Selasa, 05 Januari 2016

PESTA EMAS PAROKI RENYA ROSARI, DERI 1965 - 2015

Kegembiraan dan kemeriahan pesta telah usai. Rasa capek sekaligus lega sungguh dirasakan khususnya oleh Panitia Pesta Emas Paroki Renya Rosari Deri yang telah ambil bagian dalam menyukseskan perayaan Pesta Emas ini. Tentunya kegembiraan dan sukacita segenap umat Paroki Renya Rosari Deri bukan hanya milik umat paroki Deri semata melainkan juga menjadi kegembiraan dan sukacita seluruh umat Allah khususnya yang berada dalam wilayah gerejani Keuskupan Agung Makassar (KAMS).
Gereja Lokal KAMS merefleksikan dirinya sebagai Gereja yang bersosok kawanan kecil tersebar, sebagai pelayan berdasarkan dan berpolakan Yesus Kristus, yang terus menerus membarui diri, mewartakan Kerajaan Allah    dengan meresapi tata dunia, sehingga segala-galanya menjadi baik. Umat Katolik Paroki Renya Rosari Deri sebagai bagian dari kawanan yang tersebar itu terus menerus mengungkapkan dirinya sebagai sakramen kelihatan dari cinta Allah yang menyelamatkan. Pengungkapan diri itu diikuti dengan usaha untuk semakin membarui diri dengan meresapi tata dunia Toraja dan dunia global agar Kerajaan Allah semakin    menyata dalam hidup beriman umat Paroki Renya Rosari Deri dan dalam hidup sosial bersama masyarakat setempat. Dengan latar belakang pemikiran ini, panitia mengambil tema perayaan Pesta Emas: “Bertumbuh dalam Tradisi dan Budaya Luhur yang Berdasarkan dan Berpolakan Yesus Kristus”.
Sebagai bagian dari Gereja Peziarah umat Paroki Renya Rosari Deri yang hidup dalam tradisi dan budaya Toraja telah memasuki usia yang ke-50 tahun. Usia emas ini tentu membawa kebahagiaan bagi Gereja Lokal KAMS pada umumnya dan umat Paroki Renya Rosari Deri pada khususnya. Tentu ada banyak hal yang telah dilalui serta berbagai perkembangan dan kemajuan yang telah dialami oleh umat Paroki Renya Rosari Deri selama ini. Semua itu tidak terlepas dari berkat dan tuntunan Allah yang terus mendampingi umat-Nya dengan setia. Tuhan telah menunjukkan penyertaan-Nya bukan saja melalui para imam-Nya. Tuhan juga telah menggunakan sekian banyak rasul awam, penolong, para katekis, pengantar, guru agama, Dewan Pastoral Paroki, pengurus stasi, pengurus rukun, kelompok-kelompok kategorial dan siapa saja yang dengan hati tulus ikut dalam pembangunan paroki ini. Oleh karena itu, umat Paroki Renya Rosari Deri ingin mensyukuri usia emasnya ini sebagai anugerah Allah yang besar bagi Gereja-Nya dan bagi dunia.
Menindaklanjuti keinginan tersebut, DEPAS Paroki kemudian mengundang semua pengurus Dewan Pleno untuk mengadakan rapat pembentukan Panitia Pesta Emas. Maka pada tanggal 20 Juni 2015 (berdasarkan Surat Keputusan Ketua Dewan Pastoral Paroki) dibentuklah Panitia Pesta Emas 50 Tahun Paroki Renya Rosari Deri. Dalam rapat pertama pada tanggal 19 Juli 2015, panitia sepakat untuk merayakan Pesta Emas ini dalam serangkaian acara yang dimulai pada tanggal 24 September dan berpuncak pada Misa Syukur tanggal 31 Oktober 2015.

Bakti Sosial: Pengobatan Gratis
Jauh sebelum pembentukan Panitia Pesta Emas, kelompok Sahabat Lama dari Paroki Santo Yakobus Mariso ingin mengadakan reuni bersama melalui kegiatan bakti sosial   pengobatan gratis. Kelompok ini memiliki beberapa dokter dan oleh karena itu, bagi mereka reuni akan sangat tepat bila diisi dengan kegiatan bakti sosial. Tawaran bakti sosial ini kemudian ditawarkan kepada Paroki Renya Rosari Deri dan tentu saja tawaran ini disambut dengan gembira dan penuh semangat. Oleh karena itu, Panitia Pesta Emas melihat peluang kerja sama ini dan kemudian memasukkannya dalam agenda rangkaian Pesta Emas Paroki Renya Rosari Deri.
Sesuai dengan rancangan awal, kegiatan ini dilangsungkan di dua tempat. Pertama, pada tanggal 24 September 2015 kegiatan pengobatan gratis dilangsungkan di pusat Paroki untuk melayani dua wilayah yaitu Wilayah Deri dan Batu Eran. Kedua, kegiatan pengobatan gratis ini dilaksanakan di Stasi Santo Klemens Poka-Pangala’ untuk melayani wilayah Pangala’, Baruppu’ dan Awan yang dilaksanakan pada tanggal 25 September 2015.
Kegiatan bakti sosial pengobatan gratis ini kemudian terlaksana dengan baik berkat kerja sama dari Panitia Pesta Emas, Kelompok Sahabat Lama Paroki Santo Yakobus Mariso dan Kelompok Pelayanan Santo Lukas Kevikepan Toraja Keuskupan Agung Makassar. (Kelompok Pelayanan Kesehatan). Kelompok Bakti Sosial Pengobatan Gratis ini dilayani oleh 13 orang dokter yaitu 6 orang dokter umum, 4 orang dokter spesialis gigi, 1 orang dokter spesialis THT, 1 orang dokter spesialis Interna dan 1 orang dokter spesialis mata. Kelancaran kegiatan ini juga tidak lepas dari bantuan 7 orang paramedis, 2 orang apoteker dan Orang Muda Katolik Paroki Renya Rosari Deri. Jumlah pasien yang dapat dilayani di Deri berjumlah 324 orang dan di Poka-Pangala’ berjumlah 279 orang.

Pemberkatan Gereja Maria Ratu Rosari Pebulian
Pembentukan stasi baru ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tanggal 3 Mei 2009 ada sekitar 40 orang dari Pebulian – Limbong,  untuk pertama kalinya mengikuti ibadat dengan tata cara Gereja Katolik. Ibadat dipimpin oleh seorang pelayan dari Stasi Santo Bartolomeus Tiromanda. Mereka menyambut dengan antusias kedatangan Pengantar dari stasi  tersebut. Ibadat pertama itu diadakan di bawah kolong rumah. Sekalipun dengan kondisi seperti itu, umat setempat sungguh bergembira dan dengan semangat mengikuti ibadat. Walaupun ibadatnya tidak dilaksanakan di dalam gereja, namun hal itu bukanlah halangan bagi umat yang baru mulai tumbuh imannya untuk mengungkapkan iman mereka secara Katolik. Beberapa minggu kemudian umat bekerja sama mendirikan sebuah pondok sederhana yang terbuat dari bambu dan beratapkan daun nipah sebagai tempat ibadat.
Selama beberapa minggu umat beribadat di kolong rumah. Lalu, tiga tahun lamanya umat Stasi Pebulian merayakan iman mereka di gedung gereja yang masih sangat sederhana. Selanjutnya, seorang dermawan bersedia mendonasikan sejumlah besar uang untuk membantu umat Stasi Pebulian membangun gereja yang diimpikan. Akhirnya, berkat dukungan dari sang donator dan kerja sama dari segenap umat pembangunan gereja dapat dimulai. Peresmian pembangunan gereja persiapan Stasi Pebulian berupa peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2011 oleh P. Emanuel Asi’,  Pr sebagai pastor Paroki Renya Rosari Deri saat itu. Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 2011 pembangunan gereja dimulai. Pada pesta pengucapan syukur tanggal 31 Juli 2009, umat Pebulian yang berjumlah 33 orang diterima secara resmi dan digabungkan dalam persekutuan Gereja Katolik Roma oleh P. Imanuel Asi’, Pr. Kemudian, pada tanggal 3 Januari 2010, ada 18 orang lagi yang diterima secara resmi dalam persekutuan Gereja Katolik Roma di Pebulian oleh P. Imanuel Asi’, Pr. Seiring berjalannya waktu, jumlah umat di Stasi Pebulian terus bertambah dengan adanya penerimaan resmi dan baptisan baru. Berdasarkan hasil pendataan yang dibuat pada tahun 2014 umat Stasi Pebulian berjumlah 23 kk, 81 jiwa.
Tahun 2015, Gereja persiapan stasi Pebulian ini sudah siap untuk ditempati. Maka dalam rangkaian Pesta Emas Paroki Renya Rosari Deri, Panitia mengupayakan agar sedapat mungkin pemberkatan Gereja ini dirangkaikan dengan Pesta Emas Paroki. Akhirnya, dengan dukungan dari berbagai pihak Panitia memutuskan untuk memasukkan rencana     Pemberkatan Gereja ini dalam Rangkaian Pesta Emas Paroki. Tanggal 7 Oktober 2015 dipilih menjadi tanggal pemberkatan. Tanggal itu sengaja dipilih karena bertepatan dengan Peringatan Wajib Maria Renya Rosari sebagai momen pesta pelindung Paroki Renya Rosari Deri. Oleh karena itu, Stasi ini juga memilih nama pelindung Maria Ratu Rosari sebagai nama Stasi menandai diberkatinya dan diresmikannya Gereja ini.
Pemberkatan Gereja Maria Ratu Rosari Pebulian berjalan dengan meriah dan agung. Kor inti paroki menyanyikan lagu-lagu liturgi inkulturasi Toraja membawa suasana liturgi yang semakin khidmat. Selain dihadiri oleh umat dari stasi-stasi, dalam pemberkatan ini juga hadir jemaat dari berbagai denominasi Gereja yang berada di wilayah Batu Eran dan Sa’dan Pebulian, yaitu jemaat Gereja Siloam Limbong, Gereja Patongko, Gereja Pa’Pararukan, Gereja Pebulian dan jemaat Gereja Punti. Pemerintah Kabupaten Toraja Utara juga turut hadir bersama dengan kepala-kepala Lembang yang ada di Sa’dan Pebulian dan Batu Eran. Kehadiran pemerintah dan tokoh masyarakat setempat merupakan bentuk dukungan dan bukti diterimanya Gereja Stasi Maria Ratu Rosari Pebulian ini.

Festival Nyanyian Liturgi Inkulturasi Toraja
Umat Katolik Paroki Renya Rosari Deri yang menghidupi tradisi dan budaya Toraja sehari-hari ingin pula mengungkapkan imannya yang nyata lewat Liturgi untuk semakin    memuliakan Tuhan. “Liturgi sebagai tanda dan sarana keselamatan Allah di tengah umat-Nya” (Sacrosanctum Concilium 2) harus semakin dihidupi oleh umat dengan mengambil bagian secara aktif dan sadar dalam setiap perayaan Liturgi. Keterlibatan aktif umat dalam Liturgi yang paling nyata adalah melalui nyanyian Liturgi. Dengan latar belakang inilah digagas kegiatan Festival Nyanyian Liturgi Inkulturasi Toraja yang dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2015. Dengan kegiatan ini, diharapkan umat dapat semakin mengenal nyanyian liturgi inkulturasi Toraja dan diharapkan pula dapat mengungkapkan imannya yang dijiwai oleh nyanyian Liturgi yang khas dari tradisi dan budayanya.
Festival ini diwakili oleh empat kelompok kor yaitu Paduan Suara Renya Rosari Deri, Cantemus Choir (Paroki Hati Tersuci Santa Perawan Maria Makale), Paduan Suara Mahasiswa STIKPAR Toraja dan Paduan Suara Santo Petrus Pangli. Dalam festival  ini, dibawakan 13 Nyanyian Liturgi Inkulturasi Toraja yang diciptakan dalam dua Lokakarya Komposisi Musik Liturgi Inkulturasi Toraja yakni pada Tahun 1998 di Nonongan (10 lagu) dan tahun 2015 di      Ge’tengan (3 lagu). Semua lagu yang dibawakan merupakan aransemen dari Bapak  Paul       Widyawan dari Pusat Musik Liturgi Yogyakarta. Selain itu, kegiatan festival ini dimeriahkan pula oleh vokal grup OMK Paroki Renya Rosari Deri dengan membawakan dua lagu dari Sulo Lalan yaitu “Sirampunkan dio olo-Mi” dan “Kurre Sumanga’”. Lagu-lagu tersebut  diiringi dengan alat musik gitar dan alat musik tradisional Pa’bussuk khas dari Awan Rantekarua. Juga tak mau     ketinggalan Sekami Paroki Renya Rosari Deri yang menampilkan gerak dan lagu Sekami turut berpartisipasi memeriahkan festival ini.
Bila seseorang mampu merasakan kehadiran dan kebersatuannya dengan Yang Ilahi ketika mendengar bunyi suling dan nyanyian-nyanyian tradisional lainnya, maka sungguh diharapkan pula nyanyian Liturgi yang khas budaya Toraja ini dapat membangkitkan rasa religius yang semakin mendalam ketika berliturgi. Semoga Liturgi semakin dekat dan menyentuh hati setiap orang yang beribadah karena dekat dengan nilai-nilai budayanya yang telah dihidupinya sejak lahir.

Misa Syukur 50 Tahun Paroki Renya Rosari Deri
Misa syukur dilaksanakan di lokasi terbuka milik paroki tepatnya di samping gereja pusat paroki pada tanggal 31 Oktober 2015, pukul 09.00 WITA. Sebelum Misa dimulai, umat dari seluruh stasi, rukun dan semua petugas liturgi berkumpul di salah satu rumah yang tidak jauh dari lokasi di mana Misa akan dirayakan untuk melakukan perarakan bersama. Setiap umat dikelompokkan berdasarkan stasi dan rukun masing-masing. Suasana perarakan begitu semarak dan penuh semangat menandai rasa syukur yang berlimpah kepada Tuhan atas  bimbingan-Nya dalam kurun waktu 50 tahun.
Misa syukur berlangsung dengan khidmat dan agung. P. Stephanus Tarigan, CICM yang adalah Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Makassar menjadi Selebran dan didampingi oleh 4 imam Konselebran, yaitu RD. Matheus Bakolu (Parokus Deri 1985-1989), RD. Imanuel Asi’ (Parokus Deri 2009-2012), RD. Ferdinand Lagoly (Kapelan Deri 2015-Sekarang) dan RD. Hendrik Palimbo (Parokus Deri 2014-Sekarang). Hadir pula sebagai imam konselebran RD. Bartholomeus Pararak, RD. Hendrik Sumbung, RD. Albert A. Arina dan RD. Frans Fandy Palinoan.
Semoga usia paroki yang genap 50 tahun dan yang telah dirayakan dengan meriah dalam perayaan Pesta Emas menjadi penyemangat/pendorong bagi segenap umat beriman Paroki Renya Rosari Deri untuk mengukir lembaran-lembaran kisah baru ke depan. Bersama dan dalam kesatuan dengan seluruh umat beriman khususnya seluruh umat di Keuskupan Agung Makassar umat Paroki Renya Rosari Deri ingin semakin membarui diri, mewartakan Kerajaan Allah dan membuat segala-galanya menjadi baik. Akhir kata, mengutip kata-kata dari Mgr. John Liku Ada’, marilah kita bermadah dengan menyerukan: “Te Deum Laudamus!”, “Engkau kami puji, ya Allah!” *** Penulis: RD. Hendrik Palimbo, Parokus Renya Rosari Deri

50 Tahun Paroki Messawa: Pesta Umat, Pesta Kevikepan dan Pesta Masyarakat

Paroki St. Fransiskus Xaverius Messawa
Teguh kokoh beriman
Wujudkan misi suci
Medan yang berat tak mematahkan
Semangat pelayanan
Jiwa besar yang berkobar
Tuk mewartakan Injil
Bangun Paroki Kita,
Fransiskus Xaverius Messawa!

Lirik di atas adalah lirik Mars Paroki Messawa yang diciptakan oleh Cornell Gerrys, Pr.  Pastor Paroki Messawa saat ini. Lagu ini menjadi misi Gereja di Messawa di tengah tantangan medan yang berat, namun masih memiliki semangat yang bernyala-nyala untuk mewartakan Injil ke seluruh pelosok. Pada tanggal 03 Desember 2015 Paroki Messawa merayakan pesta emas (50 tahun). Perayaan ini sudah mulai dirancang dua tahun terakhir ini, tepatnya sejak 2013 dan sangat ditekankan oleh Mgr. Johanes Liku-Ada’, Pr. pada kesempatan Ziarah Bukit Pena’ pada tahun 2014. Bapak Uskup mengajak semua umat khususnya mereka yang ada dalam kevikepan Sulawesi Barat untuk terlibat aktif dalam perayaan 50 tahun Paroki St. Fransiskus Xaverius Messawa. Hal ini terjadi mengingat bahwa Messawa adalah Ibu dari paroki-paroki yang ada di Kevikepan Sulawesi Barat. Tepatnya, Messawa melahirkan Mamasa dan Polewali, Polewali melahirkan Mamuju dan Baras, kemudian Mamuju melahirkan Tobadak.
Pesta 50 tahun paroki Messawa sering kali disebut sebagai pesta umat Messawa semata. Hal ini tentu tidak sepenuhnya benar, sebab pesta 50 tahun merupakan pesta semua orang, baik umat Messawa, umat Kevikepan Sul-Bar dan masyarakat umum. Vikep Sul-Bar Oct. Sam Bureny, Pr pada acara pembukan lomba seni dan olahraga pada bulan Juli 2015 menekankan bahwa pesta 50 tahun Messawa bukan hanya pesta umat Katolik Messawa semata tetapi juga pesta seluruh umat beriman di Sulwesi Barat dan juga pesta masyarakat pada umumnya. Ada dua alasan yang cukup kuat untuk menunjukkan bahwa pesta 50 tahun merupakan pesta semua semua orang.
Pertama, sebagaimana sejarah Gereja Toraja Barat mencatat bahwa misi pewartaan iman Katolik di Sulawesi Barat yang dibawa oleh imam-imam MSC dan CICM dimulai di wilayah paroki Messawa, di era 1928. Misi pewartaan ini diterima baik oleh masyarakat, hal ini nampak dari jumlah baptisan yang terus bertambah dari tahun ke tahun, juga berdirinya bangunan gereja di pelosok-pelosok desa sampai akhirnya berdiri sebagai paroki pada 03 Desember 1965 dengan mengambil nama St. Fransiskus Xaverius sebagai pelindung Paroki. Beberapa tahun berikutnya, paroki ini memekarkan diri menjadi tiga paroki yakni Paroki St. Fransiskus Xaverius Messawa, St. Petrus Mamasa, St. Yosep Polewali. Ditahun-tahun kemudian, paroki St. Yosep Polewali membentuk Paroki baru yakni St. Maria Mamuju dan St. Yusuf Pekerja Baras, dan yang  paling akhir adalah St. Mikael Tobadak yang merupakan pemekaran dari Paroki St. Maria Mamuju. Setelah 50 tahun Paroki ini mampu melahirkan dan 5 paroki berikutnya dan bersiap melahirkan Suppiran sebagai Paroki. Oleh sebab itu sangat beralasanlah kalau paroki St. Fransiskus Xaverius Messawa sering disebut sebagai ibu dari paroki-paroki di Kevikepan Sulewesi Barat. Karena alasan inilah juga maka dapat dikatakan bahwa Pesta 50 tahun Paroki Messawa menjadi pesta seluruh umat Katolik di Kevikepan Sulawesi Barat.
Kedua, kehadiran Gereja di wilayah Messawa, juga tidak pernah dapat dilepaskan dari karya-karya pastoralnya. Karya-karya Pastoral yang dihadirkan Gereja tidak hanya merangkul mereka yang Katolik tetapi masyarakat pada umumnya. Beberapa karya pastoral yang dibawa Gereja mampu menyejahterakan masyarakat pada umumnya misalnya kehadiran sekolah-sekolah misi yang terlibat aktif dalam karya pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejak tahun 1934, ketika sekolah misi pertama kali lahir di Sepang, hingga akhirnya yang terlahir adalah SMA Katolik Messawa, selalu juga menghadirkan poliklinik di pastoran yang dikelola oleh para misionaris. Sampai saat ini ada dua Sekolah Katolik yakni SMP Katolik Messawa, dan SMA Katolik Messawa. Dari sejumlah sekolah misi yang pernah ada, banyak yang sudah dialihkan ke negeri dan poliklinik yang menjadi cikal bakal pusat kesehatan di beberapa tempat. Dalam bidang Pendidikan, Gereja juga memilik karya pastoral yakni Asrama St. Bernadet untuk asrama Putri dan St. Fransiskus untuk asrama Putra, yang juga tidak hanya mendidik anak-anak Katolik tetapi juga dari golongan lain. Dalam bidang kesejahteraan Masyarakat, Gereja juga pernah memiliki karya pastoral dalam bidang Pertanian yakni Kursus Pertanian Agraris tahun (1971) yang berusaha memberikan   pelatihan-pelatihan pertanian pada masyarakat. Sampai saat ini Gereja juga memiliki Credit Union (CU) yang berusaha membantu masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan. Maka kehadiran Gereja di Paroki ini juga mampu membawa banyak manfaat. Hal ini diperkuat lagi dengan diadakannya pelayanan kesehatan, pelatihan pertanian, perkebunan dan peternakan dalam menyongsong Hari Paroki ke 50 yang terbuka untuk masyarakat umum. Hal ini tentu sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia terus menyejahterakan dan mencerdaskan kehidupan seluruh bangsa. Maka sangat beralasan juga bahwa pesta 50 tahun Paroki St. Fransiskus Xaverius Messawa merupakan pesta seluruh masyarakat.
Menyadari dua alasan ini dan berlandas pada kesadaran bahwa pesta 50 tahun St. Fransiskus Xaverius Messawa bukan hanya pesta umat Katolik Di Messawa saja, tetapi Pesta Umat Katolik di Sulawesi Barat dan juga pesta Masyarakat pada umumnya, maka kegiatan-kegiatan yang dirancang panitia untuk memeriahkan perayaan ini juga terbagi dalam tiga bagian yakni, kegiatan interen umat Paroki Messawa, Kegiatan Kevikepan Sulawesi Barat dan kegiatan yang melibatkan Masyarakat pada umumnya.

Pesta Umat Katolik Paroki St. Fransiskus Xaverius Messawa
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam rangka 50 tahun Paroki Messawa, khususnya kegiatan intern umat yakni.
» Pembenahan Bangunan Paroki. Pusat Paroki Messawa, berada di atas sebuah bukit, bekas pekuburan tua dan dikelilingi oleh persawahan. Beberapa bagian bangunan merupakan bekas timbunan.   Dengan struktur tanah yang demikian, memungkinkan adanya potensi longsor dan juga penyerobotan batasan tanah. Oleh sebab itu, salah satu upaya umat adalah menalut bangunan paroki. Selain itu juga menata taman-taman agar menjadi lebih indah dan meninggalkan kesan kumuh.
» Dalam bidang karya pastoral. Wilayah Gerejani Paroki Messawa Begitu luas. Ditinjau dari segi medan pelayanan, paroki ini melayani 53 Stasi dengan jumlah umat 7.767 jiwa. Umat yang begitu banyak itu tersebar di lima Kecamatan yakni Simbuang, Mappak, Sumarorong, Suppiran dan Messawa, yang ada dalam tiga Kabupaten Tana Toraja, Mamasa dan Suppiran, dan dua Provinsi Yakni Sul-Sel dan Sul-Bar. Untuk memajukan dan memaksimalkan karya pelayanan pastoral yang demikian luas ini, salah satu upaya adalah dengan berusaha mengajukan proposal permohonan pemekaran paroki ke Uskup. Hal ini dilakukan untuk lebih memaksimalkan pelayanan dalam bidang peggembalaan umat.
» Pelatihan dan pertemuan kelompok-kelompok kategorial. Dalam rangka ini juga, beberapa kegiatan pelatihan dilaksanakan yakni    pelatihan Pengantar yang diikuti oleh pengantar-pengantar dari berbagai stasi. Pelatihan ini terlaksana berkat kerjasama dengan Komisi Katekese Keuskupan. Pertemuan OMK yang difasilitasi oleh tim Komisi Kepemudaan KAMS, bekerja sama degan komisi PSE KAMS. Pertemuan KIK yang difasilitasi oleh WKRI Cabang Makassar. Pertemuan anggota Legio Mariae yang difasilitasi oleh Legio Mariae dari Makassar. Pelatihan Pembina SEKAMI yang difasilitasi oleh Komisi KKI KAMS. Pelatihan dan Pertemuan kelompok-kelompok Kategorial ini meski hanya dilakukan dalam satu hari tetapi sungguh sangat berkesan bagi peserta.
» Animasi Panggilan. Salah keprihatinan pastoral di Messawa sampai saat ini bahwa dari tahun ketahun minat untuk menjadi Imam, anggota biarawan-biarawati sudah menurun, padahal ditahun-tahun sebelumnya paroki ini senantiasa menyumbangkan putra-putrinya untuk menjadi salah satu anggota tarekat atau masuk dalam seminari. Oleh sebab itu salah satu upaya untuk kembali menumbuhkan benih-benih panggilan dengan mengadakan animasi panggilan untuk putra dan putri. Putra dan putri daerah yang telah menjadi imam dan biarawati menjadi fasilitator dalm kegiatan ini. Promosi panggilan untuk putra difasilitasi oleh Martinus Solon, Pr dan Barto Sire’pen, Pr. Sedangkan untuk Putri difasilitasi oleh Sr. Yosepin Solon, JMJ. Cukup banyak anak-anak muda yang hadir dalam kegiatan ini. Harapannya bahwa kegiatan ini dapat kembali meningkatkan minat anak-anak muda menjadi seorang imam, biarawan atau biarawati.

Pesta Kevikepan Sulbar
Antusiasme dan partisipasi aktif dari   banyak umat di Kevikepan Sul-Bar menjadi bukti nyata bahwa perayaan 50 tahun Messawa menjadi perayaan bersama. Beberapa kegiatan dilakukan dalam skala kevikepan.
» Perayaan lima puluh tahun bukan hanya menjadi buah pikir dari tenaga pastoral yang ada di Messawa saja tetapi menjadi buah pikir dari semua imam di Kevikepan. Beberapa kali rapat kevikepan mengagendakan perayaan 50 tahun Messawa. Maka perayaan ini juga menjadi perayaan kevikepan.
» Untuk memeriahkan perayaan 50 tahun Paroki Messawa, beberapa kegiatan yang dilaksanakan diikuti hampir semua paroki di Kevikepan. Pada bulan Juli diadakan perlombaan Seni dan Olahraga dari kelompok-kelompok ketegorial. Untuk kelompok kategorial SEKAMI diadakan perlombaan gerak dan lagu, ski  darat, lari kelereng. Kelompok kategorial OMK, diadakan perlombaan Vokal Grup. Kelompok kategorial KIK diadakan Lomba Memasak. Sedangkan untuk kategori umum diadakan perlombaan Sepak Bola, Bola Volley, Sepak Takraw dan Koor. Paroki St, Mikael Tobak yang berjarak 500 KM dari Messawa pun, mau berpartisipasi menunjukkan bahwa perayaaan ini sungguh merupakan perayaan Kevikepan Sulawesi Barat.
» Parayaan Puncak 03 Desember, dihadiri oleh banyak umat dari paroki-paroki di Kevikepan Sulawesi Barat. Dalam perayaan puncak, Paroki-Paroki di Kevikepan Sulawesi Barat hadir dan menunjukan keikutsertaan mereka dalam perayaan ini dengan cara berpartisipasi dalam pentas budaya. Paroki St. Petrus Mamasa tampil dengan Tarian Bulu Londongnya, tarian khas Mamasa, Paroki St. Yosep Polewali tampil dengan tarian Kipas yang bernuansa Mandarin, Paroki St, Maria Mamuju Tampil dengan Tarian khas Mandar dan Paroki St. Mikael Tobadak tampil dengan Tarian Khas Flores. Kehadiran dan partisipasi paroki-paroki dalam perayaan ini menunjukkan perayaan ini sebagai pesta bersama.

Pesta Masyarakat
Perayaan 50 tahun Paroki Messawa, juga dapat dipahami sebagai pesta bersama masyarakat setempat. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa kahadiran Gereja di tengah-tengah masyarakat tidak pernah dapat dilepaskan dari karya pastoralnya yang juga menyapa masyarakat pada umumnya. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka perayaan ini juga memperhitungkan dan melibatkan banyak masyarakat.
» Dalam rangka mempersiapkan perayaan pesta 50 tahun Messawa, beberapa tokoh masyarakat di Messawa, terlibat aktif. Beberapa kali rapat panitia, turut hadir Pak Camat, Pak Lurah, Beberapa tokoh masyarakat yang juga menyumbangkan pikirannya dalam perencanaan perayaan. Dalam pelaksanaan perayaanpun beberapa instansi pemerintah seperti Puskesmas Kecamatan, Dinas Pertanian Kecamatan juga terlibat aktif dalam beberapa kegiatan. Fasililitas berupa tenda untuk tempat perayaan juga banyak disumbangkan dari pemerintah setempat. Penginapan tempat pesarta dari berbagai paroki dan stasi disediakan oleh masyarakat setempat. Juga keikutsertaan ibu-ibu Muslim yang mau berjerih paya memasak makanan untuk umat musim dan tamu-tamu undangan. Juga dalam pembuatan tenda-tenda, tempat pelaksanaan acara juga dibantu oleh beberapa pemuda yang bukan hanya dari  kalangan umat Katolik saja. Partisipasi aktif banyak orang yang tidak hanya dari kalangan Katolik dapat menjadi bukti bahwa perayaan menjadi perayaan bersama.
» Beberapa kegiatan dalam rangka       memperingati 50 tahun paroki Messawa dirancang untuk kepantingan masyarakat banyak. Ada dua kegiatan yang diadakan untuk masyarakat umum. Pertama adalah bakti sosial berupa pengobatan gratis. Dalam rangka perayaan 50 tahun diadakan dua kali pengobatan gratis, yakni pada bulan Agustus tahun 2015 bekerja sama dengan Tim Dokter dan Mahasiswa Katolik Universitas Hasanuddin dan juga Puskesmas Kecamatan mengadakan pengobatan gratis yang diikuti oleh     banyak orang. Bakti sosial yang kedua dilaksanakan pada bulan November 2015 bekerjasama dengan tim Dokter St. Lukas Kevikepan Toraja dan Puskesmas Kecamatan yang juga diikuti oleh banyak orang. Kedua adalah pelatihan Pertanian Terpadu.      Pelatihan ini difasilitasi oleh Tim Pertanian dari Toraja yang diikuti oleh banyak penyuluh pertanian dan masyarakat setempat. Dua kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat pada umumnya juga ikut merayakan 50 tahun Paroki Messawa.
» Puncak perayaan 03 November diikuti oleh banyak masyarakat. Kehadiran masyarakat yang bergitu melimpah juga menunjukkan bahwa perayaan ini juga merupakan perayaan bersama masyarakat.

Menunjuk pada tiga kegiatan di atas maka tidak salahlah kalau kami menyebut pesta emas 50 tahun Paroki St. Fransiskus Xaverius Messawa sebagai Pesta Umat Katolik Messawa, Pesta Umat Katolik Kevikepan dan Pesta Masyarakat pada Umumnya di Messawa.
Semoga apa yang telah dibuat dalam karya-karya pastoral senantiasa berkembang untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi Kondo Sapata Wai Sapalelean pada umumnya dan di Tondok Talinga Rara’ Mata Bulawan pada khususnya. *** Penulis: Pastor Anthon Michael, Pr.

Sepenggal Kenangan dari Wisma Vianney

Betapa bahagianya kami berada di tempat ini”
(bdk. Mat 17:14; Mrk 9:5; Luk 9:33)

Bahagia. Tak ada kata yang mampu mengungkapkan isi hati ini selain dari kata itu. Kata inilah yang mampu mengisahkan sejarah hidupku ketika menjalani hidup sebagai seorang TOR-er di Seminari TOR St. Yohanes Maria Vianney, Sangalla’. Di sanalah aku dapat merasakan keheningan yang menghadirkan suasana romantis yang membawa kedamaian. Ingin rasanya hati ini kembali mengalami masa-masa itu. 
Di saat tugas-tugas kuliah menumpuk, kenangan masa-masa di tahun Orientasi Rohani kembali hadir. Tak ada tugas mendesak yang harus dikerjakan hingga larut malam. Juga tidak perlu pusing memikirkan nilai A, B, C, atau D. Hidup sebagian besar digunakan untuk pengolahan rohani. Kami lebih banyak belajar dari alam, seperti misalnya bekerja di sawah, kebun, kandang babi, dapur, dll. Itu semua direfleksikan setiap hari dalam bentuk tulisan.
Mengisahkan pengalaman di Seminari TOR adalah topik yang paling menarik di Seminarium Anging Mammiri. Rona wajah berseri-seri selalu menghiasi setiap kisah yang terucap. Pengalaman setahun itu terasa sangat berharga. Masing-masing punya pengalaman unik dan menarik untuk disimak.

Demi “Esok” yang Cerah
Berada jauh dari keramaian apalagi yang namanya ‘kota”. Inilah rumah kami, Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR)–KAMS.  Di sinilah kami sebagai rekan sepanggilan menapaki jejak-jejak hidup panggilan sebagai seorang calon imam. Rumah ini menjadi rumah yang istimewa.
Di sini tak ada supermarket, yang ada hanya kios-kios kecil; tak ada ‘mall’ yang ada hanya pasar tradisional; tak ada kolam renang, yang ada hanya kolam lele dan sebuah ‘empang’. Semuanya itu kami syukuri. Satu hal yang paling kami banggakan ialah lapangan hijau di depan rumah kami ini yang menguning pada saat-saat tertentu, tempat di mana kami bekerja dan memperoleh penghidupan. Inilah suasana alam rumah kami. Aku sering menyebut tempat ini sebagai “wisma surgawi”.
Walaupun tersembunyi di balik rimbunnya rumpun bambu, seminari ini tetap mampu merona di dalam kegelapan dunia. Kehadiran para pemuda yang silih berganti setiap tahun membawa warna yang khas sekaligus bukti bahwa tempat ini memiliki daya pikat tersendiri. Mereka adalah para “frater TOR”.  Sungguh, tempat ini adalah tempat yang tersembunyi namun tak terlupakan!
Semilir angin yang menyejukkan adalah kesan awalku setiap hari. Letaknya yang berada di dataran tinggi membuat udara di pagi hari terasa sangat sejuk bahkan kadang terlalu sejuk sehingga menusuk pori-pori. Bel yang berdering pada pukul 04.45 waktu setempat membangunkanku dari tidur yang lelap.  Kadang-kadang mimpi yang indah harus terpotong sebelum mencapai ‘ending’. Dalam suasana pagi yang gemerlap, kami para TOR-er tak terkecuali para staf pembimbing harus bangun untuk memulai hidup yang baru di awal hari yang baru. Pekerjaan sudah menanti. Kami semua harus mengerjakan tanggung-jawab masing-masing: menyiapkan makanan untuk ternak-ternak, membersihkan sekitar kompleks, mengepel, memasak di dapur, mempersiapkan misa pagi, dll. Kadang-kadang setiap pekerjaan harus dikerjakan dalam keadaan setengah sadar karena masih mengantuk.
  Kami bersyukur karena bisa menikmati semuanya itu dan mampu menghayati nilai dari setiap pekerjaan yang dilaksanakan. Ini semua berkat bimbingan dari para Romo Pembimbing yang selalu menekankan nilai-nilai dari setiap pekerjaan. Cara ini pun adalah salah-satu bentuk formasi yang sungguh melatih kedisiplinan dan daya tahan.
Pola kerja yang demikian membuat saya merasa tertantang untuk berbuat yang lebih. Melalui pekerjaan seperti ini secara tidak langsung kami diajak untuk menunjukkan rasa solidaritas terhadap saudara-saudara di luar sana yang hidup menderita. Dalam hal ini pun kami terbina untuk memiliki daya juang yang tinggi; tidak mudah menyerah pada tantangan. Terik matahari, lumpur, lintah, dll., tidak menjadi alasan untuk berhenti. Ini semua demi masa depan kami, masa depan Gereja. Gereja membutuhkan imam-imam yang memiliki rasa solidaritas dan daya juang yang tinggi. Pembinaan seperti ini adalah bekal untuk hari esok karena yang ditanam hari ini adalah yang akan dituai esok.
Selamat merayakan pesta perak bagi Seminari St. Yohanes Maria Vianney, Sangalla’-KAMS. Semoga semangat St. Yohanes Maria Vianney senantiasa menjadi spiritualitas yang akan mengarahkan setiap calon imam dari KAMS menjadi imam-imam yang memiliki “nilai plus”.  *** Penulis: Michael Reskiantio Pabubung, Mahasiswa Fakultas Filsafat-Teologi, Universitas Sanata Dharma

Kronik KAMS September - November 2015

5-18 Sept 2015
Bapak Uskup mengadakan kunjungan ke Kevikepan Sultra, mulai tanggal 5 sampai 18 September 2015. Dimulai di Paroki Kolaka dan berakhir di Paroki Baubau.

19 Sept 2015
Dilaksanakan misa Kudus malam ke-100, untuk mendoakan mendiang Pastor Jos van Rooy di Gereja St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong. Misa dihadiri sekitar 400 umat, dipimpin oleh pastor paroki Gotong Gotong, dengan beberapa imam sebagai konselebran. Dalam renungannya, pastor Hendrik mengajak semua yang hadir utk meniru kerendahan hati dan perhatian khusus untuk sesame yang membutuhkan uluran tangan, sebagaimana diperjuangkan dan dihidupi oleh  almarhum Pastor Jos van Rooy, cicm.

Setelah berlibur, Pastor Aidan Putra Sidik, Pr  menyempatkan diri untuk singgah di Keuskupan. Segera P. Aidan akan kembali ke Roma untuk melanjutkan studinya. Selamat jalan dan sukses dalam tugas belajar.

21 Sept 2015
Bapak Uskup menghadiri Pernas Katekis III di Muntilan, Yogyakarta. Pernas ini, yang dimulai tahun 2005 dan diadakan setiap 5 tahun, mempunyai 3 tujuan: meningkatkan motivasi menjadi Katekis, mengembangkan persaudaraan antar Katekis se-Indonesia dan sebagai ungkapan penghargaan Gereja.

25 Sept 2015
Bapak Uskup mengadakan kunjungan pastoral ke Seminari Anging Mammiri, sampai tanggal 29 Sept. Walaupun waktu terbatas, sempat diadakan Coloquium pribadi dengan tingkat IV, V dan VI.

3 Oktober 2015
Di ruang rapat Uskup, diadakan rapat panitia tempat ziarah Sa’pak Bayobayo, Tana Toraja yang dihadiri 25 orang anggota panitia dari Makassar, Toraja dan Jakarta. Ditindaklanjuti perkembangan penanganan tempat ziarah tersebut dan langkah-langkah yang segera dilaksanakan.

4 Oktober 2015
Bapak Uskup memimpin misa Krisma di paroki Sungguminasa, dengan peserta 100 orang krismawan/krismawati.

5 Oktober 2015
HUT TNI yang ke-70 di Anjungan Pantai Losari, dihadiri oleh Bapak Uskup. Setelah Gubernur Sulsel membacakan amanat Presiden RI, acara dilanjutkan dengan berbagai atraksi yang menarik, dengan tema: ”Bersama rakyat TNI kuat, hebat, profesional, siap mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian”.

9 Oktober 2015
Diadakan rapat, membahas pengembangan lokasi Palisupadang, yang dihadiri oleh Bpk Uskup KAMS, ekonom KAMS, Kepala Sekolah Palapala, Bpk K.C. Pandin dan perwakilan dari Pukat KAMS yang dipimpin oleh Julius Tedja. Pengurus Pukat sangat antusias akan masa depan pengembangan lokasi, dan siap membantu. Tentu dibutuhkan laporan dari lapangan yang tertulis yang dapat diajdikan bahan analisa SWOT.

10 Oktober 2015
Seminar Pemberdayaan Keluarga, diadakan di aula KAMS, atas kerjasama komisi PSE dan Komisi Keluarga, yang sekaligus dijadikan bahan persiapan untuk SAGKI 2015. Pastoral keluarga sudah lama merupakan keprihatinan Gereja. Zaman sekarang semakin berat tantangan yang dihadapi keluarga Katolik, termasuk masalah relasi dan ekonomi rumah tangga. Yang bisa membantu keluarga adalah pengembangan spiritualitas CU berbasis keluarga, dengan menggali inspirasi dari gerakan “Kolping”. CU dijadikan gerakan pemberdayaan ekonomi umat berbasis keluarga dengan spiritualitas khas katolik.

Sore hari diadakan peluncuran buku sejarah paroki Kare, yang disusun oleh pastor Juvens, cicm. Kemudian dilanjutkan dengan misa konselebrasi perayaan pesta pelindung Paroki Maria Ratu Rosari Kare. Dilanjutkan dengan acara malam gembira, yang diawali dengan makan bersama. Rangkaian acara pertandingan yang dilaksanakan selama beberapa minggu sebelumnya, untuk mempererat ikatan antara umat Kare, berjalan lancar. Selamat berpesta… maju terus Paroki Kare… semoga Bunda Maria selalu mendoakan komunitas Kare.

12-15 Oktober 2015
Pertemuan Nasional Dosen Kateketik STFT di Klender, Jakarta yang diprakarsai oleh Komisi Kateketik dan Komisi Seminari KWI, dengan agenda: penyusunan Silabus kuliah kateketik di STFT. Beberapa dosen STFT turut hadir dalam pertemuan tersebut.

19 Oktober 2015.
Bapak Uskup KAMS turut hadir dalam rangkaian acara syukuran HUT ke-100 Uskup Emeritus Andreas P.C. Sol, MSC di Katedral Ambon. Turut hadir adalah Nuncio, beberapa Uskup dan banyak imam. Acara utama sesudah resepsi adalah “Apresiasi Musik 100 tahun Mgr. Andreas Sol, MSC - Unforgettable Love and Life”.

21 Oktober 2015
Bapak Uskup memimpin misa pembukaan sidang Denas ME yang ke-42 di Gereja Katedral, dengan tema: ”Go, make disciples all nations”. Misa dihadiri oleh banyak delegasi dan umat dari Makassar. Turut memeriahkan misa adalah paduan suara “Magnificat”. Pada akhir misa, diberi kesempatan untuk sambutan dari panitia, Kornas dan Bapak Uskup. Sesudahnya makan bersama di aula KAMS. Besok hari dimulai sidang.

30 Oktober 2015
Bapak Uskup menghadiri perayaan HUT ke-17 PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) dan Rakernas ke-14 di Hotel Clarion. PSMTI sudah hadir di 29 Propinsi di seluruh Indonesia. Perayaan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Kapolda, Pangdam dan pejabat lainnya serta perwakilan dari organisasi agama.

31 Oktober 2015
Puncak perayaan 50 tahun Paroki Renya Rosari Deri. Misa syukur dimulai sekitar jam 9 pagi, didahului oleh prosesi panjang dan melewati jalan yang menurun terjal, dari rumah seorang umat menuju lapangan di samping Gereja. Dihadiri oleh banyak umat paroki Deri dan juga umat dari paroki paroki di kevikepan Toraja. Turut hadir beberapa imam untuk memberikan dukungan.

Berita perayaan pesta emas disampaikan juga kepada Pastor Paul Catry, cicm yang ikut memulai pengembangan iman dan mendirikan paroki Deri. Beliau mengirimkan ungkapan hati dan ucapan selamat sebagai berikut:

Umat yang berbahagia pada pesta emas ini: Dari jauh di Belgia, saya ingin hadir bersama Anda sekalian menaikkan pujian dan syukur kepada Tuhan yang Mahabaik atas perlindunganNya pada umat Paroki Deri, sejak awal sampai hari ini. Semuanya mulai sangat sederhana tetapi berkat kerja sama dari banyak pihak, Paroki Deri-Sesean mulai berkembang. Saya sebagai pastor paroki pertama (1960-1965) merasa sangat bahagia di Paroki Deri. Saya merasa diterima dan banyak yang dapat kita buat bersama. Umat ingin maju. Selalu muncul orang yang mau kerja sukarela dan kerja bakti,  ada yang melibatkan diri di liturgi,  katekese, pembangunan, pendidikan di sekolah, koor, perhatian untuk orang sakit, bimbingan terhadap kaum muda dan seterusnya. Mari kita maju terus di bawah bimbingan Bunda Maria, pelindung paroki Renya Rosari. Di Deri, tokoh tokoh masyarakat menamakan saya: bukan pastor, tetapi “Ne Paulu”. Mari kita saling mendoakan. Mari kita angkat gelas TUAK… mamming tuak di Deri. Salam dari Ne Paulu”.

2-6 Nopember 2015
Berlangsung SAGKI ke-4 di Via Renata, Puncak-Bogor. (lihat laporan khusus dari komisi keluarga)

9-12 Nopember 2015
Bapak Uskup menghadiri  Sidang Tahunan KWI.

13 Nopember 2015
Rombongan para Uskup berangkat ke Yogyakarta, menghadiri pemakaman alm. Johanes M. P., Uskup Agung Semarang. Semoga ia beristirahat dalam damai Tuhan.

15 Nopember 2015
Bapak Uskup memimpin misa pesta pelindung stasi St. Albertus Agung Tanjung Bunga. Sebagai konselebran, hadir pastor paroki P. Leo Paliling dan pastor kapelan, P.Vius O. Pesta tersebut dihadiri oleh banyak umat.

18 Nopember 2015
Bapak Uskup menghadiri Doa lintas Agama Amda Indonesia (Association of Medical Doctors), berlangsung di Balai Manunggal Mini Kodam. Intensi doa adalah untuk perdamaian dunia, keselamatan umat manusia, peringatan 70 tahun berakhirnya perang dunia II, perdamaian dan kerukunan di Indonesia. Amda adalah sebuah NGO berpusat di Okayama, Jepang.

22 Nopember 2015
Pkl. 07.30: Bapak Uskup memimpin misa Krisma di paroki St. Paulus Tello, dengan peserta 89 orang. Seluruh rangkaian acara berjalan baik dan lancar.

Pkl 18.30: Bapak Uskup memimpin misa HUT ke-76 dan pelindung paroki Andalas, dirangkaikan dengan pelantikan pastor paroki dan pelantikan Depas.

26-28 Nopember 2015
Berlangsung Rakor STIKPAR Toaja, dengan tema: mengevaluasi dan memantapkan kurikulum. Misa pembukaan dipimpin oleh Bapak Uskup KAMS. STIKPAR diharapkan bisa menelorkan para pewarta yang beriman. Setelah misa, Bapak Uskup memberikan “Pandangan dan Harapan” terhadap STIKPAR.

28 Nopember 2015
Bapak Uskup memberkati pastoran dan aula baru paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Mamajang. Selamat menempati sarana yang baru, dalam upaya membangun Gereja yang hidup.


Bung Kronik