Selasa, 28 April 2015

IN MEMORIAM PASTOR MARIS MARANNU

“Pastor Maris yang kita kasihi telah kembali ke Rumah Bapa. Kita patut berduka ditinggalkan Pastor Maris, tetapi dalam Iman kita patut bersukacita, karena Pastor yang kita kasihi telah kembali ke Rumah Bapa, ke tempat di mana Yesus Kristus berada.” Itulah pesan  Pastor Hendrik Njiolah, Pr  dalam homili Misa 7 hari meninggalnya Pastor Maris Marannu, Pr.  Saya merasa dikuatkan dan dihiburkan oleh renungan Pastor Hendrik di Gereja Paroki KR Andalas, Senin malam, 27 April 2015.

Pastor Johannes Baptista Maris Marannu, Pr meninggal pada Selasa 21 April 2015 pukul  08.08 Wita di RS Stella Maris, Makassar. Nama Maris diambil dari nama RS yang dikelola Suster-Suster YMY di mana Pastor Maris lahir di sana 74 tahun silam, tepatnya 15 Februari 1941.

Saya begitu sedih atas kepergian Pastor Maris yang  adalah sosok ‘Ayah’, orang tua yang jasanya luar biasa dalam hidup dan keluarga saya.  Ada banyak rencana, impian yang tidak kesampaian, karena Pastor Maris keburu kembali ke Rumah Bapa di Surga.

Selama sakit, selama disemayamkan di Paroki Andalas, di Aula Keuskupan, hingga pemakaman di Pakatto, ribuan umat datang memberi penghormatan. Ada banyak sekali karangan bunga  dan di media sosial tersebar luas ungkapan duka dan doa dari umat yang pernah dilayaninya.  Memang ada begitu banyak orang dan umat, yang menemukan titik balik hidupnya, karena karya pelayanan pastoral  luar biasa  Pastor Maris.  Selama 45 tahun Imamatnya, sebagian besar diabdikan melayani umat di Paroki, mulai dari Paroki KIAA Sangalla’ (1971-1975), Paroki St Maria Makale (1975-1981), Paroki St Yakobus Mariso (1981-1990), Paroki St Yosep Gotong-Gotong (1990-2003), dan Paroki  Kristus Raja Andalas (2003-2013). Pembaca dapat mengikuti apa saja yang dilakukan, pengalaman suka duka selama menjadi Imam di KAMS dalam berbagai tulisan pribadinya yang diterbitkan dalam buku Kenangan Imamatnya, dalam buku kenangan 40 Tahun SPC, dan Buku Kenangan Sinode KAMS. Semua dijelaskan dengan gamblang oleh  Pastor Maris yang memang disiplin mencatat dan tekun menulis.

Tulisan kecil ini, adalah catatan kesan sekaligus apresiasi terhadap karya pelayanannya, dari sudut pandang  pribadi  pengalaman penulis selama tinggal bersama Pastor Maris, tujuh tahun lamanya.

Pembaca sekalian, saya ingin merangkum tiga kualitas utama hidup imamat Pastor Maris, yang prima, di atas rata-rata, yang layak diapresiasi. Ia adalah Pastor Bonus, Pastor Visioner, dan Pastor Role Model.
Ia Pastor Bonus yang didambakan umat, yang hidupnya di tengah umat dan memihak yang miskin (option for the poor).
Ia Pastor visioner yang melihat masa depan gereja dalam diri anak-anak muda. Pastor Maris tak henti-hentinya mencari dan membimbing bibit-bibit, calon Imam. Passion-nya terhadap perekrutan dan pendidikan calon imam, termasuk pembangunan dan pengembangan Seminari sangat besar. Ia patut mendapat penghargaan untuk upaya ini. Akan sangat bijak, bila salah satu ruangan di Seminari Petrus Claver kelak memakai nama Pastor Maris.
 Ia Pastor role model (teladan) yang  tahu dengan baik motivasi terdalam panggilannya, dan tuntas dalam setiap penugasannya.  Di balik senyumnya, keramahannya,  ceplas ceplosnya, bahasanya yang sederhana, Pastor Maris teguh pada prinsipnya, setia pada panggilan imamatnya dalam  suka dukanya, dalam harapan dan kecemasan, menerima salib yang harus ditanggungnya. Sepanjang hidup Imamatnya, ia total menghayatinya dalam relasi yang intim dengan Yesus Kristus.

Pastor Maris yang visioner mampu melihat Potensi dalam diri  seseorang. Ia melihat potensi seorang anak muda yang cacat,  Jhonson Poli yang dibantu dan didorongnya sekolah dan kuliah. Setelah menamatkan kuliah di Atmajaya, Jhonson diterima menjadi pegawai negeri di Dispenda Mamasa. Charles Kaliem,  yang bisu dan tuli didorongnya kuliah dan berhasil menjadi Sarjana dari Atmajaya. Dengan kemampuan dan ketekunannya Charles berhasil menyalin semua dokumen renungan Pastor Maris yang terbit di Harian Pedoman Rakyat, termasuk renungan minggu di gereja yang saya rekam dan ketik manual menjadi file computer, dan telah terbit menjadi buku bestseller Penerbit Obor. Judulnya, “Mekar dalam Iman”. Kotbah-kotbahnya, bahasanya yang sederhana yang merakyat namun kharismatis mampu menyentuh dan menggerakkan banyak orang.

Saya mendengar di Andalas ada satu anak pastoran, yang hanya tamat SD, umurnya sudah 17 tahun saat Pastor Maris mendorongnya menjadi Si Doel, sekolah di SMP Kondosapata. Setelah lulus ia lanjut ke Sekolah Pelayaran. Dan sekarang, ia telah menikmati kariernya sebagai seorang pelaut yang mengarungi lautan, melihat dunia. Seperti yang diimpikan Pastor Maris atas kami, belajarlah dan pergilah lihat seperti apa dunia.  Yohanes Kemba’ nama anak itu. Dialah yang mendampingi Pastor Maris, saat menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU Rumah Sakit Stella Maris. Yohaneslah, dari semua anak-anak asuh Pastor Maris yang mendapat kesempatan istimewa ini.

Pastor Maris juga melihat dalam diri saya, talenta yang orang lain -bahkan  saya sendiri- tidak menyadarinya. Hingga akhir hayatnya, Pastor Maris selalu mendorong, mendukung dan mendoakan saya.

Saat merayakan Ultahnya ke-74 pada 15 Februari lalu, saya datang mengunjunginya dan kami mengobrol sambil makan siang di Pastoran Andalas. Saya tanya apa masih tetap berenang dan nonton Bioskop, dua hal yang disukai Pastor Maris. Pastor Marsel yang mejawab, berenang masih sesekali, namun menonton tidak pernah lagi. Saya katakan, rumah kami di Palu di pinggir laut, dekat sekali dengan tempat renang. Sambil melirik Pastor Marsel di depannya, Pastor Maris yang antusias berkata, “nanti kamu ajak ke sana ya, Stef.” Saya katakan akan sangat senang bila Pastor mau datang, namun sekarang saya lagi tugas belajar di Surabaya. Tetapi, saya akan mengajak Pastor menonton bioskop. “Iyo Step, ajak tawwa (Iya Stef, ajaklah, red.) Pastor nonton kalau ada waktumu,” kata Pastor Marsel.

Rencana nonton itu akhirnya terwujud juga pada akhir bulan Maret lalu. Saya mengajak Pastor Maris menonton film di Trans Studio Mall. Sepanjang jalan di Mall, Pastor Maris tak henti menggenggam tangan saya. Ia sangat menikmati film itu. Tetapi ia lupa apa yang baru saja ditonton. Memang belakangan, Pastor Maris mengalami masalah penurunan daya ingat. Saya mendengar Pastor Marsel  Lolo Tandung, Pr yang sekarang menjadi Pastor Paroki Andalas mengaku butuh kesabaran lebih mendampingi Pastor Maris yang mulai lupa-lupa ingat.
 “Sudah lupa, hehee”, katanya sambil tertawa lepas.  Itulah pertemuan terakhir saya dengan Pastor Maris yang amat sangat berjasa dalam hidup saya.

Pertemuan yang Mengubah Hidup
Pastor Maris menemukan saya, seorang remaja  yang sedang bingung, galau mengenai masa depannya dalam sebuah retret bagi Seminaris kelas akhir, di Malino pada tahun 1993. Pastor Maris yang melihat saya tidak juga beranjak dari Kapel, menghampiri dan mengajak  berbicara. Di ujung pembicaraan itu, beliau katakan: “Bila kamu berlibur, datanglah ke tempat saya di Pastoran Gotong-Gotong.” Pada akhir Retret itu, ada sesi foto bersama Pastor Maris. Satu-satunya foto saya dengan Pastor Maris, yang mirip bintang film Hongkong itu, sekarang masih tergantung di dinding rumah orang tua saya di Toraja.

Sejak pertemuan di Malino itu, Pastor Maris terus memantau dan mengikuti perkembangan studi saya, termasuk ketika mengikuti TOR di Seminari Tinggi Anging Mammiri di Jogjakarta. Setiap bulan, saya menerima wessel pos dari Pastor Maris, berikut pesan-pesan agar saya serius mempersiapkan diri untuk masuk Seminari Tinggi: “Stef, persiapkan dirimu dengan serius, apa yang dimulai dengan baik, akan berakhir dengan baik.”

Tibalah saat yang berat, ketika harus mengabarinya  bahwa saya gagal TOR, dan tidak layak melanjutkan ke ST. Namun, tanpa saya duga Pastor Maris mengatakan, kembalilah segera ke Makassar dan ikutlah tes di Unhas. Kalau kamu lulus,  saya akan bantu biayamu. Itulah awal saya tinggal di Pastoran Gotong-gotong bersama Pastor Maris selama tujuh tahun.
Saya menyelesaikan kuliah S1 di Unhas pada tahun 2000 dan S2 pada 2005, sebagian besar atas biaya Pastor Maris. 

Periode bersama Pastor Maris adalah masa luar biasa dalam pembentukan pribadi saya. Saya mendapat kesempatan istimewa mengikuti Pastor Maris masuk keluar lorong dan gang sempit menemui umat yang sakit, yang membutuhkan doa dan dukungan dengan membagikan komuni, menggelar misa. Saya menyaksikan Pastor Maris tanpa canggung sedikit pun ketika berada di tengah-tengah orang-orang kecil, orang-orang sakit, orang-orang jompo di rumah-rumah mereka yang sempit dan pengap. Saya juga mendapat kesempatan bertemu dan duduk semeja dengan tokoh-tokoh umat dalam berbagai acara penting, di mana Pastor Maris diundang hadir. Di kemudian hari, saya tidak canggung ketika berada di tengah orang-orang kecil dan tidak minder bersama orang-orang besar.

Ketika saya direkrut dan diterima menjadi Dosen di Universitas Tadulako di Palu pada 2007, Pastor Maris merasa senang sekali.  “Step, kalau ada kesempatan, kuliah ko lagi. Cari beasiswa ke Luar Negeri.” Tetapi saya mengatakan, Pastor adik saya ada beberapa yang mau sekolah dan saya ingin membantu mereka. Sekarang ketika mereka menyelesaikan sekolahnya, saya katakan ke adik-adik itu kalian harus berterimakasih kepada Pastor Maris, karena dengan menyekolahkan saya, saya dapat membantu kalian sekolah. Hati baik Pastor Maris telah menjadi Viral kebaikan dalam keluarga kami.

Pastor Maris sangat disiplin dalam mengolah batin, hidup doanya, mengelola keuangan, mengelola Paroki. Dia seorang yang peduli. Ia peduli pada setiap orang yang dikenalnya. Ia catat ulang tahun dan tanggal-tanggal spesial dalam kehidupan orang-orang dekatnya.  Selama tujuh tahun, saya bertugas membuatkannya Kalender sakti. Kalender yang besar, yang akan diisinya dengan agenda kegiatannya sepanjang tahun, dan ulang tahun orang-orang yang dikenalnya dengan dekat. Sebelum datangnya Facebook, Pastor Maris sudah memiliki metode pengingat ulang tahun yang efektif.

Ketika saya datang di Pastoran, sudah ada sederetan anak-anak asuh Pastor Maris:  Jhon Rante Ta'dung (alm) sudah menjadi Insinyur Sipil dari Ukip dan berkarier sebagai kontraktor. Frans sudah menjadi Sarjana dan dosen di Kendari. Theo Wowor sudah menjadi Sarjana Hukum dari Unhas dan sudah bekerja di Kantor Pengacara Otto Kaligis di Jakarta. Yohanes Litang dan Anton sementara menyelesaikan kuliah di Atmajaya, Makassar. Mereka semua menjadi motivasi bagi saya.  Ketika saya meninggalkan Pastoran Gotong-gotong, bersamaan dengan pindahnya Pastor Maris ke Andalas, Simon Mangopang, Yosep Pakuli sudah selesai kuliah di Atmajaya, Petrus selesai kursus pelayaran, Yakobus Tibo sudah selesai SMK. Mereka bahkan sudah memulai karier dengan bekerja di beberapa perusahaan.

Ijinkan saya bercerita sedikit mengenai Ir. Jhon Rante Ta'dung (alm) yang belakangan sangat dekat dengan saya. Dia menganggap saya adiknya, dan perhatiannya yang demikian spesial untuk Pastor Maris menjadi teladan bagi saya dan kami semua anak asuh Pastor Maris. Setiap pulang kampung, saya wajib datang ke rumah Jhon di Tete Bassi. Yang terakhir, menjelang Pileg tahun lalu saya masih ikut saat keliling kota memantau apa poster dan baliho Istrinya Beatris Palamba, caleg Nasdem sudah terpasang pada tempatnya. Pastor Maris menemukan Jhon yang peminum yang nakalnya membuat orang tuanya mati akal, ketika bertugas di Paroki Makale.  Pertemuannya dengan Pastor Maris mengubah hidupnya. Jhon memberi nama Maris pada dua putri dan satu putranya, sebagai bentuk apresiasi atas jasa Pastor Maris dalam hidupnya. Saat Jhon terbaring sakit di RS Siloam, Pastor Maris rutin mengunjunginya. Sehari sebelum berangkat ke Amerika, saya mengunjungi Jhon di RS dan kami sempat mengobrol. Itulah kali terakhir saya bertemu dengannya. Saya masih di Los Angeles ketika mendapat kabar Jhon sudah meninggal dunia. Kabarnya, Pastor Maris datang mendoakannya saat jenazah disemayamkan di Rumah Duka RS Grestelina. Tepat satu tahun kemudian, Pastor Maris menyusulnya ke Rumah Bapa.

Di luar itu ada banyak anak-anak muda yang menemukan hidupnya kembali karena perjumpaan dengan Pastor Maris. Beberapa yang saya kenal dengan sangat baik, Bapak Henky Nurtanio, Bapak Ronny dll, termasuk sejumlah anak muda yang kini telah menjadi Frater dan Pastor.  Di antaranya yang paling istimewa adalah Pastor Marsel Lolo Tandung, Pr. Tentang Pastor Marsel, dalam sebuah tulisan yang terbit dalam buku Kenangan Panitia Sinode KAMS, Pastor Maris menulis: “dulu saya yang mendampinginya, sekarang Pastor Marsel yang mendampingi saya”. Ini ungkapan yang memiliki makna yang dalam. Dimana Pastor Maris sungguh sadar, dan bukannya mengingkari penurunan kemampuan karena faktor usia. Ia tidak menyikapinya dengan ketakutan, sebagaimana banyak disalahartikan, termasuk  oleh para pimpinanannya dalam kuria. 

Saya  bersyukur dan sungguh berterima kasih kepada Pastor Marsel yang selama beberapa tahun ini tinggal bersama dan mendampingi Pastor Maris, yang di masa tuanya memerlukan perhatian dan pengertian yang lebih. Dari pihak keluarga, sosok Tante Onno (alm) adalah luar biasa bagi Pastor Maris dan semua kami. Tante Onno dan Pastor Maris bagi kami adalah dwitunggal dalam proses pendidikan kami. Hingga akhir hayatnya, Tante Onno (alm) senantiasa mendampingi Pastor Maris. Tentu saja dukungan saudara-saudara, keponakan-keponakannya juga penting bagi Pastor Maris.

Di balik semua karya Pastor Maris yang luar biasa kami alami dan rasakan, ada peran Gereja dan umat. Saya mengetahui dengan baik, bahwa Pastor bisa menyekolahkan kami karena sumbangan dari umat yang mendukung karyanya. Terima kasih atas dukungan bagi Pastor Maris selama hidupnya, khususnya selama menjalani hidup Imamatnya.

Pastor Maris yang kami kasihi dan banggakan, tidak akan cukup kata untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas jasamu dalam kehidupan kami. Kami memaafkanmu atas semua hal yang mengganjal di hati, sebagaimana Pastor selalu mampu mengampuni dan mengasihi kami semua. Jasamu dan namamu akan awet di dalam hati kami, dalam keluarga kami, dan dalam pekerjaan kami. Doakan kami yang masih mengembara ini. Selamat Jalan Pastor. Beristirahatlah dalam kedamaian abadi, di Rumah Bapa. Requiescat in Pace.***
Penulis: Stef Bo’do

1 komentar:

Ronald Tjoanda mengatakan...

Luar Biasa Kawan Kesaksianx.. izin memberi kesaksian singkat jg ya kawan,***Pagi itu Tepatx jam 7 Pagi,Sy melihat Pastor maris sdh memakai Alat pernafasan Tambahan,dan Yohanes Kemba' mengatakan Pastor sdh nggak bisa mendengar lagi, dan Kuku2 nya Sdh Mulai Kebiru2 an, dan sy pun melihat lgsung Pastor dan mmg keadaanx sdh tak ada Harapan lg kelihatannya ,wajah pastor sdh agak bengkak kelihatannya sy ada blg jg dgn ada seorang ibu jg ug menjaga Pastor di kamar ICU VIP,dan saya hax berdoa dalam Hati Semoga Tak terjadi apa2 Terhadap Pastor dan lekas sembuh, tp jam 07:49 pagi Pastor tiba2 Sdh kehilangan Nafas ,dan Akhirnya Para Suster dan perawat di ruang Icu Berkumpul utk Menolong Pastor Berusaha Memberi bantuan semaksimal mungkin Tp Tuhan Sdh Memanggil Pastor Kembali Ke Rumahnya, Sy Kebetulan Berada Disana di karenakan Ibu Sy Lagi skit jg dan Kebetulan kamar ICUNYA bersebelahan dengan Pastor ,oleh krn Itu sy jg kebtulan Melihat Pastor smpai betul2 Tak Tertolong Lagi... Dan Hanya Air Mata Yg tertahankan yg ku alami pada Saat Itu