Senin, 21 Juli 2014

“BERBAHAGIALAH ORANG YANG BERLINDUNG PADA TUHAN”


Panggilan selalu merupakan sebuah misteri. Banyak orang yang dikatakan saleh dan sangat rajin berdoa namun gagal menjadi pastor. Demikianpun orang yang pintar belum tentu bisa ditahbiskan. Tidak mudah membedakan mana orang yang terpanggil dan mana yang tidak. Saya juga tidak tahu. Namun dari rangkaian peristiwa hidup yang saya lalui terdapat “benang merah” yang mengarahkan saya pada panggilan imamat. “Benang merah” inilah yang memberikan keyakinan dan kekuatan untuk memohon ditahbiskan menjadi imam.

Lahir di Ujung Pandang, 01 Agustus 1986, saya diberi nama Reynold Agustinus Sombolayuk. Kata orang di dalam nama termuat harapan serta doa orang tua. Jika demikian, saya bisa menangkap bahwa orangtua saya mengharapkan saya menjadi keturunan Sombolayuk yang pandai seperti Santo Agustinus. Apakah pemahaman saya ini benar atau tidak, saya tidak tahu, karena saya juga belum pernah menanyakannya kepada orangtua saya. Yang jelas bahwa dengan menjadi seorang imam, harapan itu semakin nyata.

Ketertarikan saya menjadi seorang pastor berawal dari ayah dan ibu saya. Bapak Aloysius Kitta’ Sombolayuk dan Ibu Jacqualine Nandung Tandiayuk merupakan dua dari sekian banyak umat Katolik yang rajin ke gereja. Bahkan ayah saya dari dulu sampai sekarang selalu menjadi pemimpin doa. Karena itu, sewaktu kami tinggal di Bulukumba, sebuah kabupaten di ujung selatan pulau Sulawesi, para pastor sering mampir atau menginap di rumah kami. Kedekatan dan keakraban dengan para pastor inilah yang mungkin menumbuhkan benih-benih panggilan dalam diri saya.
Benih panggilan yang muncul itu mulai berkembang ketika saya harus tinggal dengan kakek dan nenek saya di Toraja, tepatnya di Sangalla’, sebuah paroki yang “subur panggilan”. Jarak yang dekat antara rumah dengan gereja serta suasana kekatolikan di Sangalla’ banyak berperan dalam memupuk panggilan saya yang mulai tumbuh itu. Saya masih ingat, saya sangat bersemangat sewaktu mengikuti kegiatan-kegiatan Gereja entah sebagai anak sekolah minggu maupun sebagai mudika (sekarang OMK). Ketika diumumkan tes masuk seminari, saya tanpa ragu ikut mendaftarkan diri. Waktu itu, sembilan orang dari Paroki Kristus Imam Agung Abadi Sangalla’ diterima di Seminari Menengah St. Petrus Claver, Makassar.

Pendidikan di Seminari memberikan kematangan terhadap panggilan saya. Empat tahun bagi saya merupakan waktu yang cukup untuk mengolah diri dan menimba ilmu. Saya merasa lucu sendiri bila mengenang masa-masa di seminari. Jujur saya bukan orang yang selalu mengikuti peraturan. Bahkan cukup lama saya mengalami krisis dalam panggilan. Namun di saat-saat terakhir, panggilan Tuhan bergema lagi dan mempertemukan saya dengan kongregasi Oblat Maria Imakulata.


Banyak kebetulan yang terjadi dalam perjumpaan saya dengan Kongregasi OMI. Saya bisa menemukan pembimbing rohani yang cocok, yaitu Pastor Jacques Catteew, CICM; dikunjungi oleh Pastor Heru, OMI; dan berangkat ke Jogja pada hari yang ditentukan. Saya masih ingat, Pastor Stanis pernah bertanya kepada ayah saya mengapa saya memilih OMI. Jawaban yang tidak saya duga sama sekali muncul: “Mungkin karena tanggal kelahiran Reynold sama dengan Pendiri OMI, St. Eugenius de Mazenod”. Baru saat itulah saya menyadarinya. Kemudian saya juga menemukan banyak kecocokan dengan pribadinya.


Belajar menjadi bagian dari keluarga Oblat Maria Imakulata bukanlah hal yang mudah, tetapi juga tidak berat sekali. Pengalaman suka dan duka menjadi bumbu yang menjadikan masa-masa pembinaan menyenangkan. Prinsip yang saya pegang sejak saya masuk adalah saya siap untuk dibimbing dan tidak akan menyerah kecuali disarankan demikian. Prinsip ini membantu saya menyesuaikan diri dengan tempat, suasana, budaya, orang, yang serba baru. Prinsip ini juga yang membantu dan menguatkan saya ketika mengalami krisis dalam panggilan.

Banyak pengalaman yang meneguhkan saya dalam panggilan. Namun pengalaman bersama umatlah yang paling mengesankan. Minimal ada tiga pengalaman yang menarik, yaitu pengalaman hidup berkomunitas di paroki St. Yohanes Rasul, Pulau Sapi (Kalimantan Utara); pengalaman Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Niño, Kulaman (Filipina); dan pengalaman diakonat di Paroki St. Yohanes Penginjil, Dangkan-Silat (Kalimantan Barat). Ketiga paroki ini merupakan tempat karya OMI yang paling terpencil dan terjauh dari pusat kota. Namun justru di tempat-tempat yang terpencil inilah Tuhan mengasah dan meneguhkan panggilan saya. Pengalaman sekaligus pelajaran berharga sebagai seorang calon imam dan misionaris paling banyak saya dapatkan di tempat ini. Kebersamaan dengan umat menjadi sumber semangat yang selalu baru. Di sini pula muncul satu keyakinan yang selalu menopang panggilan saya: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya.” (Mzm. 34:8). *** Penulis: Diakon Reynold Agustinus Sombolayuk, OMI 

Umar Bertanya, Imam Menjawab


Umat bertanya:
Sinode Diosesan 2012 melahirkan delapan Misi Gereja lokal KAMS.  Salah satu misi yang berhubungan dengan keluarga adalah “Mewujudkan keluarga sebagai gereja rumah tangga (ecclesia domestica) yang berpolakan keluarga kudus Nasaret, tempat nilai-nilai manusiawi, iman dan tradisi Katolik tersemaikan. Apa arti dan makna pernyataan tersebut dan bagaimana cara keluarga-keluarga mewujudkannya?

Imam menjawab:
Misi tentang keluarga di atas adalah suatu kesadaran Gereja lokal KAMS. Kesadaran bahwa keluarga sebagai Gereja rumah tangga ini muncul selaras dengan kesadaran Gereja universal tentang peranan keluarga dalam hidup menggereja. Kesadaran ini sudah muncul jauh sebelum Paus Yohanes Paulus II.
Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1981 menerbitkan Anjuran Apostolik yang disebut Familiaris Consortio yang adalah anjuran Paus supaya keluarga-keluarga berperan dalam membangun Gereja dan masyarakat dalam dunia modern ini. Paus meneliti ikatan yang mendalam dan hubungan yang erat antara Gereja dan keluarga Katolik dan apa yang menjadikan keluarga Katolik itu suatu Gereja kecil. Hubungan suami-istri yang dilandasi cinta kasih adalah melambangkan hubungan yang erat antara Yesus dan GerejaNya, Yesus yang mencintai GerejaNya (Ef 5:25-32). Dalam arti ini Sakramen Perkawinan membuahkan keselamatan karena persatuan mesra suami-istri mengambil bagian dalam persatuan mesra antara Kristus dan Gereja. Cinta kasih suami-istri adalah tindakan nyata yang bertujuan untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan pasangan. Melihat isi dan ciri peranan keluarga yang adalah tanda keselamatan dan tanda cinta kasih Yesus terhadap Gereja, maka tidak salah kalau dikatakan bahwa suami-istri atau keluarga yang hidupnya dilandasi oleh kasih Tuhan adalah Gereja kecil, Gereja rumah tangga yang merupakan sel Gereja universal dan masyarakat (FC 42, AA 11).
Apa artinya kalau Gereja Lokal KAMS mengemban misi keluarga sebagai Gereja Rumah tangga? Gereja lokal KAMS melihat   dirinya sebagai yang sudah dewasa, yang sudah saatnya meninggalkan kesibukan bersolek diri dan terjun ke masyarakat untuk bekerja bagi kesejahteraan orang banyak.
Keluarga, demikian pun Gereja,  mempunyai fungsi ke dalam dan ke luar. Fungsi ke dalam keluarga atau Gereja membuat para anggotanya hidup dalam persekutuan yang erat (communion personarum, koinonia) untuk mengusahakan hidup saling bersaudara, saling mengampuni, saling mengasihi dan membantu bagi terwujudnya perkembangan hidup masing-masing. Semua anggota keluarga wajib membangun iman yang benar, melalui pengajaran yang benar (kerygma) maupun sakramen-sakramen Gereja (leiturgia), demi tercapainya tujuan bersama, yaitu menjadi semakin serupa dengan Kristus. Adapun fungsi ke luar keluarga atau Gereja adalah mewartakan kabar sukacita kepada segala bangsa (Mt 20:19-20, kerygma). Fungsi ini meliputi baik tugas pemberitaan Injil (kerygma) maupun tugas pelayanan sosial (diakonia) dalam masyarakat umum. Adapun tugas pelayanan sosial merupakan tugas di bawah tugas pemberitaan Injil yang tidak dapat dipisahkan, karena tugas utama gereja adalah menginjili dunia, dan bukan menyempurnakan kesejahteraan sosial masyarakat. Penginjilan adalah usaha memberitakan kabar mahabaik tentang Yesus Kristus, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya, menebus umat manusia, sehingga mereka yang mau percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat, memperoleh pengampunan Allah dan kehidupan kekal.
Gereja Lokal KAMS (bisa dibaca: keluarga) berniat untuk mewujudkan iman  dalam karya-karya konkrit dengan meresapi tata dunia demi terwujudnya tatanan hidup yang lebih bermartabat dan berkeadaban. Hal ini terungkap dalam misi yang ingin dijalani dalam lima tahun ke depan, misalnya: membangun gerakan budaya hidup bersih dan sehat, mendorong kemandirian umat/masyarakat ekonomi lemah dengan cara mendukung pemberdayaan potensi ekonomi, membangun kesadaran dan tanggung jawab sosial politik yang bermartabat di kalangan umat dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pada pokoknya keluarga, Gereja, ingin lebih berkiprah dalam tatanan masyarakat yang nyata.
Keluarga: Gereja kecil. Keluarga adalah sungguh-sungguh Gereja. Yesus memilih hidup sebagai manusia dalam satu keluarga Maria dan Yosef. Mereka adalah orang-orang beriman yang hidup dalam persekutuan. Oleh karena itu persekutuan hidup Maria, Yosef dan Yesus sendiri disebut “keluarga Allah” atau Gereja (KGK 1655). Memang sejak awal perkembangan Gereja, keluarga merupakan inti dari Gereja. Orang-orang menjadi percaya kepada Kristus, mereka dibaptis dan hidup dalam persekutuan. Pada umumnya seluruh keluarga menjadi orang percaya (Kis 16:31). Orang yang sudah diselamatkan, dalam hatinya sangat mendambakan keselamatan pula bagi seluruh keluarganya (Kis 11:14).
Anggota keluarga karena baptisan menerima dan memiliki martabat Kristus, yaitu martabat sebagai nabi, imam dan raja. Dengan martabat kenabian, keluarga mempunyai tugas mewartakan Injil; dengan martabat imamat, keluarga mempunyai tugas menguduskan hidup terutama dengan menghayati sakramen-sakramen Gereja dan hidup doa; dan dengan martabat rajawi, keluarga mempunyai tugas melayani sesama.
Keluarga bukan hanya sebuah komunitas manusia yang harus selalu menjadi objek pelayanan Gereja. Keluarga adalah juga komunitas basis Gerejawi yang mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah; keluarga mempunyai tugas yang adalah juga lima tugas Gereja yakni: membangun persekutuan hidup dan kasih, membangun keluarga Katolik yang bahagia  ( koinonia). Sebagai keluarga, berkumpul bersama merayakan iman melalui doa ibadat keluarga (leiturgia). Melalui pekerjaan memberikan pelayanan dalam keluarga maupun kepada keluarga-keluarga lainnya (diakonia). Keluarga memberikan kesaksian iman kepada orang lain dalam setiap pergaulannya (martyria). Semua yang keluarga hidupi dan lakukan hendaknya menjadi sarana mewartakan kabar sukacita kepada sesama (kerygma).
Gereja sebagai rumah Allah. Istilah Gereja mempunyai arti yang lain yaitu sebagai rumah Allah dimana umat Allah berkumpul untuk mengucapkan syukur, berdoa bersama, memuji dan meluhurkan Allah dalam ibadat dan ekaristi. Keluarga pun hendaknya membangun dan menjadi altar, menjadi mezbah Allah dimana semua anggotanya bisa berkumpul bersama untuk bersyukur, berdoa, memuji dan meluhurkan Allah dalam ibadat. Berikut ini adalah usulan sebagai gerakan atau langkah untuk mewujudkan keluarga sebagai mezbah Allah:
1. Mulai berdoa bersama sebagai keluarga, bukan sendiri-sendiri saja. Membaca kitab suci harian bersama-sama, berdoa bersama sebelum makan. Bisa menggunakan liturgi resmi Gereja sebagai model liturgi keluarga misalnya ibadat sabda tanpa imam, belajar berdoa secara spontan dan dengan melibatkan hati.
2. Berdoa Rosario bersama-sama dalam keluarga. Anak-anak diberi kesempatan memimpin doa Bapa Kami dan Salam Maria. Anjurkan setiap anggota keluarga mendoakan intensi masing-masing. Doronglah anak-anak berdoa secara teratur setiap harinya.
3. Di dalam Gereja selalu ada salib besar di sekitar altar, pasanglah juga salib yang cukup besar di tempat dimana keluarga sering berkumpul untuk berdoa bersama dan juga di tempat yang mudah dilihat orang. Pasanglah salib-salib ukuran sedang di dinding setiap kamar.
4. Jadikanlah penerimaan sakramen sebagai tradisi keluarga yang secara teratur diterima seperti misalnya pengakuan dosa. Merayakan Ekaristi bersama sebagai keluarga setiap Minggu.
5. Ciptakanlah tradisi keluarga dalam masa-masa tertentu dalam kalender Gerejawi, misalnya Gerakan APP diperhatikan oleh ayah, ibu serta semua anak-anak termasuk anak yang masih kecil. Ajarilah mereka menyisihkan sebagian uang saku mereka untuk dipersembahkan kepada Tuhan dalam kolekte atau APP (bukan orang tua memberi uang kepada anak untuk kolekte atau APP). Ajarilah mereka berkorban untuk nilai yang lebih baik.
6. Jadikanlah ziarah ke tempat suci misalnya ke gua Maria sebagai kebiasaan keluarga yang dilakukan bersama oleh semua anggota keluarga.
7. Jadikanlah berbakti kepada Tuhan sebagai kebiasaan setiap anggota keluarga, bahkan saat-saat liburan; misalnya mengikuti misa harian pagi hari, untuk orangtua sebelum masuk kerja dan anak-anak sebelum masuk sekolah. Kalau sedang liburan di luar kota, carilah Gereja terdekat untuk ikut misa pagi.
8. Orangtua menjadi teladan kemurahan hati bagi anak-anak melalui tutur kata dan perbuatan mereka.
9. Jangan takut mengungkapan cinta kepada pasangan di depan anak-anak misalnya suami istri saling bergandengan tangan, berpelukan dan saling cium pipi. Perlihatkan kemurahan hati kepada tetangga dan orang lain di depan mata anak-anak. Katakan kepada anak-anak bahwa Tuhan mencintai mereka, mereka pun harus mencintai satu-sama lain dan berbaik hati kepada orang lain. Hindari suami-istri bertengkar di depan anak-anak. Dengan demikian mereka akan belajar dari orang tua hal-hal yang baik.
10. Bersharinglah dengan anak-anak tentang kehadiran Tuhan dalam suka dan duka keluarga.
11. Perlihatkanlah selalu keramahan kepada siapa saja yang bertamu di rumah misalnya pastor, bruder, suster dan pelayan Gereja lainnya yang mengunjungi rumah.
12. Aktiflah berpartisipasi dalam hidup menggereja, misalnya ambil bagian dalam liturgi sebagai lektor, prodiakon dll; menjadi anggota Legio Maria, WKRI, atau organisasi Gereja lainnya.
13. Doronglah anak-anak juga ikut serta dalam kegiatan Gereja, tidak dibiarkan larut dalam pengaruh negatif lingkungan mereka.
14. Ikut serta dalam kegiatan sosial di lingkungan kita misalnya menjadi ketua RT/RW (Rukun Tetangga/Rukun Warga), partisipasi dalam gotong-royong membersihkan lingkungan rumah.
15. Tentunya masih ada banyak kegiatan lain yang bisa menjadi ungkapan perwujudan iman dalam masyarakat.

Pada akhirnya, membangun keluarga sebagai Gereja rumah tangga adalah suatu kesadaran Gereja lokal KAMS. Dorongan Roh Kudus menggerakan keluarga secara nyata berkiprah di masyarakat; keluar dari dirinya sendiri melaksanakan karya-karya Gereja menata dunia dan untuk keselamatan umat manusia. Ada saatnya pula keluarga membangun diri sebagai mezbah Allah, keluarga yang bersekutu untuk memuji dan memuliakan Allah dalam ibadat keluarga. Dengan demikian keluarga benar-benar menjadi Gereja sebagai sakramen keselamatan Allah bagi manusia. *** P. Ignatius Sudaryanto, CICM, Ketua Komisi Keluarga KAMS 

Selasa, 01 Juli 2014

Kronik Keuskupan Agung Makassar Maret - Mei 2014


2-3 Maret 2014: Tim Kecil dari Katedral bersama dengan Bapak Uskup Mgr. John Liku-Ada’, Vikjen dan Sekjen KAMS ke Jakarta dalam rangka menjajaki kemungkinan diadakan perbaikan rumah ibadat Katedral. Bersama dengan umat pemerhati di Jakarta yg digerakkan oleh Komjenpol (purn.) Gories Mere, rombongan bertemu dengan Dirjen Cagar Budaya Kemendikbud di Jakarta. Sore hari, rombongan berkunjung ke rumah kediaman Menhan Bpk Poernomo Yusgiantoro. Dari pertemuan tersebut jelas bahwa setiap bangunan yang terdaftar sebagai bangunan cagar budaya tidak dimaksudkan untuk berdiri seumur hidup. Undang-Undang Cagar Budaya memberi ruang untuk diadakan perbaikan supaya bangunan tetap bisa memberikan pelayanan kepada pemakai. Bangunan cagar budaya diupayakan tetap sebagai Living Monument dan Living Building (tetap bisa berfungsi bagi pemakai).

8 Maret 2014: Pertemuan Lintas Depas Kevikepan Toraja di Pala’-Pala’. Peserta: 63 orang (para pastor dan perwakilan-perwakilan DEPAS). Tim: Para Pastor di STIKPAR dan Seminari TOR. Narasumber: Petrus Bine Saramae Pr. Hadir juga utusan dari Komisi Liturgi KAMS, Bpk. Petrus Ponno Matutu. Materi: Kebijakan-Kebijakan Pastoral terkait pelayanan Sakramen dan Sakramentali.

11 Maret 2014: Rombongan para suster MC berkunjung ke Keuskupan. Beberapa suster MC sudah mulai berkarya di Mamuju, Sulawesi Barat.

13-14 Maret 2014: Diklat pendataan umat di Baruga Kare. Peserta: Para Vikep, Para Pastor Paroki dan utusan-utusan paroki (70-80 orang). Penyelenggara: Tim Pengawal Pelaksanaan ARDAS KAMS 2013-2017? Pendamping: P. Dr. Francis Purwanto SCJ dan P. Fandy Palinoan Pr.

28-29 Maret 2014: Diklat Liturgi para Pengantar/Pemandu Ibadat Paroki Yohanes Rasul Minanga, Kevikepan Toraja. Peserta 55 orang: Para Pengantar/Pemandu Ibadat. Pendampimg: P. Petrus Bine Saramae dan Bapak Paul Klaping dari Komlit KAMS. Materi pokok: Hakikat dan Makna Liturgi dalam Gereja Roma Katolik, dan Sosialisasi dan Pelatihan Penggunaan PSHMR yang baru.

30-31 Maret 2014: Diklat Liturgi Paroki KIAA Sangalla’, Kevikepan Toraja. Peserta 100-an orang: Para Pengantar/Pemandu Ibadat, Pengurus Depas dan Ketua-Ketua Stasi. Pendamping: P. Petrus Bine Saramae, Bapak Paul Klaping dan Katekis Petrus Ponno Matutu dari Komlit KAMS. Materi pokok: Hakikat dan Makna Liturgi dalam Gereja Roma Katolik, dan Sosialisasi dan Pelatihan Penggunaan PSHMR yang baru.

3 – 4 April 2014: Rekoleksi para Imam KAMS di Baruga Kare dan diakhiri dengan Misa Krisma di Gereja Katedral. Hanya beberapa imam yang tidak berhasil hadir karena beberapa alasan penting.

17-20 April 2014: Perayaan Pekan Suci 2014 di Kevikepan Makassar berjalan baik, tertib dan aman. Secara umum, jumlah umat yang hadir bertambah dibandingkan dengan tahun 2013. Bapak Uskup melayani di Gereja Katedral dan Vikjen melayani di stasi Tanjung Bunga.

27-28 April 2014: Diklat Liturgi para Pengantar/Pemandu Ibadat Paroki St. Mikhael Tobadak, Kevikepan Sulbar. Peserta 50 orang: Para Pengantar/Pemandu Ibadat, Penguru Depas. Pendamping: P. Petrus Bine Saramae, Bapak Paul Klaping dan Katekis Petrus Ponno Matutu dari Komlit KAMS. Materi pokok: Hakikat dan Makna Liturgi dalam Gereja Roma Katolik, dan Sosialisasi dan Pelatihan Penggunaan PSHMR yang baru.

29 April 2014: Bapak Uskup menuju Baras dalam rangka memimpin perayaan Peringatan 25 tahun Gereja Katolik di Mamuju Tengah (lihat artikel di halaman lain).

13-15 Mei 2014: Rapat Dewan Imam KAMS di Baruga Kare. Rapat dihadiri oleh semua anggota, dengan catatan bahwa satu anggota hanya mengikuti hari pertama karena telanjur membuat jadwal pelayanan,  sebelum adanya pemberitahuan tanggal rapat. Alasan dapat diterima.

15-16 Mei 2014: Rapat rutin Dewan Konsultor, dihadiri oleh semua anggota. Rapat berjalan baik di Baruga Kare.

15-17 Mei 2014: Sarasehan Liturgi di Kevikepan Makassar di Aula Kesukupan. Peserta: Tim Liturgi dan Pemerhati Liturgi di Paroki-Paroki dalam Wilayah Kevikepan Makassar. Pendamping: Staf Komisi Evangelisasi (Komisi Katekese, Komisi Kitab Suci dan Komisi Liturgi) KAMS. Tema-Tema yang dibahas: Teologi Liturgi (Makna dan Hakikat Liturgi), Musik Liturgi, dan Perayaan Sabda & Ibadat Lingkungan.

28 Mei 2014: P. Petrus Bine Saramae diundang oleh Gereja Toraja menjadi salah satu narasumber dalam Seminar dan Lokakarya Liturgi dan Musik Gerejawi Gereja Toraja yang dilaksanakan di Tangmentoe, Toraja Utara, 26-28 Mei 2014. Kegiatan ini diadakan dalam rangka revitalisasi dan pembaruan liturgi Gereja Toraja. Beliau diminta membawakan dua topik pada: Gerakan Pembaruan Liturgi Dalam Gereja Roma Katolik dan Makna Simbol-Simbol Dalam Liturgi Gereja Roma Katolik. Acara ini dihadiri oleh 148 pendeta Gereja Toraja. P. Petrus Bine Saramae membahas 2 topik tersebut dari jam 09.00-14.00.

24-31 Mei 2014: Bapak Uskup ke luar kota dalam rangka kunjungan dan rapat. Diawali dengan kunjungan pastoral ke Seminari Anging Mammiri Yogyakarta. Setelah ikut ambil bagian dalam pelayanan Pernikahan putri dari bapak Gories Mere, bapak Uskup mengikuti rangkaian acara Rapat Komkat KWI dan Komsem KWI di Jakarta. Kunjungan diakhiri dengan  perayaan Paskah PUKAT di Jakarta.

29 Mei – 1 Juni 2014: P. Petrus Bine Saramae sebagai utusan STIKPAR mengikuti Pertemuan Para Dosen Kateketik se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Komisi Kateketik dan Komisi Seminari KWI. Tema: Panggilan Gereja Berkatekese Sesuai Dengan Tuntutan Zaman. Ketua Komisi Kateketik KWI, Mgr. John Liku Ada’, hadir sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan ini. ***
Bung Kronik