama dan pertemuan dalam kelompok kecil. Para peserta (peziarah) selama kegiatan berlangsung menginap di keluarga-keluarga atau pun di jemaat/paguyuban/komunitas di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada kunjungan tiga hari ke Yogyakarta, Bruder Alois Leser, pemimpin komunitas ekumenis Taize di Prancis, mendorong kaum muda Kristen guna mewujudkan persatuan umat Kristen.

"Mari kita melangkah menuju persatuan nyata umat Kristiani. Dengan cara ini, Injil akan sepenuhnya efektif dan Sabda Allah akan berbicara kepada semua orang di zaman sekarang," kata rahib Katolik asal Jerman itu kepada sekitar 500 kaum muda Katolik dan Protestan dari Indonesia dan Timor Leste pada hari pertama dari kunjungan 23-25 November itu.

Kaum muda itu menghadiri acara doa di aula seluas 800 meter persegi milik Universitas Sanata Dharma yang dikelola Serikat Yesus di Sleman, Yogyakarta. Mereka duduk di atas tikar di depan sebuah altar kecil dengan sebuah salib dan lilin bernyala di atasnya. Hadir pula Bruder Ghislain asal Belgia dan Bruder Francesco asal Indonesia.

"Janganlah kita takut akan masa depan... Allah menjadikan kita sebagai para pencipta bersama Dia. Dia memberi kita keberanian untuk memulai, bahkan ketika situasi tidak memungkinkan. Dia mengirim kita bersama kelemahan kita sebagai manusia untuk meneruskan, melalui hidup kita, sebuah misteri pengharapan," kata Bruder Alois, 53 tahun.


Indonesia merupakan perhentian terakhir dari tur Asia Bruder Alois sejak dipilih sebagai pemimpin komunitas Taize tahun 2005. Ia tiba pertama kali di Bangkok, dan kemudian pergi ke Hong Kong dan Seoul sebelum tiba di Yogyakarta. Dari sini ia pergi ke Kamboja. Bruder Alois menjelaskan bahwa ia dan para bruder Taize memutuskan untuk datang ke Indonesia karena keprihatinan kami bahwa negeri ini dilanda bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi, dan situasi ini mempererat hubungan antara komunitas kami dan negeri ini."

Gempa mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada pertengahan 2006 dan gempa yang berpusat di bawah permukaan laut yang menghasilkan tsunami menghancurkan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004.

Acara 23 November itu dimulai dengan sambutan pembukaan oleh Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo dan Bruder Alois, yang disusul dengan doa ala Taize selama satu jam. Doa ini biasanya mencakup lagu yang dinyanyikan berulang-ulang, meditasi, dan refleksi tentang ayat-ayat Injil seputar salib. Pencahayaan biasanya menggunakan lilin atau lampu redup.

Keesokan harinya, Bruder Alois memimpin refleksi spiritual dan doa. Hari terakhir, ia dan kedua bruder itu mengunjungi Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran bersama beberapa peserta.

Bruder Francesco mengatakan bahwa tema acara doa itu, Ziarah Iman di Bumi, memiliki makna khusus bagi para bruder Taize karena mereka pergi dari satu negara ke negara lain sambil menebarkan benih-benih iman. "Kami hanya menebarkan benih melalui pertemuan doa dan kegiatan sosial kami," katanya, "dan biar kaum muda sendiri yang berupaya mengembangkannya." Seorang peserta, Margareth Aritonang, 25, mengatakan bahwa ia merasa doanya semakin mendalam dengan doa dan lagu ala Taize.

Uskup Agung Suharyo, dalam sambutan pembukaan, mengajak kaum muda untuk menjadikan acara itu sebagai kesempatan untuk bersatu dengan "mau melupakan diri sendiri sehingga hidup kalian semakin bisa dibagi-bagikan kepada orang lain."

Bruder Roger Schutz, yang berlatarbelakang Protestan, mendirikan komunitas Taize tahun 1940-an di Taize, sebuah desa di Prancis, untuk berkarya dan berdoa bagi perdamaian dunia. Saat ini, komunitas ini memiliki sekitar 100 anggota dari berbagai tradisi Kristen dan sekitar 30 negara. Para bruder bekerja untuk hidup dan tidak menerima sumbangan. Seorang wanita menikam Bruder Roger hingga tewas tahun 2005, di usia 90, dan kini Bruder Alois menggantikan pendiri itu. *** (toni: dari berbagai sumber)

World Youth Day 2008 di Sydney Memanggil Kaum Muda!


Pekan Pemuda Sedunia (WYD) 2008 di Sydney, Australia akan berlangsung dari tanggal 15-20 Juli 2008. WYD pertama kali diadakan di Roma tahun 1986 dan selanjutnya diadakan setiap tiga tahun sekali. Apa itu Pekan Pemuda Sedunia?

WYD adalah sebuah kegiatan kaum muda paling akbar di dunia, yang diikuti oleh mereka yang berusia 16-35 tahun. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari dengan isi acara kegiatan religius dan kebudayaan.

Pelaksanaan WYD 2008 di Sydney mengambil tema, “Engkau akan menerima kekuatan ketika Roh Kudus turun ke atasmu dan engkau akan menjadi saksi-Ku” (Kis 1:8). Tema ini dipersiapkan oleh Paus Benediktus XVI dalam 3 tahun dengan Tema ‘Roh Kudus’. Tahun 2006 berfokus pada Roh Kudus, Roh kebenaran, yang memimpin kita kepada Yesus dan mengajak kita untuk berjumpa secara pribadi denganNya di dalam kerajaan Allah. Tahun 2007 berfokus pada Roh Kudus, Roh Kasih, yang memimpin kita secara khusus untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dari saudara-saudara kita dan membawa kita menghadirkan Kerajaan Allah melalui tindakan-tindakan kasih. Tahun 2008 membantu kita untuk mengerti bahwa Roh Kudus, Roh Kebenaran dan Kesaksian memperbaharui diri kita dan memberi kita kekuatan untuk memaklumkan kesaksian akan Injil.

WYD sebagai pertemuan akbar Kaum Muda Sedunia dimaksudkan sebagai sebuah gerakan dan peziarahan iman. Di dalam peziarahan ini kaum muda akan mengalami kekuatan dari Roh Kudus. Melalui kegaitan ini Kaum muda diarahkan untuk menemukan kembali kehidupan iman yang berpusat pada Sabda dan Sakraman, sehingga akhirnya mereka dapat memberi kesaksian akan Yesus Kristus. Inilah visi dan tujuan dari WYD ini.

WYD akan dipusatkan di Sydney dan akan dihadiri sekitar 500.000 peserta. Sekitar 300.000 peserta berasal dari luar Sydeny termasuk 125.000 peserta dari utusan kaum muda di seluruh dunia. Konferensi Uskup Australia telah meminta KWI untuk mengirimkan sekitar peserta 900 orang yang berasal dari utusan-utusan yang mewakili keuskupan-keuskupan di Indonesia.

WYD tidak hanya pertama kali diadakan Australia tetapi yang pertama kali di kawasan Oseania. Oleh karena itu umat Oseania sangat bergembira dengan adanya kegiatan ini. Peristiwa WYD ini adalah kesempatan untuk membangun persaudaraan orang Australia dengan berbagai macam komunitas pribumi di Oseania.

Kegiatan WYD ini dilaksanakan dalam tiga Tahap. Tahap pertama adalah sampai Juni 2008, tahap kedua Juli 2008 dan tahap ketiga bulan Agustus 2008 dan seterusnya. Seluruh persiapan ini diberi nama activ8 (berasal dari kata Act: Chapter 1 verse 8; Kis.1:8) yang mengajak semua pihak membangun komitmen untuk terlibat secara aktif untuk WYD.

Tahap pertama meliputi persipan logistik dan pelayanan pastoral yang meliputi evangelisasi, katekese dan doa. Sebagai contoh persiapan WYD dalam bentuk doa adalah pentahtaan Sakramen Mahakudus di setiap paroki di Australia selama satu jam dalam satu minggu. Yang menarik juga adalah perjalanan salib dan icon WYD. Salib dan icon ini mulai diarak melalui Afrika, Asia Tenggara, Oseania dan tiba di Australia pada tanggal 1 Juli 2007. Salib dan icon itu selanjutnya diarak di jalan-jalan oleh kaum muda dan diteruskan ke keuskupan-keuskupan dengan kadang-kadang menggunakan helikopter. Salib dan icon itu diarak oleh kaum di keuskupan tersebut selama satu sampai dua minggu.


Tahap kedua adalah Pelaksanaan WYD pada tanggal 15-20 Juli 2008. Tahap kedua ini disebut sebagai peziarahan iman: bertemu dengan Yesus, Roh KudusNya dan GerejaNya. Acara akan berlangsung pada Selasa, tanggal 15 siang dengan Misa pembukaan oleh Uskup Agung Sydney. Rabu-Jumat (tgl 16-18) adalah “triduum” atau 3 hari persiapan untuk pelaksanaan Tuguran (Sabtu tgl 19) dan Misa Puncak (Minggu tgl 20) bersama Paus. Adapun acara-acara yang akan berlangsung selama WYD ini adalah:
Setiap pagi-siang dari tanggal 16-18 diadakan kegiatan Katekese dengan tema: Sakramen Rekonsiliasi. Katekese ini akan diberikan oleh para uskup yang berasal dari seluruh dunia. Katekese akan diberikan menurut bahasa masing-masing dalam kelompok-kelompok di gereja-gereja dan ruang pertemuan di sekitar Sydney.
Sore sampai malam dari tanggal 16-18: Festival Kaum Muda yang meliputi: pertemuan-pertemuan doa, tuguran, konser musik, teater, dansa, presentasi film, dll.
Tanggal 17 Juli siang acara penyambutan Paus. Paus akan naik perahu dari pelabuhan Sydney (Sydney harbor) menuju lokasi dan peserta WYD akan berkumpul di tepi pantai menyambut kedatangan Sri Paus.
Tanggal 18 Juli sore hari sampai malam diadakan jalan salib melalui jalan-jalan di Sydney. Direncanakan Mel Gibson (sutradara The Passion of Christ) akan mementaskan Jalan Salib hidup dari Gedung Opera Sydney ke Gereja St. Catharina.
Tanggal 19 Juli adalah perjalanan (peziarahan) seluruh peserta WYD sejauh 9 km dari Sydney menuju lapangan Randwick. Setiba di Randwick, seluruh peserta pada malam hari mengikuti tuguran bersama Paus. Minggu tanggal 20 Juli: Misa dipimpin oleh Paus sebagai puncak acara dan sekaligus mengakhiri tahap kedua WYD.

Tahap ketiga adalah tahap sesudah WYD. Tahap ini mengenai buah-buah dari WYD, yaitu tindakan yang diambil untuk menghadapi misi Gereja masa depan.

Berhubung kegiatan ini diadakan di Australia dan Indonesia adalah negera tetangga, maka Konferensi Uskup Australia telah datang ke Indonesia sekaligus mengundang partisipasi KWI. KWI diminta mengikutsertakan orang-orang muda katolik dari keuskupan-keuskupan untuk mengikuti kegiatan WYD ini. Namun perlu diingat bahwa mengikuti World Youth Day adalah mengikuti pilgrimage (peziarahan) orang muda Katolik,  bukan sekedar piknik! Anda menjadi peziarah bukan turis!" kata Ketua Konferensi Uskup Australia di KWI, Agustus 2007.


KWI telah meminta kepada Komisi Kepemudaan KWI agar memberikan sosialisasi sekaligus memfasilitasi peserta Orang Muda Katolik (OMK) dari keuskupan-keuskupan. Sehubungan dengan peserta kaum muda Indonesia Komkep KWI memberi penjelasan berikut:
Komisi Kepemudaan KWI memberikan kesempatan kepada  setiap Keuskupan untuk mengorganisir keberangkatan delegasi dari masing-masing Keuskupan ikut serta dalam WYD.
Apabila Keuskupan tidak dapat mengorganisir  keberangkatan delegasi,  Komisi kepemudaan KWI juga membuka  pendaftaran peserta dari negara indonesia untuk WYD.
Peserta merupakan  perwakilan keuskupan yang telah direkomendasikan oleh masing – masing Keuskupan.
Pembiayaan akomodasi peserta ditanggung oleh masing-masing Keuskupan atau pribadi atas rekomendasi Keuskupan.
Peserta berumur 18-35th dan telah memiliki Paspor. Diharapkan peserta mempunyai kemampuan berbahasa Inggris agar memudahkan komunikasi dalam proses acara.
Setiap peserta wajib mengikuti seluruh rangkaian proses acara.
Biaya peserta WYD 2008 sebesar US $1195/peserta.
Adapun alokasi penggunaan biaya di atas meliputi: Biaya akomodasi dan transportasi Pra WYD 2008, 12-14 Juli 2008 Wisma Samadi Klender Jakarta.  Biaya tiket pesawat Jakarta-Sidney-Jakarta. Biaya airport tax, biaya Fiskal, Visa, dan Asuransi, Registrasi WYD Sidney 2008, Dana solidaritas WYD, Merchandise/emblem peserta (2 kaos, topi, slayer resmi WYD). Dengan ketentuan: Jika biaya pelaksanaan ternyata kurang dari biaya di atas maka sisa uang akan dikembalikan kepada peserta. Biaya di atas tidak termasuk pembuatan paspor.
Peserta wajib mengisi semua form pendaftaran, dan dikembalikan kepada OC WYD delegasi Indonesia sebelum tgl 28 Februari 2008 dengan menyertakan pasfoto ukuran 4x6 sebanyak 3 lembar.
Peserta akan berkumpul di Jakarta pada tanggal 12  Juli 2008 di Wisma Samadi Klender Jakarta, dalam rangka Acara Pra WYD 2008.
Tiap peserta diwajibkan membawa pakaian adat demi keperluan acara WYD 2008 dan diharapkan membawa cinderamata daerah asal.
Biaya transportasi dari daerah asal  ke Jakarta di luar biaya deposit yang telah ditetapkan pada poin no.7 di atas.
Peserta akan kembali ke Indonesia pada tanggal 20 Juli 2008 dan akan diantar oleh panitia OC K3WI WYD 2008 ke kantor KWI, Jakarta.
Pihak panitia OC K3WI WYD 2008 tidak akan mengakomodir peserta yang pulang kembali ke Indonesia di luar tanggal 20 Juli 2008.
PENDAFTARAN  KEPADA PANITIA (OC INDONESIA) DITUTUP  PALING  LAMBAT  TANGGAL  28  FEBRUARI  2008.


Keikutsertaan Orang Muda Katolik dari KAMS dapat menyadarkan kita bahwa kaum muda kita di KAMS adalah bagian dari kaum muda dalam Gereja universal. Kaum Muda KAMS dapat juga mengalami suatu peziarahan iman bersama dengan kaum muda dari seluruh penjuru dunia. Bukankah itu menjadi kekuatan orang muda Katolik! Selanjutnya OMK KAMS juga dapat belajar bagaimana membangun persaudaraan, bagaimana mempersiapkan acara dan mengadakan acara, bagaimana memberi bobot pada acara atau kegiatan kebersamaan kaum muda untuk pertemuan kaum muda. Kiranya hal ini dapat menjadi inspirasi untuk kegiatan temu kaum muda katolik yang juga kerap kali diadakan di tingkat paroki, kevikepan dan keuskupan. ***
P. Yulius Malli,Pr
Ketua Komisi Kepemudaan KAMS

Teladan Bunda Maria dan Globalisasi


Natal selalu mengingatkan pada kisah pasangan dari Nazareth, Yusuf dan Maria. Maria mengalami pengalaman mengejutkan ketika malaikat Gabriel mengatakan, “engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki”. Maria tidak begitu saja memahami kabar itu. Malaikat itu menjelaskan kepada Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus” (Lukas 1:35). Maria tanpa banyak bertanya kemudian ia menjawab “terjadilah padaku menurut kehendakMu”.

Tugas yang dibebankan padanya oleh Malaikat Gabriel diterima Maria dengan kegembiraan dan juga tanda tanya besar dalam benaknya. Namun dengan didasari iman yang tulus pada Tuhan, Maria menjalankan tugas untuk kehidupan umat manusia selanjutnya. Maria percaya pada Tuhan. Maria menghormati anugerah hidup yang berasal dari Tuhan.

Penghormatan terhadap hidup manusia atau penghormatan terhadap kemanusiaan kemudian menjadi pokok ajaran Yesus Kristus dalam bentuk ajaran cinta kasih. Dalam konteks penghargaan terhadap kemanusiaan, apakah ketulusan Maria menjalankan tugas perutusannya digunakan untuk merefleksikan penghargaan terhadap kemanusiaan. Kemudian timbul pertanyaan mendasar, apakah dalam abad ke-21 atau sering disebut era global menjadi ajang untuk merefleksikan penghargaan terhadap kemanusiaan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, memang kemudian jawaban sederhananya dikembalikan kepada perilaku terhadap umat manusia. Namun apakah semua dikembalikan kepada perilaku umat manusia. Padahal kita tahu bahwa didunia ini ada instrumen yang mengelola perilaku dan mampu mengintervensi perilaku manusia yaitu pemerintah. Dalam bentuk yang lebih sistematis yaitu Negara. Lalu coba disimak lebih jauh lagi tentang kondisi bangsa kita. Bangsa kita sampai saat ini belum bisa terbebas dari berbagai masalah. Setiap hari masalah terus bertambah tanpa ada penyelesaian yang mendasar dari pemerintah. Penyelesaian yang terlihat merupakan penyelesaian simbolik dengan tidak menyentuh akar masalah.

Gereja Katolik dalam Sidang Agung Gereja Katolik 2005 merumuskan penyebab keterpurukan bangsa ini yaitu keretakan hidup berbangsa, formalisme agama, korupsi, kemiskinan, pengangguran, kriminalitas/premanisme, penderitaan buruh, terpuruknya matra hidup seperti lingkungan hidup, pertanian, pendidikan, kesehatan dan kekerasan dalam hidup berbangsa (Hidup, 12/12/2005).

SUMBER KETERPURUKAN BANGSA?
Rumusan Sidang Agung Gereja Katolik 2005 memang merupakan masalah yang setiap saat terjadi di bangsa. Setiap saat tersaji dengan gamblang dalam kehidupan sehari kita, baik melalui pemberitaan di media massa ataupun yang kita rasakan secara langsung. Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan semua itu terjadi. Keterpurukan bangsa ini memang tidak bisa lepas dari 32 tahun regim otoriter militeristik Orde Baru yang merusak segala sendi kehidupan rakyat. Pilihan ekonomi politik regim Orde Baru yaitu kapitalistik dengan ilusi ekonomi Pancasila kemudian membawa bangsa ini ke arah masalah yang sangat kompleks. Pilihan ekonomi kapitalis membuat Indonesia harus masuk dalam sebuah dunia ekonomi yang disebut neoliberalisme yang diwujudkan dengan istilah Globalisasi. Dalam era Globalisasi menurut Gereja Katolik dalam rumusan Habitus Baru ada tiga pilar utama dan penting dalam di bangsa ini yaitu Pengusaha, Penguasa dan Civil Society. Sayang bahwa dalam Habitus Baru tersebut Gereja Katolik tidak secara tegas membuat negasi terhadap Globalisasi (Neoliberalisme). Memang disebutkan bahwa Globalisasi mempunyai dampak negatif terhadap umat manusia, namun ketidaktegasan Gereja akan membuat ambigu umat. Dengan begitu globalisasi bukanlah sebuah hal yang perlu diwaspadai. Apalagi masih banyak pemahaman baik dikalangan Imam ataupun umat menyebutkan Globalisasi hanya melihat dari dampak saja, misalnya teknologi, konsumtifisme dan lain-lain. Tetapi tidak secara substansi disebutkan dampak Globalisasi dari sudut pandang yang lebih komprehensif dan mendasarnya misalnya ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya bangsa yang akan hilang jati dirinya.

Globalisasi dalam bentuk neoliberalisme atau perdagangan bebas dalam banyak hal tidak mampu memberikan solusi bagi rakyat Indonesia. Indikasi tersebut dapat terlihat karena:
1. Anti terhadap keadilan
Pilihan ekonomi kapitalistik pemerintah Indonesia, berdampak pada ketidakadilan penguasa terhadap rakyatnya sendiri. Di Indonesia ketidakadilan tersebut sangat nyata terlihat dari sikap pemerintah yang hanya berpihak pada pemilik modal asing. Bentuk keberpihakannya lebih mencabut subsidi BBM untuk kepentingan pemilik modal ketimbang untuk rakyatnya, lebih memilih menambah hutang ketimbang menolak hutang, memilih kebijakan investasi pihak asing ketimbang menguatkan industri nasional, menjual aset atau perusahaan asing ketimbang diberikan kepada rakyat. Tindakan tersebut dilakukan dengan logika ekonomi kapitilistik yang memang lebih berorientasi pada akumulasi modal pada beberapa orang saja. Dalam pemaknaan global, ketidakadilan tersebut dapat juga dilihat dari tingkat kesejahteraan negara-negara maju jauh lebih baik ketimbang negara-negara berkembang, bahkan dalam perjalanannya negara-negara maju malah melakukan penghisapan kekayaan alam untuk kepentingan negara mereka.

2. Meminimkan kesejahteraan sosial
Kampanye globalisasi adalah untuk kesejahteraan umat manusia di seluruh muka bumi. Kesejahteraan tidak hanya menjadi milik negara-negara maju, tetapi juga milik negara berkembang atau terbelakang. Memang kesejahteraan meningkat, tetapi peningkatan kesejahteraan hanya berlaku bagi kelas masyarakat yang memiliki akses ekonomi dan kekuasaan yang besar. Kalau akses rakyat terhadap ekonomi dan kekuasaan minim maka tentunya bukan kesejahteraan yang didapatkan tetapi keterpurukan dan pemiskinan.
Ukuran yang paling nyata dari meminimkan kesejahteraan sosial, pemerintah atau penguasa dalam bidang ketenagakerjaan sangat sedikit aturan yang memihak pada buruh. Kalaupun ada aturan yang berpihak pada buruh maka sangatlah sulit untuk dipenuhi. Misalnya masalah hak-hak normatif saja buruh sangat sulit untuk mendapatkannya apalagi hak-hak lebih politis. Contoh paling anyar saat rencana kenaikan upah minimum dari tahun ke tahun akan didahului dengan aksi demonstrasi buruh agar upah minimum dapat meningkatkan kesejahteraan. Bahkan ketika pemerintah akan merevisi UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, kembali gelombang besar demonstrasi buruh menolaknya.

Petani sebagai kelas masyarakat mayoritas di Indonesia sampai saat ini belum memperoleh kesejahteraannya. Lahan pertanian yang seharusnya diperuntukkan kepada petani ternyata lebih diperuntukkan kepada pengusaha atau pemilik modal besar untuk membuka perkebunan. Akibatnya petani hanya bekerja diatas tanahnya sendiri. Kondisi ini hampir sama dengan sistem kultur stelsel (sistem tanam paksa) yang diterapkan oleh Kolonial Belanda. Menyempitnya lahan kelola petani ternyata diperparah lagi dengan harga pupuk yang makin mahal, tetapi tidak diikuti dengan kenaikan harga pangan utamanya beras/gabah. Apalagi BULOG membuat kebijakan impor beras, sebuah tindakan ironi bagi Indonesia yang merupakan negara agraris. Penguasa/pemerintah tidak berusaha meningkatkan kesejahteraan petani misalnya dengan mengembangkan teknologi pertanian yang murah dan membuat kebijakan distribusi hasil pangan yang berpihak petani.

Keluarnya Pepres No.36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum lebih memperparah kondisi agraria di Indonesia. Dalam aturan ini pemerintah memiliki kekuasaan penuh atas tanah. Dengan alasan kepentingan umum setiap orang mendiami tanah akan dapat digusur. Kondisi tersebut dapat kita lihat di hampir seluruh Indonesia, Pemerintah dengan Satuan Polisi Pamong Praja seringkali melakukan penggusuran. Penggusuran yang dilakukan sebuah tindakan ironi di tengah masyarakat yang terhimpit berbagai kesulitan hidup dan kesulitan ekonomi.

3. Ketidakadilan terhadap lingkungan hidup dan pertanian
Globalisasi menuntut eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam. Tuntutan ini ternyata berdampak pada ketidakadilan terhadap lingkungan hidup. Ketidakadilan terhadap lingkungan hidup dapat terlihat dengan meningkatnya polusi hampir berbagai wilayah Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri untuk meningkatkan produktifitas sebuah bangsa maka peningkatan industri harus digalakkan. Namun sayang kebijakan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produktifitas bangsa tidak dibarengi dengan pengelolaan lingkungan yang baik pula. Kasus-kasus penebangan hutan liar atau ilegal logging yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha kayu menunjukkan betapa eksploitasi alam atau hutan hanyak diperuntukkan untuk keuntungan segelintir orang. Sudah pasti ilegal logging akan merusak lingkungan dan merupakan penyebab utama banjir.

Dalam hal pertanian, revolusi hijau yang dimulai sekitar tahun 1970an merupakan awal dari keterpurukan petani di Indonesia. Penggunaan pupuk kimia dan penggunaan bibit padi yang mengejar waktu tanam dan panen ternyata berdampak buruk pada hilangnya bibit lokal yang tahan akan hama dan hilangnya kearifan lokal yang menghargai proses penanaman padi sebagai bagian dari alam. Memang bangsa kita tidak ingin kembali ke zaman tradisional dalam hal pengelolaan pertanian. Rakyat membutuhkan pangan dengan cepat, tetapi akibat dari revolusi hijau ternyata malah menurunkan produktifitas tanah.

Penggunaan pupuk kimia selama puluhan tahun ternyata menurunkan kadar kesuburan tanah. Ibarat Pecandu Narkoba, tanaman tidak akan atau sulit tumbuh jika tidak menggunakan pupuk kimia.

LALU APA YANG HARUS DIBUAT DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI (NEOLIBERALISME)?
Gerakan terhadap anti Globalisasi telah dilakukan oleh bebagai masyarakat didunia ini. Berbagai forum dan pertemuan untuk menolak globalisasi telah dilakukan diberbagai negara. Di Indonesia gerakan menolak globalisasi juga berlangsung.
Lalu bagaimana dengan Gereja Katolik atau Keuskupan Agung Makassar?
Gereja dalam konteks ini kita tidak diajak untuk menerima atau menolak globalisasi, namun ada beberapa hal yang penting untuk dikampanyekan atau disebarluaskan di tengah bangsa kita yang dirundung berbagai masalah. Hasil Sidang Agung Gereja Katolik cukup representatif tetapi kemudian sebaiknya dibuat dalam hal yang lebih konkrit.

Keuskupan Agung Makassar sebagai pintu Kawasan Timur Indonesia dan mercu suar perpolitikan dalam menghadapi globalisasi sebaiknya melakukan beberapa hal yang memang menjadi sebuah tindakan konkrit. Beberapa hal yang penting dilakukan ;
Pertama; proaktif dalam berbagai kondisi sosial yang menjadi concern Gereja Katolik. Misalnya keterlibatan aktif dalam masalah perburuhan, masalah petani, kampanye antikorupsi dan antikekerasan serta antidiskriminasi.
Kedua; membangun jaringan tidak hanya dalam makna dialog agama, tetapi lebih luas dari itu jaringan dan komunikasi yang lebih bermakna perjuangan untuk pembelaan kaum tertindas.

Semoga teladan Maria tidak hanya menjadi tumpukan tulisan, tetapi sebuah aksi nyata dalam kehidupan menggereja dan bernegara serta bisa menjadi awal perubahan bangsa Indonesia yang kita cintai bersama.***
Anselmus AR Masiku, SH
Praktisi Hukum

Kronik KAMS September-November 2007

1 September
Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma di Langda, stasi paroki Nonongan, Tana Toraja.

Akademi Keperawatan dan RS Fatima Pare-pare, keduanya dimiliki oleh KAMS dan dikelola oleh Yayasan Sentosa Ibu mengadakan upacara pelantikan direktur RS dan Akper Fatima. Turut hadir Ketua Yayasan, Andreas Lumme, SH, MHum yang melantik Direktur RS Fatima drg. Merly Gosal (menggantikan dr. Rix Ronggani); dr. Arciana Leman sebagai Pembantu Ketua I; Sr. Florentina Supeny BKK, Pembantu Ketua II; Nurse Romawi Hutapea untuk Bagian Medis, dan akuntan Stanislaus SE, Ak. Sebagai Bendahara. Bpk. Stanislaus menggantikan Bpk. Budi yang menjabat sebagai Bendahara sebelumnya. Bpk. Budi yang telah mengabdi selama 3 tahun menjadi Penasehat Keuangan. Sementara itu, Akper Fatima memiliki pengurus baru: Nurse Agustina, Pembantu Ketua urusan akademik; Nurse Jenny, dan Pembantu Ketua urusan keuangan Bpk. Petrus Taliabo. Dalam kata sambutannya, direktur baru menegaskan rencana pengembangan kedua unit kerja, menekankan pentingnya kerjasama dan kekompakan tim seluruh personel RS dan Akper. Hadir dalam acara ini: para pengurus Yayasan, pastor bantu paroki Parepare, para suster Biarawati Karya Kesehatan, para dokter, perawat, dosen dan karyawan.

2 September
Di Paroki Nonongan kembali Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma.

3 September
Waktu terasa begitu cepat, 100 hari lalu P. Frank Bahrun meninggalkan kita. Pukul 6.30 sore diadakan misa Requiem yang dipimpin oleh Sekretaris KAMS, P. Frans Nipa didampingi 10 imam. Misa diadakan di aula KAMS dan dihadiri sekitar 70 umat.

5 September
Sejumlah 320 mahasiswa baru Universitas Atma Jaya Makassar tahun akademik 2007-08 memulai orientasi selama tiga hari. Pada hari pertama dibahas mengenai Pendidikan Nilai dan Gerakan Tanpa Kekerasan disertai pemutaran film tentang masyarakat Serbia yang berhasil menggulingkan diktator Presiden Slobodan Milosevic secara damai dan tanpa kekerasan. P. Carolus Patampang dan Ibu Laurensiana, keduanya aktif dalam gerakan tanpa kekerasan, sebagai fasilitator acara. Kegiatan Pendidikan Nilai terlaksana atas kerjasama Pembantu Rektor I dan Pastor Kampus, P. Ernesto Amigleo.

7 September
Perayaan ekaristi mengawali Tahun Akademik Baru di Universitas Atma Jaya Makassar. Tema misa: ”Berbahagialah mereka yang membawa damai, sebab mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Subtema: ”Ayo membangun Pendidikan Nilai dan Anti Kekerasan”. P. Ernesto memimpin perayaan ekaristi yang diikuti sekitar 300 mahasiswa, rektor, para pembantu rektor, para dekan, dosen dan pegawai. Misa diadakan bernuansa lintas agama.

9 September
Perayaan 54 tahun berdirinya Seminari Menengah St. Petrus Claver diadakan hari ini. Vikjen, P. Ernesto didampingi rektor seminari, P. Willy Welle dan P. Isidorus Rumpu serta staf pengajar. Sekitar 100 seminaris ikut serta. Setelah misa diadakan resepsi sederhana.

P. Jos van Rooy membimbing retret para Frater HHK di Baruga Kare.

Ibu Maria Sampul, ibunda Bpk. Frans Tio, karyawan kantor KAMS, wafat di usia 80 tahun bertepatan di hari ulangtahunnya hari ini.

12 September
P. Stef Tarigan selaku ketua Badan Pengembangan Prasarana Pastoral mengadakan rapat bersama anggota Kuria untuk membahas beberapa proyek pembangunan yang telah diajukan ke beberapa donor.

13 September
Panitia persiapan Pelatihan Komunitas Basis mengadakan rapat dan dihadiri Bapa Uskup untuk menyelesaikan persiapan Pelatihan yang diadakan pada 3-6 Oktober di Baruga Kare. Vikjen P. Ernesto memandu rapat. Narasumber pelatihan adala Ibu Afra Siowardjaja dan P. Adi SJ, keduanya anggota Komisi Kateketik KWI, serta P. Lucius dari Keuskupan Pangkal Pinang.

14 September
Hermawan Kartajaya, pembicara dan motivator terkenal tentang Value-driven Marketing, membawakan Seminar di hotel Sahid Jaya Makassar dan dihadiri sekitar 300 peserta yang umumnya adalah pengusaha. Acara ini terselenggara atas kerjasama Smart FM dan Pukat KAMS.

16 September
P. Greg Sutomo SJ, pemimpin redaksi mingguan Hidup dan P. Agus Sorianto, direktur Obor berada di KAMS dan membawakan seminar mengenai Pemasaran dan Gereja di aula KAMS. Kegiatan ini disponsori oleh FMKI.

Setelah tiga bulan berkarya pastoral di Jerman, P. Marcel Lolotandung kembali ke Makassar untuk melanjutkan tugasnya sebagai wakil sekretaris KAMS.

17 September
Bapa Uskup melantik dan mengambil sumpah P. Albert Arina dalam upacara sederhana dan perayaan ekaristi di kapel wisma KAMS. P. Albert menggantikan P. Leo Paliling sebagai Ekonom KAMS. Hadir dalam upacara ini para anggota Kuria, Dewan Keuangan KAMS, karyawan kantor KAMS, dr. Meggie Wewengkang serta Herman Senggeh. Setelah upacara, diadakan resepsi jamuan siang.

21 September
Bapa Uskup meneruskan kunjungan pastoral, kali ini ke wilayah Sulawesi Barat. Paroki pertama yang dikunjungi adalah Baras, Mamuju Utara.

Vikep P. Jos van Rooy melantik P. Fransiskus Pontoh sebagai pjs. Pastor Paroki Paroki Mamajang, menggantikan P. Mateus Bakolu. P. Mateus sekarang bertugas di Sulawesi Tenggara sebagai Vikep. Santap malam bersama diadakan untuk merayakan ulangtahun P. Mateus ke-63 dan sekaligus pesta perpisahan dengan P.Mateus yang telah menjadi Pasto Paroki selama 9 tahun di Mamajang.

22 September
Sekretaris KAMS P. Frans Nipa berangkat ke Denpasar untuk mewakili KAMS hadir dalam upacara pemakaman Uskup Denpasar Mgr. Dr. Benyamin Bria (51). Mgr. Bria wafat setelah berjuang melawan penyakit kanker lever di RS Singapura.

23 September
Di Baras, Sul-Bar, Serikat Kepausan Anak Misioner (Sekami) mengakhiri kegiatan kemping selama tiga hari dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Bapa Uskup.

Pesta Perpisahan diadakan umat Paroki St. Yosef Pekerja, Gotong-gotong untuk Pastor Pembantu P. Martinus Mattani yang mendapat penempatan baru sebagai Pastor Paroki Baubau, Sulawesi Tenggara.

24 September
Vikep P. Jos van Rooy melantik P. Leo Paliling sebagai Pastor Paroki St. Yakobus Mariso, menggantikan P. Markus Paretta yang mendapat penempatan baru sebagai Pastor Paroki di Rantepao. Sementara itu, P. Nico Tangke, pastor pembantu Paroki Parepare, dipindahtugaskan ke Paroki Mariso.

Di Paroki Assisi, persekutuan doa karismatik mengadakan perayaan syukur atas 20 tahun berdirinya kelompok mereka.

25 September
Delapan orang pengurus FMKI dipimpin Julius Tedja berangkat ke Surabaya untuk mengikuti Konvensi FMKI ke-6. Topik utama Konvensi adalah: Revitalisasi Indonesia dengan Membangun Habitus Baru dan Memperkuat Persatuan Bangsa.

Panitia Persiapan Konvensi Karismatik dari Keuskupan Manado, diwakili imam moderator dan ketuanya mengunjungi kantor KAMS untuk menjelaskan mengenai persiapan yang diadakan menjelang Konvensi di Manado, Juni 2008. Vikjen dan Sekretaris KAMS menerima dengan hangat kedatangan mereka.

28 September
Yayasan Paulus yang mengelola sekolah di lingkungan KAMS dan Yayasan Patingaloang yang mengelola Akademi Bahasa Asing, hari ini para ketuanya mengadakan pertemuan bersama Uskup untuk membahas penyelesaian kontrak berkaitan proposal Yayasan Patingaloang untuk memakai beberapa ruangan kelas yang lowong di SMP Katolik Cendrawasih Mamajang. Setelah mengadakan beberapa perbaikan pada draf, para ketua Yayasan kemudian sepakat menandatangani perjanjian.

29 September
Bapa Uskup mengadakan kunjungan pastoral ke Luwu.

30 September
Bapa Uskup melantik P. Christofel Sumarandak sebagai Vikaris Episkopal Luwu, menggantikan P. Frans Arring yang mendapat penempatan baru sebagai Vikep Tana Toraja. Sehingga Tana Toraja sekarang tidak lagi berstatus Regio, tetapi Vikariat.

2 Oktober
Afra Siowardjaja, P. Lucius Poya dari Keuskupan Pangkal Pinang dan P. Adi SJ dari Komisi Kateketik KWI, hari ini tiba di Makassar dan menginap di wisma CICM untuk Pelatihan Fasilitator Komunitas Basis selama empat hari.

3 Oktober
Sekitar 55 peserta termasuk para imam, pemuka umat dari lima kevikepan, para Vikep, para ketua Komisi, serta panitia yang dipimpin oleh Vikjen P. Ernesto mengikuti Pelatihan Fasilitator Komunitas Basis selama empat hari di Wisma Kare. Misa Pembukaan dipimpin oleh Vikjen dengan pentahtaan Kitab Suci. Kemudian Vikjen menjelaskan latar belakang perlunya Pelatihan Fasilitator Komunitas Basis Gerejani (KBG). Beliau mengingatkan akan tulisan Bapa Uskup berjudul ”Menumbuhkembangkan Kombas dalam dan melalui Wadah-wadah yang Sudah Ada” (Koinonia vol.2 no.2) sambil menegaskan lima karakteristik KBG sebagaimana Cara Hidup Jemaat Perdana (Kis. 2:42-46; 4:32-36), yakni: persekutuan (koinonia), liturgi, pewartaan, pelayanan, dan kesaksian iman.

5 Oktober
Sebuah tim terdiri 6 dokter Jerman dan perawat yang dipimpin Tuan Herman dari Pater Noldus Aktion (PNA) tiba di Makassar.

Vikep Makassar P. Jos van Rooy berangkat ke Manado untuk mengikuti Pertemuan Regional Komisi Keluarga.

6 Oktober
Sore hari, Pelatihan Fasilitator KBG diakhiri dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Vikep Tana Toraja P. Frans Arring. Dalam renungannya, beliau membagikan pengalaman positif yang dialaminya selama pelatihan. Kemudian Vikjen mengakhiri dengan ucapan terimakasih kepada fasilitator, para peserta dan semua yang mendukung kegiatan ini hingga berjalan lancar. Dalam sambutannya, Vikjen juga mengingatkan bahwa KBG bukan hanya salah satu kegiatan paroki, tetapi sebuah model menggereja di zaman ini.

Di Pena, Mamasa, Sulawesi Barat, diadakan ziarah Bunda Maria dan diikuti ratusan peziarah. Peziarahan dimulai dengan Jalan Salib dan diikuti Kebangunan Rohani Katolik yang diadakan oleh Karismatik, khususnya kelompok karismatik kaum muda Jedhutun Salvation Ministry.

7 Oktober
Masih di Pena, Perayaan ekaristi dipimpin oleh Mgr. John Liku-Ada’ dan diikuti para peziarah.

Setelah empat hari kegiatan Pelatihan KBG yang melelahkan, sore hari para fasilitator terbang ke Jakarta.

Di Paroki Mandai, Pastor Paroki P. Samson Bureny mengadakan acara perpisahan. Perayaan ekaristi dipimpin bersama P. Frans Nipa dan P. Alex Maitimo sebagai konselebran. Untuk sementara waktu, P. Alex Maitimo menggantikan beliau sambil menunggu pastor paroki yang baru.

Di Rantepao, Tana Toraja, pastor paroki baru P. Markus Paretta mengadakan pesta pelindung paroki St. Theresa dari Kanak-kanak Yesus. Secara khusus, paduan suara dari Mariso, tempat dulu beliau bertugas sebagai pastor paroki, datang ke acara ini.

9 Oktober
Bapa Uskup melantik Vikep Tana Toraja P. Frans Arring dalam perayaan ekaristi.

Bapa Uskup juga mengunjungi keluarga P. Patrick Galla yang baru saja mengalami peristiwa duka; ayahanda beliau telah berpulang bebrapa hari lalu dan dikuburkan pada Sabtu, 13 Oktober 2007 setelah upacara adat.

12 Oktober
Setelah beristirahat beberapa hari, Bapa Uskup berangkat ke Sulawesi Tenggara untuk melanjutkan kunjungan pastoralnya.

P. Kamelus Kamus bersama kelompok karismatik Paroki Assisi berangkat ke Manado untuk berziarah.

13 Oktober
Hari ini Perayaan Idul Fitri saudara-saudara kita kaum muslim. Mohon maaf lahir bathin. Di Makassar terasa suasana meriah, pagi hari lapangan-lapangan dipenuhi untuk sembahyang. Di Sulawesi Tenggara, Bapa Uskup bersama Vikep P. Mateus Bakolu mengunjungi pemerintah setempat untuk bersilaturahmi dalam suasana dialog antar-umat beragama.

Di Makassar, dengan semangat yang sama, Vikjen P. Ernesto, Sekretaris P. Frans Nipa dan Komisi HAK KAMS bersama pemuka agama lain mengunjungi para pejabat pemerintahan dan militer di kota.

Di Tana Toraja, keluarga dan kerabat P. Patrick Galla mengadakan tiga hari pesta di Sangalla dalam rangka pemakaman ayahanda yang berpulang beberapa hari lalu.

14 Oktober
Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma di Paroki Mandonga, Sulawesi Tenggara.

Tim Komisi Keluarga berangkat ke Tana Toraja untuk mengadakan Seminar mengenai Perkawinan dan Keluarga.

15 Oktober
Hari ini ulangtahun P. Albert Arina, Ekonom baru KAMS. Beberapa imam dan rekan P. Albert datang dan bergembira bersama dalam jamuan siang di aula KAMS.

Sore hari, P. Frans Nipa dan Bpk. Herman Senggeh berangkat ke Tana Toraja untuk mengunjungi keluarga P. Piet Timang. Mendiang Ibunda P. Piet Timang akan dimakamkan pada Sabtu, 20 Oktober.

18 Oktober
Dalam rangkaian pelantikan Vikep baru, P. Mateus Bakolu hari ini dilantik Bapa Uskup sebagai Vikep Sulawesi Tenggara dalam perayaan ekaristi di paroki Sadohoa.

20 Oktober
Di Panakukkang Country Club Convention Hall, UAJM mengadakan Upacara Wisuda ke-20. Sejumlah 199 mahasiswa dari empat fakultas (ekonomi, hukum, teknik dan pertanian) diwisuda hari ini.

Sekembali dari Sulawesi Tenggara, Bapa Uskup langsung ke Tana Toraja untuk menghadiri upacara pemakaman Ibunda P. Piet Timang. Bapa Uskup memimpin ibadat pemakaman.

22 Oktober
Setiba dari Tana Toraja, Bapa Uskup berangkat kembali ke Sulawesi Tenggara melanjutkan kunjungan pastoralnya.

Sementara itu, tim medis dari Jerman yang dipimpin Tuan Herman dari Pater Noldus Aktion (PNA) setelah empat hari sibuk mengadakan operasi bibir sumbing di RS Faisal di mana 14 anak mendapat pelayanan dari mereka, berangkat menuju Bali. Pada jamuan malam yang diadakan Tuan Herman di restoran Surya, Vikjen P. Ernesto atas nama Uskup dan umat mengucapkan terimakasih kepada Tuan Herman dan Tim Medis yang telah melayani masyarakat di sini.

25 Oktober
Di Sulawesi Tenggara, Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma di Paroki Unaaha.

26-27 Oktober
Yayasan Sentosa Ibu mengadakan rapat di Wisma CICM. Direktur RS Fatima dan Akper Fatima hadir menyampaikan laporan perkembangan masing-masing unit, rencana serta anggaran untuk 2008.

Pada hari Minggu, Sr. Theresia Rumondor YMY, merayakan Pesta Perak kaul di rumah retret susteran YMY di Malino. Anggota Komunitas Sang Tunas hadir sebagi tamu dalam acara ini.

30 Oktober
Ketua Komisi Kepemudaan P. Yulius Malli mengadakan pertemuan dengan para ketua kelompok kaum muda sekevikepan di aula KAMS.

31 Oktober
Selaku koordinator komisi-komisi KAMS, Vikjen P. Ernesto mengadakan rapat komisi-komisi di aula KAMS. Agenda rapat: laporan kegiatan masing-masing komisi dalam setahun ini, pembahasan bagaimana komisi-komisi dapat mendukung pembangunan KBG di paroki-paroki/kevikepan, penyusunan program dan anggaran 2008.

Di kapel Rajawali, para suster YMY mengenangkan 150 tahun wafatnya pendiri tarekat, P. Wolfe SJ. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Vikep, dihadiri para suster YMY, rohaniwan dan undangan.

1 November
Bapa Uskup berangkat ke Jakarta menghadiri Rapat KWI; sementara Vikep P. Jos van Rooy ke Parepare untuk pelantikan pastor paroki baru, P. Willem Tulak yang menggantikan P. Rudy Kwary. P. Rudy menempati pos baru sebagai Pengelola Baruga Kare.

Prof. Alfred Stepan dari Universitas Columbia, New York, AS dan asistennya Michael Buehler hendak mengadakan wawancara dengan Bapa Uskup. Namun karena Uskup berada di Jakarta, Vikjen P. Ernesto menerima mereka di Wisma CICM. Mereka sedang melakukan penelitian mengenai hubungan Agama dengan Negara. Selanjutnya mereka melakukan pembicaraan dengan Vikep P. van Rooy.

2 November
Perayaan Para Jiwa di Api Penyucian tahun ini diadakan di Taman Pemakaman Rohaniwan, Pakatto, dihadiri para imam, rohaniwan dan awam. Di tempat ini telah dimakamkan 3 orang imam CICM dan 3 imam praja. Perayaan misa requiem dipimpin oleh Vikep P. Jos van Rooy. Umat yang hadir membawakan intensi doa bagi kerabat yang telah berpulang. Setelah upacara, disediakan sarapan.

Hari ini diadakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung pertama kali di Provinsi Sulawesi Selatan untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur. Terdapat tiga calon gubernur: Amin Syam, Azis Kahar Mudzakkar dan Syahrul Yasin Limpo. Pilkada berjalan dengan lancar dan tertib.

6 November
Sejumlah 67 imam praja KAMS berangkat ke Malino mengikuti retret tahunan yang dibimbing oleh P. Dedy, imam praja dari Keuskupan Bandung, beliau juga seorang doktor Antropologi Universitas Indonesia. Tema retret: Manajemen Pastoral di tengah arus Globalisasi.

9 November
Ketua Dewan Keuangan KAMS P. Ernesto mengadakan rapat dengan pengurus lama Perkebunan Sawit Laimbo dan pengurus yang baru. Rapat diadakan untk mendengar perkembangan terakhir perkebunan.

12 November
Esther Kandou, seorang pengkhotbah karismatik berada di Makassar selama dua hari untuk Kebangunan Rohani Katolik di Katedral.

P. Stefanus Tarigan berangkat ke Jakarta membawakan proposal yang harus ditandatangani Bapa Uskup yang sedang mengikuti rapat KWI di Jakarta.

14 November
P. Yandi Buntoro CDD berada di Makassar untuk membawakan seminar mengenai Tradisi China dan Kekatolikan. Kegiatan ini disponsori oleh Persekutuan Doa Karismatik Paroki Gotong-gotong.

16 November
Vikjen P. Ernesto mengambil cuti selama tiga bulan. Beliau berangkat ke kampung halamannya di Filipina melalui Manado.

19-22 November
Bapa Uskup mengadakan Kunjungan Tahunan ke Seminarium Anging Mammiri, Yogyakarta.

27-29 November
Rapat Dewan Imam diadakan di Baruga Kare dengan tema: Kehidupan Imam dalam Membangun KBG. Narasumber yang diundang untuk membahas hal ini adalah P. Gabriel Unto da Silva dari Keuskupan Larantuka.

Selasa, 18 September 2007

Memaknai Gejala-gejala Ajaib dalam Terang Iman


Bulan Juni lalu masyarakat Toraja, yang umumnya menganut Kekristenan (Protestan, Katolik, dan denominasi-denominasi Kristen lainnya), digemparkan oleh sebuah fenomena ajaib yang berlangsung di sebuah gereja stasi Katolik di Tikala: penampakan salib bercahaya. Menurut informasi gejala itu mulai muncul setelah ibadah hari Minggu Tritunggal Mahakudus, 3 Juni 2007. Hari-hari berikutnya tempat itu penuh sesak dengan orang-orang yang datang dari mana-mana, juga dari luar Tana Toraja. Mereka secara spontan menyanyikan puji-pujian/kidung rohani dari Meko. Dengan demikian fenomena Tikala tersambung dengan fenomena Meko, Poso: penyembuhan ajaib lewat doa seorang gadis kecil sederhana. Sejauh yang saya dengar, sebenarnya fenomena penampakan salib bersinar tidak hanya terjadi di gereja stasi Tikala. Di satu-dua gereja stasi lainnya di wilayah Tana Toraja terjadi pula gejala serupa. Tetapi sengaja dicegah oleh pimpinan Gereja setempat agar tidak tersebar luas, antara lain demi menghindari euforia massa yang berlebih-lebihan.


Sebagaimana biasanya, muncul pro-kontra. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya. Ada yang mengaku melihat, ada yang tidak melihat apa-apa. Selaku Uskup Keuskupan Agung Makassar, saya mendapat banyak pertanyaan. Bahkan ada yang menulis surat, meminta saya segera menggunakan wewenang melarang kegiatan berkumpul di gereja stasi tersebut. Yang bersangkutan menyangsikan otentisitas fenomena tersebut dan khawatir akan munculnya dampak negatif bagi Gereja (Katolik). Yang lain bertanya mengenai sikap resmi Gereja terhadap gejala-gejala ajaib semacam itu. Kini euforia sekitar fenomena penampakan tersebut sudah menyusut, dan tempat itu semakin sepi dari pengunjung, dan lama-kelamaan mungkin akan terlupakan. Tetapi justru masa pasca-euforia ini cocok untuk mengadakan renungan lebih mendalam atas fenomena-fenomena ajaib semacam itu dalam terang iman kita.

Dalam bukunya Christian Mysticism; the Future of a Tradition, (New York, 1984): 303-338, Harvey D. Egan SJ, mendaftarkan sejumlah fenomena luar biasa dalam pengalaman mistik keagamaan, antara lain ekstase, penampakan, locutio, pewahyuan, stigmata, levitatio; dan fenomena-fenomena karismatis, seperti ramalan, glossolalia (bahasa roh), penafsiran bahasa roh, penyembuhan. Seseorang yang telah mencapai tingkat perkembangan rohani sedemikian rupa, karena kuatnya keterserapan dalam Allah, seringkali mengalami apa yang disebut ekstase: ia kehilangan kesadaran akan apa saja kecuali akan Allah. Salah satu contoh dari Kitab Suci dalam hal ini ialah Paulus. Santo Paulus sendiri bertemu dengan Kristus yang bangkit di jalan ke Damaskus (Kis. 9:1-9; Gal. 1:11-16) dan kemudian secara ekstasis diangkat ke “surga tingkat ketiga” (2 Kor. 12:2). Dari inti keberadaannya yang paling dalam, Paulus mengalami dan berpasrah pada kasih Allah dalam Kristus. Baginya Tuhan itu Roh (2 Kor. 3:17). Mistisisme Paulus berpusat pada Kristus: “hidup” baginya, “adalah Kristus” (Flp. 1:21). Bahkan, demikian ditegaskan olehnya, “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20).

Fenomena kedua ialah penampakan: orang melihat dengan mata inderawi sesuatu yang secara kodrati tidak dilihat oleh orang lain. Di Lourdes, misalnya, Bernadette mengalami penampakan Sta. Perawan Maria. Namun harus dicatat bahwa hanya sedikit para mistik yang mengalami penampakan fisik. Kebanyakan para mistik dan para penulis tentang mistisisme sependapat bahwa penampakan inderawi itu sangat mungkin palsu. Oleh karena itu secara tradisional Gereja mengambil sikap sangat berhati-hati terhadap fenomena penampakan. Oleh karena itu sepanjang abad ke-20, misalnya, dari sekian banyak penampakan yang diberitakan terjadi, Gereja baru mengakui tiga, yaitu: penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal (1917); Banneau, Belgia (1932); dan Beauraing, Belgia (1933).

Adapun fenomena suara/kata-kata mistik lebih sering disebut locutio atau auditio. Dapat terjadi, misalnya, seseorang mendengar dengan telinga inderawi pembicaraan atau kata-kata dari luar yang disampaikan dengan suatu cara oleh Allah. Sementara tertidur atau ketika terjaga, suatu pembicaraan, atau kata batin, keluar dengan kekuatan besar dari dalam diri seorang mistik. Akhirnya, dari keheningan paling mendalam seorang mistik, ia boleh jadi mendengar dengan telinga jiwanya pembicaraan-pembicaraan yang membawa efek. Misalnya, jika Allah pada hakekatnya bersabda kepada seseorang mistik, “Jangan takut”, seiring dengan itu ia menjadi orang yang tidak takut apapun. Inilah yang dimaksudkan Teresa dari Avila ketika ia menegaskan bahwa sabda Allah adalah tindakanNya. Dapat terjadi pula bahwa dalam pengalaman-pengalaman locutio musik lebih dominan daripada kata-kata. Para mistik penggemar musik, seperti Franciscus dari Assisi, Catharina dari Siena, Richard Rolle, dan Suso, kadangkala mengalami harmoni ilahi sebagai nyanyian surgawi.

Sedikit berbeda dari locutio, pewahyuan adalah pengelihatan atau pembicaraan yang menyingkap hal-hal tersembunyi di masa lampau, kini atau masa depan, entah demi kepentingan Gereja atau perorangan. Selanjutnya, hampir semua penulis mistik membedakan antara pewahyuan publik dan pewahyuan pribadi. Pewahyuan umum/publik berhenti dengan ditetapkannya kanon Kitab Suci pada akhir zaman para rasul; ini menetapkan depositum/dasar iman Kristen. Para penulis mistik mendefinisikan pewahyuan pasca-rasuli sebagai pewahyuan pribadi, juga jika itu demi kepentingan seluruh Gereja. Pewahyuan-pewahyuan pribadi ini tidak termasuk “harta” iman Kristen yang dipercayakan kepada Gereja untuk dipelihara dengan setia dan tidak dikategorikan sebagai yang tidak dapat sesat.

Fenomena stigmata adalah munculnya luka-luka Kristus pada tubuh seseorang. Orang Kristen pertama yang diketahui mendapatkan stigmata ialah St. Franciscus Assisi. Ia mendapatkan luka-luka Kristus pada tangan, kaki dan lambung dalam pengalaman ekstase di gunung Alvernia pada 17 September 1222. Walaupun ia berusaha menyembunyikan luka-luka ini dan sangat ingin mengambil bagian dalam penderitaan Kristus dengan cara yang tidak terlalu menarik perhatian, luka-luka ini tetap menyertai dia sampai akhir hidupnya. Sejak itu sampai sekarang tercatat sekitar 325 orang yang telah mendapatkan stigmata, 62 di antaranya telah dikanonisasikan oleh Gereja.

Fenomena mistik lain yang erat berkaitan dengan ekstase ialah levitatio atau pengangkatan. Banyak orang kudus yang dalam ekstase mengalami tubuhnya terangkat ke udara, berlawanan dengan hukum gravitasi. Para mistik yang terangkat itu biasanya menampakkan tiadanya gerak pada anggota badan mereka dan tampak kaku seperti patung marmer. Orang pertama yang tercatat mengalami stigmata, St. Franciscus Assisi, adalah juga orang pertama yang dikonfirmasikan mengalami ekstase pengangkatan (levitatio). Bukti-bukti yang terdokumentasikan menunjukkan bahwa Sto. Paulus dari Salib, Philippus Neri, Joseph Cupertino, Peter Alcantara, Franciscus Xaverius, Petrus Claver, Agnes, dan lain-lain termasuk mereka yang mengalami levitatio.

Karena keterbatasan ruang, maka menyangkut fenomena-fenomena karismatis, di sini kita hanya ingin menyinggung sepintas lalu fenomena penyembuhan. Ketika Paulus mendaftarkan karunia penyembuhan di antara karunia-karunia Roh (lih. 1 Kor. 12:1-14:25; Rom. 12:1-8; Ef. 4:1-6) ia memberikan kesaksian langsung bahwa berbagai penyembuhan terjadi dalam komunitas-komunitas Kristen awal. Paulus jelas mengaitkan penyembuhan-penyembuhan ini dengan yang dilaksanakan oleh Yesus dan para rasul dan melihat di dalamnya tanda-tanda kekuatan menyelamatkan segala dari Allah. Namun, penting untuk dicatat bahwa karisma ini menunjuk pada penyembuhan-penyembuhan aktual, dan bukan pada kuasa penyembuhan yang mampu mendatangkan berbagai macam penyembuhan.

Ledakan jumlah penyembuhan yang terjadi di pelbagai penjuru dunia dewasa ini menjadi bukti yang tidak dapat disangkal tentang adanya karunia ini. Namun, walaupun kenyataan adanya penyembuhan-penyembuhan otentik tidak dapat diragukan, masih dibutuhkan usaha lebih keras untuk menemukan berapa banyak dari penyembuhan-penyembuhan tersebut yang bersifat tetap dan tidak sementara saja. Kecuali itu para anggota Gerakan Pembaharuan Karismatik juga harus diingatkan bahwa Allah pada umumnya bekerja (menyembuhkan) melalui sarana kodrati, misalnya obat-obat modern. Paulus misalnya menasehati Timotius untuk mempergunakan anggur dalam mengatasi persoalan kesehatannya (1 Tim. 5:23). Selain itu, ketidak-mampuan untuk menyembuhkan atau disembuhkan bukanlah tanda kurangnya iman atau adanya dosa yang tersembunyi, sebagaimana seringkali ditekankan oleh oknum-oknum karismatik tertentu. Berapa banyak orang kudus Gereja sendiri yang menderita berbagai penyakit selama hidup? Apakah orang-orang kudus ini menderita sakit karena kurang iman atau karena dosa tersembunyi?

Setelah secara sepintas lalu kita melihat sejumlah fenomena ajaib dalam hidup religius, baiklah kita ketahui bahwa para mistik dan penulis rohani memandang semua fenomena itu sebagai ciri sekunder dari pengalaman rohani yang lebih mendalam. Augustin Poulain, misalnya, menyebut dua ciri primer dari mistisisme Kristen sejati. Yang pertama ialah kehadiran Allah yang teralami, terasakan. Seseorang secara mutlak yakin bahwa Allah hadir, dan bukti subyektif kehadiran ini tidak terbantahkan. Ciri primer kedua berkaitan dengan cara yang di dalamnya seseorang merasakan kehadiran Allah. Para mistik berbicara mengenai tipe khusus sensasi (perasaan) spiritual. Mereka mengakui adanya ”indera rohani” analog dengan indera jasmani. Tradisi mistik Kristen menunjuk pada bentuk spiritual atau mistik meraba, mendengar, merasakan, mencium dan melihat Allah.

Yang sangat penting diperhatikan ialah bahwa pengalaman kehadiran Allah yang dirasakan melalui ”indera rohani” itu berlangsung selanjutnya dalam hidup seseorang dalam suatu proses dengan tiga langkah, yaitu: purifikasi (pemurnian), illuminasi (penerangan budi), dan transformasi (pembaharuan hidup). Sejauh saya dengar – mudah-mudahan benar adanya – mereka yang pulang dari Meko dan mengalami fenomena Tikala sesungguhnya mulai mengalami proses tiga tahap itu dalam hidup mereka: Mereka mengalami pembersihan atau pemurnian hati, memperoleh penerangan budi dan selanjutnya memperbaharui hidup (mereka yang dulunya peminum minuman keras sekarang berhenti minum minuman keras, mereka yang sebelumnya ketagihan berjudi kini berhenti berjudi, dst.). Ini tentu buah-buah positif dari pengalaman rohani autentik. Mudah-mudahan proses ini berkelanjutan dalam hidup seterusnya.

Kita percaya dewasa ini Allah terus aktif berkarya di tengah umat-Nya. Teolog besar abad ke-20 dan sekaligus penulis rohani terkenal, Karl Rahner SJ, pernah menulis: ”Orang Kristen masa depan atau akan menjadi manusia ’mistik’, seorang yang telah ’mengalami’ sesuatu, atau dia tidak akan menjadi apa-apa”. Bagi Rahner pribadi manusia pada hakekatnya adalah roh-dalam-dunia. Terlebih lagi, dunia memuat inkarnasi sebagai salah satu unsur konstitutifnya. Melalui inkarnasi, hidup, wafat dan kebangkitan, Yesus Kristus sungguh-sungguh masuk ke dalam kenyataan terdalam dunia. Karena dunia yang teresapi dan terlandasi Kristus ini, Rahner berpendapat bahwa semua orang berada dalam inkarnasi, hidup, wafat dan kebangkitan. Karena itu, lingkungan Kristik ini menjamin bahwa setiap tindakan manusia yang dibuat secara mendalam memuat sekurang-kurangnya pengalaman mistik implisit akan Kristus. Atas dasar ini Rahner tidak menekankan mistisisme batin melulu. Ia tanpa ragu-ragu berbicara mengenai dimensi mistik dari makan, minum, tidur, berjalan, duduk, dan hal-hal sehari-hari lainnya. Setiap segi eksistensi manusia memuat pengalaman implisit akan Allah Tritunggal dan Kristus yang tersalib dan bangkit. Demikianlah ’mistisisme hidup sehari-hari’ dari Karl Rahner adalah mistisisme kegembiraan dalam dunia, sebuah iman yang mencintai bumi.

Dari apa yang dikemukakan di atas, jelaslah Rahner berkeyakinan bahwa Allah itu hadir di dunia tidak hanya dalam dan melalui kejadian-kejadian luar biasa. Allah hadir setiap saat dalam segala segi kehidupan manusia, termasuk yang serba biasa sehari-hari. Persoalannya ialah, apakah manusia masih mempunyai kepekaan terhadap kehadiran tersebut? Barangkali di sinilah perlunya kejadian-kejadian ajaib itu bagi manusia modern, sebagai semacam ’shock therapy’ untuk kembali menyadari kehadiran Allah yang menuntut manusia kembali kepadaNya.

Patut dicatat bahwa Rahner tidak sendirian dalam pandangannya seperti di atas. Apa yang disebut Rahner ’mistisisme hidup sehari-hari’ serupa dengan apa yang dinamakan Thomas Merton ’kontemplasi tersamar/tersembunyi’. Bagi Merton, sebuah kehidupan aktif yang sungguh sibuk, yang diresapi dengan pendirian radikal iman, harapan dan kasih, dapat disebut kontemplatif dalam arti tersamar. Sikap dan motivasi pengosongan diri seseorang dalam aktivitasnya memberi ciri pada kontemplasinya yang tersembunyi. Sedangkan William Callahan SJ, memusatkan perhatiannya pada apa yang dia sebut ’kontemplasi bising’. Callahan berpendapat bahwa orang sungguh dapat mengalami Allah di tengah tekanan, ketegangan, kekacauan, kebisingan dan kekalutan hidup aktif dewasa ini. Seorang yang aktif harus mengembangkan kepekaan mendalam akan Allah dalam alam, dalam dirinya, dalam orang-orang lain yang dengannya dia bekerja dan hidup, dalam kejadian-kejadian hidupnya setiap hari, dan dalam peristiwa-peristiwa serta pertentangan masyarakat zaman sekarang. Cinta mendalam kepada Allah, diri sendiri, sesama, dan perhatian terhadap apa yang sedang terjadi di dunia merupakan sikap-sikap yang tertuntut untuk kontemplasi bising. Singkatnya, Callahan menghendaki orang Kristen dewasa ini menjadi seperti Yesus, menjadi seorang yang bergerak di tengah kebisingan dan ketegangan modern baik di dalam diri maupun di sekeliling kita, dan yang tetap memiliki kesadaran akan yang lain dalam ikatan kasih dan perhatian. Ini, demikian Callahan, akan membuat doa orang Kristen menjadi sederhana, berkelanjutan, mendalam, penuh kasih, dan memiliki kesadaran sosial.

Makassar, Medio September 2007

+ John Liku-Ada'