Senin, 10 November 2014

Umat Bertanya, Imam Menjawab

Pertanyaan:
Mengapa Perayaan Ekaristi seringkali terasa kering, tidak menarik atau membosankan?

Jawaban:
              Perayaan Ekaristi bisa terasa kering, tidak menarik atau membosankan, bisa disebabkan oleh banyak faktor. Untuk mengetahui alasan-alasan penyebab itu perlu terlebih dahulu kita menyimak dan menyadari, apa sesungguhnya Perayaan Ekaristi itu? Nah, Perayaan Ekaristi bukanlah suatu perayaan biasa-biasa, bukan juga merupakan suatu tradisi yang sekedar harus dilakukan (suatu kewajiban tradisional), bukan sekedar perayaan yang dilakukan untuk mengumpulkan atau mempersatukan umat, bukan sekedar perayaan yang diadakan untuk memberikan pengajaran (homili) dan hiburan bagi umat, dan terlebih bukanlah perayaan yang dilakukan dengan maksud menghimpun dana bagi keperluan lembaga Gereja, umat dan kegiatan sosial lainnya. Semua pengertian ini bukan merupakan inti atau hakekat dan tujuan Perayaan Ekaristi.
EKARISTI pertama-tama adalah KARYA AGUNG ALLAH bagi umat-Nya, suatu tindakan yang dilakukan Allah dalam YESUS KRISTUS untuk keselamatan umat manusia dan demi pengudusan manusia, dan tindakan Allah itu ditanggapi umat dengan SYUKUR dan ANAMNESE demi pemuliaan Allah (memuji dan memuliakan Allah). Atau menurut rumusan Konstitusi Liturgi Vatikan II, Sacrosanctum Concilium no.7 : “EKARISTI adalah Tindakan Yesus Kristus Sang Imam Agung, dengan Tubuh-Nya  sendiri, yakni Gereja .....”. Artinya Ekaristi adalah perayaan persatuan (perjumpaan) dengan Allah dengan umat-Nya sendiri. Karena perjumpaan dengan Allah adalah suatu peristiwa keselamatan dan merupakan kebahagiaan tertinggi, maka itu Perayaan Ekaristi adalah suatu Doa (Perayaan) Syukur Agung.
Oleh karena Perayaan Ekaristi bukanlah suatu tindakan atau perayaan manusiawi belaka, maka perayaan itu juga harus dilakukan dan dinyatakan sesuai, menurut prinsip, norma-norma atau aturan tradisi yang mengingkatnya. Maka itu Perayaan Ekaristi itu, hendaknya dirayakan atau dilakukan dengan BENAR, TEPAT DAN SAH.
Nah, suatu perayaan yang merupakan ungkapan kegembiraan, sukacita, syukur atau kenangan akan sesuatu yang sangat bermakna/berarti bagi hidup seseorang, bagi keluarga atau bagi sekelompok orang, tentunya dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik, dengan sepenuh hati dan gembira. Demikian juga halnya dengan perayaan Ekaristi.
Kalau ditanyakan mengapa Perayaan Ekaristi seringkali terasa kering, tidak menarik atau membosankan, beberapa sebab (jawaban) dapat diberikan sebagai berikut:

1). Kemungkinan besar perayaan itu tidak dipersiapkan dan tidak dilakukan dengan baik, oleh para pelayan yang bertugas memimpin dan terlibat dalam pelaksanaan perayaan itu.
-  Misalnya tatalaksana (rubrik) perayaan tidak diikuti atau dibuat asal-asalan oleh imam yang memimpin, tampil dengan gaya umum (bebas), kurang khidmat, kurang tenang dan kurang religius sehingga umat tidak dituntun masuk dalam suasana doa atau suasana sakral,  suasana penghayatan misteri iman yang dirayakan. Atau mungkin saja suasana hati dan pikiran imam yang memimpin perayaan itu, lagi dalam keadaan galau atau stres sehingga tidak bisa fokus dalam memimpin dan memandu perayaan, sehingga kurang membantu umat menghayati misteri iman yang dirayakan. Kalau keadaannya demikian, ditambah lagi dengan homili yang tidak disiapkan dengan baik sehingga menjadi bertele-tele, suasana perayaan akan membuat umat lelah, bosan dan mengantuk. Imam memiliki peranan yang sangat menentukan dalam membuat perayaan ekaristi menarik, menyentuh atau membosankan.
- Sebab lain, kemungkinan para petugas Liturgi Perayaan Ekaristi seperti para lektor, pemazmur, pemandu lagu, petugas pembagi komuni, para misdinar dll., tidak cukup memahami fungsi atau tugasnya? Sangat tidak memadai kalau pengertiannya mereka itu bertugas karena ditunjuk atau dipilih sebagai petugas oleh pastor. Atau karena tidak ada orang yang bertugas maka siapa saja yang bisa dan mau terpaksa jadi petugas? Seharusnya mereka itu paham bahwa fungsi atau tugas yang mereka bawakan itu adalah suatu kehormatan, suatu tugas yang suci, ambil bagian dalam suatu peristiwa yang kudus atau sakral, sehingga mereka juga harus tampil dengan forma yang paling baik, tepat dan sah, misalnya dalam membacakan Firman di depan umat, menyanyikan mazmur, memandu nyanyian, melayani misa, membagi komuni dst. Jadi para petugas liturgi itu harus dipersiapkan, harus dilatih dan dibekali pemahaman yang memadai akan apa yang mereka lakukan. Kalau tidak, Perayaan Ekaristi itu asal dijalankan, asal dilakukan sebagaimana biasanya, asal-asalan semuanya sehingga suasana perayaan seperti itu tidak membantu umat untuk berdoa dan mengangkat hati kepada Tuhan. Maka pastilah akan terasa kering, tidak menyentuh, tidak menarik dan tidak memberikan semangat bagi umat. Perayaan bisa saja ramai, banyak umat dan banyak acara dilakukan tetapi tidak menyentuh dan tidak menarik. Umat pulang Gereja tetap saja dengan hati kosong dan pikiran yang galau, sama seperti ketika belum masuk Gereja.

2). Kemungkinan lain disebabkan oleh disposisi batin dan pikiran umat sendiri yang tidak siap ketika datang ke Perayaan Ekaristi. Artinya umat datang ke Perayaan Ekaristi bukan karena merindukannya atau bukan karena memiliki keinginan yang dalam untuk merayakan dan mensyukuri hidupnya atau untuk memuliakan Allah, melainkan pergi ke Gereja itu dipahami atau dipandang sebagai suatu keharusan atau kewajiban agama saja. Bisa jadi pergi ke Gereja dilihat sebagai identitas dia sebagai orang Katolik (Kristen), atau karena tidak ingin dinilai atau dipandang sebagai orang yang tidak beriman atau tidak beragama.

Nah, kalau disposisinya demikian, maka biasanya umat yang demikian ke Gereja untuk melihat atau menantikan sesuatu yang menarik atau yang bisa menghibur dirinya, misalnya berharap mendengarkan khotbah yang bagus, yang berapi-api dan bisa menyentuh hatinya atau mendapatkan hiburan dan ketenangan atas kegalauan hati dan berbagai persoalannya, atau ke Gereja karena bisa bertemu dan berkumpul dengan teman-teman dan kenalan dan lain sebagainya. Bisa saja terjadi bahwa sebagian besar umat belum memiliki pandangan yang benar atau memadai terhadap Perayaan Ekaristi seperti di atas. Artinya sikap mereka dalam beribadat adalah menunggu untuk mendapatkan penghiburan atau semacamnya itu dan tidak melihat Perayaan Ekaristi itu sebagai saat perjumpaan dengan Allah, yang juga menuntut tanggapan, sikap dan antuasiasme yang aktif dari pihak kita yang datang ke Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi kita menanggapi karya penyelamatan Allah bagi kita umat-Nya dan sekaligus memuliakan Allah itu. Suatu peristiwa perjumpaan juga pada umumnya merupakan suatu saat yang menggembirakan, mengesankan atau menggugah hati dan perasaan. Demikian juga seharusnya terjadi dengan Perayaan Ekaristi.
Bila disposisi batin dan pemahaman kita sudah tidak sesuai dengan maksud dari Perayaan Ekaristi dan ditambah lagi dengan keikutsertaan kita yang pasif, hanya menunggu atau menonton saja, maka sudah pastilah Perayaan Ekaristi itu menjadi tidak menarik, terasa kering dan membosankan. Sesuatu yang tidak dipahami dengan baik, biasanya juga tidak menarik untuk diikuti. Maka itu tidak mengherankan bahwa ada umat Katolik, mungkin cukup banyak juga, yang dengan mudah “jajan ibadat” pindah dari gereja ke gereja bukan karena ingin mengalami perjumpaan dengan Tuhan, melainkan karena ingin mencari khotbah yang memukau atau mencari hiburan yang menarik.
Oleh karena itu untuk beribadat atau merayakan Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya, umat tetap perlu diberi pemahaman (katekese), pelatihan dan persiapan.  (Pastor Victor Patabang, Ketua Komisi Evangelisasi KAMS) ***

Tidak ada komentar: