Tampilkan postingan dengan label pemberkatan gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemberkatan gereja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

HUT 70 TAHUN DAN PERBERKATAN GEDUNG GEREJA PAROKI SANTO PETRUS RASUL PAREPARE


Paroki Santo Petrus Rasul Parepare, Keuskupan Agung Makassar, merayakan HUT Pendirian Gereja ke -70 dan Pemberkatan Gedung Gereja, Sabtu, 28/7/2016.
Ulang tahun pendirian dan pemberkatan ini dirayakan dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin Uskup Agung Makassar, Mgr. Dr. John Liku- Ada’, Pr didampingi  Vikep Makassar, Rm. Alex Lethe, Pr, Vikep Sultra, Rm. Willibrordus Welle, Pr, pastor Paroki Santo Petrus Rasul Parepare, Rm. Anton Sarunggaga, Pr. dan para imam konselebran lainnya. Acara ini mengangkat tema “Sebab Bait Allah adalah Kudus dan Bait Allah adalah Kamu” (1Kor.3:17b).
Menurut  Mgr. John Liku-Ada’, Pr, saat memasuki usia ke-70 dan pemberkatan gedung gereja yang megah ini hendaknya umat paroki Parepare tidak saja berhenti di sini, melainkan terus berjuang dan berkembang mengubah pola pikir dan pola tindak yang mengarah kebersamaan, persatuan dan persaudaraan sejati sebagai warga umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare. ‘Karena pola pikir dan pola tindak berubah, maka cara kerja dan melayani juga harus berubah. Perubahan ini tidak menggeser semangat kebersamaan dan inti iman ajaran pokok Gereja Katolik, yakni bagaimana membuktikan bahwa Allah itu bukan Allah yang jahat melainkan Allah yang Maha Kasih, Allah yang Kudus. Allah yang Maha Kasih dan Kudus itu menjelma dalam pribadi Yesus yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Karena itu bagi orang Katolik tidak menerima Allah di atas awan, melainkan Allah yang nyata dalam pribadi Yesus. Kitab Suci mengatakan lewat Yesus (hidup dan karyanya) kita melihat Allah. Oleh sebab itu, selama kita masih tetap melihat Yesus sebagai Allah, maka kejahatan seperti bom, teror, pembunuhan dan sebagainya tidak terjadi. Allah itu menampakkan diri dalam Yesus, hendaklah kita saling mengasihi satu sama lain, sebab bait adalah kita’, tuturnya dalam kotbah.
Sebelum Misa Syukur Pemberkatan Gereja dimulai, terlebih dahulu Mgr. John Liku-Ada’, Pr didampingi para imam konselebran sebanyak 25 orang menerima penyerahan gedung gereja  yang diawali dengan pengguntingan pita pintu dan dilanjutkan dengan pemberkatan pintu masuk gereja,  pemberkatan bagian-bagian gereja, pemberkatan Salib Gereja, kursi      pimpinan, mimbar sabda, meja altar dan tabernakel serta arca Yesus dan Bunda Maria.
Pemberkatan pintu masuk gereja dan seluruh isi/perlengkapan gereja merupakan simbol bahwa umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare sudah resmi menggunakan gedung gereja sebagai tempat ibadat. Bapak Uskup berpesan, gedung yang megah dan tercepat pembangunannya ini perlu dijaga dan dirawat dengan memperlihatkan kualitas iman umat Parepare yang semakin meningkat pula.
Selain acara HUT pendirian Paroki ke-70 dan Pemberkatan Gedung Gereja, Mgr. John Liku-Ada’, Pr  juga pada 27 Juli 2016 berkenan memberikan sakramen krisma kepada 120 orang umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare. Uskup mengemukakan, ‘dengan menerimakan sakramen krisma kepada 120 orang, kehidupan beriman di Paroki ini diharapkan semakin dewasa karena mereka telah diutus menjadi rasul-rasul yang siap menyebarkan cinta kasih Tuhan yang nyata dalam hidup dan karyanya’*.
Paroki Santo Petrus Rasul Parepare memiliki umat  2.500 jiwa dari 420 kepala keluarga. Mereka tersebar di lima Kabupaten, yaitu Kota Madya Parepare, Kabupaten Barru, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Enrekang.
Membangun gedung gereja yang baru adalah wujud kebersamaan umat dari kelima Kabupaten, tutur Lambertus Wake, Ketua Pembangunan Gereja Santo Petrus Rasul Parepare. Maka ‘kebersamaan’ menjadi kata kunci yang tumbuh dan berkembang dalam pemikiran dan tindakan umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare sehingga bisa membangun gereja dua lantai yang menelan anggaran 5,428 miliar. Hal ini terwujud pada visi misi umat yang telah dirumuskan pada awal membangun gereja pada tahun 2012, yaitu: ‘Bersama pasti kita bisa’.
Untuk mengetahui lebih jauh, seperti apa profil dan potensi umat Paroki Santo Petrus rasul Parepare ini, berikut petikan wawancara dengan Ketua Pembangunan Gereja, Lambertus Wake yang ditemui tim humas persiapan peresmian gereja Santo Petrus Rasul, Minggu Pertama Juli 2016. Tokoh NTT yang lahir di Peibenga, 18 September 1962 ini sebagai polisi aktif dengan pangkat Aiptu bertugas di Parepare sejak  bulan Februari tahun 1984.

Apa yang khas dan khusus dari Umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare?
Umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare adalah masyarakat yang sangat heterogen/beraneka ragam karena berasal dari berbagai daerah seperti Toraja, Mamasa, Polewali, Makassar, Flores, Lembata, Adonara, Sumba, Sumbawa, Timor, Manado, Papua, Muna, Buton, Jawa, Kalimantan dan Ambon. Mereka berbeda suku, budaya, karakter, ekonomi, pendidikan dan bahasa tetapi satu sebagai warga Paroki Santo Petrus Rasul Parepare.
Menurut data Paroki, dari jumlah umat 2.500 jiwa, 30%  adalah berasal dari Toraja dan sisanya dari wilayah lain. Walaupun warga Toraja yang lebih besar tetapi kebersamaan tetap terbangun. Warisan kebersamaan yang tumbuh dan berkembang ini menjadi basis yang kokoh dalam membangun gereja pada awal peletakan batu pertama, 29 Juni 2012. Jadi yang khas di Paroki Santo Petrus Rasul Parepare adalah ‘kebersamaan’. Umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare merasa bersalah bila KDM (Kartu Dana Mandiri) bulanannya tidak  diserahkan ke Panita Pembangunan Gereja sesuai ikrar awal pembangunan gereja tahun 2012 dengan  enam kategori, yaitu: Kategori Pertama Rp 350.000/bulan, kategori dua Rp 250.000/bulan, kategori tiga Rp 200.000/bulan, kategori empat Rp 150.000/bulan, kategori lima Rp 100.000/bulan dan kategori keenam Rp 50.000/bulan. Dari keenam kategori tersebut umat dihimbau untuk memilih sejauh kemampuannya.
Soal kehidupan rohani, umat di sini mempunyai sejumlah kelompok kategorial, seperti kelompok doa Karismatik, kelompok doa WKRI, kelompok doa Kerahiman Ilahi, Legio Maria, Pria Sejati Katolik (Priskat), Kombas (Komunitas Basis) Santo Yakobus, kelompok orang jompo, THS-THM, SEKAMI dan kelompok doa OMK. Mereka mempunyai ketekunan dan kebersamaan dalam menghidupkan serta mengembangkan kelompoknya. Hal itu terbaca dalam kegiatan yang terjadwal dan partisipasi anggota dalam seluruh kegiatannya. Tentu saja, hal itu menjadi basis kekuatan Paroki dan mendasari kegiatan dalam banyak hal.

Bagaimana cara pengumpulan dana untuk membangun gereja yang semegah ini?
Sebagai Ketua Panitia Pembangunan Gereja, yang berasal dari Ende Lio Utara pulau Flores, saya coba merespon berbagai kekhasan dan kelebihan umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare dan berprinsip saya tidak bekerja sendiri, tetapi bersama dengan pastor paroki dan umat. Awal perencanaan pembangunan Gereja tahun 2012 berpijak pada Injil Lukas 12:33 tentang hal kekuatiran, yaitu: ‘Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah’, buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat’ dan Injil Matius 22:21 tentang takaran membayar pajak, yaitu: ‘Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah’.  Berpijak pada dua dasar biblis ini maka kami telah merumuskan visi-misi pembangunan Gereja tahun 2012. Visi-misi itu adalah: ‘Bersama kita pasti bisa membangun Gereja’.
Kehidupan Paroki Santo Petrus Rasul Parepare tidak terlepas dari situasi kondusif yang aman, damai dan saling bekerjasama antarumat beragama di Parepare. Itu kekuatan kedua yang memungkinkan umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare bergandengan tangan membangun gereja selama tiga tahun yang mulai dengan dana awal sebesar Rp 38 juta.
Selama ini banyak orang baik yang membantu umat Paroki Parepare menjadi donatur, baik yang ada di Parepare maupun yang dari luar paroki, termasuk Pemerintah Kota Parepare yang menciptakan situasi yang aman dan damai.  Hal itu membuat dana pembangunan Gereja kami selalu ada. Walaupun dana kolekte Mingguan Paroki selalu berkisar antara angka 1 juta sampai 2 jutaan, tetapi kami tidak pesimis karena uang itu bisa dicari dan dikomunikasikan pasti ada jalan dan yang terpenting apakah kita mau membangun gereja atau tidak. Sebab modal paroki kami cuma dua, yaitu ‘bersatu dan kondusif’ sehingga kami bisa mengumpulkan dana  melalui partsispasi KDM umat untuk membangun gereja yang baru dan megah.
Terkait soal kesejahteraan umat, Paroki Santo Petrus Rasul Parepare belum ada program riil yang tepat sasaran dan tepat guna untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Kami masih tergantung pada kreativitas dan inisiatif masing-masing umat dalam membangun kehidupan ekonomi keluarganya. Umat Parepare menyadari keberadaannya bahwa mereka keluar dari kampung halamannya mencari sesuap nasi di Parepare sudah pasti harus lebih baik dari kampungnya. Karena sekali melangkah harus sudah mempertimbangkan secara matang apa yang dilakukannya ke depan demi memperbaiki pola hidup sebelumnya. Umat Paroki Parepare tergolong beruntung karena memiliki hidup yang berkecukupan, walaupun belum masuk dalam kategori sejahtera. Karena sampai saat ini belum ada kabar bahwa umat Paroki Parepare yang mati karena kelaparan. 

Setiap bulan umat menyumbang dengan Kartu Dana Mandiri (KDM)?
KDM umat sebagai wujud partisipasi bersama untuk membangun gereja. KDM umat menjadi ujung tombak, pelaku utama dalam membangun gereja secara bersama. Persoalannya, ada umat yang menyadari janji dan ikrar setianya pada awal mengisi KDM tahun 2012, tetapi ada juga yang lupa atau pura-pura lupa dengan seribu alasan. Berhadapan dengan umat yang pura-pura lupa, ditingkatkan melalui sosialisasi dan penyuluhan baik melalui ketua-ketua rukun maupun lewat sentilan kotbah melalui mimbar sabda, seperti: ‘berjanji di hadapan manusia itu boleh-boleh saja, tetapi berjanji dengan Tuhan, pasti Tuhan tidak akan menutup mata-Nya’. 
Sosialisasi KDM menjadi efektif walaupun lambat. Tetapi yang pasti Gereja baru Paroki Santo Petrus Rasul Parepare telah berdiri megah dan diberkati oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. Dr. John Liku  Ada, Pr  pada 28 Juli 2016 lalu. Itu semua terjadi karena ada kebersamaan yang tumbuh dan berkembang pada diri umat Paroki Santo Petrus Rasul Parepare. *** (Penulis: Martinus Jimung, Dosen Akademi Keperawatan Fatima Parepare)

Pemberkatan Gereja Stasi St. Agustinus Randan Batu, Paroki Kristus Imam Agung Abadi (KIAA): MENUMBUHKAN SEMANGAT KEMANDIRIAN UMAT DALAM MEMBANGUN KEHIDUPAN MENGGEREJA


Pada 12 Agustus 2016 telah diadakan Pemberkatan Gereja Stasi Sto. Agustinus, Randan Batu oleh Vikep Toraja, P. Natan Runtung  Pr.  Patut disyukuri karena sejumlah imam konselebran, selain yang berasal dari Kevikepan Toraja, adalah peserta Pertemuan Nasional Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani yang telah mengikuti kegiatan lokakarya di Hotel Indra Rantepao, 9-12 Agustus 2016. Kehadiran mereka tentu membawa berkat tersendiri bagi umat Stasi St. Agustinus, Randan Batu. Selain mereka, juga hadir Ketua dan beberapa anggota DPRD Kab. Toraja Utara,  tripika Kec. Sanggalangi’, serta tokoh-tokoh masyarakat/to parengnge’ sekitar.
Di dalam perayaan ekaristi juga diterimakan Sakramen Krisma kepada 67 anak remaja yang berasal dari stasi-stasi di Wilayah II: Stasi Kapa’, Stasi Tammuan, Stasi Tonglo, Stasi Lebani’, dan Stasi Bala Batu (105 calon Krisma dari Wilayah I akan menerima Sakramen Krisma dari Bapak Uskup dalam pemberkatan Gereja Stasi Hati Kudus Tambunan, Paroki KIAA Sangalla’ pada 19 September 2016 yang akan datang). Liturgi yang dirayakan begitu mengesankan karena banyak mengangkat simbol dan adat budaya Toraja, antara lain: Tarian Ma’gellu’, To Ma’lambuk, Musik Bambu,  dan lagu-lagu liturgi yang inkulturatif.
Pastor Vikep di dalam khotbahnya menggarisbawahi kata ke-mandiri-an  seperti yang terdapat pada tema perayaan di atas. Bertitik tolak dari sejarah pendirian gereja pada tahun 1951, tenaga awam seperti alm. Felix Dammen, alm. So’Lea, alm. Rumpuk, alm. J. Saniba, dan Petrus Alik, dll,  dibawah pimpinan alm. P. Leo Blot, CICM, telah meletakkan dasar kemandirian itu dalam bidang pelayanan di tengah umat yang baru mulai terbentuk saat itu. Selanjutnya dalam waktu yang cukup lama oleh berbagai dukungan, umat yang baru terbentuk itu mulai memikirkan pembangunan gedung gerejanya. Umat yang mulai bertumbuh tersebut mulai membangun Gereja darurat sampai akhirnya membangun gereja permanen. Karena     kebutuhan pelayanan dan jumlah umat yang terus bertambah maka pada thn. 2007 gereja stasi dirobohkan dan diadakan peletakan batu pertama oleh P. John Manta’, Pr dengan dana awal Rp 8.000.000,- (delapan juta rupiah) yang didapatkan dari kegiatan umat menanam padi di sawah milik orang lain, Dan selanjutnya di dalam perjalanan pembangunan tersebut, umat terus berusaha mengumpulkan dana swadaya, selain dari sumbangan para donatur. Pastor Paroki P. Bartolomeus Pararak, Pr dalam sambutannya juga menggarisbawahi pentingnya menumbuhkan semangat kemandirian seperti ini. Kemandirian seperti ini perlu terus ditumbuhkan dalam kehidupan menggereja di stasi Randan Batu yang pada akhirnya mengantar umat untuk semakin dewasa.
Sesudah  perayaan ekaristi  dilanjutkan dengan perarakan lettoan yang penuh dengan sorak-sorai kegembiraan atas rasa syukur. Ada 41 lettoan yang diarak. Lettoan tersebut berasal dari stasi-stasi yang ada di dalam Wilayah Pelayanan Paroki Sangalla’, juga lettoan yang berasal dari gereja denominasi sekitar, lettoan pribadi dan lettoan dari KSP Marendeng. Acara selanjutnya usai perarakan lettoan adalah ramah tamah dan diakhiri dengan    penandatangan prasasti oleh Vikep Toraja dan Ketua DPRD Toraja Utara Bpk. Ir. Stefanus Mangatta. Setelah itu, santap siang dan acara ma’lalan ada’ (pembagian daging kepada pemerintah, gereja dan tokoh-tokoh masyarakat). 
Untuk lebih jelasnya di bawah ini disampaikan rangkaian perayaan pemberkatan gereja Stasi Sto. Agustinus Randan Batu, selama tiga hari, sbb.:

Rabu, 10 Agustus 2016:
a. Ma’pabendan Bate (mendirikan Bate), jam 08.00-12.00 Wita dimulai dengan ibadat yang dipimpin oleh  P. Petrus Bine’ Saramae Pr
b. Perayaan Ekaristi Ma’karoen-roen/Massuru’ (peringatan arwah), yang dipimpin oleh  P. Petrus Bine’ Saramae, Pr, jam 14.00-16.00 Wita
c. Pergelaran Kesenian Ma’bugi’, jam 18.00-22.00 Wita

Kamis, 11 Agustus 2016:
a. Misa Ma’tarampak, jam 09.00-12.00 Wita yang dirangkaikan dengan Pembaptisan Massal sebanyak 35 baptisan dan      peneguhan perkawinan sebanyak 13 pasang.
b. Massomba Tedong (ritus pemberkatan kerbau) oleh P. John Manta’, Pr, jam 18.00-20.00 Wita, yang diawali dengan kegiatan ma’rempun dan kegiatan ma’passakke bai (mengumpulkan dan memberkati babi) yang akan dikorbankan esok hari pada hari puncak.
c.  Pergelaran Kesenian Ma’bugi’, jam 18.00-22.00

Jumar, 12 Agustus 2016:
a. Mangrauk Tedong dan mantunu bai (menyembelih kerbau dan babi), jam 06.00-08.00 Wita
b. Perayaan Ekaristi Pemberkatan Gereja, jam 09.00-12.00 Wita
c. Perarakan lettoan, jam 12.00-12.30 Wita
d. Ramah Tamah (Pembacaan Sejarah Gereja, Laporan Ketua Panitia Pembangunan dan Pemberkatan Gereja, Sambutan Pastor Paroki dan Sambutan Ketua DPRD Toraja Utara), diakhiri dengan penandatanganan prasasti oleh Vikep Toraja dan Ketua DPRD Toraja Utara Bpk. Ir. Stefanus Mangatta.  Istirahat siang, jam 13.00-14.00 Wita
e. Ma’lalan ada’/Mantaa duku’ (pembagian daging), jam 14.00 Wita-selesai
Catatan: hari selanjutnya Sabtu, 13 Agustus 2016, jam 10.00 Wita-selesai Ibadat ma’bubung dan mantanan sendana. ***


Peresmian, Pemberkatan Gereja St.Clemens Kolaka dan Tahbisan Imam Baru


1.    Peresmian dan Pemberkatan
a.    PROFIL PAROKI SANTO CLEMENS-KOLAKA
              Sejauh dapat ditelusuri, dapat dikatakan bahwa Gereja Katolik di Kabupaten Kolaka baru mulai nampak setelah era kemerdekaan bangsa Indonesia, bahkan sekitar tahun 1960 barulah mulai berdatangan orang-orang Katolik secara pribadi ke Kolaka, khususnya di wilayah pertambangan Nikel Pomalaa yang ketika itu dikelola oleh Bapak Sampetoding dengan perusahaan PT. Perto. Mereka secara diam-diam bergabung mengikuti ibadah di Gereja Protestan yang sudah lama –sejak penjajahan Belanda, dibawa oleh Zending dan para Pendeta yang berkebangsaan Belanda,- ada di Kolaka. Maka dapat dikatakan bahwa permulaan agama Katolik masuk di Kabupaten Kolaka berawal dari Pomalaa sehingga penamaan Pelindung Paroki memakai nama Santo Clemens Pomalaa-Kolaka pada awalnya.
Pada waktu -dapat disebut disini- satu keluarga Katolik anggota polisi asal Flores Larantuka yaitu Bapak Th. Antarani, secara diam-diam menelusuri keluarga-keluarga yang menurut informasi adalah penganut agama Katolik atau setidaknya simpatisan, didapatlah satu keluarga Katolik yaitu Dominikus Alip dan sejumlah keluarga keturunan Tionghoa simpatisan yang sekaligus didaftar, kemudian mengajak mereka untuk setiap hari Minggu bersama beribadah di rumah kediaman Bapak Th. Antarani di Kampung Bajo (sekarang Kelurahan Sea, Kecamatan Latambaga).
Komunitas kecil ini selanjutnya mendapat pelayanan berkala dari Kendari oleh Pastor Paulus Cattry, CICM dan Pastor dr. Clemens, CICM, Pastor Robert Suykens, CICM dan Pastor Jack Catteuw, CICM dari Keuskupan Agung Ujung Pandang (sekarang Makassar). Di kemudian hari datang pula sejumlah umat baru asal Flores pencari kerja yang ditampung oleh Bapak Th. Antarani, kemudian mereka berpencar mencari pekerjaan di Pomalaa dan Kolaka.
Menurut Buku Permandian, umat Katolik yang pertama dibaptis di Kabupaten Kolaka diawali dari Pomalaa, khususnya di Pulau Maniang. Di Pomalaa ketika itu sudah ada pula umat yang bekerja pada PT. Perto kemudian perusahaan itu diambil alih oleh PT. Aneka Tambang, suatu perusahaan BUMN yang tetap menampung sejumlah karyawan penganut agama Katolik yang sebagian besar suku Toraja dan Flores.
Di kota Kolaka pada akhir tahun 1960-an jumlah umat sudah berkisar puluhan jiwa terdiri dari beberapa keluarga termasuk keluarga keturunan Tionghoa yang dibaptis oleh Pastor Paulus Catry CICM dan sejumlah umat asal Flores yang ditampung oleh Bapak Th. Antarani masih melaksanakan peribadatan di rumah Bapak Th. Antarani. Melihat bahwa umat di Pomalaa sudah dapat tertampung dengan baik pada bangunan gereja yang dibangun oleh PT. Aneka Tambang sementara umat Kolaka belum memiliki suatu bangunan yang representatif untuk beribadat maka pada tahun 1969 oleh Pastor Clemens dibelilah sebuah bangunan  semipermanen yang sedianya diperuntukkan untuk kantor camat Kolaka  ketika itu, namun dibatalkan dan oleh yang empunya dalam hal ini Bapak Baso Lewa dijual kepada Gereja Katolik dengan demikian pada tanggal 17 Maret 1969 secara resmi umat Katolik di kota Kolaka memperoleh bangunan untuk tempat beribadah yang terletak di Jalan Pahlawan No. 67 Kolaka.
Dalam perjalanan waktu selanjutnya umat di kota Kolaka sedikit demi sedikit bertambah banyak dan pendatang baru maupun pertambahan karena kelahiran dalam tiap keluarga. Bangunan yang ada tidak cukup memadai
lagi dan perlu dipikirkan pembangunan suatu bangunan gereja yang lebih representatif. Tindak lanjut pembangunan Gereja baru disusunlah panitia pembangunan gedung gereja Kolaka, yang  diketuai Bapak J. Soehardjo ketika itu menjabat Kepala Kantor Transmigrasi Kabupaten Kolaka, sekretaris Bapak Susanto Antonius yang saat itu menjabat Kepala Dinas Peternakan dan bendahara Ibu Christina Susanto dengan pastor pendamping ketika itu Pastor Lambertus L. Pr secara berkala datang dari Makassar guna melayani umat di wilayah ini. Panitia pembangunan gedung gereja dimaksud akhirnya mulai terwujud dengan peristiwa yang sangat membahagiakan ketika itu bahwa   peletakan batu pertama dilakukan oleh yang mulia Mgr. Dr. Theodorus Lumanauw pada tahun 1980, dihadiri pula oleh MUSPIDA Kolaka dan sejumlah umat. Pembangunan gereja itu berlangsung dalam bimbingan pastor pendamping masing-masing pastor Lambertus L. Pr., Pastor Hilarius Manguntu Pr. dan terakhir Pastor Matheus Bakolu, Pr., yang finalnya diresmikan pada tanggal 13 November 1984 oleh Mgr. Dr. Franciscus van Roessel CICM dan    pengguntingan pita pada pintu gereja oleh Bupati Kokaka yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Drs. Maula Daud.
Pada tahun 2003 dengan jumlah umat yang ada biasa tidak mencukupi lagi maka oleh pengurus yang diketuai Bapak Bantu Ginting, SH seorang Ketua Pengadilan Negeri Kolaka ketika itu telah mensponsori tambahan sayap gereja di sebelah kanan dengan ukuran 8 X 8 meter. Meskipun sudah ditambah sayap kanan dimaksud namun saat perayaan hari-hari besar gereja ketika umat dari stasi lain bergabung sudah gedung gereja tidak bisa menampung umat lagi bahkan biasanya masih memasang tenda di luar oleh karena itu disamping daya tampung relatif sudah kurang memadai ditambah lagi dengan gaya bangunan yang sudah lama dan hampir ketinggalan maka dirasa perlu merencanakan rehabilitasi berat pada bangunan gereja ini dengan memperhatikan kebutuhan yang ada serta syarat-syarat pembangunan sebuah gereja yang representatif yang layak sesuai dengan perkembangan kota Kolaka dewasa ini. Perlu ditambahkan di sini bahwa bangunan gereja Katolik Kolaka dimaksud ketika itu diberi nama pelindung “Hati Kudus” yaitu suatu nama yang dipesan oleh donatur dari negeri Belanda kepada Mgr. Th. Lumanauw, ketika menerima bantuan di sana dan disampaikan pada saat peletakan batu pertama pembangunan gereja ini.
Dapat ditambahkan bahwa  pastor pelayan umat di Kolaka sejak awal dilakukan oleh para misionaris CICM berturut-turut Pastor RP.dr. Clemens, CICM., RP.Paulus Cattry, CICM., RP.Robert Zuykens, CICM., dan RP.Jack Catthew, CICM., dan kemudian dilanjutkan dengan para Pastor Projo (Pr) berturut-turut: RD, Emanuel Parapak, RD.Yoseph Padang, RD.Alex Sariang, RD.Jimmy  Sattu, RD.Paulus Atta Patunggu  (dibantu RD.Simon Tunreng Malatta), RD. Piet Majina La Oji, dan terakhir yang sampai saat ini masih bertugas  yaitu RD.Simon Tunreng Malatta (yang dulu pernah menjadi Pastor Bantu pada tahun 2004-2006).
Umat di Paroki ini tersebar di Pusat Paroki dan  di sejumlah stasi seperti Stasi Pomalaa, Stasi Pelambua, Stasi Watalara, Stasi Puubunga, Stasi Puubenua,  Stasi Welulu, Stasi Oko-Oko, Stasi Poleang, dan Persiapan Stasi Lasusua, dan Wolo serta di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Damai Jaya Lestari. Stasi-stasi ini tersebar di Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, dan Kab. Bombana.
Pada 27 Mei 2012, RD.Piet Majina La Oji meletakkan batu pertama untuk renovasi total gereja lama, dilanjutkan dan diselesaikan oleh RD.Simon Tunreng Malatta. Daya tampung gereja diperluas mengingat gereja lama tidak memadai lagi menampung jumlah umat yang beribadat pada Hari Minggu.

b.    Peresmian dan Pemberkatan Gereja St.Clemens Kolaka
Setelah kurang lebih 4 tahun, dengan kerjasama yang baik antara umat dan pihak-pihak donatur, baik Pemerintah Daerah maupun kalangan dunia usaha, sekarang tersedia      bangunan Gereja yang megah di pusat Kab.Kolaka yang bisa menampung umat untuk beribadat. Bangunan Gereja yang baru ini diresmikan oleh Bupati Kolaka Ahmad Safei dan diberkati oleh Mgr.John Liku-Ada’ pada tanggal 3 Agustus 2016.
Dalam acara Peresmian Gereja, ketua Panitia Pembangunan, Fredy Sirande mewakili seluruh umat menyampaikan rasa bahagia karena cita-cita dan harapan untuk memiliki rumah ibadat yang layak bagi umat Katolik di Paroki St.Clemens Kolaka kini terwujud.
Ketua Panitia Peresmian dan pemberkatan Gereja, Komandan Kodim 1412 Kolaka, Letkol CZI.Cosmas Manukallo Danga; Bupati Kolaka, Ahmad Safey, juga memberikan kata sambutan. Senada dengan itu, Uskup Agung Keuskupan Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada’, mengajak umat Katolik untuk keluar dari zona aman dan bergulat dan melibatkan diri di tengah-tengah masyarakat sekitar; untuk membangun masyarakat yang lebih baik, mengambil bagian dan mendukung program pemerintah. Umat Katolik diminta untuk menghidupi “seratus persen Katolik, seratus persen warga Negara”, papar Uskup Agung KAMS, Mgr. John Liku-Ada’ dalam sambutannya, baik pada peresmian maupun pada pemberkatan Gereja.

2.    Tahbisan Imam Baru
Gedung Gereja yang baru diresmikan dan diberkati sehari yang lalu, kini menjadi saksi sejarah untuk pertamakalinya di Kabupaten Kolaka diadakah Tahbisan Imam.  Diakon Fransiskus Wogha Pati, anak dari Ambrosius Lela (alm.) dan Maria Wende, yang ditahbiskan adalah Putra Paroki Kolaka. Paroki Kolaka telah menyumbangkan empat orang putra  terbaiknya menjadi imam yaitu RD. Made Markus Suma, Syprianus Baso, Ferdinand Lagoli dan Fransiskus Wogha Pati.  Setahun sebelum acara Tahbisan Imam di Kolaka, umat Paroki Kolaka melalui Depas meminta secara resmi kepada pihak Keuskupan agar pelaksanaan Tahbisan Imam tahun 2016 dilaksanakan di Paroki Kolaka. Harapan umat adalah      dengan Tahbisan Imam ini, ada anak-anak muda yang tergerak untuk juga menyiapkan diri menjadi imam. Selain itu, acara ini menjadi sejarah penting bagi Paroki Kolaka untuk pertama kalinya mengadakan Tahbisan Imam. Kecuali itu, acara ini juga menjadi momen yang bagus bagi umat untuk memperkenalkan diri lebih jauh kepada pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Peresmian dan pemberkatan Gereja telah terlaksana pada tgl 3 Agustus 2016, Tahbisan Imam telah dilangsungkan tgl 4 Agustus 2016,  dihadiri 73 imam yang berkarya di Keuskupan Agung Makassar.
Akhirnya, dengan penuh syukur, Depas dan seluruh umat di Paroki Kolaka mengucapkan berlimpah terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dengan caranya sendiri dalam menyukseskan acara ini.
Proficiat kepada seluruh umat Paroki Kolaka. *** (Penulis: RD. Simon Tunreng Malatta, Pr, Pastor Paroki)

Jumat, 24 Juni 2016

PEMBERKATAN GEREJA SANTO JOSEPH PEKERJA GOTONG-GOTONG



Pada Hari Minggu Paskah VI, 1 Mei 2016, yang sekaligus adalah Hari Raya Santo Joseph Pekerja, pelindung kaum buruh, Gereja Santo Joseph Pekerja Gotong-Gotong telah diberkati oleh Bapak Uskup Agung Mgr. John Liku-Ada` dalam suatu Perayaan Ekaristi meriah yang dimulai pada jam 08:00 pagi. Meskipun gereja belum selesai dengan sempurna, karena masih banyak hal yang perlu dilengkapi, namun berhubung Bapak Uskup Agung akan memberikan Sakramen Krisma kepada 115 anak remaja, maka ia mengusulkan agar sebaiknya gedung gereja sekaligus diberkati saja. Jadi gereja baru diberkati, belum diresmikan, sehingga belum ada undangan disebarkan. Pada akhir Perayaan Ekaristi, Bapak Uskup Agung memuji umat Paroki Santo Joseph Pekerja Gotong-Gotong karena dapat membangun gereja besar mereka dengan swadaya dalam tempo singkat (hanya 3 tahun).

Pada tahun 2016 ini, Paroki Santo Joseph Pekerja Gotong-Gotong berusia 60 tahun (1956-2016), umat paroki mengadakan perayaan sederhana dengan acara Fancy Fair dari tgl. 5-8 Mei 2016, Fun Walk pada 6 Mei 2016, dan Donor Darah pada 8 Mei 2016. Selama Fancy Fair tersebut, diadakan berbagai macam lomba berhadiah, seperti lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba lagu rohani untuk anak-anak dan remaja, lomba fashion show untuk anak-anak, lomba menghias kue untuk anak-anak, lomba menghias wajah untuk orang dewasa, lomba joget untuk remaja dan orang dewasa, serta lomba memasak untuk remaja dan orang dewasa. Semua lomba ini dikoordinir oleh Panitia Fancy Fair yang dimotori oleh para pembina SEKAMI. ***


Rabu, 09 September 2015

Pemberkatan Gedung Gereja Katolik Stasi Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga - Bolu


Angka "15" adalah angka yang istimewa dan indah bagi Umat Katolik Bolu, Stasi Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Paroki Santa Theresia Rantepao".
Demikian diungkapkan oleh Bupati Toraja Utara, Drs. Frederik Batti Sorring, S. Sos. MM. dalam sambutannya pada Acara Ramah Tamah Pemberkatan Gereja Stasi Bolu, Paroki Santa Theresia Rantepao, 15 Agustus 2015. Ungkapan ini disambut dengan tepuk tangan dan aneka luapan kegembiraan Umat Katolik yang hadir.
Betapa tidak, angka "15" sarat dengan kenangan manis dan pahitnya perjuangan Umat Katolik Stasi Bolu.
15 Agustus 1996, setelah melalui perjuangan panjang, Gereja Bolu resmi menjadi Stasi dalam Paroki Santa Theresia Rantepao, dengan pelindung Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Peresmian ini dilaksanakan di Gedung Gereja Bolu (semi permanen) yang baru selesai dibangun. Perayaan Ekaristi meriah, saat itu, dipimpin oleh P. Patrick Galla' Pr (alamarhum).
15   Kepala Keluarga (KK), tercatat sebagai jumlah Umat Stasi Bolu, tanggal 15 Agustus 1996.
15 Agustus 2015, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (pelindung Stasi Bolu), Bapak Uskup Agung, Keuskupan Agung Makassar, Mgr. Dr. John Liku Ada', Pr, memberkati Gedung Gereja Stasi Bolu yang permanen. Bersamaan itu pula, Bupati Toraja Utara bersama Bapak Uskup berkenan meresmikan Gedung Gereja Stasi Bolu dengan   menandatangani prasasti.
15 tahun lamanya, gedung permanen ini dibangun, terhitung dari peletakan batu pertama, tanggal 1 Januari 2000.
150 Kepala Keluarga (KK), terdata dalam Statistik terakhir yang dilaksanakan di seluruh Stasi dalam Wilayah Paroki Santa Theresia Rantepao.
15 anak, dibaptis pada. tanggal 16 Agustus 2015, hari ke-3 dalam rangkaian syukuran dan Pemberkatan Gedung Gereja Stasi Bolu.
Perayaan Syukur berlangsung selama 3 hari ('ditallung alloi')
15 tahun Umat Stasi Bolu membangun dan menyelesaikan Gedung Gereja yang permanen.
15 Agustus 2015, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, pelindung Stasi Bolu, Gereja Stasi Bolu yang baru, diberkati.
Rangkaian Perayaan Syukur Pemberkatan Gedung Gereja; oleh Panitia Perayaan, direncanakan berlangsung selama 3 hari ('ditallung alloi') dan 'diwarnai' oleh adat budaya setempat,: 'mangrara tongkonan'.

Hari pertama: 14 Agustus 2015
Oleh umat Stasi Bolu, Gereja merupakan ‘tongkonan’ Umat beriman. Merujuk pada adat
budaya 'mangrara tongkonan',   Panitia Pemberkatan Gereja Bolu, tanggal 14 Agustus 2015,
mendirikan "bate" setinggi kurang lebih 15 meter. Mereka memaknai bate ini sebagai simbol
perkembangan Umat Stasi Bolu yang semakin baik, dalam kesatuan dengan seluruh umat Paroki Rantepao.
Sore hari, jam 17.00, diadakan Perayaan Ekaristi, pengenangan arwah (bdk. “ma'nene” atau "ma'ta'da" dalam adat budaya Toraja).
Perayaan dihadiri Umat Stasi Bolu, dipimpin oleh Vikep Toraja, P. Natanael Runtung, Pr, bersama dengan P. Barto Pararak Pr, Pastor Paroki   Sangalla'.

Hari kedua: 15 Agustus 2015
Menjelang matahari terbit (sebelum jam 07.00), tanggal 15 Agustus 2015. Acara 'massomba tedong' dilaksanakan di halaman Gereja. Ibadat massomba tedong dipimpin oleh P. Yans Paganna' Pr, Pastor Paroki Bokin.
Pada hari yang sama, sekitar pukul 09.00, seluruh umat Stasi Bolu dan umat dari Stasi lain dalam Wilayah Paroki Rantepao, telah berkumpul di sekitar Gereja. Diiringi oleh ungkapan syukur dalam Sastra Bahasa Toraja, yang dibawakan P. Yans Paganna' Pr, perayaan Pemberkatan Gereja dalam Ekaristi dimulai. Bapak Uskup, para Pastor, para Pengantar, para petugas liturgi dan misdinar, berarak dari kompleks Frateran HHK menuju Gereja. Perayaan Ekakristi dan Pemberkatan Gereja Bolu, dipimpin langsung oleh Bapak Uskup, Mgr. John Liku Ada' Pr sebagai selebran utama, didampingi oleh Vikep Toraja, P. Natanael Runtung, Pr, bersama Pastor Paroki Rantepao, P. Leo Matheus serta 8 orang Imam, sebagai konselebran. Perayaan yang sakral dan meriah, berlangsung kurang lebih 2 jam.
Usai perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Gereja, diadakan acara ramah tamah di halaman gereja. Acara itu diisi dengan 'perarakan lettoan', sambutan-sambutan, penandatanganan prasasti oleh Bapak Uskup dan Bupati Toraja Utara. Selanjutnya Panitia Perayaan melaksanakan pembagian daging menurut adat budaya ('ma'lalan ada') dilanjutkan dengan makan siang bersama dan ditutup dengan lelang lettoan.

Hari ketiga: 16 Agustus 2015
Menutup rangkaian 3 hari kegiatan syukuran, hari Minggu 16 Agustus 2015, seluruh Umat Stasi Bolu kembali berkumpul di Gereja. Perayaan Ekaristi pada Hari Raya Santa Maria Diangkat ke Surga ini, dirangkaikan dengan Perayaan Syukur Panen dan dipimpin oleh Pastor Paroki. Dalam Ekaristi Syukur ini, dilaksanakan juga Pembaptisan 15 anak.
Usai Perayaan Ekaristi Syukur, Panitia Pemberkatan Gereja dan Pengurus Stasi Bolu, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua yang telah mengambil bagian dalam seluruh kegiatan syukur. Acara kegembiraan umat, dilanjutkan di halaman Gereja.


Stasi Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga- Bolu: dulu, sekarang dan selanjutnya
Tahun ‘70-an, Keluarga Ne' Paniki, Kel. Ne' Ringan dan Kel. Ne' Lobo', serta beberapa orang lain tercatat sebagai orang Katolik di Bolu. Setiap hari Minggu mereka berusaha ke Rantepao, yang berjarak kira-kira 3 km, untuk mengikuti Perayaan Ekaristi.
Tahun 1977, Bapak S. L. Tonapa dengan Bapak Nico Malisan, berupaya untuk mengusulkan mendirikan Cabang Kebaktian di Bolu. Usulan tidak dikabulkan oleh Pastor Paroki Rantepao dengan alasan jarak Bolu-Rantepao dekat.
Tahun 1981-1986 Paroki merestui untuk menjadikan   Bolu sebagai satu Rukun (Rukun Timur) dalam Paroki Santa Theresia Rantepao. Mereka berinisatif mendirikan bangunan darurat,
berukuran 5x7 meter, terbuat dari bambu dan beratapkan daun nipa di atas tanah milik Ne' Paniki (almarhum). Dalam bangunan darurat ini mereka kerap beribadat bersama pada hari Minggu, jika tidak ke Rantepao. Rukun ini dibina dan didampingi oleh Bapak Sampe Lino, Bapak Yohanis Mulang (almarhum) dan Bapak Daniel Pata'dungan sebagai pemimpin doa.
Pada bulan Februari 1994, pertemuan umat yang dipimpin oleh Bapak Michael Tonapa,
bersama Bapak Daniel Pata'dungan. Matius Parongko' dan Matius Sannang memutuskan untuk membangun Balai Pertemuan yang kemudian menjadi Gedung Gereja.
Bulan September 1994, P. Elisius Tanan Pr, Pastor Paroki saat itu, memberi ijin untuk mendirikan Gereja di Bolu, sebagai Stasi.
Pada Bulan Oktober 1994,  Fr. Zakharias K. HHK, pimpinan Tarekat HHK di Bolu memberi ijin untuk mendirikan Gereja dalam lokasi mereka. Ijin  dari Pimpinan Tarekat HHK, Fr. Bernardus Raba' HHK, secara resmi baru    diterima pada Desember 1994. Setelah ada ijin, Umat Stasi Bolu merencanakan Pembangunan Gedung Gereja semi permanen. Pembangunan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Katekis Anton Bara' (alm.) bersama Katekis G. Mangopang (alm.), tanggal 5 September 1995 dan rampung pada tahun 1996.
Tanggal 15 Agustus 1996, P. Patrick Galla' Pr (almarhum), merayakan Ekaristi pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, di Gereja baru (semi permanen).   Pada saat itu, Stasi Bolu mengambil nama pelindung: Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Di bawah bimbingan dan binaan Frater HHK Bolu, Umat Stasi Bolu yang saat itu berjumlah 15 KK, mulai berkembang baik.
Situasi Stasi Bolu amat dipengaruhi oleh kondisi Bolu sebagai pasar yang 'dibanjiri' oleh para pendatang baru. Umat Katolik mulai bertambah dan gedung gereja yang ada tidak mampu lagi menampung umat yang beribadat. Pengurus Stasi kembali menggerakkan umat untuk merencanakan Pembangunan Gedung Gereja yang lebih besar dan permanen. Mereka segera membentuk Panitia Pembanguna Gereja.
Ketua Pembangunan: Drs. Antonius Randanan
Sekretaris: Michael Tonapa
Bendahara: Silvana Bato' Arung
Anggota: Semua Keluarga Katolik Stasi Bolu
Tanggal 1 Januari 2000, dilaksanakan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Gereja Stasi Santa Perwan Maria Diangkat ke Surga - Bolu, dipimpin oleh Fr. Zakharias Koban, HHK (almarhum). Dalam proses pembangunan umat dan pembangunan gedung gereja ini, banyak tantangan dan kendala yang dialami. Namun tantangan itu mampu diiewati. Setelah 15 tahun, Gedung Gereja yang baru, besar dan permanen selesai. Doa dan perlindungan Bunda Maria tetap meneguhkan mereka. Tanggal 15 Agustus 2015, Umat Stasi Bolu bersama Gedung Gereja mereka diberkati. Menurut Statistik terakhir, Jumlah umat saat ini. 150 KK.

Gereja Stasi Bolu sesudah tanggal 15 Agustus 2015
Stasi Bolu dipengaruhi oleh dinamika kehidupan dan situasi Pasar Bolu. Bolu yang dulunya merupakan persawahan yang luas, kini menjadi permukiman yang padat. Sawah telah hampir hilang diganti oleh bangunan (rumah tinggal, toko, kios dll). Bolu dihuni oleh orang-orang yang datang dari mana-mana, baik yang berasal dari luar Toraja (para pedagang dan pengusaha), maupun dari segala penjuru dalam wilayah Tana Toraja. Tidak sedikit dari pendatang baru itu beragama Katolik. Ada yang menetap, tetapi banyak pula yang hanya 'mampir' beberapa lama. Kenyataan ini menjadi situasi khas bagi Stasi Bolu dalam pola penanganan pastoralnya. Situasi itu sekaligus menjadi peluang dan tantangan yang memerlukan perhatian ke depan.

Peluang: Jumlah umat akan semakin banyak, seiring bertambahnya pendatang baru di Bolu, yang beragama Katolik. Di samping itu, sebagai Pasar, Bolu menjadi arah perluasan kota Rantepao. Bersamaan itu pula, pengembangan Umat Stasi Bolu, menggembirakan dengan hadirnya Tarekat HHK yang amat terlibat dalam kehidupan menggereja.
Tantangan: Pola Pelayanan Pastoral dan pembinaan umat yang terkumpul dari mana-mana dan sibuk dengan usaha berdagang sepanjang minggu, tidaklah mudah. Umat Katolik yang hanya 'sementara' (mampir) di Bolu dan kebanyakan tidak terdaftar, meski ikut beribadat pada hari Minggu, menjadi kendala tersendiri.
Harapan: Kenyataan Umat Bolu yang semakin berkembang dan kehadiran Frater Hamba-Hamba Kristus di Bolu, memungkinkan Stasi Bolu dipersiapkan menjadi Paroki tersendiri. Inilah harapan dan doa Umat Stasi Bolu. Semoga dengan perantaraan, doa dan lindungan Santa Perawan Maria, harapan ini direstui oleh Allah dan suatu saat menjadi kenyataan. Amin. ***