Tampilkan postingan dengan label SAGKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAGKI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA IV

Langit cerah mengiringi keberangkatan Rombongan utusan Keuskupan Agung Makassar menuju ke Jakarta, dan selanjutnya ke Bogor untuk mengikuti Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) IV yang berlangsung pada tanggal 2 – 6 November 2015. Rombongan Peserta SAGKI utusan KAMS itu terdiri dari Bapak Uskup Agung Makassar, Mgr. Dr. Johannes Liku-Ada´, R.D. Samson Bureni (Vikep Sulbar), R.D. Andreas Rusdyn Ugiwan (Ketua Komisi Keluarga KAMS), Beatris Palamba (Wakil dari kevikepan Makassar), Albert Koswara (Wakil dari Marriage Encounter), Ernes Sentosa (Sekretaris Komisi Keluarga dan Wakil Pria Sejati Katolik), Edy Charlie (Wakil dari Couple for Christ (CFC-Makassar)), Robby Holiwono (Wakil dari CHOICE), Deddy Atmakusuma (Wakil dari komunitas FIDEI), Paulus Pabubung (Wakil dari kevikepan Luwu), Nelly Markiones (Wakil dari Kevikepan Sultra). Setelah menginap semalam di Wisma Samadi (Klender), pada 02 November 2015 seluruh peserta bertolak menuju ke tempat pelaksanaan SAGKI di Via Renata, Cimacan, Bogor.
  Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan menyenangkan, kami pun tiba di VIA RENATA. Kedatangan setiap rombongan disambut dengan hangat oleh panitia dan sekaligus langsung menuju ke meja Panitia untuk menyelesaikan Registrasi di bagian kedatangan. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV mengambil Tema: Keluarga Katolik, Sukacita Injil. Sebagaimana yang dituliskan oleh Mgr. Ignatius Suharyo dalam kata sambutannya sebagai Ketua Presidium KWI, tema ini dibahas karena peranan keluarga sangat penting bagi kehidupan Gereja dan masyarakat. Keluarga adalah sel utama dan pertama bagi Gereja dan masyarakat. Sel utama itu saat ini hidup di tengah-tengah kehidupan yang diwarnai oleh individualisme, konsumerisme, dan sekularisme, sehingga banyak keluarga menghadapi dan mengalami tantangan besar dalam melaksanakan tugasnya. Ditambah lagi masalah lingkungan hidup dan keadaan ekonomi seringkali menyusahkan hidup keluarga.
  SAGKI IV ini menjadi tanggapan nyata Gereja Katolik Indonesia terhadap ajakan Bapa Suci dalam memberikan perhatian dan dukungan bagi keluarga-keluarga katolik Indonesia. Dalam dua tahun terakhir ini Gereja memberikan perhatian yang besar kepada keluarga. Perhatian itu ditunjukkan dengan 2 sinode para uskup. Pertama, sinode Luar Biasa yang diadakan dalam bulan Oktober 2014 dan kedua, Sinode biasa pada tanggal 4-25 Oktober 2015.

Misa Pembukaan SAKGI 2015                       
  SAGKI 2015 dibuka dengan Misa Meriah yang dipimpin oleh Ketua Presidium KWI, Mgr. Ignatius Suharyo. SAGKI diikuti oleh 569 peserta yang terdiri dari uskup, imam, biarawan-biarawati, perwakilan umat dari 37 keuskupan, perwakilan keuskupan TNI, dan kelompok kategorial.
  SAGKI IV 2015 ini dibuka secara resmi pula dengan pemukulan gong sebanyak 5 kali oleh menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. Beliau memuji cara persiapan perkawinan berupa kursus yang dilakukan Gereja Katolik Indonesia, yang dikatakannya dapat menjadi inspirasi untuk ditiru oleh agama-agama lain di Indonesia. Agama Katolik punya pengalaman panjang bagaimana membina penyiapan keluarga yang baik. Sehingga keluarga Katolik sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat, akan membuat masyarakat menjadi lebih baik.
  Hari kedua SAGKI IV (03 November 215) ditandai dengan Sharing Keluarga yang sekaligus menjadi Peneguhan Nilai Hidup Berkeluarga. Sharing hari kedua ini menampilkan Pasutri drg. Conny dan Vincent, bersama anak mereka Vanya yang berasal dari Keuskupan Agung Makassar. Dalam sharing mereka terungkap nilai-nilai kesetiaan dan kekuatan cinta sebagai suami dan isteri juga di dalam situasi yang tidak mudah, karena mereka sempat mengalami hidup terpisah karena tuntutan pekerjaan. „Dalam masa terpuruk, satu-satunya „harta“ yang saya rasakan waktu itu adalah keluarga. Saya tetap merasakan suka cita, karena punya keluarga,“ demikian ungkap Vincent dalam sharingnya.
  Keluarga Fransiskus Saragih dan Nurti br. Manurung dari Medan, bersama dua anak laki-laki mereka yang menjadi imam, Pastor Ivan Adelbert, OFMCap dan Romo Fernandus, Pr. dalam sharing mereka terungkap betapa penting disiplin yang diajarkan kepada anak-anak mereka sejak kecil, yang telah turut membentuk kepribadian mereka dikemudian hari. „Sejak kecil kami sudah membiasakan keempat anak laki-laki kami melakukan hal-hal kecil sederhana secara bersama-sama. Kami makan bersama di atas tikar, berdoa bersama, ke gereja juga selalu bersama.“ Didikan yang penuh cinta dalam keluarga telah turut menaburkan benih panggilan di hati anak-anak keluarga yang sederhana namun bahagia ini.
  Keluarga dr. Hugo dan Merlinda dari Keuskupan Banjarmasin, dalam sharingnya mengutarakan suka-duka dari kehidupan mereka berdua yang memutuskan untuk pindah dari kota besar dan mengalami hidup dan bekerja di tengah-tengah masyarakat yang sederhana. Namun suka cita Injil mereka rasakan dalam kehidupan yang jauh dari kemewahan itu, dan kebahagiaan mereka terbesar adalah berbagi dengan sesama melalui pelayanan sebagai dokter. Dalam segala keterbatasan dan dalam kesederhanaan hidup, mereka mengalami bahwa mereka menjadi kaya bukan karena harta yang melimpah, melainkan karena kehadiran dan bantuan mereka serta kesiapsediaan mereka untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang sederhana di pedalaman dapat memberikan arti bagi sesama.
  Setelah sharing keluarga, para peserta yang terbagi dalam 17 kelompok masuk dalam diskusi dan sharing kelompok. Setelah itu apa yang disharingkan dan didiskusikan dalam setiap kelompok ditampilkan dalam sidang Pleno. Dan seluruh rangkaian sidang ditutup dengan Perayaan Ekaristi.
  Sidang hari ketiga dilanjutkan dengan Testimoni Keluarga: Maria Loretha, Maria Imin, M. Ari Anggorowati, dan Pasutri Antonius Sanitioso dan Irene Laksmi Anggraini. Dalam Sharingnya, Maria Loretha yang juga dikenal sebagai Ibu Sorgum karena upayanya untuk mengembangkan benih Sorgum sebagai bahan makanan pokok. Dalam sharingnya, ibu Loretha mengatakan: „kata ´revolusi´ tidak perlu dimaknai secara politis praktis. Namun bagi Maria Loretha, revolusi tetaplah merangkum makna sebagai perubahan radikal menyeluruh dalam hal tertentu. „kali ini revolusi pangan harus terjadi pertama-tama di ruang makan keluarga.“
  Maria Imin, seorang wanita yang tinggal di Lale, Beamese, Manggarai, Flores, hidup dari berkebun dan membuat tenunan. Kalau saja dalam hidupnya ada opsi lain, maka takkan pernah Maria Imin memperbolehkan suaminya pergi meninggalkan dia dan ketiga anaknya untuk mencari makan di negeri jiran Malaysia. Nyatanya opsi lain itu tidak ada dan karenanya ia harus melakukan pilihan sangat berat: suaminya merantau ke Malaysia untuk mencari makan. Dua tahap sudah dijalani suaminya, yakni kurun waktu 2013 hingga Oktober 2015 ini.
  Sosok ketiga yang membagikan pengalamannya adalah M. Ari Anggorowati. Perkawinannya akhirnya kandas dan kemudian memilih bercerai secara sipil melalui proses peradilan untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. „Jujur saja, pilihan ini tidak mudah dan sangat berat, menguras energi batin dan membuat kondisi finansial juga morat-marit,“ tutur beliau. Ketegaran dan ketabahannya nampak dalam upayanya untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Ia pernah berkata pada dirinya sendiri: „Jika saya gagal mendidik dan membesarkan anak-anak, lebih baik saya masuk neraka saja.“ Kehadiran anak-anak dan support yang diberikan oleh buah hatinya menjadi kekuatan yang luar biasa di tengah badai kehidupan yang harus ia jalani. Status hidup sebagai janda memang sangat tidak menyenangkan dan ia banyak mengalami tekanan karena pola pandang masyarakat yang picik, memandang status janda sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan tekanan tersebut juga sering kali muncul dalam lingkungan gereja, di mana ia ingin terlibat untuk melayani.
  Kesaksian hidup selanjutnya adalah testimoni keluarga Antonius Sanitioso (Toos), pilot senior tes penerbangan, dan Irene Laksmi Anggraini, ibu rumah tangga. Mereka mengutarakan bahwa setelah 40 tahun hidup merenda kasih dalam hidup perkawinan dan membina rumah tangga, sebagai pasangan suami isteri kawin campur beda agama. Kebahagiaannya itu makin lengkap, setelah isterinya dalam beberapa tahun ini mengikuti jalan iman suaminya dengan memberanikan diri dibaptis secara katolik. Namun, jalan panjang meretas bahagia sepanjang 40 tahun menikah bukan datang seperti hujan kemarin sore. Semua harus melewati lika-liku yang panjang. Namun dengan kesabaran dan ketekunan dalam doa serta kesetiaan dalam pengharapan semua menjadi indah pada waktunya.
  Hari Ketiga SAGKI diwarnai juga dengan malam keakraban. Beberapa keuskupan diminta untuk menyumbangkan acara dalam malam keakraban ini. Suasana semakin meriah dengan kehadiran beberapa artis yang diundang khusus untuk memeriahkan suasana. Tidak kalah meriahnya penampilan dari beberapa Uskup di atas panggung hiburan, misalnya Mgr. Agustinus Agus yang membuat suasana semakin hidup dengan nyanyian dan pantun.

Oleh-oleh dari Sinode Para Uskup di Roma
  Pada Sidang Pleno Hari Keempat SAGKI 2015 Mgr. Ignatius Suharyo membagikan Oleh-Oleh dari Sinode Para Uskup di Roma. Pada Sinode Uskup di bulan Oktober 2015, Gereja Katolik Indonesia diwakili oleh dua uskup: Mgr. Ignatius Suharyo selaku Ketua KWI dan Mgr. Fransiskus Kopong Kung dari Diosis Larantuka, Flores, NTT dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komisi Keluarga KWI. Menjelang sinode, terdapat begitu banyak tulisan yang dibuat oleh berbagai pihak mengenai tema keluarga. Ada pihak-pihak yang sengaja membuat pertemuan dan mencoba mempengaruhi para peserta Sinode dengan mempublikasikan keprihatinan dan harapan mereka. Salah satu tulisan yang bagus datang dari Konferensi Uskup Jerman dimana mereka bicara tentang upaya bisa “Membantu pasangan bercerai yang kemudian menikah kembali melalui jalan-jalan yang bertanggung jawab secara teologis dan pastoral”. Sementara itu, para Uskup Afrika membuat publikasi dengan judul menantang: “Afrika, Tanahair Kristus yang Baru”.
  Mgr. Suharyo mengungkapkan bahwa suasana awal sinode diwarnai dengan penuh kecurigaan. Secara diam-diam para peserta Sinode saling membatin, Uskup ini ada di pihak siapa? Anggota sinode sebanyak 270 dan hanya mereka yang punya hak suara. Pendengar dan undangan boleh bicara, tetapi tidak punya hak suara. Pada waktu pembukaan Sinode, salah satu Uskup berkomentar tentang kegelisahan yang terasa di awal Sinode: “Bau setan sudah masuk ke ruang ini.”  Begitulah contoh suara-suara sumbang yang terjadi menjelang Sinode.
Banyak lobi terjadi di luar forum sinode. Banyak pula muncul undangan-undangan dari dua kelompok berseberangan: konservatif dan moderat. Karena daftar peserta Sinode dipublikasikan sebelum Sinode dimulai, Mgr. Suharyo mengemukakan bahwa akun emailnya dipenuhi oleh email dari berbagai kelompok kepentingan yang bermaksud melobinya.
  Namun, lagi-lagi berkat bimbingan Roh Kudus, semua berakhir sangat bagus. Hal itu tampak pada hasil akhir, dari 94 pernyataan, semua diterima mutlak. “Semua hasil dipublikasikan demi transparansi, termasuk pemungutan suaranya,” demikian ungkap Mgr. Suharyo mengutip pernyataan Paus Fransiskus.
Mgr. Suharyo juga menjelaskan bahwa pembahasan sempat alot selain karena topik juga karena masalah penerjemahan. Dokumen asli ditulis dalam bahasa Italia dan kemudian baru diterjemahkan ke bahasa-bahasa lainnya. Mengenai bahasa ‘tinggi’ yang biasanya ditemui dalam dokumen Gereja, Mgr. Suharyo mengatakan sempat ada usulan agar dokumen Gereja dibuat dalam dua versi: versi mudah dan versi asli.
  Hasil Sinode 2015 secara umum dibagi menjadi tiga bagian.
Bagian Pertama: Gereja Mendengarkan Keluarga
  Jatidiri manusia selalu berubah. Istilah yang digunakan oleh Mgr. Suharyo adalah: dari tradisi menuju opsi. Tradisi sangat besar mempengaruhi cara pikir orang pada zaman dulu. Orangtua katolik, maka saya pun juga (harus) katolik. Sekarang, tradisi mulia zaman lampau itu sudah luntur. Lalu ada masalah yang dulu tidak ada di zaman sebelumnya. Kini, ribuan pengungsi telah membanjiri Eropa; sedangkan keluarga-keluarga di Eropa malah tidak punya banyak anak.
  Limabelas juta orang non kristiani kini menjadi penduduk di Jerman. Jerman juga telah menerima limpahan banyak pengungsi untuk kemudian tinggal di Jerman; juga menerima banyak pengungsi dari Afrika. Kita tidak tahu, 10 tahun lagi Jerman akan menjadi seperti apa.
Keprihatinan lain: terjadinya campur tangan negara. Masalah pasangan hidup sejenis kemudian dilegalisir oleh berbagai negara dan legalisasi adopsi bagi pasangan-pasangan seperti ini. Di Amerika dan Eropa, pasangan hidup sejenis sudah menjadi gejala yang sangat luas. Ini semua menjadi tantangan besar. Penelitian Sinode 2014 atas pemahaman umat tentang perkawinan gerejani sangat rendah. Contoh lokal: Mengapa perkawinan katolik disebut sakramen? Itu karena diberkati oleh Pastor. Itu jawaban seorang ibu guru yang minta surat ke seorang pastor.
Bagian Kedua: Keluarga dalam Rencana Allah
  Bagian ini berisi uraian tentang kerahiman Allah. Ini berkaitan dengan kesan banyak orang yang telah dipinggirkan oleh Gereja tanpa alasan jelas. Termasuk pertanyaan mendasar yang kini kian mengemuka soal komuni: apakah keluarga-keluarga ‘pecah’ masih tetap boleh menerima komuni?
  Gereja berangkat dari kerahiman Allah, maka Gereja tanpa henti harus selalu mendampingi anak-anak Yesus dengan penuh cinta kasih. “Saya akan bicara dengan para pastor KAJ berkaitan dengan pengumuman di gereja sebelum komuni. Antara lain imbauan tidak boleh menerima komuni bagi mereka yang perkawinannya bermasalah,” kata Mgr. Suharyo.
Bagian Ketiga: Perutusan Keluarga
  Ini berisi imbauan agar Gereja memiliki suara hati yang jernih di hadapan Allah. Juga punya integritas dan kejujuran. Gereja juga telah merampingkan proses anulasi. “Jangan dimengerti secara salah sebagai upaya meresmikan perceraian,” tandas Mgr. Suharyo.
Pokok-pokok masalah ini tengah digodok serius oleh para ahli Hukum Gereja. Pokok pembahasan mereka sekitar usaha keras pihak Gereja yang melakukan ‘perampingan’ prosedur anulasi perkawinan. “Jadi, ini ada indikasi sangat jelas bahwa Paus Fransiskus ingin membantu saudara-saudara kita yang sedang menghadapi kesulitan dalam perkawinan mereka,” Mgr. Suharyo. „Ini soal logika penerimaan, bukan logika peminggiran atau pengucilan. Sebuah langkah yang sangat berani diambil oleh Tahta Suci,“ demikian penegasan Mgr. Suharyo.
  Kecenderungan Gereja Katolik saat ini bukanlah untuk melemahkan iman. Yang terjadi malah sebaliknya: Gereja ingin mengungkapkan kasih dalam hal-hal ini. Pada bagian ini, Mgr. Suharyo juga menyampaikan agar umat katolik semakin rajin membaca dokumen-dokumen resmi Gereja yang kini dikoleksi oleh KWI (Dokpen KWI) dalam format digital yang bisa diakses oleh semua orang. Dokumen-dokumen itu sangat bagus dan diolah dari berbagai macam sumber terpercaya.
  Mgr. Suharyo sangat bisa merasakan adanya semacam “tegangan” antara suara hati versus aturan-aturan hukum yang kaku. Antara kerahiman Allah dan keadilan hukum. Antara kebenaran dan pengampunan. Itu karena, tambahnya, tidak ada keadilan yang berdiri sendiri. Juga, tidak ada kebenaran yang berdiri sendiri.
Mengutip Misericordiae Vultus, Paus mengatakan: “Gereja menyerupakan sikapnya dengan sikap Yesus yang dengan kasih tanpa batas, memberikan diri untuk semua, tanpa kecuali”. “Hari Sabat adalah untuk manusia, bukan manusia untuk Hari Sabat. Gereja bukan museum, tetapi sumber air yang hidup. Gereja adalah ibu yang lemah lembut sekaligus sebagai guru yang menerangkan semuanya dengan dengan jelas. Pengarahan Paus sangat jelas, walau perlu penjabaran lebih luas,” demikian penjabaran Mgr. Suharyo kepada peserta SAGKI.
  Mgr. Suharyo menggarisbawahi perlunya pendampingan khusus bagi keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan. Sudah pasti, mereka itu berada dalam kondisi tidak normal. “Itulah yang harus diberi perhatian khusus; jadi, jangan sampai malah ada pengucilan bagi keluarga-keluarga bermasalah ini. Bagi keluarga-keluarga katolik, seharusnya tidak ada jalan buntu,” ungkap Mgr. Suharyo.
  Pada akhir pemaparannya, Mgr. Suharyo menyimpulkan bahwa sekarang ini, keadaannya sudah berbeda, juga tradisi pernikahan berbeda, maka tidak ada pedoman yang kemudian bisa disebut berlaku umum. Pedoman-pedoman itu perlu diadaptasi dalam konteks budaya yang berbeda-beda. “Fokusnya adalah apa yang harus kita lakukan agar perkawinan dan hidup bekeluarga katolik sungguh menjadi jalan menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup kristiani,” tandas Uskup Agung Keuskupan Jakarta ini.
  Selain Mgr. Ignatius Suharyo, tampil pula Rm. P Yan Olla MSF. Beliau menguraikan bagaimana Gereja Perdana mulai terbentuk sejak Pentakosta. Berawal dari kumpul-kumpul di keluarga hingga kemudian terstruktur punya „organisasi“ namun pertama-tama Gereja tetaplah hadir di lingkup keluarga-keluarga. Mereka yang percaya berkumpul di rumah-rumah, bertekun dalam persekutuan, berdoa. Santo Paulus melihat Gereja terutama bukan sebagai bangunan fisik, tetapi orang-orang kristiani yang berkumpul dalam persekutuan dan dihayati dalam kegembiraan. Semakin lama terjadilah pemisahan antara yang profan dan sakral sehingga terjadi sekularisasi keluarga. Keluarga menjadi tempat yang profan. Beliau menekankan perlunya pertobatan pastoral para pengambil keputusan berkaitan dengan pelayanan keluarga-keluarga. Sebuah pertanyaan kritis yang patut direnungkan pula adalah: apakah pastoral gereja telah menampakkan wajah Allah yang berbelas kasih dan membawa kegembiraan kepada mereka yang berada di pinggiran kemanusiaan, berbau domba, atau telah menjadi „pabean“ yang mengontrol rahmat Allah?
  Prof. Irwanto sebagai ahli di bidang Psikologi memaparkan bagaimana keluarga senantiasa bergumul dalam transisi dan krisis. Persoalan keluarga di Indonesia begitu kompleks sehingga tak mungkinlah bicara keluarga hanya sebagai satu entitas „mandiri“ yang bisa dianggap mewakili semua wajah keluarga Indonesia. Kasus perceraian paling banyak terjadi pada pasangan yang menikah kurun waktu tiga tahun pertama, atau, 30 tahun sesudah nikah, ketika anak-anak sudah beranjak menjadi dewasa. Konflik yang dulu ditahan karena ada anak, kini menyeruak ke permukaan.
  Keluarga sebagai kawanan yang melakukan perjalanan panjang, terjal, sering tidak punya waktu atau tidak berani untuk berhenti. Seharusnya ada 2-3 tangan yang membantu mereka: „ayo berhenti sebentar, saya bantu kalian. Namun, di dunia saat ini, keluarga hanya fokus pada diri sendiri. Gereja Katolik sudah didesain beragam, tetapi institusi Gereja tidak bisa menjawab diversitas yang ada.“
  Pada penghujung hari keempat SAGKI 2015 para peserta berkumpul untuk bersama-sama mendengarkan dan mengkritisi perumusan hasil akhir SAGKI IV. Perumusan Hasil SAGKI IV 2015 ini dibacakan pada Seremoni Penutupan yang diadakan setelah Perayaan Ekaristi Penutupan yang dipimpin oleh Mgr. Mgr. Leo Laba Ladjar OFM sebagai Selebran Utama.
  Para utusan Keuskupan Agung Makassar sungguh merasa bahagia dan bangga boleh menjadi wakil dari KAMS, dan turut terlibat aktif selama SAGKI 2015 ini berlangsung. Berikut beberapa komentar dari mereka:
R.D. Samson Bureni (Vikep Kevikepan Sulbar)
Ada 2 poin yang menjadi kesan saya. Pertama, kehadiran wakil umat yang cukup antusias sejak hari pertama sampai hari terakhir yang juga terwujud dalam diskusi-diskusi pleno, partisipasi dalam yel-yel saat mewakili keuskupan masing-masing, membangun keakraban saat rehat baik di ruangan tertutup maupun terbuka yang dalam semua itu sungguh cair dan memperlihatkan wajah gereja Indonesia yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Kedua, kehadiran semua uskup dari 37 keuskupan (minus uskup KAS yang sakit dan kini telah kembali ke Pangkuan Bapa namun Vikjen KAS hadir mewakili beliau).
Kehadiran para gembala  utama sungguh menjadi perekat dalam SAGKI dan memberi warna akan apa yang sungguh-sungguh menjadi keprihatinan gereja saat ini yang tidak saja diusulkan tetapi dalam SAGKI sungguh dibincangkan, ditemukan titik masalah diuraikan oleh para pakar, dibincangkan oleh para peserta sidang untuk ditemukan bersama solusinya. Sehingga sungguh-sungguh menjadi masalah kita, yang kita hadapi, untuk kita atasi bersama. Sehingga gereja dalam beragam suka-duka, untung-malang, sehat-sakitnya menjadi muara yang menggerakkan semua dalam menyelesaikan bersama. Dari kita, oleh kita dan untuk kita.
Edy Charlie (Couple for Christ – CFC)
Saya bersyukur dan bangga diberi kesempatan sebagai peserta SAGKI ke-4 yang temanya tentang keluarga yang sangat pas dengan pelayanan saya dalam Pastoral Keluarga bersama Pastor Rusdyn dan Tim Komisi Keluarga KAMS. Terlebih menjadi kebanggan bagi saya boleh mengalami SAGKI bersama-sama para Uskup se-Indonesia.  Saya acungkan 2 jempol untuk Panitia Pelaksana SAGKI 2015, begitu juga dgn pembahasan yang cukup lengkap. Saya berharap, hasil dari SAGKI 2015 ini bisa diarahkan dengan baik oleh Bapak Uskup KAMS untuk menyatukan Visi dan Misi Pastoral Keluarga 5 thn ke depan agar dpt diimplentasikan dan disesuaikan dgn baik sesuai permasalahan yang dihadapi di setiap paroki dalam lingkup kevikepan masing-masing.
R.D. Andreas Rusdyn Ugiwan (Ketua Komisi Keluarga)
Rumusan yang telah dihasilkan SAGKI menjadi pekerjaan rumah bersama, bagaimana Pastoral Keluarga di Keuskupan Agung Makassar dapat membawa wajah Allah yang berbelas kasih. Situasi konkret yang mewarnai kehidupan Keluarga Katolik tentu menanti langkah konkret pula dari para pelaksana Pastoral Keluarga. Tujuannya tidak lain adalah agar Suka Cita Injil dapat menjadi habitus dalam diri setiap insan dalam keluarga, dan dapat menjadi kekuatan untuk terus melangkah dalam iman. Seluruh wakil dari SAGKI ini adalah saksi hidup dari seluruh dinamika yang terjadi dalam SAGKI ini. Dan para utusan dari KAMS adalah para pembawa benih SUKA CITA di dalam kehidupan pribadi dan keluarga mereka, dan tentu sangat diharapkan agar mereka dapat bekerja sama menularkan semangat dan sukacita Injil di dalam pelayanan Pastoral Keluarga mereka.

Robby Holiwono (CHOICE Distrik Makassar)
Mengikuti SAGKI merupakan pengalaman yang Luar biasa apalagi peristiwa yang demikian sangat jarang ada kesempatan kami bisa ikut, apalagi sebagai peserta di antara para pemimpin Gereja Katolik Indonesia.
Dulu saya beranggapan bahwa para Uskup merupakan sosok yang sangat berwibawa dan terkesan agak pasang wibawa. Ternyata mereka suka juga bergaul bahkan banyak yang bisa humor dengan kami para peserta yang notabene adalah umat biasa. Selain dari itu saya juga kagum dengan kepanitiaan tuan rumah yang melayani peserta dengan hati. Mulai dari penjemputan sampai sesi akomodasi, sesi komsumsi apalagi sesi acara dan Liturginya, mereka begitu profesional dalam melayani kami peserta. Saya banyak belajar dari sesi Liturgi mereka memberi kebebasan berkreasi untuk semua delegasi pada saat membawa tugas masing-masing.
Dalam diskusi kelompok saya melihat begitu banyak orang-orang yang berpotensial yang mau bekerja untuk gereja katolik, dan juga kearifan uskup-uskup yang berkomentar mengenai keadaan kekinian dalam masalah Rumah tangga, ternyata mereka juga melihat domba-domba, bahkan mau merangkul domba-domba yang hilang. Yang menjadi kenangan terindah adalah kebersamaan semua peserta untuk mencapai apa yang kita cita-citakan bersama.
Semoga apakah yang telah dirangkaikan indah-indah dari hasil SAGKI ini bisa menyadarkan para pastor paroki agar mau menerima hasil SAGKI ini untuk dijadikan pedoman kerja di paroki-paroki menjadikan KELUARGA SUKACITA INJIL, sehingga tema ini menggema diseluruh INDONESIA, agar keluarga dapat memberi arti dalam mencapai dunia baru. dan semoga diwaktu-waktu yang akan datang ide-ide SAGKI dapat selalu dipakai didalam komunitas basis.
Paulus Pabubung (Kevikepan Luwu)
Luar biasa! SAGKI 2015 berjalan sungguh baik dan lancar. Proficiat bagi segenap panitia. Saya mengalami betapa ramah dan sangat bersahabat, serta kerja keras Panitia sejak awal hingga akhir seluruh rangkaian acara SAGKI. Via Renata, tempat penyelenggaraan SAGKI merupakan tempat yang luas, indah, sejuk, tenang, dan damai dengan fasilitas yang sangat menunjang seluruh kegiatan SAGKI. Suka Cita Injil yang menjadi Tema SAGKI sungguh sudah terasa dalam sebuah keluarga Besar yang terdiri dari Peserta yang datang mewakili keuskupan-keuskupan yang ada di Indonesia. Testimoni keluarga, diskusi kelompok, peneguhan para ahli, dan kegiatan malam keakraban sungguh sangat menyentuh dan menggembirakan hati. Terutama Testimoni Keluarga menggugah  hati saya dan mengingatkan saya betapa banyak keluarga Katolik yang mengalami pergumulan. Namun di tengah berbagai pergumulan, demikianlah harapan saya, keluarga-keluarga Katolik dapat tetap berdiri teguh dan tegar di dalam kesetiaan, dan tetap dapat memancarkan suka cita Injil. Dan sumber kekuatan Keluarga Katolik tidak lain berasal dari Allah sendiri. Saya bangga dapat menjadi wakil Keuskupan Agung Makassar dan berharap bahwa Pesan dari SAGKI ini dapat saya bagikan dan wartakan dalam kehidupan saya sendiri dan pelayanan saya dalam pastoral keluarga. SAGKI 2015…Moooke (Oke)..kata Mgr. Leo Laba … Wa…wa….wa (ungkapan untuk mengatakan „Hebat!“)
Beatris Palamba (Kevikepan Tana Toraja)
Suatu kebahagiaan bisa mengikuti dan menjadi peserta Sagki ,dimana bisa bertemu dengan para Uskup, Pastor, Frater, Suster dan semua saudara seiman dalam semangat persaudaraan .
Dan saya disemangati melalui acara Testimoni Keluarga untuk lebih melayani, berbagi sukacita bagi keluarga yang butuh perhatian dan pertolongan.
Kebanggaan menjadi orang katolik melalui  perayaan ekaristi khususnya pada saat misa pembukaan dan penutupan dimana para Uskup  pembersembahkan perayaan ekaristi sepertinya saya menyaksikan orang kudus. ** Penulis: Pastor Andreas Rusdyn Ugiwan Pr, Ketua Komisi Keluarga KAMS

Selasa, 21 Desember 2010

Rekomendasi SAGKI 2010

1. Setelah pengayaan melalui proses narasi publik, sharing kelompok, pleno, dan refleksi teologis, kami sampai pada sejumlah rekomendasi berikut ini, yang merupakan misi perutusan Gereja agar seluruh keuskupan menanggapinya dalam program keuskupan.

2. Kami berkomitmen untuk melanjutkan dialog dengan kebudayaan setempat supaya kami semakin mampu mengenali dan menghadirkan wajah Yesus dalam kebudayaan.

3. Kami juga berkomitmen untuk menciptakan model-model baru dalam pewartaan dan katekese dengan metode naratif serta menggunakan pelbagai bentuk kesenian.

4. Tidak kurang juga komitmen kami untuk mengembangkan katekese naratif bagi anak-anak, yang sesuai dengan zaman, tempat dan budaya.

5. Kami akan meneruskan dan meningkatkan kerja sama dan dialog antar-umat beragama yang sudah dilaksanakan oleh Gereja di setiap tingkatan.

6. Kami merasa wajib mengembangkan sikap rela merendahkan diri dengan telinga seorang murid yang selalu siap mendengarkan.

7. Kami bertekad mengedepankan pewartaan lewat kesaksian hidup dan melakukan aksi-aksi kemanusiaan baik secara pribadi (orang per orangan), Gereja sendiri sebagai komunitas beriman maupun dalam kerja sama dengan pelbagai lembaga untuk memerdekakan orang miskin dari cengkeraman kemiskinan dan peminggiran.

8. Kami berkomitmen untuk menghidupi spiritualitas yang memerdekakan. Untuk itu diperlukan pertobatan hati yang mendalam dan diwujudkan secara nyata dalam aksi solidaritas. Para petani, nelayan, buruh, kelompok terabaikan, dan terpinggirkan perlu didampingi secara pastoral. Tidak kalah pentingnya, kami memelihara lingkungan hidup.

Caringin, 5 November 2010
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia

Narasi SAGKI 2010: Perjuanganku sebagai Pengikut Yesus dalam Budaya Dayak

Saya dilahirkan di kota Sintang, sebuah kabupaten dalam wilayah Propinsi Kalimantan Barat, yang penduduk aslinya Suku Dayak. Pertemuan pertamaku dengan Yesus terjadi kala aku berusia tiga bulan dan dipermandikan di Gereja Katedral Kristus Raja Sintang.

Ayahku berstatus Pegawai Negeri Sipil. Kami hidup dalam lingkungan keluarga sederhana. Sebagai anak, kami dibesarkan oleh kedua orang tuaku dalam tradisi agama Katolik dan adat istiadat Dayak (Kantuk dan Kayan). Selama dalam proses pendidikan dalam keluarga kami merajut keterpaduan antara ajaran Yesus Kristus dalam Gereja Katolik dan adat istiadat kami.

Kala masih kecil sebagai orang Dayak saya tinggal di hulu Sungai Kapuas. Berenang bersama ikan-ikan kecil bukan masalah baru. Saya sudah akrab hidup dan bergaul dengan alam bebas. Berladang, bercocok tanam, mencari tetumbuhan di hutan dan berburu termasuk bagian hidup tradisional masyarakat Dayak. Obat-obatan diramu dari akar, batang dan daun tetumbuhan. Kesatuan hidup dengan alam sangat terasa dan tak tersangkalkan.

Titik awal perjumpaanku sebagai orang Dayak dengan Yesus kualami melalui kehadiran kedua orang tuaku yang selalu menyadarkanku sebagai orang Katolik, murid Yesus Kristus. Cara hidup mereka di dalam keluarga dan tempat kerja menunjukkan keterpaduaan serasi antara kebudayaan Dayak dan iman kekristenan.

Selama mengenyam pendidikan di sekolah Katolik ini aku mengalami bahwa sosok Yesus benar-benar hadir dan membawa berkah dalam hidupku. Kehadiran seorang bruder yang penuh kepekaan akan kesulitan hidup mencerminkan kehadiran Yesus di tengah-tengah hidupku. Yesus telah memberikan semua kemudahan pada waktu kami harus mengatasi seluruh tantangan dan kesulitan hidup.

Titik awal perjumpaanku dengan Yesus melalui orang tua, dunia pendidikan formal dan lingkungan hidup. Perjumpaan ini mengubah isi hidupku sebagai pengikut-Nya.

Setelah merasakan kehadiran Yesus dalam diriku aku terus terpacu meningkatkan kualitas imanku sebagai orang Dayak Katolik melalui berbagai kegiatan di lingkungan Gereja. Bercermin pada Yesus yang berjuang hingga akhir hayat di kayu salib, saya berjuang mengembangkan diri melalui jalur pendidikan, baik formal maupun informal. Hingga akhirnya aku menjadi seorang pegawai negeri sipil dan bekerja di kantor Bupati Kabupaten Sintang pada bagian Pemerintahan Desa. Sejak dua tahun lalu, saya diangkat menjadi Camat Kecamatan Kelam Permai. Di sini saya temukan kekayaan rohani yang terpadu dengan tugas-tugas dalam bidang pemerintahan. Bagaimanakah sebagai sebagai seorang Katolik saya dapat menunaikan tugas pelayanan yang saya terima dari Pemerintah?

Ibarat seorang “gembala“ (Yoh 10:10), sekarang saya bertugas membina masyarakat di sebanyak 254 desa, yang mayoritas penduduknya berasal dari etnis Dayak. Sebagai seorang camat saya memberikan yang terbaik untuk meningkatkan mutu hidup, pendidikan dan masa depan masyarakat dalam kecamatanku. Dengan semangat Yesus saya membawa Kabar Baik bagi mereka yang memerlukan uluran tanganku. Tantangan yang menghadang tidak sedikit. Namun, saya tidak merasa takut dan gentar, karena Yesus selalu besertaku dalam hidup dan tugas pelayananku. Keadaan transportasi yang masih memprihatinkan, mutu pendidikan dan kesehatan masyarakat masih perlu segera diperbaiki.

Sebagi camat saya berperan sebagai “Christoforus“ yang membawa Kristus kepada mereka yang memerlukan-Nya. Sungai kuseberangi. Bukit kudaki dan lembah kutelusuri. Kristus menjadi perisai dalam penunaian tugasku mengantar Kristus ke tengah-tengah masyarakat. Di tengah pelayanan aku menempatkan diri sebagai seorang “gembala“ yang mencari domba-domba yang sakit, menderita dan hidup di tengah-tengah globalisasi.

Perjumpaanku dengan Yesus melalui budaya Dayak telah mengubah, membaharui dan mengisi hidupku sebagai seorang pribadi yang terus bertumbuh dalam melaksanakan tugas pengutusan dari Yesus. Di tengah-tengah perubahan zaman, krisis nilai dan pergumulan hidup, saya tetap berpegang pada filsafat hidup sebagai seorang Dayak yang berjiwa Katolik dan membawa Kristus ke mana pun saya melangkahkan kaki dan menunaikan tugas pelayanan.

Di dalam Yesus, saya menimba kekuatan-kekuatan yang tidak bisa disalurkan oleh dunia. Ini sungguh sebuah perjumpaan yang memperkaya seluruh hidup dan perjuangan pribadiku.*** Penulis: Hendrika, Keuskupan Sintang

Narasi SAGKI 2010: KARENA YESUS AKU BEBAS

BERKAH DALEM
Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan, dan Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan Panitia SAGKI 2010, atas kesempatan yang baik ini.

Wilayah Ngargomulyo, salah satu bagian dari Paroki Sumber, terkenal di sebelah barat (8 km) dari puncak Gunung Merapi. Mayoritas warga masyarakat berprofesi sebagai petani dan beternak, sebagian menjadi penggali pasir dan mencari kayu bakar di sekitar Merapi.

Saya tamatan SD Kanisius, karena tidak adanya biaya saya tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berbagai pekerjaan sudah saya jalani dari buruh kasar, menjual kayu bakar, jual buah hingga MLM. Kami salah satu keluarga yang tidak punya agama dan lima kakakku masuk agama setelah menikah. Orang tuaku juga terlibat G30S/PKI, sehingga saya harus mengalami banyak tantangan dalam perjalanan hidup saya, dari cap-cap anak PKI, kafir hingga perlakuan tidak enak sampai tidak berani keluar dari lingkungan rumah kalau tidak keluar dengan orang tuaku. Karena selalu dikerjai sama kakak-kakak seumuranku. Sebagai anak yang orang tuanya telibat G30S/PKI, saya dipermainkan pada waktu mencari SKCK pada waktu mau melamar kerja di KOSIPA. Kemudian pada tahun 1991 saya memutuskan menjadi orang Katolik dan ikut ke Gereja. Karena dorongan dari kakak saya untuk memeluk salah satu agama, karena di kampungku mayoritas beragama Katolik, saya merasa tidak punya teman, ketika orang-orang pada ke gereja, apalagi di hari-hari besar. Juga setiap kali mendengar kata-kata “biadab” “tidak beragama” pada waktu nonton film G30S/PKI yang diputar setiap malam 1 Oktober ada kegelisahan dalam hati saya.

Suatu waktu terjadi kejadian yang menimpa keluargaku. Pada waktu orang-orang pada ke Gereja ada salah satu tetanggaku yang kehilangan kalung emas, lalu orang tuaku yang dituduh, karena yang tidak ke gereja. Kemudian Biyung-ku (ibu) di sidang sama Hansip, di situ biyungku disuruh mengakui, lalu dijambak, di-taboki dan dimaki-maki, “dasar Tapol”, “Gestapu” hingga mau diusir dari kampung. Keluargaku ramai jadi omongan orang. Sampai-sampai ketika saya main ke tempat anak-anak yang pada kumpul mesti sebagian pada pergi. Situasi seperti ini membuat saya tidak nyaman hingga membuat saya jarang di rumah, lebih suka main ke desa tetangga dan mulai jarang ke Gereja, dan mulai bergaul dengan teman-teman yang suka minum minuman keras, dan suka ke dukun, mendalami ilmu hitam, saya mulai berani maling hingga jambret, saya jadi mudah tersinggung dan gampang marah. Lalu suka melawan dengan orang tua. Sering mengeluarkan kata-kata kotor, memukul, menendang sama Biyung (Ibu) hingga mau membunuh Bapakku.

Tetapi Tuhan mengingatkan saya dan menolong saya. Pada waktu saya dan dua teman menjambret, kami dikepung warga dan saya loncat di bawah tebing dalam suasana takut. Tuhan menolong saya, tidak ada satupun yang mencari saya, walau saya tidak jauh dari tempat itu. Tetapi yang kedua kalinya kami tertangkap, namun berkat pertolongan teman kami tidak sampai masuk penjara, walau harus membayar sejumlah uang.

Semenjak kejadian itu kedua orang tuaku sering rebut dan saling menyalahkan dan sering marah-marah sama saya, hingga suatu ketika saya ribut dengan Bapak dan mau saya bunuh, tetapi begitu kepala Bapak mau saya sabet kapak, Bapak bilang begini pada saya “Ya kalau memang ini baik untuk kamu ya silahkan kalau mau dibunuh”. Lalu kepala Bapak ditempelkan di dada saya. Spontan dada saya terasa sesak dan tubuh gemetar lalu detak jantung kencang sekali, dan seperti ada suara yang keluar dari dalam hati saya begini, “Ini orang tuamu, Min!” Dengan perasaan bersalah dan jengkel, saya tinggalkan Bapak. Kemudian pesan Biyung (Ibu) sama kakakku, sebelum meninggal karena serangan jantung begini, “Yang sabar menjaga adikmu Gimin karena memang masih kecil”. Pesan yang menyayat hati dan memunculkan tanda tanya besar dalam hati saya. Maksud dari semua ini apa?

Dengan sikap pasrah kedua orang tuaku, saya merasa dipanggil Tuhan untuk kembali ke jalanNya. Akhirnya saya sadar dan mulai ke Gereja lagi. Panggilan untuk semakin aktif dalam kegiatan Gereja juga sangat kuat, hingga sering mengikuti rekoleksi, pendalaman iman, Mudika, hingga aktif di salah satu Parpol (Partai Politik). Saya bekerja menjadi tukang pecah sambil menggaduh sapi. Dua tahun kemudian Tuhan memberi saya jalan membeli kelapa sawit di Sumsel (Sumatera Selatan), dan dari hasil kelapa sawit itulah, perubahan secara materi saya dapatkan. Dari bangunan rumah, beli motor hingga membayar hutang, hampir 75 juta. Melihat kondisi ekonomi keluarga kami, semua itu mustahil saya dapatkan. Saya rasa semua itu sudah menjadi bagian dari rencana panggilan Tuhan untuk saya.

Kemudian setelah satu tahun lebih bersama Bapak, saya memutuskan untuk menikah, lalu pada tahun 1998 saya menerima Sakramen Baptis dan Komuni. Tubuh dan Darah Kristus memberi kekuatan baru dalam diri saya. Saya bersyukur, Tuhan masih memberi kesempatan untuk hidup, karena satu dari teman saya penjambret dibunuh massa. Kasih Tuhan mendorong saya untuk membagikan sebagian hidup saya untuk Gereja dan masyarakat, sebagai bentuk kesaksian saya.

Saya bertani dan menjadi pencoker di lokasi penambangan pasir dengan alat berat (eskavator). Hingga pada tahun 2000, Romo V. Kirjito, Pr bertugas di Paroki Sumber dan sepertinya Romo menangkap suatu keprihatinan dengan rusaknya lingkungan di sekitar Merapi yang kalau dibiarkan akan berdampak buruk pada dunia pertanian, karena daerah kami kedalaman satu meter sudah pasir. Kemudian Romo membentuk kelompok kecil 20 orang, saya salah satunya, yang kemudian setiap satu minggu sekali kumpul, namanya “Semut Merapi” yang kemudian membuat gerakan mencintai lingkungan hidup, menentang penambangan pasir dengan alat berat yang dijembatani oleh sebuah lembaga FORCIBA (Forum Cinta Bangsa). Tetapi karena situasi memanas, beberapa dari kami menjadi target tebasan pedang, kemudian Romo mengubah gerakannya, Menjadi Gerakan Masyarakat Cinta Air (GMCA) yang semakin meluas ke semua lapisan masyarakat.

Kemudian pada tahun 2001 Paroki Sumber mengadakan Gelar Budaya Merapi, berupa pentas seni yang ada di Lereng Merapi dan Dialog Budaya dan mengundang beberapa tokoh besar di antaranya Bapa Uskup Ign. Suharyo, Pr, Cak Nun, Pak Tanto Mendut (Seniman), dari Vulkanologi, dan DPRD. Kemudian Keuskupan Agung Semarang mengembangkan Pastoral Budaya di Paroki Sumber, yang memihak budaya petani, Misa Budaya, Natal Tani, Gerakan Caping Merapi, yang melibatkan berbagai keyakinan dan tokoh masyarakat, juga membentuk Tim Edukasi Iman berbasis Alam dan Budaya Edukasi Gubug Selo Merapim (EGSPI) dan Edukasi Tuk Mancur, yang mendampingi Live In yang belajar di Merapi. Enam tahun ini sudah sekitar 10 ribu lebih datang ke Merapi. Dari berbagai paguyuban, sekolah-sekolah Katolik, Negeri, Muhammadiyah, dari tingkat SMP hingga Perguruan Tinggi, dari berbagai kota di Indonesia hingga luar negeri. Dengan harapan generasi yang akan datang lebih menghargai Alam Kebudayaan Pertanian, khususnya Air, apapun profesinya. Dan membangun persaudaraan antara kota dengan desa, hingga dengan banyaknya saudara-saudara dari kota yang datang ke Merapi membuat kami bangga, dan martabat kami para petani Ndeso terangkat karena punya banyak saudara dari kota. Tidak sedikit yang masih berhubungan lewat telepon hingga datang bersama keluarga pada waktu liburan.

Sekarang Paroki Sumber dan masyarakat Merapi mulai menuai hasil dari 10 tahun Pastoral Budaya. Hubungan antara umat beragama menjadi semakin harmonis, hingga menumbuhkan sikap kecintaan masyarakat dengan Alam Merapi, yang diwujudkan dalam sebuah PERDES (Peraturan Desa) tentang lingkungan dan tidak lagi dikeluarkannya ijin penambangan pasir dengan alat berat. Mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat mengelola sampah plastik di tingkat keluarga dan sikap menghargai “yang kecil” dengan pengumpulan uang receh di tingkat keluarga yang sudah berjalan sekitar tiga tahun untuk pembangunan gedung Gereja.

Saya pribadi menjadi sadar bahwa hidup saya tidak bisa lepas dari alam, khususnya Air yang sudah lebih dulu ada sebelum yang lain diciptakan seperti yang tertulis dalam Kitab Kejadian (Kej. 1:1-2). Sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di muka Bumi ini, yang harus kita cintai dan kita jaga kelestariannya demi kelangsungan kehidupan semua makhluk, sebagai sikap Iman dalam mewartakan Kasih Allah. Juga membuat saya bangga, tidak lagi minder sebagai petani Ndeso. Karena profesi petani itu tidak lebih rendah dengan profesi yang lain, karena sebagai produsen yang mensuplai bahan makanan bagi semua orang. Dengan pendidikan saya yang rendah, Pastoral budaya juga menjadi sarana saya, belajar tentang arti hidup dan menambah wawasan, hingga beberapa kali saya dikasih kesempatan oleh Keuskupan Agung Semarang dalam TEPAS (Temu Pastoral), dan acara Kaum Muda, juga menjadi Komite Sekolah, Ketua LPMD dan menjadi Ketua Wilayah.

Sepuluh tahun terlibat dalam proses Pastoral Budaya membela Kebudayaan Petani, lingkungan hidup, banyak tantangan yang saya hadapi. Saya merasa ini sebagai cara Tuhan menyentuh umat. Keterlibatan saya membuat saya sebagai orang desa bangga dan tidak lagi terbebani dengan masa lalu saya. Saya hanya berharap kepada semua pihak agar lebih mencintai Alam ini dan Kebudayaan Petani, dan Gereja menjadi teman kami memihak Kebudayaan Petani, supaya ke depan generasi kami terbebas dari sebuah sistem yang tidak adil.*** Penulis: Benedictus Gimin Setyo Utomo, Paroki Sumber – Keuskupan Agung Semarang

Pengalaman dan Tanggapan Dua Peserta SAGKI 2010 Utusan KAMS

Ernytha A. Galla’:
Sebagai salah seorang awam dari Kevikepan Toraja Keuskupan Agung Makassar (KAMS), mendapat kesempatan mengikuti Sidang Agung Gereja Katolik (SAGKI) 2010 tersebut sungguh sangat bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada Keuskupan Agung Makassar, Bapa Uskup, Bapa Vikep Toraja yang telah mengutus saya menghadiri pertemuan akbar dan agung tersebut. Pertemuan yang memberikan kelimpahan sahabat, informasi, pengalaman dan kisah-kisah yang dapat saya ceriterakan kepada keluaga, sahabat dan umat di Keuskupan Agung Makassar khususnya di Kevikepan Toraja berkaitan dengan tugas perutusan Gereja Katolik Indonesia dalam pergumulan imanku sebagai umat Katolik baik dalam masalah sosio budaya, sosio religius dan sosio ekonomi untuk mengenali dan menemukan Wajah Yesus.

Kebersamaan dengan Romo Kardinal, bapa Uskup, para Pastor, para Suster, dan para awam utusan Keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia dalam suatu masa atau waktu, lokasi dan acara yang diatur sama mulai dari pagi hingga malam hari bagi semua peserta: memberikan warna suasana yang sangat menyejukkan hati mengobarkan semangat. Keakraban yang terjalin di antara peserta SAGKI 2010 sejak pertemuan di Klender, maupun di wisma Kinasih-Bogor, kemeriahan perayaan ekaristi dan acara pembukaan seperti tampak pada detik-detik pembukaan dan misa penutup, semangat dan keseriusan serta keaktifan mendengar dan bertanya tentang narasi para penceritera baik pada narasi publik maupun dalam narasi kelompok sesuai subtema yang diangkat setiap hari; refleksi-refleksi teologis yang meneguhkan, suasana tenang dan sakral perayaan iman setiap hari dan kegembiraan dalam pentas seni budaya setiap malam sebagai acara penutup, canda dan tawa di ruang istirahat, pendopo atau depan kamar tidur peserta, semuanya mengungkapkan kelimpahan, sukacita, kegembiraan sebagai bagian dari Kabar Gembira Keselamatan Gereja Katolik Indonesia.
Ia Datang Supaya Mereka Mempunyai Hidup dan Mempunyainya dalam Kelimpahan. Kelimpahan sungguh hadir dalam pertemuan ini, Kelimpahan dalam budaya yang ditampilkan perserta sesuai dengan daerah asal masing-masing baik melalui atribut-atribut daerah yang digunakan setiap hari, lagu dan tarian dalam perayaan ekaristi harian, pentas seni budaya yang ditampilkan kelompok-kelompok yang diberi tugas tampil. Kelimpahan dalam kisah yang dituturkan oleh narator-narator publik maupun narasi kelompok mengantar mengenal dan menemukan wajah Yesus yang sungguh kaya dan murah hati.

Metode Narasi yang digunakan dalam SAGKI 2010 sangat menarik. Saya teringat dengan narasi berupa dongeng yang biasa dipakai kakek nenek dulu selain pengantar tidur anak cucunya juga untuk ajang menanamkan nilai-nilai dan moral kehidupan dalam relasi dengan Tuhan, alam dan sesama mahluk agar tercipta keselarasan, keharmonisan, ketentraman, kemakmuran dan kesejahteraan bagi manusia dan supaya manusia terhindar dari segala bentuk malapetaka, maka terjadilah pewartaan tentang Tuhan yang Maha Baik.

Metode Narasi dalam SAGKI memberikan suatu bentuk pewartaan yang mudah dan dapat dilakukan oleh banyak orang. Dengan bernarasi, sesungguhnya kita telah menjadi narasumber suatu pertemuan, termasuk dalam pewartaan kabar Gembira Keselamatan. Setiap orang memiliki pengalaman, kisah dalam mengenal dan menemukan wajah Yesus dalam segala bidang kehidupannya, baik dalam ragam budayannya, hubungannya dengan agama lain, ataupun di tengah kehidupan dengan sesama yang lemah ekonominya, miskin, tertindas dan terpinggirkan. Kisah tersebut akan merupakan kesaksian imannya yang dapat di ungkapkan atau diceriterakan kepada orang lain. Dengan demikian, pengungkapan kisah seperti itu dapat membuka mata dan hati orang lain untuk melihat kehadiran Tuhan, mengenal dan menemukan wajah Yesus yang memberi hidup dalam kelimpahan. Metode narasi dapat menghasilkan kelimpahan pewarta-pewarta kabar gembira keselamatan dalam Yesus Kristus di Keuskupan, paroki, dan stasi serta rukun yang ada di dalam wilayah Indonesia, sehingga Gereja Katolik di Indonesia semakin kelimpahan pewarta kabar gembira keselamatan sebagaimana tugas panggilan perutusannya.

SAGKI 2010 selain menghadirkan artis ibukota seperti Mayong (MC pada acara pembukaan), seniman budayawan Adi Kurdi, juga menampilkan aktor dan artis di bidang seni budaya dari daerah yang tampil dalam acara pentas seni budaya setiap malam dari Keuskupan-Keuskupan termasuk dari utusan KAMS. Pentas seni budaya dari Keuskupan-Keuskupan disesuaikan dengan subtema harian SAGKI 2010. Pentas seni budaya dari KAMS disesuaikankan dengan sub tema tentang kemiskinan dan masalah ekonomi. Kisahnya adalah ceritera tentang “SAREDADI”.

Saredadi itu adalah seorang gadis yang terlahir tidak sempurna atau cacat dan miskin, namun demikian ia juga ingin melakukan apa yang orang banyak dikampungnya lakukan seperti memberi persembahan pada dewata (diperankan Pastor Marsel L.T.) tetapi ia tidak diperkenankan oleh orang kaya (diperankan Petrus Tandilodang) karena dianggap dewata tidak akan menerima persembahan Saredadi. Saredadi bersedih lalu datang dewata menghibur dan memberikan padi tiga bulir kepada Saredadi untuk ditanam. Lalu ia melakukan apa yang dipesankan dewata, yakni menanam padi tersebut dan hasilnya berlimpah. Saredadi menyuruh pekerja-pekerjanya (Sr. Maria JMJ dari Toraja, Yustina Bittikaka dan Evi Paternus dari Kendari, Fransiska dari Makassar dan Paulus Pabubung dari Luwu serta P. Victor Patinggi) membagi-bagi padi/berasnya kepada orang banyak (Paduan Suara PUKAT di Jakarta dibawah Pimpinan Ibu Luci Palentek dan Tari Pa’gellu’ dari anak-anak kecil PUKAT) dilengkapi dengan penegasan Narasi P. John Manta’. Ceritera yang dilakonkan ini sangat menegangkan bagi saya sebagai pemeran Saredadi, karena tidak punya pengetahuan tentang seni peran, tidak PeDe tampil dengan postur tubuh subur yang kontradiksi dengan kondisi Saredadi yang miskin namun akhirnya dapat menyampaikan pesan bahwa dalam kelemahan, kemiskinan dan kekurangan, Tuhan melimpahkan hartanya bagi orang yang selalu mencari dan berharap belaskasih Tuhan.

Mengenali dan menemukan wajah Yesus dapat terjadi dalam berbagai peristiwa. Ia datang membawa kabar gembira. Beragam budaya, agama dan kepercayaan serta kondidi ekonomi memperlihatkan bahwa Tuhan sungguh kaya dan murah hati; Ia menyerahkan semua itu kepada kita untuk dikelola dengan baik agar kita hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan.

Petrus Tandilodang:
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia merupakan momentum dimana umat Katolik Indonesia merefleksikan tugas dan panggilannya dalam masyarakat. Pada tanggal 1 – 5 November tahun 2000, Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia digelar yang dikaitkan dengan perayaan Yubileum agung tahun 2000 menyongsong milenium III dengan tema “memberdayakan kelompok basis menuju Indonesia Baru”. Melalui pendekatan Gereja yang mendengarkan Gereja Indonesia berharap kehidupan umat dapat tumbuh semakin utuh yang dengan demikian impian Gereja yang kontekstual dapat diwujudkan. Arah SAGKI tahun 2000 tersebut masih diteruskan kembali dalam SAGKI tahun 2005 dengan tema “Bangkit dan Bergeraklah”. SAGKI tahun 2005 mengajak untuk bangkit dan bergerak dalam upaya membentuk keadaban publik baru bangsa.Komunitas-komunitas basis yang dikumandangkan dalam SAGKI tahun 2000 diharapkan menjadi gerakan yang berorientasi ke depan untuk mengembangkan kehidupan bangsa yang semakin beradab. Pembentukan keadaban publik tersebut mencakup seluruh bidang kehidupan entah politik, ekonomi, sosial, hukum, agama dan sebagainya. Karena itulah SAGKI 2005 memunculkan masalah tentang ketidakadaban yang dipandang mendesak untuk diatasi bersama. Dengan demikian SAGKI tahun 2000 dan tahun 2005 arahnya dalam arus arah perutusan gereja yakni mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan umat Katolik di tengah masyarakat.

Untuk menegaskan kembali perutusan Gereja maka SAGKI tahun 2010 mengambil tema "Ia datang supaya semua memperoleh hidup dalam kelimpahan" (bdk. Yoh. 10:10). Dengan tema ini peserta yang merupakan utusan dari keuskupan-keuskupan berkumpul untuk merayakan dan menegaskan kembali panggilannya. Tema-tema yang digeluti selama sidang adalah : (1). Berkisah tentang pengalaman iman sebagai orang Katolik yang bergumul dalam konteks kebudayaannya. Atau dengan ungkapan lain “ mengenali wajah Yesus dalam keragaman budaya. (2). Berkisah tentang pengalaman iman dari agama lain dalam pergaulannya dengan orang Katolik. Atau dengan rumusan lain mengenali wajah Yesus dalam dialog dengan agama dan kepercayaan lain. (3). Berkisah tentang pergumulan iman orang-orang yang mengalami proses marginalisasi dan yang memperjuangkan hak orang-orang miskin dan dalam kondisi tidak berdaya. Atau dengan kata lain, mengenali wajah Yesus dalam pergumulan hidup kaum mariginal dan terabaikan.

Suasana SAGKI 2010
Meskipun hujan mengguyur kota Bogor sejak siang namun suasana SAGKI 2010 pada hari pertama sungguh menampakkan kesatuan dalam keberagaman. Menjelang perayaan ekaristi pembukaan, kesatuan dalam keberagaman nampak jelas dari pakaian adat yang dipakai masing-masing peserta. Dari keragaman tersebut mengingatkan kita disatu pihak bahwa Indonesia kaya dengan berbagai ragam etnis, budaya dan tradisi. Di lain pihak memperlihatkan bahwa betapa iman Katolik mampu menerobos sekat-sekat perbedaan etnis, bahasa, budaya dan karakter. Hal ini sangat membahagiakan dan menjadi kekuatan Gereja Katolik Indonesia. Dikatakan membahagiakan karena ternyata iman Katolik tidak menghapus adat dan budaya tetapi justru melestarikan apa yang baik dalam budaya dan adat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai iman Katolik.

Bukan hanya pada saat perayaan ekaristi nampak keragaman dalam Gereja Katolik tetapi juga pada hari-hari selanjutnya. Setiap malam sebagai kegiatan penutup hari selalu ditutup dengan pentas budaya dari keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia. Setiap keuskupan menampilkan kebudayaan masing-masing. Keuskupan Agung Makassar misalnya menampilkan drama Kisah Saredadi, tari pa’gellu’ dan koor Tomepare yang dibawakan umat Katolik dari keuskupan Agung Makassar yang berdomisili di Jakarta.

Mengenali Wajah Yesus
a. Mengenali wajah Yesus di dalam keragaman budaya
Pada hari kedua SAGKI peserta mendalami tema : Mengenali wajah Yesus di dalam ragam budaya. Sebagai narator publik ditampilkan seorang ibu rumah tangga, Maria Florida Bunga Makin. Ia seorang yang sangat bersahaja dan sederhana namun semangat perjuangannya dalam melukis wajah Yesus di tengah kaum tergusur yang tinggal di rumah liar (ruli) di Batam adalah semangat juang 45. Dalam narasinya ia menuturkan padang gurun kehidupannya yang kadang sulit dia mengerti. Dua kali keluarganya digusur karena mereka tinggal di ruli. Dia seorang ibu rumah tangga dengan penghasilan suami yang terbatas sebagai karyawan galangan kapal dan dia sendiri jualan rokok di tempat suaminya bekerja untuk menambah tambahan pengahsilan suaminya. Yang amat menarik adalah bahwa dalam keterbatasannya ia masih punya hati untuk jiwa-jiwa kaum tergusur yang hidup di ruli. Ia berjuang bukan hanya untuk hidup keluarganya tetapi juga berjuang memenagkan jiwa-jiwa bagi Yesus. Komunitas basis yang dibangunnya tidak membedakan atara warga ruli dan warga perumahan Batam.

Lain halnya dengan seorang seniman dan budayawan, Adi Kurdi. Adi Kurdi sering diundang untuk membuat pementasan berkaitan dengan Gereja. Menurut dia, dalam setiap pementasan ia selalu menampilkan sejarah dan inspirasi. Ia menekankan bahwa wajah iman Katolik tidak selalu hadir dalam kalangan orang Katolik saja tetapi juga hadir dari orang non Katolik. Ia menekankan pendidikan yang berketrampilan sehingga melahirkan manusia-manusia yang terampil dalam bidang ekonomi, sosial, dan juga budaya. Penceritera lainnya adalah ibu Hendrika (profil dan kisahnya juga dimuat dalam edisi ini).

Dalam narasi kelompok 33 dimana saya sebagai anggota, terungkap bahwa ada nilai-nilai budaya yang searah dengan nilai-nilai Kristen, ada yang bertentangan dan adapula yang abu-abu. Sulit diidentifikasi apakah menampilkan wajah Yesus atau tidak.

Semua narasi yang terungkap baik dalam narasi publik maupun kelompok dipertegas dengan refleksi teologis. Dalam refleksi tersebut dipaparkan bahwa Allah sudah hadir dalam setiap kebudayaan kita. Allah hadir dalam manusia ciptaannya dan mengkomunikasikan diriNya dalam bahasa lokal. Kehadiran Allah dalam setiap peristiwa keselamatan secara turun temurun untuk mendukung budaya setempat. Tuhan Yesus hadir dalam setiap kehidupan orang per orang, bahkan bagi orang non Katolik. Wajah Yesus tampak sebagai gembala, inspirator, pengasih tanpa syarat, yang mengampuni, pencari domba yang hilang.

b. Mengenali wajah Yesus dalam dialog dengan agama dan kepercayaan lain.
Sangat menarik dalam tema ini dibawakan dalam narasi. Baik oleh narator publik maupun narasi dalam kelompok. Dalam narasi kelompok muncul berbagai pengalaman berinteraksi dengan masyarakat non-Katolik. Ada yang ekstrim, moderat, saleh sampai yang asal-asalan atau artifisial belaka. Misalnya dari Weetebula, mengalami kesulitan dengan peraturan jam malam kepala desa pada bulan Mei dan Oktober sehingga menyulitkan orang Katolik untuk berdoa Rosario dari rumah ke rumah. Lain halnya di Palangkaraya. Tetangga muslim datang memberi selamat Natal tanpa ucapan selamat tapi hanya salaman. Hal ini karena ada anggapan teman-teman muslim bahwa mengucapkan “ selamat natal” berarti mengakui bahwa nabi Isa Almasih adalah Tuhan. Sehingga ketika tetangga berkunjung hanya bersalaman saja tanpa ucapan. Lain halnya di Sintang, wajah Yesus yang mungil ditemukan secara sederhana dalam jabat tangan.

Apapun situasinya dalam interaksi dengan masyarakat non Katolik, nilai yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa kita bisa belajar dari siapa saja dalam hal beriman. Dari orang pandai dan orang sederhana yang dari kegelapan, juga dari komunitas lain. Yesus memberi teladan bahwa kita bisa belajar dari orang kafir, “ iman sebesar ini belum pernah dijumpai dari orang Israel”. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah dikotomi dalam masyarakat. Kadang lebih menekankan kesalehan kultis jauh lebih baik dari saleh sosial. Orang yang merasa diri saleh secara kultis lalu menganggap orang lain kafir. Dengan demikian terjadi marginalisasi terhadap kumunitas lain. Oleh sebab itu maka kita harus menjaga keseimbangan antar urusan sosial dan urusan kultis. Seperti kata Yesus “ yang kukehendaki adalah belas kasihan bukan persembahan”. Warna-warni relasi antar komunitas beriman hendaknya dalam kerangka saling belajar, penuh persaudaraan dan saling mengasihi. Oleh karena itu sebagai hasil SAGKI 2010 adalah kita perlu lanjutkan aksi relasi dengan umat beragama lain dan membentuk paguyuban lintas iman. Spiritualitas dialog disemangati dengan kerendahan hati. Mohamad Sobary (lebih jauh tentang profil dan isi hatinya dapat dibaca dalam edisi ini) bangga dapat bergaul dengan orang Katolik yang umumnya menampilkan wajah Yesus yang sedeerhana dan rendah hati.

Wajah Yesuspun tampak dari orang Katolik yang mau belajar, tepat waktu, tekun, santun dan tidak takut imannya luntur ketika berinteraksi dengan agama lain kata Bhiksu Pannyavaro. Selama penderitaan masih ada di dunia maka ada panggilan untuk mengurangi penderitaan orang lain. Bila ada kelaparan kita jadi makanan. Bila ada kehausan kita jadi minuman. Bagi rato Marapu, Gereja katolik adalah terang. Ia mengakui diri masih ada dalam kegelapan. Namun ia kerap heran mengapa banyak kerabatnya yang sudah Katolik tidak ke Gereja saat hari minggu. Tersesat di dalam terang mengutip sambutan menteri agama, Suryadharma Ali pada acara pembukaan.

c. Mengenali wajah Yesus dalam pergumulan hidup kaum marijinal dan terabaikan
Pada hari keempat narator publik yang tampil mempresentasikan narasinya adalah Benediktus Gimin Setyo Utomo (profil dan narasinya dimuat juga dalam edisi ini). Narator publik lainnya, Maria Mediatrix Mali dari Maumere. Dalam paparan narasinya, Mediatrix menyampaikan bagaimana perjuangannya membela hak hidup anak-anak. Ia banyak berjuang dalam pemulihan gizi anak, pendidikan anak dan rehabilitasi anak-anak cacat. Ia mendirikan sekolah TK, SD dan SMP. Semuanya itu dia lakukan dengan satu keyakinan bahwa semua anak punya hak hidup. Bila anak tidak mampu menolong dirinya lepas dari penderitaan hidup, maka saya harus terlibat melepaskan penderitaan anak-anak.

Narator publik tanah Papua, Romo John Bunay, Pr., akrab disapah Bapa John para peserta SAGKI, juga memparkan narasinya sebagai pembela Kaum mama Papua yang tidak mendapatkan tempat yang layak berjualan di pasar. Dia terinspirasi dari perjuangan mamanya untuk menyekolakannya. Perjuangannya membela kaum mama Papua telah memperlihatkan hasil dengan dibangunnya pasar tradisional untuk kaum mama Papua.

Disamping narasi publik sebagaimana tersebut di atas juga ada narasi-narasi pribadi dalam kelompok. Semuanya dimaksudkan untuk semakin memperkaya pengalaman mengenali wajah Yesus dalam diri orang miskin.

Dalam refleksi teologis, baik narasi publik maupun kelompok mendapat penegasan.Refleksi teologis bahwa pribadi miskin adalah pewahyuan wajah Allah. Ketidakadilan structural melahirkan kemiskinan structural. Proses pemiskinan mencederai citra Allah. Metacardia dalam mengenai hati manusia agar bias berbelaskasih. Pribadi miskin adalah pewahyuan Allah. Tindakan yang harus dibuat adalah menimbulkan kepekaan dan kesadaran tentang struktur sosial yang memiskinkan dan pola pikir yang harus ditransformasikan untuk menelaah sistim sosial.

Yesus mengajarkan kepada para rasul, ketika melihat orang lapar sedang mengikuti mereka, “ beri mereka makan “.

Penutup/Refleksi Pribadi
Apa yang mau dicapai oleh SAGKI 2010 dengan mengenali wajah Yesus melalui metode Narasi sebagaimana dipaparkan di atas? Kiranya yang mau dicapai menurut hemat saya adalah pertama, Gereja yang anggotanya saling menguatkan dengan menarasikan apa yang menjadi pengalaman peserta dalam tiga wajah Yesus. Kedua, tumbuhnya kesadaran bahwa anggota Gereja bukan hanya hirarki. Kesadaran ini pada waktunya akan mengarah secara spesifik pada evangelisasi pribadi dari setiap peserta. Yesus akan dikenal bukan sekedar nama atau pribadi-Nya tetapi karya-karya-Nya. Dia akan dikenal sebagai individu yang aktif membantu manusia. Yesus akan dihadirkan oleh para peserta di keuskupan masing-masing bukan hanya nama atau pribadi semata tetapi menghadirkan Yesus dalam karya-karya lokal, dalam budaya setempat, agama lain serta kaum miskin dan marginal.***