Kamis, 10 September 2015

SYUKUR 25 TAHUN IMAMAT: TIADA TERANG LAIN SELAIN KRISTUS

Para yubilaris bersama uskup dan para pastor sesudah misa syukur 3 Juli 2015 di Gereja Paroki Makale

Tiada terang lain selain Kristus” merupakan penggalan reffren dari sebuah nyanyian yang diaransir oleh seorang pemuda ahli musik asal Yogya dan dipersembahkan secara khusus untuk memaknai perayaan ulang tahun imamat yang ke-25 bagi kelima imam projo Keuskupan Agung Semarang dan keempat imam projo Keuskupan Agung Makassar tahun 2015. Teks lengkap nyanyian tersebut berbunyi:

1. Karna belas kasih-Mu, Tuhan memandang kami, untuk berkarya di kebun anggur-Mu. Meski rapuh dan lemah, Engkau memilih kami, untuk menjadi alat-Mu yang setia. Reff.
2. Karna kasih sayang-Mu, Tuhan menangkap kami, untuk bekerja dalam satu hati. Meski serba terbatas, Engkau memakai kami, menghadirkan misteri-Mu yang agung. Reff.
3. Karna kemurahan-Mu, Engkau mengutus kami untuk mencinta yang Engkau kasihi. Dalam suka dan duka, Engkau kami andalkan, untuk wartakan sukacita Injil. Reff.

Reffren:
Dengan Tubuh dan Darah-Mu, Kausatukan kami, Kaukuatkan kami Tuhan,
Kauutus bersaksi: Tiada terang lain selain Kristus. Tiada terang lain selain Kristus.  

Nyanyian ini membingkai sekaligus menggarisbawahi “mutiara iman” yang terkandung dalam perjalanan hidup imamat selama rentang waktu 25 tahun bagi kami bersembilan. Mengingat makna rohaninya yang kaya dan dalam, nyanyian ini menjadi “nyanyian pujian” (sesudah nyanyian komuni) dalam beberapa kesempatan perayaan Ekaristi, termasuk Misa Kudus pembukaan tahun kuliah FTW Yogya tahun ajaran 2015-2016.
  
Mengapa bersembilan?
Semua dimulai ketika kami berjumpa, berkenalan dan belajar bersama-sama sebagai mahasiswa baru tingkat I di Institut Filsafat dan Teologi (IFT), Kentungan, Yogyakarta pada bulan Agustus 1983. Kami total berjumlah 70 orang saat duduk di tingkat I IFT. Ketika memasuki tingkat II (1984-1985), teman seangkatan kami di IFT berkurang menjadi 60 orang, karena ternyata ada beberapa teman mengundurkan diri. Pada waktu tingkat II itu, tepatnya tanggal 1 November 1984, kami menghadiri dan menyaksikan perayaan Ekaristi Inaugurasi IFT menjadi FTW atau Fakultas Teologi Wedabhakti, yaitu sebuah fakultas kepausan yang diakui langsung oleh Tahta Suci dan berhak untuk memberikan gelar-gelar akademik teologi gerejawi, yakni Bakaloreat Teologi, Lisensiat Teologi, dan Doktor Teologi.
Di tingkat III (1985-1986), jumlah mahasiswa angkatan kami tinggal 55 orang. Lalu pergilah kami pada tahun ajaran 1986-1987 ke tempat Tahun Orientasi Pastoral. Umumnya kami menjalani tahun orientasi pastoral di Paroki, dan hanya beberapa saja yang di kategorial seperti Seminari Menengah. Memasuki tingkat IV (1987-1988), setelah satu tahun TOP itu, kami berjumpa lagi seangkatan mahasiswa teologi. Waktu itu kami berjumlah total 52 orang. Ada sekian mahasiswa yang mundur, tetapi juga ada sekian mahasiswa, khususnya dari teman-teman Jesuit yang bergabung, sehingga di tingkat V (1988-1989) kami berjumlah 58 orang. Selesai Ujian Bakaloreat dan S1, kami mengikuti acara wisuda sarjana di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Lalu ketika memasuki tingkat VI (1989-1990), yakni tingkat terakhir, kami dibagi dalam dua kelas: satu kelas besar (32 orang) untuk studi program imamat, dan satu kelas kecil untuk jurusan studi lisensiat (5 orang). Di tingkat VI pula kami menjalani Ujian Ad Audiendas, yang seolah menjadi syarat terakhir sebelum diperkenankan maju ke tahbisan diakonat. Ketika di tingkat VI pula, kami ikut ramai-ramai berbondong-bondong ke lapangan Adisucipto, Yogyakarta untuk mengikuti Misa Kudus bersama Paus Yohanes Paulus II yang dari tanggal 9 hingga 13 Oktober 1989 mengadakan kunjungan pastoral di tanah air tercinta, Indonesia.
Dari sejarah kami sebagai calon imam projo untuk KAMS dan KAS, tentu kami mempunyai dinamika sendiri-sendiri. Hanya saja, kami bersembilan ini disatukan dalam banyak peristiwa penting: bersama-sama menerima pelantikan sebagai Lektor dan Akolit pada tanggal 24 Januari 1989, dan menerima pentahbisan Diakon pada tanggal 24 Januari 1990, di tempat yang sama yaitu Kapel Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta, dari Bapa Uskup Agung Semarang, Mgr. Julius Darmaatmadja SJ.
Angkatan Rm Frans, Rm Felix, Rm Johni, dan Rm Valens berjumlah 12 orang saat masih di tahun matrikulasi. Lalu 12 Frater ini memasuki tahun pertama di Seminari Tinggi Anging Mammiri, Yogyakarta. Dengan dinamika yang seluruhnya diketahui Tuhan sendiri, akhirnya yang ditahbiskan imam untuk Keuskupan Agung Makassar pada tanggal 3 Juli 1990 berjumlah tujuh orang. Tahbisan imam tersebut dilangsungkan di Gereja St. Yoseph Pekerja, Gotong-Gotong, Makassar. Hingga tahun imamat yang kedua puluh lima ini, ada satu teman imam yang telah mendahului berpulang kepada Allah Bapa di surga, yaitu Rm Stanislaus Salama Pr, dan dua teman lain mengundurkan diri. Semoga Rm Stanis berpesta perak di surga dan mendoakan kami dan kita semua! Amin.
Ada pun angkatan Rm Atas, Rm Giyono, Rm Marta, Rm Saryanto dan Rm Subagio berjumlah 17 orang saat memasuki Tahun Orientasi Rohani di Jangli, Semarang (1982-1983). Kemudian ada 12 Frater yang memasuki Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan. Dinamika perjalanan panggilan angkatan ini membawa buah akhir pentahbisan enam orang menjadi imam Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 15 Agustus 1990 di Kapel St. Paulus, Seminari Tinggi, Kentungan, Yogyakarta. Dalam perjalanan imamat selama dua puluh lima tahun ini, ada satu teman imam yang mundur, dan kami berlima melanjutkan perutusan kami di kebun anggur Tuhan. Dengan teman-teman yang mundur dari imamat itu, kami tetap bersahabat dan berkomunikasi dengan baik, sebab Tuhan yang memanggil kami mengasihi kami satu per satu sesuai dengan tempat dan tugas kami masing-masing.
Jadi kesimpulannya, rahasia kebersamaan kami bersembilan ini barangkali terletak pada doa kami, para imam seangkatan, yang sejak imam baru, kami mempunyai kebiasaan untuk saling mendoakan satu sama lain, agar Tuhan melindungi imamat kami dan membuat imamat kami berbuah bagi Gereja dan sesama.

Misa Konselebrasi dengan para romo di Seminari Anging Mammiri


Safari Kegiatan
Kamis, 2 Juli 2015:  Kelima imam KAS tiba di Makassar, malam dengan bus menuju Toraja
Jumat, 3 Juli:  Misa Syukur Perak Imamat di Gereja Paroki Makale, dipimpin Mgr. John Liku-Ada’
Senin, 6 Juli:  Misa Kudus di rumah keluarga P. Valens
Rabu, 8 Juli:  Misa Kudus di rumah keluarga P. Frans
Jumat, 10 Juli: Kembali ke Makassar
Keterangan: Acara di Toraja juga ditandai     dengan wisata “Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’“

Sabtu, 11 Juli: Rekreasi ke Pulau Samalona, Makassar
Senin, 13 Juli: Menuju Manado, RETRET dan REFLEKSI IMAMAT di bawah panduan buku Paus Benediktus XVI “The Apostles”
Sabtu, 18 Juli: Kembali ke Makassar
Keterangan: selama di Manado juga sempat berkunjung ke beberapa destinasi wisata, a.l. Bunaken, Bukit Kasih, Tondano dan Danau Linow.

Senin, 20 Juli :
Sore: Misa Syukur Pesta Perak Imamat di Gereja Katedral Makassar, dipimpin Mgr. John Liku-Ada’
Selasa, 21 Juli: Ke-5 imam KAS balik ke Yogya
Rabu, 12 Agustus: Imam KAMS menuju Yogya, Makan malam di Jejamuran
Kamis, 13 Agustus 2015
Pagi: Berangkat ke Jumapolo.
Sore: Misa Pesta Perak – Rm Giyono di Gua Maria Bunda Pemersatu, Tengklik, didahului rosario
Jumat, 14 Agustus
Pagi: Sarapan di Morolejar (pak Wageyono – teman angkatan tk I FTW). Selanjutnya Lavatour dipimpin Pak Kamto (angkatan tk I FTW).
Sore : Berkunjung ke Melcosh CafĂ© di Pakem – milik Keuskupan cq. Yayasan Sanjaya.
Sabtu, 15 Agustus
Sore: Berangkat dari AM ke rumah keluarga Rm. Marta di Bantul Timur. Sesudah Misa Kudus yang dipimpin Mgr. Ign. Suharyo dilanjutkan ramah tamah dan sesudahnya wayang wahyu.
Minggu, 16 Agustus
Pagi: Misa Pesta Perak ke-4 Yubilaris KAMS bersama para Romo dan Frater Seminari Anging Mammiri
Sore: Misa Pesta Perak bersama keluarga Kodyat dan didukung eks Seminari dan eks teman FTW.
Senin, 17 Agustus
Pagi: Berangkat ke Sendang Sono
Sore: Misa Pesta Perak di rumah keluarga Rm. Saryanto
Selasa, 18 Agustus
Pagi : Misa Pembukaan Tahun Akademik dipimpin Ketua FTW didampingi para Rama jubilaris – pesta perak. Homili oleh Rm Saryanto. Dilanjutkan Lectio Brevis, Masukan Alumni dari Rm Felix dan Rm. Atas; dan Studium Generale dengan tema “Teologi dalam tantangan keanekaragaman budaya” oleh Rm. Raymundus Sudhiarsa SVD.
Rabu, 19 Agustus
Siang: Makan siang di Pastoran Kidul Loji – Kevikepan DIY
Sore  : Misa di kapel Adorasi Ekaristi Abadi di Jatiningsih (Gua Maria), Klepu, perarakan Sakramen Mahakudus dari kapel ke lingkungan.
Kamis, 20 Agustus
Sore: Berangkat ke Ngembesan, Misa Pesta Perak – di Rumah keluarga Rm. Giyono.
Jumat, 21 Agustus
Sore: Misa Pesta Perak di Konvik Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan. Misa dipimpin Mgr. Hadisumarta O’Carm. Rm. Marta homili. Sambutan-sambutan: Rm. Rektor Seminari Tinggi, Rm. Frans Nipa mewakili para Rama jubilaris dan ungkapan hati dari Bp. Kardinal Julius Darmaatmatja, SJ.
Sabtu, 22 Agustus
Pagi : Berangkat ke Gua Maria Kerep, Ambarawa. Makan siang di Ambarawa, langsung ke Weleri.
Sore: Misa di Gua Maria Besokor, Weleri – bersama Rm Atas Wahyudi. Malam langsung pulang ke Yogya.
Minggu, 23 Agustus
Pagi: Para Romo KAMS kembali ke Makassar.
Jumat, 28 Agustus:  
Pagi: Misa dengan Uskup KAS dan UNIO di Paroki Administratif Pringgolayan. 
 
Yubilaris Rm. Marta memotong tumpeng untuk diserahkan kepada Mgr. Ign. Suharyo yang menjadi Selebran Utama di rumah Keluarga Rm. Marta di Bantul

  Rangkaian safari pesta perak imamat tersebut sama sekali bukanlah perayaan atas apa yang telah kami buat selama 25 tahun ini, sama sekali pula bukan parade kesetiaan dan kesanggupan kami bertahan dalam imamat selama 25 tahun ini, sebab siapakah kami sehingga berani membanggakan apa yang sejatinya hanya kami terima dari Allah saja? Tetapi yang benar ialah, bahwa rangkaian pesta perak imamat ini adalah perayaan atas kasih, kemurahan dan belaskasih Allah yang berkenan memandang kami bersembilan ini, para hamba-Nya yang rapuh dan lemah. Benarlah kata-kata Paus Benediktus XVI pada sambutan pertamanya ketika terpilih sebagai Paus, bahwa Allah sering menggunakan sarana yang terbatas bagi karya-Nya. Kami ini hanyalah sarana Tuhan yang terbatas. Maka, kami hanya ingin bergabung pada perkataan Santo Paulus: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan” (2 Kor 1:3). Satu-satunya kebanggaan yang kami boleh bermegah hanyalah dalam kelemahan, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa Kristus menjadi sempurna (bdk. 2 Kor 12:9). Kami sendiri tidak pernah tahu, sampai kapan kami boleh melayani Tuhan dan Gereja, tetapi yang kami tahu dengan pasti ialah bahwa Allah yang memanggil kami adalah setia, Ia juga akan menyelesaikannya (bdk. 1 Tes 5:24). 
Dan menarik juga untuk kami renungkan kenyataan bahwa sementara “Safari Pesta Perak Imamat” berjalan, dua orang sesama imam meninggal dunia. Di Makassar kami bersembilan menghadiri Misa Requiem P. Gilbert Keirsbilck, CICM di Gereja Katedral tanggal 20 Juli 2015 (pagi). Dan di pulau Jawa kakak kandung dari Rm. Marto sendiri yakni Rm. Djita, SJ meninggal dunia tanggal 25 Agustus 2015. Pastor, guru dan saudara kami, selamat jalan kembali ke rumah Bapa di surga, terima kasih atas “wasiat” yang ditinggalkan bagaimana menjadi imam yang sejati hingga akhir hayat dikandung badan.

Penutup
Pada bagian penutup ini kami bersembilan ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada para Bapa Uskup, pimpinan kami, yang dengan penuh kebapaan dan kasih sayang menerima, mendampingi dan melindungi kami. Kepada para Rama UNIO KAMS dan KAS, kami juga berhutang terimakasih tak terhingga atas persaudaraan yang boleh kami alami sebagai keluarga sendiri. Terimakasih juga untuk semua saudara-saudari yang kami hormati dan kasihi, yaitu mereka yang terlibat dan hadir dalam pelayanan kami selama dua puluh lima tahun ini. Dan terutama untuk kasih, perhatian dan doa yang boleh kami alami dari Anda semua dalam perjalanan hidup kami selama ini, sekaligus khususnya pada perayaan pesta perak imamat kami ini.
Perkenankanlah pula kami memohon maaf dan pengampunan kepada Anda semua, siapapun saja, untuk semua kesalahan, kekurangan dan kerapuhan kami selama ini.
Semoga pada akhirnya kita semua bersama boleh menyampaikan puji, hormat dan kemuliaan untuk selama-lamanya bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus, dalam Roh Kudus (bdk. Rm 16:27).***

        Catatan: Disalin dan diedit oleh Pastor Frans Nipa dari Buku Kenangan “Tuhan Berkenan Memandang Kami”, Kanisius 2015.

Rabu, 09 September 2015

Refleksi dan Harapan: 65 TAHUN PERJALANAN PAROKI SANTO YAKOBUS MARISO

Pelepasan balon ungkapan syukur, 26 Juli 2015

Pesta Pelindung dan HUT Paroki tahun 2015 ini sungguh istimewa, mengingat Paroki Santo Yakobus Mariso telah genap berusia 65 tahun dan hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilalui oleh karena dinamika yang terjadi begitu cepat dan prospektif. Berbagai program kegiatan yang dilaksanakan sungguh menjadikan sebuah ungkapan rasa syukur, kegembiraan bersama sekaligus sebagai refleksi. Program kegiatan tersebut adalah Bakti Sosial Bersih Lingkungan (BSBL) di lingkungan gereja bersama masyarakat di Kecamatan Mariso, Gerak Jalan Santai dan Sehat (JS2) sebagai ungkapan syukur atas kehadiran Stasi Santo Albertus Tanjung Bunga di KAMS, Donor Darah dan Pemeriksaan Tensi, Bazar Kebutuhan Sekolah dan Pakaian bagi warga kurang mampu, Saint Jacob Choir Competition antar rukun dalam upaya menghidupkan, menggairahkan dan menggugah persaudaraan, Workshop Pengenalan Blog Rohani bekerjasama dengan dosen Teknik Informatika Universitas Atma Jaya Makassar, Penyuluhan Kesehatan Mulut dan Gigi bekerjasama dengan kedokteran gigi Unhas, Workshop Merangkai Daun dan Eco Decoration hingga pada puncak perayaan Misa Syukur Inkulturasi oleh Mgr. DR. John Liku Ada’, Pr. bersama konselebran Pastor Leo   Paliling, Pr. dan Pastor Vius Oktavianus, Pr. dengan nuansa nilai kearifan lokal yang mengangkat budaya Bugis-Makassar. Kegiatan kebersamaan disemarakkan pula dengan Pesta Umat di lapangan seminari menengah (SPC) dimana setiap rukun berkontribusi dalam menyediakan makanan untuk disantap bersama seluruh peserta yang hadir. Tema yang direfleksikan dalam rangkaian perayaan ini adalah “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13), sehingga umat boleh belajar untuk bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi rencana, harapan, tantangan dan kebersamaan yang   tengah dibangun demi kemuliaan Kerajaan Allah.

Hingga Agustus 2015, keadaan umat Paroki Santo Yakobus yang terdaftar dalam database system paroki berjumlah 5.095 jiwa dengan 1.299 KK.  Data ini diperoleh dari program pendataan umat yang dicanangkan oleh   Keuskupan Agung Makassar (KAMS) pada tahun 2014 lalu. Jumlah kelompok umat yang telah terbentuk terdiri dari 33 rukun yang tergabung dalam 1 stasi dan 5 wilayah. Secara geografis, wilayah Paroki Santo Yakobus Mariso berada pada kecamatan Mariso dan Tamalate di kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan. Lokasi gereja berada bersebelahan dengan Seminari Menengah Santo Petrus Claver (SPC) atau di sebelah barat kota Makassar. Batas lokasi Paroki Mariso berada pada wilayah utara yang berbatasan dengan Kecamatan Ujungpandang, wilayah timur dengan Kecamatan Mamajang, wilayah selatan dengan Kabupaten Gowa dan wilayah barat dengan pesisir pantai laut di sepanjang Selat Makassar. Lokasi Kecamatan Mariso berada pada koordinat 5,15 °LS dan 119,41 °BT yang terdiri dari 9 Kelurahan, yaitu: Bontorannu, Kampung Bupyang, Kunjung Mae, Lette, Mario, Mariso, Mattoangin, Panambungan dan Tamarunang. Lokasi Kecamatan Tamalate berada pada koordinat 5,17 °LS dan 119,43 °BT yang terdiri dari kelurahan Balang Baru, Barombong, Bongaya, Jongaya, Maccini Sombala, Mangasa, Mannuruki, Pa’baeng-Baeng, Parang Tambung, dan Tanjung Merdeka.

Berdasarkan hasil analisis awal pengolahan data pada program pendataan umat pada awal tahun 2015, telah dapat diperoleh berbagai informasi dan potensi umat dalam bentuk buku profil umat paroki. Informasi tersebut seperti keadaan umat, jenis kelamin, hubungan anggota rumah tangga, kelompok usia, golongan darah, status kesehatan, suku bangsa, status ekonomi umat, kegiatan ekonomi umat, status pendidikan umat, pastoral anak, OMK, dewasa, status hidup berkeluarga, usia pernikahan keluarga katolik, kelompok permandian, belum baptis, belum krisma, status gerejawi, dan keterlibatan sosial umat. Seiring dengan berjalannya waktu pendataan umat, beberapa pertanyaan dan    tantangan baru mulai bermunculan di antaranya: pertama “Bagaimana pengurus depas menyikapi hasil pendataan umat yang ada?”, kedua “Program kerja pastoral apa yang sekiranya mungkin dilaksanakan?” dan ketiga “Apakah program pendataan umat ini sungguh berguna bagi perkembangan hidup menggereja umat di masa mendatang baik pada tingkat Paroki maupun Keuskupan pada umumnya?”

Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut tentunya tidaklah mudah. Beberapa kendala yang dihadapi seperti beberapa pengurus seakan masih belum begitu paham dan mengerti akan manfaat dari program pendataan umat, sehingga program kerja beberapa seksi masih belum sepenuhnya menggunakan database sebagai dasar, arah dan tujuan pencapaian program kerja. Sebagian pengurus masih berjalan dengan menggunakan intuisi dan habit cara sebelumnya. Di sisi lain depas paroki sendiri belum memiliki sekelompok anggota pengurus yang bertugas dan bertanggung jawab secara khusus dalam memikirkan dan mengolah data lebih lanjut untuk diteliti, dianalisis dan dikembangkan sehingga dapat menghasilkan suatu program yang efektif, berguna dan tepat pada sasaran yang pada akhirnya akan mendukung misi dan visi gereja. Untuk menjawab pertanyaan kedua, tentunya perlu dipikirkan lebih mendalam mengenai program kreatif, inovatif dan efektif untuk menghindari kejenuhan kelompok kategorial yang ada dalam berkegiatan. Program kerja pelayanan dengan melibatkan sebanyak mungkin potensi yang ada kiranya akan semakin memantapkan pengurus dalam melangkah dan mencapai tujuan bersama. Beberapa data yang sudah ada seperti pastoral anak, OMK, dewasa tentunya merupakan informasi yang berharga untuk dapat menentukan dan menjalankan berbagai macam program kegiatan. Sebagai contoh, berdasarkan hasil pendataan umat terdapat jumlah OMK 1.454 jiwa namum kenyataannya tidak lebih dari 10% jumlah tersebut yang aktif berkegiatan setiap minggunya di gereja atau seperti dalam doa umat di rukun/wilayah/stasi. Untuk itu perlu kiranya dibentuk suatu wadah kelompok OMK di tingkat rukun (kepengurusan) agar semakin banyak potensi orang muda yang terlibat dan memberi perhatian terhadap hidup menggereja dengan mengingat bahwa OMK adalah salah satu “generesi penerus” gereja, bangsa dan tanah air. Untuk menjawab pertanyaan ketiga terhadap program pendataan umat bagi perkembangan di masa mendatang tentunya perlu upaya meng-update data secara rutin dan berkala. Salah satu informasi yang diperoleh melalui pendataan umat adalah terdapatnya 288 KK yang perlu dibantu, sehingga ini merupakan sebuah tugas pengurus dan kesempatan untuk gereja dapat membantu umat yang berkekurangan sesuai dengan prinsip “option for the poor.” Informasi keadaan mengenai jumlah dan komposisi umat sangatlah penting dan dapat berpengaruh pada penyusunan rencana program kerja depas paroki agar diupayakan lebih terencana, dinamis dan bersinergi.

Melalui berbagai gerakan yang tengah berjalan seperti “Gerakan Ayo Sekolah” yang tahun 2014 diresmikan hingga awal Agustus 2015, pengurus melalui bantuan para penyantun telah menyalurkan dana pendidikan kepada 57 orang (SD, SMP dan SMA/Seminari) yang kurang mampu namun memiliki potensi kemampuan kognitif dan afektif yang baik. Sebuah harapan baru hadir dengan diresmikannya Gerakan “Ayo Menanam” pada 26 Juli 2015 oleh Mgr. John Liku Ada’. Semoga progam ini akan menjadi sebuah gerakan yang semakin lebih nyata dalam membantu kehidupan perekonomian umat mengingat terdapat 192 orang dengan status non-job dan 85 orang belum tahu pada pendataan dalam kegiatan ekonomi umat. Harapan di masa mendatang semoga kesadaran umat akan semakin tumbuh dengan lingkungan hidup yang bersih dan sehat, dalam kehidupan menggereja yang sungguh nyata, relevan, dan kontekstual berdasarkan database umat. *** (Penulis:N. Tri Suswanto Saptadi, Pemerhati, Pengurus, Peneliti dan Pengajar)