Tampilkan postingan dengan label sharing pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing pengalaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

Mengikuti World Youth Day 2016 di Polandia


World Youth Day (WYD) atau hari orang muda sedunia adalah sebuah perayaan untuk orang muda yang dilaksanakan setiap dua atau tiga tahun sekali oleh Gereja Katolik. WYD ini terbuka untuk semua orang muda yang ingin mengambil bagian dalam pertemuan meriah dengan berpusat pada Yesus Kristus. Acara ini merupakan kesempatan untuk        mengalami secara pribadi universalitas Gereja dan untuk berbagi harapan dan kegembiraan, perjuangan dan kecemasan dengan orang-orang muda Katolik dari seluruh dunia. Acara diramu di dalam perjumpaan-perjumpaan, katekese, doa, ekaristi, sakramen rekonsiliasi dan rekreasi bersama dengan ribuan bahkan jutaan orang muda lain dari seluruh dunia.

Pengalaman di WYD Polandia
WYD Krakow, Polandia berlangsung 25 Juli – 1 Agustus 2016. Peserta dari Indonesia, yang tergabung dalam Komisi Kepemudaan KWI berjumlah 113 orang, yang merupakan gabungan dari OMK     keuskupan-keuskupan di Indonesia. Sekalipun berasal dari OMK keuskupan, tetapi semua peserta kali ini bukanlah utusan Komisi Kepemudaan    Keuskupan, tetapi semua berangkat dengan inisiatif masing-masing. Proses pendaftaran pun dilakukan oleh masing-masing kepada panitia yang sebenarnya juga tidak langsung berada di bawah Komisi Kepemudaan KWI. Koordinasi dengan Komisi Kepemudaan pastilah ada, karena semuanya mendapatkan surat keterangan dari Ketua Komkep KWI, Mgr Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang, yang juga ikut serta menyertai para peziarah ini.

Days in Diocese di Warsawa
Perayaan WYD didahului dengan hari-hari live in yang disebut “Days in Diocese”. Ketika kami tiba di bandara Chopin Warsawa pada 20 Juli pkl 11.00 waktu Polandia, kami dijemput oleh rombongan dari paroki yang akan menampung kami. Seluruh peserta dibagi ke paroki-paroki di seluruh keuskupan di Polandia. Rupanya umat yang bersedia untuk menampung para peserta sebelumnya harus mendaftar dan dipersiapkan seadanya. Semua acara dirancang dan dipandu oleh paroki tuan rumah. Setiap hari dimulai dengan acara doa pagi bersama di aula paroki, dan setelah itu kami diajak untuk berjalan keliling kampung, keluar masuk hutan, mengunjungi gereja-gereja dan museum. Juga ada acara konser musik yang telah dipersiapkan dengan sangat baik. Kami juga diajak untuk menyaksikan dramatisasi kehidupan St. Faustina. Ada juga acara misa bersama, permainan dan rekreasi bersama. Pada tingkat keuskupan ada konser musik, misa akbar dan pentas budaya dari masing-masing negara peserta. Acara Days in Diocese ditutup pada 25 Juli di paroki tuan rumah masing-masing dengan gaya masing-masing. Di Paroki Pantecoste, paroki tuan rumah kami, penutupan dilaksanakan dengan makan malam bersama di halaman pastoran, yang dihadiri oleh semua peserta, para orang tua yang menampung para peserta di rumahnya, para relawan dan pastor paroki. Sebelum makan malam bersama, ada kursus singkat ungkapan-ungkapan umum bahasa Polandia, dan setelah makan ada rekreasi bersama yang diisi     dengan nyanyian dan gerakan. Tak ketinggalan poco-poco dan sajojo menjadi gerakan favorit.
Yang menarik dari hari-hari ini adalah perjumpaan dan interaksi dengan tuan rumah. Saya ditempatkan bersama dengan seorang imam dari      Keuskupan Timika pada keluarga Arthur-Iwona. Mereka adalah sepasang suami-istri yang memiliki 2 orang anak. Anak-anak mereka dua-duanya sudah berkeluarga dan memiliki 3 orang cucu, sehingga hanya mereka berdua yang tinggal di rumah itu. Namun hampir setiap kali bila kami berada di rumah (tidak mengikuti kegiatan), anak-anak dan cucu-cucu mereka datang berkunjung untuk sekedar berbincang-bincang dengan kami (mungkin juga untuk melihat orang berkulit hitam?). Cucu-cucu mereka yang masih kecil-kecil juga sama sekali tidak menunjukkan rasa takut terhadap kami. Mereka dengan bebas berusaha untuk berbicara dengan kami, sekalipun kami hanya dapat menafsirkan maksud mereka. Tetangga-tetangga mereka pun ikut bergembira menyambut kami dan berebutan untuk mengundang kami ke rumahnya. Menurut penilaian saya keluarga ini sangat rukun dan sangat terbuka terhadap orang lain. Setiap pagi mereka bangun mereka berdoa bersama dengan bernyanyi sambil menyiapkan sarapan pagi. Katanya doa mereka adalah doa syukur atas kehidupan dan rejeki yang boleh diterima, dan memungkinkan mereka hidup. Bila sarapan sudah siap mereka berdua mengakhiri doanya dengan “amin” yang panjang, dan mempersilakan kami untuk makan. Juga pada sore hari tepat jam 15.00, apa pun yang sedang mereka kerjakan, mereka langsung berlutut dan mendoakan Doa Koronka. Kiranya itulah cara hidup orang Polandia. Mereka sangat menghidupi imannya. Sekali pun pengetahuan bahasa Inggris mereka sangat terbatas, dan karena itu mereka lebih banyak berbahasa Polandia, tetapi dengan bantuan tangan dan kaki serta  Google Translator” kami bisa survive. Komunikasi dapat terjadi dengan luar biasa berhasil.

Acara puncak di Krakow
Waktu 5 hari di Warsawa berlalu tanpa terasa. Relasi dengan tuan rumah pun sudah terjalin begitu dekat, sehingga sulit rasanya untuk berpisah. Tidak sedikit dari peserta dan tuan rumah yang mengeluarkan air mata tanda beratnya perpisahan itu. Di situlah tampak bahwa perjumpaan yang singkat itu sangat intensif, dan saya yakin persekutuan dalam iman telah menghilangkan sekat-sekat perbedaan yang ada.  Pada 26 Juli jam 06.00 kami sudah harus berkumpul stasiun kereta api untuk berangkat ke Krakow. Waktu perjalanan dari Warsawa ke Krakow adalah 4 jam. Selama 4 jam itu kami harus berdiri atau duduk di lantai di dalam kereta, karena kereta penuh sesak. Saya tidak mendapatkan informasi, berapa jumlah kereta  yang berangkat dari Warsawa ke Krakow pada hari itu, tetapi kereta yang kami tumpangi sungguh penuh sesak. Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang berceritera. Mungkin sebagian masih sibuk dengan pikiran bersama orang-orang yang ditinggalkan di Warsawa, sebagian pula menyanyi mengisi kekosongan, dan ada yang sepanjang perjalanan berdoa Rosario dan membaca bacaan-bacaan rohani, yang dilanjutkan dengan sharing. Bagiku perjalanan ini pun menambah pengalaman rohani peziarahan selama WYD. Saya melihat, bahwa peserta WYD sungguh menjalani acara-acara yang ada sebagai sebuah peziarahan, bukan sekedar rekreasi.
Ternyata dari Krakow kami masih harus melanjutkan perjalanan. Kami pindah kereta, dari kereta cepat ke kereta regional yang cukup lambat. Kami melanjutkan perjalanan selama 2 jam lagi menuju ke kota Wadowice, kota kelahiran St. Yohanes Paulus II. Ada rasa gembira dan bangga boleh tinggal di kota kelahiran seorang kudus, St. Yohanes Paulus II. Kami disambut dengan hujan lebat di   Wadowice. Ternyata ada begitu banyak orang yang juga ditempatkan di kota ini. Begitu tiba, kami langsung mendapatkan pembagian paket peserta. Paket itu merupakan sebuah tas, yang berisi benda-benda yang dibutuhkan selama WYD di Krakow: ada buku-buku doa, peta Wadowice dan Krakow, buku informasi tentang Polandia, sebuah mug bergambar kota Krakow, sebuah handuk kecil (mungkin bagi mereka yang lupa bawa handuk), dan sebuah kain seba guna bisa untuk ikat kepala atau ikat rambut atau ikat leher. Sore hari ada acara pembukaan yang dilaksanakan di atas sebuah halaman kota yang disebut JP II Square.
Setiap hari ditawarkan berbagai macam acara di JP II Square. Jam 09.00 dimulai dengan doa pagi, dilanjutkan dengan katekese dari uskup-uskup yang telah ditentukan sebelumnya dalam Bahasa Inggris. Di tempat-tempat yang berbeda di berbagai macam kota di sekitar Krakow dilaksanakan acara yang serupa. Katekese dilaksanakan dalam berbagai bahasa a.l. Bahasa Polandia, Bahasa Hungaria, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Spanyol dan Bahasa Italia. Setelah acara katekese dilanjutkan dengan misa bersama oleh Uskup yang membawakan katekese, didampingi oleh para imam yang hadir. Sepanjang hari acara diisi dengan penampilan dari berbagai macam Negara, yang sebelumnya harus didaftarkan pada panitia penyelenggara. Sekalipun saya tidak melihatnya sendiri, tetapi tampil pula acara kulintang, yang dibawakan oleh anak-anak Panti Asuhan Vincentius, Jakarta serta drama yang dibawakan oleh kelompok New Heart Community, Jakarta. Misa pembukaan dilaksanakan pada 27 Juli di atas Błonia Park, yang dipimpin oleh Kardinal Stanislaw Dziwisz, Uskup Agung Krakow. Vigil night dan misa penutupan dilaksanakan di sebuah lapangan besar yang luasnya sekitar 20 hektar yang diberi nama “Campus Misericordiae” (field of mercy).
Pada tanggal 30, yakni sehari sebelum acara penutupan sekaligus merupakan acara puncak dari seluruh rangkaian acara peziarahan orang muda ini, para peserta harus berjalan kaki dari tempat terakhir yang bisa dijangkau dengan kendaraan umum. Rombongan kami harus berjalan kaki dari stasiun kereta api yang membawa kami dari Wadowice ke Campus Misericordiae. Kami memulai perjalanan itu dari jam 10.00 dan baru tiba pada jam 18.00, sebuah perjalanan yang sungguh menguras tenaga, karena jalanan yang dilalui adalah jalan beraspal, jalan tol yang pada hari itu hanya dibuka bagi para peziarah yang berjalan kaki. Panas dari matahari dan pantulan dari aspal sungguh menguras tenaga dan menyebabkan kaki di dalam sepatu melepuh dan terkelupas. Rupanya jalan kaki yang jauh dan lama merupakan bagian tak terpisahkan dari peziarahan WYD, sehingga semua peserta dengan rela mengikutinya. Mungkin harus dimaknai sebagai tindakan silih. Sisa hari itu diisi dengan doa sepanjang malam dan yang kelelahan tidur di alam terbuka di atas Campus Misericordiae. Jam 09.00 keesokan harinya, 31 Juli, Paus memasuki Campus Misericordiae. Bapa Suci berkeliling kompleks itu untuk menyalami dan memberkati para peserta. Kami beruntung, karena kami mendapat tempat persis di pinggir jalan yang dilalui oleh Paus, sehingga dapat melihat Bapa Suci yang lewat, sekalipun hanya sekilas lewat dalam kendaraan terbuka. Kurang lebih jam 10.00 misa penutupan dimulai, yang dipimpin langsung oleh Paus Fransiscus. WYD tahun 2019 akan dilaksanakan di Panama. Demikian pengumuman oleh Paus Fransiscus pada akhir misa penutupan yang dihadiri oleh sekitar 3 juta orang. Turut serta hadir dalam perayaan itu Presiden Panama.
Saya bersyukur mendapat kesempatan   mengikuti WYD, yang ternyata merupakan sebuah peziarahan rohani. Istilah yang digunakan WYD untuk menyebut para peserta adalah “Pilgrim” (peziarah) atau “Pielgrzym” dalam bahasa Polandia. Istilah ini menurut saya sangat tepat. Acara-acara yang dikemas untuk mengisi hari-hari WYD sungguh merupakan pengalaman yang menambah kebanggaan akan iman katolik dan rasa kesatuan sebagai umat Allah. Ad maiorem Dei gloriam. *** (Penulis: Pastor Paulus Tongli, Pr) 

Rabu, 02 Maret 2016

KUBAHAGIA DENGAN PANGGILANMU, TUHAN

Perjalanan hidup panggilan setiap orang merupakan perjalanan yang penuh dengan misteri kehidupan. Setiap orang tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup mereka. Namun, ketika seseorang sudah mulai memilih jalan hidupnya, berarti ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan diterima dalam hidupnya, sudah siap menerima segala pengalaman suka dan duka yang akan menghiasi segala perjalanan hidup panggilannya. Semua itu dialami baik oleh mereka yang memilih hidup berkeluarga maupun yang memilih panggilan hidup sebagai imam, bruder, atau suster.
Perjalanan panggilanku sebagai calon imam Keuskupan Agung Makassar merupakan suatu perjalanan yang telah saya pilih dengan bebas dan tanpa paksaan dari siapapun. Saya memulai pendidikan calon imam ini di Seminari Menengah Sto. Petrus Claver Makassar, lalu ke Seminari Tahun Rohani di Sangalla’ – Toraja, kemudian saya menyelesaikannya di Seminari Tinggi Anging Mammiri Yogyakarta pada bulan Desember 2015. Perjalanan ini bagiku sangat unik karena pada akhirnya banyak teman-teman saya yang harus diarahkan ke tempat lain, dan tinggallah saya dan satu orang teman saya yang masih melanjutkan perjalanan pangilannya di tarekat MSC. Angkatan saya yang awalnya 41 orang ketika berada di Seminari Menengah, kini menyisakan dua orang calon imam, yakni satu orang yang berada di tarekat MSC dan saya sendiri sebagai calon imam projo untuk     Keuskupan Agung Makassar. Dengan demikian saya pun teringat kutipan teks Kitab Suci dari Matius 22:14: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”.
Tahun-tahun terakhir berada di Seminari Tinggi Yogyakarta, saya selalu berusaha memantapkan motivasi panggilanku sebagai calon imam. Dari setiap pertemuan pribadi bersama dengan pamong, saya selalu mengatakan bahwa dari hari ke hari motivasi saya selalu meningkat dan semakin disemangati dalam menjalani panggilan ini. Akhirnya dengan mantap saya mengajukan lamaran tahbisan diakon. Pada tanggal 24 Januari 2016 saya menerima Tahbisan Diakon di Paroki Santo Yakobus Mariso Makassar oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Makassar, Mgr. John Liku Ada’, Pr. Saya merasa sangat bersyukur dan bahagia menerima tahbisan diakon tersebut karena tahbisan       diakonat ini merupakan jenjang pertama dalam tahbisan suci.
Diakon adalah pelayan (Yunani: diakonos). Diakon adalah tingkat terbawah dalam jajaran klerus, yaitu mulai dari Diakonat – Imamat – dan Episkopat. Sesuai dengan arti katanya sebagai pelayan, begitulah dalam penghayatan hidup sehari-hari tugas diakon yaitu menjadi pelayan, pembantu. Dalam Perayaan Ekaristi diakon membantu Uskup atau Imam untuk membawa Evangeliarium, membacakan Injil, sekali-sekali menyampaikan homili, membantu melayani altar/persembahan, mengangkat piala waktu doksologi, mengajak salam damai, membagi komuni, membereskan altar, dan kemudian membubarkan umat setelah berkat. Dalam pelayanan sakramental, Diakon dapat membantu Imam untuk memberkati/meneguhkan            perkawinan dan memimpin upacara pembaptisan. Dalam pelayanan sakramentali, Diakon bisa memimpin upacara-upacara pemberkatan dan juga boleh mempimpin upacara pemakaman. 
Di beberapa tempat Diakon belum dikenal umat. Menurut beberapa orang, pakaian liturgis diakon (dalmatik) nampaknya lucu, dengan memakai stola miring. Dalmatik (Latin: Dalmatica= pakaian dalam yang panjang) dikenakan setelah stola Diakon. Ini adalah busana resmi Diakon ketika bertugas melayani dalam Misa, khususnya yang bersifat agung atau meriah. Busana ini melambangkan sukacita dan kebahagiaan yang merupakan buah-buah dari      pengabdiannya kepada Allah. Warna atau motif dalmatik disesuaikan dengan kasula imam yang dilayaninya pada waktu Misa. 
Dalam tahbisan diakon ini, dan dalam menjalani hidup panggilanku ini saya memilih motto dari Yeremia 1:7, yaitu “Tetapi Tuhan berfirman kepadaku: Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu haruslah kausampaikan”. Saya memilih motto panggilan ini  dengan kesadaran bahwa dalam menjalani tugas dan perutusan yang dipercayakan kepadaku nantinya saya harus tetap siap, ke manapun saya akan diutus. Dalam menjalani tugas perutusan itu nantinya saya harus berusaha agar tetap bahagia dan semangat tanpa harus banyak mencari-cari alasan karena saya menyadari akan masih kurangnya tenaga pelayan (khususnya Pastor) di Keuskupan Agung Makassar ini. Dengan demikian, saya menyadari bahwa tugas ini cukup berat, tetapi saya yakin akan rahmat Tuhan yang akan selalu menyertaiku.
Ketika ditanya mengapa memilih hidup panggilan ini dengan yakin dan mantap? Saya pun mengatakan bahwa saya memilih hidup selibat atas dasar kebebasan. Memang bahwa hidup selibat tidak terlepas dari berbagai macam tantangan, pergulatan dan godaan. Namun biarlah semua ini saya kembalikan pada penyelenggaraan Allah yang telah menganugerahkan rahmat ini, sembari disertai dengan usaha yang dibarengi ketekunan dan kesetiaan.*** Penulis: Fr. Fransiskus Wogha Pati

40 Tahun Imamat Pastor Frans Arring, Pr.: Aku Bersyukur Kepada-Mu, Tuhan

"Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib, ajaib apa yang Kaubuat,dan jiwaku benar-benar menyadarinya”. [ Mzm.139:14]

              Doa pemazmur kepada Allah yang mahatahu yang terurai dan tersirat dalam Mazmur 139 benar-benar menyentuh dan menggugah saya. Mengapa? Saya dilahirkan dari pasangan P.Minna’- Maria Sampe di Sangalla’, 21 Juli 1948  sebagai anak ke-8 [anak bungsu ]:    6 perempuan dan 2 laki-laki. Konon, ketika masa bayi, keadaan fisik saya kerdil dan kurang sehat karena tidak cukup ASI. Pada saat yang tepat bibinda [adik ibunda ] sedang memberi ASI kepada buah kasihnya, saya pun mendapat bantuan ASI. Kurre sumanga’, passakkena Puang [Terima kasih, Berkat Tuhan].
Begitu  waktu bergulir terus, saya pun bertumbuh berubah karenanya. Saya bangga dengan orang tua dan kakakku. Orang tua dan lingkungan keluarga menganut agama asli ‘Alukta’ yang taat. Bilamana ada perayaan ritual penyembahan kepada ‘penguasa’ alam dan segala isinya, saya berusaha hadir karena seusai doa ada ‘sesuatu’ yang bisa dinikmati.
  Pada medio 1955, saya menjadi murid di Sekolah Rakyat [SR] Leatung II, Sangalla’. Saya senang dan bertumbuh berkembang dengan baik dalam beberapa hal seperti pengetahuan umum, pendidikan agama Kristen dan keterampilan bersosialisasi dan musik bambu. Para guru yang mengajar di SR. Leatung II, sebagai Sekolah Rakyat tertua di Sangalla’ pada waktu itu sudah berpengalaman dan terampil. Saya tamat pada  01 Agustus 1961.
Selanjutnya saya mendaftarkan diri di SMP Katolik Sangalla’ pada Agustus 1961.  Proses kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut berlangsung dengan lancar dan baik. Para guru berdisiplin tinggi dan menguasai baik mata pelajaran yang diampunya. Di sekolah itulah saya mulai mengenal sosok seorang pastor yang mengajarkan agama katolik. Ketika dibuka kesempatan untuk mengikuti masa katekumenat, saya segera mendaftarkan diri. Masa pembinaan secara intensif berlangsung kurang lebih 6 bulan. Pada perayaan malam Paskah, 21 April 1962, saya bersama dengan para teman katekumen dinyatakan layak menerima Sakramen Baptis di gereja Kristus Imam Agung Abadi,  Sangalla’. Luar biasa sentuhan Roh Tuhan terasakan pada malam Paskah waktu itu. Setahun kemudian, pada 26 April 1963 saya bersama dengan para calon krismawan/wati menerima Sakramen Krisma dari tangan yang mulia Bapak Uskup N.M.Schneiders,CICM di gereja Buntu Salombe’, Sangalla’. Lengkaplah sudah rahmat kekuatan dan keberanian  dari Tuhan yang diterima menjadi warga gereja yang dewasa untuk hidup baik dan bersaksi. Saya bahagia dan bangga menjadi katolik. Pantaslah saya dengan tulus mau mengaturkan banyak terima kasih kepada para guru-pendidik yang mengantar kepada jalan keselamatan dan membukakan pintu pengetahuan untuk hidup. Saya tamat pada 29 Juni 1964.

Quo Vado? [Kemana saya melangkah selanjutnya?]
 Saya teringat pada suatu malam menjelang mau tidur, kakak saya, JP.Arring menyarankan dalam bentuk pertanyaan, ’Bagaimana kalau adik Arring mencoba ke seminari di Makassar?’ Saran inilah ternyata menjadi arah langkah saya ke depan. Tidak lama kemudian Pastor L.de Vos,CICM, parokus Sangalla’  pada waktu itu menghubungi saya agar segera ke Makale untuk mengikuti tes masuk  Seminari. Saya berangkat  dengan membawa berkas Surat Baptis , Ijazah dan Rapor terakhir. Saya langsung menemui Pastor A.Raskin,CICM di kamarnya. Beliau menanyakan banyak hal dan saya serahkan berkas yang diminta. Akhirnya Pastor A.Raskin, yang ternyata beliaulah Pater Rektor SPC,   menyampaikan kepada saya bahwa saya diterima tanpa tes. Disampaikan pula jadwal      keberangkatan dan segala keperluan disiapkan untuk dibawa ke Makassar.
  Saya masuk di SPC, Makassar sekitar minggu ke-3 Juli 1964. Suasana hidup bersama di seminari serba tertib. Saya ikut berproses menyesuaikan diri dengan situasi hidup yang menjadi komitmen bersama. Untuk segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu belajar, berdoa, berolah-raga, berkarya-tangan, berolah seni musik, berambulasi, bersosialisai, dll. Segala aktivitas tersebut sedapatnya diusahakan untuk dilaksanakan pada waktunya. Memang porsi belajar dan belajar mendapatkan prioritas waktu paling banyak. Suatu pengalaman yang mengesan bagi saya selama menata hidup di SPC, yaitu ketika di kelas VII, Pater Rektor memilih saya sebagai Senior. Tugasnya: bertanggung jawab  memerhatikan dan menjaga suasana tatanan hidup bersama, a.l.: tertib studi, doa, kecukupan makan-minum di refter, kebersihan lingkungan, jaga ketenangan dan cipta kedamaian, dll. Waktu bergulir terus, saya pun berubah, bertumbuh berkembang karenanya. Ibarat air sungai mengalir kemana terarah, begitulah Roh Tuhan berhembus kemana dikehendakiNya.
  Saya mengikuti saja hembusan RohNya kemana Ia arahkan dan tuntun. Pada bulan Desember 1968, saya bersama dengan 2 teman seperjalanan tiba di Seminari Tinggi St.Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Mulailah saya menata  dan menyesuaikan diri dengan  pola hidup calon imam yang menjadi komitmen bersama. Di Seminari Tinggi inilah saya mengenal banyak teman calon imam dari keuskupan-keuskupan dan beberapa tarekat religius di Indonesia. Saya bersyukur boleh diberi kesempatan untuk berproses  bersama dengan sesama calon imam se-Indonesia yang bervariasi budaya, bahasa dan karakter. Tantangan, kesulitan tidak lepas dari suatu perjuangan hidup. Ketika di tingkat II filosofan, saya diminta Romo Rektor menjadi sub-bidel umum. Selama kurun waktu 1969-1975,saya tinggal dan hidup terproses dan terbentuk menjadi  calon imam KAMS di Seminari Tinggi St.Paulus. Saya menerima tahbisan Diakon dari yang mulia Kardinal Justinus Darmoyuwono di Kapel St.Paulus, Kentungan, 17 September 1975.    Syukur kepada Tuhan dan     terima kasih kepada Alma Mater.
  Pada 10 Desember 1975, saya menerima tahbisan Imam dari yang mulia Bapak Uskup Theodorus Lumanauw di Gereja Buntu Salombe’,Sangalla’. Tak terasakan waktu bergulir , saya boleh mencapai peziarahan  pelayanan hidup imamat 40 tahun bersama dengan umat KAMS pada 10 Desember 2015. Perayaan kenangan penuh syukur itu  dilaksanakan di Gereja Katedral dalam  Ekaristi yang dipimpin oleh Bapak Uskup John Liku Ada’ dengan misa konselebrasi bersama semua imam, yang dhadiri oleh perwakilan paroki-paroki di kota, komunitas religius, umat dan keluarga. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan lancar, meriah dan khidmat.  Seusai perayaan Ekaristi di Gereja Katedral, dilanjutkan dengan acara ramah tamah yang sederhana dan berkesan di Aula keuskupan. Format perayaan kenangan syukur itu diinisiasi oleh Kuria KAMS, yang dikemas oleh P.Paulus Tongli, Pr.,Sekretaris. Perkenankan saya dari lubuk hati yang tulus mau mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup, Kuria, Semua rekan Imam, Perwakilan Paroki, Komunitas Religius, Kom.’Anging Mammiri’, Kom.’Magnificat’, Kom.Kasih Anak Pangamaseang, Umat, Donatur,Handai-taulan dan Keluarga. The last but not least, terima kasih kepada sahabat P.Fredy Rantetaruk,Pr dengan Staf PSE, dan Saudara Hendrik Panggalo dengan Percetakan Alinea Baru telah menginisiasi, menghubungi sahabat penulis, memberi desain yang bagus sebuah buku ‘Ad Omnia Semper Paratus’: Kenangan Syukur 40 Thn Imamat P.Frans Arring, Pr.yang terbit tepat waktu.
  Refleksi tentang panggilan menjadi Imam. Bagi saya, proses menjadi Imam berlangsung melalui banyak peristiwa iman yang bersentuhan dengan lingkungan sosial dan alam. Pengalaman akan peristiwa iman itu tidak selalu dimengerti. Penuh misteri. Banyak sumber dan metode dicari dan dipakai untuk pencerahan dan peneguhan. Refleksi biblis, teologis, dogmatis, dll. Kata kunci bagi saya, ’siap sedia’. Siap diutus untuk ‘melayani’. Kemana saya diutus, pasti akan bertemu banyak orang dan mengalami  lingkungan alam dengan segala keindahannya. Hidup imamat saya semakin diperkaya dan dimaknai oleh semangat dan nuansa hidup umat-masyarakat setempat. Proses adaptasi, ’menjadi gembala berbau domba’? Medan pelayanan yang berat? Sarana transportasi sulit? Medsos tidak terjangkau? Refleksi menjadi Pastor yang baik tidak pernah berhenti mencari, mencari terus! Pengutusan ke karya pelayanan parokial, kategorial dan wadah fungsional saya rela menerima dan siap melaksanakan. Mengapa? Saya yakin bahwa saya tidak sendirian, saya bisa tinggal bersama dan bekerja sama. Mungkin saja pemahaman teologi partisipatif semakin diumatkan.
  Akhirulkalam, saya mohon dengan rendah hati dan penuh harapan kepada Anda semua kiranya berkenan tetap mendoakan hambaNya yang rapuh, kawanan lansia. Tuhan memberkati! ***

Selasa, 05 Januari 2016

Sepenggal Kenangan dari Wisma Vianney

Betapa bahagianya kami berada di tempat ini”
(bdk. Mat 17:14; Mrk 9:5; Luk 9:33)

Bahagia. Tak ada kata yang mampu mengungkapkan isi hati ini selain dari kata itu. Kata inilah yang mampu mengisahkan sejarah hidupku ketika menjalani hidup sebagai seorang TOR-er di Seminari TOR St. Yohanes Maria Vianney, Sangalla’. Di sanalah aku dapat merasakan keheningan yang menghadirkan suasana romantis yang membawa kedamaian. Ingin rasanya hati ini kembali mengalami masa-masa itu. 
Di saat tugas-tugas kuliah menumpuk, kenangan masa-masa di tahun Orientasi Rohani kembali hadir. Tak ada tugas mendesak yang harus dikerjakan hingga larut malam. Juga tidak perlu pusing memikirkan nilai A, B, C, atau D. Hidup sebagian besar digunakan untuk pengolahan rohani. Kami lebih banyak belajar dari alam, seperti misalnya bekerja di sawah, kebun, kandang babi, dapur, dll. Itu semua direfleksikan setiap hari dalam bentuk tulisan.
Mengisahkan pengalaman di Seminari TOR adalah topik yang paling menarik di Seminarium Anging Mammiri. Rona wajah berseri-seri selalu menghiasi setiap kisah yang terucap. Pengalaman setahun itu terasa sangat berharga. Masing-masing punya pengalaman unik dan menarik untuk disimak.

Demi “Esok” yang Cerah
Berada jauh dari keramaian apalagi yang namanya ‘kota”. Inilah rumah kami, Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR)–KAMS.  Di sinilah kami sebagai rekan sepanggilan menapaki jejak-jejak hidup panggilan sebagai seorang calon imam. Rumah ini menjadi rumah yang istimewa.
Di sini tak ada supermarket, yang ada hanya kios-kios kecil; tak ada ‘mall’ yang ada hanya pasar tradisional; tak ada kolam renang, yang ada hanya kolam lele dan sebuah ‘empang’. Semuanya itu kami syukuri. Satu hal yang paling kami banggakan ialah lapangan hijau di depan rumah kami ini yang menguning pada saat-saat tertentu, tempat di mana kami bekerja dan memperoleh penghidupan. Inilah suasana alam rumah kami. Aku sering menyebut tempat ini sebagai “wisma surgawi”.
Walaupun tersembunyi di balik rimbunnya rumpun bambu, seminari ini tetap mampu merona di dalam kegelapan dunia. Kehadiran para pemuda yang silih berganti setiap tahun membawa warna yang khas sekaligus bukti bahwa tempat ini memiliki daya pikat tersendiri. Mereka adalah para “frater TOR”.  Sungguh, tempat ini adalah tempat yang tersembunyi namun tak terlupakan!
Semilir angin yang menyejukkan adalah kesan awalku setiap hari. Letaknya yang berada di dataran tinggi membuat udara di pagi hari terasa sangat sejuk bahkan kadang terlalu sejuk sehingga menusuk pori-pori. Bel yang berdering pada pukul 04.45 waktu setempat membangunkanku dari tidur yang lelap.  Kadang-kadang mimpi yang indah harus terpotong sebelum mencapai ‘ending’. Dalam suasana pagi yang gemerlap, kami para TOR-er tak terkecuali para staf pembimbing harus bangun untuk memulai hidup yang baru di awal hari yang baru. Pekerjaan sudah menanti. Kami semua harus mengerjakan tanggung-jawab masing-masing: menyiapkan makanan untuk ternak-ternak, membersihkan sekitar kompleks, mengepel, memasak di dapur, mempersiapkan misa pagi, dll. Kadang-kadang setiap pekerjaan harus dikerjakan dalam keadaan setengah sadar karena masih mengantuk.
  Kami bersyukur karena bisa menikmati semuanya itu dan mampu menghayati nilai dari setiap pekerjaan yang dilaksanakan. Ini semua berkat bimbingan dari para Romo Pembimbing yang selalu menekankan nilai-nilai dari setiap pekerjaan. Cara ini pun adalah salah-satu bentuk formasi yang sungguh melatih kedisiplinan dan daya tahan.
Pola kerja yang demikian membuat saya merasa tertantang untuk berbuat yang lebih. Melalui pekerjaan seperti ini secara tidak langsung kami diajak untuk menunjukkan rasa solidaritas terhadap saudara-saudara di luar sana yang hidup menderita. Dalam hal ini pun kami terbina untuk memiliki daya juang yang tinggi; tidak mudah menyerah pada tantangan. Terik matahari, lumpur, lintah, dll., tidak menjadi alasan untuk berhenti. Ini semua demi masa depan kami, masa depan Gereja. Gereja membutuhkan imam-imam yang memiliki rasa solidaritas dan daya juang yang tinggi. Pembinaan seperti ini adalah bekal untuk hari esok karena yang ditanam hari ini adalah yang akan dituai esok.
Selamat merayakan pesta perak bagi Seminari St. Yohanes Maria Vianney, Sangalla’-KAMS. Semoga semangat St. Yohanes Maria Vianney senantiasa menjadi spiritualitas yang akan mengarahkan setiap calon imam dari KAMS menjadi imam-imam yang memiliki “nilai plus”.  *** Penulis: Michael Reskiantio Pabubung, Mahasiswa Fakultas Filsafat-Teologi, Universitas Sanata Dharma

Rabu, 09 September 2015

PENGALAMAN BERHARGA DI TAHUN RETORIKA

Tahun 2015 merupakan babak baru dalam proses pendidikan calon imam di Keuskupan Agung Makassar. Setelah melalui diskusi dan proses reflektif, Gereja Lokal KAMS mengambil keputusan untuk membentuk sebuah program baru yang disebut sebagai tahun  retorika sebagai pengganti Kelas Persiapan Bawah (KPB) yang telah dihilangkan selama beberapa tahun.

             Program ini ditempatkan setelah masa tiga tahun  pendidikan di level seminari menengah. Program ini akan berlangsung selama satu tahun . Setelah menyelesaikan program ini, calon imam yang bersangkutan akan melanjutkan jenjang pendidikannya ke Tahun  Orientasi Rohani.  Sebagai bagian integral dari tahap awal pendidikan calon imam, tahun  retorika berkedudukan di Seminari Menengah Santo Petrus Claver. Hanya saja tahun  retorika sudah ditempatkan di unit khusus dan mendapat pendampingan yang lebih intensif khususnya dalam bidang akademik dan pengembangan motivasi panggilan para calon imam.

Tercatat ada 13 orang calon imam yang tahun  ini menjadi bagian dari angkatan pertama dari tahun  retorika, yaitu Cristoporus Sale (Messawa), Evangelinus Trimono (Mamasa), Laurensius Massora (Pomalaa), Paulus Tamar (Lamasi), Marselinus Dhewandari (Labasa-Muna), Alfian Mela Maran (Mamuju), Charles Thomana (Makale), Ayub Rante Batusalu (Balabatu-Sangalla’),  Florian Indra Kusuma Irawan (Makale), Joni Naro (Tobadak-Mamuju), Harby Antonius Beny (Rantepao),  Dwiyandri Efrianto (Sangalla’), George Wira Marselino (Kendari). Secara resmi, tahun  retorika dibuka oleh Bapak Uskup Agung KAMS, Mgr John Liku-Ada’ pada tanggal 5 Agustus 2015. Pada saat misa pembukaan tahun  retorika, Bapak Uskup menyebut para calon ini sebagai retorikan. Tentunya banyak pertanyaan yang muncul mengenai tahun  retorik. Demi membantu para pembaca menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar program ini, salah satu retorikan menuliskan sharing pribadinya mengenai apa yang dialaminya selama sebulan terakhir menjadi bagian dari tahun  retorika.

Apa itu retorika dan apa itu tahun  retorika?
Pernahkah Anda mendengar kata “retorika”? Apa sih “retorika” itu? Apakah nama sebuah perusahaan? Atau nama orang? Atau sejenis merek mobil? Atau bahkan sejenis makanan? Mungkin Anda sangat jarang bahkan mungkin belum pernah mendengarnya sama sekali. Tetapi menurut saya kini merupakan saat yang paling baik untuk menambah satu lagi perbendaharaan sekaligus memberi makna atas kata tersebut. Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli berkaitan dengan “Retorika”, yaitu:
» Menurut kaum Sophis (Demosthenes dan  Isocrates), retorika bukan hanya ilmu berpidato, tetapi juga meliputi pengetahuan sastra, gramatika, dan logika.
» Menurut Plato, retorika merupakan seni bertutur untuk memaparkan kebenaran kepada para pendengar (masyarakat).
» Menurut Aristoteles, retorika adalah gabungan ilmu dan seni yang mengajarkan kepada orang untuk terampil menyusun dan menyajikan tuturan lisan kepada publik secara efektif dan bertujuan mempersuasi publik.

Berdasarkan tiga pendapat tersebut dapat kita simpulkan bahwa “retorika” adalah kemampuan berbicara seseorang yang disampaikan kepada publik yang di dalamnya mengandung seni dan pengetahuan. Dengan demikian, jelaslah bahwa retorika merupakan kemampuan yang memiliki peranan penting dalam masyarakat terutama untuk menyampaikan informasi di depan umum.

 Apa tujuan dari didirikannya Tahun Retorika itu?
Secara umum tahun  retorika merupakan sebuah tenggang waktu tertentu atau masa yang digunakan untuk membantu seorang calon imam meningkatkan kemampuan mereka untuk tidak hanya cakap tampil di depan umum tetapi juga mampu merumuskan pemahaman mereka secara komprehensif. Kemampuan ini hanya mungkin dicapai bila sang calon memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan keterampilan berbahasa yang memadai, khususnya kecakapan berbahasa Indonesia dan Inggris. Secara khusus, masa ini juga digunakan untuk mengasah kemampuan intelektual calon imam. Setelah melalui masa ini seorang calon imam diharapkan untuk siap memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi di level perguruan tinggi.

Apa yang terjadi di Tahun Retorika?
Kegiatan belajar dan berefleksi merupakan ‘makanan’ pokok yang ‘disajikan’ di Tahun  retorika. Ada beberapa mata pelajaran yang diajarkan, seperti: Tata Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris (Reading, Writing, Conversation), Public Speaking, Penghayatan Kitab Suci, Informasi dan Teknologi (IT), Menulis Ilmiah, Persiapan Belajar di Perguruan Tinggi, dan Isu-isu aktual yang didiskusikan dalam bahasa Inggris. Hampir setiap hari kami disuguhi dengan mata pelajaran-mata pelajaran tersebut yang kadang-kadang membuat kami kewalahan. Tetapi, kami juga menyadari bahwa kesulitan yang kami hadapi sekarang akan terbayar dengan perkembangan terhadap kemampuan kami khususnya dalam hal menulis dan berbicara, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris.

Apa yang kami alami selama berada di Tahun Retorika?
Ada peribahasa dalam bahasa Inggris yang berbunyi “Experience is the best teacher” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Guru yang paling baik adalah pengalaman”. Apa maksud dari peribahasa itu? Pengalaman merupakan kejadian yang pernah terjadi dan kita alami di masa lampau. Pengalaman-pengalaman itu menjadi hal yang begitu penting dalam hidup kita, sebab lewat pengalaman kita bisa melihat kembali hal-hal yang pernah terjadi pada kita di masa lampau. Pengalaman itu ibarat kaca spion pada sebuah kendaraan. Meskipun ukurannya kecil, namun kaca spion ini amat penting bagi setiap pengendara yang mengendarai sebuah kendaraan. Dengan adanya kaca spion, maka pengendara dapat melihat ke arah belakang apakah ada kendaraan lain atau sesuatu yang terjadi di belakang kendaraan mereka. Selain itu dengan adanya kaca spion pengendara dapat lebih fokus melihat ke arah depan dan tidak perlu membalikkan badan ke belakang, sehingga tidak menyebabkan kecelakaan yang dapat merugikan diri pengendara dan orang lain. Begitu pun dengan pengalaman. Ia adalah bagian kecil dalam hidup kita, tetapi memiliki peranan yang begitu penting. Pengalaman-pengalaman yang kita miliki dapat membantu kita untuk mencapai tujuan hidup kita dan menghindari ‘kecelakaan’ yang merugikan kita ataupun orang lain. Dengan belajar dari pengalaman, kita dapat semakin dewasa dan mampu menjalani kehidupan kita dengan baik.

Pengalaman itu datang dan pasti terjadi di manapun dan kapanpun. Begitu pun yang kami alami di tahun  retorika. Ada banyak hal menarik yang kami alami, mulai dari pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang menyedihkan. Pengalaman-pengalaman itu menjadi pelengkap bagi hidup kami. Bahkan dapat dikatakan tanpa pengalaman-pengalaman yang kami alami, kami tidak akan menikmati kehidupan kami di Tahun  Retorika. Pengalaman itulah yang memberikan rasa dan suasana yang berbeda serta menjadi motivasi bagi kami untuk menjalani kehidupan kami di tahun  retorika. Ada beberapa pengalaman unik dan menarik yang kami alami selama berada di tahun  retorika, yaitu:

1. Ketika kami diperkenalkan kepada umat.
Ketika mengikuti misa pentahbisan imam di Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi, ketika mengikuti misa bahasa Inggris di Gereja Katolik di paroki Katedral, dan ketika kami mengikuti doa rukun, kami diperkenalkan langsung kepada umat yang hadir saat itu. Betapa bahagianya kami saat itu yang diperkenalkan kepada puluhan bahkan ratusan umat yang hadir dan mereka memberikan tepuk tangan kepada kami. Perasaan kami pun campur aduk saat itu. Ada perasaan senang, gembira, bangga, dan canggung. Sungguh suatu pengalaman yang tidak akan kami lupakan dalam menjalani kehidupan kami di Tahun  Retorika ini.

2. Ketika belajar bersama.
Sekali lagi belajar adalah ‘makanan’ pokok kami di tahun retorika. Akan tetapi, setiap mata pelajaran memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Dan kemampuan kami pun berbeda satu sama lain. Kerja sama dan saling membantu sesama teman merupakan hal yang selalu kami lakukan ketika teman kami menghadapi masalah dalam belajarnya. Dengan membantu teman yang lain, kami juga bisa merasakan kesulitan yang mereka hadapi dan akhirnya kami pun bisa tertawa bersama dan merasa lega saat kami telah menyelesaikan tugas tersebut.

3. Ketika masak bersama.
 Kegiatan masak-memasak lebih identik dengan kaum wanita. Tetapi di Tahun  Retorika ini, kami para pria juga bisa memasak. Kalian bisa bayangkan ada 14 orang laki-laki yang bekerja di dapur, baik untuk menyiapkan bumbu, memasak nasi, atau memasak lauk. Betapa ramainya dapur saat itu. Tetapi, itu adalah salah satu pengalaman unik yang kami alami. Kami bisa berbagi resep masakan ataupun belajar bagaimana caranya memasak.

4. Ketika kerja bakti.
Kerja bakti adalah kegiatan yang rutin kami lakukan. Hal ini bertujuan menjaga kebersihan tempat tinggal kami. Inilah hal yang unik, kami bekerja bersama-sama dan saling membantu satu sama lain. Jika ada pekerjaan yang belum selesai, maka kami akan berinisiatif untuk menyelesaikannya baik sendirian ataupun bersama-sama. Lewat kegiatan tersebut kami dapat membuang jauh-jauh sikap egois dan mengedepankan sikap solidaritas. Sebab, bersatu kami teguh bercerai kami runtuh.

.5. Ketika membawakan refleksi atau kotbah dalam misa harian.
Ini adalah salah satu pengalaman unik dan menarik bagi kami. Kami menyampaikan hasil permenungan kami kepada teman-teman dan pastor saat misa harian, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kami benar-benar dilatih untuk mampu menulis dan berbicara di depan banyak orang. Lewat pengalaman tersebut kami dilatih untuk menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri.

Demikianlah beberapa pengalaman menarik yang kami rasakan dan alami selama menjalani kehidupan di Tahun  retorika ini. Selain itu, kami juga belajar untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam segala hal serta perfeksionis atau secara total  dalam melakukan segala sesuatu. Ada juga perasaan-perasaan yang muncul selama menjalani kehidupan di Tahun  Retorika ini, yaitu: rasa sedih, stres, kesepian, bahagia, gembira, dan nyaman. Semuanya itu bercampur menjadi satu.

Sebuah Harapan
Dalam menjalani kehidupan pasti ada harapan yang muncul. Begitu pun juga dengan kami. Kami memiliki harapan-harapan selama atau setelah berada di tahun retorika ini. Kami berharap semoga kami dapat menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri ketika berbicara di depan umum karena kami bisa menyampaikannya secara komprehensif, kami juga berharap tidak menjadi pribadi-pribadi yang hanya bisa menggunakan bahasa SMS saat berkomunikasi lisan ataupun tulisan atau saat menulis surat atau makalah, dan kami bisa bersaing di perguruan tinggi nantinya berkat kemampuan intelektual dan keterampilan berbahasa yang memadai. Harapan-harapan sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam bagi kami, sebab jika harapan-harapan tersebut tercapai, itu berarti kami telah sukses menjalani hidup kami. *** (Penulis: Paulus Tamar)