Selasa, 02 Juli 2013

KBG Cara Baru Hidup Menggereja Abad XXI


Pada 20-23 Mei 2013, Komisi Kateketik KWI mengadakan Pertemuan Animator dan Animatris Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di Wisma Kare – Makasar. Pertemuan ini diikuti oleh 42 peserta dari 15 Keuskupan di Indonesia, yaitu Keuskupan Agung Makasar, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Manado, Keuskupan Larantuka, dan Keuskupan Jayapura.

Misa Pembukaan dipimpin oleh Mgr. John Liku-Ada’ (Ketua Komisi Kateketik KWI) didampingi Rm. Adi Susanto (mewakili Sekretaris Eksekutif Komkat KWI) dan Rm. Sani Saliwardaya MSC (Ketua Komkat Keuskupan Agung Makasar). Dalam kotbahnya Mgr. John Liku-Ada’ mengingatkan bahwa Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) Tahun 2000 sebenarnya telah menyepakati untuk membangun KBG di Indonesia. Karena itu tema yang diangkat pada SAGKI 2000 adalah “Memberdayakan KBG Menuju Indonesia Baru” dan menghasilkan buklet yang diberi judul: ”Menjadi Gereja yang Mendengarkan”. Namun sesudah 12 tahun berjalan, setelah dievaluasi, ternyata KBG belum berkembang maksimal di seluruh Indonesia. Memang ada beberapa Keuskupan telah coba menggarap KBG dengan baik, namun sebagian besar belum, termasuk Keuskupan Agung Makasar.  Karena itu Mgr. John berharap semoga melalui pertemuan ini semangat untuk mewujudkan KBG yang otentik sebagaimana yang dilakukan oleh Gereja perdana dapat digiatkan kembali.

Menurut Mgr. John, ada 5 sokoguru atau 5 pilar yang menjadi semangat dasar Gereja perdana berdasar Kis 2:41-47; 4:32-37 dan Kis.5:12-16. Kelima sokoguru itu meliputi: semangat persekutuan sehati-sejiwa (Koinonia), mewartakan (Kerygma/Didache), saling melayani (Diakonia), merayakan iman bersama (Liturgia) dan mereka pun disukai banyak orang dan jumlah mereka bertambah melalui kesaksian hidup (Martyria).

Uskup John juga membuka acara secara resmi. Beliau mereview apa yang dikatakan oleh Pdt. Eka Dharmaputra dalam SAGKI 2000: “400 tahun lalu, Gereja reformasi (Protestan, red.) membaharui Gereja Katolik, sekarang saatnya Gereja Katolik membaharui Gereja-gereja reformasi” . Gereja menghadapi dua masalah utama: insignifikansi (nirmakna) ke dalam dan irelevansi ke luar. Di antara anggotanya, Gereja hanya menjadi seperti mal: berpindah-pindah sesuka hati dan seakan tidak mengubah apa-apa bagi jemaatnya. Di antara masyarakat, Gereja juga seakan tanpa mempunyai makna mendalam. Inilah masalah insignifikansi dan irelevansi Gereja. Gereja yang terlalu institusional tidak menjadi Gereja yang hidup. Kita harus sungguh-sungguh sadar: upaya yang kita lakukan untuk menghidupkan KBG sebagaimana diamanatkan oleh SAGKI 2000 merupakan jawaban atas dua masalah pokok di atas.  Sesudah SAGKI 2000, ada semangat luar biasa. Dibentuk LPKB (Lembaga Pelayanan Komunitas Basis) dengan dana yang luar biasa, namun kemudian malah menyurut. LPKB pun kemudian dijadikan sebagai salah satu gugus tugas Komkat KWI.

P. Adisusanto SJ mengatakan bahwa tahun ini, Gereja Katolik mencanangkan Tahun Iman untuk memperingati 50 tahun Konsili Vatikan II (KV II). Salah satu buah pemikiran dari KV II adalah “Gereja sebagai umat Allah”. Untuk melihat Gereja umat Allah, pergilah ke pertemuan-pertemuan di mana jemaat dalam kelompok basis berkumpul. Namun tidak semua pertemuan kelompok kecil adalah yang dicita-citakan sebagai KBG. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa KBG adalah cara hidup menggereja abad ke-21. Ungkapan ini mau membandingkan dengan cara hidup abad sebelumnya. Maka sebetulnya yang mau kita cari adalah cara hidup menggereja yang otentik, yaitu yang dihidupi oleh jemaat perdana. KBG juga merupakan kelompok kecil umat di grassroots (akar rumput) dan berupaya menghidupi cara hidup sebagaimana ditunjukkan oleh cara hidup jemaat perdana. Kelompok Basis di tingkat Asia lahir dalam pertemuan FABC di Bandung pada tahun 1995 dengan istilah communion of communities.

FABC membentuk suatu gugustugas untuk mengembangkan kelompok basis. Gugustugas ini dinamakan AsIPA (Asian Integrated Pastoral Approach). Namun AsIPA tidak identik dengan kelompok basis. Kita menggunakannya karena pengalaman metode AsIPA di banyak tempat sudah menghasilkan KBG yang baik. AsIPA adalah salah satu cara untuk menciptakan kelompok basis, namun bukanlah satu-satunya. Maka apapun metodenya, jelas yang mau dituju adalah terbentuknya kelompok kecil yang menghidupi cara hidup jemaat perdana.

P. Purwatma, Pr memberikan refleksi teologis tentang KBG berdasarkan dokumen-dokumen FABC dan Ecclesia in Asia (EA). Menurut P.Purwatma, Pr, KBG sebagai cara baru hidup menggereja dimaksudkan agar Gereja lebih mampu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. KBG berpusat pada iman. KBG harus menjadi persekutuan yang berdialog dan bekerjasama dengan semua orang, bahkan persekutuan yang menjadi ragi yang mengubah masyarakat dari dalam.

Berdasarkan proses sharing dan refleksi selama pertemuan ini, kami menemukan beberapa hal pokok, yaitu, pemahaman dan penghayatan ber-KBG di masing-masing Keuskupan sangat beragam. Beragamnya istilah untuk menyebut KBG: KBG, KUB (Kelompok Umat Basis), Kombas (Kelompok Basis), Mawar (Lima Warga), Lingkungan, Kring, Blok, Rukun, WR (Wilayah Rohani), Kampung, Sektor, Komsel (Komunitas Sel). Juga beragamnya penghayatan KBG, ada yang memahami KBG sebagai cara hidup menggereja dalam lingkup teritorial tertentu dan tempatnya berdekatan, ada pula yang memahami KBG sebagai cara hidup menggereja berdasarkan kategori tertentu dan lintas teritori. Meskipun ada beragam pemahaman dan penghayatan tentang KBG, namun ada modal untuk mengembangkan KBG, yaitu kemauan untuk berkumpul secara rutin dalam kelompok kecil.

Meneladan cara hidup Gereja Perdana sebagai cara hidup menggereja yang otentik, ada 4 ciri pokok KBG, yaitu anggota KBG hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Sharing Injil sebagai dasar pertemuan dalam KBG, KBG bertindak secara nyata dan melakukan segala sesuatu secara bersama berdasarkan iman, KBG harus berhubungan dengan Gereja Universal.

Belajar dari beberapa Keuskupan yang telah mengembangkan dan menghidupi KBG dengan baik, ternyata kunci keberhasilannya terletak pada adanya dukungan penuh dari seluruh lapisan umat beriman, mulai dari Uskup, para imam, para fasilitator/penggerak KBG dan umat beriman lainnya. Hal tersebut nampak dalam: dukungan penuh Uskup menggerakkan para imam dan umat untuk mengembangkan dan menghidupi KBG, dan Sinode atau Musyawarah Pastoral se-Keuskupan menyepakati KBG sebagai cara hidup menggereja yang mau diterapkan di Keuskupannya. Sehingga disusun pula strategi-strategi pastoral yang relevan, misalnya: pembentukan kelompok, pelatihan fasilitator terus menerus, mendorong para imam dan calon imam untuk menggerakkan KBG, kunjungan, sapaan dan kehadiran para imam di tengah jemaat memberikan dukungan dan menggerakkan umat untuk membentuk KBG, dukungan segenap lapisan umat beriman secara konsisten mendukung tetap diupayakannya pembentukan KBG meski harus melalui proses dan perjuangan yang tidak mudah dan memakan waktu yang lama, entah lima atau sepuluh tahun.

Dengan bertumbuhkembangnya KBG, ada beberapa hal positif yang sungguh dirasakan di Paroki-paroki yang mengembangkannya: semangat persaudaraan dan saling memperhatikan dalam kehidupan jemaat di Paroki semakin kuat, keberanian anggota KBG untuk mengemukakan pendapat dan memimpin orang lain, saling mengenal satu sama lain antar anggota KBG, keterlibatan dan partisipasi umat dalam kehidupan menggereja semakin meningkat, solidaritas internal jemaat Paroki maupun eksternal dalam kehidupan masyarakat semakin bertumbuh, terjadi kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang sangat nyata.

Setelah mengalami proses melalui sharing dan refleksi selama empat hari, para peserta pertemuan animator dan animatris KBG per keuskupan merencanakan tindak lanjutnya masing-masing. Ttindak lanjut untuk Keuskupan Agung Makasar, yakni menyampaikan hasil pertemuan kepada Uskup, Vikep dan Pastor Paroki, mempraktekkan pengembangan KBG dan menambah jumlah fasilitator, pembekalan fasilitator di tingkat Kevikepan dan Paroki.

Sebagai akhir dari pertemuan animator dan animatris KBG, peserta menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:

Untuk Keuskupan-keuskupan:
* Uskup dan para Imamnya mendukung dan memfasilitasi pengembangan KBG dan penggunaan metode AsIPAserta menjadikannya sebagai prioritas dan fokus pastoral Keuskupan.
* Membentuk divisi/gugustugas yang secara khusus menangani KBG. Divisi/gugustugas ini tidak cukup hanya di bawah Komkat Keuskupan namun perlu di bawah Tim/Dewan yang mempunyai jaringan langsung dengan para pastor Paroki.
* Mengadakan pelatihan fasilitator KBG di tingkat Keuskupan/Kevikepan/Dekenat/Paroki.
* Memberikan dukungan dana untuk pengadaan modul dan pelatihan.
* Dewan Imam Keuskupan memasukkan tema “Kepemimpinan dan Peran Imam dalam KBG” sebagai bahan retret, pelatihan maupun triduum persiapan pembaharuan janji imamat.

Untuk Komkat KWI:
* Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada semua Uskup se-Indonesia.
* Memberi dukungan dana dan memfasilitasi pelaksanaan pengembangan KBG di setiap Keuskupan.
* Mengembangkan metode AsIPA sesuai konteks Indonesia.
* Menyiapkan materi/bahan-bahan AsIPA yang lengkap untuk pelatihan-pelatihan Fasilitator.
* Secara berkala, mengevaluasi pelaksanaan KBG di tingkat nasional.
* Secara berkala, mengadakan pertemuan dan pelatihan fasilitator KBG di tingkat nasional.
* Melibatkan diri secara serius dalam pengelolaan dan pengembangan KBG secara nasional.
* Bekerja sama dengan Komisi Seminari untuk memperkenalkan KBG kepada Seminari-seminari Tinggi sebagai cara bereklesiologi, merenungkan Kitab Suci, mempersiapkan homili dan mengembangkan spiritualitas.

Untuk KWI:
* Perlu lembaga/komisi khusus yang mengembangkan KBG atau menghidupkan kembali LPKB.
* Para Uskup yang berhasil mengembangkan KBG mensharingkan kepada semua Uskup buah perkembangan KBG bagi dinamika hidup menggereja di Keuskupannya.

Demikian rumusan hasil akhir dan rekomendasi pertemuan animator dan animatris KBG. Semoga berguna bagi pengembangan dan pengelolaan KBG yang lebih baik lagi di Keuskupan-keuskupan Indonesia.
Peserta KBG dari Keuskupan Agung Makassar: P. Victor Patabang, Pr, Petrus Matutu, Anton Ranteallo, Yakobus Tappe K., Paul Klapping, Beatriks dan Elianus. *** Penulis: Anton Ranteallo, dkk

Tidak ada komentar: