Tampilkan postingan dengan label stikpar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stikpar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

WISUDA STIKPAR 2016





Pada usianya yang ke-14 tahun STIKPAR (Sekolah Tinggi Kateketik dan Pastoral Rantepao) TORAJA menamatkan lagi 23 Sarjana Strata Satu  di bidang Agama (S.Ag.).
              Kini alumni STIKPAR Toraja yang didirikan oleh Uskup Agung Keuskupan Makassar pada tahun 2002 berjumlah 680 orang, yakni: D2: 234 orang, D3: 53 orang, S1: 391 orang).  Para alumni ini sebagian besar telah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sebagian bekerja di lingkup internal Gereja Katolik dan sejumlah kecil berwirausaha.
Mahasiswa yang sedang menjalani formasi di STIKPAR pada Tahun Akademik 2016/2017 berjumlah: 109 orang. ***

Senin, 24 Desember 2012

Wisuda Sarjana VII STIKPAR Toraja


Senja hari Sabtu, 3 November 2012, pukul 15.00 WITA, diiringi cuaca yang cerah, dan suasana sukacita yang melingkupi setiap insan akademik, Sekolah Tinggi Kateketik dan Pastoral Rantepao (STIKPAR) Toraja melangsungkan Wisuda Sarjana VII bagi lulusannya. Mereka yang diwisuda merupakan lulusan Ujian Negara pada Juni 2012, yang berjumlah 21 orang dan terdiri dari 12 orang perempuan dan 9 orang laki-laki, namun hanya 20 yang mengikuti wisuda. Satu orang  tidak dapat menghadiri wisuda karena sudah pulang ke negaranya, Timor Leste.  

Para wisudawan melangkah bangga dan teratur dalam prosesi menuju aula, disaksikan orang tua dan sanak saudara serta para undangan. Mereka mengikuti wisuda yang menandakan selesainya pendidikan di STIKPAR dan siap membaktikan diri ke tengah-tengah masyarakat dan Gereja.  Mereka mendapat gelar Sarjana Agama (SAg) dan dengan gelar tersebut siap menjadi rasul, yakni Katekis dan Tenaga Pastoral yang profesional, tangguh dan bermoral Katolik, baik sebagai Guru Agama di Sekolah maupun petugas pastoral di paroki. Siap menjadi garam dan terang dunia dalam masyarakat dewasa ini. 

Wisuda ini dilaksanakan di kampus STIKPAR sendiri yakni di aula IKAR, yang didekorasi oleh tangan-tangan kreatif mahasiswa. Aula yang sederhana tersebut di-“ciptakan” sesemarak mungkin dengan jiwa seni yang tertuang sangat harmonis, tidak kalah dengan dekorasi di gedung-gedung megah. Diiringi tarian Sanda Oni dan Pa’Gellu’ Modern yang ditarikan mahasiswa dan kelompok paduan suara yang berasal dari mahasiswa-mahasiswi STIKPAR Toraja juga memberikan dukungan dengan menyumbangkan lagu Gaudeamus Igitur dan Mars STIKPAR. Suasana hikmat ini melahirkan keharuan dan semarak sukacita di hati para wisudawan-wisudawati yang berbangga karena telah menyelesaikan pendidikan dan kini siapkan membaktikan diri di tengah umat dan masyarakat dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama di bangku kuliah. Mereka menyadari bahwa wisuda ini merupakan tahap akhir pendidikan di kampusnya, namun bukan merupakan akhir dari kegiatan belajar. Mereka akan belajar terus menerus ketika terjun ke masyarakat dan di tengah-tengah umat. Ini terungkap dalam sambutan wakil wisudawan yang dibawakan oleh Sdri. Herdha Resty Pagiling, S.Ag. Mereka bersyukur bisa menikmati pendidikan di STIKPAR, karena mereka bukan hanya mendapat pengetahuan tapi juga keterampilan dalam berpastoral dan berkatekese lewat praktek-praktek terjun langsung ke tengah umat melalui kegiatan Week-end Pastoral, Praktek Mengajar Agama di Sekolah-Sekolah dan Kuliah Kerja Nyata.

Wisuda Sarjana ke-7 pada usia 10 tahun STIKPAR Toraja semakin sempurna karena dilengkapi dengan orasi ilmiah yang dibawakan oleh DR. Ir. Bruno Sa’pang Samawali, MM, MS. Beliau membawakan orasi dengan mengangkat topik Tanggungjawab Kerasulan Awam dalam Kehidupan Berpolitik. Dalam orasi tersebut beliau menegaskan lagi bahwa kerasulan politik merupakan tugas panggilan bagi awam Katolik yang didasari nilai-nilai spiritualitas Katolik dalam kehidupan politik. Berbekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan, disemangati motto: “Kitab Suci di Tangan Kanan dan Linggis di Tangan Kiri”, para wisudawan/wati yang sebentar lagi akan terjun ke masyarakat siap mengemban tugas kerasulan di tengah dunia untuk mewartakan Kabar Gembira keselamatan kepada semua orang, siap menjadi garam dan terang dunia, siap menjadi rasul di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, termasuk keterlibatan di bidang politik.

Hadir mewakili Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, sekaligus mewisuda para wisudawan adalah Kepala Subdit Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik, Albertus Triatmojo, S.S., M.Si, dan mewakili Bapa Uskup Keuskupan Agung Makassar, yakni Sekretaris KAMS, Pastor Drs. Fransiskus Nipa, Pr., Lic. IC. Undangan hadir dari unsur pemerintahan mewakili Bupati Toraja Utara adalah Asisten Pemerintahan: Sekretaris Daerah Kabupaten Toraja Utara, Drs. Innocentius Rantesapan, MM. Dan undangan lain berjumlah ±200 orang.

Dengan diwisudanya 20 wisudawan pada kesempatan wisuda sarjana VII ini, maka jumlah alumni STIKPAR Toraja secara keseluruhan mulai dari Wisuda I pada tanggal 18 Oktober 2003 sampai dengan Wisuda Sarjana VII tanggal 3 November 2012 berjumlah 480 orang, dengan rincian 239 orang D-2, 53 orang D3 dan 188 orang Sarjana Strata Satu. Mereka tersebar di berbagai daerah nusantara dan menjadi tenaga pastoral serta katekis, baik di paroki maupun di sekolah-sekolah sebagai guru agama, baik sebagai PNS maupun Pegawai Swasta. Dalam sambutannya pada acara Wisuda Sarjana VII ini, Ketua STIKPAR Toraja, Pastor Drs. Stanislaus A. Dammen, Pr., S.S., MPS, MA berpesan kepada para wisudawan untuk setia melayani setiap orang dalam berbagai situasi hidup mereka secara tulus, sepenuh hati dalam iman dan moral Katolik. Setia mengembankan visi dan misi STIKPAR. Setelah diwisuda, keesokan harinya, 4 November 2012 para wisudawan diutus melalui Missio Canonica (Misa Pengutusan) di gereja Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Makale.

STIKPAR Toraja didirikan oleh Keuskupan Agung Makassar dengan SK Uskup Nomor 0108/C-6.8/2002 pada tanggal 1 Agustus 2002 dan mendapat Izin Operasional dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI dengan SK Nomor DJ.IV/Hk.00.5/101/2002 pada tanggal 21 November 2002. STIKPAR Toraja telah memasuki usia yang ke-10, dan telah melaksanakan Wisuda Sarjana VII. STIKPAR Toraja menjadi mitra pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain melaksanakan Program Studi Reguler, melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, sejak tahun 2009 STIKPAR telah ditunjuk menjadi salah satu LPTK Induk Penyelenggara Sertifikasi bagi Guru Agama Katolik dalam Jabatan di Indonesia, dan telah meluluskan dan menerbitkan Sertifikat Pendidik bagi 436 Guru Agama Katolik dalam jabatan. Sejak tahun 2011, STIKPAR juga melaksanakan program yang dirancang oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kemenag RI untuk Guru Agama Katolik Dalam Jabatan yang belum memiliki kualifikasi S1 melalui program Dual Mode System (DMS). Sekarang STIKPAR Toraja dalam proses Akreditasi Program Studi dan lembaga Perguruan Tinggi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Kini STIKPAR tetap setia melaksanakan visi dan misinya, menyediakan katekis dan tenaga pastoral yang profesional, tangguh dan bermoral Katolik dalam hidup menggereja dan memasyarakat. STIKPAR akan terus melahirkan pewarta-pewarta Kabar Gembira yang siap berkarya melintasi badai guntur, jurang tebing, mendaki gunung, menyeberangi lautan demi mewartakan Cinta Tuhan.*** Penulis: Sr. Andrea Goreta SFIC 

Minggu, 19 September 2010

Perjalanan ke Tana Toraja bersama Dubes Vatikan

Sebuah perjalanan yang tidak terlupakan ketika harus mendampingi seorang Duta Besar Vatikan untuk Indonesia. Mau dikatakan bangga; iya juga, senang apalagi! Edisi Koinonia kali ini, penulis ingin berbagi pengalaman yang bisa dikatakan cukup langka, unik dan sulit untuk diulang.

Pagi yang cukup cerah pada tanggal 6 September 2010, kami berkumpul di Kantor Keuskupan Agung Makassar Jl. Thamrin, Makassar untuk mempersiapkan penjemputan dan perjalanan ke Toraja bersama Duta Besar Vatikan untuk Indonesia (Nuncio) yakni Mgr. Leopoldo Girelli.

Waktu menunjukkan pukul 09.30, Pastor Frans Nipa (sekretaris KAMS) mengarahkan para rombongan yang akan berangkat menjemput Duta Besar di Bandara Hasanuddin. Rombongan yang menumpangi 5 (lima) mobil terdiri dari mobil patroli/Polisi, mobil untuk Duta Besar yang ditemani oleh Bapa Uskup Agung Makassar (Mgr. John Liku-Ada’), mobil berikut untuk Direktur Pendidikan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Drs. Natanel Sesa, M.Si. yang juga hadir mendampingi Duta Besar Vatikan, mobil berikutnya ditumpangi oleh Pastor Frans Nipa, Pastor Albert Arina (ekonom KAMS) dan mobil yang terakhir ditumpangi oleh Pastor Marsel Lolo Tandung. Seluruh rombongan berjumlah 20 orang.

Kurang lebih 25 menit dari Keuskupan kami tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, dengan bantuan dari personil Polda Sulsel kami diperbolehkan masuk menjemput langsung Duta Besar Vatikan Mgr. Leopoldo di ruang kedatangan penumpang. Tidak begitu lama menunggu akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh Duta Besar dan Direktur Pendidikan Agama Katolik Kementerian Agama RI tiba dengan selamat. Bersama dengan pengawalan dari POLDA Sulsel kami menuju ke Jalan Serui, mampir di RM. MAMA untuk santap siang bersama sebelum melanjutkan ke Toraja. Suasana yang begitu penuh kekeluargaan, kami di sambut oleh Pak Sonny dan Ibu Mimi di RM. Mama. Bapa Uskup sempat berbisik, “Saya berharap kita masih sempat melihat Bambapuang sebelum gelap”, dari 9 kata tersebut saya merasakan bagaimana Bapa Uskup sangat ingin memperlihatkan keindahan alam yang ada di Sulawesi Selatan atau dengan kata lain sangat ingin melayani tamu secara maksimal.

Sekitar pukul 12.30 siang kami melanjutkan perjalanan menuju ke Tana Toraja. Perjalanan yang cukup melelahkan dengan jalan beton yang terpotong-potong karena belum selesai pengerjaannya membuat kami cukup was-was. Di mobil, kami sempat bercanda, “jalanan rusak seperti ini pasti susah ditemukan di Roma dan ini pengalaman baru buat beliau/Nuncio”.

Akhirnya kami tiba di RM. Dinasty, kota Pare-Pare; perjalanan yang ditempuh sekitar 3 jam dari Kota Makassar. Di RM. Dinasty, kami disambut oleh Pastor Paroki Pare-Pare, Pastor Willem Tulak bersama dengan beberapa orang ibu dari WKRI. Pastor Willem sengaja mengarahkan rombongan ke RM. Dinasty supaya rombongan bisa lebih fresh dibandingkan harus beristirahat di paroki. Sambil minum kopi dan mencicipi kue yang tersedia tiba-tiba Nuncio, Mgr. Leopoldo, bertanya ke Pastor Willem, “Pastor, Gereja kamu berada di mana? Saya mau mampir”. Wah… antara senang dan gelisah menjadi satu, Pastor Willem menjawab: “Dekat kok, Mgr. Silakan mampir”. Pastor Willem langsung menghubungi koster untuk membuka Gereja dan segera Pastor kembali ke Paroki untuk menunggu kehadiran Duta Besar Vatikan. Berbagai pertanyaan yang muncul di benak saya: “kira-kira apa yang mau dilakukan Nuncio di gereja Paroki Pare-pare? sekedar melihat-lihat atau berkeliling di gereja?” Ternyata dugaan kami salah, Mgr. Leopoldo sesampai di Paroki langsung masuk ke gereja dan berlutut untuk berdoa di kursi umat. Sesudah berdoa, Mgr. Leopoldo maju ke depan sambil memanggil orang-orang yang ada di dalam gereja. Beliau mengajak untuk berdoa bersama buat Gereja dan umat yang ada di Paroki Pare-pare.

Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke Toraja, sepanjang jalan dari kota Pare-pare kami disambut dengan hujan yang cukup lebat; saya sempat berpikir bagaimana menjawab harapan dari Bapa Uskup untuk memperlihatkan gunung Bambapuang dengan kondisi seperti ini. Pasti secara manusiawi hal itu sangat mustahil bahkan sekitar 5 menit lagi kami tiba, hujan tidak juga reda tetapi itulah kuasa dari Tuhan.

“Mintalah maka kamu akan diberikan”. Setiba di tempat yang dimaksud untuk melihat perbukitan Bambapuang, hujan reda dan awan seperti ditiup angin sehingga begitu indahnya gunung Bambapuang terlihat dari tempat kami mampir. Puji Tuhan karena akhirnya harapan dari Bapa Uskup terjawab juga. Ketika akan memasuki Wilayah perbatasan Tana Toraja dari Kab. Enrekang ditambahkan pengawalan dari Polisi setempat dengan 2 motor PJR dan 1 mobil pengawalan.
Tepat pukul 20.00 kami tiba di Hotel di Rantepao, kami disambut oleh Pejabat Bupati Toraja Utara, Drs. H. Tautoto Tana Ranggina Sarungallo, M.Si, Komandan Kodim 1414 Tana Toraja, Letkol. ARH. Darius Allo Tangko yang juga adalah Ketua Panitia Kedatangan Dubes di Tana Toraja, Ketua DPRD Toraja Utara, Khrisma Pirade dan beberapa anggota DPRD Toraja Utara dan Muspida Toraja Utara serta tokoh-tokoh umat di Tana Toraja.

Pagi yang cerah dengan udara pegunungan nan sejuk bertiup semilir seraya menyosong pagi yang cerah. Alam Toraja menyapa hadirnya seorang Duta Besar Vatikan untuk Indonesia. Pagi itu, di hari pertama, jam menunjukkan pukul 07.30 Wita. Duta Besar Mgr. Leopoldo Girelli disambut meriah secara adat Toraja. Nuncio didampingi oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada’, Pr., dan Direktur Pendidikan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Drs. Natanel Sesa, M.Si., bersama rombongan umat dari Makassar. Acara penyambutan secara adat berlangsung di Jl. A. Mappanyuki, tepat di depan Hotel Indra Toraja. Pejabat Bupati Toraja Utara, Drs. H. Tautoto Tana Ranggina Sarungallo, M.Si memasangkan pasapu’ (tudung kepala khas Toraja) lalu mengikatkan sebilah PARANG Toraja yang dikenal dengan nama la’bo’ di pinggang Mgr. Leopoldo.

Seusai penyambutan secara adat, Nuncio dan rombongan berarak menuju gereja Paroki St. Theresia Rantepao, Toraja Utara. Prosesi tersebut didahului oleh tarian Sanda Oni (artinya: aneka bunyi), suatu tarian penyambutan tamu. Sepanjang jalan menuju gereja Theresia, para Pastor dan Biarawan-Biarawati, anak-anak sekolah dan seluruh umat berdiri di tepi jalan. Mereka menyambut dengan sukacita kedatangan Duta Besar Vatikan. Hari Selasa, 07 September 2010, merupakan hari bersejarah bagi umat Katolik di Kevikepan Toraja. Hari itu menjadi momen istimewa dalam peziarahan iman Gereja Katolik di Toraja dengan hadirnya Mgr. Leopoldo Girelli, wakil Sri Paus Benediktus XVI, di bumi Toraja yang membawa berkat apostolik untuk seluruh umat.

Tepat pukul 08.30, Nuncio memimpin misa Missio Canonica bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Kateketik & Pastoral Rantepao (STIKPAR) Tana Toraja di gereja St. Theresia Rantepao. Ada 42 mahasiswa yang menerima perutusan, 32 perempuan dan 10 laki-laki. Dalam misa pengutusan, para utusan menerima Salib dan Kitab Suci. Salib menjadi tanda penderitaan dan pengorbanan serta kemenangan Kristus atas maut. Dengan menerima salib, para utusan diharapkan mampu menghayati pengorbanan Kristus dan menyatakan kemenangan salib kepada dunia. Sementara itu, Kitab Suci menjadi pedoman hidup beriman dan inti pewartaan mereka. Dengan membaca dan menghayati sabda Allah, mereka dikuatkan untuk mewartakan dan melaksanakan sabda Allah dalam karya dan perutusan mereka di bidang katekese dan pastoral. Maka, salib dan sabda Allah menjadi fondasi spiritual perutusan mereka sebagaimana ditegaskan dalam doa pengutusan: “Seperti Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani, demikian juga mereka mau menghayati semangat pelayanan Kristus.”

STIKPAR Tana Toraja yang mulai melaksanakan pendidikan pada jenjang Perguruan Tinggi (PT) tahun 2002, mempunyai motto: Kitab Suci di tangan kanan dan Linggis di tangan kiri. Motto tersebut disinggung oleh Nuncio dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk: Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi, atau Iman dan Ilmu Pengetahuan). Fides atau iman itu terungkap dalam Kitab Suci. Sementara Ratio atau akal budi atau ilmu pengetahuan dipadankan dengan linggis. Secara singkat dan padat, Nuncio menjelaskan eratnya kaitan antara iman dan ilmu melalui motto STIKPAR yakni relasi antara Injil (Kitab Suci) dan Linggis (alat kerja: perbuatan). Seusai perayaan misa Missio Canonica, kami mengunjungi situs budaya di lokasi objek wisata Ke’te’ Kesu’ yang terletak di wilayah Kab. Toraja Utara. Di objek wisata itu, Nuncio dapat melihat dan menikmati kekayaan budaya Toraja. Di Ke’te’ Kesu’ terbentang suatu kompleks rumah adat Toraja (Tongkonan) dan lumbung (alang). Selain itu, juga ada pekuburan batu (liang) serta kuburan gantung.

Pada sore hari Nuncio mewisuda 42 mahasiswa STIKPAR Tana Toraja, Program S1, di aula Pongtiku KODIM 1414 Tana Toraja. Dalam Orasi Ilmiah, Mgr. Leopoldo menguraikan secara mendalam ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1998 itu. Iman dan Akal Budi saling mengandaikan dan saling memperkaya. Iman tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Iman mendasari perkembangan ilmu pengetahuan. Tiada suatu pun yang diselidiki dan diketahui oleh manusia berasal dari dirinya sendiri, sebagaimana ditegaskan mulai dari bagian awal Kitab Kejadian, bahwa Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Dalam terang iman, kita melihat bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah. Oleh Karena itu, iman dan ilmu pengetahuan (ratio) mempunyai kaitan yang erat dan resiprokal (timbal balik, red.). Mengutip tulisan santo Yakobus, Nuncio menegaskan bahwa jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (Yak 1:14). Demikian halnya, perbuatan merupakan perwujudan iman. Seluruh rangkaian acara hari ini diakhiri dengan pertemuan tatap muka dubes Vatikan dengan para pastor, biarawan-biarawati dan unsur depas se-Kevikepan Toraja.

Esoknya, pada hari kedua, rombongan Nuncio bertolak dari tempat penginapan menuju Sangalla dalam rangka pemberkatan gereja Paroki Kristus Imam Agung Abadi (KIAA) dan sekaligus dirangkaikan dengan penerimaan sakramen Krisma untuk 200-an orang. Gereja paroki yang diberkati ini terletak di atas bukit yang diberi nama: Buntu Salombe’. Penamaan bukit ini mempunyai makna profetis. “Nama lokasi berdirinya gereja ini mempunyai arti istimewa. Dalam bahasa Toraja, buntu artinya: bukit, sementara salombe’ artinya: berbaju panjang (jubah). Maka, Buntu Salombe berarti bukit yang berjubah. Penamaan tempat ini sebagai suatu doa,” demikian Vikep Toraja, Fransiskus Arring Ada’, Pr menguraikan nama lokasi berdirinya gereja paroki KIAA ketika ia memberikan sambutannya. Selaras dengan nama lokasinya, paroki ini telah melahirkan sejumlah kaum berjubah (klerus/religius, red.) dan tercatat hingga hari ini: 1 Uskup, 27 Pastor, 19 Suster dan 5 Bruder/Frater. Doa “bukit berjubah” terealisasi dengan lahirnya sekian banyak kaum berjubah dari gereja paroki yang terletak di atas Buntu Salombe.

Selain menjadi suatu perayaan iman dan peristiwa sejarah paroki KIAA, pemberkatan gereja itu menjadi suatu pesta budaya. Seusai misa pemberkatan gereja, perayaan bersama dilanjutkan dengan acara adat yang dimeriahkan dengan perarakan lettoan (babi yang ditandu dan dihias dengan aneka bunga dan janur), tarian pa’bugi’, tarian pa’gellu’ dan tarian pa’papangngan. Selain Dubes Vatikan untuk Indonesia, acara adat dan budaya itu juga dihadiri sejumlah Muspida dan para pejabat pemerintah Kab. Tana Toraja.

Sesudah mengikuti kegiatan di Gereja Paroki KIAA Sangalla’ kami bersama rombongan menyempatkan mampir di kuburan bayi dalam pohon dilanjutkan ke pesta budaya orang mati di Keluarga Pastor Petrus Bine.

Pada malam harinya sesudah makan malam sekitar pukul 21.30 kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Makassar, dan tiba di Makassar pukul 06.00.

Tanggal 9 September bertepatan dengan ulang Tahun Seminari Santo Petrus Claver, Mgr. Leopoldo menyempatkan mampir untuk menyapa dan memberikan berkat apostolik dari Bapa Paus Benediktus XVI kepada para seminaris. Pukul 10.00 kami mengantar Duta Besar ke Bandara Sultan Hasanuddin untuk kembali ke Jakarta.

Semoga dari pengalaman ini, kita semua semakin dikuatkan akan cinta dan pelayanan kepada Tuhan dan sesama. *** Penulis: Risdianto Tunandi

Sabtu, 03 Oktober 2009

Wisuda IV STIKPAR Tana Toraja Meluluskan 51 Mahasiswa

Di tengah-tengah kesibukan pemeriksaan portofolio dalam rangka sertifikasi Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan, kami diminta untuk menuliskan beberapa hal terkait dengan pelaksanaan Wisuda IV STIKPAR Tana Toraja. Setiap kesempatan yang ada kami manfaatkan untuk memberikan gambaran mengenai pelaksanaan Wisuda IV STIKPAR.

Pada hari Sabtu, 8 Agustus 2009, Sekolah Tinggi Kateketik & Pastoral Rantepao, Tana Toraja kembali meluluskan mahasisnya. Upacara kelulusan dilaksanakan dalam sidang terbuka Senat Sekolah Tinggi Kateketik & Pastoral Rantepao. Tidak seperti upacara wisuda yang kita jumpai di berbagai sekolah tinggi dan perguruan tinggi lainnya, acara wisuda kali ini dilaksanakan pada sore hari, yakni pada pukul 15.00 WITA. Ini merupakan wisuda yang keempat kalinya diselenggarakan oleh STIKPAR. Direktur Pendidikan Agama Katolik Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Dep. Agama RI, Bupati Toraja Utara, Pastor Sekretaris Keuskupan Agung Makassar, Pastor Ketua Komisi Pendidikan KAMS, Penyelenggara Bimas Katolik Kab. Tana Toraja, para pastor, katekis, biarawan-biarawati, tokoh-tokoh masyarakat, pemuka-pemuka agama, Civitas Akademika ISI Denpasar, Mahasiswa calon wisudawan beserta keluarga dan para undangan lainnya, menjadi satu menyaksikan Wisuda IV STIKPAR Tana Toraja.

Selama tiga tahun terakhir ini STIKPAR tidak menyelenggarakan wisuda, namun itu tidak berarti bahwa tidak ada mahasiswa yang ujian dan dan tamat. Mahasiswa yang ujian dan tamat selamat tiga tahun tersebut tetap ada. Pada November 2007 ada Sembilan orang yang menyelesaikan program S-1. Pada November 2008 ada 14 orang yang menyelesaikan program D-3, sebagai angkatan terakhir dari program D-3 di STIKPAR Tana Toraja. Pada akhir Juni 2009, ada 28 orang menyelesaikan program S-1. Jadi jumlah keseluruhan mahasiswa yang ujian dan lulus dalam tiga tahun tersebut adalah 51 orang. Lulusan-lulusan tersebut baru diwisuda secara bersama-sama pada Sabtu, 8 Agustus 2009. Semua lulusan dalam acara Wisuda IV ini adalah dari Jurusan Kateketik Pastoral, Program Studi Katekese Sekolah/Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik. Lulusan Program Diploma III berjumlah 14 orang, 1 orang pria dan 13 orang wanita. Lulusan Program Pendidikan Strata 1 sebanyak 37 orang, 12 orang pria dan 25 orang wanita. Lulusan Program Pendidikan Strata 1 tersebut terdiri dua angkatan yakni lulusan November 2007 sebanyak 9 orang; lulusan Juni 2009 sebanyak 28 orang. Seluruh lulusan yang berjumlah 51 orang tersebut diperkenankan untuk mengikuti Wisuda IV namun yang hadir dalam wisuda tersebut berjumlah 47 orang.

Wisudawan dari lulusan November 2008 D3 meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada rentang 2,40 hingga 3,59 dengan masa tempuh 3 Tahun. IPK rata-rata adalah 2,88 dan IP rata-rata Ujian Negara 2,71. IPK tertinggi untuk lulusan Program D-3 diraih oleh Alde Gonda Angela Mangambu. Wisudawan dari lulusan November 2007 Program S1 meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada rentang 3,00 hingga 3,56. IPK rata-rata adalah 3,23 dan IP rata-rata Ujian Negara 3,36. IPK tertinggi untuk lulusan 2007 Program S1 diraih Yosep Limbu. Sedangkan wisudawan dari lulusan Juni 2008 Program S1 meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada rentang 2,54 hingga 3,5. IPK rata-rata adalah 2,54 dan IP rata-rata Ujian Negara 3,00 IPK tertinggi untuk lulusan 2008 Program S1 diraih oleh Noriva Ira Sumule. Dengan Wisuda IV ini, maka STIKPAR secara keseluruhan telah meluluskan 293 orang dengan rincian sebagai berikut:
a. Program D2: 237 lulusan (pria 83 orang dan wanita 154 orang)
b. Program D3: 53 lulusan (pria 11 orang dan wanita 42 orang)
c. Program S1: 46 orang (pria 15 orang dan wanita 31 orang)

Perlu dicatat bahwa Wisuda IV STIKPAR menjadi wisuda terakhir bagi lulusan diploma dari program pendidikan Kateketik dan Pastoral, kerena selanjutnya penamatan dan wisuda di STIKPAR Tana Toraja akan terlaksana hanya bagi lulusan program S-1 saja. Regulasi ini sejalan dengan perubahan dan perkembangan regulasi dalam dunia pendidikan di Negara Repubilk Indonesia.

UU RI no 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sebagai tindak lanjut dari UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa Guru harus memiliki kwalifikasi akademik minimal D4 atau S1. Oleh karena itu STIKPAR Tana Toraja tidak lagi menerima mahasiswa program D2 sejak Tahun Akedemik 2005-2006 dan program D3 sejak Tahun Akademik 2006-2007, walaupun ijin operasional STIKPAR berlaku juga untuk program-program tersebut.

Perubahan regulasi pendidikan di Negara kita diikuti oleh program konkrit Pemerintah, yang pada gilirannya melibatkan pula STIKPAR Tana Toraja. Salah satu contoh yang bisa disebutkan adalah Program Sertifikasi Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan. Pada Proses sertifikasi Guru-Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan periode tahun 2007 dan 2008, STIKPAR Tana Toraja berperan sebagai LPTK Mitra pada LPTK Induk STP IPI Malang, selaku satu-satunya LPTK Induk bagi Guru-Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan. Pada periode 2009 dan 2010 LPTK Induk untuk proses sertifikasi Guru-Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan menjadi 4. Salah satu LPTK Induk pada periode 2009 dan 2010 tersebut adalah STIKPAR Tana Toraja dengan Mitra STPAK St. Yohanes Penginjil Ambon, STK St. Yakobus Merauke, dan STP St. Yohanes Rasul Jayapura.

Ini berarti STIKPAR Tana Toraja mendapat kepercayaan besar bagi proses sertifikasi Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan di seluruh provinsi di pulau Sulawesi, Maluku dan Papua. Tentulah ini bukan tanggung jawab ringan, bukan pula pelayanan yang mudah. Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan tersebar secara sporadis dalam wilayah yang begitu luas dengan sarana komunikasi yang masih terbatas pada banyak pelosok di Indonesia Timur. Proses sertifikasi Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan dilaksanakan segera setelah Wisuda IV STIKPAR dilaksanakan.

Wisuda IV STIKPAR pada 8 Agustus 2009 juga memiliki keistimewaan tersendiri. Acara Wisuda IV ini merupakan wisuda pertama bagi Kelas Khusus yakni kelas bagi Guru-guru Agama Katolik Dalam Jabatan. Kelas Khusus ini menghadapi cukup banyak kendala dan tantangan, baik menyangkut peserta, penyelenggara maupun Direktorat Jenderal Bimas Katolik sendiri. Bagi peserta sendiri, tantangannya tidak sedikit, misalnya sudah berumur masih kuliah, kesibukan tugas dan tanggung jawab sebagai guru dan bapak keluarga, dan lain-lain. Munculnya rumor bahwa di tempat lain nun jauh di sana ada Perguruan Tinggi STIA (Sekolah Tiada, Ijazah Ada), dapat melemahkan semangat kuliah dan merongrong penyelenggara. Namun Ketua SIKPAR dalam sambutannya menegaskan bahwa “STIKPAR Tana Toraja tetap berpendapat bahwa STIKPAR tidak hadir di tengah Gereja dan masyarakat untuk membagi-bagi asal ijazah bagi orang yang tidak pernah ujian, menulis skripsi apalagi tidak pernah kuliah. STIKPAR Tana Toraja tidak pernah berpikir asal meluluskan mahasiswa atau membagi ijazah. Pemerintah, Masyarakat, dan Gereja menanti lulusan yang berkualitas di bidangnya. Bidang STIKPAR adalah ajaran iman dan moral Katolik, yang langsung bertolak belakang dengan pola asal lulus, asal ada ijazah, asal bagi-bagi ijazah”.

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Agama Katolik Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Dep. Agama RI dalam pidatonya; “mutu SDM di Negara kita masih kurang”. Ia menambahkan bahwa “mudah-mudahan kita tidak turut menciptakan SDM yang hanya memiliki ijazah tetapi tidak memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang pas dengan ijazahnya”.

Setelah acara wisuda berakhir suasana ceria di aula IKAR semakin terasa. Rasa haru, bangga dan gembira bercampur-aduk di antara para wisudawan dan keluarganya, menjadi pemandangan yang sangat indah. Menjadi Sarjana bukan merupakan akhir dari perjuangan, namun awal dari pembuktian kapabilitas keilmuan yang didapatkan di bangku kuliah, dalam menghadapi tantangan kehidupan dan karier yang sangat kompetitif. Kepada seluruh lulusan STIKPAR Tana Toraja, ingatlah selalu motto STIKPAR: “Injil di tangan kanan, linggis di tangan kiri”. Maju terus wartakan Sabda Tuhan dan jangan lupa tancapkan linggis Anda, demi mengolah bumi pertiwi. Proficiat!*** Penulis: Paulus Palondongan

Rabu, 20 Juni 2007

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru STIKPAR Tahun Akademik 2007-2008

Sekolah Tinggi Kateketik dan Pastoral Rantepao menyelenggarakan Program Diploma III dan Sarjana Strata I (S1) Jurusan Kateketik dan Pastoral.

Untuk Tahun Akademik 2007/2008, STIKPAR membuka pendaftaran Mahasiswa Baru:
1. Pendaftaran Calon Mahasiswa Baru: 02 Juli - 21 Agustus 2007
2. Pengembalian Formulir Pendaftaran: 21 Agustus 2007 (paling lambat)
3. Test Masuk Calon Mahasiswa Baru: Pengetahuan Umum Agama Katolik (PUAK), Bahasa Indonesia dan Wawancara - 22 Agustus 2007
4. Pengumuman hasil test masuk: 24 Agustus 2007
5. Pendaftaran Ulang bagi yang sudah lulus test masuk: 25 - 27 Agustus 2007
6. Training Mahasiswa Baru: 28 Agustus – 02 September 2007
7. Pengisian KRS:
• Mahasiswa Lama : 01 & 03 September 2007
• Mahasiswa Baru : 04 September 2007
8. Misa Pembukaan T.A. 2007/2008: 03 September 2007

Persyaratan Calon Mahasiswa:
1. Beragama Katolik dan sudah dibaptis Katolik, atau telah diterima resmi dalam Gereja Katolik minimal 3 tahun;
2. Minimal berijazah SMU dan yang sederajat (dari semua jurusan);
3. Mengikuti test masuk dan dinyatakan lulus.

Butuh informasi lebih lanjut?
Hubungi KAMPUS STIKPAR, lewat:
telp. (0423) 21414
fax (0423) 23024
e-mail: stikpar2002@yahoo.com