Tampilkan postingan dengan label YMY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YMY. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2015

PERAYAAN KAUL KEKAL SUSTER-SUSTER JMJ DI GEREJA ST. YAKOBUS MARISO

“Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi  Engkau”

Societas Jesus Maria Joseph (JMJ) yang didirikan oleh Pater Mathias Wolff, SJ pada tanggal 29 Juli 1822 di Amersfoort, Belanda, menjadi moment penting sekaligus langkah awal Suster-Suster Jesus Maria Joseph (JMJ) memulai hidup religiusnya dan kerasulannya dalam membangun dan mengembangkan Kerajaan Allah di tengah-tengah Gereja dan dunia-Nya. Karena itu Societas yang didirikannya dibekali dengan ciri khas: “kesiapsediaan apostolis, yang selalu menyesuaikan diri, tidak lebih dan kurang dari itu. (Konstitusi art.3). Itulah Kharisma dan Spiritualitas Suster-Suster Societas JMJ.Kehidupan religius merupakan kharisma di dalam gereja. Setiap kongregasi religius memiliki kharismanya sendiri yang khas. Kharisma ini ditanamkamkan sejak awal masa pembinaan dan selanjutnya disegarkan dan direfleksikan terus menerus oleh semua anggotanya dari jaman ke jaman. Untuk menjadi anggota penuh dalam kongregasi JMJ, terlebih dahulu harus menempuh tahap-tahap pembinaan yang di mulai dari masa aspiran  (1 tahun), postulat (1 tahun), novisist (2 tahun) dan yunior (6 tahun). Segala usaha pembinaan yang diberikan bertujuan untuk membina para calon menjadi seorang religius JMJ yang sejati yang dapat memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan dan sesama.

Dalam tradisi Societas JMJ, 29 Juli ditetapkan sebagai hari berdirinya Societas dan sekaligus ditetapkan juga sebagai hari untuk setiap suster mengikrarkan kaul-kaulnya. Berkenaan dengan itu,  keempat suster yunior Sr Mariana Mbasal, Sr Maria Goncalves, Sr Giasinta Wengkang, Sr Maria Magdalena Kobun,bermohon untuk menjadi anggota penuh dalam Societas JMJ, kepada Pimpinan Umum di Belanda. Setelah permohonan di terima, maka  para suster  diberi waktu dan persiapan selama kira-kira 70 hari ditutup dengan retret agung. Mereka mendapat pembinaan yang intensif untuk kembali berefleksi, berevaluasi dan berdiskresi secara pribadi dan kelompok akan motivasi awal perjalanan panggilannya sebagai religius JMJ yang diwujudnyatakan dalam hidup doa, hidup bersama di komunitas, karya kerasulan dan kehadiran serta keterlibatannyadi dalam gereja dan masyarakat.

Untuk itu Dewan Pimpinan Provinsi Makassar telah menetapkan waktu dan tempat perayaan bersama panitia perayaan kaul kekal yaitu 29 Juli 2015 di paroki St Yakobus – Mariso. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Makassar Mgr John Liku Ada’ didampingi VIKJEN KAMS Pastor Stefanus Tarigan CICM, Pastor Leo Paliling, Pr selaku pastor paroki Mariso dan sejumlah pastor yang turut menjadi konselebran. Juga dihadiri oleh umat, orang tua dan keluarga serta paduan suara Magnificat, yang turut mendoakan dan memberi dukungan akan panggilan suci nan mulia bagi keempat yubilaris. Suasana perayaan ekaristi yang sakral menghantar keempat suster yunior dengan berani dan berkomitmen menyatakan kesungguhan untuk mengikuti Kristus yang telah memikat mereka dengan mengikrarkan janji setia lewat ke tiga kaul yaitu KETAATAN, KEMURNIAN dan KEMISKINAN dalam Societas Jesus Maria Joseph, yang hendak mereka wujudkan dalam hidup bersama, gereja dan masyarakat. Tidak kalah penting bahwa aula Seminari Santo Petrus Claver adalah tempat yang bagus yang turut mendukung acara ramah tamah, sehingga para tamu undangan boleh menyatakan kebersamaanya dalam santap siang dan berbagi kegembiraan dalam suasana kekeluargaan.

Kaul adalah janji sukarela kepada Allah untuk melakukan suatu tindakan yang lebih sempurna. Kaul lahir dari pertimbangan kematangan kemampuan untuk dapat menerima segala konsekuensi moral, legal dan religius atas janji yang dengan sadar dibuat dihadapan Allah dalam diri seorang religius JMJ. Menjadi seorang JMJ di zaman post modern yang menekankan nilai-nilai kebebasan saat ini, tentunya telah disadari bukan merupakan hal mudah. .Hidup religius adalah anugerah kasih yang indah dari Allah sekaligus persembahan pujian syukur sederhana dari manusia. Hidup tak pernah memberikan perasaan aman, terjamin dan tenteram. Karenanya, mereka tak dapat menemukan kasih, keindahan dan kesyukuran hidup dan dirinya di tengah  kenyataan hidup yang perlu selalu diolah dan dikembangkannya. Menghadapi hidup dengan segala tuntutan, tawaran dan tantangannya orang (seorang religius) perlu menjadi tahan uji. Tahan uji bukan sesuatu yang tiba-tiba turun dari langit, dan orang tinggal menerimanya. Untuk menjadi tahan uji, orang perlu melatih diri.

Dalam refleksi ke empat Suster yang berani mengambil keputusan dan mengatakan “YA” atas panggilan Tuhan, mengambil motto:
“Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi  Engkau”.. Kami menyadari bahwa perjalanan hidup panggilan  sama seperti Petrus. Dua jawaban Petrus dalam situasi yg berbeda:
Pertama: jawaban Petrus dari hati yang penuh semangat pada perjumpaan yang pertama dengan Yesus.
Kedua: jawaban Petrus yang telah mengalami hidup bersama Yesus. Petrus yang telah mengalami kekecewaan, kekeliruan, kesalahan, menghianati guru-Nya.
Petrus yang telah mengalami itu semua, untuk kedua kalinya berani menjawab ajakan Yesus “Ikutilah Aku”.Jawaban YA Petrus kali ini berbeda dengan YA sebelumnya. Kini ia telah mengalami pembinaan bersama guru-Nya.

 “YA” yang kami ucapkan keluar dari pengalaman yang telah dibentuk oleh Yesus yaitu Yesus-lah yang menjadi CINTA SEJATI,  kekuatan dalam menghayati panggilan  hidup kami. Seperti Petrus, setelah mengalami sukacita Paskah, penampakan Tuhan, mengikrakan kaul kekalnya saat ditanya Yesus sampai tiga kali: “Apakah Engkau mengasihi Aku”? Jawaban YA Petrus: “TUHAN, ENGKAU TAHU SEGALA SESUATU, ENGKAU TAHU BAHWA AKU MENGASIHI ENGKAU”. Kemudian Petrus bangkit dengan penuh semangat dan sukacita mewartakan “Sang Kabar Sukacita”, mewartakan Dia yang dicintainya kepada orang banyak”. Ia Petrus yang baru. Kami pun dengan Rahmat Tuhan yang bangkit jaya, mewartakan Sang Kabar Sukacita, mewartakan Dia yang kami kasihi dan yang mengasihi kami, sehingga orang yang kami layani mendapatkan cinta dan sukacita Kristus. Menjadi saksi “Betapa Indah panggilan-Mu Tuhan”.

Kami bersyukur bahwa tahun ini, Bapa Suci Paus Fransiskus secara khusus mencanangkan Tahun Hidup Bakti. Beliau mengajak kita untuk mengenang masa lalu penuh syukur, menjalani hari ini dengan penuh semangat dan merangkul masa depan dengan penuh harapan. Gereja semesta saat ini memusatkan seluruh doa-doanya untuk biarawan/ti. Harapan Bapa Suci adalah agar biarawan/ti bangkit menggoncang dunia, dengan sukacita bagaikan fajar yang merekah.

Kami menjawab YA, dengan pengikraran kaul kekal dalam Soc. JMJ. Suatu rahmat yang sangat luar biasa besarnya.Kami yakin dan percaya Gereja semesta mendukung dan mendoakan keputusan kami pada hari ini. Kami berempat masih mengharapkan dukungan doa dari yang mulia bapak Uskup, para pastor, suster, frater, orang tua, saudara/i sekalian serta umat yang kami cintai. Untuk itu dengan penuh kerendahan hati dan tulus kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya dan mengucapkan limpah terima kasih yang sedalam-dalamnya.***

Selasa, 20 Januari 2015

Pesta Emas, Perayaan 40 Tahun dan Pesta Perak Hidup Membiara Suster JMJ


Harta ini kami punya dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor.4:7)

Bersyukur, merupakan ungkapan yang pantas dan layak dinyatakan oleh keluarga besar Societas JMJ Propinsi Makassar. Betapa tidak dua suster kami: Sr. Ines Sie. JMJ dan Sr. Antoinette Rappa, JMJ merayakan pesta emas 50 tahun hidup membiara, satu suster merayakan 40 tahun hidup membiara yakni Sr. Salvina Rantepadang, JMJ, serta  empat kompatriot mereka merayakan  pesta perak 25 tahun hidup membiara yakni Sr. Anna Mathilda, JMJ. Sr. Clara Parengkuan, JMJ. Sr. Kristina Sampe, JMJ. Dan Sr. Yualinda Bauntal, JMJ. Dengan bersyukur mau menunjukkan kesadaran keluarga besar Societas JMJ Propinsi Makassar akan kerapuhan mereka di hadapan Allah, sehingga dalam menjalani hidup panggilan dan pelayanan mereka hanya mengandalkan kemurahan hati Allah semata-mata. Sehingga pada Selasa, 16 September 2014, keluarga besar Societas JMJ Propinsi Makassar tampak bergembira dan bahagia dalam misa syukur di Kapel Biara St. Familia Rajawali Makassar yang dipersembahkan oleh Yang Mulia Uskup Agung Keuskuapan Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada’ Pr. Dan dilanjutkan dengan ramah tamah di aula terbuka SD Hati Kudus Makassar. Bapa Uskup, para pastor, frater, suster dan tamu undangan tampak larut dalam kegembiraan itu.
Bapa Uskup dalam khotbahnya mengatakan:  “Pemberian diri  sepenuhnya dalam pelayanan  yang tulus kepada dunia oleh suster-suster JMJ bersemangatkan  kharisma pendiri Societas  JMJ, Pater Mathias Wolf SJ, yakni Kesiapsediaan Apostolis dalam dunia modern dewasa ini, bagi kebanyakan orang terasa aneh dan lucu bahkan bukan zamannya lagi, tetapi justru inilah yang dikehendaki oleh Allah, agar lewat kehadiran para suster JMJ dapat menjadi tanda adanya cinta yang  tulus dari sang Pencipta kepada dunia”.  Lebih jauh lagi Bapa Uskup mengatakan pesta yang dirayakan oleh Societas JMJ ini, bukan hanya dirayakan oleh Societas JMJ saja, tetapi oleh Gereja Universal dan secara istimewa Gereja lokal Keuskupan Agung Makassar, bahkan beliau pribadi selaku uskup dan para pastor.  Mengapa tidak? Di samping Societas JMJ Propinsi Makassar telah turut melayani umat di Keuskupan Agung Makassar baik dalam karya pendidikan, karya kesehatan dan karya sosial, dimana para Yubilaris telah terlibat di dalamnya, juga ada dua Yubilaris yang saat ini merayakan pesta emas 50 tahun hidup membiara yakni Sr. Ines Sie, JMJ baru saja pensiun dari tugas pengurus rumah tangga  keuskupan dan digantikan oleh Sr. Antoinette Rappang JMJ yang saat ini menjadi pengurus rumah tangga keuskupan, tanpa mereka berdua apa yang bisa kami makan setiap hari? Itulah alasannya mengapa Gereja lokal Keuskupan Agung Makassar berpesta dan bersyukur saat ini.

Revolusi Mental
Menjadikan Societas JMJ sebagai sebagai wahana hidup, karya dan bakti, itu berarti menjadikan Keluarga Kudus Nazareth sebagai spiritualitas yang harus digumuli dan diejawantakan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam komunitas maupun dalam karya pelayanan dimana saja para suster JMJ berada, demikian kata Sr. Fabiola JMJ selaku Dewan Pimpinan Umum Societas JMJ dalam sambutannya. Lebih jauh lagi beliau katakan bahwa sudah saatnya setiap  suster JMJ untuk berubah. Sebab dunia dewasa ini mengalami perubahan yang sangat cepat, drastis dan dramatis, dampak dari kemajuan IPTEK  dan arus informasi yang tak terbendung lagi; sehingga pelbagai ideologi, paham dan isme negatif mulai merongrong “keutuhan ciptaan” dan membawa dunia pada situasi Chaos, tidak menentu dan tidak pasti. Hal itu menuntut setiap suster JMJ untuk mengubah mental. Kita tidak boleh “cengeng” , lembek apa lagi merasa diri karena wanita, maka kita merasa lemah dan harus diperlakukan istimewa, bukan zamannya lagi. Kita harus tampil bagaikan “Serigala yang mengerkah”, hidup membumi dan mentransformasikan diri pada dunia ini karena dunia yang tidak pasti ini merupakan ladang  kita untuk mengejawantakan karisma Societas “Kesiapsediaan Apostolis” sehingga kita dapat menaklukkan dunia ini dalam rangkulan kasih Allah.
Proficiat untuk ketujuh Suster yang merayakan 50, 40 dan 25 tahun hidup membiara! Segenap keluarga besar Societas JMJ provinsi Jakarta, Manado dan Makassar juga tak lupa dari nun jauh di seberang sana dari negeri tulip Belanda Superior General Societas JMJ mengucapkan selamat berpesta.
Terima kasih atas pemberian diri kalian, cinta, bakti dan pelayanan yang telah ditaburkan.  *** Penulis: Sr. Leonie Taroreh JMJ

Senin, 18 Maret 2013

SADWINDU, 60 TAHUN HIDUP MEMBIARA



Keluarga besar Societas JMJ Provinsi Makassar pada hari Minggu, 20 Januari 2013, tampak bergembira dan bahagia. Karena dua kompatriot mereka Sr. Mariette Tumion JMJ dan Sr. Christina Salibal JMJ merayakan Sadwindu, 60 tahun hidup membiara. Bertempat di Kapel Biara St. Familia Rajawali Makassar, diadakan misa syukur yang dipersembahkan oleh Pastor Gilbert Keirsbilck CICM sebagai selebran utama dan Pastor Leo Paliling Pr. sebagai konselebran dan dilanjutkan dengan ramah tamah di Biara St. Familia Rajawali Makassar. Yang mulia Bapa Uskup, Keuskupan Agung Makassar, tampak larut dalam kegembiraan bersama dangan para imam, Frater, suster, keluarga dan tamu undangan, tumpah ruah di Rajawali untuk menyaksikan peristiwa langka tersebut, seraya mengucapkan selamat dan doa bagi kedua suster tersebut.

Profil
Sr. Christina S. JMJ dan Sr. Mariette T. JMJ, dua sosok yang diibaratkan pepatah yang mengatakan asam di gunung dan garam di laut bertemu di Societas JMJ. Itu karena mereka menampilkan dua karakter yang bertolak belakang. Sr. Mariette JMJ, yang lincah, energik, ceplas-ceplos bicaranya, dan berkarya dalam dunia pendidikan, serta mencintai orang kecil. Dibarengi oleh Sr. Christina JMJ yang kalem, sederhana, lemah lembut dan pendiam, dan berkarya dalam dunia kesehatan sehingga keduanya klop. Sr. Mariette T. JMJ terlahir dari Kel. Bapak Albert Yacobus Toemion dan ibu Monica Ratu, dengan nama panggilan Agnes, pada tanggal 31 Desember 1935 dan mengikrarkan kaulnya pada 20 Januari 1953. Sedangkan Sr. Christina S. JMJ terlahir dari Kel. Bapak Sampe Saliban dan ibu Kadang, dengan nama panggilan Martina, pada tanggal 24 Desember 1923 dan mengikrarkan kaulnya pada tanggal 20 Januari 1953.

Serigala kecil yang Mengerkah 
Di mata para suster Societas JMJ, Sr. Mariette T.  JMJ dan Sr. Christina S. JMJ, merupakan petualang cinta yang tangguh. Wow, jangan salah tafsir ya. Mereka sungguh petualang cinta Kristus sejati yang sungguh-sungguh menghayati dan mendalami kharisma pendiri societas JMJ yakni P. Mathias Wolf SJ, “Kesiapsediaan apostolik”. Itu yang membuat kedua suster ini tidak pernah betah dan kerasan di satu tempat, ingin selalu berpetualang. Sehingga kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja Tuhan kehendaki, melalui societas mereka harus pergi, maka hanya ada satu kata yang terbersit dalam pikiran dan ucapan mereka: “Siap”. Inilah bentara JMJ sejati. Dan bagaikan serigala yang mengerkah, mereka mengaumkan cinta yang dibarengi dengan pelayanan penuh suka cita,  bagi siapa saja yang haus dan rindu akan belaian kasih Kristus.

Inilah Aku, Utuslah Aku
Suatu ungkapan sederhana, namun kaya makna, bagi para biarawan-biarawati, secara khusus para suster Societas JMJ, teristimewa bagi Sr. Mariette T. JMJ dan Sr. Christina S. JMJ yang menghayati kharisma Pater Mathias Wolf SJ, pendirinya, yakni “kesiapsediaan Apostolik”. Selama 60 tahun penyerahan diri mereka dengan hati yang tak terbagi kepada Kristus lewat Societas JMJ telah merambah belantara nusantara, sedangkan Sr. Kristina JMJ telah membentangkan layar mengarungi lautan dan lorong-lorong kehidupan dunia sampai akhirnya keduanya berlabuh di Provinsial Makassar untuk menikmati hasil kerja keras mereka dengan perayaan sadwindu, 60 tahun hidup membiara dan menyelesaikan sisa tugas yang belum terselesaikan sampai dimana Tuhan kehendaki. Sr. Mariette T. JMJ mengatakan, “Seandainya roda kehidupan ini masih boleh diputar kembali, maka Aku ingin hidup seribu tahun lagi untuk dapat melayani Tuhan dan sesama, terutama mereka yang hina dina hingga kerajaan Allah sungguh terjadi di muka bumi ini.


Kaulku adalah kemuliaan Tuhan
  Pater Gilbert Keirsbilck CICM sebagai selebran utama pada misa syukur, dalam khotbahnya, yang diinspirasikan dari Injil Lukas 12:22-34, mengatakan bahwa dalam menghayati kaul hidup membiara, bagi serigala-serigala muda JMJ, kita mempunyai dua sosok teladan yakni Sr. Mariette T. JMJ dan Sr. Christina S. JMJ, dimana triprasetia: kemiskinan, ketaatan dan kemurnian yang diikrarkan 60 tahun lalu, bukan hanya sekedar kata-kata hampa dan mati, melainkan hidup dan dihidupi secara sederhana dalam diri mereka berdua. Mereka mampu bertahan menghadapi cobaan dan godaan hingga saat ini, karena mereka mempunyai pemahaman yang sangat sederhana namun jelas. Tentang kaul kemurnian, tidak hanya sekedar menjaga dan mempertahankan mati-matian keperawanannya, tetapi soal keterbukaan hati untuk menanggapi rencana dan kehendak Tuhan bagi hidup mereka, sehingga dapat melayani dan mencintai Tuhan dan sesama dengan hati yang tak terbagi. Mengenai kaul ketaatan, tidak hanya sekedar manut dan nurut saja pada apa yang dikehendaki societas dan pemimpin komunitas, melainkan keterbukaan telinga agar peka mendengarkan bisikan Tuhan lewat maksud dan kehendak societas mengutus mereka kemana saja, sehinga tetap enjoy dalam melayani tanpa bersungut-sungut. Sedangkan untuk kaul kemiskinan, bukan berarti tidak memiliki apa-apa, miskin, atau hina dina, melainkan keterbukaan tangan untuk dirangkul dan merangkul Tuhan dan sesama, sehingga ada begitu banyak jiwa yang “digendong” kembali kepada Kristus. Itulah penghayatan kaul dari kedua suster kita sehingga mereka bisa tegar bertahan dalam kesetiaan sampai merayakan sadwindu 60 tahun hidup membiara. Dan inilah yang harus kita teladani sebagai biarawan-biarawati,  terutama para kolega keluarga besar societas JMJ dari kedua suster sesepuh kita ini.
Proficiat Sr. Mariette T. JMJ dan Sr. Christina S. JMJ! Segenap keluarga besar Societas JMJ Provinsi Makassar, Manado, dan Jakarta, juga tak lupa dari nun jauh di seberang sana dari negeri kincir angin Belanda, Superior General Societas JMJ, mengucapkan selamat sadwindu, 60 tahun hidup membiara dan terima kasih atas pemberian diri kalian, suri teladan, cinta, dan pelayanan yang penuh suka cita yang telah kalian semaikan. Amboi suster, terus semangat!*** Penulis: Sr. Leonie Taroreh JMJ