Tampilkan postingan dengan label imam diosesan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imam diosesan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

Bersuka Cita dalam Persaudaraan Imamat Pertemuan Para Imam di Kolaka


MUNAS UNIO XII akan dilaksanakan di Keuskupan Palembang pada bulan Mei 2017. Sebagai bagian dari persiapan MUNAS UNIO, pengurus UNIO KAMS mengundang seluruh imam yang berkarya di wilayah KAMS untuk menghadiri sebuah pertemuan singkat. Pertemuan ini bertujuan untuk mengajak para imam yang berkarya di wilayah KAMS untuk melihat rahmat hidup imamat sebagai sesuatu yang membahagiakan justru karena menyadari bahwa imamat memiliki makna justru dalam kebersamaan dengan umat yang dilayani.
Temu para imam ini dilaksanakan setelah upacara tahbisan imam pada 4 Agustus 2016 yang lalu. Bertempat di aula Paroki St. Klemens Kolaka, pertemuan para imam ini dihadiri oleh 44 orang imam. Pastor Junarto Timbang bertindak sebagai fasilitator pertemuan. Pengalaman Pastor Junarto mendampingi orang muda dan juga kelompok SEKAMI berhasil ditularkan kepada para Pastor melalui gerak dan lagu bersama. Suasana menjadi demikian meriah karena para imam dan umat turut berjoget dan bergembira bersama.
Setelah pembukaan kegiatan, acara inti pertemuan imam dimulai. Ketua UNIO KAMS, Pastor Carolus Patampang menyampaikan maksud pertemuan sekaligus memperkenalkan dua orang rekan imam, yaitu Pastor Frans Arring dan Pastor Anton Pabendon yang akan membagikan refleksi imamat mereka. Pastor Frans Arrring yang sudah menjalani hidup imamat selama 40 tahun dan Pastor Anton Pabendon yang baru saja merayakan HUT Imamatnya yang ke-2 diundang untuk membagikan refleksi hidup imamat mereka sebagai imam diosesan dengan bertitik tolak pada penghayatan hidup sebagai “Imam yang berbau Domba” (tema besar MUNAS UNIO 2016).
Pastor Frans Arring banyak menyoroti sisi historis Keuskupan Agung Makassar. Semuanya berawal dari sebuah mimpi besar para misionaris CICM yang ingin menjadikan Gereja lokal di Keuskupan Agung Makassar sebagai sebuah Gereja yang sungguh hidup sebagaimana keberadaanya sekarang. Mimpi seperti inilah yang menginspirasi seorang imam muda bernama Pastor Frans Arring memulai petualangan hidup sebagai pelayan di Paroki Mamasa, 40 tahun yang lalu. Mimpi tersebut juga menginspirasi Pastor Frans Arring ketika memulai tugas sebagai seorang formator, entah di Seminari Menengah ataupun di Seminari Tinggi. Bahkan, mimpi yang sama menguatkan Pastor Frans Arring dalam tugas penggembalaan sebagai Vikaris Episkopalis di Kevikepan Toraja dan Luwu Raya. Kepada seluruh imam yang hadir, di akhir refleksinya, Pastor Frans Arring juga mengajukan sebuah pertanyaan kritis - yang menurutnya - penting untuk direnungkan: “Bagaimana para imam yang berkarya di KAMS melanjutkan mimpi besar itu?”
Berkaitan dengan penghayatan pribadi sebagai seorang imam, Pastor Frans Arring percaya bahwa seorang imam yang berbau domba adalah seorang yang melihat imamat sebagai rahmat yang menggembirakan. Kegembiraan itu terungkap melalui kata-kata pribadi Pastor Frans Arring, “Kesetiaan ke mana saja mau diutus itulah yang menjadi motto hidup yang menyenangkan sebagai imam”. Dengan demikian, seorang imam harus siap menghadapi segala bentuk situasi dalam pelayanannya, termasuk ketika harus berhadapan dengan kesulitan medan pelayanan.
Kata-kata Pastor Frans Arring mendapatkan maknanya dalam perjuangan seorang imam muda, Pastor Anton Pabendon. Ia memulai perjalanan hidup imamatnya juga di Paroki Mamasa.  Sebagai seorang imam muda, Pastor Anton Pabendon menyadari ia masih harus belajar banyak terutama dalam memahami karakter umat yang dilayani. Bagi Pastor Anton Pabendon, gembala yang berbau domba adalah seorang imam yang berusaha mengenal umat dan berjalan bersama mereka dalam satu pengharapan dan cita-cita. Berkaca dari pengalamannya sebagai seorang imam muda, Pastor Anton sadar menjadi seorang gembala yang berbau domba bukan hal yang mudah. Untuk itu, ia menggarisbawahi pentingnya setiap imam memiliki daya juang, tahan banting, serta antusiasme untuk mewujudkan pelayanan yang ideal. Pastor Anton merefleksikan hal tersebut berdasarkan pengalaman konkretnya, “Rantai motor boleh kendor, tetapi semangat tidak boleh kendor.”  Sharing kedua ternyata menggugah para imam yang hadir. Itulah sebabnya di akhir sharing Pastor Frans Arring dan Pastor Anton Pabendon, para imam yang lain memberikan sambutan yang luar biasa. Hal-hal sederhana yang terungkap selama sharing berhasil menyemangati para imam untuk semakin menjadi gembala yang mengetahui secara persis perjuangan dan keprihatinan umat yang menjadi gembalaannya.
Acara pertemuan imam dilanjutkan    dengan penerimaan Pastor Frans Wogha Pati sebagai anggota UNIO KAMS. Saat ini, Pastor Frans Wogha tercatat pada nomor urut ke-97 imam diosesan KAMS. Seusai acara penerimaan Pastor Frans Wogha sebagai anggota UNIO KAMS, pertemuan para imam dilanjutkan dialog persaudaraan di antara para imam. Beberapa hal pokok yang dibicarakan bersama adalah kelanjutan rencana pembangunan rumah UNIO KAMS, pengembangan suasana persaudaraan dalam wadah UNIO, aktivitas on going formation bagi para imam di KAMS.
Pertemuan para imam ditutup dengan nyanyi dan makan malam bersama dalam suasana persaudaraan tidak hanya dengan para imam tetapi juga dengan umat Paroki St. Klemens Kolaka yang berkesempatan untuk hadir. Semoga sukacita imamat dapat menjadi sumber kegembiraan bukan hanya bagi para imam tetapi juga para domba gembalaan. *** Catatan: informasi tulisan ini diperoleh dari notulensi pertemuan para imam yang dibuat oleh Pastor Vius Oktavianus.

Rabu, 02 Maret 2016

IN MEMORIAM: PASTOR RUDY ROBERTUS KWARY, PR

Oleh Tim Redaksi Buletin KOINONIA, saya diminta untuk menuliskan pengalaman hidup bersama P. Rudy. Sebetulnya, ada orang yang lebih cocok untuk itu, yaitu P. Leo Matius Arruan, teman seangkatannya. Tetapi karena diminta, saya mencoba menuliskan apa-apa saja yang saya masih ingat (maklum, sudah lanjut usia dan sering lupa ingatan). Meskipun berbeda usia dan angkatan (saya lebih senior daripada P. Rudy), namun sejak di Seminari Menengah St. Petrus Claver Makassar, kami sudah menjadi teman akrab. Kami selalu kompak dan solider, bukan hanya dalam hal biasa-biasa saja, tetapi juga dalam hal aneh-aneh alias „gilop-gilop“. Misalnya waktu di Seminari Menengah St. Petrus Claver Makassar, kami pernah membuat pusing P. Alex Paat selaku Prefek Disiplin karena pulang bermalam Minggu di rumah tanpa minta izin. Waktu di Seminari Tinggi St. Paulus dan Seminarium Anging Mammiri Yogyakarta, kami pernah mengusili para calon frater yang baru datang di Yogyakarta dengan memaksa mereka naik “andong” dari terminal bis ke asrama. Kami juga sering melakukan “operasi sapu jagat” untuk membersihkan buah-buah yang matang di kebun, dengan alasan daripada dimakan kelelawar lebih baik dimakan manusia. Untuk menambah wawasan dan pengalaman, kami berdua juga suka naik sepeda “ontel” untuk pergi mengajar Agama,  membina Pramuka dan melatih Drumband di berbagai sekolah. Untuk “refreshing” dari kepenatan studi, kami membentuk Band “The Blacus” yang beranggotakan beberapa frater “gilop-gilop” dari berbagai keuskupan. Selain itu, kami juga  suka pergi berlibur bersama ke Surabaya, Madura, dan tempat-tempat lain. Dan waktu bertugas bersama di Tana Toraja (saya di Paroki Mengkendek dan P. Rudy di Paroki Makale), kami sering mengadakan “duel meet” sepak bola antara Sekolah Minggu Mengkendek melawan Sekolah Minggu Makale di lapangan terbuka untuk menghibur masyarakat. Kami berdua juga suka mengadakan “kunjungan persahabatan” ke berbagai paroki lain (baik di Tana Toraja maupun di daerah lain) untuk mempererat persahabatan dengan rekan-rekan imam. Kunjungan persahabatan itu membuat kami sering nekat untuk berbalap ria dengan sepeda motor ke tempat-tempat yang jauh, bahkan sampai ke Makassar.
  P. Rudy adalah seorang sahabat sejati yang penuh perhatian dan pengertian terhadap teman, sehingga ketika ayam kesayangannya pun saya potong, ia tidak marah karena tahu bahwa saya lagi bosan makan tempe di asrama. Sebagai teman akrab dan sahabat sejati, P. Rudy selalu mau membagi rezekinya kepada saya. Misalnya ketika bertugas di Paroki Makale, ia sering mengirimkan “duku bai” kepada saya yang tinggal di desa Ge`tengan. Ketika bertugas di Paroki Pare-Pare, ia sering mengirimkan “pa`tong kide” alias “RW” kepada saya yang tinggal di Makassar. Dan ketika bertugas di Baruga Kare, ia sering membawakan saya di Pastoran Gotong-Gotong mangga, jagung, pisang, nangka, ayam dan sebagainya. P. Rudy adalah seorang imam yang menghayati imamatnya dengan penuh semangat dan kegembiraan. Di mana pun ia ditugaskan, ia selalu melayani umat dengan ceria dan canda. Bahkan ketika sakit dan dirawat di rumah sakit, baik di Stella Maris maupun di St. Carolus, ia tetap bersemangat dan bergembira. Sambil melupakan penyakitnya, ia masih bergurau dengan mengajak saya untuk bertanding “batu akik” yang sedang trendi. Pendek kata, P. Rudy memang hidup dengan motto “In Search of Meaning” yang ia tempelkan pada kendaraannya. Sesuai dengan motto tersebut, ia sedang mencari-cari arti kehidupan, termasuk arti penyakit yang dideritanya. Saya percaya bahwa sekarang ia telah menemukan arti kehidupan yang ia cari selama hidupnya di muka bumi ini. P. Rudy, teman akrab dan sahabat sejati, selamat beristirahat dan berbahagia di alam baka. Jadilah pendoa untuk kami yang masih sedang mencari-cari arti kehidupan di muka bumi ini. *** Penulis: Pastor Hendrik Njiolah, Pr

Senin, 21 Juli 2014

IMAM SEDERHANA DAN SUCI


Dalam tradisi liturgi Gereja Katolik, hari Kamis pagi sebelum perayaan Kamis Putih, di Gereja Katedral dirayakan ekaristi (lazim disebut Misa Krisma) yang dipimpin oleh Uskup setempat dan (semestinya) dihadiri oleh semua imam di keuskupan tersebut. Saat itulah dilakukan pemberkatan minyak katekumen, minyak krisma, dan minyak urapan orang sakit oleh uskup. Juga dilakukan pembaruan janji imamat dan ketaatan kepada Uskup oleh para imam.

     Para imam KAMS menyiapkan diri sebelum perayaan itu dengan berefleksi dan berbagi pengalaman dalam rekoleksi tanggal 2-3 April 2014 di Baruga Kare Makassar. Romo Emanuel Martasudjita Pr, dosen mata kuliah Liturgi Fakultas Teologi Weda Bhakti Kentungan, Yogyakarta, berkenan menjadi pembimbing. Romo Marta (dibaca: Marto, panggilan akrabnya) mengajak para imam, yang cukup banyak di antaranya pernah menjadi mahasiswanya, untuk terus-menerus mengobarkan karunia imamat yang telah dipercayakan oleh Yesus Kristus.

     Sumber inspirasi pokok yang digunakannya untuk menyusun bahan rekoleksi ini adalah: Cardinal Avery Dulles SJ, “Priest and Eucharist: No Higher Calling”, dalam Stephen J. Rossetti, Born of the Eucharist. A Spirituality for Priests, Notre Dame-Indiana: Ave Maria Press, 2009, hlm. 11-25.

     Tanpa mengabaikan banyaknya perhatian pelayanan pastoral kepada umat, demikian kata Romo Marto, Kardinal Dulles mengajak para imam untuk pertama-tama merenungkan hubungan tak terpisahkan antara imamat dan ekaristi (digarisbawahi oleh penulis). Ia suka memikirkan bahwa imamat itu lebih suatu perkara keberadaan perbuatan atau hal berbuat (priesthood is more a matter of being than of doing). Dengan tahbisan imamat seorang imam adalah imam, entah ia mengerjakan sesuatu atau tidak. Bahkan seandainya ia tidak melaksanakan pelayanan imamat pun, ia tetap seorang imam. Hakekat pelayanan imamat amat bagus terungkap dalam Surat kepada Orang Ibrani (Ibr 5: 1.3-4).

     Berikut ini disajikan beberapa butir permenungan dari rekoleksi para imam KAMS untuk para pembaca Koinonia:

1. Ekaristi - Imamat dalam pelayanan pastoral
Berkat tahbisan, para imam menerima imamat khusus atau jabatan; atas dasar sakramen baptis dan krisma, umat beriman menerima anugerah imamat umum. Dalam ungkapan Kardinal Walter Kasper: berkat tahbisan, para imam berperan untuk lebih melayani umat Allah sendiri. Peran para imam terutama adalah tugas pelayanan  di dalam Gereja atau umat Allah. Tugas seorang imam bagi umat beriman terletak pada karisma kepemimpinan. Peran para imam dalam tugas pelayanan kepada umat Allah adalah menjadi pemersatu umat: yaitu merengkuh dan memungkinkan berbagai karisma di tengah umat untuk dapat saling bekerjasama, berintegrasi dan bersinergi, sehingga bersama-sama dapat membangun tubuh Kristus.

     Di atas semuanya, peran imam yang selalu menjadi kerinduan umat tentunya keteladanan para imam itu sendiri dalam perkataan, perbuatan dan gaya hidup. Secara liturgis, bagian komuni mengingatkan para imam pada makna dan konsekuensi hidup seorang imam bagi umatnya. Berdasarkan praktek yang sudah berlangsung sejak lama, imam harus menerima komuni terlebih dahulu sebelum membagikannya kepada umat. Mengapa? Sebab sang tuan rumah sejati dalam perjamuan ekaristi adalah Tuhan sendiri. Dengan menerima terlebih dahulu, seorang imam mau menyatakan diri di depan umat, bahwa ia siap menjadi teladan dan menjadi orang pertama dalam berpartisipasi dalam kurban Kristus, menghayati seluruh sabda Tuhan dalam Kitab Suci, dalam memperjuangkan apa yang dikehendaki oleh Kristus, dan terutama siap untuk menderita sengsara dan ambil bagian dalam derita dan kematianNya. Dalam situasi Gereja pada abad-abad awal, arti hal ini jelas sekali: imam siap sebagai orang pertama yang dimartir! Menerima komuni dahulu melambangkan kesediaan keteladanan dan kemartiran para imam sesuai dengan apa yang mereka terima melalui komuni yang adalah kurban Kristus, yaitu kurban cintaNya kepada umatNya.

2. Doa imam sebagai pemimpin umat
Adalah peristiwa sehari-hari pelayanan seorang imam bahwa anggota umat meminta untuk didoakan, baik secara pribadi maupun dalam perayaan ekaristi. Mengapa mereka meminta imam untuk mendoakan mereka? Agaknya umat memandang para imam sebagai pendoa yang kuat dan hebat; doa para imam pun dipandang mujarab. Hal itu menimbulkan rasa bangga sekaligus rasa malu, karena para imam bisa saja kurang mendoakan umat.

     Melalui permenungan tentang doa Musa bagi bangsa Israel (Kel 32:7-14) para imam diyakinkan bahwa doa seorang pemimpin umat begitu tinggi nilainya, bagitu sakti dan begitu hebat daya dan pengaruhnya di hadapan Tuhan. Betapa tidak. Pertama-tama, terkesan seakan-akan Tuhan meminta persetujuan atau bahkan ijin kepada Musa untuk membinasakan bangsa Israel yang telah melanggar perjanjian denganNya: …biarkanlah Aku, supaya murkaKu … (Kel. 32: 9). Kedua, berkat doa Musa, Tuhan membatalkan malapetaka yang dirancangkanNya (Kel 32: 14).

3. Imam sebagai gembala jiwa
Panggilan imamat yang telah dianugerahkan Tuhan merupakan karunia luar biasa yang menempatkan para imam sebagai pemimpin umat, dalam arti gembala jiwa. Betapa berat sekaligus istimewa makna seorang gembala jiwa. Seorang imam ditahbiskan untuk mengantar kurban rohani umat beriman atas nama seluruh Gereja mencapai kepenuhannya dalam kurban Kristus Sang Pengantara Tunggal yang dipersembahkan dalam perayaan Ekaristi hingga kedatanganNya kembali.

     Tentu saja tidak mudah untuk menempuh dan menyelesaikan pendidikan imamat serta menerima tahbisan imamat. Namun, masih jauh lebih tidak mudah dan memerlukan proses waktu amat lama untuk menjadi imam yang menyadari dan melaksanakan tugas sebagai gembala jiwa. Sebab seorang gembala jiwa adalah seorang pemimpin rohani yang sangat kuat hidup doanya, sangat tekun mendoakan umatnya dan mendasari seluruh gerak pelayanannya baik dalam pewartaan Injil, pengudusan umat maupun dalam kepemimpinan jemaat dalam hidup doanya yang subur dan mendalam.

     Para imam diajak untuk senantiasa bersyukur karena didoakan oleh umat beriman di seluruh dunia, dilindungi oleh doa Bunda Maria dan Santo Yohanes Maria Vianney. Sekaligus diajak untuk semakin bersatu dengan Kristus, tinggal dalam Kristus, yakni dengan banyak berdoa. Dari kesatuan dengan Kristus itu segala karya pastoral akan menjadi berbuah, tidak selalu menurut pandangan manusiawi, tetapi justru pertama-tama berbuah dan berbobot dalam pandangan Allah.

4. Menjadi sederhana dan suci
Selama hidup di dunia Yesus yang menyatakan diri kepada orang-orang kecil dan memiliki waktu untuk bertemu secara pribadi dengan setiap orang. Ia mendatangi para calon murid satu per satu (Mrk 1:16-20), memberikan waktu kepada Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes saat Ia memanggil mereka (Luk 5:1-11). Dari atas salibNya Ia mendengarkan permintaan penjahat yang disalibkan bersamaNya (Luk 23:42-43) dan setelah bangkit Ia hadir secara penuh, penuh dan seluruhnya pada diri setiap orang, bahkan yang paling hina pun (Mat 25:40.45).

     Sekelumit kisah tentang Paus Yohanes XXIII yang tanggal 27 April 2014, bersama dengan Paus Yohanes Paulus II dikanonisasi sebagai Santo, dijadikan inspirasi bagi para imam zaman ini. Saat ditanya tentang kesanggupannya menjadi Paus, ia menjawab: ‘Menyadari kemiskinan dan kekecilan saya sudah membuat hati saya kacau. Akan tetapi, melihat kehendak Allah dalam pemungutan suara saudara-saudara saya para kardinal Gereja Roma yang kudus, saya menerima keputusan yang telah mereka buat; saya menundukkan kepala di depan piala kepahitan dan bahu saya di hadapan kayu salib”.

     Menurut dia, asas untuk hidup sederhana ialah: dalam segala-galanya, pikirkanlah tujuan. Artinya, setiap kali akan bertindak atau membuat pilihan seorang imam perlu berpikir tentang tujuan: untuk apa ia bertindak begini atau memilih yang itu. Bagi Paus Yohanes XXIII, jalan yang paling pasti untuk membuat diri suci dan berhasil dalam mengabdi Tuhan dan Gereja ialah pada usaha terus-menerus untuk mengurangi segala sesuatu (apapun) sampai ke tingkat yang paling sederhana dan kecil.

Akhirnya, Romo Marto menyimpulkan: menghayati hidup imamat sebenarnya sangat sederhana dan biasa, yaitu apabila setiap imam bergerak dari lingkaran inti: tinggal dalam Kristus. Segala karya pastoral mestinya mengalir dan hidup dari kesatuan dengan Tuhan, sebagaimana paling resmi dan tampak dalam perayaan ekaristi yang untuk itu seorang imam ditahbiskan. Akan tetapi penghayatan imamat sering menjadi rumit dan tidak mudah ketika terseret pada kerumitan hukum jasmaniah dan dunia ini.*** Penulis: RD Willibrordus Welle 

Minggu, 29 Desember 2013

Catatan dari Retret Imam Se-Indonesia di Via Renata

"Saya akan menyampaikan berita tentang retret ini ke seluruh penjuru dunia supaya semua orang yang mendengarnya menjadi iri”, kata Cantalamessa, lengkapnya Raniero Cantalamessa,  sambil tersenyum. Betapa tidak, para imam yang hadir berjumlah 300-an orang. Jumlah yang begitu mencengangkan dalam kariernya selama ini. Beliau adalah seorang imam Kapusin yang sudah sejak tahun 1980 bertugas sebagai pengkotbah Rumah Tangga Kepausan. Ia berkotbah untuk para Kardinal dan Paus di Istana Santo Petrus di Vatikan, dan tahun depan (2014) beliau berusia 80 tahun.

          Berita tentang retret ini hendak diwartakan ke seluruh pelosok bumi, karena dari pengalamannya memberikan retret kepada para imam di beberapa negara, inilah jumlah terbesar yang ditemuinya, yaitu di Indonesia. Hal mana menjadi indikasi bahwa Roh Kudus terus berkarya di bumi ini. Jelaslah bahwa kisah-kisah iman dalam Gereja bukanlah sejarah masa lampau, tetapi adalah pengalaman masa kini yang masih terus berlangsung.

          Retret dibuka dengan misa oleh Mgr. Ign. Suharyo (Uskup Agung Jakarta), dengan konselebran Mgr. B. Pujoraharjo Pr (Ketapang) dan Mgr. H. Moa Nurak SVD (Pangkalpinang). Bacaan Kitab Suci (Senin 16/9/2013), yaitu I Tim 2:1-8 dan Luk 7:1-10. Maka, dalam renungannya, Mgr. Suharyo mengatakan: “Rasul Paulus menggambarkan dirinya sebagai: pewarta, saksi, rasul, dan pengajar. Untuk menjadi seperti digambarkan Paulus, maka setiap orang hendaknya memiliki kematangan dalam kedekatan dengan: Tuhan, sesama, dan diri sendiri.” Mgr. Suharyo mengatakan bahwa perwira yang dipuji Yesus dalam Injil hari ini memiliki tiga kematangan tersebut, yaitu sadar diri bahwa ia tidak layak di hadapan Tuhan, dirinya sendiri hanyalah seorang bawahan, dan di bawahnya ada prajurit (cfr. Luk 7:6-8).

          Retret sepenuhnya dimulai hari Selasa 17/9 hingga Jumat 20/9-2013, maka berikut ini akan disampaikan refleksi dari hari ke hari sesuai dengan yang saya anggap penting untuk dicatat dan direnungkan dalam hidup sebagai orang beriman dan secara khusus sebagai imam.

1.  Selasa 17/9/2013: Roh Kudus itu Pencipta bukan ciptaan
Permenungan hari ini tentang Roh Kudus sebagai Pencipta, bahwa “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:1-2). Nampak bahwa Roh Allah sudah ada ketika bumi belum terbentuk dan kosong, maka Roh Allah itu Pencipta dan bukan ciptaan. Roh Allah yang melayang-layang menciptakan semesta (sebagai makro-kosmos) yang gelap dan kosong (chaos) menjadi baik adanya. Roh yang sama menciptabarukan manusia (sebagai mikrokosmos) secara terus menerus, dari ‘personal chaos’ (pribadi yang kacau) menjadi baik adanya pula. Roh Allah bagaikan ‘kosmetik’ yang terus memperindah dan “Ia membuat segala-galanya baik” (Mk 7:37). Semua peristiwa Roh Kudus itu bukanlah peristiwa pada saat tertentu di masa lampau sehingga menjadi ceritera sejarah, tetapi peristiwa yang berlangsung secara evolusi sampai hari ini.
Ketika Yesus diberi kitab nabi Yesaya di dalam rumah ibadat dan membuka nas yang bunyinya: “Roh Tuhan ada di atasKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberikan pembebasan bagi orang-orang tahanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun kesukaan Tuhan telah datang” (Lk 4:18-19; Yes 61:1-2), mengingatkan bahwa segala kuasa yang dilakukan Yesus terjadi karena Roh Tuhan ada padaNya. Roh Tuhan memampukan seseorang mengambil bagian di dalam kuasa Allah. Para murid diliputi ketakutan ketika Yesus dibunuh, tetapi peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus) telah memberikan mereka kekuatan dan keberanian untuk mewartakan Yesus yang bangkit ke seluruh penjuru dunia.

2.  Rabu 18/9/2013: Karisma-karisma Roh Kudus
Perlu disadari bahwa tindakan Roh Kudus itu membaharui dan membantu seseorang bertindak karismatis, bukan untuk kemuliaan nama orang itu, tetapi untuk membangun komunitas. Tindakan karismatis Roh Kudus itu dapat dibaca pada I Korintus 12 dan 13; bahwa karisma-karisma itu diberikan kepada setiap orang beriman: klerus, rohaniwan/i (biarawan/i), dan umat awam. Para imam wajib menemukan dan membimbing karisma-karisma yang ada pada umat, karena umat bukan pembantu yang menjadi obyek pengembangan iman, tetapi mereka adalah subyek dan pelaku pengembangan iman.
Dunia modern ini adalah dunianya pencarian karisma untuk pengembangan hidup. Kita dapat menyaksikan dalam dunia sepak bola, apabila ada seorang anak muda yang memiliki kemampuan untuk sepak bola maka dikembangkan oleh pelatih sampai menjadi profesional. Demikian pula dalam dunia musik, tinju, dan lainnya. Maka, para imam juga harus mencari karisma-karisma rohani di kalangan umat dan membantu mengembangkannya agar umat dapat terlibat secara aktif di dalam Gereja.
Efek-efek buruk bila tidak memiliki Roh Kudus ialah Allah terasa begitu jauh (membiarkan manusia), Yesus Kristus menjadi cerita masa lalu (semacam dongeng iman), Alkitab menjadi kata-kata mati (dirasa seperti buku-buku profan), liturgi menjadi kebiasaan (sehingga lebih merasa wajib secara terpaksa daripada menjadi kebutuhan rohani), orang-orang kristiani menjalani hidup seperti budak iman (cenderung mengikuti aturan secara hurufiah daripada menghidupi nilai-nilai aturan), dan seterusnya. Orang kristen sejati itu bukan menduga-duga apa yang akan terjadi, tetapi menemukan kehadiran Yesus sekarang, sehingga dengan tegas mengatakan: Inilah Anak Domba Allah. Roh Kudus mendorong untuk: mewartakan Yesus Kristus, menjadikan Yesus nyata, membantu orang beriman mengenal Yesus, dan seterusnya.
Memang, buah-buah Roh itu penting, tetapi yang paling penting ialah benih-benih Roh. Kita memang membutuhkan buah dari sebatang pohon, tetapi kiranya yang paling penting ialah benih yang baik yang memberikan daya agar pohon itu bisa bertumbuh dan menghasilkan buah yang baik.

3.  Kamis 19/9/2013: Tentang hidup selibat
Agama kristen bukanlah agama dualistik, antara baik dan jahat, tetapi kita hanya percaya kepada Yesus Kristus. Maka, tidak perlu berkelahi dengan setan, karena kita tidak mempunyai urusan dengan setan. Percaya dan hidup bersama Yesus itu saja setan sudah kalah. Apabila kuasa setan merasuki kehidupan kita, maka itu menjadi indikasi bahwa kita masih berurusan dengan setan.
Kalau kita supporter seseorang dari dua orang yang sedang berkelahi, dan apabila orang yang kita support itu menang, maka kita ambil bagian dalam kemenangannya. Artinya, yang menang adalah si petarung itu, sedangkan kita hanya ‘numpang nge-top’ (ikut ramai secara anonim dalam kemenangannya). Beda dengan Yesus Kristus: Ia ‘berkelahi’ dengan setan dan merebut kemenangan untuk memberikan mahkota kemenangan kepada orang-orang yang percaya kepadaNya.
Imamat dan hidup murni (kemurnian) termasuk mahkota kemenangan dari Yesus Kristus, sehingga mestinya menjadi sebuah karisma/ rahmat dan bukan beban. Dalam Injil Matius 19:10-12 dikatakan bahwa ada tiga sebab seseorang tidak menikah: karena dilahirkan demikian, karena situasi tidak memungkinkan, dan karena pilihan bebas demi Kerajaan Allah. Yesus mengadakan revolusi atas paham tentang nikah, karena bagi orang Yahudi nikah adalah kewajiban, sehingga tidak nikah berarti berdosa. Revolusi Yesus ialah bahwa nikah adalah sebuah pilihan, sehingga nikah menjadi panggilan hidup, bukan kewajiban hidup.
Kerapkali orang berpikir deterministis bahwa nasib manusia sudah ditentukan, padahal menurut Alkitab manusia dapat berproses menjadi apa saja, karena Roh Kudus tak henti-hentinya membaharui menuju kesempurnaan final. Secara ONTOLOGIS selibat tidak lebih tinggi daripada menikah, hanya secara ESKATOLOGIS selibat agak lebih maju karena menjadi simbol kehidupan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sudah hadir di dunia ini karena ada orang-orang tertentu yang menghadirkannya, walaupun belum sempurna, sehingga kita selalu berdoa: ‘Datanglah KerajaanMu.’
Kita dapat menemukan dalam I Korintus 7:32-35 bahwa jiwa dari selibat ialah relasi pribadi dengan Yesus Krisus, yaitu memusatkan perhatian hanya kepada perkara Tuhan, agar tubuh dan jiwa menjadi kudus. Jika tidak ada relasi pribadi dengan Yesus Kristus, maka selibat menjadi kering dan mulai mencari-cari kasih yang lain. Orang sering berpikir bahwa Yesus bangkit lalu naik ke surga dan akan kembali pada suatu saat, membuat manusia (termasuk kaum selibater) merasa bergumul sendiri, padahal Yesus tetap ada di sini secara rohani. Kontak mata dan kontak fisikal lain tidaklah bersifat abadi, tetapi kontak rohani dan mengembangkan kualitas cinta kasihlah yang bersifat abadi.
Selibat adalah sebuah karisma yang diberikan Allah kepada kita, bukan kita yang memberikan hidup selibat kepada Allah.
Ketika berbicara tentang selibat,  seorang imam muda bertanya kepada seniornya: ‘Bukankah Tuhan menciptakan mata untuk melihat segala sesuatu?’ Jawab seniornya: ‘Memang benar, Tuhan menciptakan mata untuk melihat segala sesuatu, tetapi  ingat bahwa Tuhan juga menciptakan kelopak untuk menutup mata bila berhadapan dengan sesuatu yang tidak layak untuk dilihat.’ 
  
4.  Jumat 20/9/2013: Tentang Bunda Maria
Allah adalah kasih. Ia hadir di tengah sejarah manusia dalam kasih. Betapa hebatnya perkembangan manusia, kasih tetap dibutuhkan sepanjang zaman. Orang yang berduka sekali pun dapat menerima bila mengalami kasih. Kasih Allah terlaksana secara sempurna melalui inkarnasi Sabda menjadi Manusia, yaitu kelahiran Yesus Kristus melalui Maria.
Seorang bayi dalam rahim biasanya sangat tergantung kepada ibunya, tetapi ia akan bernafas sendiri ketika lahir. Sebagai manusia, Yesus pun memiliki ikatan yang erat dengan Maria saat dalam rahimnya, sehingga relasi yang sangat intens ini dipelihara dengan baik oleh Maria. Itulah sebabnya, Maria adalah pribadi karismatis pertama di dalam Gereja.
Maria berada dalam 3 peristiwa penting Gereja: Pertama: Peristiwa Inkarnasi Sabda. Maria mengandung pertama-tama di dalam hati dan iman, setelah itu barulah dalam rahimnya. Mengandung tanpa suami pada zaman Maria adalah sebuah bencana, karena wanita seperti itu biasanya dirajam. Di sinilah nilai kepribadian Maria, bahwa ia berani menanggung pilihan hidup yang bertentangan dengan tradisi zamannya.
Kedua: Peristiwa Paskah. Maria menyaksikan secara langsung semua peristiwa Paskah. Sama seperti Abraham yang mengantarkan Isak ke tempat korban, demikian pula Maria mengantarkan Yesus kepada penebusan dunia. Yesus tidak menampakkan diri kepada Maria, ibuNya, ketika bangkit dari kubur karena Ia ada di dalam Roh bersama Maria. Ketiga: Peristiwa Pentakosta. Ketika para murid berdoa, Maria berada di tengah mereka. Pentakosta bagi Maria adalah janji Malaikat bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan ia akan melahirkan seorang Putera, yang disebut Emanuel. Sedangkan Pentakosta bagi Gereja ialah ketika para murid sedang berdoa dan dipenuhi oleh Roh Kudus. *** Penulis: Pastor Felix Amias MSC