Kamis, 27 Maret 2014

Sharing Panggilan Imamat Pastor Matheus Bakolu


Kenakalan Membuka Jalan Menuju Panggilan
Tahun 1953, sesudah tiga bulan sekolah di Lolibu, saudara-saudara sepupu libur ke kampung Lolibu, mereka bersekolah di Waleale, kampung tetangga, di mana sekolahnya sudah jauh lebih dahulu dibuka (saat itu sudah sampai kelas III Sekolah Rakyat/SR), sedangkan di Lolibu baru dibuka tahun itu juga, dan baru mulai kelas I SR dengan gedung sekolah darurat.
  Ketika saudara-saudara sepupu itu akan kembali ke Waleale (sesudah libur) saya bergabung dengan mereka tanpa izin/sepengetahuan orang tua. Minggat dari rumah. Suatu tindakan yang tak pernah dibayangkan oleh orangtua, karena saya pengekor mama, ke mana mama pergi saya ikut. Namun itu rupanya jalan yang di“TUNJUKKANNYA“, untuk merintis panggilan, karena selanjutnya saya memutuskan sendiri dengan mengabaikan nasehat orang tua.

Tes Masuk Seminari
  Waktu di kelas VI SR, Pastor Asrama/Pastor Paroki Raha bertanya pada saya: “Bakolu, kamu mau ke Makassar?” Rupanya pertanyaan itu berdasar pada nilai rapor yang cukup baik, “mau”, jawabku. Pada saat kunjungan Pastoral Bapa Uskup, hal itu disampaikan oleh beliau kepada Bapa Uskup. Dan kami bertiga: Smarachdus, Vinsensius Kahya dan saya dipanggil oleh Bapa Uskup. “Saya dengar kamu mau ke Makassar“, Bapa Uskup membuka percakapan. “Kami mau, jawab kami serentak”. “Kamu ke Makassar, mau jadi apa? tanya beliau. Kami bingung, tapi beliau mendesak, jadi apa? antara takut-berani, akhirnya dari mulutku terlontar jawaban: “Jadi Pastor!“ Bagus! tandas beliau. “Nanti kalau sudah lulus, kamu boleh ke Makassar“, “nanti saya suruh om Aloysius (sopir Bp. Uskup) untuk menjemput kamu di Pelabuhan”, lanjut beliau. Itulah tes kami bertiga untuk masuk seminari.

Selamat Berkat Bantuan Kakak Kelas, Kono Banggai
  Suatu hari waktu pelajaran ilmu alam, saya terkejut, melihat bapak guru (Bp. Simplisius) memelototi teman sebangku saya, Elias Bemba dari Palopo. Rupanya dalam buku ilmu alam itu terselip lembaran uang Rp 5. Saat itu, menyimpan uang termasuk pelanggaran berat. Sanksinya, tak main-main, langsung dikeluarkan. Begitu selesai pelajaran itu, Elias Bamba dipanggil oleh Pater Rektor, dan saat itu juga langsung dikirim pulang ke Palopo. Saat itu saya masih menyimpan uang Rp 87,50 (delapan puluh tujuh rupiah lima puluh sen), saya jadi gelisah dan ketakutan. Siang itu hilang nafsu makan dan istirahat siang tak bisa tidur sama sekali. Selesai istirahat, saya sembunyi-sembunyi menemui kakak-kakak kelas (sama-sama dari Muna) dan saya ungkapkan masalah saya. Dia tertegun sebentar, lalu berkata: Serahkan uang itu pada saya, nanti saya berikan pada kakak saya, Sr. Adeodata di Rajawali. “Bagaimana caranya?” Tanyaku ketakutan. “Selipkan uang itu dalam buku, dan saya akan pura-pura pinjam bukumu”, jawabnya. Begitu terjadi.  Uang kertas Rp 85 (delapan puluh lima rupiah) saya selip dalam buku sedang uang recehan 2,50 (dua rupiah lima puluh sen) saya buang di lubang WC. Maka selamatlah saya sampai selesai Seminari Menengah tahun 1966.

Ke Yogyakarta
  Tanggal 26 Desember 1966 jam 11.00 kami berempat: Urbanus Tongli, Piet Timang, Flanianus Sapano dan saya, meninggalkan SPC, ke pelabuhan dan selanjutnya dengan kapal ke Surabaya untuk terus ke Yogya.
  Sebelumnya tersiar berita bahwa dari antara kami berempat ada satu orang yang tak jadi ke Yogya. Dalam hati saya menerka: pasti saya yang tidak akan diberangkatkan. Tapi anehnya, ketika menjahit jubah, saya juga diukur oleh Bapak Kawuwung (spesialis jahit jubah), kupikir ini mungkin “gerak tipu” untuk merahasiakan. Tapi ketika tiba saat untuk berangkat ternyata kami semua berempat, lengkap dengan masing-masing membawa 2 jubah kami berempat jadi frater - calon pastor.

Tantangan Keluarga/Orang Tua
  Diam-diam ayah memendam niat/cita-cita, agar saya menggantikannya sebagai pewaris ilmunya. Sejak saya bisa menulis sedikit teratur, saya dimintanya untuk pelajari/salin ilmunya. Tiap pulang libur dari Raha (kelas IV-VI SR) saya tekun belajar hampir tiap malam.
  Namun ketika tamat kelas VI SR dan sudah ada kepastian ke Seminari, saya kembalikan buku catatan itu kepada ayah sambil berkata: “sekolah macam apa ini tidak membutuhkan yang seperti ini”. “Kamu akan kecewa nanti” katanya. Tapi saya tidak mengubrisnya dan berbalik meninggalkannya.
  Ketika selesai di Seminari dan berlibur sebelum ke Yogya, ayah sekali lagi mencoba menghalangi saya. Beliau menasehati saya dan saya diam mendengarkan. Setelah diam agak lama untuk mendengarkan. Saya katakan padanya: “Ayah, sekolah macam ini tidak hanya tergantung pada orangtuanya tapi terutama dari Tuhan. Biar ayah menghalangi kalau Tuhan pilih pasti jadi. Sebaliknya biar ayah suruh/paksakan kalau Tuhan tidak pilih tidak akan jadi. Maka sikap yang paling tepat: ayah, diam saja”. Kalau Tuhan tidak pilih saya akan kembali.
  Puji Tuhan. Ayah setuju. Namun mengikhlaskan saya menempuh cita-cita, beliau sangat demokratis. Ayah merasa rugi, namun ketika menyaksikan saya jadi imam ada seberkas kebanggaan terpancar dari wajahnya. Terima kasih, ayah!
 
Tantangan Lain
  Ketika semakin dekat jenjang imamat, saya menyadari tantangan lain yang muncul, takut wanita. Harus diatasi, namun bagaimana caranya? Ada satu jalan! Masuk pramuka!
  Saya melihat, ini cara bagus untuk mengatasi kekurangan ini. Pada waktu saya kemukakan ini kepada Romo Rektor. Tanggapannya mengejutkan, “sudah tua, masih mau main-main dengan anak-anak”, kata beliau. “Romo, kataku jadi pastor bukan hanya untuk laki-laki tapi wanita juga”. “Itu bisa diatasi, kalau sudah menjadi imam”. tandasnya. Tapi, kan tidak lucu Romo, waktu sambutan saat tahbisan lalu jatuh pingsan, jawabku. “Kalau begitu, boleh tapi satu tahun saja”, tegasnya. “Terima kasih, Romo”, ungkapku. Setahun kemudian, beliau bertanya: “sudah berhenti dari pramuka”? “Masih dalam persiapan”, jawabku. Dan itu berlangsung selama tiga tahun, sampai saya kembali untuk tahbisan. Dalam keprihatinan, kutemukan tantangan baru. Ada seorang gadis, anak didik, Katolik: cantik, manis dan baik hati. Ketika bertemu dengan dia, ada getaran khas di hati, saya kagum. Dalam hati kuberucap: “mungkin inilah yang namanya jatuh cinta”. Saya sadar akan hal itu. Maka kuteguhkan hatiku dengan berkata: “dia baik, cantik dan manis, tapi bukan untuk saya. Saya mau jadi imam”. Selama tiga tahun di pramuka, tak seorang pun tahu bahwa saya menaruh hati padanya. Saya tidak pernah memberi perlakuan khusus, walau setiap kali bertemu, hati ini bergelora.
  Di akhir tahun ketiga, sesudah perpisahan, masing-masing pulang dengan album fotonya. Frater-frater lain, para pembina pramuka, dengan bangga, menunjukkan “favorit” ganti kata pacar. Tiba-tiba terlihat foto si dia dan saya pun berkata: “ini favorit saya”. “kau juga punyakah?” Seru teman-teman kaget. Dengan tenang kujawab: “Jadi, kamu kira saya ini tidak normalkah?”. Hanya saya tidak pernah menunjukkan dalam sikap, karena saya mau jadi imam. Bagi saya, cukup saya mengaguminya. Dan setiap kali orang lain mendekatinya saya tidak cemburu, malah saya bangga! Begitu banyak yang mendekatinya berarti favorit saya hebatkan?   

Santai Saja
  Pada zaman saya di Seminari Tinggi: tahun 1966-1973, kami dapat uang saku dari keuskupan yang dapat diperoleh lewat Romo Rektor. Ada frater yang tak tahan diomeli, hingga tidak pernah mau minta uang saku. Dan kalau ada yang meminta, biasanya pada akhir bulan. Tapi saya berpikir, itu kan untuk belanja bulan yang bersangkutan: mis. bulan Mei, kalau sudah akhir bulan Mei untuk apa lagi. Ini bukan gaji, tapi uang saku. Maka saya memintanya pada permulaan bulan. Tapi sebelumnya susun alasan dulu: untuk beli celanalah, beli bajulah, beli bukulah, tapi sebetulnya hanya bilang minta uang saku. Diomeli, tidak masalah. Hari ini tidak diberi, besok minta, besok tak diberi, lusa minta. Prinsipku: bukan uangnya Romo Rektor yang saya minta.
  Suatu kali diomeli: “kamu ini belum apa-apa sudah datang minta”. Santai kujawab: Ini kan hanya minta, kalau Romo tidak beri, saya pulang, sambil bergaya pegang handel pintu untuk ke luar dari kamarnya. Tiba-tiba bunyi laci dibuka, “ini uangnya”, terima kasih Romo! Dan mau tahu: kalau saya bilang untuk beli baju: uang diberikan, tapi dapat baju juga. Kalau bilang untuk beli celana, uang diberikan. Tapi celana juga diberikan. Biasanya dengan pesan jangan bilang pada orang lain. Dalam hati, bodo amat mau cerita pada orang lain. Santai saja.

Lain-Lain
  Masa ujian/ulangan, masa yang menegangkan, saat itu lampu teplok laku, sebab lampu mati jam 11.00 malam. Susu laku, untuk jaga kondisi, karena kadang orang belajar sampai jam 2, atau jam 3 subuh. Kalau saya, mati lampu, tidur!
  Saya cuma berusaha mengenal watak dosen, khususnya waktu ujian lisan. Ada dosen digelar “pembunuh berdarah dingin,” salah atau benar jawaban tak ada reaksi apapun. Ada dosen yang menjerumuskan. Kalau jawaban salah, dia katakan baik, terus, apalagi, frater tinggalkan ruang ujian dengan gembira, dikiranya lulus, padahal tidak. Ada dosen yang suka marah dan membentak kalau jawaban benar, dia mau uji, apakah frater berani pertahankan jawabannya. Ada dosen polos, tampil apa adanya, kalau jawaban benar, mukanya ceria, kalau jawaban salah, muka keriting. Strateginya: tatap muka dosen perhatikan raut mukanya. Muka keriting, berarti salah, maka banting stir dan tanya bagaimana persis soalnya Romo. Dosen tidak hanya mengulangi soalnya, tapi tak jarang mulai menerangkan dan dengan mudah kita ambil alih.
  Kalau dosen suka membentak, itu tanda bahwa jawabanmu benar maka pertahankanlah. Kalau dosen katakan baik, terus… hati-hati, itu perangkap maka banting stir dan tanyakan kembali, pakai strategi ini biasanya lulus, tapi hanya dapat 6/C. Berarti cukup.
  Satu kali ujian akhir sejarah gereja, dosen suruh bawa buku bahasa Latin “DENZINGER“ terjemahkan! Dosen tunjukkan sesukanya halaman tertentu, dan disuruh terjemahkan. Frater-Frater yang mendahului saya masuk ruang ujian semua pulang sambil garuk kepala, tidak lulus. Tiba giliran saya, saya masuk tapi buku “Denzinger” saya taruh di luar, depan pintu masuk. Begitu masuk, tanpa memandang yang masuk, langsung katakan buka halaman ..., terjemahkan!  Pura-pura kaget dengan gaya hendak berlari untuk mengambil buku, saya berkata “wah lupa, romo“. “Duduk saja, dan ceritakan sejarah misi di daerahmu”. Tanpa menunda saya bercerita, sembarangan saja karena saya berpikir belum ada dalam sejarah gereja. Cerita, cerita, sampai akhirnya dosen berkata: sudah, sudah, lulus dapat 7! Terima kasih Romo, sambil tersenyum saya meninggalkan ruang ujian. Teman-teman pada heran saya pulang sambil ketawa-ketawa. “Kau lulus?” tanya mereka. Lulus, dapat 7, jawabku, kau ditanya apa, seru mereka lagi, saya disuruh ceritakan sejarah misi di daerahku. “Kurang ajar kamu”, jawab mereka ramai-ramai. Dengan enteng kukatakan, itu namanya pakai otak! Masa ujian sejarah gereja disuruh terjemahkan bahasa Latin.

Penutup
  Itulah sekelumit pengalaman dalam menapaki panggilan, tahun demi tahun sampai akhirnya jadi imam. Saya kadang berpikir: untung saya lahir duluan, kalau sekarang baru mau menempuh pendidikan di Seminari kemungkinan besar saya tidak lulus, alias tak jadi imam. Test masuk Seminari saja hanya ditanya mau ke Makassar? jadi apa? Mau! Jadi Pastor! Lulus. Dengan demikian saya makin yakin akan kata-kata Yesus “Bukan kamu yang memilih aku, melainkan Akulah yang memilih kamu” dan kata-kata itu pulalah yang jadi motto panggilan saya. Rasanya saya cuma mengikuti jalur yang sudah digariskan. Bukan karena saya pintar, bukan karena baik dan saleh. Tapi karena Tuhan mau pakai, aku dipilih. Terima kasih Tuhan saya boleh melayani-Mu sebagai imam-Mu. ***

RIP SR. REGINA SASSA, JMJ

Nama Ayah: Joseph Sita
Nama Ibu : Maria Magdalena La’ba

Anak pertama dari  7 bersaudara
Tempat Tanggal Lahir: Suppirang - Kabupaten Pinrang, 05 Desember 1928

Riwayat Pendidikan
SR (Sekolah Rakyat)
Sekolah/Kursus Menjahit pada tahun 1974

Masuk Biara : 15 September 1950
Terima Busana Biara : 28 Juli 1951
Profesi Sementara : 29 Juli 1953
Profesi Kekal : 29 Juli 1957

Riwayat Pekerjaan
Setelah menyelesaikan masa pembinaan di novisiat – Tomohon,  Suster memulai tugasnya di komunitas-komunitas:
Agustus 1953: Komunitas Gunung Maria-Tomohon: Tugas di bagian Menjahit, Jaga bel Kapel  dan Asrama

Agustus 1959: Komunitas Stella Maris Makassar: Tugas di bagian Kamar Cuci

Mei 1965: Komunitas Makale: Tugas di bagian Kamar Cuci, Asrama, Kapel.

Januari 1976:Komunitas Rantepao: Membantu di IKAR dan Kerumahtanggaan

Januari 1980 sampai Januari 2012 (32 tahun): Komunitas Rajawali Makassar bertugas di bagian  kerumahtanggaan dan kamar Hosti.

5 Januari 2012: Komunitas St. Monica Makassar: Menjahit dan pendoa

Sejak Juli 2013 suster menjalani operasi dan perawatan yang berkelanjutan baik di Biara St. Monica maupun di Rumah Sakit. Pada tanggal 5 Maret 2014 suster kembali di rawat di rumah sakit dan pada tanggal 6 Maret 2014 suster masuk ICU dan menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit  karena kondisi semakin menurun.

Pada tanggal 7 Maret 2014, di RS Stella Maris  tepat pukul 07.15 Suster menghembuskan napas terakhir, menghadap Bapa di Surga dengan tenang dan damai.

Sr. Regina yang terkasih, Selamat jalan, doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.

Umat Bertanya, Imam Menjawab

Pertanyaan:
Bolehkah saya tidak menggunakan hak pilih saya karena saya tidak tahu siapa yang akan saya pilih?

Jawab:
              Setiap hak dapat kita pergunakan dapat pula kita tidak pergunakan.
Di situlah terletak kebebasan seseorang atas haknya. Maka hak pilih dalam arti hak untuk memilih dalam suatu pemilihan umum sejauh itu dipandang sebagai hak, dapat dipergunakan dapat pula tidak. Namun pilihan apa pun yang diambil akan memiliki dampak.
  Bila orang mengabaikan hak pilihnya, maka ia akan membiarkan orang lain yang memilih, tetapi pilihan orang lain itu tetap akan mempunyai dampak atas dirinya. Itu berarti sekalipun saya tidak ikut memilih, tetapi saya harus menerima apa pun yang orang lain pilih. Maka dalam hal penggunaan hak pilih agak berbeda dengan penggunaan hak untuk memakan makanan yang ada di piring saya. Ketika saya tidak makan, tidak ada orang lain yang terkena dampak dari pengabaian hak saya selain daripada bahwa saya mungkin akan menjadi lapar. Bahwa orang lain menggunakan haknya untuk makan makanan yang ada di piringnya, hal itu tidak membawa dampak apa-apa terhadap saya.
  Oleh karena itu, daripada tidak menggunakan hak pilih, setiap orang katolik hendaknya sedini mungkin berusaha untuk mengenali calon-calon yang mengajukan diri. Hendaknya diamati rekam jejak mereka, para calon, sebagai warga Negara maupun sebagai pribadi selama ini. Salah satu yang dapat menjadi kriteria penilaian adalah sejauh mana yang bersangkutan sungguh memiliki perhatian kepada kepentingan umum. Orang yang punya kepedulian terhadap kepentingan umum akan selalu hadir manakala ia dibutuhkan, entah diminta atau tidak. Sebaliknya orang yang hanya menginginkan jabatan, hanya akan muncul pada saat ia membutuhkan suara kita, pada saat menjelang pemilihan.
  Gunakanlah hak pilih anda sebagai Warga Negara Indonesia, karena dengan memilih orang yang baik dan peduli terhadap kepentingan umum, kita ikut menciptakan iklim demokrasi yang baik dan benar. Memilih orang yang tepat merupakan sumbangan kita untuk Negara dan bangsa yang kita cintai ini. Dengan demikian akan tercipta kondisi saling membangun antara Negara (pemerintah, anggota legislatif sebagai penentu kebijakan) dan rakyatnya. Rakyat memberikan yang terbaik dengan memenuhi kewajibannya sebagai warga Negara serta memilih wakilnya yang tepat untuk membangun Negara dan bangsanya. Sementara Negara (lewat pemerintah dan anggota legislatifnya) dapat sungguh mengabdi kepentingan rakyat yang diwakilinya demi kesejahteraan yang adil dan merata. ***


Kronik KAMS Desember 2013 - Februari 2014

DESEMBER 2013

1 Desember
Umat stasi Antang diliputi sukacita yang besar. Sumber sukacita ini tentu dari Tuhan sendiri, diberikan kepada umat yang mau ikut memberikan kesaksian iman, mewartakan keadiran Tuhan lewat hidup Kristiani yang baik dan lewat pelayanan.  Setelah persiapan berminggu-minggu, akhirnya 188 umat menerima Sakramen Krisma dari Bapa Uskup Mgr. John Liku-Ada’ di Gereja Katolik St. Petrus Rasul, Antang, Paroki St. Paulus Tello. Pastor Ritan dan Pastor Daru hadir mendampingi Bapa Uskup dan misa meriah tersebut dihadiri oleh kurang lebih 1000 umat.  Selamat kepada Krismawan, jadilah saksi Kristus…

2 Desember
Dalam misa Kudus yang dipimpin oleh Bapa Uskup, diadakan pelantikan dan serah terima Sekretaris KAMS, dari Pastor Fransiskus Nipa kepada Pastor Paulus Tongli. Berlimpah terima kasih kepada Pastor Fransiskus Nipa, yang    dengan setia selama lebih 11 tahun melayani   Keuskupan sebagai sekretaris. Dan terima kasih kepada pastor Paulus Tongli, sekretaris yang baru, yang telah menerima tugas baru ini dengan senyum. Yang berani menatap tumpukan tugas di depan dengan senyum, dia pasti berhasil menaklukkannya dengan senang hati.

4 Desember
Pekerjaan pembangunan rumah Kolping dan meneruskan pekerjaan Arsitektur Gereja Sudiang-Mandai yang dikerjakan oleh PT. Kenanga Jaya. Diadakan pertemuan di ruang rapat Uskup, mulai pkl. 10.20 sampai dengan 12.10. Rapat ini dihadiri oleh P. Stephanus T, P. Alex Lethe dan Tim dari PT Kenanga Jaya. Beberapa hal terkait pembangunan rumah Kolping dan Gereja Sudiang dibahas. Kendala yang dihadapi dan situasi terkini ikut didalami bersama, termasuk mencari jalan penyelesaian  terbaik atas tantangan yang dihadapi.

Pada hari ini P. Julius Malli, Pr, bpk Asri dan MIeke Tongli berangkat ke Tana Toraja untuk Sosialisasi Pedoman Keuangan Paroki dan sistem keuangan paroki kepada semua utusan dari paroki-paroki di Kevikepan Toraja. Kegiatan ini dihadiri oleh banyak imam dan utusan awam. Hal-hal yang berkaitan dengan pengolahan keuangan paroki dibahas dan didalami bersama. Yang ingin dicapai adalah gerakan bersama, dengan cara yang sama untuk meraih hasil yang sama yaitu pengolahan keuangan paroki/manajemen keuangan paroki yang lebih mantap.

7 Desember
Tim Peduli Pendidikan (TPP) mengadakan sebuah pertemuan di aula KAMS, mulai pkl 10.25 sampai sore. Pertemuan dihadiri oleh TPP KAMS, beberapa imam KAMS dan tim peduli pendidikan dari Jakarta, yang dikoordinir oleh Br. Heribertus. Pertemuan yang dimulai jam 10.25 dengan doa pembukaan oleh Vikep Makassar berjalan sangat lancar. Narasumber inti adalah Bruder Heribertus FIC bersama anggota YUPP dari Jakarta. Tema sharing dan diskusi adalah SMA berasrama, sarana strategis pengkaderan rasul awam Katolik. Peserta sangat suportif dan mendukung acara dari awal sampai akhir, terlebih dikuatkan oleh hidangan siang hari - makanan khas kompleks Katedral yaitu bakso ukuran jumbo. Dari pertemuan disimpulkan, bahwa sudah saatnya kita melangkah di lapangan sekarang. Wacana sudah lama ada, masukan sudah cukup, dan saatnya memulai. Tim Peduli Pendidikan KAMS diberi tugas sebagai moderator untuk melangkah maju.

8 Desember
Bapa Uskup Mgr. John Liku-Ada’ memberikan Krisma kepada 142 orang umat di Gereja baru di Sudiang, Paroki Bunda Maria Sudiang-Mandai. Rangkaian acara berjalan lancar dan meriah. Selamat kepada krismawan dan krismawati. Jadilah saksi Kristus yang unggul.

9 Desember
Bapa Uskup Mgr. John Liku-Ada ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan Pleno DP-KWI, untuk menghadiri pertemuan CF-KWI dan rapat PUKAT. Ekonom KAMS, P. Julius Malli ikut hadir dalam rapat tersebut.

10 Desember
Vikjen KAMS, P. Stephanus Tarigan cicm menuju Tana Toraja. Kunjungan di Toraja  langsung ke Rantetayo, mengantar kusen pintu gereja dan sekaligus melihat perkembangan pembangunan. Pastor paroki bersama dengan umat bersatu untuk meneruskan pembangunan Gereja yang di masa lalu pernah terhenti. Para tukang sedang mengerjakan menara dan ring balok terakhir untuk dudukan kuda-kuda. Ada sedikit tantangan pada panitia, dimana ketinggian menara harus dikurangi karena ada Bandar udara, dibutuhkan penyesuaian.

Sore jam 4 meninjau lokasi bekas rumah untuk guru di Palapala, yang akan direnovasi dan dipakai untuk sementara sebagai tempat tinggal/residen Vikep Toraja. Rumah tersebut masih baik dan kuat. Dibutuhkan perbaikan: mengganti partisi kamar dengan kayu, mengganti keramik lantai, memperbaiki kamar mandi dan dapur. Akan dibuat jalan mobil sampai ke samping rumah. Pekerjaan perbaikan diserahkan kepada Vikep Toraja.

11 Desember
P. Stephanus Tarigan hadir sebagai selebran utama dalam misa arwah untuk pemakaman bapak dari pastor Marinus Tellu, PR di Gereja Kristus Imama Agung Abadi  Sangalla.  Misa dihadiri oleh lebih 10 imam dari kevikepan Toraja dan Luwu. Misa berjalan baik dan lancar, dibantu oleh paduan suara dari SMA Katolik Makale, yang dipimpin oleh P. Ignatisius Pabendon dan ibu Lusi Tongli. Setelah makan siang, dilanjutkan upacara pemakaman. Kita doakan: semoga beliau beristirahat dalam damai dan keluarga yang ditinggalkan tetap diberkati oleh Tuhan.

12 Desember
Vikjen, subuh jam 5.30, berangkat ke stasi Kapipe, paroki Bone-Bone untuk melihat perkembangan pembangunan gereja stasi. Gereja sudah diatapi, sedang pembentukan panti imam dan pemasangan kusen pintu dan jendela. Masih banyak yang harus diperjuangkan, pasti masih butuh waktu yang cukup lama dan dana yang tidak sedikit. Beberapa dari umat stasi sering mengeluh bahwa mereka tidak mampu menyelesaikan Gerejanya. Memang benar… jika hanya menghitung yang ada di kantong, pasti tidak mencukupi. Jika diminta kepada Tuhan supaya diberikan rezeki secukupnya, dan dimampukan untuk berbagi… alias mengandalkan Tuhan, tidak ada yang mustahil. Setelah memberikan arahan pada panitia, kembali ke Makale dan jam 19.00 kembali ke Makassar.

15 Desember
Pastor Paulus ke Mamuju untuk menghadiri pertemuan Kerawam, berkaitan dengan persiapan pesta demokrasi tahun 2014.

24 Desember
Perayaan malam Natal berjalan lancar dan aman di semua gereja Katolik di Makassar. Tidak ada gangguan apapun kecuali cuaca yang kurang bersahabat. Curah hujan cukup tinggi, banyak jalan raya tergenang air yang menyebabkan kemacetan.

25 Desember
Suasana perayaan Hari Raya Natal tetap meriah, lancar dan damai walaupun tetap diguyur oleh hujan.  Pengamanan ketat tetap terlihat di setiap Gereja dan tempat tempat umum. Tidak terdengar adanya gangguan keamanan yang berarti di Makassar.

26 Desember
Open House di aula Keuskupan Agung Makassar. Dihadiri oleh umat Katolik daeri kevikepan Makassar, para pastor, frater, suster, rombongan walikota Makassar, rombongan walikota terpilih Dany Pomanto dan utusan dari gubernur, yang berhalangan hadir karena harus menemani menteri Hatta Rajasa ke Barru. Open House dimulai tepat jam 10 pagi dan berakhir jam 14.30. Kunjungan umat jauh lebih banyak tahun 2013 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Puji Tuhan, cuaca sangat mendukung.

28 Desember
Bapa Uskup Mgr. John Liku-Ada’ menuju Sangalla, Tana Toraja, untuk menyongsong Tahun Baru 2014.

29 Desember
Umat Tello mengadakan acara pelepasan sederhana untuk Pastor Fransiskus Daru Pancoro, cicm yang sudah melayani di Paroki St. Paulus Tello sebagai pastor bantu. Acara diawali dengan misa syukur dan disempurnakan dengan acara ramah tamah yang panjang tapi menarik yang dirangkaikan dengan pemberian ungkapan terima kasih. Secara umum, bingkisannya berukuran kecil dan ringan, pasti lebih mengena di hati pastor Daru karena ringan,  dan warnanya bervariasi: merah,  biru dan kuning. Diucapkan berlimpah terima kasih kepada Ptr Daru Pancoro, cicm atas pelayanan yang telah diberikan dengan sepenuh hati untuk umat paroki Tello.

31 Desember
Malam pergantian tahun.  Makassar diguyur hujan sampai jam 9 malam. Suasana tetap meriah, pantai Losari masih dikerumuni pengunjung dan ikut pesta kembang api. Warga Makassar, khususnya kaum muda mengisi pergantian tahun dengan beragam acara di jalan-jalan, di tempat wisata dan di pantai Losari. Misa pergantian tahun berjalan lancar dan aman.

Januari 2014
1 Januari
Happy New Year 2014. Walaupun Makassar masih mendung, ungkapan kegembiraan atas rahmat tahun baru 2014 tetap sangat terasa.

3 Januari
 In Memoriam Bapak Petrus Malamma (Ne’ Rita)Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Pangli khususnya Stasi Malakiri harus kehilangan lagi salah seorang Putera terbaiknya. Seorang Bapak yang begitu sederhana dan begitu bersahaja, bapak Petrus Malamma (Ne’ Rita). Semasa hidupnya beliau telah banyak berjasa bagi pekembangan umat dan gereja di stasi Malakiri. Akan tetapi, Tuhan lebih mencintainya. Almarhum telah kembali kepada Dia yang telah menitipkannya di dunia ini. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 23 Mei 2013. Sebagai seorang Toraja yang baik, beliau telah diupacarakan dengan rangkaian upacara adat yang baik. Dan sebagai seorang Katolik yang baik pula, semuanya akan dimahkotai dengan perayaan Ekaristi, misa Requiem. Misa Requiem almarhum bapak Petrus Malamma, dilaksanakan pada Jumat, 03 Januari 2014. Pada siang hari yang tidak begitu terik, langit mendung seolah ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh keluarga almarhum Bapak Perus Malamma (Ne’Rita). Almarhum Ne’Rita yang juga adalah  ayahanda dari Pastor Bartho Liling, Pr., pastor Yulianus Liling , Pr. alm dan suster Rosa JMJ. Misa Requiem ini dipimpin langsung oleh bapa Uskup Agung Makassar, Mgr John Liku Ada’, Pr. Jenasah almarhum dibawa dari tongkonan Pong Teban, Malakiri menuju gedung gereja stasi Malakiri,  Paroki Santo Petrus Pangli. Setelah sampai, jenasah terlebih dahulu diperciki dengan air suci dan didupai oleh bapa uskup Mgr. John Liku Ada’ sebelum memasuki gedung gereja.  Dalam Misa Requiem ini, bapa Uskup didampingi oleh beberapa Imam Konselebran yakni Pastor John Galla’, Pr., Pastor Paroki Pangli, Pastor Yans Paganna’,Pr., Pastor Marsel Rarun, MSC dan pastor Barto Liling, Pr.  Hadir pula para suster JMJ, segenap rumpun keluarga dan umat sekalian yang datang mendoakan dan melepaskan jenasah ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dalam            renungannya, bapa uskup mengatakan bahwa “orang Toraja seolah-olah hidup untuk mati”. Artinya, bahwa orang Toraja bekerja keras mencari uang untuk Upacara Rambu Solo’ secara besar-besaran agar arwah orang yang sudah meninggal bisa masuk Puya. Bapa Uskup melanjutkan lagi  bahwa sebenarnya bukan itu yang dimaksudkan, melainkan bahwa “orang Toraja itu hidup untuk hidup yang lain “, yang artinya bahwa orang Toraja itu bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik di dunia yang lain. Akan tetapi, bapa Uskup juga mengatakan bahwa ketika kita meninggal, Tuhan tidak akan menanyakan kepada kita apa agama, status dan kedudukan kita, melainkan menanyakan apa saja yang telah kita lakukan, dan bagaimana kehidupan beriman kita semasa hidup.  Dalam misa requiem ini, ucapan terima kasih keluarga disampaikan oleh bapak Yohanis Bassang.  Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapa Uskup, para imam konselebran, para suster JMJ dan umat yang hadir dalam misa tersebut dan sekaligus juga menyampaikan permintaan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama acara rambu solo’ almarhum ne’ Rita berlangsung. Dalam sambutannya, beliau juga menyinggung       mengenai pembangunan gedung gereja stasi Malakiri yang masih belum selesai. Beliau berharap agar bapa uskup dan pastor paroki lebih memperhatikan pembangunan gereja tersebut dan memberikan dukungan dan bantuan baik secara moril maupun materil untuk penyelesaian gedung gereja tersebut. Setelah kata sambutan dari keluarga alamarhum Ne’ Rita, Pastor John Galla’ Pr. selaku pastor Paroki Santo Petrus Pangli mempersilakan keluarga untuk menabur tanah dan bunga yang telah diberkati oleh bapa uskup pada jenasah alamarhum Ne’ Rita. Satu persatu keluarga secara tertib mengambil tanah dan bunga yang telah diberkati dan menaburkannya pada  jenasah almarhum. Ada duka yang mendalam tampak pada wajah segenap keluarga yang ditinggalkan, tetapi sekaligus juga ada keiklasan, keyakinan dan harapan keluarga bahwa orangtua, nenek, terkasih alamarhum Ne’ Rita sudah mendapatkan hidup yang jauh lebih baik bersama Bapa di Surga.  Akhirnya, bapa uskup menutup misa Requiem dengan memberikan berkat penutup. Jenasah pun diangkat kemudian dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir yang letaknya sekitar 1 km dari gereja stasi Malakiri.
8 Januari
Dipimpin oleh P. Stephanus Tarigan, cicm dan dihadiri oleh 11 imam dan banyak umat dan keluarga, diadakan misa Arwah untuk Alm. Yakobus Ronda, ayah dari Pastor Frans Tandipau, Pr. Perayaan berjalan sangat lancar di Gereja Stasi To’Sarre, Paroki Kristus Imam Agung Abadi, Sangalla. Setelah misa, beberapa orang keluarga dan umat membawa  jenasah ke tempat pemakaman,  sedangkan yang lainnya makan siang di rumah keluarga. Doa kami: semoga mendiang beristirahat dalam damai Tuhan.
13 Januari
P. Stephanus Tarigan, cicm, Vikjen menghadiri perayaan syukur 40 tahun imamat Mgr. Petrus Boddeng Timang di Katedral Banjarmasin. Perayaan berjalan dengan sangat baik, tertib dan penuh arti. Selain renungan spontan dari Uskup, 4 orang imam ikut memberikan kesaksian singkat tentang kehidupan Mgr. Piet Timang. Tak hentinya umat tertawa ketika Pastor Clem Scheurs cicm menceritakan kehidupan masa kecil Mgr Piet Timang di kampungnya Malakiri, Tana Toraja. Setelah misa syukur di Katedral, dilanjutkan dengan acara ramah tamah di aula Katedral dan makan malam bersama.

15 Januari
Mgr. John Liku-Ada’ dan pastor Paulus Tongli berangkat menuju Kendari untuk menghadiri perayaan syukur 40 tahun Imamat Ptr. Matius Bakolu dan sekaligus dirangkaikan dengan pemberkatan Gereja Katolik stasi Ranometo. Selama ini Vikep Sultra tinggal di Ranometo.

16 Januari
Misa syukur perayaan Pancawindu imamat Ptr. Mathius Bakolu berjalan lancar dan meriah. Selamat berbahagia atas perayaan syukur 40 thn imamat dan selamat atas pemberkatan gereja Ranometo.

18 Januari
Di ruang pembinaan Katedral diadakan pertemuan yang dihadiri oleh tim tindak lanjut sinode, panitia GERBU, Kuria dan para Vikep KAMS. Diawali dengan laporan dari setiap kevikepan tentang perkembangan terakhir terkait pelaksanaan hasil sinode di setiap kevikepan. Sharing dari para vikep sangat mendalam. Di setiap kevikepan ternyata sudah ada gerakan pelaksanaan hasil sinode walaupun belum terlaksana di semua paroki. Salah satu gerakan bersama di seluruh keuskupan adalah pendataan umat dan ditargetkan selesai paling lambat pada akhir thn 2014. Pendataan umat punya peran penting supaya bisa berpastoral berdasarkan data.

22 Januari
Tahun 2014 adalah tahun pendataan umat. Paroki Minanga telah melaksanakan pendataan umat dengan baik sekali pada 27 Juli sampai dengan 6 Agustus 2013. Dengan melibatkan 11 Frater, 3 Imam, 20 mahasiswa/i STIKPAR dan 35 umat paroki, pendataan berjalan lancar dan cepat. Biaya dikeluarkan sekitar Rp 20.000.000,- Demikian juga pengalaman positif dari paroki Nonongan, yang mengadakan pendataan umat pada 16 Januari sampai dengan tgl 22 Januari 2014; dengan melibatkan 8 Frater, 28 mahasiswa/i STIKPAR, 70 umat paroki. Dana yang dikeluarkan sekitar Rp 25.000.000,- Pengalaman positif dari paroki Minanga dan Nonongan, sebagai pendataan percontohan, memberi semangat kepada paroki lainnya di KAMS untuk mengadakan pendataan pada kesempatan pertama, dan paling lambat diharapkan selesai pada akhir tahun 2014. Hasil pendataan ini menjadi modal penting untuk berpastoral berdasarkan data.

29 Januari
Bertempat di Gereja Katedral, dalam misa kudus yang dipimpin oleh Mgr. John Liku-Ada’, diselenggarakan perayaan syukur: 25 tahun tahbisan Imam, Pastor Paskalis La Oda, Pr; 40 tahun imamat pastor Matheus Bakolu dan tahbisan diakonat Frater Antonius Pabendon dan Frater Indrawijaya. Perayaan yang dimulai pkl. 17.00  berlangsung lancar dan dihadiri oleh sekitar 500 umat. Sharing dari pastor Matheus Bakolu dan pastor Paskalis La Oda membuat suasana perayaan lebih meriah. Selamat berbahagia kepada kedua Jubilaris dan selamat atas tahbisan daikon Fr. Antonius Pabendon dan Fr. Indrawijaya.

Februari 2014
Februari 2
Kongregasi Suster Misionaris Claris dari Sakramen Maha Kudus menginjakkan kaki di “Tanah Terjanji” Mamuju, Kevikepan Sulawesi Barat. Umat Paroki Mamuju sungguh bergembira atas kedatangan para suster. Doa mereka terkabul. Ungkapan syukur tersebut diramu dalam perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin langsung oleh Mgr. John Liku-Ada’. Selamat datang para suster Misionaris Claris… Tuhan memberkati karya misi MC di KAMS.

20 Februari
Komisi PSE KAMS mengadakan pertemuan di Aula KAMS untuk meningkatkan pemahaman tentang spiritualitas APP. Hadir sebagai narasumber utama adalah Rm. Teguh, sekjen komisi PSE KWI. Pertemuan dimulai jam 10 pagi sampai pkl 17.00 dan dilanjutkan pada tgl 21, jam 08.00 sampai jam 14.00. Dihadiri oleh utusan dari setiap kevikepan secara terbatas. Kebanyakan yang hadir adalah dari kevikepan Makassar. Pendalaman Spiritualitas APP, adalah tema yang sangat menarik dan seharusnya diadakan lebih sering. Usulan forum supaya diadakan pendalaman spiritualitas APP di setiap kevikepan, paroki dan komunitas komunitas secara berkala. Pendalaman spiritualitas APP adalah pendalaman iman bagi semua umat Katolik. Pendalaman iman adalah kegiatan seumur hidup. Terima kasih dihaturkan kepada Komisi PSE KAMS yang telah mengorganisir kegiatan tersebut. Semoga harapan forum bisa diagendakan di masa yang akan datang. ***
Bung Kronik


Rabu, 05 Maret 2014

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2014: Belajar Sepanjang Hidup


SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2014
BELAJAR SEPANJANG HIDUP


Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar: Salam sejahtera dalam Kristus Yesus, Firman yang “telah menjadi manusia” (Yoh. 1:14) dan yang “telah belajar menjadi taat” (Ibr. 5:8). Hari Rabu Abu, sebagai awal Masa Prapaskah, tahun ini jatuh pada tanggal 5 Maret 2014 yang akan datang.
Lingkaran 5-tahunan APP Nasional (2012-2016), dengan tema pokok ”Mewujudkan Hidup Sejahtera”, tahun ini telah memasuki tahun ke-3. Sub-tema tahun lalu ialah “Menghargai Kerja”. Panggilan sebagai mitra kerja Allah (manusia adalah citra Allah) dengan demikian menempatkan daya kreativitas dan inovasi tepat-arah sebagai prasyarat untuk proses dan hasil kerja yang semakin berdampak, berdaya guna dan sekaligus memberdayakan bagi orang lain. Oleh karena itu, manusia tertuntut untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup. Sedemikian itu, maka fokus pastoral Gerakan APP tahun 2014 ini adalah “BELAJAR SEPANJANG HIDUP”.

Sebagaimana terjadi setiap tahun, Komisi PSE-KWI menyediakan bahan pembelajaran menyangkut tema yang bersangkutan; demikian juga Komisi PSE/APP-KAMS menyiapkan kerangka bahan animasi untuk tema yang sama. Surat Gembala Prapaskah Uskup tidak dimaksudkan sebagai pengganti kedua bahan tersebut. Surat Gembala justru dimaksudkan menunjang keduanya, misalnya dengan lebih mengembangkan salah satu aspek berkaitan dengan tema tersebut atau mengangkat aspek-aspek lain yang belum disinggung dalam kedua bahan itu.

Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan “menurut gambar Allah”. Dengan demikian manusia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya; ia ditetapkan Allah sebagai tuan atas segala makhluk di dunia ini (Kej. 1:26; Keb. 2:23); “kepadanya dikenakan kekuatan yang serupa dengan kekuatan Tuhan sendiri” untuk menguasai dan menggunakan segala makhluk itu sambil meluhurkan Allah (Sir. 17:3-10; lih. juga Mzm. 8:5-7). Jadi sebagai “gambar Allah” manusia itu co-creator, mitra kerja Allah; karenanya, dari kodratnya, manusia mempunyai sifat kreatif. Tetapi Allah tidak menciptakan manusia seorang diri: sebab sejak awalmula “Ia menciptakan mereka pria dan wanita” (Kej. 1:27). Rukun hidup mereka merupakan bentuk pertama persekutuan antar pribadi. Sebab dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama, ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannya (GS,12). Maka, seperti kita baca pula dalam Kitab Suci, Allah melihat “segala sesuatu yang telah dibuat-Nya, dan itu semua amat baiklah adanya” (Kej. 1:31).

Akan tetapi manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam kebenaran, sejak awalmula sejarah, atas bujukan si Jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Ia memberontak melawan Allah, dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan-Nya sebagai Allah; melainkan hati mereka diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk daripada Sang Pencipta (Rom. 1:21-25). Apa yang kita ketahui berkat Pewahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga, bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal-hal buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahannya yang sejati kepada tujuannya terakhir, begitu pula seluruh hubungannya yang sesungguhnya dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan. Oleh karena itu dalam batinnya manusia mengalami perpecahan. Itulah sebabnya, mengapa seluruh hidup manusia, ditinjau sebagai perorangan maupun secara kolektif, nampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan. Bahkan manusia mendapatkan dirinya tidak mampu untuk atas kekuatannya sendiri memerangi serangan-serangan kejahatan secara efektif, sehingga setiap orang merasa diri ibarat terbelenggu dengan rantai. Dosa memang merongrong manusia sendiri dengan menghalang-halanginya untuk mencapai kepenuhannya. (GS,13).

Akan tetapi datanglah Tuhan sendiri untuk membebaskan dan meneguhkan manusia, dengan membaharuinya dari dalam, dan dengan melemparkan ke luar penguasa dunia ini (Yoh. 12:31), yang menahan manusia dalam perbudakan dosa (Yoh. 8:34). Dialah Yesus Kristus, “gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol. 1:15; 2 Kor. 4:4).  “Dia pulalah manusia sempurna, yang mengembalikan kepada anak-anak Adam citra ilahi, yang telah ternodai sejak dosa pertama. Karena dalam Dia kodrat manusia disambut, bukannya dienyahkan (Konsili Konstantinopel II dan III), maka dalam diri kita pun kodrat itu diangkat mencapai martabat yang amat luhur. Sebab Dia, Putera Allah, dalam penjelmaannya dengan cara tertentu telah menyatukan diri dengan setiap orang. Ia telah bekerja memakai tangan manusiawi, Ia berpikir memakai akalbudi manusiawi, Ia bertindak atas kehendak manusiawi (Konsili Konstantinopel III), Ia mengasihi dengan hati manusiawi. Ia telah lahir dari Perawan Maria, sungguh menjadi salah seorang di antara kita, dalam segalanya sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa (Ibr. 4:15)” (GS,22).

Setelah Ia lahir, Ia bertumbuh, “bertambah besar dan menjadi kuat” (Luk. 2:40). Keluarga-Nya menjadi bagi-Nya sekolah pertama dalam pendidikan nilai-nilai kemanusiaan dan religius. Orang tua-Nya sejak dini menanamkan tradisi keagamaan Yahudi pada-Nya, termasuk kebiasaan berziarah ke Yerusalem tiap-tiap tahun pada hari raya Paskah (Luk. 2:41). Terjadilah pada usia 12 tahun Yesus tertinggal di Bait Allah di Yerusalem, dan baru sesudah tiga hari orang tua-Nya menemukan Dia kembali. Yesus mengatakan kepada orang tua-Nya: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49). Tetapi Kitab Suci mencatat, bahwa orang tua-Nya tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Yang jelas Maria dan Yusuf memperlakukan Yesus sebagaimana umumnya orang tua memperlakukan anak mereka. Dan memang selanjutnya ditegaskan: “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka” (Luk. 2:51). Dan Yesus tentu belajar bertukang pada Yusuf, ayah piara-Nya, demi menghidupi keluarga mereka.
Maka setelah ditempa dalam keluarga dan di tengah lingkungan masyarakat-Nya selama kurang-lebih 30 tahun, Yesus akhirnya dapat tampil dan berkarya di depan umum sebagai seorang yang utuh dan matang. Ciri serba biasa hidup tersembunyi Yesus, sebagaimana halnya setiap anak manusia lainnya, dengan sangat kuat terasa dalam kata-kata penolakan orang-orang sekampung-Nya di Nazaret, ketika Ia sudah mulai tampil di depan umum: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudaranya yang perempuan ada bersama kita?” (Mrk. 6:3). Sejak Ia mulai berkarya di depan umum mewartakan Kerajaan Allah, Yesus juga terus belajar sampai akhir hidup-Nya. Kitab Suci menegaskan: “Sekalipun  Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr. 5:8).

Kita baca dalam Injil, di tengah kesibukan-Nya yang luar biasa dalam mewartakan Kerajaan Allah, pada malam hari atau pagi-pagi buta, Yesus mengundurkan diri ke tempat sunyi di puncak bukit atau di bawah rerindang pohon-pohon Zaitun. Untuk apa? Untuk berdoa, berkomunikasi dengan Allah, Bapa-Nya, mencari dan merenungkan kehendak-Nya. Ia sendiri menegaskan: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Di taman Getsemani, menjelang Dia ditangkap, Ia mengungkapkan kepasrahan total kepada kehendak Bapa dalam bentuk doa: “Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42).

Tolok ukur satu-satunya dalam hidup dan karya Yesus ialah KEHENDAK Allah. Dan inilah yang membawa Dia berani bertindak kreatif  dan inovatif. Ia membawa pembaharuan atas peraturan Hukum Taurat yang melarang orang bekerja pada hari Sabat. Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat. Ia menegaskan: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Ia menerobos tradisi “sok saleh” kaum beragama pada zaman-Nya. Ia bergaul dan makan bersama dengan orang-orang yang dicap pendosa. Ia berkata: “Anak Manusia datang (diutus) untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Ia merombak pelbagai adat istiadat Yahudi yang bertentangan dengan perintah Allah. Ia menegaskan kepada orang Farisi dan ahli Taurat: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri” (Mrk. 7:9). Bahkan Dia memperbaharui dan menyempurnakan Hukum Taurat: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:43-44).

Tetapi Yesus tidak hanya mengajarkan sesuatu. Ia sendiri melaksanakan apa yang diajarkan-Nya. Ketika Ia digantung oleh orang-orang sebangsa-Nya di atas salib, Ia berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Kematian Yesus di salib, di samping merupakan ungkapan ketaatan total kepada kehendak Bapa, sekaligus juga merupakan ungkapan kasih tanpa batas kepada manusia. Ia sendiri telah mengatakan: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Di tempat lain Ia menegaskan: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24).

Senyatanya, penyerahan diri secara total kepada Bapa dan kasih tanpa batas kepada manusia menuntut pengorbanan dan pengingkaran diri. Itulah makna salib dalam hidup dan karya Yesus. Ia sungguh telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. Oleh sebab itu, “Yesus dapat disebut Guru dalam arti yang sepenuh-penuhnya justru karena Dia tidak berpegang teguh pada hak-hak istimewa-Nya; akan tetapi menjadi salah satu dari antara manusia yang harus belajar. Hidup-Nya menjelaskan kepada kita bahwa kita tidak memerlukan senjata, bahwa kita tidak perlu menyembunyikan diri kita, atau saling menantang untuk bersaing. Hanya orang yang tidak takut untuk memperlihatkan kelemahannya dan membiarkan dirinya disentuh oleh tangan halus Sang Guru dapat menjadi murid yang sejati” (Henri J.M. Nouwen).

Menjelang akhir hidup dan karya-Nya di depan umum, pada  Perjamuan Malam Terakhir, Yesus menegaskan kepada para rasul-Nya: “Aku telah memberi teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepada kamu” (Yoh. 13:15). Tentu teladan yang dimaksudkan-Nya tidak hanya terbatas pada apa yang Dia perbuat pada malam itu: membasuh kaki murid-murid-Nya. Teladan yang dimaksudkan-Nya menyangkut seluruh hidup dan karya-Nya, yang masih akan memuncak pada Jumat Agung di atas salib. Sesungguhnya pada pemberitahuan pertama tentang penderitaan-Nya, Ia berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Dan segera saja Dia menyambung: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Luk. 9:22-23).

Kembalilah kita sekarang ke tema: “Belajar Sepanjang Hidup”. Citra Allah, yang dirusak oleh dosa, ditebus dan dipulihkan dalam Yesus Kristus. Yesus Kristuslah Adam Baru, Manusia Baru, Citra Allah yang sempurna. Pada Dialah kita harus berguru sepanjang hidup. Dialah dasar dan sekaligus model (contoh) bagi kita dalam menjalani kehidupan dan berkarya di dunia ini. Kita harus meneladani hidup dan karya-Nya tidak hanya selama hidup di depan umum, melainkan seluruh hidup-Nya, mulai dari penjelmaan-Nya (Natal) sampai pemuliaan-Nya (misteri Paskah: sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya). Khusus untuk hidup keduniaan, kita perlu mencontoh hidup-Nya yang tersembunyi dalam keluarga dan di tengah lingkungan masyarakat-Nya. Konsili Vatikan II menegaskan: Hendaklah umat Kristiani bergembira, bahwa mereka mengikuti teladan Kristus yang hidup bertukang, dan dapat menjalankan segala kegiatan duniawi, sambil memperpadukan semua usaha manusiawi, kerumah-tanggaan, kejuruan, usaha di bidang ilmu pengetahuan maupun teknik dalam suatu sintesa yang hidup-hidup dengan nilai-nilai keagamaan, yang menjadi norma tertinggi untuk mengarahkan segala sesuatu kepada kemuliaan Allah” (GS,43).          

Dalam pernyataan itu Konsili dengan jelas mendorong orang Kristiani meneladan Yesus Kristus yang bekerja demi kesejahteraan hidup duniawi. Untuk itu tidak ada kegiatan duniawi yang baik yang dikecualikan. Orang Kristiani diajak terlibat dalam semua usaha manusiawi demi membangun hidup duniawi yang lebih sejahtera: kerumah-tanggaan, kejuruan, usaha di bidang ilmu pengetahuan maupun teknik. Tetapi semua itu harus diukur dengan norma tertinggi, berupa nilai-nilai keagamaan. Karena itu setiap usaha yang berlawanan dengan nilai-nilai keagamaan jelas terlarang, seperti memproduksi dan memperjual-belikan narkoba, korupsi, perdagangan manusia dan pelacuran, perjudian, hiburan yang tidak sehat. Adapun arah segala usaha membangun hidup duniawi yang lebih baik dan sejahtera itu, ialah “demi kemuliaan Allah, untuk mempermalukan setan dan demi kebahagiaan manusia” (AG,9; LG,17). Demikianlah, usaha Kristiani membangun hidup duniawi yang lebih baik dan sejahtera berlawanan dengan usaha membangun Menara Babel atau “surga dunia” ala Komunisme Ateistis. Orang Kristiani harus selalu awas terhadap godaan nyata ini.

Mari kita terus belajar seumur hidup pada Sang Guru sejati kita, Yesus Kristus, Manusia Baru, Citra Allah yang sempurna.
Selamat menjalani Masa Praspaskah!
 
              Makassar, Medio Februari 2014


             + John Liku-Ada’
         Uskup Agung Makassar  

PERATURAN PUASA DAN PANTANG:

1. Masa Prapaskah mulai pada HARI RABU ABU tanggal 5 Maret 2014 dan berjalan sampai Pesta Paskah tanggal 20 April 2014.

2. Seluruh Masa Prapaskah adalah waktu bertapa. Karena itu diharapkan dari masing-masing agar selama Masa Prapaskah dengan kesadaran dan kerelaan melakukan pekerjaan amal dan tapa menurut pilihan masing-masing, selain yang diwajibkan di bawah ini.

3. Secara khusus diminta perhatian untuk AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP), yang dimaksudkan mengumpulkan dana, yang diperoleh dari usaha-usaha penghematan / berpantang. Dana itu diperuntukkan karya-karya sosial, termasuk usaha-usaha pengembangan Komunitas Basis dan pemberdayaan lingkungan. Sungguh menggembirakan melihat animo umat untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan APP semakin meningkat. Tahun 2012 dana hasil APP di Keuskupan kita naik 34% dibanding dengan tahun sebelumnya! Tetapi tahun 2013 meningkat hanya 5%. Sambil mengucapkan terima kasih atas semua itu, kita berharap APP tahun ini akan meningkat lebih baik lagi.

4. Di samping itu selama Masa Prapaskah kita wajib berpuasa dan berpantang menurut peraturan berikut:
a. Pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung ada kewajiban berpuasa dan berpantang.
b. Pada hari-hari Jumat Biasa dalam Masa Prapaskah hanya ada kewajiban berpantang.
c. Berpuasa berarti mengurangi makan, sehingga hanya satu kali saja boleh makan kenyang dalam sehari.
Kewajiban untuk berpuasa ini berlaku bagi mereka yang berumur antara 18 sampai 60 tahun.
d. Berpantang berarti mengurangi makanan mewah sesuai dengan penilaian daerah masing-masing, misalnya berpantang dari daging.
Secara perorangan dapat pula menentukan wujud berpantang menurut keadaan masing-masing, misalnya berpantang dari berjajan makanan khusus, dari minuman keras, dari rokok, dll.
Kewajiban berpantang berlaku bagi mereka yang berusia 14 tahun ke atas.

5. Mereka yang mendapat makanan dari dapur umum, atau yang hidup di tengah keluarga yang seluruhnya belum Katolik, bebas dari wajib pantang, tetapi tidak bebas dari wajib puasa.

6. Kewajiban Paskah, yaitu kewajiban untuk menyambut komuni (dan kalau perlu sebelumnya mengaku dosa) dapat dipenuhi dari Hari Rabu Abu tanggal 5 Maret 2014 sampai Hari Raya Tritunggal Mahakudus, 15 Juni 2014.

†††††††