Sabtu, 28 Desember 2013

Kronik KAMS September - November 2013

1 Sept.
Di Paroki Mamajang, 77 anak menerima Sakramen Krisma dari tangan Bp. Uskup dalam Perayaan Ekaristi. Banyak umat turut menyaksikan peristiwa ini. Proficiat kepada anak-anak tsb, kepada orang-tua, Pastor dan Pembimbing. Semoga anak-anak ini senantiasa dikuatkan oleh Roh Kudus dalam perjalanan hidup mereka.
Sementara ini, di Paroki Ratu Rosari, Kare, Pastor Lammarudut Sihombing, CICM, yang baru saja ditahbiskan imam di Jakarta, kembali ke Kare untuk ucapan Misa Syukur di tengah-tengah umat pada pukul 08:00 wita. Beliau didampingi oleh pastor Paroki, Pastor Stefanus Tarigan, CICM, P. Ritan, CICM, pastor paroki Tello-Antang, dan Pastor bantu Kare, P. Juvens Jemadi CICM. Turut hadir mengumat adalah P. Vikjen P. Ernesto Amigleo CICM. Misa ini dihadiri kurang lebih 1000 umat di Gereja baru yang indah dan luas. Sesudah Misa, diadakan resepsi sederhana di basement gedung gereja. Bp. Uskup hadir mewakili seluruh Keuskupan.
Di Paroki Sto. Yakobus, P. Bastian Adhi Dwiyanto Sa’pang, MSC, yang baru ditahbiskan, merayakan Misa Syukur di tengah-tengah umat di parokinya. Banyak umat mengikuti Misa Syukur.
Di Sang Tunas, diadakan Penerimaan Calon CICM bagi 16 anak muda dari pelbagai daerah di Indonesia. Upacara ini diawali dengan Perayaan Misa dan disertai dengan upacara penerimaan. Pater Rektor, P. Lasbert Simaga, CICM, memimpin Misa didampingi P. Ritan. Turut hadir adalah P. Ignatius Sudaryanto, CICM, P. Stefanus Tarigan, P. Lammarudut Sihombing, CICM, dan  P. Ernesto Amigleo CICM, dan Frater Mervin. Para dosen, dan wakil-wakil dari beberapa rukun di sekitar Sang Tunas ikut menghadiri upacara ini. Kepada ke-16 Frater ini, kami ucapkan Selamat Berbahagia dan semoga cepat betah di Sang Tunas dalam mengikuti proses pembinaan. 

3 Sept.
Rombongan dari Pater Noldus Aktion (PNA) dari German tiba di Makassar dalam rangka pemberkatan Rumah Kolping di Paroki Sta. Maria, Sudiang. Selamat datang ke Makassar!


7 Sept.
Di kampus Universitas Atma Jaya-Makassar berlangsung Misa Penerimaan Mahasiswa Baru. Ada kurang lebih 450 mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2013-2014. Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Kampus, Pastor Ignas Sudaryanto CICM, dihadiri oleh Rektor bersama staf, para dosen dan karyawan dan mahasiswa baru.

8 Sept.
Di Paroki Sudiang, Bpk. Uskup memberkati Rumah Kolping yang dibangun di kompleks Gereja yang sementara dibangun. Pemberkatan ini disaksikan oleh rombongan dari Jerman, Pastor Paroki P. John Turing bersama dewan pastoral  dan umat. Nama Kolping diambil dari nama Pater Kolping, seorang imam Jerman, yang ketika masih hidup, suka membantu orang-orang miskin, khususnya kaum wanita, dengan memberi keterampilan-keterampilan kepada mereka seperti kursus menjahit, kursus masak, dll. Tujuannya supaya mereka membantu diri sendiri.   

9 Sept.
Setelah berbulan-bulan mengadakan kegiatan-kegiatan seperti seminar-seminar dan pertandingan sepak bola, dalam rangka Pesta Pelindung Seminari Sto. Petrus Claver dan HUTnya yang ke-60, tibalah hari ini puncaknya untuk merayakannya dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Asisten Sekretaris KAMS, P. Marsel Lolo Tandung, didampingi oleh  Rektor bersama seluruh staf imam SPC di Gereja Mariso, dan pastor-pastor lainnya pada jam 4:30 sore. Dalam kotbahnya P. Marsel mengatakan bahwa SPC sudah menghasilkan banyak buah – yakni 2 Uskup, para pastor, baik projo maupun religius dan misionaris, seperti CICM, MSC, MSF, SX, SJ, dll. Jumlah imam projo dewasa ini adalah 96. Perayaan Ekaristi ini dihadiri para seminaris, Vikjen KAMS, para pastor lainnya, Suster, Frater,   dan undangan. Sesudah Ekaristi dilanjutkan dengan ramah tamah dan Malam Seni di lapangan Seminari. Selamat HUT yang ke-60! Semoga Panjang Umur! Semoga SPC jaya terus!
Pagi hari ini Bp. Uskup berangkat ke Pulau Dewata, Bali, untuk mengikuti retret para Uskup se-Indonesia yang akan dipimpin oleh seorang Pastor Pengkotbah Rumah Tangga ke-Pausan dari Vatikan, Pastor Raniero Cantalamessa, OFM.Cap. mulai sore hari ini. Selamat ber-retret!

12 Sept.
Kami baru terima berita duka bahwa ibunda P. Samson Bureny telah meninggal dunia hari ini. Kami secara mendalam turut berduka atas peristiwa yang menyedihkan ini dan berdoa semoga Tuhan menyambut arwahnya dengan damai dan sukacita. RIP.
Panitia Konvensi Nasional Choice menyelenggarakan 3 hari Konvensi di Baruga Kare dan dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin P. Stefanus Chandra, koordinator Choice Makassar sebagai tuan rumah bersama dua pastor tamu di Gereja Kristus Raja, Andalas, pada pukul 17.00 wita. Para peserta termasuk pastor-pastor moderator Choice yang berasal dari pelbagai keuskupan di Indonesia dan wakil-wakil dari Keuskupan Singapura dan Keuskupan Malaysia menghadiri Konvensi tsb. Para tamu menginap di Hotel Graha, sedangkan para peserta dari Makassar menginap di Baruga Kare.

14 Sept.
Bagian dari kegiatan Konvensi National Choice adalah Malam Seni di Rumah Makan Istana Laut. Sambil makan ikan bakar, tari-tarian dari pelbagai daerah dan lagu-lagu daerah menjadi perhatian para peserta.

15 Sept.
Di Paroki Mamajang,  imam baru, Pastor P. Bastian Adhi Dwiyanto Sa’pang, MSC, merayakan Misa Perdananya bersama umat dari paroki Sta. Maria Diangkat ke Surga. Misa konselebrasi dipimpin oleh Pastor Bastian dan didampingi Wakil Provinsial MSC, Superior Regional MSC di Sulawesi, P. Paroki Mamajang. Sesudah Misa, dilangsungkan dengan ramah-tamah di pastoran. Proficiat, P. Bastian!
Sore hari setelah mengikuti retret para Uskup seIndonesia di Pulau Dewata, Bali, Bp. Uskup tiba di Makassar. Selamat kunci retret! Proficiat Monsignor!

16 Sept.
Di Jakarta, Lumen Indonesia 2000 menyelenggerakan 5 hari Retret para Imam se-Indonesia yang dipimpin Pastor Raniero Cantalamessa, OFM.Cap. dan berlangsung di Puncak, daerah dingin dan sejuk. Dari KAMS, ada kurang lebih 20 imam yang ikut serta.
Di Makassar, Akademi Keperawatan Fatima Pare-Pare menyelenggarakan Wisuda X di Sahid Hotel Makassar pukul 09.00 wita. Sejumlah wisudawan memenuhi aula dan dihadiri orangtua para wisudawan/wati, Direktur AKPER Fatima Pare-Pare, Yenny Djeny Randa dan seluruh Stafnya, para dosen dan karyawan, serta Yayasan Sentosa Ibu. Para pembawa kata sambutan adalah Ketua YSI, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sul-Sel, dan Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi. Kepada para wisudawan/wati, orang-tua dan seluruh Staf AKPER¸ kami mengucap Proficiat dan Selamat Berbahagia!
Di sore hari, diselenggarakan Misa Syukur oleh Societas JMJ  atas 50  dan 25 Tahun Hidup Membiara di Kapel Stella Maris. Dalam Syukuran ini, Pastor Marsel Rarun, MSC,  pastor RS Stella Maris, diikutkan atas 50 Tahun Hidup Membiaranya. Sr. Josephinia Tandayu, JMJ, merayakan 50 Tahun Hidup Membiara, sedangkan Sr. Theresiani Ngala, Sr. Marcelina Aliks, dan Sr. Bernadeth 25 Tahun Hidup Membiara. Bp. Uskup memimpin Misa Syukur dan P. Marcel, Pastor Paulus Tongli, P. Sani, Wakil Provinsial MSC, Superior Regional MSC di Sulawesi, dan keponakan dari Sr. Josephinia,  mendampingi. Banyak tamu turut hadir seperti Sr. Fabiola, JMJ, anggota Pimpinan Umun di Belanda, Provinsial dan Dewan Provinsi Makassar, para pastor MSC dari Manado dan Jakarta dan Makassar,  para pastor CICM, imam, Frater, Suster, orang tua dari yubilaris, umat dan undangan. Sebelum Misa ditutup, ada kata-kata sambutan dari wakil yubilaris, dari Wakil Provinsial MSC dan Pimpinan Umum. Setelah Misa Syukur, dilanjutkan dengan ramah-tamah di Biara Stella Maris. Koor dari Asrama AKPER dan STIKes Stella Maris menambah semangat dan warna khusus dalam Perayaan Ekaristi.   Proficiat dan Semoga Tuhan senantiasa memberkati dan menyertai para yubilaris ini.

18 Sept.
Hari ini adalah Hari PILKADA di kota Makassar. Karena libur, ratusan ribu warga kota memakai haknya sebagai warga untuk memilih  walikota dan wakil walikota baru untuk masa bakti 2014 – 2019, menggantikan yang lama. Ada 10 pasangan calon walikota dan wakil walikota yang bertarung. Siapa yang akan menang?  Tunggu hasil penghitungan.

19 Sept.
Hasil PILKADA Makassar menurut Quick Count: Pasangan Danny Pomanto-Deng Ical dari Partai Demokrat menang satu putaran saja pilkada walikota dan wakil walikota Makassar dengan meraih 31,31% menurut Quick Count. Menurut peraturan, karena ada 10 pasangan yang bertarung, siapa saja yang meraih paling banyak 30% + 1 menang. Dipastikan bahwa pasangan tsb. menang Pilkada 2013 Makassar.
Pagi-pagi Bp. Uskup berangkat ke Jakarta untuk tugas KWI.

20 – 22 Sept.
Badan Pelayanan Karismatik Katolik (BPKK)   KAMS, bersama Vikep Makassar, menyelenggarakan 3 hari Seminar Evangelisasi untuk Kevikepan Makassar sebagai tindak lanjut dari hasil Sinode 2012 yang lalu. Kegiatan ini diadakan di aula Keuskupan. Para nara sumbernya dari BPKN Jakarta.

21 Sept.
Berita Duka: Frater Amandus Sumule (68 tahun), HHK, salah seorang Frater senior dalam Tarekat, kena serangan jantung dan meninggal dunia. Kami turut berduka dengan keluarga almarhum dan Tarekat HHK. Jenasahnya disemayamkan di kapel Taman Tunas, HHK, di Jl. Jongaya, Makassar. RIP.

23 Sept.
Hari ini diadakan Misa Requiem yang dipimpin Bp. Uskup untuk almarhum Frater Amandus, HHK, di kapel Taman Tunas. Sesudah Misa dan kata-kata sambutan, jenasah dibawa ke Taman Kenangan Para Rohaniwan/wati KAMS di Pakatto, Gowa untuk dimakamkan. Setelah sekian tahun mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan dan sesama lewat Tarekat HHK, semoga arwah dari Frater disambut dengan gembira oleh Bapa di surga. RIP.

26 Sept.
Bp. Uskup berangkat ke Toraja untuk memberi ceramah di salah satu Seminar di Rantepao.
Ketua Komisi Keluarga, P. Ignas Sudaryanto, CICM, berangkat ke Jakarta untuk menghadiri Rapat Komisi Keluarga tingkat KWI.

28 Sept.
Hari ini Sr. Ines, JMJ, merayakan ulang tahunnya yang ke-78. Karena Sr. Ines tidak mau dirayakan ulang tahunnya secara besar-besaran, maka diadakan makan bersama saja di wisma Uskup. Karena Bp. Uskup berhalangan maka hanya Vikjen, Sekretaris KAMS dan Ekonom KAMS dan P. Victor Patabang, beberapa ibu teman Sr. Ines, dan para karyawan KAMS hadir. Bpk. Vikjen memberi kata sambutan atas nama Bp. Uskup, mengucapkan Selamat kepada Sr. Ines dan sekaligus ucapan terima kasih yang berlimpah atas pengabdian Sr. Ines di Wisma Keuskupan selama kurang lebih 7 tahun. Sebagai  tanda terima kasih dan penghargaan, Sr. Ines mendapat Sertifikat Berkat dari Sri Paus Fransiskus yang dibawakan P. Frans Nipa dari Roma. 

30 Sept
Panitia On-Going Formation KAMS menyelenggarakan 5 hari retret para imam se-KAMS mulai hari ini di  Panti Samadi JMJ di Malino. Romo Martasudjita, Pr dari KAS memimpin retret ini. Ada 38 pastor mengikuti retret tahunan ini. Selamat beretret para rekan!

1 Okt.  Pembukaan Bulan Rosario.  Satu bulan Gereja mengingatkan umatnya akan peran Bunda Maria dan Rosario akan kehidupan beriman. Di masing-masing paroki, umat berkumpul untuk perayaan Ekaristi dan Rosario.

4 Okt.
Pada Pesta Sto. Fransiskus Assisi ini, Retret para Imam se-Kams dikunci dan  habis makan siang semua peserta turun dari gunung untuk melanjutkan karya mereka sehari-hari. Kami ucapkan Selamat Berbahagia dan Proficiat kepada pembimbing retret dan para peserta retret.

6 Okt.
Di Paroki Gotong-Gotong, Bp. Uskup memimpin Misa Konselebrasi dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja. Ikut mendampingi Bp. Uskup adalah P. Hendrik Njiolah dan P. Valens.  Gereja tua sudah dibongkar, tidak ada satu tiang pun yang berdiri, menunjukkan sudah siap untuk mulai membangun gedung gereja yang baru.
Sedangkan di Paroki Kare, dalam rangka pesta pelindung Paroki besok yakni, Pesta Bunda Maria Ratu Rosari, diadakan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Paroki,  Pastor Stef Tarigan CICM, didampingi oleh P. Ritan CICM, P. Juvens Jemandi, CICM, P. FX Daru Pancoro, Vikjen P. Ernesto Amigleo, CICM, formator P. Lasber Sinaga, CICM, dan ketiga Frater yakni Fr. Wishnu, Fr. Mervin dan Fr. John Mark. P. Ritan memberi kotbah yang berkisar pada peran Bunda Maria dan makna doa rosario dalam hidup umat. Menjelang penutupan, Vikjen diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat kepada seluruh umat dan sekaligus menghimbau untuk, seperti para rasul,  memohon Tuhan  supaya “menambahkan iman” (sesuai tema Injil hari ini) kita  sama seperti iman Bunda Maria yang teguh biarpun dilanda bermacam-macam  cobaan dalam hidupnya bersama Yesus.  
Di Paroki Sto. Fransiskus Assisi,  Pastor Paroki, Pastor Agus Tikupasang  bersama umat  merayakan pesta pelindung  paroki dengan Perayaan Ekaristi yang dihadiri banyak umat. Pada kesempatan itu, Pastor Paroki memperkenalkan Pastor Bantunya, yaitu P. Matius Patton, kepada umat. Seluruh umat di rukun-rukun datang dengan bekal mereka masing-masing dan sesudah Misa membagi-bagikan makanan itu kepada saudara-saudari yang lain dalam semangat Sto. Fransiskus. Selamat berbahagia dan semoga Sto. Fransiskus tetap menjadi inspirasi bagi umat di paroki.

8 Okt.
Dewan Direksi Kantor Keuskupan yang terdiri dari Vikjen, Sekretaris dan Ekonom, mengadakan rapat rutin untuk membicarakan beberapa hal menyangkut keadaan di kantor Keuskupan.
Panitia Gerakan Seribu mengadakan rapat di ruang Keuskupan bersama Bp. Uskup untuk menindak lanjuti hasil Sinode 2012 yang lalu. Gerakan ini hendak dilaksanakan di seluruh paroki oleh seluruh umat di Keuskupan ini.
Para Pastor MSC berkumpul di Saluampak untuk rapat antar mereka. Selamat ber-rapat!

11  Okt.
Komisi Keluarga KAMS yang dipimpin P. Ignatius Sudaryanto CICM bersama timnya berangkat ke Saluampak untuk mengadakan 3 hari Seminar tentang Keluarga. 
Kevikepan Makassar menyelenggarakan rapat antara para pastor paroki di pastoran Mariso.

11 – 12 Okt.
Ketiga Organ Yayasan Sentosa Ibu  mengadakan rapat evaluasi terhadap RS Fatima Pare-Pare dan Akademi Keperawatan Pare-Pare.

15 Okt.
Pada Pesta Sta. Teresa dari Avila, Gereja Katolik Indonesia mengadakan 3- hari Acara Nasional untuk memperingati 50 Tahun Dokumen Konstitusi Liturgi yang dimaklumkan para Uskup yang berkumpul dalam Konsili Vatikan II 1963 – 1965 yang lalu. Untuk Acara Nasional ini Keuskupan Agung Makassar dapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah. Panitia yang terdiri dari Komisi Liturgi KWI, dan Komisi Liturgi KAMS sesudah beberapa kali pertemuan telah berhasil menyusun acara-acara untuk 3 hari ini.
Pada jam 13.00 wita Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, dan DirJen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, tiba di bandara udara Makassar di mana Bp. Uskup bersama Sekretaris KAMS dan Panitia menjemput mereka. Dari bandara udara rombongan langsung ke Wisma Uskup di mana tersedia makan siang bersama Bp. Uskup sebagai tuan rumah, VikJen, Sekretaris, Ekonom, P. John Gratias, dan Ibu Lily dari Jakarta sebagai Ketua Panitia.
Pukul 17.00 wita, acara akbar ini dimulai dengan Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral.  Perayaan Ekaristi ini dipimpin Duta Besar Vatikan sebagai selebran utama dan didampingi Mgr. John Liku –Ada’, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF, Ketua Komisi Liturgi KWI, dan  Mgr. Piet Timang dari Keuskupan Banjarmasin, dan puluhan pastor dari pelbagai keuskupan di Indonesia. Kurang lebih 400 peserta, kebanyakan dari KAMS, turut hadir. Sesudah Misa semua peserta berjalan ke Hotel Aston untuk memulai acara pembukaan yang terdiri dari kata-kata sambutan dan diakhiri dengan makan malam.

16 Okt.
Sesudah Ibadat Pagi dan Misa di Katedral dan sarapan pagi di Hotel, para peserta ikut ceramah di aula. Topik I tentang 50 Tahun Sacrosanctum Concilium dibawakan RD. Dr. Petrus Bine Saramae; Topik II tentang Instruksi-Instruksi Pelaksanaan Sacrosanctum Concilium oleh RP. Bosco da Cunha O. Carm, dan Topik III tentang Kenyataan Pelaksanaan Konstitusi Liturgi di Indonesia dibawakan oleh RD. Dr. Emanuel Martasudjita. Di siang hari hingga sore para peserta dibagi per kelompok untuk mendengarkan pembahasan dari pelbagai topik disertai dengan tanya-jawab. Jam 18.00 wita diadakan Vesper Mulia yang dipimpin Mgr. Piet Timang di Katedral. Sesudahnya makan malam di hotel.

17 Okt.
Dari jam 8-10 pagi diadakan Kesimpulan dan Rekomendasi. Sesudahnya para peserta ke katedral untuk mengikuti Misa Penutup yang dipimpin Mgr. John Liku-Ada’ dan didampingi  Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF, dan tiga pastor. Kemudian mereka kembali ke hotel untuk makan siang dan bubar.
Kepada seluruh Panitia baik Pengarah maupun Pelaksana kami mengucapkan Selamat Bahagia dan Terima kasih atas terselenggaranya Pesta Emas Konstitusi Liturgi di Keuskupan Agung Makassar.

18 Okt
Kami dikejutkan dengan berita duka bahwa Pastor Matius Patton (38 tahun), pastor bantu Paroki St. Fransiskus Assisi, ditemukan meninggal di kamarnya tadi pagi. Almarhum baru saja diangkat sebagai pastor bantu di Assisi.
Mendengar kabar yang menyedihkan itu, Bp. Uskup segera memanggil rapat Kuria bersama Vikep Makassar di ruang rapat Uskup untuk membahas langkah-langkah yang harus ditempuh sehubungan dengan peristiwa ini. Jenasah almarhum disemayamkan hari ini di Gereja Assisi dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Vikep Makassar dan didampingi Pastor Paroki Assisi, Vikep Toraja dan kurang lebih 20 imam. Sesudahnya jenasah dibawa ke aula Keuskupan. Pastor Patton, kamu terlalu mudah untuk pergi. Akan tetapi demikianlah rencana Tuhan. Dan rencana Tuhan itu selalu indah. Semoga kamu berbahagia bersama Bapa di surga. RIP.

19 Okt.
Sekretaris KAMS, P. Frans Nipa, bersama beberapa pastor, berangkat ke Banjarmasin untuk mewakili KAMS dalam Perayaan Jubileum 75 Tahun Keuskupan Banjarmasin yang akan berlangsung hari ini hingga besok. 

26 -27 Okt
Seperti setiap tahun, sudah menjadi tradisi bagi Paroki Mamasa, Sulbar, untuk mengadakan Ziarah ke Pena. Mgr. John Liku-Ada’ memimpin seluruh umat dalam ziarah tsb. Pada tgl. 26 Okt. diadakan Jalan Salib dan Doa Rosario. Besok harinya, acara puncak dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Monsignor dan didampingi beberapa pastor, khususnya Pastor Paroki P. Vius dan para pastor di Sulbar. Ratusan umat dari pelbagai daerah dan paroki mengikuti ziarah tahunan ini. Kepada P. Vius dan Panitia, kami ucapkan "Selamat” dan “Proficiat.”

29 Okt.
Setelah menjalani cuti 3 bulan di Belanda, dan mengikuti retret CICM, P. Jos van Rooy tiba dengan selamat di Makassar, bersama VikJen dan 2 Frater CICM.

31 Okt.
Dewan Direksi Kantor KAMS berkumpul rapat untuk membicarakan beberapa hal seperti personalia.
Kami dapat berita yang mengejutkan bahwa P. Markus Paretta di Mangkutana, jatuh dari sepeda motornya dan menderita pendarahan otak dan patah tulang rusuk dan bahunya. Beliau dilarikan oleh umat dan keluarganya ke RS Stella Maris, Makassar, di mana beliau dirawat di ICU, bersama P. Isidorus yang juga menderita sakit. Kami berdoa semoga mereka cepat sembuh supaya dapat melayani umat dengan seluruh kekuatan mereka.

1 Nov.
Ketiga Komisi Keluarga dari ketiga provinsi gerejani, Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Ambon dan Keuskupan Manado (MAM), menyelenggarakan 3 hari Rapat Kerja bagi 37 peserta, wakil-wakil dari ketiga keuskupan tsb. di Baruga Kare. Hari pertama dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin ketua Komisi Keluarga Keuskupan Ambon sedangkan pada hari kedua oleh ketua  Komisi Keluarga Keuskupan Manado dan pada hari ketiga rapat kerja ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin ketua Komisi Keluarga KAMS. Bahan-bahan yang dibahas selama raker: pendampingan keluarga, sosialisasi Pedoman Keluarga – KWI, evaluasi program kerja masing-masing Keuskupan 2013, dan penyusunan program kerja masing-masing keuskupan untuk 2014.
Para Suster dari Putri-Putri Karmel, Malang, menyelenggaran tiga hari retret bagi umat di Panti Samadi, Malino. Banyak umat ikut retret tsb.
Setelah kurang lebih dua tahun menderita stroke dan komplikasi lainnya, masuk keluar rumah sakit, pada Hari Raya Pesta Semua Orang Kudus ini, Pastor Isidorus Rumpu Kaniu (75 thn) dari Wale-Ale, Muna, menghembuskan nafas yang terakhir pada pukul 11:45 wita di RS Stella Maris. Jenasahnya disemayamkan untuk sementara di Seminari Petrus Claver di mana almarhum pernah bertugas. Diadakan Misa Requiem yang dipimpin Pater Rektor SPC dan didampingi beberapa Staf Seminari P. Willem Tee, P. Richard, P. Herman, P. Gratias, dan pastor RS Stella Maris, P. Marcel Rarun, MSC dan Sekretaris KAMS, P. Frans Nipa, dan dihadiri umat termasuk keluarga almarhum, Vikjen KAMS, para Suster, dan seminaris. Sesudah Misa, jenasahnya dibawa ke aula Keuskupan untuk disemayamkan beberapa hari. Di aula Keuskupan, jenasahnya disambut Bp. Uskup dan beberapa pastor, Suster, Frater dan umat. P. Isidorus, pada Hari Raya Pesta Orang Kudus ini, Tuhan memanggil engkau untuk bersamaNya dan semua orang kudus di surga. RIP.

Nov. 2
Hari Para Arwah. Di aula Keuskupan diadakan tirakatan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor  Marcel Rarun, teman kelasnya di Pineleng pada tahun 60’an.

Nov. 3
Di aula Keuskupan diadakan tirakatan hari ketiga dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh keponakan P. Isidorus, Pastor Lasadi, MSF.

Nov. 4
Pukul 7:30 wita, diadakan Pelepasan jenasah P. Isidorus dari aula Keuskupan dan sesudahnya jenasah dibawa langsung ke Taman Kenangan Rohaniwan/wati KAMS di Pakatto. Banyak umat mengikuti perarakan dari Makassar ke Pakatto. Pukul 10:00 wita diselenggarakan Misa Requiem untuk P. Isidorus dan untuk semua orang beriman. Misa dipimpin Bp. Uskup dan didampingi oleh para Vikep Sultra, Luwu, Sulbar dan keponakan P. Isidorus, P. Linus Oge dan kurang lebih 50 imam se-KAMS. Dalam homilinya, Bp. Uskup menyinggung beberapa hal penting dalam riwayat hidup P. Isidorus, seperti sebagai pastor militer dari tahun 1973-1981. Digambarkannya Pastor Isidorus sebagai orang yang disiplin tinggi ( memang dengan latar belakang militer), tegas dan keras, orangnya sederhana dan pendiam, selalu melayani kebutuhan rohani umat sebagai pastor paroki di mana saja almarhum ditugaskan, seperti di Paroki Sangala’. Sebelum pemberkatan penutup kata-kata sambutan menyusul: pertama dari P. Linus Oge, kemudian dari wakil Kodam Wirabuana, dan terakhir ucapan terima kasih dari Mgr. John Liku-Ada’. Sesudahnya berkat penutup dan upacara pemakaman jenasah.  Sebelum peti diangkat dan dipindahkan ke liang kubur, seluruh umat, termasuk keluarga almarhum, diberi kesempatan untuk memberi penghormatan terakhir, diawali oleh Bp. Uskup, P. Vikjen, para pastor, Suster, Frater, seminaris SPC, rombongan dari Kodam Wirabuana, dan umat lainnya. P. Isidorus, selamat jalan. Doakan kami.
Di Parepare, Sr. dr. Gemma Illegem BKK jatuh sakit dan mengalami koma. Sr. dilarikan ke RS Stella Maris.

5  Nov.
Bp. Uskup berangkat ke Jakarta untuk menghadiri Rapat Semester KWI yang telah berlangsung kemarin.
Tim Dewan Keuangan KAMS, terdiri dari Ekonom, Bpk. Kunradus Kampo, Bpk. Marsel Asri, dan Ibu Mieke Tongli,  menyelenggarakan 2 hari  Sosialisasi dan Latihan Pembukuan Keuangan bagi pemimpin umat di semua paroki di Kevikepan Makassar di aula Keuskupan. Banyak peserta datang. Hal ini adalah satu langkah untuk penertiban keuangan di paroki. Minggu depan tim tsb. akan ke Kevikepan Toraja untuk hal yang sama dan juga di kevikepan-kevikpan lainnya.

6 Nov.
Hari ini adalah HUT Serikat Kepausan Anak-Anak Misioner (SEKAMI) Se-dunia yang ke-170. Untuk memperingati dan merayakannya di Keuskupan Agung Makassar, P. Victor Pattinggi, selaku Ketua Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI), bersama tim dan pendamping Sekami di Kevikepan Makassar, menyelenggarakan Pentas Seni Budaya di Balai Manunggal, Makassar, pukul 17:00 hingga 19:30. Hadir dalam acara tsb. adalah Vikjen KAMS, beberapa pastor, Frater, Suster dan kurang lebih 3 ribu anak-anak dan orang dewasa dari pelbagai paroki di Kevikepan Makassar. Acara dimulai dengan doa, kemudian kata-kata sambutan dari Ketua Panitia, Maria Donata Irjan;  Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia KAMS, P. Victor Wiro Patinggi; ketua Tim Pelayanan Sekami seKevikepan Makassar, Bpk. Alfons; dan Vikjen KAMS, P. Ernesto Amigleo, CICM. Inti acara adalah Teater tentang sejarah Sekami, khususnya pendiri yang adalah Mgr. Charles de Forbin-Janson, seorang misionaris dari Perancis. Sejarah tsb.  dilakonkan oleh anak-anak Sekami sendiri dari pelbagai paroki seKevikepan dan mereka melakukannya dengan baik sekali dan penuh semangat. Kepada seluruh Panitia Pentas Seni Sekami, 2013 kepada para orang-tua, donatur dan pemerhati, kami mengucap Selamat dan Terima kasih. 

8 Nov.
Sr. dr. Gemma Illegem (70), BKK menghembuskan nafas yang terakhir  pada siang hari di RS Stella Maris. Untuk sementara jenasahnya disemayamkan di Rumah Duka Stella Maris dan pada malam hari dibawa ke Parepare, di mana Sr. Gemma mengabdikan dirinya cukup lama sebagai Suster dan dokter di tengah-tengah masyarakat Parepare dan sekitarnya, termasuk orang-orang kusta.  Suster, kami berdoa semoga Tuhan menyambutmu dengan penuh sukacita ke dalam KerajaanNya di surga di mana tidak ada penderitaan lagi. RIP.

10 Nov.
Di Parepare, pukul 8:00 wita habis Misa Requiem di Gereja yang dipimpin Pastor Paroki, jenasah alm. Sr. Gemma diberangkatkan ke Taman Kenangan Rohaniwan/wati Keuskupan Agung Makassar di Pakatto, Gowa. Jenasah bersama rombongan dari Parepare, yang diketuai Pastor Paroki dan seluruh komunitas BKK yang dipimpin Sr. Agustine Miyatun, BKK, provinsial, keluarga almarhumah, dan sejumlah umat dan masyarakat Parepare tiba di Pakatto pukul 13:00 wita dan disambut VikJen KAMS, P. Ernesto Amigleo CICM, Sekretaris KAMS, P. Frans Nipa, P. Stefanus Tarigan CICM, dan sejumlah umat termasuk beberapa pastor dan Suster JMJ, 3 Organ Yayasan Sentosa Ibu yang diketuai dr. Robby Lianury, Direksi RS Fatima Parepare dan Direksi AKPER Fatima Parepare. Setelah tiba, langsung upacara pemakaman diadakan yang didahului kata-kata sambutan oleh Direktur RS Fatima Parepare, drg. Merly Gosal, pihak keluarga almarhumah, Sr. Leny BKK, dan Vikjen KAMS P. Ernesto Amigleo CICM yang atas nama Keuskupan menyampaikan rasa belasungkawa dan terima kasih kepada Sr. Gemma yang melayani dan mengabdikan dirinya kurang lebih 20 tahun di RS Fatima Parepare dan masyarakat khususnya yang miskin papa, lansia dan orang-orang cacat seperti orang-orang kusta.  Terima kasih Sr. dr. Gemma atas segala pelayanan dan pengorbananmu untuk orang-orang kecil! Setelah kata-kata sambutan, ibadat singkat yang dipimpin P. Stephanus Tarigan CICM berlangsung dan sesudahnya ditaburkan bunga dan tanah. Sr. Gemma, semoga Tuhan menerima Suster di sisi Bapa kita di surga. RIP.

15 Nov.
Rombongan CICM dari Jakarta dan Banjarmasin mulai berdatangan dalam rangka Peresmian dan Pemberkatan Gedung Gereja Maria Ratu Rosari di Kare. Mereka adalah: P. Clem Schreurs, P. Rob Suykens, P. Lamma Sihombing dan P. Benny Claudius dari Jakarta, sedangkan dari Banjarmasin: P. Frans Liman, P. Marsel Manggau dan Frater John Mark. Selamat datang!

17 Nov.
Hari ini seluruh umat paroki Maria Reina Rosari, Kare, mengadakan sebuah pesta besar berupa syukuran kepada Tuhan yang telah berkenan membantu umatNya membangun sebuah gedung gereja yang memadai untuk berdoa, berteduh dan menambah iman mereka. Impian umat Kare sejak 1970 untuk memiliki sebuah gedung gereja yang layak, akhirnya menjadi kenyataan hari ini.
Acara yang seharusnya dimulai pukul 8:30 wita menurut undangan, namun karena perlu menunggu Bapak Walikota, maka acara baru bisa mulai pada pukul 9:30  wita.  Acara dimulai dengan Peresmian Gedung Gereja oleh Walikota Makassar disertai dengan Walikota Terpilih. Pemotongan pita di depan ketiga pintu gereja  dibuat oleh Bpk. Walikota, Bpk. Walikota Terpilih dan Bp. Uskup Agung Makassar. Sesudahnya rombongan masuk gedung gereja di mana umat sudah berkumpul. Kemudian Bpk. Walikota memberi kata sambutan di mana dia katakan sangat prihatin ketika dia berkunjung di Kare pada sebuah hari Minggu 5 tahun yang lalu, melihat umat beribadat di bawah tenda darurat. Beliau mengatakan sebagai walikota memang dia mau memberi perhatian pada sarana-sarana rumah ibadat masyarakat di kota. Pada tahun 2008, ketika dihubungi Panitia Pembangunan Gedung Gereja Kare, yang didampingi oleh P. Paroki, P. Stef Tarigan CICM, Bpk. Walikota langsung memberi IMB, setelah Panitia memenuhi segala persyaratan. Sejak itu, Panitia mulai bekerja keras mencari dana. Walikota juga tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada umat atas kemenangannya dalam Pilkada Walikota Makassar beberapa waktu yang lalu.  Walikota Terpilih dalam nada yang sama, mengucapkan selamat kepada umat Kare dan sekaligus menyampaikan terima kasih atas kemenangannya sebagai Walikota Terpilih 2014–2019. Kemudian Bp. Uskup memberi juga kata sambutan di mana beliau berterima kasih kepada Bpk. Walikota karena tanpa IMB dari beliau, gedung gereja ini tidak mungkin berdiri seperti sekarang. Sesudah kata-kata sambutan,  Bp. Uskup dan Bp. Walikota menandatangani prasasti. Kemudian para tamu dipersilahkan  untuk meninjau gedung gereja dan kompleksnya. Setelah itu Bpk. Walikota dan rombongan meninggalkan tempat.
Acara peresmian dilanjutkan pada pukul 11:15 wita dengan Perayaan Ekaristi meriah yang dipimpin Bp. Uskup dan didampingi 19 orang pastor, 14 orang di antaranya adalah imam CICM. Pastor Bantu Kare, P. Juvens CICM, sibuk mengatur acara liturgi. Dalam kotbah Bp. Uskup, beliau menekankan bahwa Tuhan berdiam di dalam umatNya. Gereja adalah Umat.  Beliau mengingatkan sesuai Injil hari ini, bahwa gedung gereja bisa hancur, akan tetapi iman umat harus tetap hidup. Gedung gereja merupakan sarana saja, bukan tujuan. Sesudah kotbah berlangsung pemberkatan-pemberkatan seperti meja altar, dan lain-lain.
Sebelum penutupan Misa, diadakan kata-kata sambutan mulai dari Ketua Panitia Pembangungan dan Panitia Peresmian dan Pemberkatan Gereja oleh Bpk. Yoseph, disambung oleh P. Paroki Pastor Stef Tarigan CICM. Dia merasa bahagia bahwa setelah 5 tahun perjuangan akhirnya gedung gereja ini telah selesai, namun bukan tanpa mengalami banyak tantangan dan kritikan dari kalangan beberapa umat. Gedung gereja yang selama 43 tahun dicita-citakan umat Kare, akhirnya menjadi kenyataan. Kata sambutan terakhir disampaikan Bp. Uskup di mana beliau menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh umat Kare, khususnya kepada Panitia Pembangunan dan Pastor Paroki. Beliau mengingatkan umat supaya mereka memelihara gedung gereja ini dengan sebaik-baiknya. Akhir Misa, gua Maria di luar gereja juga diberkati. Seluruh acara liturgi berjalan lancar sekalipun agak panjang, koor Paroki yang terdiri dari perwakilan setiap rukun memberi semangat dan warna khusus pada liturgi. Tari-tarian dari anak-anak yang berpakaian adat dan persembahan dari semua rukun berjalan dengan lancar.
Sesudah semuanya itu, berlangsung makan bersama. Setiap rukun menyediakan makanannya masing-masing dan mereka makan di tenda-tenda yang telah disediakan. Seluruh rangkaian acara selesai pukul 15:00 wita. Selamat Berbahagia kepada Seluruh Umat Kare! Tuhan memberkati.

19 Nov.
Bp. Uskup  berangkat ke Toraja dalam rangka pemberkatan gedung gereja di stasi Demo di Paroki Sangalla. Ekonom P. Yulius Malli ke Jakarta untuk mengikuti rapat di KWI.

20 Nov.
Di  Stasi Bebo’, gereja baru Sto. Fransiskus Assisi, Paroki Sangalla diresmikan dan diberkati Bp. Uskup dalam acara Perayaan Ekaristi pada pagi hari. Banyak umat ikut merayakan acara tsb. Selamat berbahagia kepada umat dan dewan Pastoral Paroki!

22 Nov.
Kami menerima berita duka bahwa ayah dari P. Marinus Tellu, Ne’Rama meninggal dunia di Toraja. Kami turut berduka kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan dan secara khusus kepada P. Marinus. Semoga arwah dari Ne’Rama ini diterima di sisi Bapa. RIP.

23 Nov.
Di Paroki Tello, kurang lebih 100 orang muda berkumpul dalam rangka rekoleksi dan persiapan penerimaan Sakramen Krisma dengan acara pengakuan dosa pada tgl. 1 Desember 2013. Rekoleksi tsb. diadakan di Sang Tunas.

24 Nov.
Pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Bp. Uskup menerimakan Sakramen Krisma kepada 64 umat di Paroki Assisi dalam perayaan Ekaristi pada pagi hari. Gereja penuh dengan umat. Selamat berbahagia bagi mereka yang menerima Sakramen Krisma, bagi orang-tuanya, dan para pembimbing serta dewan Pastoral Paroki. Semoga Roh Kudus senantiasa menyertai dan menerangi orang-orang muda tsb.
Pada sore hari, berlangsung di Gereja Katedral Perayaan Ekaristi yang dirangkaikan dengan acara Pelantikan dan Serah Terima Vikjen KAMS baru P. Stefanus Tarigan CICM (menggantikan VikJen Lama P. Ernesto Amigleo CICM)  dan Pastor Paroki Katedral yang baru P. Wilhelmus Tulak (menggantikan Pastor Paroki Lama, P. Paulus Tongli.) Bp. Uskup didampingi VikJen Lama, Vikjen Baru, Pastor Paroki Baru dan Lama, dan para Vikep dari Makassar, Sulbar, dan Luwu. Sesudah homili Bp. Uskup, dilangsungkan upacara Pelantikan. Sekretaris P. Frans Nipa membacakan SK pelepasan dan SK pengangkatan oleh Bp. Uskup dan kemudian Vikjen Baru P. Stef Tarigan CICM mengambil sumpah jabatan sebagai VikJen KAMS yang baru. Demikian pula Pastor Paroki Katedral yang baru, P. Wilhelmus Tulak mengambil sumpah jabatan sebagai Pastor Paroki yang baru. Kemudian, VikJen Lama menyerahkan Laporannya kepada Uskup yang kemudian memberikannya kepada VikJen Baru. Demikian pula Pastor Paroki Katedral yang lama menyerahkan Laporannya (secara simbolis berupa lilin, stola dan kunci gereja dan tabernakel) kepada Bp. Uskup yang kemudian meneruskannya kepada P. Wilhelmus Tulak. Sesudahnya acara dilanjutkan dengan Misa seperti biasa. Sebelum berkat penutup, diberi kesempatan kepada VikJen lama untuk memberi sepatah dua kata dimana P. Ernesto mengungkapkan terima kasihnya yang sedalamnya-dalamnya kepada Bp. Uskup atas kepercayaan yang diberikan kepadanya selama 10 tahun 3 bulan menjalani tugas sebagai VikJen. Selain itu, beliau juga mengucap terima kasih kepada rekan-rekan imam dan umat se-KAMS yang telah menerimanya apa adanya. Lalu beliau juga meminta maaf bila mana ada hal-hal yang tidak berkenan di hati baik Bp. Uskup maupun imam dan umat. Sesudahnya, Vikjen Baru memberi kata sambutan yang berbunyi bahwa pada awal dia memberi alasan-alasan untuk tidak dipilih sebagai VikJen karena antara lain dia tidak berjasa atau bergelar sarjana. Namun, akhirnya dia menerima, dengan persetujuan P. Provinsial CICM,  ketika Bp. Uskup telah berbicara dengannya dan meyakinkannya bahwa Yesus tidak mencari gelar, Yesus mencari orang yang mencintaiNya. Sesudahnya, giliran Bp. Uskup memberi ucapan terima kasih kepada VikJen Lama atas pengabdiannya pada Gereja Lokal KAMS dalam kapasitas sebagai VikJen KAMS. Sehabis Misa, resepsi diadakan di ruang aula di mana kurang lebih 100 orang ikut makan bersama.

Nov. 25
Rektor Seminari Sto. Paulus Claver, P. Eddy Kaniu mengundang Sekretaris KAMS, Ketua Komisi Seminari, Rektor TOR, Rektor SAM, dan seluruh Staf dan Pembina SPC untuk rapat sore hari ini guna membahas beberapa hal menyangkut perkembangan SPC, mis. meninjau “Program Tahun Matrikulasi”, dll.

26 Nov.
Vikep Makassar memanggil rapat kevikepan untuk membahas beberapa hal, a.l.: asistensi Natal, monitoring tindak lanjut hasil Sinode  Diosesan 2012, Pembentukan PGPM di Paroki, Gerakan Seribu (Gerbu), Pembentukan Tim Katekese, Kitab Suci dan Liturgi Kevikepan dan lain-lain.
Malam ini diadakan Misa Requiem untuk memperingati 40 hari meninggalnya alm. P. Matius Patton di Gereja Assisi. Tiga belas pastor ikut berkonselebrasi.

27 Nov.
Kami dapat berita duka bahwa Sr. Alphonsia Hasna (54 thn), JMJ setelah menjalani operasi di otak karena kanker,  meninggal dunia siang hari ini. Jenasahnya disemayamkan di kapel Stella Maris. Semoga arwah dari Sr. Aphonsia disambut dengan gembira oleh Bapa bersama para kudus di surga. Kepada komunitas JMJ Provinsi Makassar, Keuskupan mengucapkan turut belansungkawa. RIP.

28 Nov.
Untuk merayakan HUT CICM yang ke-151 tahun dan kehadiran para misionaris CICM di Indonesia yang ke-76 tahun,  komunitas CICM (yang terdiri dari para pastor, Frater intern dan seminaris Tahun Orientasi)  di Makassar berkumpul di Pantai Wisata Barombong untuk merayakan Ekaristi dan ber-rekreasi bersama. Perayaan Ekaristi dipimpin Pastor Ernesto Amigleo CICM di aula Wisata tsb. Ekaristi diawali dengan lomba antara dua kelompok dengan pertanyaan-pertanyaan berkisar sejarah CICM di dunia. Frater Mervin memimpin acara itu.  Sesudah Misa berlangsung makan bersama dan sesudahnya ada sebagian besar kelompok berenang di laut dan yang lain pulang. Selamat HUT CICM!

29 Nov.
Setelah Misa Requiem yang dipimpin Bp. Uskup John Liku-Ada’ dan didampingi P. Marcel Rarun MSC dan P. Frans Nipa di kapel Stella Maris, jenasah Sr. Alphonsia dibawa ke Malino untuk dikubur di Taman Kenangan JMJ. ***
Bung Kronik

Kamis, 07 November 2013

Konstitusi Liturgi: Kembali ke Semangat Awal

Tahun 2013 ini dirayakan 50 tahun Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Conci­lium (SC). SC telah ditetapkan dan diumumkan oleh Paus Paulus VI bersama para Bapa Konsili Vatikan II (KV II), 4 Desember 1963.

Para Bapa Konsili sepakat agar kaum awam lebih aktif berpartisipasi (dan berbuah) dalam liturgi, khususnya Ekaristi; serta penataan liturgi hendaknya berdasarkan Kitab Suci dan sumbersumber liturgi.

Pasca KV II hingga kini, masih timbul banyak ketegangan dalam ranah pastoral dan pelaksanaannya. Perdebatan antar umat yang konservatif dan progresif sering terjadi. Misal, meski sudah lazim imam menghadap umat saat Ekaristi, tapi kaum konservatif masih bernostalgia agar imam menghadap altar (atau matahari), dan membelakangi umat.

Tentu saja dua kelompok ini punya argumentasi teologis kuat. Kendati nyanyian dalam Ekaristi dibawakan dalam bahasa Indonesia, tapi kadang muncul kerinduan akan lagu-lagu Gregorian berbahasa Latin, terutama bagi mereka yang sudah Katolik sebelum KV II. Kerinduan ini tak boleh disepelekan, karena menyangkut “perasaan iman”.

Kita bersyukur, dalam liturgi pasca KV II, umat memperoleh bacaan Kitab Suci yang kaya dan berlimpah. Gereja hidup dari Sabda Allah yang diwariskan secara tertulis dalam Alkitab. Jika Gereja mewartakan Sabda dalam liturgi, ia menyambutnya sebagai sarana kehadiran Kristus. “Kristus sendirilah yang berbicara kalau Kitab Suci dibacakan dalam gereja” (SC art.7).

Teks-teks liturgi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa lain. Nyanyian liturgi menjadi bagian integral liturgi. Kaum awam terlibat sebagai petugas liturgi, seperti: prodiakon, lektor, termasuk perempuan dilibatkan. Pada zaman pra KV II, hanya pelayan liturgi yang boleh naik ke panti imam.

Keterbukaan akan pembaruan memberi peluang kebebasan yang salah kaprah. Ketika menyampaikan homili, imam turun dari panti imam, berdialog dengan umat. Homili menjadi tanya-jawab bak guru Taman Kanak-Kanak bersama para muridnya.

Kadang homili diganti dengan semacam sandiwara kecil yang murahan. Kurang persiapan dari segi seni, apalagi dari segi liturgi, pastoral dan teologi. Koor tak hanya membantu partisipasi umat, melainkan justru membawakan lagu-lagu yang cenderung menjadi show dan entertainment. Akibatnya, bukan umat memuji Allah, tapi bertepuk tangan memuji koor.

Semangat dan jiwa triumphalisme masa lampau masih muncul dalam liturgi meski sudah 50 tahun Konstitusi Liturgi SC diterbitkan. Itulah yang menyebabkan ibadah yang seharusnya menjadi perayaan liturgi, terjebak menjadi upacara. Dilupakan bahwa liturgi hendaknya sederhana, tapi luhur; userfriendly dan tak muluk-muluk.

Pembaruan Liturgi oleh KV II bertujuan untuk meningkatkan kehidupan kristiani, mendorong penyesuaian dengan tuntutan zaman dan tak kalah penting, meneguhkan persatuan persaudaraan antarumat beriman.

Kecuali menyangkut iman dan hal-hal utama, KV II memberi kebebasan untuk kreatif dalam penyesuaian dengan budaya setempat. Kita tak perlu secara ketat terpaku pada patokan-patokan yuridis – rubrikisme. Namun diingatkan agar bentuk-bentuk baru hendaknya bertumbuh secara organis dengan bentuk yang sudah ada.

Namun apa yang terjadi? Karena aspek kebersamaan begitu ditekankan, aspek keheningan dilupakan. Pemakaian bahasa lokal menggantikan bahasa Latin cenderung menghilangkan aspek misteri. Diciptakan pembaruan di sana-sini tanpa memahami tradisi. Kita terjebak dalam rasionalisme dangkal. Yang terjadi justru perubahan luar, bukan perubahan dari dalam. Liturgi cenderung menjadi ritual kosong. Allah tak lagi menjadi subyek liturgi. Demi pragmatisme pastoral, kita menciptakan tambahan upacara non liturgis, terjebak dalam salah kaprah. Marilah kita renungkan kembali maksud utama dari Konstitusi Liturgi SC. Secara kritis, kita memilah mana yang sesuai, dan mana yang salah kaprah. Kita perlu bertobat karena sering menyalahgunakan kebebasan yang diberikan.

Pastor RD Jacobus Tarigan - sumber: http://www.hidupkatolik.com/2013/09/10/konstitusi-liturgi-kembali-ke-semangat-awal

Pesta Emas Konstitusi Liturgi

HIDUPKATOLIK.com - “Yang lebih penting, umat merayakan liturgi dengan sadar, aktif, dan berbuah. Perayaan liturgi harus sederhana, singkat, sesuai dengan daya tangkap umat, sekaligus agung dan luhur,” kata Ketua KWI, Mgr Ignatius Suharyo.

Merupakan suatu kebanggaan ketika Makassar menjadi tuan rumah Pesta Emas Konstitusi Liturgi atau Sacrosanctum Concilium (SC). Betapa tidak! Makassar sering tampil dengan citra buruk sebagai kota dengan aksi anarkis dan brutal. Namun, citra buruk itu tidak selalu benar, “karena Makassar juga menyandang nama kota Anging Mammiri, angin yang sepoi-sepoi.” Demikian Uskup Agung Makassar, Mgr John Liku Ada’, saat memberikan sambutan sebagai tuan rumah Perayaan 50 tahun SC.

Perayaan bertajuk “Liturgia Semper Reformanda Est” ini berlangsung pada Selasa-Kamis, 15-17/10, dihadiri sekitar 300 peserta dari semua keuskupan di Indonesia. Panitia memilih tema ini, karena Gereja yang membarui diri dan berkembang itulah Gereja yang merayakan liturgi secara baru. Maka, dalam perayaan ini panitia fokus pada dua aspek, yaitu selebrasi dan refleksi.

Misa pembukaan dipimpin Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi, dengan konselebran Mgr John Liku Ada’, Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang, dan Ketua Komisi Liturgi KWI Mgr A.M. Sutrisnaatmaka MSF, serta puluhan imam.

Dalam homili, Mgr Filipazzi menegaskan bahwa tepat sekali perayaan diawali dengan Misa. Perayaan Liturgi harus mendahului studi, karena arti liturgi jauh lebih penting ketimbang gagasan-gagasan. Jangan sampai Misa dianggap sebagai kegiatan sekunder atau formal belaka. “Apa yang didiskusikan dalam konferensi ini mesti menuju pada penghayatan dan pemahaman liturgi yang semakin baik dan berguna.”

Diskusi selama Perayaan Pesta Emas ini menghadirkan 13 narasumber. Berbagai tema diperbincangkan, antara lain sejarah lahirnya SC, instruksi-instruksi pelaksanaan SC, dan implementasi 50 tahun SC di Gereja Katolik Indonesia.

Melalui diskusi, para peserta diajak merefleksikan gejala kurang serasi antara penghayatan dan praktik liturgi. “Kedepan, perlu direnungkan apa saja yang masih perlu dibenahi dan ditingkatkan agar pembaruan Gereja pada umumnya dan pembaruan liturgi pada khususnya semakin membawa umat kepada keselamatan yang dirindukan, sekaligus menghasilkan buah-buah yang dapat disumbangkan kepada masyarakat demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan terhadap sesama di sekitarnya,” tandas Mgr Sutrisnaatmaka.

Sementara Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo mengingatkan, hendaknya SC dipahami dalam konteks yang lebih luas dengan latar belakang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, Dei Verbum dan Gaudium et Spes, serta dokumen-dokumen Konsili Vatikan II lainnya. Dalam hal ini, harus juga ditempatkan dalam kerangka Roh yang berkembang sebelum dan selama Konsili berlangsung.

Diskusi menjadi hangat dalam Breakout Session, ketika berbicara tentang inkulturasi yang menyangkut musik, tarian, pembangunan gedung gereja, dan penggunaan teknologi modern. Teknologi modern bisa mendukung ibadat dan menunjang umat agar dapat mengikuti perayaan liturgi dengan lebih baik, asalkan digunakan secara efisien dan berimbang.

Demikian pula inkulturasi perlu dicermati dengan bijaksana. Inkulturasi tidak boleh bersifat subjektif dan pragmatis.

RD Jacobus Tarigan (sumber: http://www.hidupkatolik.com/2013/11/01/pesta-emas-konstitusi-liturgi)

Kotbah Nuncio untuk Pembukaan Konferensi Liturgi


Homili Mgr ANTONIO GUIDO FILIPAZZI untuk Pembukaan Konferensi Nasional pada Perayaan 50 tahun dikeluarkannya Konstitusi "Sacrosanctum Concilium" dari Konsili Vatikan II 

1. Perayaan Ekaristi ini membuka Konferensi Nasional untuk memperingati lima puluh tahun pemakluman Konstitusi “Sacrosanctum Concilium” dari Konsili Vatikan II. Perayaan Ekaristi akan kita rayakan setiap hari dan juga dalam acara penutupan Konferensi ini, di mana kita belajar merenungkan dan berdiskusi bersama. Berkait dengan itu, saya ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa Misa suci tidak boleh dianggap sebagai kegiatan sekunder atau formal belaka.

Perayaan Misa tidak dapat dinomorduakan oleh ceramah dan diskusi yang akan dilaksanakan selama berlangsungnya Kongregasi ini. Perayaan liturgi harus mendahului studi, karena arti dari liturgi jauh lebih penting daripada gagasan-gagasan yang bisa kita pelajari tentangnya. “Sacrosanctum Concilium” mengingatkan kepada kita bahwa  “setiap perayaan liturgi-liturgi, sebagai karya Kristus sang Imam serta Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkat yang sama” (SC, 7). Kita perlu memupuk kesadaran iman ini mengenai liturgi, agar liturgi tidak pernah direduksi menjadi sesuatu yang kita manipulasi sesuka hati. Benediktus XVI pernah mengatakan: “sayangnya, kita juga sebagai gembala dan para ahli, lebih memandang liturgi sebagai sesuatu yang perlu diperbaharui daripada sebagai subyek yang mampu membaharui hidup Kristiani” (Ceramah, 6 Mei 2011). Ketika kita merayakan ataupun mempelajari liturgi, kita mesti bersikap penuh hormat bagaikan nabi Musa yang menghampiri semak duri yang menyala, sebagai tanda kehadiran Allah yang hidup.

Perayaan Misa juga tidak boleh dianggap sebagai tindakan formal belaka, yang dilaksanakan setiap kali kita mengadakan pertemuan atau kegiatan lain, hanya karena kita biasa merayakan Misa pada kesempatan seperti ini. Sebaiknya, merayakan misa pada pembukaan sambil menjalankan, dan pada penutupan konferensi liturgi ini justru mengingatkan kita akan ajaran dari Konsili Vatikan II, yakni bahwa “Liturgi merupakan puncak tujuan kegiatan Gereja, dan sekaligus sumber segala daya kekuatannya” (SC,10). Dari sumber rahmat ini, yakni misteri-misteri suci yang dirayakan oleh Gereja, terpancar terang dan kekuatan untuk memahami liturgi serta menimba semangat untuk komitmen yang makin kuat. Sekaligus, apa yang akan didiskusikan dalam konferensi ini mesti menuju pada penghayatan dan pemahaman Liturgi yang semakin baik serta berguna.

“Orang yang benar akan hidup oleh iman”: dalam bacaan pertama Santo Paulus, yang mengutip nubuat Habakuk, mengingatkan kepada kita akan iman sebagai prinsip yang menerangi serta mengarahkan seluruh hidup dan pengetahuan kita, khususnya ketika pengetahuan itu menyangkut realitas Allah dan keselamatan. Oleh karena itu, jika kita mau mempelajari realitas suci, studi tersebut mesti dilaksanakan di bawah naungan iman. Semoga di dalam konferensi ini, dan demikian juga pada kesempatan-kesempatan lain di mana  kita mempelajari liturgi, kita tetap berada di bawah terang iman yang kita mohon kepada Tuhan dalam perayaan Ekaristi ini!

2. Kita membuka Konferensi Nasional ini dengan memperingati Santa Teresia dari Yesus, perawan dan pujangga Gereja.

Memperingati para santo dan santa menjadi kesempatan untuk menggarisbawahi suatu dimensi liturgi, yang kita ucapkan pada setiap penutup prefasi Misa, yakni: “kami memuliakan Dikau bersama para malaikat dan semua orang kudus, yang tak henti-hentinya bernyanyi: Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan,  Allah segala kuasa, Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga” (Prefasi Para Perawan Kudus).

Konstitusi liturgi Konsili Vatikan II melukiskan liturgi Gereja seperti berikut: “Dalam liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi Liturgi surgawi, yang dirayakan di kota suci Yerusalem, tujuan perziarahan kita. Di sana Kristus duduk di sisi kanan Allah, sebagai pelayan tempat tersuci dan kemah yang sejati. Bersama dengan segenap balatentara surgawi kita melambungkan kidung kemuliaan kepada Tuhan. Sementara menghormati dan mengenangkan para kudus kita berharap akan ikut serta dalam persekutuan dengan mereka. Kita mendambakan Tuhan kita Yesus Kristus Penyelamat kita, sampai Ia sendiri, hidup kita, akan nampak, dan kita akan nampak bersama dengan-Nya dalam kemuliaan”  (SC, 8).

Dalam Liturgi, Surga memandang bumi (bdk. Benediktus XVI,. Sacramentum Caritatis, 35), Allah menampakkan diri kepada kita dalam kemuliaan-Nya, dan kita dapat bertemu dengan Kristus “yang terelok di antara anak-anak Manusia”. Bapak Paus Fransiskus telah mengingatkan kepada kita bahwa “eloknya tahun liturgi ini…bukanlah karena indahnya dekorasi, melainkan karena kemuliaan Allah”  (Kotbah Misa Krisma, 2013). Sebagaimana kemuliaan Allah tercermin di dalam alam semesta (menurut Santo Paulus kepada Jemaat di Roma kesempurnaan Allah , “yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih”Rm:1 20), demikian juga kemuliaan itu terungkap di dalam doa resmi Gereja. Inilah yang menjadikan Liturgi duniawi Gereja begitu indah: keindahan liturgi terkait pada hakikat liturgi sendiri, dan tidak tergantung pada upaya kita untuk memperindahnya. Kita harus membiarkan keelokan ilahi ini terungkap dengan sendirinya melalui perayaan Liturgi. Melalui Iman, kasih, keheningan dan kerapian, serta hormat pada lambang-lambang, perbuatan dan kata-kata liturgi: sikap-sikap seperti ini mutlak agar indahnya acara-acara suci dapat dirasakan dan dihayati.

Sayangnya, telah beredar mentalitas dan praktek yang menurutnya liturgi harus terus berubah, disesuaikan pada setiap komunitas, menjadi menarik berkat kreativitas kita. Namun perayaan-perayaan yang bersumber pada logika seperti ini tidak akan memperlihatkan eloknya Gereja yang sebenarnya! Kecenderungan untuk terus mencari solusi yang baru untuk menjadikan liturgi menarik, justru menunjukkan bahwa kita tidak mampu menciptakan keindahan liturgi yang nyata.
Semoga Roh Kudus mengilhami Konferensi Nasional serta penghayatan liturgi di Indonesia ini agar indahnya liturgi yang sebenarnya semakin dipahami, serta semua imam dan umat berkomitmen agar keelokan itu semakin terpancar di setiap perayaan.

3. “Dalam kehidupan S. Teresia Engkau memberikan teladan  hidup yang suci, persahabatan yang tulus, dan doa restu yang sangat kami perlukan” (Prefasi para Kudus.I). Peringatan para Orang Kudus mempertemukan kita dengan para pria dan wanita ini, yang bersama kita membentuk Gereja Kristus, serta mengajak kita untuk meneladani dan mempercayakan diri pada perantaraan mereka kepada Allah.
Dalam hal manakah teladan Santa yang besar dari Spanyol ini  menjadi inspirasi bagi Konferensi Liturgi ini?

Santa Teresia dari Avila hidup dan berkarya pada jaman yang ditandai oleh Reformasi Protestan dari Martin Luther, dan juga oleh Reformasi Katolik, yang merupakan tanggapan Gereja kepada tuntutan pembaharuan eklesial yang dijelmakan dalam Konsili Trent dan dalam karya sedemikian banyak orang Kudus, pria dan wanita, pada abad tersebut. Oleh karena itu, pada jaman Santa Karmelit ini, terjadi dua jenis reformasi: salah satu mengakibatkan pemecahan kesatuan Gereja Kristus, sedangkan yang lain menimbulkan kembali pemekaran kehidupan Kristiani, yang dewasa ini masih terlihat buahnya.

Sepanjang sejarah, Gereja dihadapkan dengan reformasi-reformasi yang benar dan tidak benar. Bahkan di dalam setiap proses pembaharuan hidup eklesial bisa saja tercampur unsur-unsur pembaharuan yang benar dengan unsur-unsur lain yang memiskinkan dan menodai citra Gereja. Oleh karena itu kita perlu menentukan kriteria untuk membeda-bedakan pembaharuan benar dari yang tidak benar.

Kriteria-kriteria itu tidak boleh bersifat subjektif atau hanya pragmatis; melainkan, mengingat bahwa Gereja merupakan realitas sekaligus ilahi dan jasmani yang dapat dipahami hanya berkat terang wahyu ilahi, maka kriteria tersebut harus merujuk pada iman. Jika kita memandang pengalaman Gereja selama dua ribu tahun, kita dapat memetik beberapa kriteria. Setiap pembaharuan Gereja yang benar harus terjadi dalam kesatuan yang penuh dengan ajaran Gereja; pembaharuan itu mesti berlangsung sambil menghormati struktur hierarkis dan disiplin Gereja; pembaharuan itu mesti membangun persekutuan serta kesatuan Gereja, dengan menghindari kecenderungan untuk memecah-mecahkan; pembaharuan itu mesti menghormati warisan spiritual dan devosi dari jaman dulu; pembaharuan mesti melawan kecondongan naluri manusia yang berdosa serta pengaruh mentalitas duniawi; pembaharuan itu mesti diwujud-nyatakan dengan sikap sabar dan rendah hati.

Kriteria-kriteria inilah yang pastinya mengarahkan perwujudan dari amanat Konsili Vatikan II mengenai liturgi, lima puluh tahun yang lalu. Selama setengah abad ini kita telah menyaksikan terang dan gelap, positif dan negatifnya di dalam hidup liturgi-liturgi Gereja; hal tersebut tergantung juga dari perwujudan amanat Konsili itu yang ternyata dilaksanakan tanpa memperhatikan kriteria-kriteria tersebut.

Sebaliknya, jika kita memandang kehidupan dan karya Santa Teresia dari Yesus, kita menyaksikan perwujudan dari semua kriteria untuk pembaharuan eklesial yang benar. Menjelang akhir hidupnya dia menyerukan: “Saya adalah putri Gereja”, Santa ini dapat memberi dorongan abadi bagi pembaharuan yang sesungguhnya. Semoga perantaraan Santa Teresia tetap menyokong upaya untuk mempelajari liturgi di dalam Konferensi ini, dan lebih lagi menuntun kehidupan liturgi-liturgi di semua komunitas Kristiani di Indonesia agar senantiasa diilhami oleh kriteria-kriteria ini, sehingga “Umat Kristiani memperoleh rahmat berlimpah dalam liturgi suci” (SC 21).

4. Doa pembukaan untuk peringatan hari ini mengatakan bahwa Roh Kudus “menimbulkan di dalam Gereja Santa Teresa dari Avila guna memperlihatkan sebuah jalan yang baru menuju kesempurnaan hidup”. Gereja menawarkannya kepada kita sebagai model, tetapi juga sebagai guru hidup rohani. Pada tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh, Hamba Allah Paulus VI telah memaklumkannya sebagai wanita pertama, bersama Katarina dari Siena, yang digelar pujangga Gereja.
Paus Paulus VI mengatakan bahwa ajaran santa Teresia membuka “rahasia-rahasia doa”; santa Teresia, dipimpin oleh Roh Kudus, telah mengenal rahasia-rahasia tersebut “melalui pengalamannya” serta “menjadi mampu mengajarkannya”. Oleh karena itu dia menyampaikan kepada Gereja dan dunia “ajaran mengenai doa”. (Khotbah, 20 September 1970).
Bagi Santa Teresia, doa merupakan “percakapan antara dua sahabat serta keakraban dengan Allah; kita bercakap-cakap di lubuk hati kita dengan Dia, sambil merasakan bahwa kita dicintai oleh Dia” (Kehidupan, 8,5). Doa ini juga berpusat pada kontemplasi Kemanusiaan Kristus yang tersuci.

Sangatlah menarik menyadari bahwa Paus Paulus VI menghubungkan ajaran Santa Teresia dari Yesus ini, pujangga Gereja, dengan pembaharuan liturgi-liturgi yang diprakarsai oleh Vatikan Kedua dengan berkata: “Ajaran doa! Ajaran ini disampaikan kepada kita, anak-anak Gereja, pada saat di mana sedang diupayakan pembaharuan doa liturgi”. (Khotbah, 20 September 1970).

Pada Konferensi Liturgi Nasional ini, ajaran Santa Teresia mengingatkan kepada kita bahwa doa resmi Gereja mesti menuntun kita pada “keakraban dengan Allah”, mesti menjadi percakapan dengan Tuhan. Ini tidak selalu pasti terjadi: doa liturgi bisa menjadi perbuatan yang tidak menyentuh hati manusia.

Ajakan untuk membatinkan sering terulang dalam kata-kata para nabi di Perjanjian Lama. Tuhan Yesus berulang kali meminta kepada murid-muridNya untuk menyelaraskan perkataan dengan perbuatan melalui sikap batin yang tepat. Injil hari ini juga mengajak kita untuk lebih menyadari bahwa “Dia yang menciptakan bagian lahiriah”, telah menciptakan juga “batin” kita, dan oleh karena itu tidak cukuplah suatu kemurnian lahiriah belaka.

Konsili Vatikan II, searah dengan ajaran  para Paus sejak Pius X sampai Pius ke XII, menegaskan  “partisipasi yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan Liturgi” kepada umat. Sejak waktu itu banyak diskusi timbul mengenai arti dari partisipasi itu. Benediktus XVI  telah menegaskan bahwa “kata itu tidak berarti kegiatan eksternal belaka waktu perayaan” (Sacramentum Caritatis, 52). Sayangnya kita semua tahu bagaimana pengertian yang terbatas mengenai partisipasi dalam liturgi begitu beredar, baik secara teoretis maupun praktis.

Perlu juga digarisbawahi, sebagaimana diajarkan Hamba Allah Pius XII, bahwa “unsur mutlak dari ibadat ialah sikap batiniah”, karena “kalau sebaliknya, agama menjadi formalisme tanpa dasar dan kosong” (Mediator Dei). Oleh karena itu, “Sacrosanctum Concilium” menuntut “partisipasi kaum beriman secara aktif, baik lahir maupun batin” (SC,19); minta agar “Umat beriman datang menghadiri Liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan menerimanya dengan sia-sia” (SC,11). Karena itu sikap yang tepat untuk pembaharuan liturgi-liturgi mesti membawa seluruh umat Kristiani untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dalam dan dengan liturgi. Agar liturgi menjadi petunjuk dan sajian untuk doa setiap umat Kristiani, sebagaimana diharapkan Gerakan Liturgi yang mengantisipasi dokumen “Sacrosanctum Concilium”. Kita tidak boleh mengabaikan doa pribadi dan “ulah kesalehan” yang bersumber serta menuju pada liturgi (bdk. SC,13).

Sebagai kesimpulan, perwujudan yang sebenarnya dari pembaharuan liturgi tergantung dari hal berikut: sesungguhnya orang yang ikut serta dalam liturgi mesti semakin mampu berdoa dalam suasana percakapan yang mendalam dengan Allah, sebagaimana diterangi oleh pengalaman Santa Teresia yang kita peringati hari ini. Sangatlah relevan bahwa Beato Yohanes Paulus II, 10 tahun yang lalu, ketika memperingati pemakluman “Sacrosanctum Concilium” telah menentukan prioritas ini: “Pastoral liturgi-liturgi mesti menimbulkan kerinduan akan doa” (Spiritus et Sponsa, 14). Program ini tetap aktual bagi Konferensi serta bagi kegiatan liturgi-liturgi di seluruh Gereja Indonesia: yakni menimbulkan kerinduan akan doa!

5. Sebagai kesimpulan dari semua pemikiran yang diutarakan selama ini, liturgi membutuhkan iman ketika dirayakan maupun dipelajari. Iman membantu kita memahami apa arti liturgi serta bagaimana cara untuk merayakannya. Iman menjadi sumber semua kriteria untuk mengembangkan hidup liturgi dalam diri umat beriman serta komunitas. Tahun Iman mengingatkan kepada kita akan realitas ini.
Dengan iman seperti ini, setiap perayaan Ekaristi, Gereja memohon kepada Bapa anugerah Roh Kudus untuk menguduskan roti dan anggur, “agar menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus” serta agar kita “menjadi sehati dan sejiwa dalam Kristus” (Doa Syukur Agung III).

Setiap upaya pembaharuan yang otentik merupakan hasil dari karya Roh Kudus yang menyempurnakan serta menguduskan umatnya. Roh Kuduslah yang membaharui hati para pria dan wanita – yakni para orang Kudus – yang telah membaharui Gereja dan dunia. Demikianlah juga terjadi dalam diri Santa Teresia, yang kepadanya kita percayakan komitmen kita di dalam Gereja Indonesia untuk merayakan serta menghayati misteri suci dengan semakin baik, yakni dengan iman yang hidup.

Oleh karena iman, setiap kali Misa Suci, Santa dari Spanyol ini merasakan kehadiran Tuhan Yesus sang Penyelamat yang tetap hidup di dalam sejarah manusia. Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi, sama dengan kehadiran-Nya ketika Dia hidup dua ribu tahun yang dunia ini: “Ketika Yesus ada di dunia, persentuhan dengan jubahnya bisa menyembuhkan orang sakit, maka jika ada iman, bagaimana mungkin kita meragukan bahwa Dia, yang bersatu dengan kita dan tinggal serumah dengan kita, akan melakukan mujizat-mujizat  serta memberikan apa yang kita minta kepadanya?” (Perjalanan Menuju Kesempurnaan, 34,8). Santa Teresia telah berkata juga: “Tuhan telah memberikan kepada saya iman yang sedemikian hidup, sehingga ketika saya mendengar bahwa ada orang yang ingin hidup pada jaman Yesus, […] saya tertawa di lubuk hati saya, karena Yesus hidup di dalam Sakramen Mahasuci sekarang ini senyata dulu, maka kita tidak berkekurangan lagi.” (34,6).

Santa Teresia juga mengingatkan kita bahwa perjumpaan dengan Tuhan menuntut kontribusi dari kita: “Raja ini sangat berbelas kasih karena ingin agar kita menyadari kehadirannya di dalam Sakramen Mahasuci. Namun Dia berkehendak memperlihatkan diri, serta memberikan kekayaan dan hartanya, hanya kepada mereka yang memiliki kerinduan mendalam akan Dia, karena merekalah teman-temanNya yang sebenarnya” (34,13).

Mari kita minta kepada S. Teresia iman dan kasih seperti ini, ketika kita merayakan misteri suci, pada hari ini dan setiap hari!

Amin.