Selasa, 20 Januari 2015

Umat Bertanya, Imam Menjawab


Pertanyaan: Pastor, akhir-akhir ini saya sering mendengar kata CU (Credit Union). Apa sebenarnya CU itu, apa hubungannya    dengan Gereja, dan apa manfaatnya bagi umat?

Jawaban: CU memang merupakan salah satu karya dari Komisi PSE Keuskupan Agung Makassar. Apa itu CU dan apa manfaatnya, silakan simak “sharing” dari Pastor Bartho Pararak berikut ini.

CU SAUAN SIBARRUNG
DI PAROKI SANGALLA’:
MEMBANGUN KESEJAHTERAAN BERSAMA
Keprihatinan atas krisis multidimensi dekade yang lalu rupanya turut mempengaruhi kondisi sosial ekonomi umat dan masyarakat. Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KAMS, pada waktu itu dengan cepat menangkap persoalan dan keprihatinan pastoral Gereja terkait persoalan ini. Salah satu wujud dari tanggapan Gereja adalah perhatian pada penguatan Lembaga  Keuangan Mikro (LKM).
Lewat penguatan LKM, Gereja juga dalam kerasulannya berupaya untuk menumbuhkan sikap kepedulian atau sikap belarasa kepada orang-orang kecil dan    miskin. Sebab, LKM adalah sarana bagi orang kecil yang saling percaya dan berusaha menyatukan tekad untuk saling membantu demi hidup yang lebih baik. Perwujudan dari kerjasama itu menjadi nyata dalam gerakan Credit Union yang telah dimulai sekitar 8 tahun yang lalu.  Pendirian CUSS tanggal 7 Desember 2006 di Paroki Makale menjadi titik pembangkit untuk menyatakan ajaran Injil tentang semangat warta kabar baik bagi orang miskin.
Bila  karya pengembangan sosial ekonomi direnungkan lebih dalam, maka gerakan  CU ini menjadi wujud nyata ajaran Injil. Seperti Sabda Yesus: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Selanjutnya dalam pengadilan terakhir  (Mat 25:31-46) cinta dan kepedulian kepada masyarakat kecil menjadi tolok ukur keputusan final tentang nilai hidup manusia. Sabda Yesus, “segala sesuatu yang kamu lakukan bagi saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukanNya untuk Aku” (Mat 25:40). Buah-buah dari karya kerasulan sosial ini semakin dirasakan oleh anggota CU Sauan Sibarrung (CU SS), tak terkeculi bagi anggota CU SS TP SANGALLA.
Data anggota pada bulan September 2014 di Sangalla adalah 2.130 orang      dengan aset Rp 18.623.716.133,- (delapan belas milyar enam ratus dua puluh tiga juta tujuh ratus enam belas ribu seratus tiga puluh tiga rupiah). Buah-buah dari gerakan CU sebagai “hembusan kabar gembira” dengan sangat baik dituliskan dan dikisahkan dalam buku HEMBUSAN KABAR GEMBIRA CU SS SEBAGAI GERAKAN PEMBERDAYAAN, khususnya bab IV (Kerjasama Komisi PSE KAMS dan CU SS, Pohon Cahaya, 2013, hal. 91-108). Di sini saya mau mengutip beberapa kesaksian dari anggota CU yang sungguh merasakan manfaat  CU SS ini:

a. “Semakin berkembang Bersama CU”: Sebuah kesaksian dari seorang ibu yang berusia 31 thn, anggota kelompok peternak babi. “Dulu kerjanya banyak, hasil sedikit. Sekarang, kerja sedikit, hasil   banyak”.
b. “Merajut asa lewat anyaman tikar. Sebuah kesaksian dari seorang ibu penganyam tikar Toraja yang berusia 63 thn. Ia mengatakan, “saya merasa kewalahan menerima pemesanan tikar, maka sebagian pemesanan saya berikan kepada tetangga.  Pengalaman inilah yang mendorong saya dan berapa tetangga untuk mendirikan kelompok penganyam tikar”.
c. “CU Penolong dalam Kesulitan”. Sebuah kesaksian dari seorang ibu yang berusia 68 thn. mengatakan “pertolongan CU pun saya rasakan ketika suami saya mengalami kecelakaan ketika ditabrak mobil hingga koma, dan harus menjalani perawatan secara intensif”.
d. “Pelatihan CU menumbuhkan harapan baru”. Sebuah kesaksian dari seorang bapak yang berusia 60 thn. Katanya, “CU melancarkan pendidikan anak-anak sekaligus membantu mengembangkan  peternakan babi”.
e. “Rumah impian jadi kenyataan”. Sebuah kesaksian dari seorang bapak yang berusia 49 thn. Ia mengatakan “Saya bangga menjadi anggota CU, karena saya telah memiliki rumah yang layak. Saya bisa punya rumah karena bantuan dari CU. Saya mengatakan kisah ini bukan untuk menyombongkan diri tetapi saya ingin orang-orang mengikuti jejak saya dan dapat mengembangkan hidupnya lewat CU”.

Maka benarlah apa yang dituliskan oleh Bapa Uskup Mgr. John Liku Ada’ dalam tulisan yang berjudul “FALSAFAH RELIGIUS SAUAN SIBARRUNG: KISAH MEMBANGUN KESEJAHTERAAN HIDUP BERSAMA SANG PENCIPTA” bahwa Kisah Sauan Sibarrung adalah kisah membangun kesejahteraan hidup bersama (hal. 43).
Oleh karena itu sekali lagi kita patut bersyukur bahwa CU ini hadir di Paroki   Sangalla’. Sudah sejak lama menjadi impian bahwa kesejahteraan umat harusnya menjadi fokus perhatian Gereja lokal. Keselamatan di dunia ini sebenarnya adalah cerminan keselamatan abadi. Dan keselamatan di dunia ini adalah “kesejahteraan” yang harusnya diusahakan secara bersama-sama. Jika si miskin tak dapat menolong dirinya sendiri, maka hendaknya ia bersama orang lain mengusahakannya, dalam semangat gotong-royong dan solidaritas.
Kita sudah menyaksikan bahwa kelompok-kelompok binaan CU semakin  banyak. Sudah banyak umat juga membentuk kelompok, di sekitar paroki dan beberapa wilayah sekitar. Mereka tergabung dalam kelompok peternak babi dan kelompok lainnya. Saling membantu dalam kelompok adalah wujud nyata kerjasama orang-orang kecil. Kesejahteraan tidak dapat hanya dicapai lewat kerja ‘sendiri’, tetapi lewat kebersamaan dan sepenanggungan, kesejahteraan dapat dicapai.
Oleh karena itu, saya sebagai Pastor Paroki Sangalla’ mengajak umat untuk turut serta dalam gerakan CU ini. Gereja bukan lagi ‘Sinterklas’ yang membagi-bagikan hadiah bagi umatnya, melainkan selalu memberi dorongan dan motivasi bagi umat untuk mengusahakan kesejahteraan bersama. Semoga visi pemberdayaan CU demi kesejahteraan semua anggota dapat terwujud. Semoga semakin banyak lagi orang merasakan manfaat CU untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Sebab “Kisah Sauan Sibarrung adalah kisah membangun kesejahteraan bersama”. ***  (Pastor Bartolomeus Pararak, Pr)

Tidak ada komentar: