Sabtu, 17 Desember 2011

Aqualina Payung: ”BEKERJA DITUNTUT KESABARAN DAN TANGGUNGJAWAB”

Lina begitulah panggilan akrab dari Aqualina Payung, lahir di Sangalla’ 26 Juli 1956, anak pertama dari 10 bersaudara, separuh dari hidupnya telah diabdikan  di kantor Keuskupan Agung Makassar (KAMS). Ia mulai bekerja di kantor Keuskupan sejak 1 Oktober 1986, ditempatkan di bagian keuangan waktu itu di bawah pimpinan unit P. Paul Bressers, CICM dan mengawali karirnya di Keuskupan sebagai tenaga pembukuan. Tahun 1988 ia diangkat sebagai kasir  waktu itu di bawah pimpinan P. Rudy Kwary. Ia menjalani tugasnya sebagai kasir selama kurang lebih 23 tahun. Pengalaman kerja sebagai tenaga kasir tidaklah begitu mudah, karena pekerjaan ini paling dituntut kejujuran, ketelitian dan kesabaran dan paling utama itu tanggungjawab
Waktu 23 tahun bukanlah waktu yang singkat. Setiap hari menekuni pekerjaan yang sama maka tidak heran kalau ia merasa jenuh dan bosan, belum lagi kalau mendapat omelan dan makian dari orang-orang, baik itu dari Imam maupun dari sesama  karyawan di kantor.  Kadang ingin lari dari pekerjaan yang begitu menumpuk dan menjenuhkan tetapi karena sadar bahwa bekerja di  kantor Keuskupan adalah juga suatu pelayanan maka dengan senang hati semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. 
”Upahmu besar di surga”, ungkapan inilah yang menjadi hiburan dalam mengemban tugas di kantor KAMS.  Dalam perjalanan waktu kurang lebih 25 tahun dia mengabdi di kantor Keuskupan akhirnya pada 26 Juli 2011 beliau telah mencapai usia 55 tahun, usia di mana para pegawai dinyatakan memasuki masa purnakarya yang secara otomatis dilepas dari kedinasannya dan diberikan hak pensiunnya.  
Pelepasan ini dilaksanakan dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr. John Liku-Ada’. Dikatakan pelepasan, kita pandang sebagai suatu ungkapan kegembiraan penuh syukur dan bukan suatu perpisahan.  Perayaan syukur kita atas keselamatan manusia oleh Tuhan, dan karena itu Uskup diminta untuk memimpin Misa syukur ini.  Renungan yang dibawakan oleh Bapa Uskup pada kesempatan ini mengambil tema dari bacaan kitab Hagai.
 Mereka yang pensiun, lazimnya dari segi kesejahteraan dipandang sudah memadai karena telah bekerja sekian tahun lamanya.  Jadi pantas saja bila pundi-pundinya sudah penuh tetapi ungkapan ini kurang cocok untuk pekerja di rumah-rumah Tuhan. Mereka yang bekerja di rumah Tuhan  sama seperti yang digambarkan dalam Kitab Hagai  yang menjadi bacaan dan renungan Bapa Uskup pada saat itu. Dikatakan: Kamu menabur banyak tetapi membawa pulang hasil sedikit,  kamu makan tetapi tidak sampai kenyang, kamu minum tetapi tidak sampai puas, kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas, dan orang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah dan ditaruh di dalam pundi-pundi yang berlubang. Kita yang merupakan bagian dari pekerja di rumah Tuhan hendaklah memandang diri tidak sebagai upahan, kita masing-masing memiliki pundi-pundi yang berlubang, yang tak dapat menyimpan harta dunia tapi mengumpulkan harta surgawi.
Karena itu, rekan-rekan kerja sekantor KAMS mengucapkan selamat memasuki masa purnabakti kepada Lina. ***

Agenda Bapa Uskup: Desember 2011 - Februari 2012

Desember 2011
Tgl.        Acara
01           Misa Komunitas, pk. 18.30
02           Misa Bersama Frater HHK, pk. 18.30
04           Misa di Katedral, pk. 08.30
05-06     Temu Anggota CF-KWI di Jakarta
07           Ke Klinik Mata, Jakarta
08           Kembali dari Jakarta
09           Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
11 Misa di Katedral, pk. 08.30
12 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
13 Hari Imam / Sore: Misa di SPC
14 Misa di Siti Miriam, pk. 18.30
15 Ke Jakarta
16 Ke Klinik Mata, Jakarta
17 Rapat KARINA-KWI di Jakata
19 Ke Kedubes Vatikan dan Ditjen Bimas Katolik
20 Kembali Ke Makassar
22 Misa Komunitas, pk. 18.30
23 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
24 Misa Malam Natal
25 Natal
26 Open House KAMS
30 Natal Oikumene
31 Acara Tutup Tahun

Januari 2012
Tgl. Acara
01      Tahun Baru
08 Perayaan Natal Bersama ME
09 Ke Toraja
10 Acara di Toraja
12 Rapat tentang Rumah Bersalin Marampa’ Rantepao
16 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
17 Hari Imam / Sore: Misa di SPC
18 Misa di Siti Miriam, pk. 18.30
19 Misa Komunitas, pk. 18.30
20 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
22 Misa di Katedral, pk. 08.30
23 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
24-25 Rapat Dewan Konsultor
26 Misa Komunitas, pk. 18.30
27 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
29 Misa di Katedral, pk. 08.30
30 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
31 Hari Imam / Sore: Misa di SPC

Februari 2012
Tgl. Acara
01 Misa di Siti Miriam, pk. 18.30
05 Pemberkatan Gereja Katedral, Tanjung Selor
06 Lustrum II K. Tanjung Selor
09 Misa Komunitas, pk. 18.30
10 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
12 Misa di Katedral, pk. 08.30
13 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
14 Hari Imam / Sore: Misa di SPC
15 Misa di Siti Miriam, pk. 18.30
16 Misa Komunitas, pk. 18.30
17 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
19 Misa di Katedral, pk. 08.30
20 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
21 Hari Imam / Sore: Misa di SPC
22 Rabu Abu
23 Misa Komunitas, pk. 18.30
24 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
26 Misa di Katedral, pk. 08.30
27 Misa Bersama Fr. HHK, pk. 18.30
28 Hari Imam / Sore: Misa di SPC
29 Misa di Siti Miriam, pk. 18.30

RANGKUMAN RAPAT DEWAN IMAM KAMS, 22-24 November 2011


Sidang Dewan Imam tanggal 22-24 November 2011 membahas topik/materi utama tentang Manajemen/Tata Kelola Keuangan Gereja Lokal KAMS (tingkat keuskupan, kevikepan, parokial/kategorial, stasi/rukun/basis) dan Monitoring Perkembangan Persiapan Sinode Diosesan KAMS 2012. Selain topik/materi utama tersebut, sidang juga mengagendakan: Informasi dari Kunjungan Ad Limina Para Uskup Indonesia ke Roma, Informasi dari Sidang KWI, Proposal Pemekaran Paroki Santo Petrus, Mangkutana, Pembahasan Batas Paroki Bunda Maria, Mandai dengan Paroki Maria Ratu Rosari, Kare, dan Pembahasan tentang para mantan imam yang tetap terlibat dalam karya pastoral.

 Beberapa poin yang menjadi rekomendasi dari Sidang Dewan Imam ini:
1. ManajementTata Kelola Keuangan Gereja Lokal KAMS
a. Tim Akuntansi KAMS akan mengolah kembali draf-draf masing-masing pedoman-pedoman Keuangan & Akuntansi Paroki (PKAP), Petunjuk Teknis Keuangan & Akuntansi Paroki (PTKAP), Pedoman Dasar Dewan Karya Pastoral (DKP), Pedoman Kesejahteraan Imam Diosesan) - dalam terang Pedoman Dasar Dewan Pastoral Paroki 2004 dan Pedoman Dasar Dewan Keuangan Paroki 2004 agar tidak terjadi pertentangan satu sama lain.
b. Draf-draf tersebut, kecuali draf DKP, akan dikirim kepada masing-masing Vikep dan para pastor, untuk selanjutnya dibahas di kevikepan masing-masing, bersama Tim Akuntansi KAMS. Draf DKP akan dibahas dalam Rapat Lintas Komisi.
c. Pembahasan di tingkat kevikepan diharapkan dilaksanakan sesudah Sinode Diosesan KAMS 2012 dan sebelum Sidang Dewan Imam pada 20-22 November 2012. Jadwal pembahasan akan diatur bersama Tim Akuntansi KAMS.
d. Sebelum pedoman-pedoman tersebut diberlakukan, Pedoman Keuangan yang lama tetap berlaku.

2. Sinode Diosesan KAMS 2012:
a. Tempat pelaksanaan Sinode Diosesan KAMS 2012 akan dibicarakan lebih lanjut oleh Panitia SC dan OC yang selanjutnya akan dikonsultasikan kepada Uskup Agung KAMS.
b. Prinsip penentuan tempat pelaksanaan Sinode Diosesan KAMS 2012: “tempat mengabdi pada kebutuhan”.
c. Para Vikep diharapkan mengkoordinir pendalaman bahan Sinode pada tingkat Kevikepan masing-masing. Waktu pelaksanaan pada setiap kevikepan diatur bersama dengan Panitia SC.
d. Kegiatan Pra-Sinode di masing-masing kevikepan akan dilaksanakan menurut jadwal berikut:
i. Kevikepan Makassar: 6 Desember 2011
ii. Kevikepan Sulbar: 14 Desember 2011, di Mamuju
iii. Kevikevan Toraja: 10 Januari 2012
iv. Kevikepan Luwu: 12 Januari 2012, di Saluampak
v. Kevikepan Sultra: 18 Januari 2012, di Sadohoa
e. Peserta dalam kegiatan Pra-Sinode di kevikepan: semua pastor, 2 orang utusan masing-masing paroki, 18 orang yang kompeten dalam 6 bidang, wakil ormas tingkat kevikepan, wakil lembaga/yayasan, pimpinan komunitas biara di kevikepan, kelompok kategorial
f. Kegiatan Pra-Sinode untuk Ormas Katolik akan diatur lebih lanjut dengan SC.
g. Bedah rumah yang direncanakan oleh OC diusulkan menjadi bedah gereja stasi di masing-masing kevikepan.
h. Tempat pelaksanaan Misa Syukur 75 Tahun  akan dibicarakan lebih lanjut oleh Panitia OC yang selanjutnya akan dikonsultasikan kepada Uskup Agung KAMS.
3. Permohonan pemekaran Paroki Santo Petrus, Mangkutana secara prinsip diterima, namun  ditunda sampai selesainya pembangunan pastoran dan sarana pendukung pastoral lainnya. Keputusan ini akan disampaikan oleh Vikep Luwu kepada pihak pemohon.
4. Vikep Makassar bersama anggota Kuria KAMS akan mengundang kedua pastor paroki untuk membicarakan batas Paroki Maria Ratu Rosari, Kare dengan Paroki Bunda Maria, Mandai.
5. Sidang Dewan Imam berikut: direncanakan 20-22 November 2012, di Baruga Kare. Materi: 1. Pemantauan Hasil Sinode Diosesan KAMS, 2. Koordinasi kelompok-kelompok kategorial. Usul lain akan disampaikan secara tertulis.
6. Tentang mantan imam, Sidang Dewan Imam merekomendasikan 2 hal: 1) keterlibatan mereka dalam karya pastoral tidak menimbulkan batu sandungan, 2) Menyangkut hal khusus, akan ditindaklanjuti oleh Vikjen.

Makassar, 24 November 2011

Mgr. John Liku-Ada
Uskup Agung Makassar

Persiapan Yubileum 75 Tahun KAMS dan Sinode Diosesan 2012


SOSIALISASI KE PAROKI-PAROKI KEVIKEPAN MAKASSAR
Selama bulan Oktober dan November tim kerja telah melakukan sosialisasi melalui kunjungan ke Paroki Assisi, Gotong-Gotong, Katedral, Sungguminasa, Mamajang, Andalas, Kare dan Mariso .
Pada kunjungan tersebut  kami mendapat kesan yang cukup baik oleh karena Pastor Paroki dan Pengurus Dewan Pastoral antusias dan mendukung rencana kegiatan Perayaan Yubileum dan Sinode  walaupun masih ada di antara Pengurus Depas yang belum mengerti arti dan maksud Sinode.
Beberapa  tanggapan, saran dan harapan  dari seluruh  hasil kunjungan di Paroki menjadi catatan kami antara lain:
» Mutu pendidikan Katolik ditingkatkan  agar dapat bersaing dan kembali menjadi sekolah unggulan.
» Mengharapkan hasil sidang Sinode yang akan datang menghasilkan keputusan-keputusan dan arah karya  serta pembaharuan untuk meningkatkan dalam saling melayani.

Ekspose dalam Rapat Dewan Imam, 23 November 2011 di Baruga Kare
Dalam rapat Dewan Imam Tim SC diwakili oleh Pastor Paulus Tongli dan Pastor Sani terlebih dahulu memberikan laporan dan Rencana Kegiatan dan selanjutnya Julius Tedja yang mewakili Tim OC bersama Risdianto Tunandi, Henry Haryono dan Adinata Wijaya,  diberikan kesempatan  berikutnya untuk melakukan eskpose Laporan kegiatan dan Rencana Kerja.
Dalam pertemuan Rapat Dewan Imam tersebut   dipandu oleh moderator Pastor John da Cunha Pr  juga dihadiri langsung Bapa Uskup Mgr. John Liku Ada’ Pr,  suasana cukup santai namun perhatian penuh para imam dalam mengikuti acara tersebut dapat kami rasakan.
Sehingga Tim SC dan OC dalam pertemuan tersebut mendapatkan tanggapan, koreksi dan harapan yang  lebih memotivasi kami dalam rangka menyusun  Rencana Kerja yang lebih baik dan tepat sasaran sesuai dengan Misi Gereja lokal KAMS.


PRASINODE KEVIKEPAN MAKASSAR
Kevikepan Makassar mengawali Pra Sinode menghadirkan sejumlah 68 orang Tokoh Umat bertempat di Aula KAMS pada hari Selasa, 6 Desember 2011. Sidang yang dipandu oleh Steering Committee  dipimpin Pastor Willem Tee, didampingi Pastor Paulus Tongli dan Sekretaris Philips Tangdilintin berlangsung dengan baik mulai pagi hingga sore hari.
Sidang PraSinode diawali dengan kata pengantar dan arahan dari Steering Committee dilanjutkan dengan pembagian sidang Komisi ke dalam 6 kelompok bidang: Keluarga, Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Budaya dan Politik.
Kesimpulan dari hasil Sidang PraSinode telah mengupas segala bentuk permasalahan dan cara pengolahan dengan mengembangkan dan memperbaiki internal sistem antara lain: database, standar operasional prosedur, budaya pelayanan, Sumber Daya Manusia, Sarana dan Prasarana, kebijakan dan lain-lain.
Harapan yang muncul dari peserta sidang: momentum dan hasil Sinode yang akan datang agar ada tim khusus yang mengawal sehingga dapat menjadi progam kerja mulai dari Komisi hingga di Rukun Doa yang menjadi gerakan Pusat Pastoral. “Bukan kaya Konsep namun miskin Pelayanan “.

RENCANA KEGIATAN
Kunjungan Safari OC, SC dan Tarekat CICM ke Kevikepan Toraja, Luwu, Sulbar dan Sultra yang dijadwalkan bulan Januari hingga Maret 2012. Sebagai ungkapan rasa syukur bersama-sama seluruh umat dalam perayaan Yubileum  usia intan 75 tahun Gereja Lokal KAMS diwujudkan dalam  berbagai kegiatan dengan maksud agar dapat meningkatkan kebersamaan umat untuk dapat saling melayani antara lain:
» PEMBINAAN/PENDALAMAN  IMAN: Seminar tentang Liturgi, kegiatan anak-anak Sekami , Lomba lagu Ordinarium, Pembangunan Ekonomi Jemaat dan Seminar Kehidupan Keluarga Katolik dalam masyarakat modern
» SOSIAL  & KESEHATAN: Donor Darah umat di seluruh Paroki & Pemeriksaan Kesehatan Gratis. Lingkungan Hidup: Penanaman pohon/Kebersihan Lingkungan. Bakti Sosial: Pembagian Sembako ( Paskah). Rehabilitasi bangunan Gereja/Stasi yang sangat memprihatikan di kevikepan-kevikepan.
» OLAHRAGA : Jalan dan Sepeda Santai / Undian Kupon Berhadiah
» KAMS FAIR  yang rencana akan dilaksanakan di kompleks Seminari Menengah Petrus Claver  yang tujuan utama adalah diharapkan sebagai pameran informasi seluruh Tarekat, Yayasan, Paroki, Kategorial, Ormas dan Komunitas Gereja yang berkarya dalam KAMS agar umat bisa lebih mengenal lebih dekat.
» MALAM AMAL:  Persembahan Kasih bagi umat lansia
» ACARA PUNCAK: Misa Syukur Agung yang akan berlangsung Sabtu, 2 Juni 2012 dimaknai sebagai  ungkapan syukur  kita akan bersama Nuncio (Duta Besar Vatikan) yang menjadi selebran utama Perayaan Ekaristi dan dihadiri sekitar 5000 orang umat.
Acara Ramah tamah setelah Misa dilaksanakan sebagai penutupan seluruh rangkaian acara dengan menampilkan Film Dokumenter Sejarah Perjalanan 75 tahun Gereja Lokal KAMS dan Pemberian Tanda Penghargaan kepada Tokoh Umat yang selama ini telah berkarya dalam pelayanan Gereja
Kita harapkan seluruh rangkaian acara dan Sidang Sinode tersebut akan terlaksana dengan baik dengan harapan seluruh umat dapat terlibat melalui dukungan doa, berperan aktif atau melakukan kerja sama  dalam pelaksanaan kegiatan. Semoga “DIA MENJADIKAN SEGALA-GALANYA BAIK” (Mrk 7:37).*** Penulis: Julius Yunus Tedja

Peletakan Batu Pertama Gereja Paroki St. Paulus Tello


Paroki Tello (berdasarkan Buku Induk Baptis) berdiri pada awal 1999, setelah diadakan pemekaran dari Paroki Maria Ratu Rosari Kare. Pastor paroki pertama adalah P. Michel Mingneau, cicm dan paroki pada waktu itu hanya memiliki gedung gereja di Aspol Tello, pastoran pun masih kontrakan. Pada awal berdirinya paroki ini, jumlah umat yang tercatat ± 3.000 jiwa. 

Gedung gereja yang dipakai oleh umat untuk beribadah pada waktu itu adalah gereja yang terletak di Asrama Polisi (Aspol) Tello, yang dihibahkan oleh Kepolisian Daerah (Polda) Sul-Sel kepada Keuskupan Agung Makassar. Namun, hal ini tidak berlangsung lama, karena tanah di mana gereja tersebut berdiri merupakan tanah sengketa. Akhirnya, perseteruan antara Polda Sulsel dengan pemilik tanah penggugat terhadap lokasi tanah gedung gereja Tello, dimenangkan oleh penggugat di Mahkamah Agung. Paroki Tello pun kemudian menyerahkan gedung gereja Aspol ke Polda pada 22 Februari 2007.
Sejak tanggal tersebut, umat paroki Tello (sudah berjumlah ± 4.000 jiwa) tidak bisa beribadah bersama lagi pada hari Minggu atau hari-hari raya lainnya, mereka tersebar mencari gereja yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Hal ini terjadi kurang lebih satu tahun, namun puji Tuhan, pada awal 2008 beberapa tokoh umat berinisiatif untuk mendirikan “Pondok Doa”. Keberadaan Pondok Doa menjalin, merangkul dan mempersatukan kembali umat paroki Tello yang tercerai berai.

Awal 2010, muncul wacana untuk mencari lokasi bagi pembangunan gereja permanen. Setelah mencari, mengamati dan mempertimbangkan maka Pastor Paroki dan tokoh-tokoh umat paroki Tello memutuskan, Mei 2011, untuk membeli tanah di Jl. Sermani RT.004/RW/007 Kel. Tello Baru seluas ± 1.000 m2. Proses selanjutnya yang kami tempuh ada sosialisasi kepada masyarakat sekitar lokasi tersebut perihal rencana pembangunan gereja. Kemudian, Juni 2011, kami mengajukan permohonan kepada  kantor Kementerian Agama Kotamadya Makassar dan Forum Kerukunan Umat Beragama Kotamadya Makassar  berdasarkan UU Perber 2006. Pada bulan Agustus 2011, kami sudah mendapat rekomendasi bagi pendirian gedung gereja kami dari Kementrian Agama Kotamadya Makassar dan Forum Kerukunan Umat Beragama Kotamadya Makassar. Puji Tuhan, semua proses berjalan dengan baik walaupun ada kendala-kendala kecil namun dapat kami melewatinya dengan baik.

Semua proses di atas memang kami rasakan membutuhkan persatuan umat, pemikiran dan pendanaan. Puji Tuhan, pada 1 November 2011, kami mendapatkan surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk Gereja Katolik Santo Paulus Tello dari Pemerintah Kota Makassar. IMB ini merupakan anugerah dan sekaligus tanggung jawab bagi kami untuk mendirikan gedung gereja yang permanen. Oleh karena itu, pada 6 November 2011, para pengurus gereja mengadakan pertemuan untuk merencanakan awal dan tahapan pembangunan gereja.


13 November 2011
Tanggal 13 November 2011, pukul 10.00 wita, dimulai ibadat singkat peletakan batu pertama yang dipimpin oleh Vikjen KAMS, P. Ernesto Amigleo, cicm. Dalam homili singkatnya, P. Ernesto, cicm mengingatkan kembali perjuangan umat paroki Tello dan penyelenggaraan ilahi sehingga bisa mencapai keadaan saat ini. Momen peletakan batu pertama merupakan saat untuk bersyukur dan sekaligus titik tolak perjuangan untuk membangun gedung gereja. Beberapa pengurus depas paroki Tello, ketua RW dan para ketua RT sekitar lokasi hadir dalam ibadat ini. Ibadat diakhiri dengan peletakan dan pemberkatan batu pertama. Selesai ibadat dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana.

Melalui peristiwa ini, umat paroki St. Paulus Tello diyakinkan bahwa bila kita berdoa bersama dengan sungguh-sungguh maka segala sesuatu tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kami memang mengawali semua proses ini dengan doa bersama “Doa bagi Pembangunan Gereja Katolik St. Paulus Tello” setiap selesai misa mingguan dan doa rukun, yang telah kami mulai sejak Januari 2010. Semua proses yang telah dan akan kami lalui sampai dengan terwujudnya gedung gereja St. Paulus Tello, bagi kami, merupakan proses peziarahan iman, walaupun jatuh bangun dalam menjalaninya, namun kami yakin dan percaya Allah senantiasa dan setia menyertai kami sebagaimana Allah senantiasa dan setia menuntun bangsa Israel menuju “tanah terjanji”. *** Penulis: P. Yoakim Ritan cicm, Pastor Paroki St. Paulus Tello

“RISEN PRIEST”

Antara keingintahuan dan keheranan
              Rasa yang membuncah dalam diri beberapa rekan imam termasuk diriku tatkala membaca undangan mengikuti retret tahun ini adalah nama pembimbing yang tertera dalam undangan tersebut. Ini pastilah nama seorang perempuan yang nampaknya menarik dari ejaan katanya: Linda Wahyudi. Sontak ada tanya di hatiku tatkala membaca nama tersebut. Ada banyak pikiran bermain namun hal terdalam yang ada adalah “curiosity” rasa ingin tahu, mengapa retret kali ini dibawakan oleh seorang awam, ibu rumah tangga lagi. Apakah para pastor diajak untuk melihat perspektif lain dalam beriman atau mungkin mau diajak untuk menghayati kesederhanaan iman seorang ibu rumah tangga? Rasa ingin tahu inilah yang membuatku bersemangat mengikuti retret kali ini. Kebetulan gayung bersambut, aku ditunjuk untuk mengkoordinir retret gelombang kedua ini. Tatkala bertemu dengan ibu Linda pertama kali hanya terbetik sebuah impresi, “eehhhmmm, energik sekali…!”
Impresi ini justru mengundangku untuk makin merasa ingin tahu apa yang kiranya akan dibagikan oleh pembimbing retret. Aku bersyukur dikuasai oleh perasaan ini, bukankah Tuhan menghadirkan kebijaksanaan-Nya melalui siapa dan apa saja di dunia kita ini. “Aku ingin mendalami relasiku dengan Dia melalui ibu ini!” begitu celetuk hatiku saat hendak memulai retret.

Memberikan yang terbaik
Retret gelombang kedua dimulai dengan sebuah kegiatan yang unik namun menarik. Setiap pastor diminta membuat yel-yel yang mengekspresikan kecintaan mereka kepada panggilan imamat mereka. Yang menakjubkan pastor-pastor dalam gelombang kedua ini ternyata kreatif sekali mulai dari yang tua sampai yang muda sangat ekspresif. “Yel-yelnya pokoknya OK punya deh!” Begitu kata pembimbing saat itu. “Bagaimana pembimbingnya ndak kagum, semua pastor kan orang-orang pilihan dan terberkati, lihat saja semua pastor berusaha memberikan sisi entertainment terbaik yang mereka miliki!” Suasana rileks, riang namun tetap terkendali langsung terasa tatkala ekspresi yel-yel selesai dipresentasikan oleh pastor-pastor. Semua pastor juga nampak puas dengan tampilan yel-yel mereka.
Ajakan untuk memberikan yang terbaik dalam panggilan imamat juga disampaikan oleh pembimbing melalui cerita singkat tentang seorang penebang kayu. Para pastor diajak masuk ke dalam retret sebagai wadah untuk mengasah kapak hidup rohani mereka agar tetap tajam dan peka dalam pelayanan agar pemberian diri mereka sungguh-sungguh menghasilkan buah. Dengan cerdik pembimbing menuntun para pastor untuk memasrahkan dan memberikan diri total sebagai layaknya Habel yang mempersembahkan bagian terbaik dari hasil usahanya kepada Allah dan bukannya sebagian saja sebagaimana yang dilakukan Kain saudaranya kepada Allah (bdk. Kej 4:3-4). Dalam bahasa motivator yang kental, pembimbing membahasakan dengan tegas dan menarik. Baginya “derma adalah ungkapan kebaikan, korban adalah ungkapan kekristenan, sedangkan persembahan adalah kesaksian hidup imamat!” Sebuah pertanyaan retorik kemudian mengalir dalam diri semua imam saat itu, “Apakah aku telah memberikan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya?”

Ajakan bersukacita di tengah kegalauan
Retret hari kedua dimulai dengan sebuah kabar duka di pagi buta, P. Yulianus Liling telah berpulang kepada Bapa. Sontak suasana kelabu pagi itu dan hari-hari sesudahnya mewarnai retret. Ada kegalauan dan beberapa tanya mengemuka menanggapi situasi yang ada. Haruskah kami melanjutkan retret tersebut ataukah lebih baik kami balik ke Makassar untuk berbelasungkawa bersama dan mengungkapkan solidaritas kami sebagai sebuah kolegialitas. Pembimbing nampaknya dapat merasakan kegalauan hati para peserta retret dan dapat memaklumi situasi yang tiba-tiba berubah  tersebut. Dalam kegamangan tersebut sebuah keputusan rasional tercetus. Beberapa rekan kami yang mengikuti retret dipimpin oleh Sekretaris KAMS akan bertemu dengan beberapa rekan imam dan keluarga mendiang untuk memutuskan tindakan selanjutnya guna merawat almarhum.
Ini sebuah berita gembira karena keputusan yang diambil memperlihatkan kedewasaan para imam dalam memutuskan dan memilih. Pastor Yulianus pasti sangat mendukung bila relasi kami dengan Yesus makin akrab dan tentu dia sangat mengharapkan doa-doa kami yang khusyuk dan tulus. Retret ini adalah kesempatan bagi kami untuk makin mendalami relasi kami dengan-Nya dan mendoakan rekan kami tercinta P. Yulianus.
Setelah kegalauan teratasi kami melanjutkan retret dengan ajakan dari pembimbing untuk merayakan imamat yang kami terima dengan penuh sukacita. Aku mengamini ajakan tersebut bukankah kami yang dipilih oleh-Nya adalah manusia yang penuh dosa yang dianugerahi rahmat terbesar, imamat. Rahmat untuk menyalurkan kasih-Nya secara langsung kepada umat-Nya. Ketidaklayakan kami karena dosa dan kekurangan di satu sisi bertemu dengan rahmat dan kasih-Nya di sisi lain bukankah ini mukjizat terbesar. Kami, para pastor diajak untuk mengekspresikan sukacita atas keterpilihan kami tersebut. Kami diajak untuk mengejawantahkan keindahan keterpilihan tersebut dalam hidup kami. Sebagai manusia-manusia yang dilimpahi rahmat terbesar tersebut seharusnya hidup kami energik, penuh sukacita, selalu bergembira, optimis, positif dan terutama kreatif serta inspiratif bagi siapa saja yang bertemu dengan kami.
Dalam sejarah peradaban manusia tokoh-tokoh sukses yang mampu bertahan dan berkembang dalam hidupnya adalah manusia-manusia yang kreatif yang berani keluar dari textbook dan patron dunianya. Para pastor adalah pembawa rahmat kreativitas tersebut karena mendapat rahmat tersebut langsung dari “Sang Kreator”. Dalam perspektif pembimbing yang adalah seorang motivator, para pastor sebagai katalisator perubahan diajak untuk bertindak tepat. Tindakan tepat lahir dari keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat hanya bisa diambil dari motivasi yang tepat. Maka akar dari perubahan adalah ketika seorang manusia diubah secara emosional untuk menjadi manusia yang termotivasi. Para imam dipanggil dalam situasi tersebut untuk menggugah emosi umat untuk melakukan perubahan. Pertanyaannya bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan dalam hidup seorang imam? Ada beberapa tips yang ditawarkan oleh pembimbing retret saat itu yang sungguh menarik, beberapa di antaranya dapat kita baca berikut ini…

Mengubah Pola Pikir
Seperti yang kita ketahui bersama secara global kesadaran pada otak manusia hanya 12% yang disadari sedangkan bagian terbesar yakni sekitar 88% berada di bawah sadar manusia. Ini pendapat dan kesimpulan Sigmund Freud dari abad lalu setelah penelitian panjangnya. Dengan kenyataan seperti ini kita dipanggil untuk meningkatkan daya kesadaran kita agar kita makin mampu untuk menyadari keberadaan kita dan dapat mengontrol sebagian besar kemampuan kita. Hal ini bertujuan agar kita menjadi tuan atas diri kita dan dapat dengan lebih baik bertanggungjawab atas segala tindakan kita. Ada empat tingkat perubahan yang perlu disasar oleh setiap manusia agar dia dapat menjalankan dan menguasai hidupnya yakni bergeser dari fase tidak sadar bahwa dia tidak mampu ke fase sadar bahwa dia tidak mampu kemudian ke fase sadar bahwa dia mampu dan akhirnya ke fase tidak sadar namun dia mampu melakukan sesuatu. Hal ini dapat dianalogikan seperti seseorang yang ingin menyetir mobil. Pada awalnya banyak orang yang tidak sadar bahwa dia tidak mampu menyetir mobil setelah diperhadapkan dengan realita menyetir mobil secara riil dia menjadi sadar bahwa dia tidak mampu menyetir mobil. Situasi ini membawa dia dengan sadar untuk belajar menyetir mobil dan pada tahap awal dia sadar akhirnya bahwa dia mampu menyetir mobil. Ketika menyetir mobil telah dikuasainya, dia dapat menyetir mobil tanpa harus memperhatikan hal-hal detail mengenai pemindahan perseneling karena menyetir mobil sudah menjadi “habit” (=kebiasaan) yang hidup dalam dirinya.

Mengarahkan Emosi
Kecenderungan manusia adalah mengikuti riak emosi yang berkembang dalam dirinya. Kalau lagi sedih maka segala sesuatunya akan dilihat suram dan menyedihkan sebaliknya kalau lagi gembira semuanya dilihat menyenangkan dan membahagiakan. Setiap manusia yang berhasil di bumi kita ini adalah manusia-manusia yang mampu mengatasi dan mengendalikan emosi mereka dan bukannya dikendalikan oleh emosi mereka. Salah satu cara untuk mengarahkan emosi adalah dengan bergerak,  bila kita lagi bersedih maka kita harus melakukan gerakan energik agar semua kelenjar dalam diri kita terstimulasi untuk menggaraikan kita. Bila kita lagi bersedih sebaiknya jangan mendengarkan lagu-lagu patah hati tetapi dengarkan lagu-lagu energik agar emosi kita terbangkitkan untuk keluar dari kumpulan emosi dan energi negatif tersebut. Sayangnya banyak manusia justru dengan praktek hidup yang salah malah memberi makan kepada emosi dan energi negatif mereka sehingga luput untuk merasakan kebahagiaan.

Switch Patron
Dalam hidup kita yang normal kita menyukai dan mengapresiasi keberhasilan dan berusaha menghindari bahkan mengutuki kegagalan. Itulah sebabnya kita mengapresiasi bila seseorang berhasil melakukan sesuatu tetapi mengacuhkan bahkan tidak memperhitungkan orang-orang yang gagal dalam hidup mereka. Banyak orang-orang yang gagal dalam hidup mereka justru makin terpuruk karena mereka dan juga lingkungannya membiarkan belenggu kegagalan menguasai mereka. Allah menciptakan kita baik adanya, bumi dan segala isinya baik adanya (bdk Kej 1:4.10.12.18.21.25.27) maka kelirulah kita bila lebih banyak memperhatikan kegagalan. Kita hanya dapat berhasil bila kita mulai menggali potensi yang dianugerahkan-Nya kepada kita, mengapresiasinya, mengembangkannya dan membagikannya sebagai berkat bagi dunia kita. Semua orang yang berhasil adalah orang-orang yang mampu mengatasi keterbatasan mereka dan menemukan potensi besar dalam diri mereka dan mengembangkannya guna menggapai sukses hidup.

Mengubah paradigma
Pembimbing menutup retret dengan satu sharing besar bila ingin berhasil para pastor diajak untuk mengubah paradigma pelayanan mereka. Dengan mengambil teks dari injil Lukas 5:1-11 yang mengisahkan panggilan para murid. Saat Yesus memanggil mereka, jala telah dirapikan karena mereka telah bekerja semalam-malaman. Mereka yang adalah nelayan-nelayan senior disuruh untuk kembali menebarkan jala mereka oleh seorang tukang kayu. Ada perlawanan dan protes tetapi mereka sadar butuh pembuktian untuk memperlihatkan bahwa asumsi mereka benar. Ketika mereka taat kepada Yesus mereka memperoleh hasil yang besar. Hasil yang besar hanya diperoleh ketika mereka bekerja lebih dan bahkan outstanding dari yang biasanya mereka lakukan. Dalam dunia kerja sekarang ini orang yang bekerja cukup akan mendapatkan hasil yang kurang, yang bekerja keras akan mendapatkan hasil yang cukup dan orang yang bekerja excellent akan mendapat hasil yang bagus dan orang yang bekerja outstanding akan mendapatkan hasil yang melimpah. Ciri orang yang bekerja cukup adalah orang yang bekerja tanpa target, seadanya tanpa program dan parameter untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Ciri orang yang bekerja keras adalah orang yang selalu bekerja lembur, memberikan tenaga dan waktu lebih, membanting tulang dengan membuat banyak kegiatan, sibuk, tidak pernah mengatakan tidak untuk pelayanan dan di akhir hari selalu merasa capek. Ciri orang yang bekerja excellent adalah orang yang bekerja dengan arah, punya target dengan schedule yang jelas, manajemen yang jelas dan perencanaan yang profesional. Terakhir ciri orang yang bekerja outstanding adalah orang yang bekerja lebih dari yang orang lain lakukan dan melakukan sesuatu karena melihat nilai lebih dari yang orang lain lihat dan hayati. Contoh dari orang yang bekerja outstanding ada dalam diri Tuan Lim seorang tukang engsel dari Singapura yang bekerja melayani dan memperbaiki engsel hotel-hotel pencakar langit di Singapura hingga hari tuanya. Ketika seseorang bertanya kepadanya akan kerjanya yang itu-itu saja dan cenderung membosankan dengan tangkas dia menjawab, “aku melakukan ini dan masih melakukan ini bukan untuk memperbaiki engsel-engsel pintu dan jendela saja tetapi untuk menyelamatkan manusia. Para pastor adalah perpanjangan tangan Yesus untuk membawa keselamatan-Nya kepada semua manusia bukan hanya “tukang sakramen” apalagi bila cuma “tukang misa”!

Impresi akhir
Ada kehangatan yang dalam ketika kami berjalan pulang setelah retret. Kami, para pastor, sepakat ada begitu banyak hal yang sebenarnya telah kami ketahui tetapi dengan bahasa seorang motivator kami lebih bersemangat lagi mengungkapkan diri sebagai imam. Tak ada kata lain selain “SYUKUR”, kami dianugerahi waktu yang sangat berharga ini untuk menyadari sekali lagi bahwa kami menerima anugerah teragung dari-Nya, IMAMAT.
Hidup Pastor, selamanya “bikin hidup lebih hidup!” *** Penulis: P. Stephanus Chandra Pr.

KEVIKEPAN LUWU RAYA: PENGEMBANGAN IMAN DAN PENDIDIKAN NILAI


Pusat Pastoral Saluampak Kevikepan Luwu Raya Keuskupan Agung Makassar bekerja sama dengan Persekutuan Guru Katolik (PGK) Kab. Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan pelatihan, pendampingan dan rekoleksi “Pengembangan Iman dan Pendidikan Nilai” bagi guru-guru Katolik lintas se-Kevikepan Luwu Raya. Pelatihan ini diselenggarakan di Aula Pusat Pastoral Saluampak selama 3 hari ( 2-4 September 2011 ) yang diikuti oleh 62 Guru Katolik. Pendampingan kegiatan ini di bawakan oleh P. Ferry Sutrisna Wijaya Pr dari Komisi Pendidikan Keuskupan Bandung. 

Pada acara pembukaan Vikaris Episkopal Kevikepan Luwu Raya P. Chris Sumarandak MSC mengatakan sebagai guru yang beriman Katolik hendaknya menghayati pekerjaannya sebagai “guru panggilan hidup dan profesi”. Guru Katolik benar-benar membawa perubahan kepada peserta didik dan sebagai pribadi, sang guru juga semakin menemukan kesempurnaan sebagai pribadi yang utuh untuk mencerdaskan anak bangsa. Guru dan sekolah tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan, begitu juga Gereja dan pendidikan khususnya pendidikan Katolik tidak dapat dilepaskan dari panggilan dan tugas kerasulan Gereja. “Guru Katolik harus membangun spritualitas hati dalam pelayanan dan pengabdian untuk memberikan pelayanan terbaik“ tambahnya. 

Peserta adalah Guru-Guru Katolik yang berkarya di sekolah negeri, sehingga perlu diketahui bahwa hanya beberapa Guru katolik yang berkarya di sekolah Katolik. Di Kevikepan Luwu Raya yang terdapat 3 Kabupaten dan 1 Kotamadya tersebar 8 paroki hanya 1 SMA, 1 SMP, dan 4 TK yang dikelola  oleh Yayasan Katolik, sementara jumlah Guru Katolik Kevikepan Luwu Raya baik PNS/Yayasan/Honorer sektar 200-an. Hanya Guru Katolik yang berada di Kabupaten Luwu Utara yang membentuk Persekutuan Guru Katolik (PGK) di sekolah negeri. Para Guru Katolik dalam meningkatkan iman dan profesinya sebagai guru hanya mengandalkan diklat yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan pusat. Oleh karena itu pihak Gereja di Kevikepan Luwu Raya baik di paroki maupun tingkat kevikepan untuk melakukan pendampingan guru baik peningkatan pendidikan maupun keterlibatan guru dalam hidup menggereja. 

P. Ferry Sutrisna Wijaya Pr dengan materi “pendampingan dan rekoleksi Guru Katolik menjadi saksi iman dalam dunia pendidikan” mengatakan profesi menjadi guru dalam konteks menggereja merupakan panggilan menjadi rasul, menguduskan dunia dalam kesaksian hidup. Oleh karena itu seorang guru seharusnya mempunyai pendidikan dan perangkat nilai yang selalu dijunjung tinggi sebagai guru dan warga gereja. Seorang yang terpanggil  menjadi guru menjadi bahagia dan senang jika mendapati anak didiknya tumbuh menjadi anak yang cerdas, pribadi yang utuh dan semakin dewasa. 

Para guru dalam berkegiatan diajak sharing dalam profesinya setiap hari dan pengalaman, suka duka menjadi guru, tantangan guru ke depan, bagaimana menjadi pengajar dan pendidik, harapan guru, profesionalisme guru sampai kepada perubahan dan perkembangan di mana guru harus mengikuti era globalisasi. “Guru itu harus dihormati karena profesi yang dilakoni sangat terhormat, pekerjaannya sangat mulia dan guru sangat penting karena guru membuat karakter anak didiknya bisa berubah untuk menentukan masa depannya”, ungkap P. Ferry yang juga dosen di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. 

Petrus CT, S.Pd., guru bahasa Inggris dari SMK Negeri 1 Palopo mengatakan kegiatan seperti ini sangat dirindukan para guru khususnya guru Katolik untuk mensharingkan dan merenungkan akan panggilannya yang disibukkan dengan tugas dan tanggung jawab setiap hari. “Kita butuh refleksi diri dalam memberikan kesaksian iman dalam dunia pendidikan menyangkut hakikat panggilan kita sebagai guru di sekolah dan juga secara umum dalam konteks seluruh umat Allah”, ungkapnya.

Mengakhiri kegiatan ini Direktur Pusat Pastoral Kevikepan Luwu Raya, P. Yosef Doni Srisadono MSC mengatakan sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pengembangan umat Katolik di wilayah Kevikepan Luwu Raya dari semua organisasi kategorial termasuk guru-guru, terus menerus membuat program kerja sesuai dengan kebutuhan umat secara keseluruhan. “Khusus guru Katolik kita hanya diskusi dan komunikasikan kepada guru bahwa pendidikan dan pelatihan apa yang akan dilaksanakan yang sesuai dengan tuntutan zaman yang semakin berubah”. *** Penulis: John Siagian