Sabtu, 31 Desember 2011

Ulang Tahun Uskup Agung KAMS Mgr. John Liku-Ada' ke-63

Kamis, 22 Desember 2011 merupakan hari istimewa. Selain dirayakan sebagai hari Ibu, pada hari itu juga dirayakan sebagai ulang tahun kelahiran Uskup Agung KAMS Mgr. John Liku-Ada' yang ke-63.

Sebuah resepsi sederhana diadakan di aula KAMS untuk menjamu tamu-tamu yang datang: para imam, biarawan-biarawati, tokoh umat Katolik dan tokoh masyarakat, semuanya berbaur dan bergembira bersama Bapa Uskup.

Selamat ulang tahun, Monsignor!
Ad multos annos.

Bapa Uskup memberikan kata sambutan dalam Ultah ke-63.
Bapa Uskup memotong kue ultah, dibantu para ibu Wanita Katolik RI.
Bapa Uskup menyerahkan potongan kue ultah kepada Bapak Ishak Ngeljaratan.
 

Senin, 19 Desember 2011

Kartu Natal 2011 dari KAMS

Paroki St. Yakobus Mariso Membagikan Bingkisan Sembako Natal

Panitia Aksi Sosial Natal 2011 Paroki St. Yakobus Mariso KAMS
Senin, 19 Desember 2011, sejak pagi hari tampak kesibukan di Paroki St. Yakobus. Umat tampak keluar masuk halaman gereja menuju ke lantai atas dengan wajah gembira sambil menenteng dua bungkusan besar berwarna hitam. Apakah gerangan itu?

Olala, rupanya Seksi Sosial Paroki sedang membagikan bingkisan sembako natal kepada umat paroki yang kurang mampu. Supaya setiap warga paroki dapat merayakan Natal bersama keluarga dengan rasa syukur dan gembira.

Di lantai atas tampak kesibukan Seksi Sosial Paroki yang dibantu Mudika (Muda-mudi Katolik) Paroki St. Yakobus Mariso, mengepak dan mendistribusikan bingkisan. Di wajah mereka tampak keceriaan, termasuk ketika mereka hendak foto bersama untuk mengabadikan momen kebersamaan ini. :)
Mudika St. Yakobus Mariso ikut serta dalam Aksi Sosial Natal.
Seksi Sosial Paroki dan Mudika Paroki St. Yakobus Mariso

Sabtu, 17 Desember 2011

Sampul Koinonia Vol. 7 no. 1

Sekitar Ad Limina 2011 Para Uskup Indonesia

Dari 29 September – 8 Oktober 2011 lalu para Uskup Indonesia mengadakan apa yang disebut “Visitatio Ad Limina Apostolorum” (=Kunjungan ke Kediaman Rasul-Rasul), di Roma, biasanya disingkat Ad Limina. Menurut ketentuan Hukum Gereja, kunjungan semacam ini merupakan kewajiban bagi Uskup diosesan setiap 5 tahun sekali untuk memberi laporan mengenai keadaan Keuskupan (KHK, 399), untuk menghormati makam para Rasul (Petrus dan Paulus), serta menghadap Paus (KHK, 400). Laporan rinci yang tertulis harus dikirimkan enam bulan sebelum pelaksanaan Ad Limina. Ad Limina 2011 dilaksanakan oleh 36 Uskup diosesan se-Indonesia (semestinya 37, tetapi Keuskupan Bandung belum mempunyai Uskup definitif). Namun karena Ibundanya meninggal, Mgr. Dominikus Saku, Uskup Atambua, terpaksa pulang lebih awal ke tanah air. Ad Limina 2011 memiliki makna historis istimewa, karena bertepatan dengan syukur 50 tahun hirarki Gereja Katolik Indonesia. Bagi saya sendiri, ini merupakan Ad Limina ke-3 sejak dilantik menjadi Uskup diosesan Keuskupan Agung Makassar pada 19 Maret 1995 (waktu itu masih bernama Keuskupan Agung Ujung Pandang). Yang pertama di tahun 1996, dan yang kedua 14-31 Maret 2003. Walau menurut ketentuan, Ad Limina seharusnya terjadi setiap 5 tahun, pada kenyataannya jarak waktu umumnya lebih lama dari 5 tahun, akibat sulitnya menyesuaikan dengan jadwal Sri Paus yang sangat padat.
Redaksi KOINONIA kita meminta saya menulis sesuatu tentang Ad Limina 2011 di rubrik “Dari Meja Uskup Agung”. Saya menerima permintaan itu dengan senang hati, sambil berharap dengannya sidang pembaca dapat memahami makna mendalam Ad Limina itu. Kecuali itu, semoga dengan itu juga umat Katolik memperoleh pengetahuan tentang segi-segi tertentu jatidiri Gereja, dan karenanya mereka dapat memiliki kebanggaan positif sebagai orang Katolik.
Demi melengkapi tulisan ini, dalam edisi ini juga dimuat terjemahan Sambutan/Pesan tertulis Sri Paus dan Berkat Apostolik beliau yang disampaikan pada audiensi bersama Jumat, 7 Oktober 2011.

GEREJA YANG SATU, KUDUS, KATOLIK DAN APOSTOLIK
Salah satu pasal Syahadat Panjang berbunyi, “Aku percaya kepada Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik”. Sesungguhnya Kunjungan Ad Limina Apostolorum merupakan salah satu pengungkapan dan pengkonkritan pasal ini dari Credo. Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor.12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal.3:28). Bapa-Bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Konsili Vatikan II  mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (LG,4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah tahun 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik” dimasukkan dalam Syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja.
Selanjutnya, dalam Ef. 5:27 Gereja dilukiskan sebagai “yang kudus”. Kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel. 19; Ul. 7:6; 26:19; dll.). Dalam Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak.10:39; Keb.18:19. Dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1Ptr.2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam Syahadat, Gereja disebut “kudus”.
Sedangkan kata “Katolik” memang tidak terdapat dalam Kitab Suci. Namun kata itu sudah digunakan oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu.
Akhirnya, tibalah kita pada sifat atau ciri ke-4, yaitu “apostolik” (rasuli). Kesadaran bahwa Gereja berasal dari zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para rasul, melainkan juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman Ignatius dari Antiokhia, sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar. Itulah artinya dalam Syahadat Panjang.
Dalam perjalanan sejarah Gereja yang kini sudah lebih 2000 tahun, ke-4 sifat atau ciri Gereja tersebut mengalami perkembangan. Khususnya sejak Reformasi (abad ke-16), masalah pokok ialah hubungan antara ke-4 sifat itu, satu, kudus, Katolik dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Dengan demikian di sini muncul soal mengenai Gereja sebagai “misteri” (segi tak kelihatan) dan Gereja sebagai “sakramen” (segi kelihatan). Sesungguhnya kedua aspek itu berkaitan erat. Bahkan sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama, namun juga tidak tepat sama. Sebagaimana ditulis dalam buku Iman Katolik yang dikeluarkan KWI 1996 (hlm. 344): “Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani dan ilahi. Hal itu juga berlaku untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri, kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan Allah dan keapostolikannya mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman, yang dipersatukan iman para rasul. Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi “ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus? Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan dalam ibadah dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul”.

TAHTA SUCI - TAHTA APOSTOLIK
  Di atas sudah dikatakan bahwa Kunjungan Ad Limina  para Uskup itu adalah salah satu ungkapan konkrit dari sifat atau ciri Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik dalam arti yang sudah dikemukakan di atas. Dengan demikian Ad Limina memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. Vatikan disebut “Tahta Suci” atau “Tahta Apostolik”. Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang pusat nilai-nilai spiritual ini telah diperkaya dengan bentuk-bentuk seni paling tinggi. Di balik harta-harta artistik Vatikan dan organ Tahta Suci/Tahta Apostolik tersembunyi nilai-nilai luhur warisan Gereja yang secara terus-menerus diupayakan dihayatinya.
Supaya dapat lebih dipahami, di bawah ini diberikan garis besar organ Tahta Suci/Tahta Apostolik dengan fungsinya.    

Sri Paus (dan Para Uskup)
  Vatikan adalah tempat kediaman Sri Paus, kepala kelihatan Gereja yang ‘didirikan’ Yesus Kristus. Sebagai sebuah paguyuban rohani dan sekaligus sebagai persekutuan kelihatan, Gereja terdiri dari orang-orang yang telah dibaptis, memegang iman yang satu dalam Kristus, mengakui ajaran yang sama dan Sabda Allah yang sama, mengenal tujuh sakramen dan menerimanya sebagai sarana rahmat, serta menerima pelayanan pastoral dari para pengganti Sto. Petrus dan para Rasul.
Dalam Gereja Katolik Roma dibedakan Gereja Latin dan Gereja-Gereja Timur, yang terbagi ke dalam banyak Gereja lokal, yang pelayanannya dipercayakan kepada para Uskup. Paus adalah ketua dewan para Uskup. Beliau memelihara hubungan  erat dengan para Uskup di seluruh dunia. Beliau dapat mengundang mereka untuk sebuah konsili ekumenis yang diketuai olehnya, guna membicarakan bersama masalah-masalah penting mengenai kehidupan seluruh Gereja. Sepanjang sejarah Gereja yang sudah lebih 20 abad, telah dilangsungkan 21 konsili ekumenis. Yang terakhir adalah Konsili Vatikan II, dan dinamakan demikian karena diadakan di Basilika Sto. Petrus di Vatikan, sebagaimana Konsili Vatikan I tahun 1869-1870. Konsili Vatikan II dibuka oleh Paus Yohannes XXIII di tahun 1962 dan ditutup secara meriah oleh Paus Paulus VI tiga tahun kemudian (1965).
Sementara sidang terakhir Konsili Vatikan II berlangsung di tahun 1965, Paus Paulus VI membentuk sebuah wadah baru kerjasama organik antara Paus dan para Uskup. Itulah Sinode para Uskup, yang diketuai Uskup Roma, yaitu Paus sendiri. Sinode, yang dihadiri oleh para Uskup perwakilan Konferensi Waligereja dari seluruh dunia, dimaksudkan untuk membicarakan secara kolegial perkara-perkara yang menyangkut kepentingan seluruh Gereja. Agenda ditetapkan oleh Sri Paus, seringkali berdasarkan usul-usul dari para Uskup. Secara normal fungsi Sinode bersifat konsultatif.  Sejak dibentuk sampai sekarang sudah diadakan 12 Sinode. Sinode ke-13 akan diadakan tahun depan, tepatnya 7-28 Oktober 2012, dengan tema “Evangelisasi Baru untuk Mewariskan Iman Kristiani”. Kecuali Sinode biasa, pada masa Yohanes Paulus II diadakan pula Sinode Khusus untuk masing-masing Benua. Sinode Khusus untuk Asia berlangsung April-Mei 1998 di mana kebetulan saya menjadi salah satu peserta dari 9 Uskup perutusan KWI.   

Kuria Romawi
Kuria Romawi adalah rumpun dikasteri-dikasteri dan lembaga-lembaga yang membantu Sri Paus dalam melaksanakan tugas kegembalaan tertinggi beliau demi kebaikan dan pelayanan Gereja semesta dan Gereja-Gereja partikular. Dengan demikian Kuria Romawi memperkuat kesatuan iman dan communio umat Allah dan memajukan misi khas Gereja dalam dunia. Dengan kata ‘dikasteri-dikasteri’ dimaksudkan Sekretariat Negara, Kongregasi-Kongregasi, Tribunal, Dewan-Dewan dan Jawatan-Jawatan, yaitu Kamera Apostolik, Administrasi Warisan Tahta Suci, dan Prefektura untuk Urusan Ekonomi Tahta Suci. Secara hukum dikasteri-dikasteri itu sejajar. Adapun lembaga-lembaga Kuria Romawi antara lain Prefektura Rumahtangga Kepausan dan Jawatan untuk Perayaan Liturgis Paus.

Sekretariat Negara
Sekretariat Negara merupakan wadah pembantu terdekat Sri Paus dalam melaksanakan tugas tertinggi. Ia terdiri dari dua bagian, yaitu Seksi untuk Urusan Umum dan Seksi untuk Hubungan dengan Negara-Negara. Adalah tugas Seksi Pertama untuk secara khusus memperlancar urusan menyangkut pelayanan harian Sri Paus; menangani perkara-perkara yang muncul di luar wewenang biasa dikasteri-dikasteri Kuria Romawi dan lembaga-lembaga Tahta Suci lainnya; memelihara hubungan dengan dikasteri-dikasteri yang ada serta mengkoordinir karya mereka, tanpa prasangka terhadap otonomi mereka; mengawasi jawatan dan karya para Nuncio/duta Tahta Suci, khususnya menyangkut Gereja-Gereja partikular. Seksi ini (juga) menangani apa saja yang berkaitan dengan para Dubes Negara-Negara untuk Tahta Suci. Dalam konsultasi dengan dikasteri lain yang berkompeten, seksi ini memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan kehadiran dan kegiatan Tahta Suci di organisasi-organisasi internasional, tanpa melampaui batas wewenang Seksi Kedua. Sama halnya pula menyangkut organisasi-organisasi Katolik internasional. Kecuali itu masih ada sejumlah tugas lainnya yang diberikan Konstitusi Apostolik “Pastor Bonus” kepada Seksi Pertama ini.
Seksi Kedua untuk Hubungan dengan Negara-Negara mempunyai tugas khusus menyangkut kepala-kepala negara. Termasuk dalam kompetensi Seksi Kedua ini: memelihara hubungan, khususnya yang bersifat diplomatik, dengan Negara-Negara dan pihak lain dari hukum publik internasional, serta menangani hal-hal menyangkut kepentingan bersama, memajukan kebaikan Gereja dan masyarakat sipil melalui konkordat dan persetujuan lain semacam itu, jika muncul kasus, sambil menghormati pendapat-pendapat yang dipertimbangkan secara matang dari kelompok-kelompok para Uskup yang mungkin terkena; dalam konsultasi dengan dikasteri-dikasteri yang berkompeten di Kuria Romawi, mewakili Tahta Suci pada organisasi-organisasi dan pertemuan-pertemuan internasional menyangkut persoalan-persoalan yang mempunyai sifat publik; dalam lingkup kompetensinya, menangani apa yang berkaitan dengan Nuncio/duta Kepausan. Selain itu, masih ada beberapa tugas lainnya dari Seksi Kedua ini.
   
Kongregasi-Kongregasi
Terdapat 9 Kongregasi, yang bidang kompetensinya tercantum dalam namanya masing-masing, yaitu: (1) Kongregasi untuk Ajaran Iman; (2) Kongregasi untuk Gereja-Gereja Timur; (3) Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen-Sakramen; (4) Kongregasi untuk Penggelaran Kudus; (5) Kongregasi untuk Para Uskup; (6) Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa; (7) Kongregasi untuk Para Klerus; (8) Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti dan Hidup Kerasulan; dan (9) Kongregasi untuk Seminari dan Lembaga Pendidikan.

Tribunal
Terdapat tiga macam tribunal, yaitu: (1) Paenitentia Apostolica; (2) Supremum Tribunale Signaturae Apostolicae; dan (3) Tribunale Rotae Romanae. Adapun Penitensiaria Apostolik berwenang menangani kasus-kasus forum internum,  juga yang tidak sakramental (di luar Sakramen Tobat), serta perkara-perkara disiplin indulgensi (pengurangan hukuman untuk dosa-dosa yang sudah diampuni). Sedangkan Tribunal Tertinggi Signatura Apostolica merupakan badan yurisdiksional tertinggi untuk penyelesaian kontroversi-kontroversi yudisial gerejawi dan untuk menjaga hukum dalam tata administratif. Sementara Tribunal Rota Romana pada hakekatnya adalah tribunal banding, terutama untuk kasus-kasus pembatalan perkawinan yang diajukan dengan maksud menetapkan tidak sahnya sebuah perkawinan yang tampaknya sah.

Dewan-Dewan Kepausan
Konsili Vatikan II juga membawa kebutuhan untuk menyesuaikan Kuria Romawi dengan perkembangan zaman dengan membentuk badan-badan baru. Konstitusi Apostolik “Pastor Bonus” kemudian menyeragamkan badan-badan baru itu dengan nama “Dewan Kepausan”. Kini terdapat 12 Dewan Kepausan, yaitu: (1) Dewan Kepausan untuk Kaum Awam; (2) Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristiani; (3) Dewan Kepausan untuk Keluarga; (4) Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian; (5) Dewan Kepausan “Cor Unum”; (6) Dewan Kepausan untuk Pastoral Migran dan Orang dalam Perjalanan; (7) Dewan Kepausan untuk Reksa Pastoral Tenaga Pelayanan Kesehatan; (8) Dewan Kepausan untuk Penafsiran Teks Legislatif Perundang-Undangan; (9) Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama; (10) Dewan Kepausan untuk Dialog dengan Kaum Tak Beriman; (11) Dewan Kepausan untuk Kebudayaan; dan (12) Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial.

Lembaga Lain Kuria Romawi 
Kecuali dikasteri-dikasteri yang sudah disebut di atas, masih terdapat lembaga-lembaga lain yang termasuk Kuria Romawi, antara lain: Prefektura Rumah Tangga Kepausan dan Jawatan untuk Perayaan Liturgis Bapa Suci.

3. Vatikan Sebagai Pusat Budaya, Ilmu Pengetahuan dan Seni
Perlu diketahui bahwa pada tahun 1960 seluruh wilayah Vatikan digoreskan dalam “Register Internasional Karya-Karya Budaya di bawah Perlindungan Khusus dalam Hal Terjadi Konflik Bersenjata”. Ini adalah pengakuan resmi suatu situasi sangat khusus, satu-satunya di dunia. Ini tidak menyangkut bagian-bagian atau monumen-monumen individual; seluruh Vatikan menjadi saksi dan mengabdi pada nilai-nilai spiritual terluhur. Ada sebuah komisi pengawasan permanen untuk menjaga monumen-monumen historis dan artistik Tahta Suci.

Perpustakaan Apostolik Vatikan terkenal karena koleksi naskah-naskah kuno dan manuskrip-manuskrip yang bernilai historis dan kultural sangat tinggi. Perpustakaan ini dimulai tahun 1475. Di tahun 1983 ia memiliki sekitar 60.000 jilid manuskrip, 100.000 dokumen manuskrip, 700.000 buku cetak dan 100.000 barang ukiran dan peta. Bergantung pada perpustakaan adalah Kabinet (Lemari Kaca) Numismatik dan Ruang Cetak dan Desain. Kabinet Numismatik memuat koleksi paling besar mata uang kepausan dan salah satu koleksi terbesar mata uang Romawi dari zaman Republik. Tergabung dengan Perpustakaan adalah Sekolah Ilmu Perpustakaan.

Sekitar tahun 1600 mulai dibentuk arsip sentral, yang selanjutnya berkembang dan kini dikenal sebagai Arsip Rahasia Vatikan. Tahun 1881 Paus Leo XIII mengeluarkan dekrit membuka Arsip kepada para ahli. Dan dengan demikian Arsip Vatikan menjadi sebuah pusat dunia untuk riset  sejarah. Di situ juga terdapat Sekolah untuk para Arkhivaris. Di Vatikan juga terdapat Sekolah Paleografi (Ilmu Tulisan Kuno) dan Diplomatik.

Di bidang ilmu-ilmu eksperimental dan matematika Vatikan mempunyai sebuah institut bergengsi sedunia. Itulah Akademi Kepausan Ilmu Pengetahuan, yang didirikan tahun 1936 oleh Paus Pius XI (1922-1939). Asal-usulnya berawal dari Akademi kuno Lincei yang didirikan di Roma tahun 1603. Anggotanya terdiri dari 70 ahli yang dipilih Paus dari antara para ahli ilmu pengetahuan paling terkemuka dari setiap bangsa, tanpa membedakan latar belakang agama, aliran, dst. Akademi ini bertujuan membantu perkembangan ilmu pengetahuan, menjamin kebebasannya dan mengembangkan riset yang sangat penting bagi kemajuan ilmu-ilmu terapan. Didukung oleh pemikiran 70 ahli terkemuka dunia, anggota Akademi Kepausan ini, maka biasanya suara Sri Paus akan sangat diperhatikan pemimpin dunia, karena bermutu.

Sebuah observatorium astronomi (yang semula dinamakan Observatorium Astronomi Kepausan dan di tahun 1797 diubah nama menjadi Observatorium Kepausan Vatikan) didirikan di “Menara Angin”, yang dibangun antara 1578 dan 1580 atas perintah Paus Gregorius XIII (1572-1585). Pembaharuan kalender oleh Paus ini di tahun 1582 berkaitan dengan Observatorium pertama ini; pertemuan-pertemuan para astronom berlangsung di sini. Observatorium kemudian dipindahkan ke Palazzina Leo XIII, dan akhirnya, di bawah Pius XI, dipindahkan ke villa kepausan di Castelgandolfo. Sekarang ini Observatorium itu diperlengkapi alat-alat modern, dan sebuah laboratorium astrofisika ditambahkan. Ia melaksanakan sebuah program sistematik observasi dan riset bersama dengan observatorium-observatorium di bagian lain dunia.

Vatikan juga merupakan pusat seni. Monumen-monumen artistik dan museum Vatikan menjadi daya pikat abadi yang menarik turis-turis mancanegara berduyun-duyun mengunjungi Roma tanpa henti. Di Vatikan sendiri ada jawatan administratif khusus yang mengurus Basilika Sto. Petrus: Reverenda Fabbrica di San Pietro, yang bermula dari abad ke-16 ketika pembangunan Basilika yang sekarang dimulai. Sedangkan museum Vatikan yang berawal dari permulaan abad ke-16, di bawah Paus Yulius II (1503-1513), dan terus-menerus dikembangkan sebagai museum tertua dan barangkali terbesar di dunia.

Vatikan memiliki sebuah media cetak, yaitu Vatikan Polyglot Press, yang menerbitkan karya dalam banyak bahasa; ia juga mempunyai sebuah rumah publikasi. Ada surat kabar harian, yaitu L’Osservatore Romano, yang memuat berita-berita keagamaan dan politik, sosial, budaya dan ekonomi. Surat kabar ini didirikan tahun 1861. Terdapat juga edisi mingguan dalam bahasa Inggeris, Perancis, Spanyol, Portugis, Jerman dan Italia. Sejak 1931 Tahta Suci memiliki sebuah stasiun radio: Radio Vatikan, yang mengudara selama sekitar 20 jam setiap hari dalam lebih dari 30 bahasa. Kini juga Vatikan mempunyai stasiun TV sendiri: Televisi Vatikan.  Dengan demikian Vatikan, sebagai Tahta Apostolik, semakin diperlengkapi dengan sarana-sarana modern untuk mewujudkan tugas kerasulannya, menghidupkan dan mewartakan lagi nilai-nilai rohani yang tersembunyi di balik monumen-monumennya yang sangat artistik dan di balik tak terbilang barang-barang peninggalan masa silam yang tersimpan apik di museumnya, kepada dunia modern.

KEGIATAN AD LIMINA 2011
 Sudah dikemukakan di depan bahwa Kunjungan Ad Limina Apostolorum itu sesungguhnya adalah salah satu ungkapan konkrit dari pasal 9 Syahadat Panjang: “Aku percaya kepada Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik”. Setelah pada bagian pertama diuraikan makna ke-4 sifat atau ciri Gereja itu, dan kemudian pada bagian kedua disajikan beberapa aspek sosok Vatikan sebagai Tahta Suci atau Tahta Apostolik, pada tempatnyalah sekarang memberikan sedikit laporan tentang Ad Limina 2011 para Uskup Indonesia. Jelaslah Ad Limina bukan sekedar kegiatan “jalan-jalan ke Roma”. Kunjungan Ad Limina Apostolorum itu adalah sebuah ziarah rohani! Sebuah ziarah rohani yang diharapkan membawa dampak bermakna bagi Gereja Katolik Indonesia sebagai bagian dari Gereja semesta, khususnya bagi para Uskup Indonesia, sebagai pengganti rasul-rasul, dalam melanjutkan tugas pelayanan mereka, baik di keuskupan masing-masing maupun pada tingkat nasional.
Dalam kaitan ini pentinglah dicatat betapa sosok Tahta Apostolik, khususnya Kuria Romawi telah mengalami perubahan mendasar sesudah Konsili Vatikan II. Cukuplah memperhatikan struktur-struktur baru yang dibentuk setelah Konsili Vatikan II, itu organ-organ yang disebut “Dewan-Dewan Kepausan”. Ke-12 Dewan Kepausan yang ada menyatakan dengan jelas, bahwa Gereja tidak lagi tertutup dan hanya memandang ke dalam dirinya sendiri. Gereja menjadi terbuka. Ia menemukan kembali tugas perutusannya yang asli: Diutus ke dalam dunia untuk menjadi garam dan terang. Di panggung dunia modernlah ia harus mewartakan Injil, Kabar Gembira keselamatan utuh-menyeluruh dalam Yesus Kristus. Untuk itu Gereja sendiri, dalam anggota-anggotanya, terlebih dahulu harus menghayati nilai-nilai injili itu, baru kemudian dapat mewartakannya lewat kata dan tindakan.

Kunjungan ke Makam Para Rasul
Pagi hari pk. 07.15 waktu Roma, Rabu, 5 Oktober 2011 kami merayakan Ekaristi dengan selebran utama Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Jakarta, di kapel depan makam Sto. Petrus, di bawah Basilika Sto. Petrus. Sesungguhnya pada saat itulah terjadi apa yang dimaksud dengan kunjungan “Ad Limina Apostolorum”, yaitu kunjungan ke makam Rasul Petrus. Di situ kami memperbaharui kesediaan kami untuk mengikuti Yesus Kristus, yang setelah mengadakan dialog dengan Petrus, berkata: “Ikutlah Aku” (Yoh.21:19). Perayaan Ekaristi ini dihadiri pula oleh sejumlah anggota IRRIKA (Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi), yang sedang bertugas di Roma.
Selanjutnya, pada hari Kamis, 6 Oktober 2011, pk. 16.00, kami berkunjung ke Basilika Sto. Paulus Di Luar Tembok dan merayakan Ekaristi di ruang utama, di atas makam Sto. Paulus. Selebran utama dalam Misa ini adalah Mgr. Martinus D. Situmorang, Uskup Padang/Ketua KWI. Kami butuh menimba lagi semangat mengagumkan Rasul besar bangsa-bangsa ini, yang berhasil mencapai puncak kesatuan dengan Kristus, sehingga dia dapat bersaksi, “Jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Kor. 12:10), sebab “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Para anggota IRRIKA ikut memeriahkan perayaan Ekaristi di Basilika Sto. Paulus ini dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Patut dicatat, di Basilika Sto. Paulus ini Anda dapat melihat lukisan/foto para Paus, mulai dari Sto. Petrus sampai yang terakhir, Paus ke-265: Benediktus XVI.
Mendahului kunjungan dan perayaan Ekaristi di makam kedua Rasul besar di atas, kami juga berkunjung dan merayakan Ekaristi di Basilika Sta. Maria Maggiore pada hari Sabtu, 1 Oktober 2011, pk. 07.00. Tentu kita tidak boleh melupakan Bunda kita, bukan? Bukankah ketika Yesus tergantung di salib, Yesus mengangkat Maria menjadi bunda rasulNya? (lih. Yoh. 19:26-27). Dan faktanya, setelah Yesus naik ke surga, Bunda Maria tetap menyertai Rasul-Rasul di “ruang atas” menantikan Roh Kudus yang dijanjikan (lih. Kis. 1:12-14).
Memang dimensi rohani dari kunjungan Ad Limina tetap mendapat penekanan. Setiap pagi, bila tidak ada Misa di tempat lain, kami merayakan Misa di Kapel Casa Santa Marta, di mana kami menginap dalam kompleks Vatikan.

Audiensi pada Sri Paus
Berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini audiensi pada Sri Paus Benediktus XVI tidak ada lagi secara pribadi. Audiensi dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu per kelompok dan bersama-sama. Audiensi dalam kelompok dilaksanakan menurut kelompok beberapa Propinsi Gerejawi. Audiensi kelompok pertama dan kedua, 30 September dan 1 Oktober, berlangsung di istana musim panas Castelgandolfo; sedangkan untuk kelompok ketiga dan keempat, pada tanggal 3 dan 6 Oktober, dilaksanakan di Vatikan. Kami dari Propinsi Gerejawi Makassar (Makassar-Manado-Amboina) bersama para Uskup Propinsi Gerejawi Merauke (Merauke-Jayapura-Agats-Sorong-Timika) dan Propinsi Gerejawi Medan (Medan-Sibolga-minus Padang) masuk kelompok kedua. Audiensi dalam kelompok diawali dengan masing-masing Uskup bersalaman dan berfoto bersama Paus. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan, di mana masing-masing mendapat giliran 7-10 menit untuk melaporkan secara singkat keadaan Keuskupan masing-masing (laporan rinci tertulis sudah disampaikan 6 bulan sebelumnya). Di sana sini Sri Paus menginterupsi dengan beberapa pertanyaan. Mengakhiri audiensi dalam kelompok ini, Bapa Suci memberi kata-kata peneguhan dan berkat apostolik, lalu berfoto bersama dalam kelompok.
Audiensi bersama dilaksanakan pada hari Jumat, 7 Oktober 2011. Di sini juga ada perbedaan dari kebiasaan sebelumnya. Kalau sebelumnya masing-masing Uskup boleh disertai dua orang, pada audiensi bersama kali ini hal itu tidak diperkenankan. Audiensi bersama dibuka dengan sambutan Mgr. Martin D. Situmorang, selaku Ketua KWI. Dalam sambutannya, Ketua KWI antara lain menyampaikan harapan agar Bapa Suci berkenan berkunjung ke Indonesia. Selanjutnya, para Uskup mendengarkan sambutan peneguhan dan pesan Bapa Suci. Audiensi ditutup dengan salam perpisahan, serta pemberian rosario dan salib Uskup, lalu berkat apostolik. Dan…tentu saja ada sesi foto bersama.

Kunjungan pada Beberapa Dikasteri
Kunjungan Ad Limina kali ini relatif singkat. Karena itu tak mungkinlah mengunjungi semua dikasteri yang ada. Hanya beberapa dikasteri yang sempat dikunjungi. Diupayakan agar kunjungan ke dikasteri-dikasteri tertentu semua Uskup dapat hadir, seperti ke PropagAnda Fide, Cor Unum, Liturgi, Para Religius, Pro Dialogo Interreligioso. Sedangkan kunjungan ke dikasteri lainnya, seperti Penafsiran Teks Legislatif Perundang-undangan, Pastoral Migran dan Orang dalam Perjalanan, Pastoral Tenaga Pelayanan Kesehatan, Kaum Awam dan Keluarga, dilaksanakan ketika beberapa Uskup mengadakan audiensi dalam kelompok dengan Sri Paus.
Acara pada pertemuan di masing-masing dikasteri yang sempat dikunjungi umumnya menempuh langkah-langkah yang sama: Setelah ucapan selamat datang dari pihak pimpinan dikasteri yang bersangkutan, Uskup Ketua Komisi KWI yang membidangi pelayanan yang sama dengan dikasteri tersebut menyampaikan laporan singkat. Kemudian pimpinan dikasteri memberi tanggapan seperlunya, disusul dengan diskusi/dialog. Pertemuan ditutup dengan berfoto bersama, lalu pamitan dengan jabat tangan.
Tentu saja acara kunjungan utama adalah ke Kongregasi untuk Penginjilan Bangsa-Bangsa (Propaganda Fide). Didirikan pada 3 Januari 1961, hirarki Indonesia pada tahun 2011 ini baru berusia setengah abad. Sebagai Gereja muda, Gereja Katolik Indonesia masih ditempatkan di bawah Kongregasi ini. Kunjungan ke Propaganda Fide berlangsung Rabu, 5 Oktober 2011, dari pagi sampai siang. Pada dua jam pertama para Uskup Indonesia diterima oleh Prefek Kongregasi yang baru, Y.M. Uskup Agung Fernando Filoni, beserta staf. Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap., selaku Ketua KWI, menyampaikan “Speech to the Congregation for the Evangelization of Peoples, Rome, Oct. 5, 2011”. Disampaikan pula tertulis “A Brief Report on the Indonesian Catholic Church on the Occasion of Ad Limina Visit, 29 September – 8 October 2011”. Kemudian Uskup Agung Prefek memberi tanggapan. Selanjutnya beliau membuka kesempatan untuk dialog, yang dimanfaatkan sejumlah Uskup.
Sesudah itu acara dilanjutkan dengan pertemuan bersama ketiga organ yang berada di bawah Propaganda Fide, berturut-turut: (1) Karya Kepausan untuk Misi; (2) Karya Kepausan untuk Panggilan; dan (3) Karya Kepausan untuk Anak dan Remaja (Sancta Infantia). Ke-3 organ ini bertujuan mendukung karya evangelisasi di wilayah misi, antara lain dengan memberi subsidi. Karya Kepausan untuk Misi menangani subsidi pada umumnya, khususnya untuk sarana fisik (gereja, pastoran, dst.). Karya Kepausan untuk Panggilan, khusus untuk panggilan imam (seminari). Sedangkan Sancta Infantia untuk kerasulan anak dan remaja (Sekami). Dari mana dana diperoleh masing-masing Karya Kepausan tersebut? Masing-masing dari kolekte Minggu Misi, Minggu Panggilan, Minggu Penampakan/Aksi Adven yang diadakan di gereja-gereja di seluruh dunia! Jadi di sini kita kembali melihat salah satu ungkapan sangat konkrit solidaritas Gereja yang satu.
Dan salah satu kesan umum yang menonjol pada Ad Limina 2011 ini adalah semangat kesatuan dan persaudaraan yang mendalam. Hal ini terasa kuat pada pertemuan dengan setiap dikasteri. Pertemuan dengan Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, yang pada sekurangnya dua Ad Limina sebelumnya agak tegang, akibat alotnya pemberian recognitio untuk Tata Perayaan Ekaristi bahasa Indonesia, kali ini terasa cair dan menyegarkan. 

Lain-Lain
Kecuali acara-acara pokok tersebut di atas, pada hari Minggu, 2 Oktober, para Uskup mengadakan ziarah bersama ke Assisi. Waktu itu Kota Assisi sedang bersiap-siap untuk pesta Sto. Fransiskus Assisi pada 4 Oktober. Kali ini menjadi istimewa karena akan diperingati tepat 25 tahun berselang (4 Oktober 1986) Paus Yohannes Paulus II mengundang para tokoh agama sedunia ke Assisi untuk pertemuan doa internasional bagi perdamaian. Tentu kita juga berdoa demi tetap terpeliharanya kerukunan hidup beragama di Tanah Air.
Selanjutnya, pada Senin malam, 3 Oktober, Komunitas Sant’ Egidio mengundang para Uskup untuk doa bersama, dilanjutkan dengan makan malam bersama. Acara semacam ini selalu ditawarkan oleh mereka pada kesempatan kunjungan Ad Limina. Tidak lama sebelum itu, tepatnya 11-13 September 2011, Komunitas ini memprakarsai pertemuan internasional para tokoh agama sedunia di München, Jerman, dalam rangka memperingati 25 tahun pertemuan doa internasional untuk perdamaian di Assisi. Tema yang dipilih: “Terikat untuk Hidup Bersama; Agama-Agama dan Budaya dalam Dialog”.
Lalu pada Rabu malam, 5 Oktober, L’Opera della Chiesa mengundang makan malam dan untuk semakin mengenal Komunitas ini. Komunitas Opera della Chiesa didirikan oleh Madre Trinidad de la Santa Madre Iglesia dari Spanyol, yang mengembangkan spiritualitasnya dari misteri Tritunggal Mahakudus dengan mencintai Gereja. Pelayanan tulus mereka dirasakan para Uskup selama Ad Limina berlangsung. Merekalah yang selalu siap sedia mengantar kian kemari.
Kedubes RI untuk Vatikan mengundang para Uskup dan anggota IRRIKA untuk pertemuan pada Minggu, 9 Oktober. Tetapi hanya beberapa Uskup yang bisa menghadiri pertemuan tersebut, sebab sebagian Uskup sudah meninggalkan Roma pada 8 Oktober.
Arrivederci, Roma!


Makassar, 8 Desember 2011
Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa


        + John Liku-Ada’

SAMBUTAN PENUTUP DAN BERKAT APOSTOLIK BAPA SUCI AD LIMINA 2011


Saudara-Saudara Uskup terkasih,
              Saya senang menyambut Anda   dengan ucapan selamat persaudaraan, pada kesempatan kunjungan Ad Limina Apostolorum Anda, saat yang sangat bermakna untuk bersyukur kepada Allah, atas karunia communio yang ada dalam Gereja Kristus yang esa, sebagai momen untuk mendalami ikatan kesatuan kita dalam iman apostolik. Saya ucapkan terima kasih kepada Uskup Situmorang yang menyampaikan kata-kata sapaan keramahan atas nama Anda dan orang-orang yang dipercayakan kepada reksa pastoral Anda. Saya menyampaikan juga salam hangat kepada para imam, biarawan-biarawati dan awam yang Anda gembalakan. Yakinkanlah mereka bahwa saya berdoa bagi kekudusan dan kesejahteraan mereka.

Warta keselamatan, pengampunan dan kasih Kristus telah diberitakan di negeri Anda selama berabad-abad. Sungguh semangat misioner tetap mantap dalam hidup Gereja, dan mendapat ungkapannya bukan hanya dalam pewartaan Injil, tetapi juga dalam kesaksian kasih kristiani (cf. Ad Gentes, 2). Dalam hubungan ini, saya memuji upaya-upaya yang bersungguh-sungguh, yang dilakukan oleh banyak pribadi dan kelompok-kelompok atas nama Gereja, untuk menyampaikan kelembutan keprihatinan Allah kepada banyak anggota masyarakat Indonesia. Inilah tanda pengenal setiap gerakan, aksi dan ungkapan Gereja, dalam segala upaya sakramental, karitatif, pendidikan dan sosial, sehingga, dalam segala hal, para anggotanya berusaha agar Allah Tritunggal dikenal dan dikasihi lewat Yesus Kristus. Sumbangannya tidak hanya berupa vitalitas rohani bagi Gereja, tatkala ia tumbuh dalam keyakinan lewat kesaksian yang rendah hati, namun penuh semangat. Hal itu juga akan memantapkan masyarakat Indonesia dengan memajukan nilai-nilai yang sangat berharga bagi sesama warga: toleransi, kesatuan dan keadilan terhadap sesama warga. Dengan cermat, Undang-Undang Dasar Indonesia menjamin hak-hak paling asasi serta kebebasan untuk mengamalkan agama masing-masing. Kebebasan untuk menghayati dan mengamalkan Injil tak boleh hanya diandaikan, melainkan harus selalu dijunjung secara adil dalam kesabaran. Begitupun juga mengenai kebebasan beragama bukan hanya berupa kebebasan dari paksaan luar. Ia merupakan hak untuk hidup Katolik yang otentik dan penuh, mengamalkan iman, membangun Gereja dan menyumbang bagi kesejahteraan umum, sembari mewartakan Injil sebagai Kabar Baik bagi semua, dan mengundang setiap orang kepada keakraban dengan Allah yang berbelaskasih dan berbelarasa, sebagaimana nyata dalam Yesus Kristus.
Cukup besarlah jumlah karya karitatif dan pendidikan di keuskupan-keuskupan, yang diprakarsai oleh para biarawan-biarawati. Pembaktian diri kepada Kristus dan hidup doa yang mendalam serta pengorbanan ikhlas, yang terus berlangsung, memperkaya Gereja dan menghadirkan Tuhan secara nyata dan aktif di negara Anda. Saya berterima kasih kepada banyak imam serta biarawan-biarawati yang mempersembahkan pujian kepada Tuhan, lewat tak terbilang banyaknya karya yang baik, yang sangat bermanfaat bagi sesama warga Indonesia. Karya-karya mereka merupakan ungkapan tak terlupakan dari komitmen Gereja kepada kemanusiaan, khususnya kepada kaum berkekurangan. Atas alasan ini, saya menghimbau Anda, saudara-saudara Uskup, untuk tetap memastikan bahwa pendidikan dan formasi bagi para seminaris dan calon biarawan-biarawati tetap utuh sepadan dengan misi yang dipercayakan kepada mereka. Di tengah perkembangan kompleksitas dunia kini dan transformasi yang cepat masyarakat Indonesia, kebutuhan akan biarawan-biarawati yang berpendidikan memadai semakin mendesak. Sambil menyandang tanggung jawab bersama dengan Pembesar setempat, pastikanlah bahwa mereka menerima apa yang perlu untuk menjalankan hidup yang penuh kebijaksanaan dan pemahaman rohani, serta untuk berhasil dalam pekerjaan yang baik (lih. Kol. 1:9,10).

Saya hanya dapat mendorong Anda melanjutkan upaya-upaya pengembangan dan dukungan terhadap dialog kerukunan di kalangan Bangsa Indonesia. Negeri Anda, yang begitu kaya dalam keanekaan budaya dengan jumlah penduduk yang besar, merupakan tanah air sejumlah besar pengikut tradisi-tradisi penting pelbagai ragam agama. Sedemikian itu, Bangsa Indonesia mempunyai posisi jitu dalam memberi sumbangan berharga bagi tercapainya perdamaian dan saling pengertian antar-bangsa di dunia. Partisipasi Anda dalam usaha besar ini sangat penting dan saya mendorong Anda,  saudara-saudara terkasih, untuk memastikan bahwa mereka yang Anda gembalakan menyadari diri, bahwa umat yang Anda gembalakan, sebagai orang kristiani, adalah agen-agen perdamaian, ketekunan dan cinta kasih. Gereja terpanggil mengikuti Guru Ilahinya, yang mempersatukan segala sesuatu dalam diri-Nya, dan bersaksi bahwa perdamaian hanya mungkin oleh kurnia-Nya. Inilah buah berharga dari cinta kasih dalam Dia, yang telah menderita secara tidak adil, mengurbankan hidup-Nya bagi kita, serta mengajar kita menanggapinya dalam segala situasi  dengan pengampunan, belaskasih dan cintakasih dalam kebenaran. Orang-orang beriman dalam Kristus, yang berakar dalam cinta kasih, harus berkomitmen pada dialog kerukunan antar-umat beragama, sembari menghargai perbedaan satu dengan yang lain. Upaya bersama untuk membangun masyarakat pastilah sangat berharga apabila memperteguh persahabatan dan mengatasi salah pengertian atau kecurigaan. Saya yakin bahwa Anda dan para imam, biarawan-biarawati serta para awam di keuskupan-keuskupan akan terus bersaksi tentang citra dan gambar Allah dalam setiap orang, pria, wanita serta anak-anak, tanpa membedakan agama, dengan mendorong agar setiap orang terbuka bagi dialog demi pelayanan perdamaian dan kerukunan.

Dengan melakukan segala yang mungkin untuk menjamin bahwa hak-hak minoritas di negeri Anda dihormati, Anda terus meningkatkan toleransi dan keselarasan bersama di negeri Anda dan di luarnya.

Dengan pikiran-pikiran ini, para saudara Uskup terkasih, saya memperbaharui sentimen afeksi dan penghargaan saya kepada Anda. Negeri Anda terdiri atas ribuan pulau; demikian pula Gereja di Indonesia terdiri atas ribuan komunitas kristiani, “pulau-pulau kehadiran Kristus”. Semoga Anda senantiasa bersatu dalam iman, pengharapan dan kasih satu sama lain, dan dengan Pengganti Petrus. Saya mempercayakan Anda kepada pengantaraan Maria Bunda Gereja. Sambil meyakinkan Anda bahwa saya senantiasa mendoakan Anda dan orang-orang yang berada dalam reksa pastoral Anda, saya ingin menyampaikan Berkat Apostolik saya, sebagai saluran rahmat dan damai dalam Tuhan.

Dari Vatikan, 7 Oktober 2011
Benedictus PP XVI

In Memoriam: P. Yulianus Liling Pr


Nama : Pastor Yulianus Liling, Pr
Nama Ayah : Petrus Malamma’
Nama Ibu : Agnes Utan (†)
Saudara : 8 orang
 
Mendiang adalah anak ke-5 dari 9 bersaudara  

Tempat/Tgl. Lahir : Tana Toraja, 02 Mei 1965
Tempat/Tgl. Baptis : Malakiri, 14 Juni 1965
Tempat/Tgl. Krisma : Makassar, 14 Juli 1988
Tempat/Tgl. Pelantikan
      Lektor & Akolit : Yogyakarta, 23 Januari 1990
Tempat/Tgl. Tahbisan
      Diakon : Yogyakarta, 26 Januari 1991
Tempat/Tgl. Tahbisan
      Imamat : Makassar,  29 Juni 1991
RIWAYAT PENDIDIKAN & TUGAS / KARYA
1969 - 1995 : SD di Nabire, Papua
1976 - 1980 : SMP di Nabire, Papua
1980 - 1983 : SMA di Pangli, Toraja
1983 - 1984 : Kelas Persiapan Atas (KPA) di Seminari Petrus
    Claver, Ujung Pandang
1984 - 1991 : FTW Kentungan, tinggal di Seminari Anging
    Mammiri, Yogyakarta
1987 - 1988 : Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Messawa,
    Polmas
1991 - 1996 : Melayani Umat Paroki Mamuju
1996 - 2001 : Pastor Paroki Sungguminasa
2001 - 2005 : Pastor Paroki Bantaeng
2005 - 2010 : Penugasan di Keuskupan Jayapura
Okt. 2010 : Kembali ke Keuskupan Agung Makassar dan
  berobat di Makassar
11 Oktober 2011 pk. 03.10 Wita: meninggal dunia di RS Stella Maris.

REST IN PEACE

Aqualina Payung: ”BEKERJA DITUNTUT KESABARAN DAN TANGGUNGJAWAB”

Lina begitulah panggilan akrab dari Aqualina Payung, lahir di Sangalla’ 26 Juli 1956, anak pertama dari 10 bersaudara, separuh dari hidupnya telah diabdikan  di kantor Keuskupan Agung Makassar (KAMS). Ia mulai bekerja di kantor Keuskupan sejak 1 Oktober 1986, ditempatkan di bagian keuangan waktu itu di bawah pimpinan unit P. Paul Bressers, CICM dan mengawali karirnya di Keuskupan sebagai tenaga pembukuan. Tahun 1988 ia diangkat sebagai kasir  waktu itu di bawah pimpinan P. Rudy Kwary. Ia menjalani tugasnya sebagai kasir selama kurang lebih 23 tahun. Pengalaman kerja sebagai tenaga kasir tidaklah begitu mudah, karena pekerjaan ini paling dituntut kejujuran, ketelitian dan kesabaran dan paling utama itu tanggungjawab
Waktu 23 tahun bukanlah waktu yang singkat. Setiap hari menekuni pekerjaan yang sama maka tidak heran kalau ia merasa jenuh dan bosan, belum lagi kalau mendapat omelan dan makian dari orang-orang, baik itu dari Imam maupun dari sesama  karyawan di kantor.  Kadang ingin lari dari pekerjaan yang begitu menumpuk dan menjenuhkan tetapi karena sadar bahwa bekerja di  kantor Keuskupan adalah juga suatu pelayanan maka dengan senang hati semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. 
”Upahmu besar di surga”, ungkapan inilah yang menjadi hiburan dalam mengemban tugas di kantor KAMS.  Dalam perjalanan waktu kurang lebih 25 tahun dia mengabdi di kantor Keuskupan akhirnya pada 26 Juli 2011 beliau telah mencapai usia 55 tahun, usia di mana para pegawai dinyatakan memasuki masa purnakarya yang secara otomatis dilepas dari kedinasannya dan diberikan hak pensiunnya.  
Pelepasan ini dilaksanakan dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr. John Liku-Ada’. Dikatakan pelepasan, kita pandang sebagai suatu ungkapan kegembiraan penuh syukur dan bukan suatu perpisahan.  Perayaan syukur kita atas keselamatan manusia oleh Tuhan, dan karena itu Uskup diminta untuk memimpin Misa syukur ini.  Renungan yang dibawakan oleh Bapa Uskup pada kesempatan ini mengambil tema dari bacaan kitab Hagai.
 Mereka yang pensiun, lazimnya dari segi kesejahteraan dipandang sudah memadai karena telah bekerja sekian tahun lamanya.  Jadi pantas saja bila pundi-pundinya sudah penuh tetapi ungkapan ini kurang cocok untuk pekerja di rumah-rumah Tuhan. Mereka yang bekerja di rumah Tuhan  sama seperti yang digambarkan dalam Kitab Hagai  yang menjadi bacaan dan renungan Bapa Uskup pada saat itu. Dikatakan: Kamu menabur banyak tetapi membawa pulang hasil sedikit,  kamu makan tetapi tidak sampai kenyang, kamu minum tetapi tidak sampai puas, kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas, dan orang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah dan ditaruh di dalam pundi-pundi yang berlubang. Kita yang merupakan bagian dari pekerja di rumah Tuhan hendaklah memandang diri tidak sebagai upahan, kita masing-masing memiliki pundi-pundi yang berlubang, yang tak dapat menyimpan harta dunia tapi mengumpulkan harta surgawi.
Karena itu, rekan-rekan kerja sekantor KAMS mengucapkan selamat memasuki masa purnabakti kepada Lina. ***