Tampilkan postingan dengan label MPK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MPK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2015

LEMBAGA PENDIDIKAN KATOLIK (LPK) MEMBUKA TAHUN AJARAN BARU DENGAN PERAYAAN EKARISTI


Rabu, 22 Juli 2015, menurut kalender pendidikan yang dibuat oleh KOMDIK-MPK Keuskupan Agung Makassar merupakan hari pertama masuk sekolah untuk Tahun Pelajaran 2015/2016. Hari itu tidak digunakan untuk proses pembelajaran tetapi dimanfaatkan oleh Pengurus KOMDIK-MPK mengundang semua guru dan karyawan yang berkarya di Lembaga Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Makassar, yaitu dari Yayasan Paulus Makassar, Yayasan Taman Tunas, Yayasan YEEMYE, dan Yayasan Menara untuk membuka Tahun Ajaran Baru dengan perayaan ekaristi bersama sekaligus bertatap muka dengan Uskup. Perayaan ekaristi dilaksanakan di Gereja Katedral dimulai pada pukul 09.00 Wita. Kegiatan ini sungguh dirindukan oleh banyak pihak karena sudah lama kegiatan semacam ini tidak diadakan, terkhir kali dilaksanakan  sudah beberapa tahun yang lalu. Kegiatan ini dihadiri oleh Pastor, Suster, Frater, Guru-guru dan karyawan dari TK, SD, SMP, dan SMA dari keempat Yayasan tersebut, meskipun memang ada beberapa orang yang tidak bisa hadir karena adanya kegiatan sekolah yang tidak bisa ditinggalkan. Pada awalnya ada keraguan dari Ketua KOMDIK-MPK, tentang jumlah guru yang akan hadir, namun kenyataan sungguh menggembirakan karena dihadiri ± 250 orang. Sebagai tanda kebersamaan, semua Yayasan berbagi tugas  dalam perayaan ekaristi tersebut.

Perayaan Ekaristi
Dalam misa yang dilaksanakan di Gereja Katedral, Uskup menyapa umat yang berkarya di dunia pendidikan ini  khususnya yang berkarya di LPK bahwa guru adakalanya bukan hanya sebagai pendidik tetapi juga berperan sebagai  orang tua. Dalam khotbah berdasarkan bacaan dari Amsal 4:1-27 dan Matius 25:14-30, Uskup menegaskan  bahwa pekerjaan sebagai guru bukanlah profesi belaka tetapi lebih dari itu yaitu  tugas panggilan sebagai orang beriman. Uskup menyatakan bahwa kedua bacaan sangat erat bebicara tentang pentingnya urusan dalam dunia pendidikan, yang menekankan bahwa:

1. Guru sebagai pendidik digunakan sebagai alat oleh Sang Pemberi Kehidupan ini untuk membantu subjek didik dalam mengembangkan talenta yang sudah dianugerahkanNya.
2. Tugas guru, dalam hal ini adalah menyadarkan subjek didik kita masing-masing untuk mengisi sebanyak-banyaknya kantong mereka dengan kerikil-kerikil (pengetahuan) yang kelak akan menjadi emas dalam meraih cita-cita mereka.
3. Tantangan bagi guru adalah bagaimana guru menyadarkan subjek didik supaya mau belajar, karena berhasil tidaknya pendidikan ditentukan oleh subjek didik itu sendiri. Dalam hal ini guru dituntut untuk meyakinkan subjek didik agar mereka mau belajar dengan sungguh-sungguh mengumpulkan kerikil (ilmu) sebanyak-banyaknya yang kelak akan menjadi emas untuk bekal kehidupan mereka.

Uskup kemudian mengulas lebih lanjut  tentang tujuan pendidikan  bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah untuk meningkatan kualitas profesional yang berkaitan dengan keterampilan dan pengetahuan  serta meningkatkan kualitas hikmad yang berkaitan dengan moral dan kebijaksanaan. Manusia yang pintar tanpa moral adalah manusia-manusia yang berbahaya bagi sesamanya. Olehnya manusia harus menyeimbangkan antara kualitas profesional dan kualitas hikmatnya, pengetahuan dan moral.

Uskup menutup kotbahnya dengan berkata, “Firman Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini sungguh menjadi kritik yang tajam terhadap dunia pendidikan kita, semoga bermanfaat bagi kita”.
Selesai Misa, Pastor Alex Lethe, Pr selaku  ketua KOMDIK-MPK  mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup yang telah bersedia memimpin misa dan memohon kesediaan Uskup dan mengajak seluruh peserta untuk pindah ke aula keuskupan untuk melanjutkan ramah tamah dan dialog dengan Uskup, yang dipandu oleh Ibu Lusia Belu Tandirerung, S.Pd.


Dialog dengan Uskup
Dalam pengantar dialog, Pastor Alex Lethe, Pr kembali mengingatkan Nota Pastoral Para Uskup Tahun 2008, LPK sebagai media pewartaan kabar gembira, unggul dan berpihak pada yang miskin, dengan ciri khas, serta setia pada spiritualitas pendiri. Ciri khas Katolik bukan hanya dilihat dari simbol-simbol keagamaan yang dipasang di ruang-ruang sekolah saja, tetapi lebih dituntut dari perbuatan atau karya nyata kita yang menunjukkan kekatolikan, yaitu semangat cinta kasih. Pastor juga mengingatkan para peserta agar dalam dialog dengan Uskup peserta tidak berbicara tentang hal-hal teknis yayasan tetapi lebih pada makna kehadiran sekolah katolik. Uskup mengawali dialog dengan dua pertanyaan, yaitu:

1. Mengapa sekolah katolik mulai ditinggalkan?
2. Apa kekhasan sekolah-sekolah Katolik?

Sebenarnya hal yang terpenting dari sekolah katolik adalah hal pelayanan, yaitu melayani subjek didik kita dengan kasih. Lebih lanjut Uskup mengungkapkan bahwa menurut Kardinal Maria Martini, Uskup Agung Milano, pelayanan itu dapat dibedakan:
1. Pelayanan ke dalam (in fidei), yaitu pelayanan yang menyangkut iman.
2. Pelayanan keluar (ex fidei), yaitu pelayanan karena iman, seperti pelayanan kita di bidang pendidikan ini. Karena imannyalah gereja melakukan pewartaan melalui dunia pendidikan.

Jadi yang pokok adalah pelayanan yang penuh kasih bagi peserta didik, masalah ditinggalkan atau tidak, adalah masalah lain. Uskup juga menegaskan bahwa keluarga mempunyai peranan sangat penting dalam karya pendidikan dan pewartaan, bahkan Paus Fransiskus menjadikan pastoral keluarga sebagai pastoral gereja yang sangat penting. Keluarga merupakan sel gereja, jika sel gereja ini sehat maka akan berdampak positif pada gereja, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan dunia, namun sebaliknya jika sel gereja sakit juga akan berdampak negatif pada perkembangan di masyarakat.

Uskup mengajak umat untuk melihat kenyataan terkini yang terjadi di masyarakat secara global bahwa banyak negara-negara maju yang sudah melegalkan perkawinan sesama jenis. Hal ini sudah menyalahi hukum Ilahi karena membentuk keluarga atau sel masyarakat yang sakit. Keluarga-keluarga yang dibentuk dari perkawinan sejenis ini ternyata juga menginginkan anak, yang tentunya tidak bisa diperoleh melalui keturunan (alamiah) sehingga mendapatkannya dengan cara adopsi bahkan membeli anak dari keluarga-keluarga miskin, dan sekarang ini sedang marak-maraknya terjadi perdagangan anak (orang) atau trafficking. Jika manusia sudah diperdagangkan berarti hidup ini sudah tidak ada nilainya lagi dan hal ini sudah menyalahi hak asasi manusia.  Bagi gereja Katolik tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memiliki hidup orang lain karena yang berhak atas hidup kita yang sesungguhnya adalah Sang Pemberi hidup itu sendiri (Tuhan).

Pemaparan Uskup dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Tanya jawab hanya dapat berlangsung singkat dan memberi kesempatan kepada 5 orang karena waktu yang sangat singkat. Pertemuan ditutup pada pukul 12.30 Wita dengan makan siang bersama Uskup dan seluruh hadirin.

Penutup
Banyak peserta yang mengusulkan agar kegiatan semacam ini sebaiknya diadakan setiap tahun supaya semakin mempererat kebersamaan antar Yayasan, bahkan ada yang    mengusulkan agar kegiatan bukan hanya misa bersama tetapi juga kegiatan lain. Ketua Komdik-MPK menanggapi usul itu dengan mengatakan bahwa sebenarnya wadah untuk membangun kerjasama itu sudah dibentuk beberapa waktu yang lalu, hanya saja tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sudah dibentuk wadah kerja sama antar Kepala Sekolah (K3S) dan ada pula Kelompok Kerja Guru (KKG) baik untuk guru kelas maupun untuk guru bidang studi. Wadah-wadah ini sebaiknya dihidupkan dan digiatkan kembali dan hal ini sangat ditentukan oleh pimpinan sekolah dan dukungan pengurus yayasan.

Bapak Uskup juga menanggapi hal ini dengan mengatakan bahwa misa pembukaan Tahun Ajaran Baru bahkan masih selalu dibuat sekolah-sekolah katolik di Eropa di negara-negara dimana agama kurang diperhatikan lagi. Karena itu beliau mengajak untuk membuat hal yang sama dan juga menggiatkan kembali wadah yang telah dibentuk itu.

Kiranya pelayanan yang penuh kasih dalam karya pendidikan ini sungguh memuliakan dan meluhurkan nama-Nya. *** (Penulis: Florentina Sunarti)

Sabtu, 17 Desember 2011

Tim Peduli Pendidikan KAMS: MENGGAYUNG ANTUSIASME GURU LEWAT WORKSHOP CERDAS MENGAJAR DENGAN METODE NLP


Menjadi seorang guru adalah tugas yang mulia dan tiada tanda balas jasanya. Dari perkataan masyarakat pada umumnya itulah tersimpan tugas-tugas yang maha arti lainnya seperti misalnya menjadi model bagi siswanya, menjadi seorang yang mampu membuat siswanya tumbuh pengetahuan, akal budinya semakin berkembang, dan pastinya diharapkan anak didiknya kelak akan sukses, dan masih banyak lagi.

Dalam Jurnal MNPK, yang ditulis oleh Pastor Dr. Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta pada judul artikel Memaknai Predikat Sekolah Katolik, dikutip makna yang sungguh berarti mengenai peranan pendidik:
Dalam Ensiklik Perkembangan Bangsa-Bangsa, no. 83 Paus Paulus VI menegaskan bahwa: “Anda para pendidik hendaklah bertekad menyemangati kaum muda untuk mencintai bangsa-bangsa yang miskin”. Dengan pernyataan itu Paus mengatakan kepada kita kaum pendidik agar membuka hati dan melihat realitas kehidupan masyarakat, untuk memajukan kehidupan yang lebih baik demi kesejahteraan umum.  Pendidikan merupakan tindakan budaya yang seharusnya membebaskan dan tidak mengasingkan siswa di tengah realitas dunia. Relasi antara anggota masyarakat dan relasi dengan dunianya ditelaah secara kritis demi perkembangan siswa dan masyarakatnya. Pertumbuhan integral setiap pribadi, kesejahteraan umum dan keutuhan ciptaan merupakan sasaran pendidikan yang bersifat holistik. Itulah prinsip pendidikan untuk semua bidang kehidupan. 

          Jadi prinsip dasar pendidikan adalah suatu usaha bersama dalam proses terpadu-terorgarnisir untuk membantu manusia mengembangkan diri dan menyiapkan diri guna mengambil tempat semestinya dalam pengembangan masyarakat dan dunianya di hadapan sang Pencipta. Pusat perhatian dalam pendidikan adalah usaha untuk membagikan dan membangkitkan pengalaman nilai dalam hidup manusia secara keseluruhan. Baik itu pengembangan intelektual, ketrampilan, afeksi maupun lebih jauh lagi dalam bidang pendidikan moral atau pendidikan suara hati. 

Begitu tegas peranan pendidik kita, namun sejalan dengan waktu, peranan guru semakin terkikis dengan beragam kendala-kendala yang mengakibatkan beban guru makin bertambah berat. Teknologi dan informasi, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan gereja, dan atau perekonomian adalah beberapa kendala itu.

Tim Peduli Pendidikan (TPP) KAMS, yang telah dikukuhkan oleh Keuskupan Agung Makassar, mencoba untuk menjembatani  dengan membuat kegiatan workshop singkat yang diadakan di Aula Keuskupan Agung Makassar pada Minggu, 16 Oktober 2011. TPP KAMS melihat keprihatinan guru-guru tersebut sehingga menghadirkan Frans Budi, seorang trainer dari Jakarta.

Frans Budi berlatar belakang pendidikan formal di bidang filsafat jenjang pasca-sarjana, yang juga banyak mendalami bidang psikologi dan komunikasi. Ia juga seorang Lisenced NLP Practitioner, Communication Skill Specialist, Certified Hypnotist, Certified Hypnotherapist, dan Motivational Speaker. Berdasarkan latar belakang tersebut, diharapkan membantu membuka mental block dalam diri para pendidik kita.

Dengan dihadiri sekitar 150 guru dan kepala sekolah - cukup membuat kagum TPP KAMS -  dan dibuka langsung oleh Wakil Diknas Provinsi Sulawesi Selatan dengan mengatakan bahwa kegiatan ini sungguh patut untuk diapresiasi karena dapat meningkatkan kualitas pendidik menjadi lebih baik, kemudian pengenalan sekilas mengenai TPP KAMS dan anggota-anggotanya oleh Koordinator TPP KAMS Julius Yunus Tedja.

Acara yang dibawakan Frans Budi dengan tema “Cerdas Mengajar dengan Metode NLP” dari pukul 10.00 wita sampai dengan pukul 15.00 wita sungguh menghipnotis para pendidik, terbukti dengan wajah yang penuh antusias menyimak dan melahap materi yang padat namun penuh dengan pembelajaran yang interaktif, begitu pula kuesioner yang dibagikan di akhir sesi telah memberikan peneguhan bahwa workshop tersebut sungguh-sungguh bermanfaat dan sangat aplikatif untuk diterapkan dalam pengajaran. Bapak Ishak Ngeljaratan, budayawan Sulawesi Selatan, pun meneguhkan,”Seandainya saya dulu mengenal dan mendalami metode ini tentu cara mengajar saya akan lebih baik dari sekarang ini.”   

“NLP adalah strategi belajar yang dipercepat untuk mendeteksi dan memanfaatkan pola-pola yang ada di dunia seperti misalnya menemukan metode belajar yang cepat dan mampu memberikan hasil yang tepat dan dapat diterapkan dengan sederhana namun optimal,” demikian penjelasan Frans Budi.
Di akhir acara, Sekretaris TPP KAMS Artian Wijaya mengajak para guru untuk berdiskusi dalam 8 kelompok kecil dimana setiap kelompok dimoderatori oleh anggota TPP KAMS. Dari diskusi tersebut dapat terkumpul beberapa harapan dari guru pada TPP KAMS, seperti misalnya mampu menjembatani peningkatan sumber daya guru dalam hal ketrampilan dan pengetahuan guna mendidik murid di sekolah mereka, mampu bersama-sama dengan seluruh elemen pendidik, yayasan, komdik, dan pemerintah untuk memberikan sumbangsih yang positif terhadap sekolah katolik dalam meningkatkan mutu pendidikan katolik, dan diharapkan pula dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya stimulasi karya-karya positif sehingga berdampak terhadap kesejahteraan guru dan tentunya sekolah pada umumnya.

Sebelum pembubaran acara, yang ditutup dengan pemberian cinderamata oleh Ibu Olga Kuswandi sebagai Bendahara kepada Frans Budi di hadapan seluruh peserta dan anggota TPP KAMS dan dilanjutkan foto bersama semua peserta. Sebagai kenangan dan bentuk apresiasi kepada peserta, diberikan sertifikat penghargaan yang telah ditandatangi oleh Kepala Diknas Provinsi Sulawesi Selatan,  CD mengenai NLP dan seperangkat peralatan workshop. *** Penulis: Artian Dasa Wijaya

Selasa, 18 September 2007

Sosialisasi Rencana Strategis Komisi Pendidikan KWI 2006-2009

Sidang Pleno Komisi Pendidikan (Komdik) KWI pada 11 – 13 September 2006 di Denpasar Bali merekomendasikan kepada pengurus terpilih periode 2006-2009 untuk menyusun Renstra dan mensosialisasikan ke seluruh Komdik Keuskupan.
Mengacu pada agenda Sosialisasi Renstra Komdik KWI 2006–2009, Keuskupan Agung Makassar mendapat giliran pada 30–31 Juli 2007. Nara sumber yakni anggota Pengurus KOMDIK KWI P. Yonas Atjas Pr dan P. Karolus Jande Pr. Komdik MPK KAMS bertindak sebagai tuan rumah dan fasilitator.

Agenda sosialisasi tersebut ditindaklanjuti oleh Pengurus Komdik dan MPK KAMS dengan mengundang para kepala sekolah bersama wakil kepala sekolah TK, SD dan SMA sekolah-sekolah asuhan Yayasan anggota Komdik MPK KAMS, Utusan Perguruan Tinggi, anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia (APTIK) dan non anggota APTIK, Akademi Perguruan Katolik, Ikatan Insan Pendidikan Katolik, para Pastor Paroki dalam kota Makassar dan Pengurus Yayasan Pendidikan Katolik Anggota Komdik MPK KAMS, untuk mengikuti sosialisasi bertempat di Wisma Kare Makassar. Jumlah peserta 65 orang.

Karya pelayanan Komdik KWI adalah pelayanan reksa pastoral di bidang pendidikan. Reksa Pastoral Komisi Pendidikan Konferensi Wali Gereja Indonessia 2006-2007 digerakkan oleh nilai-nilai Keputusan Sidang Pleno XII Komdik KWI di Denpasar-Bali, sebagai berikut :
- Mendorong agar setiap keuskupan menyusun Kepengurusan Komdik Keuskupan dengan mengacu pada Kepengurusan Komdik KWI.
- Mendorong agar Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik tetap setia pada ciri khas Katolik dan pencerdasan kehidupan bangsa serta memiliki “sense of Catholicism” dan “sense of nationalism”.
- Meningkatkan komitmen Gereja terhadap gerakan Reksa Pastoral Pendidikan yang terpadu.
- Terpenuhinya pelaksanaan Reksa Pastoral melalui peningkatan mutu manajemen, mutu SDM, dan dana.
- Meningkatkan profesionalitas SDM pada lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik.
- Meningkatkan profesionalitas para penyelenggara, pengelola, dan pelaksana pendidikan dalam kepemimpinan dan manajemen.
- Memperjuangkan penggalangan dana melalui Kolekte Pendidikan secara nasional.
- Mengoptimalkan Reksa Pastoral pembelajaran, pelatihan, pembimbingan dalam rangka meningkatkan proses dan hasil pendidikan, sehingga terwujud budaya belajar.
- Membangun dan mengembangkan jejaring yang efektif secara internal dan eksternal.
- Menggalang kerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan adanya kader Gereja dan Bangsa di masa depan.

Nilai-nilai tersebut harus dipahami, dihayati dan diamalkan serta dievaluasi secara terus menerus oleh seluruh Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik se-Indonesia. Karena itu salah satu caranya antara lain: Komdik KWI menyusun Rencana Strategis (Renstra) 2006-2007 dan disosialisasikan ke seluruh Keuskupan di Indonesia. Renstra ini hendaknya menjadi acuan pula bagi Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik untuk menyusun Renstra ke depan sehingga tujuan yang ingin dicapai bersama, sungguh-sungguh searah dengan Visi dan Misi Gereja di Indonesia pada umumnya.

Nilai-nilai di atas selain menjadi acuan bagi Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik, juga menjadi Arah Dasar Komisi Pendidikan KWI 2006-2009.

Tujuan Penyusunan Renstra
- Menunjukkan arah pelayanan yang hendak dituju selama 3 tahun mendatang.
- Menjadi basis untuk melakukan perencanaan dan pengembangan.
- Membentuk koordinasi antar unit karya pelayanan.
- Menciptakan kinerja unit pelayanan yang baik.
- Menghindari konflik akibat perbedaan persepsi.
- Menjadi dasar dalam bekerja berdasarkan sistem.
- Memungkinkan mengadakan evaluasi secara terarah.

Visi
Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik yang profesional, bermartabat, setia terhadap ciri khas katolik dan pencerdasan kehidupan bangsa.

Misi
Memberikan reksa pastoral pendidikan kepada Lembaga Pendidikan Katolik agar profesional dalam penyelenggaraan, pengelolaan, dan pelaksanaan pendidikan.
Melaksanakan reksa pastoral pendidikan kepada Insan Pendidikan Katolik agar profesional dalam pembelajaran, pelatihan dan pembimbingan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan.
Mengembangkan reksa pastoral pendidikan kepada Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik agar profesional dalam membangun kerjasama internal dan eksternal.
Memberikan reksa pastoral kepada Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik agar menumbuhkembangkan manusia yang cerdas, beriman, bermoral sebagai citra Allah.
Melaksanakan reksa pastoral pendidikan kepada Insan Pendidikan Katolik agar berkembang menjadi manusia yang cerdas, beriman, bermoral sebagai citra Allah.
Melaksanakan reksa pastoral pendidikan kepada Insan Pendidikan Katolik agar mampu menciptakan tatanan hidup yang dijiwai nilai-nilai kristiani.
Mengembangkan reksa pastoral pendidikan kepada Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik agar setia terhadap cirikhas Katolik yang dijiwai oleh semangat Injil, kebebasan dan cinta kasih.
Memberikan reksa pastoral pendidikan kepada Lembaga Pendidikan Katolik agar menumbuhkembangkan semangat kebangsaan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila.
Melaksanakan reksa pastoral pendidikan kepada Insan Pendidikan Katolik agar meningkatkan semangat cinta tanah air sebagai kader bangsa.

Sasaran
Semua Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik yang berada, berdomisili dan menyelenggarakan pendidikan dalam Keuskupan baik formal maupun nonformal seraya memahami, menghayati dan melaksanakan Visi dan Misi tersebut secara benar dan terpadu.

Rekomendasi
Digerakkan oleh nilai-nilai kristiani yang muncul dalam sosialisasi Renstra Komdik KWI 2006-2007 para peserta menelorkan rekomendasi yang perlu dipahami, dihayati dan dilaksanakan secara bersama-sama sebagai berikut :
Hendaknya Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik dalam Keuskupan Agung Makassar menyusun suatu Bidang Strategis, Program Strategis dan Rincian Program baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri tanpa meninggalkan otoritas Gereja lokal dan dituangkan dalam bentuk Renstra yang sifatnya masih umum dan memuat antara lain:
Bidang Reksa Pastoral Pengembangan Profesionalitas.
Bidang Reksa Pastoral Pengembangan Kemanusiaan yang bermartabat.
Bidang Reksa Pastoral Pengembangan Katolisitas.
Bidang Reksa Pastoral Pengembangan Kebangsaan.
Hendaknya koordinasi antara Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik dalam KAMS ini tetap di bawah Komdik–MPK KAMS sehingga masalah yang muncul terhadap keberadaan sekolah katolik dapat dihadapi dan diselesaikan secara bersama-sama.
Lembaga Pendidikan Katolik dan Insan Pendidikan Katolik dalam KAMS hendaknya tetap profesional, bermartabat, setia terhadap ciri khas katolik dan pencerdasan anak bangsa seraya semakin berupaya membina dan menjunjung serta mengedepankan kebersamaan.
Dipandang perlu mengadakan pelatihan manajemen dan peningkatan mutu SDM lintas sekolah Yayasan anggota Komdik MPK KAMS.

Catatan: Khusus rekomendasi poin 1, Yayasan Paulus KAMS pada 6 – 8 Oktober 2006 dalam Lokakarya Manajemen Kepala Sekolah di Wisma Kare telah menghasilkan Renstra Yayasan Paulus KAMS 2006/2007 – 2011/2012 yang menjadi acuan dasar yang sifatnya masih umum dan implementasinya perlu dijabarkan di masing-masing unit kerja secara kontekstual. ***
P. Alex. Lethe Pr dan Victor Duma Sa’pang