Minggu, 29 Desember 2013

Peresmian dan Pemberkatan Gereja Katolik Maria Ratu Rosari, Kare: Penantian Panjang Itu Akhirnya Terwujud Juga


Sekitar 3000 umat Kare serta sejumlah tamu undangan yang datang dari Jakarta dan Makassar berkumpul memenuhi gedung gereja paroki Maria Ratu Rosari Kare, pada hari Minggu, 17 November 2013. Hari itu memang menjadi hari yang sangat istimewa bagi segenap umat paroki Kare, sebab penantian panjang mereka selama 43 tahun akan hadirnya gedung gereja kini telah mencapai titik kulminasinya. Pada hari itu, Gereja Katolik Maria Ratu Rosari Kare akhirnya diresmikan dan diberkati.
Semenjak pukul 06.00, umat telah berbondong-bondong datang untuk membersihkan gereja serta mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan acara peresmian dan pemberkatan gereja. Acara sendiri pada kenyataannya baru dimulai pukul 09.30 dengan diselenggarakannya peresmian gedung gereja dan dilanjutkan dengan misa kudus pemberkatan gereja pada pukul 11.00. Rangkaian acara sepanjang hari itu ditutup dengan acara ramah tamah yang terasa spesial, karena setiap rukun membuka stand masing-masing untuk menyajikan masakan hasil olahannya yang dapat dinikmati bersama oleh seluruh umat. Dengan demikian acara peresmian dan pemberkatan gereja Kare sesungguhnya merupakan suatu pesta umat, yang mensyukuri anugerah Tuhan yang tak terkira, khususnya dalam rupa gedung gereja.

Acara Peresmian Gereja Kare
Kemeriahan acara peresmian gereja Kare, dapat dikatakan, merupakan puncak kebahagiaan seluruh umat paroki. Acara peresmian tersebut dibuka dengan tarian Gandang Bulo, pengalungan karangan bunga serta pengguntingan pita untuk menyambut ketiga tamu kehormatan yang akan meresmikan gereja Kare, yaitu Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada’; Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin; serta Walikota terpilih periode 2014-2019, Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto.
Walikota Makassar, dalam sambutannya, mengucapkan selamat atas keberhasilan perjuangan umat paroki Kare, sehingga umat sekarang dapat lebih memusatkan perhatian dan konsentrasi dalam memanjatkan doa, tanpa perlu lagi mengeluhkan suasana yang panas serta tempat ibadah yang sempit dan kurang memadai. Walikota berharap agar keberhasilan perjuangan umat paroki Kare ini bisa menjadi semangat dalam mendukung pemerintah mewujudkan impian kota Makassar menjadi kota dunia. Ia berharap pula bahwa umat paroki Kare mampu menjadi umat yang dewasa, sehingga tidak mudah terpancing oleh isu-isu bernuansa SARA, yang sering kali tidak jelas kebenarannya.
Harapan yang kurang-lebih senada diungkapkan oleh Walikota terpilih periode 2014-2019, Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto. Sebagai pejabat yang memiliki latar belakang di bidang arsitektur, ia menilai bahwa gereja Kare adalah bangunan yang memiliki detail-detail sangat indah. Karya ini, menurutnya, hanya bisa terjadi karena rahmat Tuhan. Ia pun menggarisbawahi bahwa keterpilihannya sebagai walikota untuk periode yang akan datang salah satunya karena dukungan dari umat Kristiani. Oleh sebab itu ia mengajak seluruh umat Kristiani di Makassar, termasuk pula umat paroki Kare, untuk bersama-sama bahu-membahu mewujudkan kota Makassar menjadi lebih baik.
Dalam sambutannya, Uskup Agung Makassar mengungkapkan bahwa suasana yang dialami pada hari bersejarah ini sesungguhnya telah didambakan oleh umat paroki Kare sejak 43 tahun lalu. Beliau pun menegaskan bahwa yang menjadi tokoh kunci yang memungkinkan umat paroki Kare mendirikan gedung gereja adalah Walikota Makassar. Oleh sebab itu bapak Uskup, mewakili seluruh umat paroki Kare, mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu mewujudkan harapan umat untuk memiliki gereja yang memadai bagi sekian ribu umat paroki Kare. Bapak Uskup juga mengajak seluruh umat untuk mendukung Walikota terpilih, sehingga cita-cita untuk membangun Makassar menjadi lebih baik dapat terwujud.
Akhirnya, detik-detik peresmian gereja Kare dilakukan secara simbolis dengan pemukulan gong dan penandatanganan prasasti peresmian oleh Walikota Makassar beserta Uskup Agung Makassar dan disaksikan oleh seluruh umat yang hadir dalam acara tersebut.

Misa Syukur Pemberkatan Gereja Kare
Jika para tamu kehormatan yang meresmikan gereja Kare disambut dengan tarian khas dari Tana Toraja, maka arak-arakan para imam undangan serta para petugas liturgi yang memasuki gereja disambut dengan tarian khas Bajawa, Nusa Tenggara Timur. Tidak kurang dari 19 imam turut serta dalam misa syukur pemberkatan gereja Kare. Mereka antara lain: Vikep Makassar, para imam KAMS serta para imam CICM dari komunitas misionaris Banjarmasin dan Jakarta.
Misa syukur pemberkatan gereja Kare diselenggarakan dengan corak inkulturatif. Oleh sebab itu, nuansa beragam budaya Nusantara sangat kental mewarnai seluruh misa. Hal itu terutama nampak dalam lagu-lagu liturgi, doa umat, serta tarian pembuka dan tarian persembahan. Misa syukur sendiri diawali dengan serah terima gedung gereja paroki Kare yang diwakili oleh Ketua Panitia Pembangunan, Yosep Galla, kepada Uskup Agung Makassar, yang dilakukan secara simbolis dengan penyerahan anak kunci pintu-pintu gereja dan pintu tabernakel.  
Seluruh elemen paroki Kare turut berpartisipasi dalam memeriahkan misa ini. Setiap rukun dan kelompok paduan suara di paroki Kare (SMS, Serafim dan Vox Populi) mengirimkan perwakilannya untuk bergabung dalam paduan suara Keluarga Besar Paroki Kare yang beranggotakan tidak kurang dari 300 orang, sehingga terbentuklah suatu paduan suara nan megah yang melambungkan pujian atas berkat dan kemurahan Tuhan bagi umat paroki Kare. Anak-anak Sekami pun turut terlibat sebagai pembawa vandel serta para penari pengiring persembahan. Selain itu, lima puluh remaja yang tergabung dalam kelompok misdinar turut ambil bagian untuk melayani Uskup dan para imam dalam perayaan Ekaristi. Dan akhirnya, tak boleh dilupakan juga, yaitu Orang Muda Katolik (OMK) paroki Kare yang tanpa henti-hentinya bekerja keras memberikan pelayanan terbaik, mulai dari awal persiapan hingga usainya seluruh acara peresmian dan pemberkatan gereja Kare. Seluruh kenyataan di atas hendak mengungkapkan bahwa setiap umat memiliki keinginan kuat untuk terlibat dan bergembira bersama merayakan hari bersejarah ini.
Dalam homilinya, Uskup Agung Makassar mengingatkan umat bahwa gedung gereja, sebesar dan seindah apapun itu, hanya merupakan sarana untuk membangun Gereja yang hidup, yaitu umat Allah sendiri. Maka yang perlu selalu dianggap penting dan utama adalah umat beriman sendiri, yang merupakan batu-batu hidup yang dipergunakan Allah untuk mendirikan bangunan rohani. Lebih lanjut, bapa Uskup mengharapkan bahwa gereja Kare ini dapat menjadi sarana bagi umat paroki Kare untuk menimba pengetahuan iman dan menghayati arti penyelamatan, sehingga mereka mampu menjadi garam dan terang di tengah masyarakat.

Closing: Makan Bersama sebagai Simbol Kebersamaan
Seluruh rangkaian acara peresmian dan pemberkatan gereja Kare diakhiri dengan makan bersama dan ramah tamah. Oleh sebab itu di halaman depan dan samping gereja telah disiapkan tenda-tenda di mana setiap rukun dapat membuka stand-stand yang menyajikan masakan-masakan yang telah mereka siapkan. Setiap orang dapat datang ke stand manapun dan menikmati makanan yang telah disediakan. Semuanya ini hendak menunjukkan kebersamaan yang telah terjalin di antara segenap umat paroki Kare. Sambil menyantap hidangan, umat di sana-sini nampak larut dalam senda gurau dan canda tawa penuh rasa bahagia. Hiruk-pikuk kegiatan peresmian dan pemberkatan gereja Kare yang sarat makna ini kiranya menjadi optimisme sekaligus modal dasar untuk melangkah maju, menjadikan Gereja Katolik Maria Ratu Rosari - Kare sebagai Gereja yang melayani, sesuai dengan visi sinode Keuskupan Agung Makassar tahun 2012.
Selamat bagi segenap umat paroki Kare! ***

Penulis: Frater Dhaniel Whisnu Bintoro, CICM

Agenda Bapa Uskup: Desember 2013- Februari 2014

Desember 2013
Tgl.         Acara
1             Krisma di Antang/Paroki Tello
2             Acara Pelantikan/Serahterima Sekretaris       KAMS dalam Misa
4             Misa di Siti Miriam
7             - Pagi: Pertemuan dengan YUPP dan TPP-      KAMS
               - Petang: Peneguhan Panitia Konvernas   Karismatik dalam Misa
8             Krisma di Sudiang
9             Ke Jakarta
10-11     Pertemuan Pleno DP-KWI
12 Pertemuan CF-KWI
13 Pertemuan dengan PUKAT
14 Kembali dari Jakarta
15 Misa di Katedral
16 Misa Bersama Fr. HHK
17 Hari Imam
18 Misa di Siti Miriam
19 Pelayanan Sakramen Pernikahan
20 Misa Bersama Fr. HHK
22 Misa di Katedral
23 Misa Bersama Fr. HHK
24 Misa Malam Natal
25 Natal
26 Open House
27 Misa Bersama Fr. HHK
29 Perayaan Natal di Tanjung Bunga
30 Natal Oikumene (?)
31 Ke luar Kota

Januari 2014
Tgl. Acara
1-5 Ke luar kota
7 Hari Imam
8 Misa di Siti Miriam
9 Perayaan Natal ME
11-13 Acara di Samarinda
15 Ke Kendari
16 Pancawindu Imamat P. Matheus Bakolu/ Pemberkatan Gereja
Stasi Ranomeeto
17 Kembali dari Kendari
18 Rapat Tim 9-Gerbu-Para Vikep-Uskup/ Kuria
19 Misa di Katedral
20 Misa Bersama Fr. HHK
21 Hari Imam
22 Misa di Siti Miriam
23 Misa Komunitas
24 Misa Bersama Fr. HHK
26 Misa di Katedral
27 Misa Bersama Fr. HHK
28 Hari Imam
29 Pesta Perak Imamat P. Paskalis La Oda
30 Misa Komunitas
31 Tahun Baru Imlek

Februari 2014
Tgl. Acara
2 Pembukaan Misi Sr. MC di Mamuju
5 Misa di Siti Miriam
6 Misa Komunitas
7-9 Reuni IKA-PMKRI Makassar
10 Misa Bersama Fr. HHK
11 Hari Imam
12 Misa di Siti Miriam
13 Misa Komunitas
14 Misa Bersama Fr. HHK
16 Misa di Katedral
17 Misa Bersama Fr. HHK
18 Hari Imam
19 Misa di Siti Miriam
20 Misa Komunitas
22 Tahbisan Uskup Bogor
25 Hari Imam
26 Misa di Siti Miriam
27 Misa Komunitas
28 Misa Bersama Fr. HHK


Mutasi Personalia KAMS

P. Wilhelmus Tulak
Dilepaskan dari tugas sebagai Pastor Paroki “St. Petrus Rasul” Parepare dan diangkat menjadi Pastor Paroki “Hati Yesus Yang Mahakudus” Katedral.

P. Anton Basu’ Sarunggaga
Dilepaskan dari tugas sebagai Pastor Bantu Paroki “St. Petrus Rasul” Parepare dan diangkat menjadi Pastor Paroki “St. Petrus Rasul” Parepare.

P. Paulus Tongli
Dilepaskan dari tugas sebagai Pastor Paroki “Hati Yesus Yang Mahakudus” Katedral dan diangkat menjadi Sekretaris KAMS.

P. Fransiskus Nipa
Dilepaskan dari tugas sebagai Sekretaris KAMS dan diangkat menjadi Pastor Bantu Paroki “Hati Yesus Yang Mahakudus” Katedral.

P. Ernesto Amigleo, CICM
Dilepaskan dari tugas sebagai Vikaris Jenderal KAMS.

P. Stephanus Tarigan, CICM
Diangkat menjadi Vikaris Jenderal KAMS.

PERHATIAN PADA PASTORAL KELUARGA MIGRAN DAN PERANTAU

Rapat Kerja Pengurus Inti Komisi Keluarga KWI kali ini dilaksanakan di Rumah Doa Guadalupe, Duren Sawit, Jakarta, pada Jumat-Minggu, 27-29 September 2013 dengan topik pembahasan “Memberikan perhatian pada pastoral untuk keluarga migran dan perantau” yang selama ini belum pernah menjadi bahan pembicaraan dalam Komisi Keluarga. Pertemuan pengurus inti Komisi Keluarga KWI ini adalah pertemuan kedua dalam tahun 2013. Sebelumnya diadakan pertemuan pengurus inti Komisi Keluarga KWI dengan komunitas pendamping keluarga yang diadakan di Puri Avia, Puncak Bogor,  pada 6-8 Juni 2013, dengan tema: ”Menyikapi Gadget Masuk ke Rumah Kita”.  Misa pembukaan Raker dipimpin oleh Ketua Komisi Keluarga, Mgr. Frans Kopong Kung yang dalam kotbahnya menekankan kepedulian kita kepada nasib para migran dan perantau serta keluarganya  yang banyak mengalami penderitaan. Memang banyak cerita sukses dalam usaha mereka bekerja mencari nafkah di negeri orang, tetapi lebih banyak cerita yang cukup mengenaskan terutama yang bekerja sebagai tenaga kerja kasar ilegal di negara lain; yang pada akhirnya harus dipulangkan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Pengantar oleh Ketua Komisi Keluarga
Ketua Komisi menyampaikan sambutan sebagai pengantar memasuki Rapat Kerja Tahunan Pengurus Inti Komisi Keluarga 2013. Dalam sambutannya, Ketua menyampaikan bahwa di tahun 2014 yang akan datang, Komisi Keluarga akan memberikan perhatian secara khusus pada keluarga-keluarga migran dan perantau dan memikirkan pelayanan pastoral bagi mereka, selain tetap melaksanakan karya pelayanan dan tugas rutin seperti tahun-tahun sebelumnya. Mengapa Komisi Keluarga memberikan perhatian pada pastoral keluarga migran dan perantau? Persoalan pastoral migran dan perantau bukan hanya menjadi tanggungjawab dan tugas Komisi Pastoral Migran dan Perantau (KPMP) saja, karena persoalan migran dan perantau juga menyangkut persoalan hidup keluarga. Oleh karena itu Komisi Keluarga akan bekerjasama dengan KPMP untuk melakukan karya pastoral ini.
Untuk memperdalam diskusi, anggota Pengurus Inti diminta sumbangannya, baik berupa data – informasi mengenai migran dan perantau serta persoalan-persoalan yang muncul, maupun ide atau gagasan yang bisa dilakukan dalam kerjasama antara Komisi Keluarga dengan Komisi Pastoral Migran dan Perantau.


Evaluasi Program Komisi Keluarga KWI 2010-2013
Pembicaraan selanjutnya disambung oleh Sekretaris Eksekutif Komkel RP. Agung Prihartana, MSF, yang memberikan gambaran jalannya Rapat Kerja. Disampaikan bahwa selain membicarakan secara khusus pastoral bagi keluarga-keluarga migran dan perantau, Komisi Keluarga juga mengundang tiga komunitas pemerhati kerasulan keluarga, yaitu ME, CFC, dan Warakawuri St. Monika. Ketiga komunitas itu diharapkan memberi evaluasi dan menyampaikan masukan untuk peningkatan kerjasama yang selama ini sudah terbangun dan terbina dengan sangat baik; terutama melalui tiga kali pertemuan komunitas pemerhati kerasulan keluarga. Semua peserta memberikan acungan jempol atas kerjasama yang sangat baik dan harmonis antara semua elemen yang merasul untuk keluarga-keluarga seperti ME, CFC, Choice, Warakawuri St. Monika.
Rapat kerja Komkel kali ini menjadi rapat terakhir bagi Sekretaris Eksekutif karena periode jabatannya sudah selesai dan akan digantikan oleh personel yang baru. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan program kerja dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada 2010-2013, dan sekaligus memberikan evaluasinya.
Program kerja dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Komisi keluarga berdasarkan Direktorium KWI yang menyebutkan tugas dan fungsi Komisi keluarga adalah memberi inspirasi dan motivasi bagi Komisi Keluarga Keuskupan-keuskupan dan pendamping keluarga. Tugas memberi inspirasi dan motivasi itu secara nyata terwujud dalam bentuk:

A. Penerbitan Buletin Keluarga
Buletin in diterbitkan tiga kali dalam setahun. Melalui Buletin Keluarga, Komisi Keluarga KWI melakukan tugasnya memberi inspirasi dan animasi kepada Komisi Keluarga Keuskupan dan para pendamping keluarga dengan membahas tema-tema tertentu setiap penerbitan.
B. Penyusunan Pedoman Pastoral Keluarga
   Program “terbesar” Komisi Keluarga KWI dalam periode 2010 – 2013 adalah penyusunan Pedoman Pastoral Keluarga. Di satu pihak, beberapa Keuskupan memberikan tanggapan positif dengan melakukan sosialisasi Pedoman Pastoral Keluarga kepada umat. Di lain pihak beberapa Keuskupan tidak memberikan tanggapan. Hal ini terbukti ketika memberikan pendampingan pastoral keluarga, baik di tingkat paroki, keuskupan maupun dekenat/kevikepan, masih banyak umat yang tidak mengetahui penerbitan Pedoman Pastoral Keluarga tersebut. Jadi bisa dikatakan, nasib Pedoman Pastoral Keluarga sama dengan dokumen-dokumen Gereja hanya menjadi “arsip” saja.
C. Pertemuan dengan Komunitas Pemerhati Kerasulan Keluarga
Pertemuan Komisi Keluarga KWI dengan beberapa komunitas pemerhati kerasulan keluarga, yaitu ME, CFC, Choice, Youth for Christ, Single for Christ, dan Warakawuri St. Monika mendapatkan tanggapan sangat positif dari para peserta, yang mewakili masing-masing komunitas dan menyampaikan harapan supaya pertemuan dilaksanakan setiap tahun. Dari pertemuan-pertemuan  ini para wakil komunitas itu merasakan dua hal penting:
1). Keberadaan dan karya pelayanan komunitas diakui, diterima dan didukung oleh hierarki (KWI), Bukan seperti domba yang hilang.
2). Pertemuan tersebut memberikan penyegaran dan pengayaan pengetahuan mereka dalam melakukan pendampingan keluarga.
D. Menghadiri dan Mengikuti Raker Komkel Regio/Propinsi Gerejawi
Komisi Keluarga hadir dan mengikuti pertemuan-pertemuan dan Raker-raker Komisi Keluarga di tingkat Regio dan Propinsi Gerejawi untuk memberikan animasi-animasi.
E. Penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Kursus Persiapan Perkawinan
    Setelah Pedoman Pastoral Keluarga diterbitkan oleh KWI, Komisi Keluarga menyusun buku serial tambahan untuk Pedoman Pastoral Keluarga. Buku tambahan yang pertama bertema Makna Seksualitas dalam Perkawinan Katolik. Namun sayangnya buku ini belum dapat diselesaikan. 
  Buku kedua yang sedang digarap adalah pedoman  Penyelenggaraan Kursus Persiapan Perkawinan Katolik, sebagai tindak lanjut dari Raker Pengurus Inti tahun 2012 yang lalu. Hal yang sangat menggembirakan adalah, dalam penyusunan ini beberapa Komisi dan Sekretariat di lingkungan KWI ikut berpartisipasi, yaitu Komisi Liturgi, Perdamaian Keadilan – Pastoral Migran dan Perantau (KKP-PMP), PSE dan Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP). Diharapkan bahwa pedoman ini memuat kekayaan yang dapat dimanfaatkan oleh para penyelenggara KPP. Direncanakan buku ini terbit pada awal tahun 2014.
F. Pertemuan Internasional
    Komisi Keluarga KWI bersama dengan mitra kerasulan Keluarga  seperti ME, CFC,  beberapa kali mengikuti pertemuan-pertemuan Internasional seperti Family Symposium, pertemuan FABC untuk Keluarga (BILA II) . Pertemuan-pertemuan seperti ini memperkaya komunitas-komunitas dalam pendampingan keluarga.

Pastoral Keluarga Migran dan Perantau
Pastor PC. Siswantoko, Pr, Sekretaris Eksekutif dari Komisi Pastoral Migran dan Perantau  KWI (KPMP) memberikan banyak masukan tentang keterlibatan mereka dalam pastoral untuk migran dan perantau. Dikatakan bahwa pengertian migran adalah orang-orang yang bermigrasi atau berpindah dari suatu tempat ketempat lain bisa dalam skala nasional maupun internasional. Di Indonesia istilah migran lebih mengarah pada tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mencari pekerjaan dan penghidupan di daerah lain.
Siapakah Keluarga Migran itu? Adalah sebuah keluarga yang ditinggal pergi oleh salah satu atau beberapa anggota keluarga (suami/istri/anak) untuk bekerja di daerah lain, dalam maupun luar negeri. Keluarga seperti ini ada yang baik yaitu yang menjalin Komunikasi yang baik dan bekerja memberikan hasil yang baik pula yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga. Tetapi sebaliknya banyak juga keluarga yang situasinya berlawanan yaitu tidak adanya Komunikasi yang baik antara yang pergi dan yang dirumah, serta kepergian mereka tidak mendatangkan rejeki yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga. Keluarga yang situasinya tidak baik seperti ini banyak terdapat di masyarakat kita. Dan kita perlu hati-hati kalau menyalahkan, karena seringkali kesalahan bukan terletak pada mereka yang merantau melainkan dimunculkan oleh agen-agen (calo) tenaga kerja.

- Beberapa Penyebab Bermigrasi:
» KDRT terutama terhadap kaum perempuan. Kaum perempuan ini bermigrasi dengan tujuan juga untuk menyelamatkan diri. (Ternyata di saat Gereja semakin gencar menjunjung tinggi perkawinan, kenyataannya kesengsaraan dalam perkawinan semakin merajalela)
» Kemiskinan → menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, sandang), dijerat hutang (menghindari kejaran tagihan hutang dan untuk membayar hutang)
» Pendidikan rendah → orang menjadi tidak bisa berpikir panjang ketika diiming-imingi uang banyak dengan menjadi TKI/TKW
» Pola hidup konsumtif → mendorong orang mencari uang sebanyak-banyaknya
» Perceraian
» Kurang kasih sayang orangtua → mencari kompensasi dengan ikut teman ke luar negeri
» Lapangan kerja kurang
» Pendapatan di negara lain lebih tinggi

 Persoalan Keluarga Migran:
» Beban ekonomi →  tidak menerima kabar dan kiriman uang. Padahal mereka mencari ‘modal’ migran dari hutang atau menggadaikan tanah dsj. Mereka masih harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
» Pendidikan anak terkesampingkan karena lebih memperhatikan kebutuhan hidup
» Anak tidak kenal orangtuanya (ayah atau ibunya) →  kehilangan figur ayah atau ibu
»  Ancaman sosial, khususnya bagi perempuan: pelecahan seksual, merendahkan martabat perempuan dengan sebutan-sebutan negatif “jamal” (janda malaysia) atau “ismi” (isteri migran)
» Krisis moral → judi, curi, selingkuh dengan alasan ekonomi, prostitusi (kebanyakan)
» Krisis iman → ritual keagamaan tidak berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari
» Kekerasan → karena “penuh” beban pikiran, mudah emosi, marah dan melakukan kekerasaan terhadap anak-anak
Di dalam diri kaum migran terdapat “segala” persoalan.  Salah satu dampak migrasi dan merantau secara lahiriah adalah gaya penampilan: memakai tindik, tato dan sebagainya.
- Human Trafficking yang mengorbankan keluarga-keluarga menjadi bisnis yang menguntungkan saat ini.
- Terjadi transaksi “penjualan” anak-anak di luar perkawinan (karena diperkosa) misalnya ada seorang bayi yang dihargai satu juta rupiah di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Situasi keluarga-keluarga migran dan perantau seperti ini mernimbulkan pertanyan bagi kita yang merasul bagi keluarga. Langkah-langkah pastoral seperti apa yang kita bisa ulurkan kepada mereka ini? Situasi ini,  dimana banyak keluarga yang tidak utuh lagi, keluarga sebagai tempat pertumbuhan tidak berjalan dengan semestinya sepertinya memerlukan langkah yang mendesak yang bisa kita kerjakan. Dokumen apostolik  Paus Yohanes Paulus II Familiaris Consortio, mengajak keluarga-keluarga menjadi agen evangelisasi bagi keluarga lainnya (FC 71). Artinya bahwa kerasulan keluarga harus diarahkan kepada keluarga-keluarga lain seperti juga keluarga-keluarga migran dan perantau.

Usulan  Pastoral:
» Pastoral kehadiran, sapaan (kehadiran pemimpin rohani memberikan penghiburan)
» Pemberdayaan umat, khususnya para mantan TKI/TKW untuk mengolah keuangan. Baik juga membangun kerjasama dengan credit union yang sudah ada untuk pengembangan ekonomi.
» Pembangunan “komunitas” dari keluarga-keluarga migran.
» Pendampingan single parent agar bisa bertahan dalam hidup, tidak mengorbankan anak dan mau bangkit dari segala keterpurukan.
» Pencegahan migrasi melalui Kursus Persiapan Perkawinan.
Rencana Program Komisi Keluarga ke Depan?
Komisi akan terus melanjutkan apa yang sudah menjadi tugas rutin Komisi seperti memberikan animasi, membangun kerjasama, menghadiri pertemuan-pertemuan ditingkat Keuskupan, Regio, nasional maupun internasional, Selain itu pada tahun 2014 ini Komisi Keluarga akan memberikan perhatian kepada keluarga-keluarga migran dan perantau serta  mempersiapkan bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk Sinode Luar Biasa Para Uskup tahun depan yang akan mengambil tema “Tantangan Pastoral Terhadap Keluarga Dalam Konteks Evangelisasi.” *** Penulis: Pastor Ignas Sudaryanto CICM, Komisi Keluarga KAMS