Sabtu, 18 April 2015

Refleksi 40 Tahun Imamat Pastor Alex Maitimo: “Di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal...”

Kata-kata Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:26)  ini terngiang-ngiang setiap kali mengamati, memikirkan kembali setiap kali semua gerak-bergerak - ada sekian banyak - yang dilakukan untuk menyongsong hari ini. Dari lain pihak harapanku adalah agar pernyataan Yohanes Pembaptis ini, semakin kita semua sadari untuk disikapi.
Dan hari ini seharusnya semakin meyakinkan kita bahwa pernyataan Yohanes Pembaptis itu,   sehebat-hebatnya   diri   kita,   sepertinya   semakin   berlaku.   Terbuktikah?   Ada smartphone, ada tongkat selfie itu berarti diri ini semakin penting. Siapa pun Anda, semuanya bisa di-upload masuk pesbuk di dunia maya. Tanpa sadar kita terbawa arus tetapi juga sekaligus tergerus kalau tidak waspada.
Maka sejak awal, sudah sekitar abad kelima, Gereja memberlakukan masa Adven, tetapi karena kurangnya perhatian dan lemahnya pengajaran, maka masa Adven sepertinya tetap mandul. Pun sampai sekarang ini. Padahal: Yohanes Pembaptis lewat Gereja bermaksud untuk setiap kali mengingatkan kita soal pernyataan di atas itu. Karena memang benar, kita gampang sekali tergelincir. Kandang Natal bisa mengalahkan panti imam - karena kerlap-kerlipnya dan si Bayi yang sebenarnya yang utama hanya terbaring tak berdaya - dan hati kita memang hanya mencari yang kerlip-kerlap. Tanpa disadari panti imam dengan kelap-kelip lampu kandang natal mau dimiripkan dengan jalan Nusantara – Makassar (kawasan lampu merah, red.).
Berbahagialah orang yang ditahbiskan sebagai imam, yang berultah, yang wisuda dan Iain-lain di bulan Desember. Karena orang-orang Desember secara khusus akan diingatkan terus menerus perihal: "beri waktu untuk mengenal Dia." Meskipun sebenarnya semua pengikut Kristus seharusnya demikian.
Apa yang kita lakukan hari ini? Senin, 15 Desember 2014. Melihat gambar kenangan: Perjalanan Syukur P. Alex Maitimo pr 40 tahun imam. Di situ tidak diterakan kata imamat. Karena bicara tentang imamat, itulah sama dengan bicara tentang "Dia yang hadir tapi tidak dikenal."
Maka janganlah kiranya kita mengambil hal imamat itu dari-Nya dan kita pasangkan pada diri seorang yang manusia, apalagi yang seperti saya ini, yang belum bertugas di salah satu paroki sudah ditebarkan, padahal waktu itu belum ada smartphone, bahwa 'pastor baru nanti itu agak miring'…
Imamat itu milik-Nya. Imam itu dipanggil, diajak, diingatkan, dikandatto, dipapilapa, dismackdown oleh Dia, dirangkul, diampuni, diteguhkan oleh Dia, karena imam kepala batu (= yakin diri benar sendiri) dan tidak suka ber-adven (: mengenal Dia yang berdiri di tengah-tengah kita). Berani sekali kita mengenakan martabat imamat-Nya itu sementara kita hidup dengan gaya bulan pake payung tuturuga batalor.
Yang kita rayakan hari ini, bukan imam, bukan imamat, tetapi seluruh perhatian Allah yang prihatin dan terus-menerus memelihara umat-Nva. Jangan diputar-balikkan. Fokus saja pada      kenyataan ini: prihatin dan memelihara. Jabatan imam dan penggembalaan sebagai ungkapan 'prihatin dan memelihara' itu terdapat dalam satu kerangka yang lebih besar yaitu Karya Keselamatan Allah.
Kapan keprihatinan dan karya    keselamatan itu dirayakan? -sepertinya tidak pernah. Mengapa? karena yang ada di tengahmu tidak kamu kenal, padahal itulah Dia. Maka kita harus berhati-hati sekali bicara tentang perayaan syukur 40 tahun imamat pastor ... 25 tahun triprasetya seumur hidup … panca windu sakramen pernikahan … karena sebenarnya keprihatinan dan pemeliharaan-Nya itu yang utama, tapi pada hari peringatan digeser oleh si jubilaris, ahhhh… Tanda bahwa memang kita tidak mau tahu-menahu tentang Dia. Bayangkanlah, sudah berbau tanah kita-kita ini dalam Katolik, urusan pemahaman dan penghayatan dalam bidang ini belum beres.
Kembali kita amati gambar kenangan: imam jalan terus dan harus terus, semua yang manusia harus begitu. Dan untung boleh jalan terus, paling diganggu asam urat karena agak “galojo” -istilah dari Sulawesi Utara, rem mata dan leher kurang pakem kerjanya. Maka perjalanan ini adalah perjalanan syukur karena Dia     mendampingi apalagi disertai oleh seluruh Umat.
Tetapi hari ini kita istirahat sejenak, bukan untuk berselfie ria, tetapi untuk b e r d i a m ... supaya bisa memerhatikan keajaiban-keajaiban Allah [Ayub 37:14].
Keajaiban Allah tidak ada hanya dalam diri si tanah liat ini, tetapi juga dalam diri kita masing-masing. Sayang ... kita suka tanpa sadar mengatakan 'tidak ada keajaiban' 'tidak kurasakan'. Ini karena kita tidak mau, kadang juga takut untuk  b e r d i a m sebentar, dan memerhatikan...
Mestinya keajaiban Allah itu menjadi bahasa persatuan yang menghubungkan kita satu sama lain. Tanpa itu kita akan seperti menara Babel, akan runtuh dan berantakan.
Beristirahat sejenak koq di Rajawali ?
Karena sesudah disemaikan di rumah oleh ibu bapa dan saudara-saudariku, ternyata dipupuk juga di kapel ini dengan menjadi misdinaar, misdienen, yang berarti melayani Misa. Mendiang suster-suster dulu dengan gayanya masing-masing memberi teladan: Allah nomor satu, cium tanda salib yang tertera pada cincin di jarinya. Ibadat memuliakan Dia: nomor satu - Liturgi pada hari Raya, nomor satu. Juga ada pada suatu hari, bisikan sayup tapi jelas dan tegas dari Pastor Frans van Roessel CICM di kapel ini juga, lalu saya ke Seminari - jln Gagak 90. Sesudah itu tiap kali bertemu dengan suster-suster dari biara Arendsburg khususnya, akan terdengar "ik zal goed voor jou bidden."  (saya akan doakan yang terbaik untukmu, red.). O ma lee, apalagi kalau sudah begitu. Anehnya dengan jari telunjuk digoyang-goyang mengarah ke diriku, begitu caranya.
Hal-hal di atas ini semua ternyata kadang-kadang perlu dialami kembali manusia, kata tokoh psikoanalisa Sigmund Freud - back to basic, mudik. Untuk timba kekuatan baru. Ternyata bagiku sore hari ini bukan hanya suster, tetapi begitu banyak saudara-saudariku yang sekaligus menjadi tanda jaminan dan sumber energi-Nya yang disalurkan lewat kamu semua bagiku.
Terima kasih beribu, karena tanpa sadar ataupun sadar, kamu semua terbuka dan siap menjadi agen elpiji rohani bukan hanya bagiku tetapi bagi kita semua satu sama lain. Keajaiban? Yes! Keajaiban. Dan itu tidak selalu dengan model, pola, gaya yang menghebohkan. Apanya mau menghebohkan, yang berdiri di  tengah kita saja kita tidak kenal.
Itulah cara suster-suster dulu mengambil bagian dalam kerangka karya keselamatan, kecil saja tapi mantabbb. Ini pasti menjadi tantangan untuk rekan-rekan mereka yang sekarang, sesudah fasilitas hidup dan karya semakin makin. Semoga fasilitas-fasilitas seperti itu tidak malah membuat semua yang diajak jalan bersama-Nya, terlena dan semakin tidak mengenal Dia, itu doaku.
Dalam undangan tercantum acara untuk dua hari. Kenapa dua hari dipergunakan untuk kejadian ini? Karena bicara tentang imam, itu berbicara tentang Allah yang memelihara, bicara tentang Allah, itu bicara tentang renting dan doa. Itu saja fasilitas yang sebenarnya tersedia bagi kita manusia. Ada petunjuk dari-Nya yang perlu kita perhatikan dan renungkan, lalu tanggapan dari pihak kita. Disertai sikap liturgis: membungkukkan badan dan sikap batin: sederhana, lalu enter.
Ada juga semacam kartu dengan gambar kenangan 40 tahun imam dan lagu: semoga kita semua sadar, hal prihatin dan peduli bagi para imam perlu yang disebut gerakan seluruh umat, tidak cukuplah kalau hanya berupa kelompok.
Donasi bukanlah masalahnya. Kadang malah hal itu menumbangkan, karena setan juga tahu sistim bujuk rayu yang ampuh untuk manusia yang bermata hijau kalau melihat Iembar rupiah atau lebih-lebih euro.
Kenapa Liturgi perayaan Ekaristi tadi terkesan biasa-biasa saja … Pesan Yohanes Pembaptis di atas tadi ingatlah baik-baik! Hal itu saja belum kita atasi. Kita sering mengeluhkan bahwa liturgi kita kurang ini kurang itu, seperti acara kuliner nusantara saja. Sepantasnya liturgi itu mengajak kita setiap kali untuk fokus kepada Dia yang prihatin dan pelihara. Karena tidak sadari hal ini yang utama, lalu kita menghiasi bagian panti imam, semarakkan dengan lagu dan petugas pilihan dan kita berfokus pada berhala buatan kita itu. Dia yang seharusnya adalah pusat perhatian, terlewatkan jadinya. Padahal lewat sarana kudus itu kita juga mau memberi tahu kehebatan diri kita. Kalau kita mau jujur terhadap yang punya Ekaristi, maka tidak ada misa lain, apakah itu tema-nya, atau intensi-nya selain misa itu sendiri. Jangan sampai suara burung beo kita mengaburkan kenangan akan pengurbanan diri-Nya yang membawa keselamatan kita.
Nah, sesudah semua ini diamati, disimak dengan tekun dan teliti baru gerakan dibuat Gaya bergeraknya lagi secara iklan ISUZU - nyaris tak terdengar, tidak usah heboh -karena yang mau heboh, apalagi karena tidak sadar sendiri juga hedonis tattara, tidak ji dilarang.
Pola gerak ini yang dipakai, karena disadari kita sudah salah goyang di awal dan isi utamanya "yang di tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal" … jangan selanjutnya begitu terus. Sebenarnya seluruh hidup kita yang sudah menjadi milik-Nya, lewat baptisan itu, seharusnya memakai pola-pola yang sudah diwahyukan-Nya. Kitab Suci memiliki banyak petunjuk, sedangkan di otak kita paling yang ada adalah: anggap diri tahu padahal banyak unsur ‘ero dikana' / ’la dikua.' Berhadapan dengan “yang di tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal” tidaklah perlu kita coba-coba kasi liat jagota karena bisa-bisa kita juga menjadi Herodes Agung yang ketakutan lalu main tebas saja anak orang, bayi Yesus pun mau ditebas, biar begitu kita rasami sendiri paling katolik. Kalau bersikap begitu Iebih baik ikut Yudas yang menggantung diri.
Apa doa-doamu untuk imam-imam yang sudah 40 tahun atau pun yang baru 4 bulan? Semoga kita tidak lalai terhadap seruan Yohanes Pembaptis itu. Kalau hanya doakan supaya setia, itu kurang lebih sama dengan nasehat dokter internist kepada pasien diabetes: jangan konsumsi yang manis-manis; godaan malah makin besar untuk nikmati ice cream walls atau baskin robbins. Atau kata dokter: tanta, kurangi garam supaya body tidak melebar dan tensi tinggi, pada hal hobinya makan bubur manado/tinutuan     dengan ikang garang, jadi larangan pasti ditabrak, bikin sia-sia Kartu Indonesia Sehat atau BPJS. Kiamat.
Ternyata untuk mendoakan imam pun perlu mendalami Kitab Suci. Jangan sekedar dan rasa sudah tahu mendoakan, lalu komat-kamit kumpayakum mbah dukun, tidak abis-abis sakitnya tuh di sini. Karena untuk merayakan yang berkaitan dengan imam pun terpaksa tidak bisa pake cara dan gaya dari dunia ini, kecuali kita mau lain di mulut dan hati, lain juga di kelakuan, atau kita siap menumbangkan dia dengan menyeret dia masuk arus yang menyilaukan.
Mari kita lanjutkan terus peziarahan hidup ini dengan tetap memusatkan perhatian pada keprihatinan dan pemeliharaan yang dari pada-Nya. Ternyata itulah sumber sukacita yang begitu kita cari dan rindukan. Bukan yang lain.
Dan itulah juga yang memberdayakan kita untuk saling peduli dan saling meneguhkan dalam peziarahan bareng ini menuju kepada-Nya. ***

alex maitimo  - 1974-2014

Umat Bertanya, Imam Menjawab

Pertanyaan: Pastor, apa sesungguhnya Perayaan Imlek itu? Bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap Imlek, mengingat baru-baru ini dalam Surat Puasa Bapa Uskup memberikan dispensasi pada Rabu Abu malam yang jatuh bertepatan pada malam imlek?

Jawaban:
  Kata "Imlek" diambil dari Bahasa Hokkien dan hanya diketahui dan digunakan oleh orang Indonesia. Di luar, perayaan ini lebih dikenal dengan nama Chinese New Year untuk orang-orang barat, sedangkan orang Tiongkok menamainya "Guo Nian" atau "Xin Jia" yang berarti lewati bulan atau bulan baru.
  Tahun Baru Imlek juga dikenal sebagai perayaan musim semi (Chun Jie). Zaman dulu, para petani menyambut datangnya musim semi dengan perayaan atas berakhirnya musim dingin dan datangnya waktu untuk menanam padi lagi.
Ada legenda mengenai tradisi perayaan Tahun Baru Imlek, tentu dengan segala macam Variasi Kisahnya. Dulu ada monster bernama Nian, atau tahun (ĺą´) yang datang di akhir musim dingin, memakan hasil panen dan menyerang warga.
  Suatu waktu, seekor singa berhasil mengalahkan monster nian ini, dan monster nian lari ketakutan. Saat nian datang lagi di tahun berikutnya, warga berusaha menakut-nakuti nian dengan membuat kostum singa yang digerak-gerakkan oleh dua orang. Inilah legenda asal mulanya tarian singa, alias Barongsai.
  Selain itu diketemukan juga kalau monster Nian ini takut dengan warna merah dan sensitif dengan keramaian. Maka orang-orang pun mulai memasang lentera dan kertas merah di depan rumah. Untuk membuat suara keras, pertama-tama orang-orang melakukannya dengan cara sederhana seperti memukul alat-alat rumah tangga, lalu mereka mulai menabuh Gong, memasang kembang api, dan akhirnya memasang petasan-petasan.
  Perayaan Imlek memang selalu diramaikan dengan pelbagai pernak dan pernik yang membuat suasana perayaan kian semarak. Keindahan dekorasi yang didominasi oleh nuansa merah, lampion, pohon angpao atau pohon rejeki, pakaian merah, dan yang tak boleh dilewatkan adalah kertas angpao yang berwarna merah mewarnai keceriaan dan suka cita di hari Imlek. Belum lagi hidangan yang lezat di malam Imlek dan pada hari raya Imlek, kue-kue yang begitu nikmat untuk disantap, minuman ringan sampai berat yang menghiasi meja tamu, semua menciptakan nuansa Imlek sebagai sebuah Pesta. Belum lagi tampilnya Barongsai pada penutupan perayaan Imlek yang dikenal dengan nama Cap Go Meh. Namun Imlek lebih dari sekedar sebuah perayaan meriah di tampilan luarnya. Yang lebih penting adalah makna yang terkandung di dalamnya.
  Sesuatu yang sangat indah yang tak dapat diukur hanya dengan tampilan luar perayaan ini adalah kebersamaan segenap anggota keluarga. Perayaan Imlek adalah sebuah perayaan Keluarga. Kebersamaan ini tidak hanya sebatas pada hari H perayaan. Segala persiapan Imlek sudah melibatkan seluruh anggota keluarga. Masih segar di ingatanku bagaimana kami sekeluarga mempersiapkan diri untuk menyambut Imlek dalam keluarga. Mama begitu sibuk menyiapkan kue Imlek, bekerja bahkan sampai larut malam untuk mempersiapkan adonan dan memanggangnya di sebuah oven. Kami, anak-anak juga dilibatkan untuk membantu orang tua dengan menyiapkan bahan adonan kue. Sewaktu kecil tugas saya adalah membantu mama menumbuk kacang, atau mengaduk-aduk adonan selei yang akan menjadi bahan kue selai yang sangat kusukai, dan satu hal lagi yang tak kalah menyenangkannya: mencicipi kue yang „gagal produk“, alias cacat dikit dan tak pantas dimasukkan di toples kue.
  Sebelum tahun baru Imlek, dilakukan Shau Chen, atau membersihkan semua sudut rumah (dan kantor) sampai bersih cling-cling, termasuk membuang barang-barang yang sudah tidak dipakai. Harapannya adalah di Tahun Baru, segala hal yang buruk dan tidak beruntung bisa disingkirkan, sehingga ada tempat untuk hal-hal yang baik dan menyenangkan.
  Yang sepertinya masih berjalan sampai sekarang adalah larangan untuk bersih-bersih rumah di Tahun Baru. Mama bercerita, bahwa semua urusan bersih-bersih rumah harus sudah diselesaikan sebelum jam 12 malam sebelum Tahun Baru. Pada hari H-nya, sama sekali tidak boleh bersih-bersih, bahkan memegang sapu pun tidak boleh, karena dianggap membuang atau menyapu pergi rejeki. Bersih-bersih juga tidak boleh dilakukan di hari kedua. Membersihkan rumah baru boleh dilakukan pada hari ketiga dengan sebuah pemaknaan: orang wajib menyapu untuk membuang sial.
Mungkin terdengar aneh dan lucu, namun demikianlah orang-orang tua mengajarkan kepada anak-anak mereka sebuah kebiasaan yang mewarnai Imlek. Yang tidak kalau menarik adalah segala sesuatu yang bernuansa Baru. Baju Baru, Potong Rambut. Menyambut Tahun Baru, biasanya banyak orang membeli baju baru. Dulu adalah merupakan hal yang sangat istimewa mendapatkan baju baru dan mengenakannya pada hari H perayaan Imlek. Bahagianya berkaca di cermin dan melihat „betapa bagusnya baju yang baru dikenakan.“ Biasanya yang dibeli adalah baju berwarna merah, atau minimal ada nuansa merahnya, karena warna merah melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan (good fortune and joy). Yang sebaiknya dihindari adalah warna putih, karena identik dengan kematian.
Malam Imlek adalah sebuah peristiwa yang menyenangkan bagi keluarga. Pada saat itu seluruh keluarga berkumpul untuk mengadakan sembahyang Tutup Tahun yang dilakukan di hari terakhir sebelum Tahun Baru. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud bakti dan penghormatan ke keluarga. Yang biasanya dipersiapkan untuk sembahyang ini adalah makanan favorit leluhur, buah-buahan, misalnya pisang raja, beserta kue-kue.
  Malam sebelum Tahun Baru adalah malam wajib untuk berkumpul bagi segenap anggota keluarga. Itu pula sebabnya mengapa Bapa Uskup Agung Makassar, Mgr. Johannes Liku-Ada, Pr. memberikan dispensasi kepada umat yang merayakan Imlek dan terbebas dari kewajiban Pantang dan Puasa, walau Malam Imlek pada Tahun ini jatuh tepat pada Hari Rabu Abu yang menandai awal dari Masa Puasa dalam Gereja Katolik. Gereja Katolik memaklumi betapa pentingnya saat indah berkumpul sebagai satu keluarga bagi umat Katolik yang merayakan Imlek. “Berhubung Tahun Baru Imlek jatuh pada 19 Februari 2015 dan biasanya ada yang sudah mulai perayaan pada malam sebelumnya, maka dengan ini diberikan dispensasi dari kewajiban puasa dan pantang sejak Rabu malam, 18 Februari 2015, bagi umat Katolik yang merayakannya.”(Tertera dalam Peraturan Puasa dan Pantang 2015)
  Acara pastinya adalah makan malam bersama keluarga, yang disebut Tuan Yuan Fan. Apabila sudah menikah, makan malam dilakukan bersama di keluarga lelaki. Ada kebiasaan yang nampak lucu dan rada aneh, yakni pada saat makan malam ini, hidangan dan nasi tidak boleh dimakan sampai habis, harus ada sisa. Ini adalah sebuah ungkapan harapan, supaya tiap tahun rejeki akan selalu berlebih dan tidak berkekurangan.
  Sekarang banyak restoran yang menawarkan paket hiburan dan makan malam untuk merayakan tahun baru Imlek. Karena faktor kenyamanan dan kemudahan, banyak orang yang akhirnya memilih untuk makan di restoran. Fenomena ini tentu dilandasi oleh alasan praktis, namun sebenarnya makna dari perjumpaan sebagai satu keluarga menjadi sedikit sirna. Kehangatan kebersamaan anggota keluarga tentu akan jauh lebih terasa bila segenap keluarga bisa berkumpul di rumah orang tua atau rumah di mana orang tua tinggal (misalnya pada salah satu anak). Momen ini akan menjadi saat di mana anggota keluarga, tua dan muda untuk saling berbagi satu sama lain. Tentu berbagi canda dan tawa serta cerita. Dan bukan tidak mungkin bila ada kesalahpahaman dan ketegangan antara anggota keluarga bisa dipulihkan juga lewat perjumpaan dalam suasana kasih ini. Yang lalu biarlah berlalu, mari memulai sesuatu yang baru di tahun yang baru!
  Hari pertama Imlek adalah waktunya untuk memakai baju baru. Makanan kecil dan angpao juga harus sudah siap, karena orang-orang akan berkunjung ke rumah saudara dan teman. Tradisi ini disebut Pai Nian. Biasanya yang lebih muda akan datang ke rumah yang lebih tua untuk memberikan hormat dan mengucapkan harapan dan selamat di tahun yang baru.
  Cara memberi hormat (pai-pai ) adalah dengan mengepalkan kedua tangan, menggerakkan tangan ke depan dan ke belakang sambil mengucapkan ‘Gong Xi’ yang artinya selamat, kependekan dari ‘Gong Xi Fat Chai’  (Selamat Tahun Baru).
Selain ‘Gong Xi’, berikut beberapa ucapan selamat dan harapan:
Xin Nian Kuai Le : Semoga berbahagia di Tahun Baru
Xin Nian Jin Bu : Semoga semakin maju dan makmur di Tahun Baru
Xin Nian Fa Da Cai : Semoga kaya raya di Tahun Baru
  Zaman sekarang kita bisa melihat segenap keluarga besar ngumpul, bahkan ada yang membuat baju seragam buat anak-anak dan orang tua. Memang kehangatan dan kebersamaan itu sedikit terganggu dengan hadirnya rupa-rupa peralatan elektronik (Gadget) yang lebih menarik perhatian mereka daripada menjalin komunikasi dengan sesama anggota keluarga. Ber-facebook ria, ber-BBM-an ria, ber-Whatsapps-ria, ber-Line ria, bisa mengganggu jembatan komunikasi yang seharusnya terjalin di dalam kebersamaan ini.
  Segala yang kuceritakan ini terjadi sekian belas tahun yang sempat kualami sebelum aku meninggalkan rumah dan meniti panggilan di seminari serta menjadi imam. Karena masa pendidikan dan tugas sebagai imam, termasuk tugas studi lanjut, membuat diriku tak bisa selalu menikmati indahnya perayaan imlek bersama keluarga. Namun yang kusaksikan belakangan ini, perayaan Imlek dan maknanya mengalami kemerosotan. Memang, keluarga masih kumpul dan masih saling mengunjungi. Namun apakah sungguh perjumpaan ini merupakan perjumpaan keluarga adalah sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan. Kehadiran si Gadget membuat perjumpaan di dalam keluarga diwarnai oleh kesibukan masing-masing tangan dengan Gadget yang dipegang oleh generasi yang diperhamba oleh Teknologi.

Penutup dan Makna Tahun Baru Imlek
  Tulisan ini bukanlah merupakan pemaparan ilmiah mengenai Imlek, melainkan hanya sebuah tulisan kecil mengenai sesuatu yang kualami dalam kehidupanku sebagai seorang yang lahir dari keluarga yang masih merayakan Imlek. Maka saya juga mohon maaf sebelumnya bila ada informasi yang kurang benar, apalagi cukup amburadul. Bagiku Tahun Baru Imlek adalah waktu yang diluangkan bersama keluarga, untuk merekatkan hubungan keluarga, menunjukkan bakti kepada orang tua, dan juga membagikan rejeki kepada yang lebih muda. Selain itu, makna perayaan tahun baru Imlek adalah harapan. Banyak sekali simbolisme mengenai harapan akan tahun yang lebih baik, meninggalkan segala hal yang buruk dan tidak menyenangkan di tahun ini, untuk menerima rejeki dan kebahagiaan di tahun yang baru.
  Perayaan Imlek di berbagai Gereja Katolik mencerminkan Toleransi dengan keanekaragaman Budaya yang menjadi kekayaan dalam Umat Allah yang disatukan oleh Iman akan Yesus Kristus. Suka cita yang dirayakan oleh umat keturunan Tionghoa atau China juga dirayakan penuh kegembiraan bersama dengan umat yang berbeda suku dan budaya. Misa Imlek merupakan sebuah ungkapan kerinduan umat yang merayakan Imlek untuk merayakan iman dalam keharmonisan dengan budaya. Iman selalu membutuhkan budaya, baik dalam penghayatan maupun dalam pewartaan. Iman tak pernah melayang di udara tanpa bungkus budaya (GS 53). Iman kristiani tidak terikat pada satu budaya tertentu, tetapi bisa diungkapkan dalam semua budaya. Dalam arti itulah, iman kristiani bersifat katolik (Yun: catholicos berarti umum). Agar penghayatan iman bisa sungguh mendalam dan pewartaan iman dapat sungguh menarik dan dimengerti, maka iman perlu dibungkus dengan budaya yang sesuai (GS 58). Dasar teologis hubungan antara iman dan budaya yang sedemikian itu ialah peristiwa Inkarnasi Sang Sabda. Sang Sabda menjadi manusia dalam budaya Yahudi dan mengungkapkan penghayatan iman-Nya melalui bungkus budaya Yahudi. Inilah ajaran resmi Magisterium Gereja. Hanya di sini mesti diberi catatan penting, bahwa tidak semua unsur budaya dapat dijadikan bagian dari perayaan liturgi resmi gereja. Dalam hal ini dibutuhkan pengkajian yang lebih mendalam mengenai unsur-unsur budaya tersebut untuk mendalami makna setiap simbol yang ingin digunakan, apakah sesuai dengan pemahaman iman dalam gereja Katolik. Contohnya, pertunjukan Barongsai dalam gereja kiranya tidak cocok dengan ajaran iman Gereja, karena Barongsai dimaksudkan untuk mengusir kekuatan jahat, atau iblis. Pertunjukan Barongsai di dalam Gereja pada Misa Imlek akan sangat bertentangan dengan iman Gereja bila dijadikan sebuah pertunjukan di dalam Gereja dalam kerangka Perayaan Imlek.
   ‘Xin Nian Kuai Le, Shi Shi Ru Yi’, yang artinya kurang lebih adalah: Happy new year, everything happens as you wish for. Gong Xi Fat Cai – Wan Se Ru Yi, Sen Thi Cien Khang. Semoga senantiasa diberi kesehatan, damai sejahtera dalam rumah tangga dan kesuksesan. Semoga Berkat Tuhan menyertai kita semua di Tahun Baru ini…. Tuhan sebagai sumber dan pangkal segala kesejahteraan menyertai kita. Amin. (Pastor Rusdyn Ugiwan)
Pembaca dapat menyampaikan pertanyaan seputar Gereja Katolik secara tertulis dan disampaikan ke Redaktur Majalah Koinonia melalui e-mail: sekr_kams@yahoo.com

Kronik Keuskupan Agung Makassar, Desember 2014 - Februari 2015

1 Desember 2014
Melalui telepon, Pater Vianey CMF menyampaikan bahwa kunjungan dua orang imam CMF ke Sultra sangat positip dan siap bergabung di KAMS bulan Maret 2015.

2 Desember 2014
Karena alasan kesehatan, P. Hery M., MSC tidak bisa lagi melanjutkan pelayanan Pastoral Care di rumah sakit Stella Maris. Bapa Uskup menegaskan kepada pihak rumah sakit bahwa akan ada penggantinya tapi belum dalam waktu dekat.

7 Desember 2014
Bapa Uskup memimpin misa penerimaan Sakramen Krisma di paroki St. Joseph Pekerja, Gotong Gotong, yang diterima oleh 99 orang krismawan-krismawati. Revolusi Mental, sebagai salah satu buah dari pertobatan menjadi bagian dari homili pada minggu adven II.

8 Desember 2014
Jam 18.00, Bapa Uskup memimpin misa HUT ke-25 Dominica In Sabato di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Makassar. Anggota Dominica In Sabato, beberapa imam dan pemerhati ikut dalam perayaan tersebut.

15 Desember 2014
Bapa Uskup menerima kunjungan dari Pater Silvester Asa, CICM, provinsial CICM Provinsi Asia. Pater Syl ditemani oleh Pastor Jeremias Lakonawa, CICM yang bertugas menangani animasi dan promosi panggilan untuk CICM. Pastor Jeremias berdomisili di kompleks Sang Tunas, rumah komunitas CICM Makassar.
Pater Provinsial sempat berbagi informasi tentang misi CICM di
Mainland China. Kabar baik bahwa ada seorang frater CICM yang asli orang Tionghoa sedang mengikuti program TOR di Sang Tunas.

18 Desember 2014

Bapa Uskup menerima kunjungan pengurus YSI (Yayasan Sentosa Ibu): Bapak Anton Sudirman, Jerry Lili Sentosa dan pastor Paulus Tongli sebagai pembina. Beberapa hal dilaporkan, terutama rencana ke depan pengembangan rumah sakit Fatima Parepare.

Bapa Uskup juga menerima kunjungan silaturahmi dari rombongan tim persiapan pertemuan KKI regio MAM di Ambon. Perlu diteruskan sosialisasi kepada umat tentang ke-4 Serikat Kepausan, dan juga baik diberi perhatian untuk Tahun Hidup Bakti.

19 Desember 2014
Di Kapel Uskup, diadakan misa syukur, yang dipimpin Bapa Uskup, atas 25 tahun pengabdian dari 4 orang pegawai Keuskupan: Mieke Tongli, Chris Lumiling, Ida Alex dan Delvie, dan atas 15 tahun pengabdian dari Robert. Acara tersebut didahului dengan rekoleksi yang dipimpin oleh Pastor Ernesto Amigleo.

26 Desember 2014
Open House Natal dan Tahun Baru di aula KAMS, dimulai jam 9 sampai dengan jam 13. Kehadiran jauh lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Turut hadir antara lain: Bapak Walikota Makassar, mantan walikota Makassar berserta ibu dan anak anak, FKUB Propinsi, Bupati Gowa dll.

28 Desember 2014
Bapa Uskup memimpin misa kudus merayakan Pesta Keluarga Kudus, launching tempat ziarah Sa'pak Bayo Bayo dan launching buku “Aluk To Dolo Menantikan Kristus”. Turut hadir sekitar 1000 umat, beberapa imam dan PUKAT Jabotabek dan panitia tempat ziarah.

30 Desember 2014
Bapa Uskup memimpin misa penutupan Toraja Youth Day di Tamba' Narang, yang dihadiri sekitar 770 orang anak muda dari hampir semua paroki di Kevikepan Toraja.

8 Januari 2015
Misa Natal dan Tahun Baru 2015 bagi keluarga besar ME dilaksanakan di Restoran Runtono, dipimpin oleh Bapa Uskup Mgr. John Liku-Ada'.

10 Januari 2015
HUT ke-40 imamat Bapa Uskup Mgr. John Liku-Ada'. Proficiat...
Bapa Uskup berada di Jakarta, menghadiri peluncuran buku biografi Romo Kardinal Julius D., SJ di Kencana Budaya Jakarta. Acara tersebut dirangkaikan dengan refleksi tentang "Agama, Moral dan Masa Depan Bangsa".
Hari ini juga adalah HUT pastor Clemen Scheurs, CICMyang ke-84. Selamat berbahagia dan panjang umur.
Mulai jam 4 sore wib, berlangsung Reuni Alumni SPC yang dihadiri sekitar 30 alumni.

13 Januari 2015
Makan bersama di Keuskupan dalam rangka syukuran  atas imamat Bapa Uskup yang ke-40, dan HUT ke-37 dari pastor Junarto Timbang. Proficiat...

14 Januari 2015
Diadakan rapat gabungan membahas rencana renovasi Katedral Makassar. Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Bapa Uskup, Vikjen, Sekretaris, Herman Sentosa, Julius Tedja, bpk Ishak Ngeljaratan, bpk Jinhard Kouwagan, pastor Wilhelmus Tulak dan Frans Nipa. Disepakati diadakan upaya lebih konkrit dengan menjalin kerjasama dengan beberapa pihak terkait.

22 Januari 2015
Bersama dengan beberapa pastor, terutama yang bertugas di Kevikepan Toraja, Bapa Uskup memimpin misa arwah/pelepasan untuk Almarhumah ibu dari Pastor Stef Salenda di Langda. Harapan dan doa kita semua: semoga beristirahat dalam damai Tuhan.

24 Januari 2015
Jam 10 pagi, Bapa Uskup memimpin misa pengukuhan pengurus Komunitas Fidei 2015-2017 di Gereja Katedral Makassar. Sebagai konselebran adalah Pastor Rusdyn Ugiwan, ketua komisi keluarga dan Pastor Ignatius Sudaryanto CICM, penasehat Komkel KAMS. Turut hadir adalah perwakilan dari kelompok kelompok internal gerejani, antara lain ME, CHOICE, JSM, CFC.

Pkl. 18.00, Fr. Ferdinand Lagoli dan Fr. Supriyanus Bato', calon tahbisan diakon, mengucapkan sumpah selibat dan kesetiaan pada nasehat Injili di kapel Uskup, yang dihadiri oleh Vikjen, Sekretaris, Vikep Sulbar dan pastor Simon Gausu, rektor AM.

25 Januari 2015.
Penahbisan Diakon Fr. Ferdinand Lagoly dan Fr. Supriyanus Baso' di Gereja Katedral, Makassar. Misa dihadiri banyak umat, dimana Gereja Katedral yang kecil penuh sampai di balkon. Acara penutup adalah ramah tamah di aula KAMS. Semua menikmati makanan yang banyak dan bervariasi. Setelah semua makan kenyang, masih banyak yang tersisa. Panitia tidak sampai direpotkan karena makanan yang tersisa tidak sampai bermalam di aula KAMS. Trims atas partisipasi saudara/i menyukseskan rangkaian acara tahbisa diakon.
Kami ucapkan proficiat kepada Diakon Ferdinand dan Diakon Supriyanus.... dan selamat memulai masa diakonat di Pangli dan Sungguminasa.

27 January 2015.
Diadakan rapat gabungan Kebun Laimbo, yang dihadiri oleh anggota kuria. Pengurus Laimbo dan wakil dari Dewan Keuangan: pastor Junarto dan pastor Frans Nipa dan ibu Grace. Beberapa keputusan a.l.: pengurus lama: pastor Willi Welle, pastor Ruvinus, pastor Agus Kale'pe, dibebastugaskan, pengurus baru akan segera dibentuk dalam kurun waktu paling lama 2 bulan, ekonomat KAMS tiap bulan ke lokasi untuk membantu pengendalian dan pengawasan.

Pkl 18.30, Bapa Uskup memimpin misa untuk Frater HHK. Intensi misa adalah untuk HUT tahbisan Uskup Mgr. John Liku-Ada' yang ke-23, HUT Imamat pastor Rusdyn yang ke-10, HUT ke-64 pastor Frans Tandipau dan HUT
Timothy, cucu dari dr. Maggie dan dr Hans Wewengkang.

3 Februari 2015
Rapat gabungan pembentukan panitia pemberkatan Gereja Sudiang dan pesta Emas PNA. Dibentuk tim formatur.

19 Februari 2015
Tahun Baru Imlek. Bapa Uskup, parochus dan pastor bantu Katedral bersilaturahmi Tahun Baru Imlek ke rumah beberapa umat Katedral.
22 Februari 2015
Pkl 08.30 adalah misa Imlek di Gereja Katedral Makassar. Sesudah misa, ada acara barongsai di halaman gereja. Ini pertama kali diadakan dan sambutan dari umat sangat positif. Semoga tahun depan akan lebih semarak.
Pkl. 11.00, Bapa Uskup beserta rombongan  menghadiri "Bai Nian, Silaturahmi Imlek" di restoran Bambuden III. Bapa Uskup ikut memberikan sambutan atas nama umat Katolik KAMS, "Selamat Tahun Baru Imlek"
GONG XI FA CAI.

23 Februari 2015
Didampingi oleh Vikep Makassar: pastor Alex Lethe, moderator WKRI: pastor Hendrik Njiolah, Bapa Uskup memimpin misa pelantikan DPD-WKRI Propinsi Sulselbar di gereja Katedral. Sesudah homili. Dilanjutkan dengan acara pelantikan. Setelah misa ada ramah tamah di aula keuskupan.

24 Februari 2015
Pkl 18.30 diadakan pemilihan pengurus baru PUKAT KAMS di Hotel Yasmin, Makassar. Turut hadir adalah Bapa Uskup Mgr. John Liku-Ada’, pastor Hendrik Njiolah, moderator PUKAT, dan anggota PUKAT. Terpilih sebagai ketua baru adalah Bapak Julius Tedja, menggantikan ketua lama Bpk Jinhard Kouwagam. Diucapkan banyak terima kasih kepada pengurus lama, dan selamat bekerja untuk pengurus baru PUKAT KAMS.

Bung Kronik